Work Text:
“Eh, kalian tahu tidak siapa yang datang bertemu dengan Geto di sini tiap malam minggu?”
Larue yang pertama membuka diskusi sore itu. Miguel, Manami, Larue, Nanako, dan Mimiko duduk melingkar searah jarum jam. Pemandangan seperti ini biasanya dalam komik shonen berarti akan ada rapat penting di mana masing-masing anggota diperkenalkan dan terlihat keren di setiap panel. Tapi kali ini tentu tidak. Mereka memanfaatkan waktu lowong (baca: kurang kerjaan) untuk membuat acara kumpul gosip. Di tengah mereka ada meja yang tersajikan teko, tiga cangkir teh, dan dua gelas jus jeruk. Kue panganan masih dalam perjalanan dibeli oleh Negi. Seharusnya mereka menunggu kuenya datang, namun mulut Larue terlanjur gatal ingin segera bergosip.
“Tentu saja. Siapa juga yang tidak kenal Gojo Satoru.” Manami menjawab dengan mantap.
Topik “Pertemuan Rahasia Geto dan Gojo” menjadi bahasan yang menarik bagi para anggota sekte manakala mereka mendapati Satoru beberapa kali kedapatan berkunjung ke markas. Mungkin hal itu tidak aneh jikalau Satoru dan Suguru berada di kubu yang sama. Tetapi kenyataannya berbanding terbalik. Jelas ini menerbitkan kecurigaan bagi yang lain. Belum lagi muncul teori liar seperti keduanya janjian bertemu di hotel di lain waktu. Bola rumor panas berguling dengan cepat dan para anggota sekte merasa mereka harus membahas ini. Hubungan privat Sang Bos memang bukan urusan mereka, tapi menggosipkan atasan selalu nikmat, bukan? Pada kesempatan ini semuanya akan dikupas secara tajam, setajam silet.
“Memangnya Gojo Satoru siapa?” Nanako melempar pertanyaan.
Nama itu sesungguhnya tidak asing di telinga Nanako dan Mimiko, walaupun Satoru dan si kembar beda generasi. Nanako sebelumnya pernah bertanya langsung kepada Suguru perihal oknum yang dicurigai punya hubungan dekat dengat orang yang sangat disayanginya itu. Suguru sendiri hanya menjawab Satoru sebagai teman kemudian mereka bertengkar dan tidak dielaborasi lebih lanjut lagi. Tidak puas dengan jawaban menggantung Suguru, Nanako menggunakan kemampuan menguntit media sosial selayaknya Gen Z sejati.
Setelah berselancar di internet, Nanako akhirnya temukan akun instagram milik Satoru. Rasa gembira atas keberhasilannya hanya bertahan beberapa saat. Kekecewaan mengekor setelahnya ketika yang Nanako dapati adalah mayoritas isi beranda instagram pria dengan tinggi di atas rata-rata tersebut berisikan foto kue dan dessert manis. Melihatnya saja sudah membuat gigi Nanako ngilu. Terdapat beberapa foto Satoru bersama dengan tiga anak remaja dan seekor panda, yang dia tengarai sebagai murid Satoru di akademi jujutsu. Namun, tidak ada satu pun postingan yang berhubungan dengan Suguru. Nanako mengabaikan fakta kenapa bisa ada panda di sana.
“Gojo Satoru itu syaman dari klan terpandang yang sudah eksis sejak zaman Heian. Klan Gojo masuk dalam daftar tiga klan besar syaman selain Kamo dan Zen’in. Jelas dia bukan sembarangan orang,” jelas Miguel. Bahkan Miguel yang bukan warga asli Jepang pun tahu mengenai Satoru. Reputasi seorang Gojo Satoru memang bukan kaleng-kaleng.
“Oooh begitu... Terus apa hubungannya dengan Geto-sama?” Nanako masih penasaran.
“Nah itu dia! Gosipnya nih, Geto dan Gojo dulunya pernah pacaran,” sambar Larue berapi-api.
Si kembar Hasaba yang mendengar itu terkejut seperti ada petir yang menyambar di belakang. Selama ini mereka mengira Satoru sebatas teman dekat Suguru (meski status “pertemanan” mereka layak dipertanyakan).
