Chapter Text
Entah sudah berapa kali pria berbadan kekar itu menghembuskan nafas beratnya di malam ini. tayang televisi terputar sejak tadi tapi Shogo yakin sekali pria yang duduk di sofa itu pasti tidak menonton tayangan di televisi itu.
“Hey ada masalah?” walau sejak tadi Shogo sibuk melipat pakaian, tapi dia cukup terusik dengan hembusan nafas berat dari pria itu.
“Tidak.”
Baiklah jika tidak ada masalah maka Shogo tidak akan mengajukan pertanyaan kembali.
“Huftt..”
Baiklah sekarang Shogo terlalu gemas dengan kelakuan pria itu. Dengan cepat dia memasukkan pakaian yang telah dilipat dan memasukkannya kedalam lemari baju.
Kini dia mengambil posisi duduk menyila di atas sofa tepat di samping pria itu. “ayo sini cerita, aku dengerin nih sekarang.” Ucap Shogo sambil menyandar pada sandaran dan menatap lurus kearah pria dihadapannya.
Pria dihadapannya segera menyandar juga dan menatap kembali Shogo yang sedang menatapnya langsung.
“Ternyata kekasihku tampan sekali…” ucap pria itu.
Shogo mengambil bantal dan melemparnya tepat di muka pria itu.
“Riku-san…aku akan mendengar ceritamu bukan gombalanmu!” Shogo gemas sekali dengan kekasihnya itu. Bisa-bisanya dia menggombal ketika Shogo sudah siap mendengar cerita dari Riku.
“hihihi..kekasihku lucu sekali…daster anjingmu juga lucu sekali…” ucap Riku yang sepertinya masih ingin menggoda kekasihnya.
Pipi dan telinga Shogo bersemu merah. Dia malu dan awkward akibat ulah Riku. Sehingga Shogo teringat dengan kejadian tadi sore. Ketika dia keluar toilet dan mendapati Riku sedang sibuk membuka paket yang baru saja datang ke rumah mereka.
“Kamu sering banget belanja online riku-san…apa lagi sekarang yang dibeli?” Ucap Shogo yang mengintip dari balik punggung Riku sambil mengeringkan rambut hitam ikalnya.
“TADAAAAA!” seru Riku yang langsung berdiri dan memperlihatkan sebuah daster bercorak anjing di tangannya.
“Gaun?” Shogo menatap bingung dengan bentuk baju seperti gaun namun terlalu tipis untuk dikata gaun.
“Bukan!”
“Lalu apa?” Ucap Shogo yang mulai mengambil pakaian tersebut dan mengepasinya dibadannya. Pakaian itu agak besar dibadannya dan menggantung di kakinya.
Riku tersenyum melihat Shogo yang sedang bingung dan sibuk sendiri dengan pakaian bermotif anjing itu. “Daster…Penggemar Indonesia memposting dirinya di twitter dengan pakaian ini, mereka menyebut ini daster. Karena ini lucu aku beli selusin untukmu dengan beragam warna.” Ucap Riku yang sudah sibuk mengeluarkan beragam warna daster lainnya dari kotak paket yang baru saja datang itu.
Shogo menatap bingung pada tumpukan baju yang di keluarkan Riku, bagaimana bisa kekasihnya mengeluarkan uang untuk 12 potong baju dengan bentuk dan hanya motifnya saja yang berbeda.
“EHHH INI BANYAK SEKALI! Ini lucu, tapi ini terlalu banyak Riku-san…dipakai keluar rumahpun aku tidak bisa dengan motif norak seperti ini.”
Riku terekeh “hihihi…daster memang dipake di rumah….terlebih lagi ini sangat nyaman dan tidak ribet digunakan. Coba kenakan, pasti pas dengan kelucuan kekasihku.”
Shogo berfikir sejenak dan mulai mengenakan daster tersebut. Belum selesai mengenakan, riku sudah menyuruhnya berhenti dulu. “eh sebentar…bukan begini makenya…kamu lepas dulu kaos sama celana pendeknya baru di pake dasternya.”
Shogo menurut dan melepas kembali daster dan mencoba membuka kaosnya. Tepat ketika dia mau melepas celananya riku sudah dulu mengajukan dirinya. “mau aku bantu melepas celananya ngga?”
Shogo menimpuk Riku dengan kaos yang telah dia lepas. “Dasar mesum! Aku pakai dulu dasternya baru lepas celananya.” Dan shogo selanjutnya mengenakan daster dan melepas celana pendeknya.
“Benar seperti ini mengenakan daster?” tanya Shogo yang menatap daster tersebut dan kembali menatap Riku dengan wajah bingung.
