Actions

Work Header

Pucuk Dicinta Ulam Pun Tiba

Summary:

Saat Wade menyimpan perasaan yang begitu lama rasanya, apakah Peter juga menyimpan perasaan tersebut?

Notes:

HAI HAIIII!
welcome to my story! Mau minta maaf dulu kepada readers karena ini pertama kalinya aku ngepost di AO3 dan maaf-maaf aja kalau tulisannya masih jelek karena ini pertama kalinya lagi aku nulis setelah beberapa tahun sempet vakum nulis, semoga kalian enjoy ya!

ANOTHER WORD FOR MY FRIEND!
thank you thank you THANK YOU for beta reading my story ya sayangku, kamu sangat membantuku <3

love u all,
Lanabewithme

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

"Kamu gapapa?"

Tetapi anak lelaki itu tetap saja seperti menahan tangisnya, seperti jika ia membuka mulutnya untuk berbicara, maka tangisannya akan terdengar dengan sangat jelas

Wade Wilson adalah anak yang sedang menenangi anak kecil yang sedang menahan tangis di depannya. Nama anak tersebut adalah Peter Parker. Wade tentu tahu nama anak tersebut karena anak tersebutlah satu-satunya anak kecil yang ingin bermain bersamanya di SD tersebut. Wade dijauhi oleh teman-temannya yang lain karena betapa seringnya ia menjahili dan membuat anak-anak lainnya menangis. Itulah sebabnya pula orang tua Peter Parker TIDAK membolehkan Peter untuk berteman dengan Wade.

———

Mulanya karena Wade pernah menumpahkan air ke buku Peter dan Peter hanya bisa menatap buku tersebut dalam diam, sementara Wade? Oh, dia sibuk tertawa sembari memegangi gelas yang tadinya berisi air yang penuh. Saat Wade mengetahui bahwa Peter hanya diam saja, ia segera medekati Peter, khawatir Peter menangis dan tangisan tersebut menjadi kencang. Seperti saat dia mengganggu Vanessa dengan menaruh sisa permen karet di tempat duduknya. Vanessa mogok sekolah sampai seminggu! Tetapi yang terjadi hanyalah Peter yang menanyakan, "Kenapa kamu menumpahkan air itu?" Membuat Wade memikirkan ribuan alasan mana yang akan ia ucapkan. Tetapi hanya suara angin yang meliputi keberadaan mereka.

Keesokan harinya, Wade bertemu dengan Peter di kelas, tepat 10 menit sebelum Ms. Quinn masuk untuk mengisi pelajaran. Peter berjalan mendekati Wade saat ia melihat Wade sudah duduk di salah satu kursi yang ada di meja lingkaran tersebut.

"aku berhasil menyelamatkan bukunya." Peter mengucapkannya dengan sangat dekat, tepat di hadapan Wade. Dan hal ini pula yang berhasil membuat Wade jatuh dari kursinya karena, gila! Peter muncul darimana?

Wade segera memperbaiki kursi yang ia duduki dan segera medudukkan kembali pantatnya pada kursi tersebut. Lalu ia menatap Peter seperti Peter adalah Baba Yaga. Yang juga membuat Peter memundurkan badannya sedikit dan membenahi kacamatanya. Kacamata imutnya. Oh Wade senang sekali melihat Peter memakai kacamata itu.

"Oh, ya? Bagaimana?" Ya. Kalimat yang dilontarkan Wade membuatnya terlihat seperti peduli dengan buku yang ia basahi minggu kemarin. Padahal dalam kenyataannya, ia hanya ingin Peter berada di depannya lebih lama.

Peter lalu menarik salah satu kursi kosong yang ada di sebelah Wade lalu mengeluarkan buku yang menjadi saksi bisu kesunyian yang terjadi di antara mereka pada hari kamis minggu lalu. Untungnya hari rabu ini merupakan hari 'bebas duduk' jadi Peter tidak akan kena amukan dari Ms. Quinn.