“Dulu? Berarti sekarang sudah putus?” Miguel yang baru beberapa tahun tinggal di Jepang, tidak begitu familiar dengan rumor tersebut.
“Katanya begitu. Putusnya di depan McDonald pula.” Larue menutup mulut dengan satu tangan sambil menahan tawa.
“Bukan McDonald, tapi KFC. Yang di samping Teradaya di Shinjuku itu lho,” koreksi Manami.
“Lah? Bukannya di McD terus Gojo menangis memohon minta balikan?”
“Jangan ngawur. Mana ada yang begitu. Aku sudah konfirmasi ke karyawan KFC setempat yang menjadi saksi mata kejadian delapan tahun lalu itu dan dari cerita mereka tidak demikian.” Manami membusungkan dada dengan pongah, seakan baru saja membeberkan fakta penting sejarah dunia. Jangan ragukan koneksi luas Manami. Ia seringkali berkeliling sosialiasi dengan anggota sekte non-syaman untuk mendapat informasi sekaligus memasang telinga jika ada bahan gibah yang menarik. Suda Manami tidak saja memiliki otak kapitalis, tapi juga bandar gosip yang aktual, tajam, terpercaya.
“Aku rasa kau lebih cocok jadi wartawan majalah gosip ketimbang bendahara sekte ini, Manami....” Miguel antara heran dan takjub dengan kegigihan Manami menggali kebenaran kabar burung.
“Tunggu, tunggu. Kapan mereka pernah pacaran?” Nanako yang belum pulih benar dari syok kembali ingin tahu.
“Dulu sekali sewaktu mereka masih SMA dan kalian masih anak bawang.” Manami menghirup aroma menenangkan teh kamomil sebelum menyeruput pelan.
Hasaba Nanako. 14 tahun. Belum pernah sekalipun mengecap manis pahitnya romansa pacaran anak muda. Alasannya hanya ada dua:
1.) Tidak diizinkan Suguru karena usianya terlampau dini.
2.) Standard cowok idaman Nanako terlalu tinggi. Patokannya adalah minimal punya kualifikasi serupa Suguru. Di bawah itu Nanako tidak minat.
Selama ini Nanako belum pernah melihat Suguru menunjukkan ketertarikan dengan perempuan (atau laki-laki) manapun. Nanako berpikir, barangkali Suguru juga punya standard yang tinggi dalam memilih pasangan hidup sama sepertinya. Siapa sangka mantan Suguru berada di level yang berbeda.
“Apa yang Geto-sama lihat dari Gojo....” Alis Nanako bertaut, bergumam pada diri sendiri.
“Duh, Nanako, sudah jelas isi rekeningnya. Kalian harus tahu sekaya apa Gojo. Mengencaninya sama dengan punya tambang emas di depan mata.”
“Geto-sama tidak semata duitan itu kayak kamu.” Mimiko yang selalu irit bicara ikut mencibir.
“Oke, jadi kenapa mereka bisa putus?”
“Banyak desas-desus yang beredar. Ada yang bilang munculnya pihak ketiga, ada juga yang bilang karena miskomunikasi, atau yang paling aneh macam mereka rebutan kulit ayam KFC dan berakhir dengan bertengkar hebat. Yah, apapun alasannya tidak ada yang tahu pasti selain mereka berdua dan aku tidak berani tanya ke Geto. Aku belum berminat jadi tumbal.”
“Sayang sekali hubungan mereka kandas di tengah jalan. Padahal kalau seandainya Geto masih pacaran dengan Si Pengguna Six Eyes, kita—terutama aku—tidak perlu repot-repot memikirkan harus mencari ke mana sumber dana untuk biaya operasional sekte. Harusnya Geto menguras habis harta kekayaan Gojo baru dicampakan,” ujar Manami sembari menyelipkan curahan hati terselubung dengan nada seperti tokoh mertua antagonis yang ingin merebut harta menantunya.
“Eits, tunggu dulu. Siapa bilang hubungan mereka benar- benar sudah kandas?”
Semuanya langsung berfokus pada Larue.
