Actions

Work Header

Ubuyashiki Kiriya Time Travel Accident

Summary:

Kiriya Ubuyashiki adalah pemimpin terakhir Pasukan Demon Slayer setelah ayah nya yaitu Kagaya Ubuyashiki meninggal karena meledakkan diri

setelah Muzan telah musnah tak bersisa di bawah sinar matahari, pasukan demon slayer pun dibubarkan, tetapi Kiriya terkadang teringat akan ayah, ibu dan kedua kakak perempuan nya yang mati demi kemenangan mereka

sampai suatu saat... Kiriya terbangun di ruangan nya yang familiar dan menemukan keluarganya masih hidup

Notes:

Halo semuanya, saya membuat cerita baru! Saya sangat menghargai support kalian semua

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Prologue

Chapter Text

.
.
.
.
.
.

Ubuyashiki Kiriya POV

Banyak nyawa telah melayang, banyak pengorbanan yang telah dilakukan, akhirnya hari dimana Muzan musnah akan tiba. Karena aku adalah satu satunya keturunan laki laki di keluargaku, setelah ayah ku meninggal maka aku menjadi Oyakata-sama berikutnya. Ayah ku yang telah pergi mengatakan bahwa kita harus merayakan hari dimana Muzan musnah.

"Terimakasih atas kerja keras kalian, dari semua pillar, hanya tersisa kalian ya, kalian telah bekerja dengan sangat baik, saya sebagai pemimpin pasukan demon slayer mengucapkan terimakasih sekali lagi" Ucapku sambil menunduk, karena akhirnya kutukan yang mengalir di darah ku yaitu Muzan telah tiada.

"Tidak, kami juga mengucapkan terimakasih atas kerja sama anda Kiriya-sama, Kagaya-sama pasti akan sangat bangga padamu" Ucap Giyuu yang tak terduga

"... Terimakasih" Balas ku sambil meneteskan air mata

Aku ingin mengucapkan terimakasih pada ayahku, ibuku, dan kedua kakak perempuan ku yang telah memberikan kesempatan ini. Aku sangat ingin seluruh anggota keluarga ku menyaksikan kemenangan ini. Tanpa kusadari kedua adikku, Kuina dan Kanata juga menangis, kami sangat berbahagia dan sedih di saat itu.

.
.
.
.
.

Setelah Pertemuan Hashira

"Kalian mau gimana seterusnya?" Tanyaku pada Kuina dan Kanata

"Kak, kutukannya masih ada kah?" Tanya Kanata padaku

"Hmmm... Sepertinya tidak, aku sudah merasa lebih sehat, bahkan sepertinya aku tidak akan jatuh sakit seperti biasanya" Kataku. Keluarga Ubuyashiki sendiri memiliki penyakit turun temurun dikarenakan kutukan dari Muzan, yaitu untuk pewaris laki laki memiliki tubuh lemah dan tidak akan bisa hidup lebih dari 30 tahun, serta memiliki penyakit yang amat berbahaya. Kemudian untuk keturunan perempuan mereka harus menikah di usia 13 tahun dan mengganti nama mereka agar tidak bernama Ubuyashiki, jika tidak maka mereka akan mati dengan mengenaskan.

"Aku pengen bisa berpedang ya..." Racau ku

"Hah... Kakak yang seumur hidup pakai baju perempuan dan bertingkah seperti perempuan pengen berpedang?" Ucap Kuina membalas

"Karena... Itu keren kan? Dan karena kutukan itu aku akan jadi anggota keluarga Ubuyashiki pertama yang jadi pendekar pedang, gimana?" Jawabku

"Jika kau jadi pendekar pedang, kau akan ditangkap oleh polisi, Oyakata-sama" Balas Kanata

"Hentikan panggilan Oyakata-sama itu, pasukan nya sudah dibubarkan jadi tidak ada alasan aku dipanggil begitu lagi" Balas ku sedikit kesal

"Jika kakak benar benar ingin jadi pendekar pedang, maka kita bisa panggilkan seorang guru untuk anda, apa anda juga ingin belajar tentang teknik pernapasan?" Tanya Kanata kembali

"Tidak perlu teknik pernapasan, iblis sudah tidak ada, jadi tidak perlu" Ucapku

"Eh tunggu... Teknik pernapasan bisa juga dianggap sebagai warisan untuk generasi selanjutnya, apa sebaiknya aku berlatih itu juga?" Tambah ku

"Apapun itu yang kakak inginkan kami bisa lakukan, karena kakak adalah kepala keluarga Ubuyashiki, kakak masih punya penglihatan masa depan kan?" Tanya Kuina

"Penglihatan itu tidak bisa diandalkan Kuina, terkadang memperlihatkan sesuatu yang sangat penting, terkadang juga tidak memperlihatkan apa apa, punya ayah pun begitu, maka dari itu, kita tak bisa bergantung pada itu, tetapi soal kekayaan keluarga kita jangan khawatir, karena ayah telah mengajariku berbagai hal" Ucapku sambil tersenyum

"Begitu?" Ucap Kanata sambil tersenyum

.
.
.
.
.