"Sangat gampang. Kau hanya perlu menjemur buku tersebut, untung seminggu kemarin sangat panas, lalu setelahnya masukkan ke dalam freezer saja. Jika sudah mengeras bisa kau keluarkan lalu tumpukkan bukumu di atas buku yang tadi beku. Lihat ini, bahkan tulisannya masih bisa terbaca!" Peter menunjukkan buku yang nampak terlihat seperti baru. Jika kita abaikan tiap bagian ujung buku tersebut membentuk gelombang air maka, ya, buku itu terlihat seperti buku baru

Wade tidak peduli dengan tetek bengek buku tersebut, tetapi ia berusaha untuk peduli karena ini Peter! Peternya! Peternya sedang berbicara cara mengeringkan buku tanpa merusaknya lebih buruk lagi. Wade tersenyum ke arah Peter yang ternyata sedang melihatnya, seakan-akan ekspresi wajah yang dikeluarkan Wade saat ini sangat penting untuk kelanjutan hidupnya. Untuk kelanjutan hidupnya di sekolah ini. Karena Wade termasuk anak-anak yang suka menjahili dan menertawakan anak lain, dan Peter mulai berpikir bahwa Wade akan menertawakannya. Tidak, Wade hanya tersenyum melihat Peter, lalu mengeluarkan buku mewarnainya, serta krayon-krayon yang ia simpan menjadi satu di dalam tempat pensil khusus krayonnya itu.

"Mau mewarnai bersamaku?" Dan inilah awal mula pertemanan mereka.

———

Dan untuk beberapa bulan ke depan, hidup Wade seperti penuh warna. Tentu, ia masih suka menjahili anak-anak lainnya, tetapi tidak sesering dulu, karena ada Peter yang selalu mengingatinya akan buruknya menjadi penggertak. Jadi untuk saat ini, dan seterusnya. Peter membuat Wade sadar jika pertemanan jangka panjang itu bisa diraih dengan berbuat baik. Peter menyadarkannya bahwa di dunia ini masih ada warna-warna lainnya yang bisa ia telusuri tanpa harus menyakiti orang lain.Tetapi tentu semua mimpi indah tidak akan selamanya indah. Di mata orang tua Peter, Wade tetaplah anak pembuat onar yang tidak segan untuk menjadi penggertak kapanpun ia mau. Tidak segan untuk menaruh bekas permen karet di rambut salah satu teman wanitanya. Tidak segan untuk mendorong temannya hanya untuk dapat merasa bahwa ia memiliki kuasa. Tidak segan untuk menumpahkan air ke buku temannya yang sedang berusaha menulis sesuatu

Jadi, saat ia mengajak Peter untuk bermain di luar saat hujan besar sedang menghadang tempat tinggal mereka dan Peter terjatuh dan mendapatkan goresan luka yang cukup besar, Wade merasa bahwa inilah kesempatannya untuk bisa (meyakinkan) orang tua Peter bahwa ia telah berubah! Setidaknya ada perubahan dalam dirinya dan itu semua berkat Peter!

Jadi, di sinilah Wade, berusaha menenangkan Peter yang sedang menahan tangisnya, sepertinya memang sangat sakit karena dalam keadaan hujan pun Wade bisa melihat betapa Peter menahan tangisnya.

"Kamu gapapa?" Pertanyaan yang bagus, Wade. Tentu saja sesuatu yang sangat sakit terjadi pada kaki Peter!

Peter hanya mampu menggelengkan kepalanya. Wade kembali bertanya.

"Kamu bisa jalan? Aku antar pulang ya."

Peter sekali lagi menggelengkan kepalanya. Wade bingung, ia tidak mungkin meninggalkan Peter sendirian di sini sementara ia balik ke rumahnya untuk mengambil payung. Tetapi gelengan Peter terus berjalan, seakan-akan memberitahu Wade jika ia tak sekadar tidak bisa berjalan. Seakan-akan memberitahu Wade jika ia pulang dengan kaki yang berteteskan darah ini hanya akan membuatnya semakin dalam masalah. Jadi Wade memikirkan hal lain.

Wade melihat ada rumah mainan plastik yang tertutup, Wade menggendong Peter untuk berjalan dan masuk ke dalam rumah mainan tersebut. lalu Wade memeluk Peter sangat erat karena menurut Wade hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini. Wade bersumpah, saat mereka besar nanti, ia akan mejaga Peter dari mara bahaya. Peter menggigil dan Wade mengeratkan pelukannya. Wade mulai mendengar suara isakan Peter, membuatnya semakin iba kepada Peter dan berakhir dengan Wade mengucapkan kata-kata penenang untuk Peter. Selama beberapa menit mereka diam di dalam rumah mainan tersebut.

Tak lama hujan besar berlalu, menyisakan rintik-rintik yang masih berburu untuk jatuh. Dan di saat inilah tali pertemanan erat Wade dan Peter akan diputus secara paksa.

