Actions

Work Header

Nightmare

Summary:

Pagi-pagi sekali pada hari itu, Yingxing terbangun mendahului sinar matahari sebelum sampai menembus jendela untuk memulai aktifitasnya. Terasa tidak ada yang istimewa setidaknya sampai tangannya meraba salah satu hasil karyanya yang ditempanya dengan penuh perhatian, terlihat jelas pada ukirannya yang menjadi ciri khasnya. Dia sempat harus merelakan jatah tidurnya untuk menyelesaikannya tepat waktu, dia kian tidak sabarㅡterus menunggu setiap harinya untuk mengabadikan ekspresinya ketika melihat senjata yang dibuat hanya untuknya.

Notes:

Belakangan ini lagi mood OT3 Jinghengren :)

Work Text:

 

Setiap insan pasti akan mengimpikan berada di suatu momen ketika mereka sedang tidak kesepian, serta mendambakan namanya perasaan damai, bahkan berlaku juga saat mereka sedang terlelap dan terlarut dalam mimpi yang panjang. Bagi yang tidak pernah bisa bermimpi, sebagaimana dingin; betapa mencengkam kegelapan yang mereka lihat sepanjang waktu bahkan ketika mereka mencoba membuka kedua mata dan menggapai sesuatu yang hendak pergi dalam kehidupannya? 

Pagi-pagi sekali pada hari itu, Yingxing terbangun mendahului sinar matahari sebelum sampai menembus jendela untuk memulai aktifitasnya. Terasa tidak ada yang istimewa setidaknya sampai tangannya meraba salah satu hasil karyanya yang ditempanya dengan penuh perhatian, terlihat jelas pada ukirannya yang menjadi ciri khasnya. Dia sempat harus merelakan jatah tidurnya untuk menyelesaikannya tepat waktu, dia kian tidak sabarㅡterus menunggu setiap harinya untuk mengabadikan ekspresinya ketika melihat senjata yang dibuat hanya untuknya.

Terdengar suara derap langkah tergesa-gesa membuatnya sontak waspada, karena dia yakin bahwa sebelumnya dia tidak membuat janji dengan seseorang untuk bertemu pagi ini. Dia lalu mendekati asal keributan, hanya untuk kemudian mendapati sosok pemuda itu muncul dan membuka pintunya agak kasar. Sebelum sebuah pertanyaan berhasil lolos dari kedua belah bibirnya, dia melihat jelas kekhawatiran yang tercetak pada paras pemuda itu, jauh dari apa yang dibayangkannya. Air mata terbendung di pelupuk matanya sebelum akhirnya mengalir dan sosok itu berlari ke arahnya untuk mendekapnya erat.

Pemuda itu menangis tersedu-sedu sambil masih memeluknya, memanggil namanya seperti meracau sambil membenamkan wajahnya di dadanya, Yingxing tidak mengerti apa yang sedang merasuki anak yang biasanya selalu menjadi sumber sakit kepalanya itu. Kedua tangannya terangkat untuk mengelus helaian rambut putih dan menepuk punggungnya, bentuk upayanya memberikan perasaan aman sebelum bersuara untuk menagih alasannya karena bersedih.

     “Nak,” panggilnya dengan suara lembut namun suaranya tenggelam dalam suara isakan tangis yang belum juga kunjung berhenti.

     “Jing Yuan, lihat aku. Katakan apa yang terjadi.” kalimatnya terdengar lebih menuntut dari sebelumnya, namun tangannya secara perlahan mengangkat dagunya supaya berhadapan dengannya, dengan sebelah tangannya menyeka air matanya. Meskipun tinggi mereka hampir setara, dia masih sering kali memperlakukannya sebagai anak-anak.

     “Aku… Aku bermimpi kalau kamu akan pergi jauh.” jawabnya masih sembari sesenggukan dan mulai mengusap air matanya sendiri dengan lengan bajunya.

Yingxing merasa tertegun mendengar pengakuannya, dia jelas tidak tanggap bereaksi menghadapi situasi seperti saat ini. Dia terdiam sejenak memperhatikan anak itu yang masih enggan melepas cengkramannya pada dirinya, seolah kalau dilepas dia akan pergi sekejap mata di hadapannya.

Dengusan tawa tak lama kemudian terdengar lolos dari yang lebih tua, Jing Yuan kecil menatapnya dengan dahinya yang semakin mengkerut. Dia lalu mengacak helaian rambutnya sambil tersenyum tipis sebelum berjalan meraih sebuah gudao yang berada di atas mejanya, dia pun memberikan senjata yang ditempanya itu kepada Jing Yuan.