“Aku rasa kemungkinan mereka balikan terbuka lebar. Buktinya, mereka masih suka ketemu tuh. Di kamarnya Geto pula! Dua lelaki dewasa di kamar berduaan pas malam hari apa lagi kalau bukan sedang ‘bercocok tanam’.” Larue lanjut berspekulasi. Matanya memicing, alis naik turun, bibir menyunggingkan senyum penuh makna.
Dahi Nanako mengerut. “Hah? bercocok tanam gimana? Di kamar Geto-sama ada pot bunga?” Nanako masih terlalu polos untuk menangkap lelucon orang dewasa. Manami dan Larue hanya bisa menepuk jidat. Sementara Mimiko menundukan kepala di belakang boneka santet yang ia peluk, menyembunyikan senyum. Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah manis dan inosen Mimiko, ia punya setumpuk koleksi doujin dari fandom ninja.
“Hus! Sudah, jangan bahas itu. Di sini ada dua minor.” Untungnya masih ada Miguel yang setidaknya paling bermoral di antara mereka.
“Kalau memang sudah putus, kenapa Gojo masih cari Geto-sama terus? Move on dong!” Nanako melipat tangan di depan dada. Protes keras dilancarkan. Sejak awal Nanako tidak punya impresi yang bagus soal Satoru. Antara Nanako yang terlalu memuja Suguru atau di matanya Satoru terlihat agak alay sehingga dicap tidak pantas bersanding dengan Suguru. Atau barangkali gabungan keduanya. Isi hati remaja memang sulit ditebak.
“Loh? Belum tentu Gojo datang karena mencari Geto. Siapa tahu Geto sendiri yang undang. Dua-duanya sebenarnya masih saling cinta tapi terhalang tembok beda kubu. Ah ... dari dulu beginilah cinta, deritanya tiada akhir.” Larue malah tenggelam dalam skenario di dalam kepalanya. Tak ketinggalan ia kutip kalimat ikonik dari seorang jenderal kahyangan yang dihukum menjadi siluman babi dari mitologi legendaris negeri tirai bambu sembari menatap dramatis ke arah matahari terbenam.
“Ish! Dari tadi aku lihat kamu terus membela musuh kita. Jangan-jangan kamu mau berkhianat, ya?” Tudingan Nanako tajam seperti mata pisau yang baru diasah.
“Oh, jangan salah. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin tetap ada bahan gosip saja.”
“Tch! Dasar.”
“Jangan galak-galak, Nanako. Gojo calon papa tirimu, lho,” ujar Manami santai. Jemari lentiknya menggulung ujung rambut. Menggoda Nanako lucu juga rasanya, pikir Manami.
“OGAH!” Penolakan mutlak.
“Masih mending Gojo lah ke mana-mana ketimbang om-om genit yang mencoba mendekati Geto tempo hari. Kau mau yang begitu?”
Nanako segera menggeleng dengan cepat seraya merapal dalam hati “amit-amit jabang bayi!”. Masih terekam dengan jelas dalam ingatan Nanako tatkala ada salah seorang donatur utama pemilik banyak usaha dengan lemak bertumpuk sampai menutupi leher dan jari seperti sosis jerman. Tiap kali ingat sikap sok cari perhatian orang tersebut ke Suguru membuat Nanako geli. Nanako yakin orang itu tidak akan berumur panjang setelah saldo rekeningnya kering disedot Suguru.
Miguel menepuk tangan sekali. “Oke, jikalau Geto dan Gojo benar-benar kembali menjalin hubungan, kalian setuju tidak?”
“Yaah, selama Gojo bisa jadi ATM buat sekte ini aku tidak keberatan.” Manami angkat bahu. Manami sudah lelah memutar otak mencari sumber dana untuk kas sekte. Satoru adalah solusi masalah finansial.
Larue menambahkan sesendok gula dalam teh, lalu diaduk. Pria bertubuh kekar dengan suara kemayu yang lebih suka telanjang dada itu mengangkat cangkir dengan ibu jari dan telunjuk secara anggun, sebelum menyesap beberapa tegukkan.
“Sejujurnya aku iri. Kalau di dunia ini masih tersisa orang macam Gojo atau Geto, aku mau deh satu,” katanya, tidak menjawab pertanyaan Miguel.
Giliran Mimiko yang sejak tadi lebih banyak diam dan menyimak.