Wade melihat orang tua Peter, salah satunya, Tony Stark, berjalan ke arah mereka sembari membawa payung warna-warni. Kesukaan Peter.

"Peter Benjamin Rogers-Stark-Parker! Apa yang kamu pikirkan keluar di saat hujan besar sedang melanda?! Kamu ingin demam lagi?!" Oh, Wade berpikir, apakah itu alasan mengapa ia tidak melihat Peter di sekolah selama 4 hari lamanya?

Peter hanya mampu mendekap Wade lebih erat, seakan meminta Wade untuk menyelamatkannya dari amukan orang tuanya sendiri. Maaf Peter. Untuk yang ini, Wade juga yakin ia akan terkena amukan orang tuanya saat pulang nanti

"Dan kamu! Kamu yang mengajak anak saya untuk keluar bermain di tengah hujan badai, kan?" Wade baru saja mau mengangguk ketika Peter angkat bicara.

"Tidak, Ayah! Aku yang mengajaknya untuk bermain keluar. Ayah tidak pernah membolehkanku bermain saat hujan badai padahal aku mau sekali. Jadi kuajak saja Wade."

Hal ini membuat Tony Stark sempat terdiam untuk beberaa saat, sebelum akhirnya kembali ingin memarahi Wade dan juga Peter.

"Peter! Ayah tidak pernah membiarkanmu bermain saat hujan badai karena kamu itu cepat sakit! Kamu sendiri yang bilang kalau kamu tidak ingin sering sakit." Nada Tony Stark mulai memelas.

"Ayah hanya ingin menjagamu, Peter. Dan ini, apa ini! Oh Tuhan, Peter, kenapa kakimu bisa seperti ini?! Apa yang sebenarnya kamu lakukan bersama dia?!" Untuk sesaat Wade tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia hanya diam menatap percakapan Peter dan ayahnya.

"Dan kamu," Tony menunjukkan telunjuknya ke arah Wade.

"Sebaiknya kamu pulang. Jangan membuat onar lagi di sini. Sudah cukup anakku saja dan kamu yang membuat kerusuhan di tengah hujan badai. Kalian ini memang tidak bisa disatukan." Wade sangat tidak ingin untuk pulang. Selain karena dia akan terkena amukan dari Father dan Papanya, ia ingin melihat luka Peter, ia ingin merawat Peter. Tetapi tatapan yang diberikan Peter membuatnya yakin bahwa memang sebaiknya ia pulang saja, sebelum masalahnya menjadi lebih besar.

Jadi Wade berdiri dan berjalan ke arah rumahnya, sembari sesekali melihat ke belakang, memastikan Peter sudah tidak menangis dan aman di dekapan ayahnya. Tanpa Wade sadari, Peter melihatnya berjalan pulang sampai ia tak terlihat di trotoar perumahan mereka. Peter melakukan ini semua sembari ayahnya memarahinya di depan pintu rumah mainan tersebut. Dan tentunya dengan perasaan sedih yang berlebih untuk Wade.

———

"Wade, ingat, pulang basket nanti tolong jemput Wanda di taman penitipan anak, oke?" Wade hanya menggangguk dan mencium pipi papanya

"Aku akan mengambil pesanan Father juga." Charles hanya mengangguk sembari tersenyum. Anaknya yang satu ini memang unik. Tentu, ia pembuat onar di sekolahnya dan nilainya pun tidak sebagus dan setinggi anak-anak pintar di sekolahnya, tetapi kemampuan wade untuk bisa ikut tim basket dan tim renang patut diacungi jempol. Baik Charles dan Erik tidak mempermasalahkan ini, toh, Wade juga sudah cukup membantu Charles dan Erik dengan mengurus adik perempuannya, Wanda.

Wade keluar dari rumahnya sembari memainkan kunci motornya, ya, ia sudah dibolehkan kedua orang tuanya untuk menaiki motor Fathernya. Walaupun harus berkali-kali membujuk Papanya untuk membolehkannya menaiki motor tersebut.

Wade kemudian mencari helmnya sebelum menaiki motornya, menyalakan mesinnya, lalu melaju menuju sekolahnya. Sesampainya di sekolah, ia melihat mobil Volkswagen Polo 2023 berwarna Flash Red. Sudah pasti milik Peter Parker. Ketua fotografi di sekolah mereka. Yang di saat bersamaan juga keluar Gwen Stacy, anak cantik yang selalu menduduki ranking 1, sementara ranking Peter mengikuti di bawah Gwen.