“YA AMPUNNNN LUCU DAN PAS SEKALI DI BADAN KEKASIHKU!” Riku segera memeluk Shogo dan mencium gemas dahi, pipi, hidung, dan bibir Shogo secara bergantian.
“Ri-Khu-San…To-long Hen-Thi-Khan…” Ucap Shogo yang masih tidak bisa berkutik ketika wajahnya penuh dengan semburan ciuman kekasihnya.
Riku menghentikan ciumannya dan malah memeluknya erat. “waaaaa aku sayang sekali dengan Shogo.. Baju itu pas sekali. Pokoknya selama di rumah kenakan itu ya..”
Bayangan sore hari Shogoriku mengenai daster baru Shogo berakhir. Kini Shogo kembali menatap Riku yang tersenyum lebar kepadanya. “udah ah…aku duduk disini buat dengerin cerita kamu loh.” Ucap Shogo yang mulai menopang kepala bagian kirinya untuk menatap Riku.
“Hmmm…jadi besok aku ada acara bareng Likiya-san buat acara masak masaknya dia…” Wajah Riku menatap murung televisi yang sedang menayangi iklan.
“Tapi aku kan ngga pernah masak, waktu kamu pergi yang bareng hoku sama kenta itu aja pulang pulang kamu marah sama aku karena dapurnya berantakan.” Ucap Riku sambil mengedipkan matanya pura-pura merasa bersalah.
Mau tak mau Shogo melempari bantal yang ada ditangannya melihat reaksi Riku yang seperti itu. “Bukan hanya berantakan bodoh! Itu GOSONG! Mana meja dapurnya juga gosong…bagaimana gak marah?!” ucapa Shogo gemas.
“Aduh..Iya iya maapin.”
“Jadi?...besok kamu mau bikin gosong dapur acara Likiya?” tanya Shogo yang terkekeh sendiri membayangkan Riku akan kembali menghanguskan dapur di acara tersebut.
“iiii Shogo…kok kamu bilang gituuuuu.” Riku sok-sok an membuat wajah sedih dan menatap Shogo yang masih tertawa kecil.
“Aku bsk edisi bikin minuman kok…bukan masak” lanjut Riku.
“ooo ya kalau begitu mudahkan? Hanya tinggal menuang-nuangkan saja?” kata Shogo.
Riku menimbang jawaban Shogo tapi sepertinya masih ada yang mengganjal di hatinya.
“Kenapa lagi?” tanya Shogo.
“Masalahnya…Aku gk ngerti pegang pisau buat motong jeruk nipis…” ucap Riku sambil menyatukan kedua jari telunjuknya seperti anak kecil.
“Astagaaaaaaaaaa…baiklah ayo buruan!” Ucap Shogo yang menarik Riku berdiri disamping nya pada meja dapur rumah mereka.
Shogo sibuk mengambil jeruk nipis dari kulkas dan memilihnya sesuai ukuran yang sama. Lalu dia menyiapkan pisau potong buah dan talenan di atas meja dapur.
Riku hanya diam memperhatikan kerana dia merasa sangat asing dengan dapur. Selain itu, Shogo kerap kali memarahinya jika Riku mendekati meja dapur setelah menghanguskan Dapur rumah mereka.
“Oke kenakan apron dulu.”ucap Shogo. Riku hanya menuruti dan mengenakan apron yang diberikan Shogo. “Aish lama sekali memasang talinya…berbalik dan sini aku ikat simpul.” Ucap Shogo yang langsung membalik badan Riku untuk lebih mudah mengikat apron miliknya.
“Oke sekarang aku kenakan apron juga…eh rambutku menghalangi, baiklah aku ikat dan kamu bantu aku menali tali apron dibelakang punggungku ya.” Dengan cepat Shogo membelakangi Riku dan mengikat rambutnya dengan ikatan acak. Shogo sepertinya tidak menyadari bahwa gelagatnya membuat Riku hilang fokus akibat melihat leher putih milik Shogo.
“A-no Shogo…ini tidak sulit dan lamakan?”tanya Riku yang sepertinya dia ingin kelas memasak dia dengan Shogo segera berakhir dengan cepat.
“Kamu harus fokus memperhatikan, biar cepat selesai.” Ucap Shogo yang memberikan sebuah pisau buah lain dan talenan ke tangan riku.
Riku menurut dan berdiri di samping kiri Shogo dengan fokus yang melayang-layang entah kemana setelah melihat leher Shogo.
“Oke…jadi pegang pisau di tangan kananmu dan pegang jeruk nipisnya si tangan kiri, jeruk nipisnya harus menempel di atas talenan ya.” Ucap Shogo sekaligus memperlihatkan caranya. Riku hanya diam dan malah sibuk melirik-lirik kearah leher Shogo kembali.