“Aku...,” ada jeda yang menggantung. Suaranya kecil, lebih terdengar seperti mencicit. Semua orang menunggu apa yang akan dikatakan gadis itu. “Asalkan Geto-sama bahagia, aku tidak masalah.”
Nanako berang mendengar jawaban diplomatis kembarannya. “Mana bisa begitu, Mimiko! Nanti Geto-sama tidak sayang kita lagi terus kita dibuang di jalan, gimana?” Imaji berlebihan mengisi pikiran negatif Nanako.
“Nanako, kau kebanyakan nonton drama.”
Di tengah pergosipan yang makin memanas, tiba-tiba pintu masuk menjeblak terbuka. Suguru berjalan lurus. Sosok di belakang yang mengikuti lah yang membuat anggota sekte makin terkejut. Oknum yang baru semenit lalu jadi bahan gibah: Gojo Satoru. Panik, mereka berpura-pura menyibukkan diri supaya tidak ketahuan sedang membicarakan sang bos dan sang mantan. Miguel membaca koran terbalik. Manami memeriksa kuku. Nanako membuka ponsel. Mimiko bermain dengan boneka. Larue mengaduk cangkir kosong sehingga menimbulkan bunyi kling kling kling dengan berisik.
Para anggota sekte mengamati dari ekor mata. Suguru dan Satoru berjalan melewati mereka begitu saja tanpa sekalipun melirik seolah tidak terusik hingga hilang dari jangkauan mata. Larue melongokkan kepala. Ia saksikan keduanya berbelok ke arah ruang pribadi Suguru.
“Kalian lihat sendiri, ‘kan? Mereka sekarang bahkan sudah terang-terangan lewat pintu utama, bukan jalur belakang lagi,” ujar Larue menggebu-gebu, semakin yakin dengan hipotesanya.
Nanako bangkit dari kursi. Tangan terkepal. “Aku tidak bisa tinggal diam di sini! Aku harus tahu apa yang mereka bicarakan.”
“Eh, tunggu, Nanako kamu mau ke mana?” Usaha Mimiko untuk menghentikan langkah Nanako sudah terlambat. Gadis muda berambut pirang itu terlanjur mengendap-endap membuntuti Suguru dan Satoru.
Anggota sekte yang lain bertukar pandang. Seakan saling mengirim telepati, mereka mengangguk bersamaan. Detik berikutnya mereka terlihat mengekor Nanako. Mimiko membuang napas panjang dan tidak punya pilihan lain selain mengikuti kelakuan “keluarga disfungsional” itu (walaupun tak memungkiri dia sendiri juga penasaran).
.
.
Sesuai namanya, ruang pribadi diperuntukan khusus untuk Suguru jika ia butuh waktu untuk menyepi sambil membaca buku atau beristirahat sejenak selepas memimpin ceramah di kalangan non-syaman. Tempat itu sudah seperti kamar meski bukan tempat tinggal. Tidak ada yang bisa masuk tanpa izin dari Suguru. Nanako berada di garis terdepan, sementara yang lain di belakang. Mereka semua berjongkok di depan pintu geser dengan hati-hati untuk meminimalisir bunyi derit lantai kayu.
“Hai, semuanya! Maaf, aku telat. Tadi antre panjang. Lho? Apa yang kalian laku—hmph!”
Masih menenteng dua dus kue, Negi muncul dengan tampang tak berdosa. Manami dengan sigap langsung membungkam mulut Negi dengan tangan. Yang lain ikut menoleh dan memberi isyarat telunjuk ditempel di bibir.
“Shhh! Jangan berisik! Kalau sampai ketahuan, gajimu kupotong,” bisik Manami.
Negi yang terlambat bergabung dengan klub gibah hanya bisa pasrah di bawah ancaman Manami, sekalipun ia tidak mengerti kenapa perilaku mereka terlihat sangat mencurigakan seperti mau maling ayam.
Nanako menempelkan telinga di pintu. Nihil. Tidak ada suara atau bunyi apapun yang lolos. Mustahil terjadi mengingat pintu geser itu hanya dilapisi kertas washi dan di dalamnya tidak diinstalasi kedap suara. Karena kadung penasaran, ujung kelingking Nanako mencoblos kertas washi. Nanako mengintip lewat lubang kecil yang dibuatnya.