Ya, selama ini Wade dan Peter tumbuh dalam 1 sekolah yang sama. Selalu. Tetapi semenjak kejadian dimana Peter melukai kakinya saat mereka masih belia dahulu kala, pertemanan mereka merenggang, terutama saat Peter mulai dijemput oleh Ayahnya sendiri, bukan dengan supir yang biasanya Wade lihat.

Hubungan tersebut makin merenggang di saat Peter memfokuskan dirinya untuk bisa masuk seleksi olimpiade sains nasional. Membuat Peter lebih sering menolak ajakan main Wade, dan membuat hubungan mereka bagaikan orang yang hanya sekadar kenal nama saja.

Wade memarkirkan motornya tepat di sebelah Flash. sebelum akhirnya ia berjalan menuju pintu sekolahnya, dan mendatangi lokernya, sesaat ia terhanyut memikirkan Peter, dan sudah berapa lama mereka tidak berbicara dan bermain seperti saat masih menduduki bangku SD dulu. Suara bel membuyarkan pikiran Wade dan di saat ia hendak berjalan menuju kelas pertamanya, kimia. Yang dimana ia sangat tidak menguasai pelajaran tersebut dan membutuhkan fokus tambahan. Ia melihat Peter sedang dipeluk erat oleh Gwen, kemudian Gwen mencium pipi Peter. Ternyata rumor yang beredar itu benar adanya. Wade tentu sama sekali tidak terbakar api cemburu.

Wade melewati mereka tanpa terlihat dan segera memasuki kelas kimia dimana tempat duduk yang tersisa adalah di sebelah Harry, atau di depan, yang dimana terdapat 2 kursi yang masih kosong. Wade tidak mungkin duduk di sebelah Harry, karena biasanya, Flash yang duduk bersama Harry. Wade hari ini sedang tidak ingin mengajak ribut orang-orang di sekitarnya, jadi ia memutuskan untuk duduk saja di depan dan menunggu siapa yang akan menjadi teman duduknya, tanpa ia ingat, hanya satu orang yang tersisa untuk duduk di dekatnya. Peter.

———

Peter memasuki kelas kimia dan mulai mencari kursi yang kosong, ia sangat tidak ingin jika harus duduk bersama Flash lagi seperti minggu lalu, untungnya tersisa 1 bangku lagi, dan tentu saja bangku tersebut harus di sebelah Wade Winston Wilson. Tak peduli, Peter akhirnya mendudukkan pantatnya di sebelah Wade dan menyapanya.

"Hai, Wade."

Seperti tersihir, Wade yang tadinya sedang melamun menghadap kaca di sebelah kirinya, langsung menengok ke arah kanan kala suara itu menyambut. Peter. Wade hanya menatapnya tanpa mengatakan sepatah katapun. Peter kemudian berubah menjadi kikuk. Apakah Wade menyimpan kursi ini untuk orang lain?

"Apakah ada yang menempati kursi ini? Kulihat kursi ini kosong."

"Oh, tidak. Tidak ada orang, kau boleh duduk di kursi ini."

"Terima kasih." Peter berbisik ke telinga Wade. Wade merasakan bulu kuduknya berdiri.

Untuk beberapa puluhan menit kedepan, Peter akan kesusahan untuk fokus karena disebelahnya ada Wade. Wade Winston Wilson. Orang yang Peter taksir semenjak ia memasuki bangku SMP. Wade itu kharismatik, Peter sangat mengerti jika Wade mulai banyak digandrungi perempuan-perempuan seumurannya, bahkan beberapa kakak kelas mereka pun terkadang terlihat mengerubungi Wade. Tapi tentu saja Wade hanya memberikan perhatian sekejap karena Wade tidak tertarik dengan hal seperti itu.

Peter kerap kali mendekatkan dirinya kepada Wade, yang mengakibatkan Wade terus menerus menggeser kursinya agar tak mengenai Peter. Wade tidak tahu saja bahwa mendekatkan dirinya kepada Wade adalah salah satu taktik Peter. Taktik terburuknya. Karena tak lama dari situ, Mr. Constantine memanggil nama mereka berdua.

