Work Text:
Kicauan burung menggema merdu berserta dengan dinginnya udara yang menusuk sekujur tubuh. Pagi telah tiba, dan hari baru telah bermula.
Luocha, pria dengan helai keemasan itu tidak menghabiskan waktu lama untuk memulihkan kesadarannya. Dalam sekejap saja, Luocha sudah menamatkan aksi keluar dari kamar dan mengenakan celemek untuk memasak sarapan.
Luocha ingat betul bahwa celemek itu ia terima dari salah satu muridnya, Sushang. Desain dari celemek itu cukup mencolok bagi Luocha, warnanya kuning cerah, lengkap pula dengan gambar ayam mungil di bagian tengahnya.
Sempat terlintas di benak Luocha untuk menjadikannya sebagai pajangan semata. Toh, desain mencolok bukan berarti Luocha tidak menyukainya. Namun, niat tersebut Luocha urungkan ketika melihat senyum cerah Sushang dan reaksi kekasihnya.
Benar, kekasih Luocha.
Kekasihnya saat ini pasti sedang tertidur. Luocha tidak sabar untuk melihat ekspresi kantuknya dan matanya yang mengerjap lesu.
Khayalan Luocha seketika buyar saat pemanggang roti memberinya pertanda usai.
Begitu Luocha telah usai memindahkan telur setengah matang dari teflon ke atas roti, ia segera lanjut menyeduh kopi. Tanpa sang kekasih sebutkan pun, Luocha tahu betul bahwa minuman itu adalah kesukaan kekasihnya.
Luocha sendiri menganggap kekasihnya itu mirip sekali dengan kopi. Terkadang ucapan sang kekasih berkesan pahit. Namun, setelah mengenalnya lebih dalam, menambahkan manisnya gula berupa kasih pada keseharian kedua belah pihak, kekasih Luocha sebenarnya adalah pribadi yang lembut hatinya.
Ah, menyeduh kopi membuat Luocha merindukan separuh hatinya.
Seolah tidak kuasa menahannya lagi, Luocha segera membiarkan langkahnya berjalan menuju sang kekasih.
“Selamat pagi, Dan Heng.” Ujar Luocha yang kini kembali beranjak masuk ke dalam kamarnya. Ralat, kamarnya sekaligus kamar kekasihnya. Mereka memutuskan untuk tinggal bersama sekitar sebelas bulan yang lalu. Luocha tidak pernah menyesali keputusan tersebut.
—
Pertemuan mereka mulanya sederhana, atau bahkan klise. Luocha bertemu dengan Dan Heng di sebuah toko buku sekitar empat tahun lalu. Kala itu, Luocha yang tidak dapat menemukan judul novel tertentu berpapasan dengan Dan Heng. Ternyata, Dan Heng adalah penulis dari novel tersebut dan bersedia meminjamkan cetakan pertama miliknya kepada Luocha.
Dari sanalah hubungan di antara Luocha dan Dan Heng kian berkembang. Berawal dari mengetahui ketertarikan mereka yang selaras, hingga terbentuklah kebiasaan mereka untuk saling mengajak ketika diadakan acara pameran terkait literatur.
Luocha mulai merasa nyaman dengan Dan Heng, sedangkan Dan Heng sendiri mulai menjadi lebih ekspresif di hadapan Luocha.
Ketika Dan Heng mengalami buntu ide, berbicara dengan Luocha membantunya untuk berpikir lebih jernih. Ketika Luocha mempertanyakan keputusannya untuk menjadi seorang guru, Dan Heng meyakinkan Luocha bahwa dia layak mengemban profesi tersebut.
Lambat laun, keduanya saling mengisi rongga dalam keseharian satu sama lain. Keduanya menyadari bahwa apa yang mereka rasakan sudah bukan lagi sekadar pertemanan platonis.
Suatu sore di pertemuan mereka yang entah sudah keberapa kali, Luocha sudah mempersiapkan diri dengan membawa mawar merah. Jangan tanya mengapa mawar merah, Jing Yuan yang memberinya saran demikian.
Namun, di luar dugaan Luocha, Dan Heng menjadi yang terlebih dahulu mengajaknya untuk menjalin hubungan romantis.
“Luocha, aku pikir bahwa aku merasa lebih dari sekedar tenang ketika bersamamu. Maukah kau untuk turut merasakan ketenangan ini bersamaku?” Adalah kalimat yang Dan Heng katakan sebelum Luocha sempat memberikan karangan bunganya.
Klise, sunggu klise. Kebanyakan orang mungkin akan menganggapnya menggelikan, tapi tidak dengan Luocha yang sudah lama menunggu kesempatan untuk memperjelas ikatannya dengan Dan Heng. Luocha mengiyakan tanpa perlu berpikir panjang.