Sebuah bola mata balas mengintip di balik lubang.
“UWAAAAA!” Nanako menjerit. Ia terjungkal, pantat menabrak lantai. Jantung Nanako serasa mau loncat ke luar. Mendengar teriakan Nanako tak ayal membuat para anggota sekte terkejut.
Belum sempat bertanya apa yang Nanako lihat, mendadak pintu bergeser. Nampak seseorang berpakaian biksu kuil berdiri di depan pintu dan seorang lagi pemilik rambut putih bersih dengan mata terbebat perban duduk melipat kaki di tatami. Di belakang pintu ada sesosok arwah kutukan berbentuk seperti siluman kuno berwajah pucat. Si pemilik bola mata yang tadi dilihat Nanako.
“Nah, kan, sudah kubilang apa, Suguru. Arwah kutukan peredam suara itu merusak pemandangan. Kasihan Nanako-chan sampai kaget.” Suara riang itu bersumber dari Satoru. Nanako tidak yakin nada bicaranya sedang prihatin atau mengejek.
Apa-apaan memanggilku Nanako-chan?! Jangan sok akrab, ya!
“Ada apa ini, Nanako?” Suguru bertanya kalem.
“E-eh, a-anu...” Nanako gelagapan mencari alasan. Nanako menengok ke belakang untuk minta bantuan dan mendapati tidak ada seorang pun di sana. Semuanya mengambil langkah seribu secepat kilat meninggalkan Nanako yang malang sendirian.
Kalian pengkhianat!
Nanako berdiri sembari menepuk pantat.
“Ehem, jadi begini, Geto-sama. Barusan Negi membeli kue. Aku cuma ingin menawarkan kalau barangkali Geto-sama berminat?” Nanako berusaha senatural mungkin, meskipun keringat menetes di pelipis.
Suguru menoleh, “Satoru mau?”
“Tapi kuenya bukan buat Go—“
“Boleh saja. Kebetulan aku sudah lapar.”
“Jadi, tolong bawakan dua.” Suguru tersenyum manis.
Pintu kembali menutup.
Angin dingin berhembus meniup Nanako yang mematung.
.
.
“Permisi, Geto-sama, aku sudah bawakan kuenya.”
Tak butuh waktu lama untuk Suguru membukakan pintu. Nanako masuk, mengerling ke sudut ruangan. Arwah kutukan yang tadi sudah menghilang. Nanako bisa bernapas lega. Berlutut, ia menata kudapan berupa dua piring crème caramel beserta minuman di meja bundar berkaki rendah. Teh oolong untuk Satoru dan teh hijau untuk Suguru.
“Silahkan.” Nanako meletakkan nampan di atas paha. Lutut diseret menjauh. Nanako sebenarnya ogah-ogahan melayani rivalnya dalam mendapatkan kasih sayang dari Suguru. Tapi, Nanako tetap memilih bersikap sopan karena ia punya rencana lain...
“Wah, kelihatannya enak!”
Nanako masih belum beranjak dari situ, menyaksikan Satoru menyendok suap demi suap crème caramel ke dalam mulut hingga tiba saatnya ia mengambil cangkir. Nanako menyeringai dalam hati. Teh oolong milik Satoru telah Nanako campur dengan obat pencahar untuk meruntuhkan harkat dan martabat kepala klan Gojo di depan Suguru.
Hahaha! Rasakan kau, Gojo Satoru!
“Satoru, kamu lebih suka teh hijau ketimbang oolong, kan? Tukar saja dengan punyaku.”
Eh?
Cangkir Suguru ditukar dengan Satoru. Suguru menghirup aroma teh sebelum mendekatkan bibir cangkir.
“AAAA! Geto-sama jangan minum itu!”
Dalam adegan gerakan lambat, Nanako bermaksud merebut cangkir tersebut, namun kakinya terpeleset dan malah menyambar tangan Suguru hingga wajahnya ketumpahan teh. Satoru merogoh sapu tangan dari kantung celana lalu dengan lembut mengelap wajah Suguru.