"Mr. Wilson, Mr. Parker, mengapa posisi duduk kalian seperti itu?" Tanya Mr. Constantine penuh tanda tanya. Wade dan Peter baru menyadari bagaimana posisi duduk mereka. Dengan Wade yang berada sangat di ujung meja sebelah kiri dan Peter yang beradadi tengah agak sedikit kiri menuju wilayah Wade. Mereka segera membetulkan posisi duduk mereka. Mr. Constantine hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dan lanjut mengajar. Senyap-senyap terdengar suara bisikan dari beberapa meja di belakang mereka.

———

Beruntung Peter bisa menahan rasa ingin mendekatkan dirinya kepada Wade dan tanpa mereka sadari jam istirahat telah berdering. Semua siswa langsung keluar dari kelas kimia, tidak mendengarkan satupun ucapan yang diucapkan oleh Mr. Constantine. tetapi Wade dan Peter masih di tempat duduk mereka, menunggu semua murid untuk keluar kelas, seakan-akan mereka menunggu kelas tersebut untuk menjadi sunyi, agar kelas tersebut menjadi milik mereka berdua. tentu saja itu tidak mungkin karena Mr. Constantine masih ada di dalam ruangan itu dan menyerahkan 2 lembar kertas, sepertinya kertas tugas. Pikir Peter.

"Ini tugas untuk 2 minggu ke depan, jika kalian mengumpulkannya tepat waktu, nilai kalian bisa saja lebih besar dari yang lainnya karena aku memberikannya kepada kalian via kertas langsung, bukan via email. Tolong jangan beritahu mereka soal nilai tambahan ini, aku tidak ingin ada yang kembali ke kelas ini lagi di saat jam istirahat." Dan dengan begitu saja, Mr. Constantine pergi ke luar kelas. Kini mereka betul-betul hanya berdua. Sebelum akhirnya bunyi dering telepon Wade terdengar sangat keras, sesaat Wade melihat ponselnya lalu berlari keluar kelas, sepertinya sangat mendesak. Pikir Peter.

Peter akhirnya bangun dan beranjak pergi ke kafetaria untuk bertemu dengan Harry dan Gwen. Dua temannya yang saat ini dekat dengannya dan yang ia miliki.

———

Berbeda dengan Wade, walaupun Peter termasuk dalam kategori 'Cowok Ganteng di Sekolah Ini' versi anak-anak perempuan di sekolah ini, yang pernah menggandrungi Peter bisa dihitung dengan jari, 4 orang, termasuk Harry dan Gwen. Peter kadang merasa jika Gwen dan Harry ikut-ikutan menggandrunginya hanya karena mereka kasihan kepada Peter. Tetapi Peter tak begitu peduli, karena semakin dikit yang menggandrunginya, semakin kecil pula kesempatan ia akan dimintai foto saat sedang bekerja. Bekerja dalam artian saat ia harus mengambil foto-foto dalam acara penting di sekolah mereka seperti saat hari ulang tahun sekolah, atau saat ada pertandingan-pertandingan yang ada di sekolah.

Peter menyukai posisinya di ekstrakulikuler fotografi ini, memudahkannya mengakses arsip-arsip foto yang disimpan dalam akun sekolah, seperti waktu itu, Harry menyukai salah satu perempuan satu tingkat di atas mereka dan Peter bisa dengan mudah mengetahui nama perempuan tersebut, tentu ia lakukan ini semua untuk Harry. Dan peter menyukainya karena yang bisa mengakses arsip-arsip ini hanya Peter. Bahkan anggota lain tidak bisa mengaksesnya. Jadi saat ia mengambil banyak sekali foto Wade sedang bermain bola basket atau sedang lomba renang, hanya ia yang dapat melihatnya. Peter tersenyum mengingatnya.

"Kau seperti orang idiot."

Suara Gwen membuyarkan pikiran Peter. Ia melihat Gwen dan Harry yang mulai mengambil posisi duduk tepat di hadapan Peter. Mengapa harus Gwen yang mengucapkan itu? Seakan angin lalu, Harry hanya tersenyum sambil mengangkat tangannya ke arah Peter. Peter hanya bisa memutar matanya. Ia sudah hapal betul sifat Harry.

"Maaf lama, aku harus menjemput tuan putri dari kastilnya."

"Sekali lagi kau memanggilku 'tuan putri' maka akan ku hancurkan ponselmu." Peter hanya tertawa mendengar ini. Harry itu akan sangat takut jika diancam perihal ponselnya. Contohnya seperti sekarang. Ia sudah mengangkat kedua tangannya ke arah Gwen lalu memutuskan untuk tidak bermain-main dengan Gwen. Gwen menyeramkan. Menurut Harry, dan juga Peter.