     “Mumpung kamu ada disini lebih awal, seperti yang sudah pernah kujanjikan dulu. Terimalah.”

Jing Yuan segera mengambilnya dengan kedua tangannya, mengenggamnya erat-erat sambil tak henti menatap setiap detailnya dengan takjub, Yingxing memang luar biasa ahli dan dia tidak pernah sedikit pun meragukannya. Kedua matanya berbinar menatap senjata barunya sebelum kembali beralih padanya, kini menatapnya penuh dengan percaya diri dibanding tadi.

     “Kalau begitu, aku berjanji aku tidak akan pernah berpisah dengan senjata yang kamu buat untukku!”

Dia menyilang kedua tangan sambil tersenyum miring dan mengangkat alisnya, cukup puas dan terkesan dengan reaksi Jing Yuan sebelum sosok itu bersuara lagi dengan gelagat yang sedikit lebih ragu-ragu selagi mengalihkan pandangan seperti sedang gugup.

     “Maka kamu juga berjanjilah, kamu akan terus bersamaku nanti.” 

Yingxing dibuat bungkam untuk kedua kalinya oleh ucapannya sebelum akhirnya membalik badannya, berniat kembali bekerja dan mengabaikannya. Meskipun sebenarnya dia tidak mampu menahan untuk tidak menoreh senyuman di balik sikapnya yang kaku.

     “Tidak mau.”

     “Hei, ayolah!”  

                                     . . .

     Jing Yuan pada akhirnya tidak berhenti menganggunya dengan bersikap keras kepala seperti biasa, meskipun dia mengakui sikap pemuda itu sedikit aneh hari ini. Berawal dari ucapannya perihal mimpi buruknya tentang dirinya, seolah sebagai pengingat jangka hidupnya memang singkat dibandingkan dengan penduduk asli Xianzhou. Yingxing tidak bisa memungkiri, mungkin dia memang merasa sedikit cemas dengan masa depan, dia tahu dan sadar bahwa dia tidak akan pernah bisa menepati janji pada Jing Yuan. Apa dia bisa memastikan dia tidak akan menyesali apapun saat waktunya telah tiba kelak?

     “Yingxing,”

Dia sontak menoleh pada sosok Vidhyadhara tersebut yang terlihat sudah memantapkan posisinya duduk di sampingnya, sepertinya dia ketahuan tengah melamun sampai tidak memperhatikan sekitarnya. Helaan nafas panjang pun lolos, dia juga memejamkan matanya sejenak. Dia sendiri maupun sosok di sampingnya itu tahu, bukan pemandangan biasa saat dia terlihat terusik pikirannya. 

Sinar rembulan terlihat jauh lebih terang malam ini, terlihat lebih memikat hati tatkala sinarnya membuat rambutnya tampak berkilauan. Sosoknya yang agung hanya berani dalam diam mengagumi pemandangannya, siapapun akan tahu bahwa tatapannya menyiratkan kasih yang mendalam terhadapnya meskipun tanpa terucap sekali pun.

     “Kamu terlalu memanjakannya.”

     “Apa menurutmu itu adalah sebuah hal yang buruk, Imbibitor Lunae?”

     “Tidak, tidak sama sekali.”

Tentu jika perbandingannya adalah gurunya sendiri, batinnya mengimbuhi. Keduanya kembali menghabiskan waktu dalam hening di bawah sinar rembulan, dan ketika tatapan dua pasang mata bertemu, sesuatu yang mengganjal semakin terasa menyesakkan. Dan Feng sejak saat itu pula telah memutuskan, dia tidak mau melihatnya gelisah atau membiarkannya melaluinya sendirian. 

     “Kamu juga tidak akan membiarkan harapannya pupus dan tak berarti begitu saja, bukan?” ucap Dan Feng  bersamaan saat dia beranjak dari tempat duduknya. 

    “Karena itu juga akan menjadi harapanku untukmu.”

Yingxing menatap punggungnya yang secara perlahan pergi dari pandangannya setelah berucap demikian. Dia beralih menatap gelang di pergelangan tangannya, dia bisa merasakan kehadirannya sepenuhnya berkat benda pemberiannya itu meskipun mereka tidak sedang bersama. Apa karena sang naga merasa malu terlalu lama berdekatan dengannya?

Dia terkekeh pelan memikirkannya, benar, meskipun hidupnya tidak panjang, dia tidak berniat menyia-nyiakan setiap detiknya. Masa depan masihlah misterius, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi selama di perjalanannya.

Setiap insan adalah 𝙗𝙪𝙙𝙖𝙠 𝙩𝙖𝙠𝙙𝙞𝙧.

 

                                 ㅡ fin ㅡ