“Maafkan aku, Geto-sama! Akan kuganti dengan yang baru.” Nanako bersimpuh sampai jidatnya menyentuh tatami.
Rasanya Nanako ingin membenturkan kepalanya ke tembok terdekat. Setiap rencana disusun yang terjadi malah sebaliknya. Ditambah lagi ia harus menyaksikan adegan romantis Satoru dan Suguru di luar skenario dalam kepala yang membuat Nanako merasa seperti obat nyamuk dalam ruangan itu.
“Tidak apa-apa, Nanako. Lagipula sebentar lagi Satoru akan segera pulang.” Suguru mengulas senyum bak Miss Universe. Tidak ada nada amarah dalam ucapannya. Dalam bayangan Nanako, ada lingkar halo yang bersinar di atas kepala Suguru.
Geto-sama memang yang terbaik! Aku sayang Geto-sama!
Mata Nanako berkaca-kaca terharu. Ia undur diri setelah membereskan segala kekacauan yang ditimbulkan sendiri, meninggalkan Satoru dan Suguru akhirnya bisa berduaan di ruangan tanpa gangguan.
Di ruang tamu rupanya telah berkumpul klub gibah. Alis mereka terangkat melihat Nanako berjalan sempoyongan, kemudian merosot di pojokan. Aura gelap menguar di sekitar Nanako.
“Kenapa lagi ini anak?” Satu tangan Manami berkacak pinggang.
“Aku menyerah. Geto-sama fix kena pelet Gojo.”
Larue terkikik, “Sudahlah, anak muda. Berhenti menyangkal kalau ternyata memang masih ada benih cinta yang tumbuh di antara mereka.” Ia mendadak puitis.
Jauh di lubuk hati, Nanako tahu apa yang dikatakan Larue benar adanya. Ia bisa lihat dari cara Suguru menatap Satoru, menyebut namanya dengan penuh kelembutan, tangan Satoru membelai poni Suguru yang lepek terkena teh. Semua itu meneriakkan afeksi dari setiap sisi dan Nanako tidak cukup bodoh untuk tak menyadarinya.
.
.
Setengah jam berlalu semenjak tragedi teh oolong. Di luar, langit sepenuhnya gelap. Suguru mengantar Satoru sampai di halaman depan. Tentu saja klub gibah tidak ingin ketinggalan mengintip momen ini di balik semak-semak. Mereka tidak bisa menguping apa yang dibicarakan karena terhalang jarak.
“Anggota sektemu lucu sekali.” Satoru terus terkekeh mengamati tingkah laku mereka sejak awal. Tidak ada yang bisa lolos dari radar Six Eyes miliknya.
“Keluarga.” Walaupun dengan kelakuan ajaib seperti itu, tetapi Suguru menganggap mereka seperti bagian dari keluarga.
“Oke, keluarga. Baiklah, aku harus pergi sekarang. Murid-muridku yang manis sedang menunggu.”
Tiba-tiba saja, tanpa aba-aba, Satoru impulsif memutar badan lalu mengecup bibir Suguru. Yang dicium sedikit terkesiap tapi juga tidak menolak.
“Satoru ... sudah kubilang jangan di depan mereka. Kamu sengaja, kan?” Suguru membuang napas.
“Hehehe, habisnya reaksi mereka terlalu lucu. Kamu harus lihat.”
Suguru mengerling lewat ekor mata. Miguel mengelus dagu sembari mengangguk kecil. Tangan Larue menutup mulut. Rahang Negi jatuh ke tanah. Muka Mimiko semerah tomat ranum. Manami menyesal tidak membawa kamera. Nanako pucat pasi, ini pemandangan yang lebih horor dari arwah kutukan manapun yang pernah ia lihat.
Tak selesai sampai di situ, Satoru condongkan badan, dengan suara rendah berbisik di kuping Suguru,
“Sampai ketemu lagi minggu depan di hotel seperti biasa. Aku sudah tidak sabar.”
Satoru menepuk bokong Suguru sebelum teleportasi menghilang dari pandangan.
.
.
.
Bagaimana dengan para pengintip?
Ah, ekspresi di wajah mereka sudah tidak bisa dideskripsikan lagi.
Pesan moral: Jangan suka kepo.
the end