"Jadi? Bagaimana? Ada kemajuan dengan He-Who-Must-Not-Be-Named?"

"Kamu tidak akan menanyakan kenapa tadi aku tersenyum seperti orang idiot?"

"Kalau yang ini aku tidak perlu tanya, kamu memikirkan dia, kan?"

Peter hanya tersenyum lebar sembari berbolak-balik melihat Gwen dan Harry. Gwen memutarkan kedua bola matanya. Ia sudah jengah, Peter sudah bertingkah seperti ini selama BERTAHUN-TAHUN! Dan kesabaran Gwen sudah hampir habis. Lain Gwen, lain Harry. Menurut Harry, Peter sudah betul mengambil langkah hati-hati ini. Karena tidak ada yang tahu jika Wade menyukai laki-laki atau tidak. Wade bahkan tidak pernah terlihat berpacaran dengan anak sekolah mereka. Rumor terakhir yang beredar adalah Wade berpacaran dengan Vanessa, teman satu SD Wade dan Peter dulu. Vanessa juga tidak bersekolah di sekitar area di sini. Vanessa pindah ke Australia saat ia mau memasuki bangku SMP dan tidak pernah kembali ke area ini lagi. Jadi, tidak ada yang bisa mengkonfirmasi kalau Wade dan Vanessa memang pernah menjalin hubungan romantis.

"Aku sangat ingin menanyakannya, tetapi aku takut! Bagaimana kalau dia tidak pernah menyukaiku? Tidak pernah memikirkanku? Atau lebih parah, perhatiannya selama ini yang tertuju kepadaku itu hanya karena di belakangku ada orang yang sebenarnya ia taksir?"

"Jangan tiba-tiba menjadi bodoh, kamu itu orang yang selalu keluar terakhir dan masuk terakhir, tidak mungkin ada orang di belakangmu yang tersisa."

"Tapi, Gwen, apakah kamu yakin ia benar-benat menyukaiku? Maksudku, perhatian seperti itu bisa tertuju untuk siapa saja, kan?"

Gwen sekali lagi memutarkan bola matanya. Ia betul-betul sudah jengah.

"Tidak ada orang yang menatapmu begitu lamanya sampai-sampai mereka lupa jika mereka sedang bermain bola basket, Peter."

Peter mendorong bibirnya kedepan, ia masih belum bisa percaya bahwa Wade menyukainya juga, pasalnya, Wade bahkan tidak pernah berbicara panjang lebar dengannya! Bagaimana ia bisa yakin dengan semua yang dikatakan Gwen?

"Begini, aku pernah melihat Wade, sedang meneriaki dan memukuli anak sekolah sebelah, ingat Quentin Beck? Yang dulu sering mengganggumu? Ia sudah tidak pernah mengganggumu, kan? Itu karena Wade memberikan pelajaran kepadanya. Aku melihatnya sendiri dengan mata dan kepala yang kupunya."

Peter berpikir. Betul, Quentin Beck dari sekolah sebelah sudah tidak pernah melakukan apapun kepadanya, bahkan jika ia melihat Peter di suatu tempat, ia memilih untuk menghindari Peter. seolah selama ini yang menjadi perundung adalah Peter, bukan Quentin.

Setelah berpikir panjang. Peter menyetujui ucapan Gwen yang menyuruh Peter untuk mengungkapkan rasanya kepada Wade.

"Tapi, bagaimana aku mengungkapkannya?"

Sejenak, mereka memikirkan waktu yang tepat untuk Peter bisa mengungkapkan perasaannya kepada Wade. Sampai akhirnya Harry memukul meja cukup keras sembari tersenyum ke kedua temannya.

"Kau ungkapkan saja saat pesta di rumah Flash! Wade pasti akan ada di sana."

Oh tidak. Tidak mungkin. Gwen dan Peter sama-sama menggelengkan kepala mereka. Peter tidak akan dibolehkan oleh orang tuanya untuk keluar malam. Apalagi semalam itu.

"Oh, ayolah! Di dalam lubuk hati kalian, kalian pasti menyadarinya, ini adalah waktu yang tepat untung menyatakan perasaanmu, Peter. Kau bahkan tak perlu minum, aku akan memastikan itu. Kau hanya perlu menampakkan diri dan memanggil Wade."