“Aishhhh..kamu ikuti aku juga Riku-san” Ucap Shogo gemas dengan planga plongonya Riku.
“Eh- iya iya.”
“Baik selanjutnya kamu potong seperti mengiris daun bawang tapi besar besar seperti ini….nah seperti ini…dan seperti ini..” ucap Shogo yang beberap kali membelah jeruk nipisnya dengan potongan bulat bulat tidak tebal dan tidak tipis.
“Jadi mudahkan…” kini Shogo sudah menatap Riku tapi Riku malah memperhatikan lehernya terus.
“Astagaaaa….kamu tidak memperhatikan aku?! Ada apa dengan leherku si?” Kini Shogo meraba lehernya dan sudah dia pastikan tidak ada apa apa disana.
“Aku memperhatikan kok! Sudah paham dan mudah kok! Jadi sudahan yuk kita tidur saja sudah malam.” Ucap Riku yang meletakkan pisau dan jeruk nipisnya di atas talenan kembali.
“Eh jeruk nipismu masih utuhhh..dan ini masih pukul 8 malam Riku-san…”Shogo menatap was-was Riku, sepertinya ada maksud lain dari Riku mengajaknya tidur cepat.
Kini Riku juga sudah melepaskan apron dan meletakkannya asal. Dia menatap Shogo dan mengangkat pria yang bertubuh lebih pendek darinya itu di atas meja dapur yang kosong tanpa talenan.
“Kyaaaa” Shogo memekik. Riku cepat sekali membuat dirinya berpindah.
“Mau apa meletakkan aku di sini. Mana dibelakangku westafel.” Ucap Shogo yang menatap was-was, takut dirinya terjerembab di dalam westafel.
Riku meletakkan kedua tangannya di sisi Shogo dan mendekatkan wajahnya tepat di depan Shogo.
“Kekasihku hari ini begitu menggoda. Aku jadi ingin lebih dekat dan menghirup aromanya lebih dekat.” Ucap Riku sambil menatap Shogo lekat-lekat.
“Astagaaaaa…kamu tidak fokus belajar dong dari tadi.” Shogo terkekeh kecil sambil menutup mulutnya dengan imut.
Perlahan Riku menipiskan jarak dirinya dengan wajah Shogo dan membuat Shogo perlahan meletakkan tangannya di pipi Riku. Kini kedua bibir bertemu dan menyesap dalam penuh cinta. Ciuman lembut dan dalam, saling menunjukkan cinta disetiap kecupannya.
Perlahan tangan Shogo yang berada di pipi, sudah beralih ke leher Riku sehingga membuat Ciuman itu lebih intens, panas, dan dalam. Merasa kehabisan nafas, Riku melepaskan ciuman keduanya dan menatap mata Shogo dalam.
“Pindah ke kamar yuk.” Dengan cepat Riku membopong Shogo dengan gendongan pengantin dan membawa ke kamar mereka.
Shogo memekik. “Kyaa, sesi belajarnya belum selesai Riku-san.”
“Aku sudah paham, tapi badanmu hari ini belum aku pahami. Sepertinya itu lebih penting sekarang.” Ucap Riku asal.
“DASAR MESUMM!”
Dan shogorikupun menghilang di balik pintu kamar mereka dengan meninggalkan jeruk nipis yang teranggurkan di atas meja dapur.
Shogo sedang berlari diatas treadmill pada sesi gym sore ini. Tak lupa siaran acara masak-masak Likiya menjadi temannya dikala berolahraga. Dia tentu saja tidak mungkin melewatkan momen bagaimana Riku yang dengan gugupnya hadir diacara masak-masak itu. Dan jangan lupakan keringat dingin yang terlihat memenuhi dahi riku.
“Hihihi, Riku-san kawai~~” kekeh Shogo yang mulai sibuk menatap ponsel dengan tayangan acara masak-masak Riku dan Likiya.
Sesi memotong jeruk nipis berlangsung. Riku menatap jeruk nipisnya dan membelahnya menjadi dua bagian. Tentu saja itu membuat Shogo tertawa melihatnya.
Dengan tertawa, Likiya menghentikan Riku dan mengatakan untuk memotongnya seperti mengiris. Namun selanjutnya yang dilakukan Riku lebih membuat Likiya maupun penonton tertawa. Riku benar-benar memotongnya seperti mengiris bawang, dan wajah yang ditampilkan Riku kepada kamera adalah lucu sekali.
“Hihihihi sepertinya Riku-san lebih baik belajar masak dengan Likiya-san saja” ucap Shogo yang masih sibuk tertawa dan menonton acara itu hingga selesai.
