Actions

Work Header

Letter For You.

Summary:

Untuk Nagi Seishirou,
Dari seorang teman sekelas.

Notes:

Enjoy the story! ❤

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Teruntuk Nagi Seishiro,

Dari teman sekelas.

 

Halo, Nagi?

Mungkin kamu bingung kenapa tiba tiba ada sepucuk surat di lokermu yang udah lama gak kebuka, atau bahkan mungkin surat ini akan terus mengendap di lokermu untuk waktu yang lebih lama lagi. Tapi kalau misalkan surat ini sampai dan kamu udah buka, aku cuma kamu tau bahwa... surat ini gak ada ancaman atau hal mencurigakan,

ini cuma.. aku ingin nyatain perasaanku.

 

Nagi Seishirou,

Sering kuucap nama itu dalam hati, kudengungkan dalam kalbu, dan kugumamkan dengan lisan. Satu hal yang kusadari, namamu sungguh mudah ku lafalkan. Hal lain yang kusadari, aku menyukai namamu.

Aku sering melihatmu, Nagi. Netraku selalu menangkap dirimu di tengah lautan siswa di sekolah, surai putih perakmu selalu tertangkap kedua bola mataku, terkadang dengan hoodie yang kau pakai, walau padahal kau bukan orang yang punya 'eksistensi' di sini. Namun entah kenapa, aku selalu bisa menemukanmu.

 

Nagi,

Sering ku lihat kamu tertidur di dalam kelas, bangku pojok sebelah kiri, dekat dengan jendela. Atau kau memakan roti melon diam diam saat pelajaran. Seringkali kamu menutup mukamu dengan buku besar, membuatku tak bisa melihat wajahmu, namun ku tahu, kau pasti tertidur saat itu. Namun orang sepertimu terlahir jenius, ya?

Apa jangan jangan, saat kau tertidur, apa kau memimpikan sejarah dan politik? Bukankah pernah kau ucapkan kalimat 'partikel minovsky' saat Mikage membangunkanmu saat pelajaran sejarah? Namun hebatnya, kau meraih nilai sangat bagus saat ujian.

 

Namun Nagi,

Mungkin duniamu telah terjungkir balik saat kau 'ditemukan' oleh Mikage. Saat kau menemukan sepak bola dalam hidupmu. Ini perubahan yang tak kuduga darimu. Mungkin satu sisi hatiku agak sakit karena aku jarang melihatmu langsung pulang saat pelajaran selesai, atau bahkan kau selalu terlihat berlatih di lapangan sekolah. Aku tau, aku harus menerima hal ini, perubahan ini, tapi mungkin aku cukup egois, karena aku agak cemburu, aku merasa Mikage merebut dirimu dariku, padahal aku tak berhak, aku juga gak mau egois. Aku hanya bisa memendam perasaan ini. Tapi tak apa apa, yang penting, kau terlihat senang.

Kau pasti capek ya, Nagi? Tapi gak apa apa kok. Kadang kita harus merasakan pahitnya hidup, agar kita paham, seberapa manis yang kita dapat dari hasilnya. Hal itu manusiawi, dan aku yakin kalau kau pasti bisa mengatasinya.

Namun lama kelamaan, kau terasa jauh dariku.

 

Lalu, aku membencimu, Nagi.

Kau tiba tiba menghilang saat aku datang lebih awal untuk melihatmu pagi hari. Saat itu aku menunggu sampai bel belajar dimulai, namun dirimu tak hadir lagi disana. Aku tak tahu kemana kau, aku tak bisa bertanya, aku tak punya petunjuk. Satu minggu, dan itu cukup lama. Kau bagaikan 'hilang', itu menyiksaku. Aku rindu melihatmu lagi.

Saat itu sebulan setelah kau 'menghilang', wali kelas kita berkata bahwa kau ikut dalam pelatihan khusus sepak bola tertutup dengan Mikage. Aku menggebrak meja saking terkejutnya, hampir dikeluarkan dari kelas. Tapi aku sangat terkejut, lho, Nagi, saat aku berpikir bahwa kau akan menjadi hebat dengan bermain sepak bola, takkan kusangka kau akan sehebat itu.

