Actions

Work Header

Marigold on Your Ring Finger

Summary:

Romansa dua tokoh NPC (Non Playable Characters) Vihar -pemeran Farris sang Ksatria Bunga- dan Dunyarzad, seorang putri dari Kaluarga Homayani yang memperkerjakan Dehya. Vihar tak pernah mengira doa yang tak pernah absen ia ucap merupakan doa untuk gadis yang tak pernah ia bayangkan akan singgah dalam kehidupannya

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Chapter 1: Pertemuan Pertama

Chapter Text

Lelaki itu bernama Vihar. Ia hanya seorang street performer biasa yang sebagian besar hidupnya ia habiskan di jalanan Grand Bazaar. Bukannya ia tak pernah mencoba untuk bergabung bersama kelompok teater seperti Zubayr Theater, tapi jiwa bebasnya tak merasakan kepuasan yang sama dibanding tampil menari dan membacakan syair tanpa jadwal dan kontrak yang mengikat. Rutinitas adalah kosa kata yang tak tercantum dalam kamus hidupnya, namun tak pernah ia duga sebelumnya jiwa bebasnya ini tanpa ia sadari selalu mengucap doa yang sama selama 3 tahun ke belakang.

Semua berawal dari siang menjelang sore pada 27 September, tanggal yang selalu ia ingat, momen yang selalu menyiramkan semerbak wewangian bunga di hati lelaki itu. Tak pernah bisa ia lupakan, 3 tahun yang lalu seorang gadis yang tidak pernah ia kira akan bersinggungan dengan hidupnya menghampirinya dengan nafas terengah. Mendengar tarikan nafas yang berat, lelaki itu sudah dapat memastikan bahwa gadis di hadapannya adalah seorang pengidap Eleazer.

“Maaf kalau saya lancang” terdapat hening yang cukup lama hingga kemudian gadis itu melanjutkan dengan pipi yang memerah “Saya suka sekali melihat performance anda”

“Te.. terima kasih” jawabnya dengan kikuk. Vihar membeku, ini pertama kalinya seseorang memuji penampilannya secara langsung. Ia akui ia bukan performer kelas atas, terkadang uang recehan yang terkumpul dari penampilannya ia yakini hanya sebagai bentuk belas kasihan orang padanya termasuk pujian yang dilontarkan gadis di hadapannya.

“Saya memuji dengan tulus” seakan dapat membaca pikirannya, gadis itu melanjutkan “Sudah 3 hari saya memperhatikan penampilan Anda dan saya mengagumi syair yang Anda bacakan. Apakah Anda sendiri yang menulis syair – syair tersebut?”

Tak lama ia melebarkan matanya, ia tak pernah melihat sosok gadis itu sebelumnya. Namun ia tahu dari perhiasan yang dikenakan bahwa gadis ini merupakan anggota keluarga kaya raya, mungkin keluarga Homayani? Ia sempat mendengar rumor bahwa keluarga Homayani memang memiliki seorang putri yang mengidap eleazar sehingga sang putri hampir tidak pernah meninggalkan kediaman Homayani.

“ya.. saya menulis sendiri syair – syair yang saya bacakan”

“Aaaah... cocok!” gadis tersebut menatapnya dengan mata berbinar “Salam kenal! Saya Dunyarzad” sahut gadis itu mengulurkan tangannya.

Ia menyalami gadis itu “Vihar” jawabnya singkat.

“jadi apakah Anda juga seorang pengikut lesser lord Kusanali?” tanya gadis itu.

“ahh ... “ Vihar tak segera menjawab, ia ragu untuk berkata jujur bahwa ia memilih tema tersebut hanya karena tema ini tidak sering diangkat. Sebagai performer dengan jiwa yang bebas, ia menolak untuk membawakan tema mainstream. Propaganda akademiya untuk melupakan archon mereka membuat adrenalinnya terpacu untuk menciptakan syair puji – pujian terhadap archon yang tak pernah sekalipun ia lihat. Namun ia menolak untuk mengecewakan pengagum pertamanya dan menganggukkan kepalanya sambil menyunggingkan senyum terbaik yang ia miliki.