—
Hingga sampailah mereka pada masa kini. Di bawah atap yang sama dengan perasaan yang serupa.
Meski telah tinggal bersama, tetap ada kebiasaan yang melekat pada keduanya. Salah satu contoh yang meyakinkan adalah kondisi kedua sisi kamar.
Kondisi sisi kanan dan sisi kiri kamar itu sendiri benar-benar bertolak belakang. Sisi kanan yang biasa dihuni Luocha tertata rapih, hanya dihiasi beberapa buku mengenai ilmu medis dan dua tumpuk kertas ulangan milik murid-muridnya yang belum sempat Luocha nilai.
Sedangkan sisi kiri yang biasa dihuni sang kekasih, Dan Heng, wujudnya dapat dikata menyerupai kapal pecah. Lembaran berisi kisah fiksi tergeletak hingga menjamah kasur, laptop dengan baterai penuh tapi masih saja terhubung dengan colokan, tak luput juga cangkir beserta piring kotor yang sebelumnya digunakan untuk menampung camilan malam. Kacau.
Di tengah kekacauan tersebut, terbaringlah Dan Heng di atas kasur dengan selimut yang hanya menutupi setengah badannya akibat telah ditendang kemana-mana. Meski demikian, wajah Dan Heng yang tengah terlelap tampak begitu tenang.
“Dan Heng, ayo bangun,” Luocha duduk di ujung kasur dan membungkuk untuk berbisik tepat di telinga Dan Heng, “kau bisa tidur lagi setelah sarapan.”
Lelaki di bawah Luocha itu menggeliat manja sembari menyuarakan rasa enggannya dengan erangan yang sulit ditangkap oleh telinga.
Luocha hanya terkekeh geli melihat Dan Heng, “Baiklah. Tampaknya aku harus memaksamu, ya?”
Dengan mudah, Luocha mengangkat tubuh Dan Heng dan menggendongnya. Sontak, Dan Heng membelalak. Bagaimana tidak? Luocha kini tengah menggendongnya seolah Dan Heng adalah seorang pengantin.
“Turunkan aku. Aku sudah bangun.” Gerutu Dan Heng yang terlanjur malu. Luocha sama sekali tidak merasa terancam dengan raut marah Dan Heng yang dibuat-buat.
Alih-alih, Luocha justru semakin merekahkan senyumnya, “Selamat pagi, Dan Heng.” Luocha mengulang ucapannya.
Dan Heng tahu betul bahwa meminta Luocha untuk menurunkannya di saat seperti ini adalah perbuataan yang sia-sia. Pria itu benar-benar menikmati Dan Heng yang salah tingkah. Menyerah, Dan Heng pun memilih untuk membalas ucapan Luocha dengan menangkup wajah Luocha dan mendekatkan bibir keduanya.
“Selamat pagi juga, Luocha.” Ujar Dan Heng, masih menangkup wajah Luocha.
Indah sekali, pikir Luocha. Dan Heng yang tengah bermandikan cahaya mentari pagi benar-benar indah.
Helai malamnya kontras bersapa pada kilau sinar yang dibawa dari ufuk timur, membuat netra hijau sejuk milik Dan Heng tampak bagai embun yang mendarat di atas daun tanaman paling cantik di seluruh semesta.
Luocha dapat memandangi lukisan sempurna ini setiap saat, bila entitas mana pun yang berkuasa di atas sana mengizinkan mentari untuk terus berada menuju puncaknya. Tentu saja, hal itu tidak mungkin. Karena itu, Luocha memastikan bahwa ia telah mencantumkan pemandangan mengagumkan itu baik-baik dalam memorinya.
“Aku mencintaimu.” Dua kata itu terlepas begitu saja.
Pihak di hadapannya sempat terdiam. Lalu, ia tertawa kecil dan tersenyum, “Aku juga mencintaimu.”
Aku selalu mencintaimu.
Waktu yang memisahkan pun suatu saat akan kembali mempertemukan aku dengan dirimu.
Kadung dalamnya perasaan yang kita larutkan bersama, aku dan kamu, yang terikat oleh janji tidak tertulis bertajuk rasa cinta.
Teruslah genggam tanganku, sebagaimana aku akan terus berjalan denganmu. Teruslah mencintaiku, sebagaimana aku akan selalu mencintaimu.
Sekali lagi, mari kita sahkan sumpah ini dengan segel berupa kecupan manis dan memabukkan di kala mentari menyapa.
Lihat, percayalah padaku bahwa aku benar-benar mencintaimu.
Sungguh, aku selalu mencintaimu.