"Wah! Inikah kekuatan tubuh manusia!" Ucapku sambil bersemangat

Tanpa kusadari aku meracau didepan guru yang dipanggil untuk melatihku berpedang. Guruku memang tak mempermasalahkan nya tapi dia melihatku dengan mata hangat. Serasa dipandang begitu aku meminta maaf

"Maaf sensei, aku teralihkan" Ucapku sambil menyentuh tengkuk

"Tidak Kiriya-sama, hanya saja melihat anggota keluarga Ubuyashiki bisa bersemangat seperti ini merupakan hal yang menyenangkan, ini membuatku teringat akan kemenangan kita atas Muzan" Ucapnya

"Ah begitu... Terimakasih sensei" Ucapku sambil tersenyum. Tak bisa dipungkiri seluruh anggota demon slayer pasti akan merayakan hari dimana Muzan binasa, akupun sama

"Sudah cukup basa basi nya, siapkan pertahananmu!" Kata sensei dengan suara lantang

"siap!" Balasku

.
.
.
.
.

"Capek sekali!" Ucapku sambil tidur terbaring di kamar ku

"Inilah kenapa jika tidak pernah olahraga tetapi ingin jadi ahli pedang" Balas Kuina tiba tiba masuk ke kamar ku sambil membawa teh

"Terimakasih" Balas ku dengan bersemangat

"Sama sama" Balas adikku dengan lembut

"Benar benar damai ya... Para gagak juga hanya berterbangan kesana kemari, jadinya... Aku nganggur juga ini" Ucapku

"Kakak, Tomioka-san dan Shinaguzawa-san ingin bertemu dengan anda" Ucap Kanata tiba tiba menghampiri kamar ku

"Oh baik, suruh mereka ke tempat pertemuan di dalam, aku akan berganti baju dari baju latihan ku" Balas ku sambil bergegas berganti pakaian

.
.
.
.
.

"Oyakata-sama, izinkan kami melaporkan sesuatu" Ucap Giyuu tiba tiba

"Ada apa Tomioka-san?" Tanya ku

"Ada suatu keanehan yang ditemukan oleh Tanjiro didekat gunung tempat dia tinggal" Jawab Giyuu

"Iblis?" Tanyaku

"Ini mungkin seperti Blood Demon Art atau semacamnya tapi mengingat semua iblis sudah kita bantai jadi hal itu tidak mungkin" Jawab Sanemi

"Ada yang aneh, aku akan mengirimkan beberapa gagak kesitu untuk mengintai, sampaikan pesanku pada Tanjiro-san untuk berhati hati dan jika terjadi sesuatu dia harus melakukan evakuasi terhadap warga disekitar situ" Jawabku

"Baik" Jawab Giyuu dan Sanemi bersamaan

"Apa kalian ingin minum teh?" Tanyaku

"Tidak Oyakata-sama, kami ingin mengunjungi makam para Hashira yang telah gugur, jadi kami akan duluan" Jawab Sanemi

"Baiklah... Kalian memang anak anak baik ya, jangan gunakan panggilan Oyakata-sama padaku, karena Regu Pembasmi Iblis telah dibubarkan" Tegur ku

"Kami tidak masalah Oyakata-sama, berkatmu kami masih hidup hari ini" Kata Sanemi

"Haha... Baiklah..." Balas ku dengan tertawa kecil

"Kami permisi" Ucap mereka berdua

"Diingat lagi sekarang mereka jadi teman dekat ya..." Ucapku sambil pergi ke ruang kerja

.
.
.
.
.

"Kiriya ingatlah ini... Kau harus terus mengobarkan semangat ini dihatimu... Kau akan terus memburu iblis sampai satupun tak bersisa, karena keluarga kita memiliki dosa... Yaitu kita sedarah dengan raja iblis yang membunuh ribuan orang... Inilah hal yang suatu hari nanti akan menjadi tanggung jawabmu Kiriya..." Ucap ayah sambil mengelus kepala ku

Aku sangat menyayangi keluargaku, tetapi karena keadaan keluarga kita yang unik maka aku harus menahan. Aku tau suatu hari ayah akan melakukan hal seperti ini. Sejak aku lahir ayahku sudah siap mengorbankan segalanya karena dia sudah tenang jika anak laki laki sebagai penerus telah lahir. Mungkin terdengar tidak biasa bagi orang lain tapi inilah cinta keluargaku, mereka sangat menyayangiku...

"Aku kangen ya ..." Ucapku terbangun dari mimpi

"Apa yang kau mimpikan Kiriya?" Tanya sebuah suara yang kukenal

"Ah itu ayah... Aku memimpikan perkataan ayah... Bahkan setelah tiada, aku masih bisa mendengarkan perkataan ayah... Aku bahagia..." Ucapku

"Ayah? Ayah sudah tiada?" Tanya suara itu lagi sambil memasuki ruanganku

"Eh?" Tanyaku

"Kau kan Hinaki?!" Teriakku, bagaimana tidak kaget, Hinaki adalah kakak Perempuanku yang ikut terbunuh saat ayah melakukan ledakan bunuh diri untuk meracuni Muzan

"Bagaimana..." Ucapku

.
.
.
.
.

Muzan masih hidup? Aku harus melalui kesengsaraan itu lagi? Kehilangan semua anggota yang sangat kusayangi itu?

.
.
.
.
.