Lagipula, kau dan Mikage dilahirkan jenius. Aku yakin kau dan Mikage akan bisa melaluinya, memenangkan kejuaraan, dan menjadi terkenal.

 

Tapi aku merindukanmu, Nagi.

Tak kutemukan surai putih perakmu lagi di tengah keramaian siswa, hoodiemu juga tak bisa kulihat lagi, bahkan saat ku menduduki bangkumu, kedua netra abu abumu tak bisa lagi kupandang, dan tak kucium lagi wangi vanilla yang pernah kucium saat mendudukinya dulu.

Aku sangat merindukanmu, Nagi.

 

Dan tiba tiba, aku melihat di koran bahwa kau akan bertanding di liga melawan U-20 Jepang. Aku sangat terkejut, lalu segera memesan tiket.

Aku datang saat itu, namun di stand paling ujung, aku terlambat mendapat tiket. Tapi aku tetap melihatmu dengan teropong temanku.

Kau sangat hebat, Nagi. Kau sudah bertumbuh dan berkembang jauh lebih hebat, lebih keren, dan lebih... tampan, dari terakhir ku melihatmu. Apakah semua latihan khusus tertutup itu yang membuatmu berkembang? Kau benar benar hebat. Seperti... kau adalah Nagi yang beda dari dahulu.

 

Tapi jujur, aku cemburu, Nagi.

Saat aku melihatmu di akhir pertandingan, beberapa orang di sebelahku meneriakkan namamu, memuji kehebatanmu. Jika boleh jujur, aku cemburu, Nagi. Aku.. gak mau ada orang yang mencintaimu seperti aku mencintaimu, aku gak mau kalau kau banyak dicintai, aku hanya ingin kamu dicintai olehku. Namun aku sadar bahwa aku tak bisa egois, aku gak boleh menjadi orang yang egois. Lagipula, kau sudah menjadi jauh untukku, aku tak bisa mengejarmu lagi, kau terlalu jauh untuk kulihat lagi.

 

Tak tidak apa apa. Aku hanya ingin kamu bahagia. Kamu harus bahagia, Nagi. Kejar mimpimu, raihlah. Kau pasti akan menggapainya, aku yakin. Karena Nagi Seishirou pasti bisa menggapainya.

Aku disini akan mendukungmu kok. Sebagai seorang teman sekelas, sebagai seorang penggemar, sebagai seorang pengagum. Kau tak perlu tau perasaanku, cukup aku doakan kamu disana, supaya kamu bisa mencapai kesuksesanmu.

 

Aku akhiri surat ini dengan doaku, semoga kamu beruntung, semoga kamu bahagia, dan semoga kamu sehat selalu. Aku berharap, hari yang tepat akan tiba untukku mengatakan hal ini langsung padamu.

Aku mencintaimu.

 

Tertanda,

Teman sekelas.

 

 


 

 

Pemuda dengan surai putih perak itu tersenyum tipis, menatap wajah seorang gadis yang pipinya terlihat bersemu di hadapannya, tangan si pemuda memegang secarik surat, semua kata kata yang bahkan si gadis tak harapkan akan sampai pada si pemuda.

"I came for holiday and see, what i found," Si pemuda berkata dan menunjukkan surat tersebut, yang ia temukan pada loker sekolahnya, si gadis makin bersemu, menatap surat itu malu malu.

Pemuda tersebut tersenyum cukup lebar, lebih merupai seringai. Ia ulurkan tangan kanannya pada si gadis, lalu mata abu abunya menatap kedua mata gadis itu dalam dalam.

"Nama: Nagi Seishirou. Hobi: game ponsel, dan sepak bola," ucap si pemuda. "Lalu, maukah kau berkenalan denganku?"

Si gadis tersenyum, lalu tertawa kecil. Ia menjabat tangannya dengan pipi yang memerah.

Notes:

Hahaha, ada yang mau lanjutannya, kah? :D