Gwen menggigit bibirnya, kebiasaan yang ia punya setiap ia grogi. Ia menatap Peter seakan-akan apa yang dikatakan Harry ada benarnya juga. Jika menunggu lebih lama, bisa-bisa ia baru mengungkapkan perasaannya itu pada hari kelulusan. Gawat, Wade tidak akan ada saat hari kelulusan karena ia sudah terlebih dahulu mendapatkan beasiswa di Italia. Ya, mereka semua sebenarnya sudah mendapatkan beasiswa. Mereka dalam artian Peter, Gwen, dan Harry. Gwen di Inggris, Harry di Kanada, dan Peter di Swiss. Baiklah, untuk kali ini Peter akan melanggar peraturan yang Ayah dan Popsnya buat. Masalah dimarahi atau dihukum, bisa Peter urus nanti.

"Baiklah, aku akan datang ke pesta tersebut, tetapi kalian harus datang juga." Gwen menyanggupi ajakan Peter. Harry apalagi.

———

Peter mengeluarkan beribu alasan agar ia diperbolehkan keluar dari jam malamnya, Ayahnya dan Popsnya memberikan dia waktu tidak lebih dari pukul 12 malam. Peter menyanggupi permintaan Popsnya tersebut, sebelum berangkat, ia mencium kedua pipi Ayah dan Popsnya. Kemudian pergi keluar rumah untuk masuk ke dalam mobilnya dan menjemput Gwen.

"Lihat dia, sudah besar dan sebentar lagi masuk kuliah. Ku kira dia masih bocah kecil yang suka menangis jika terkena demam." Ucap Tony. Steve hanya bisa memeluknya dari belakang dan mencium Kepala Tony. Mengatakan bahwa anak mereka tidak akan melakukan hal yang membahayakan dirinya.

———

Peter sudah pasti membahayakan dirinya. Terutama jantungnya. Ia akan bertemu Wade Wilson dan akan mengungkapkan perasaannya. Hatinya sangat berdebar, di tengah perjalanan, Gwen meminta untuk bergantian saja menyetirnya, khawatir Peter hilang fokus karena perjalanan dari rumah Gwen ke rumah Flash cukup jauh. Maklum, rumah yang akan mereka datangi ini rumah berlibur keluarga Flash, jadi sudah pasti akan berada agak jauh dari perkotaan.

Setelah berkendara kurang lebih 30 menit, mereka berdua sampai di rumah Flash. Suara musik adalah hal pertama yang mereka dengar dari rumah tersebut. Juga suara-suara teriakan anak-anak lain yang sepertinya sudah kepalang mabuk. Gwen mengatakan bahwa ia akan mencari Wade sekaligus mencari Harry, Peter mengucapkan kalimat semangat kepada Gwen. Gwen kemudian memeluknya erat dan mengecup pipinya sekejap sebelum akhirnya hilang memasuki kerumunan manusia. Sesaat Peter berpikir untuk diam sejenak dan menikmati minuman yang ada, tetapi ia mengingat saran Gwen yang mengatakan jangan pernah meminum apapun yang ada di dalam rumah tersebut karena pasti sudah mereka campur dengan alkohol. Jadilah Peter membawa minumnya sendiri. Sebuah botol minum berwarna merah terang yang berisikan air putih.

Peter memutuskan untuk minum terlebih dahulu sebelum mencari Wade. meneguk air putih tersebut beberapa kali membuat Peter akhirnya sadar apa yang akan ia lakukan sekarang. Peter awalnya ingin kembali saja ke mobil, sebelum akhirnya sadar bahwa kunci mobilnya dipegang oleh Gwen. Ia merutuki dirinya sendiri, mengapa ia tidak meminta kepada Gwen tadi. Tak mau berlarut dalam kebodohannya, ia akhirnya mencari Wade.

Rumah ini tampak luas, tidak bertingkat, namun luas. Dan saat rumah luas seperti ini diisi oleh anak remaja yang sebagian besar dari mereka mabuk, maka akan terasa sangat sempit. Dan Peter merasakannya sekarang. Ia harus melewati begitu banyak anak-anak muda yang berkumpul di ruangan tersebut. Ia bahkan tidak tahu anak-anak muda ini darimana, banyak sekali muka-muka yang ia tidak kenali. Tetapi bukan untuk berpesta tujuan Peter kemari, ia bertujuan untuk mencari Wade, dan untuk saat ini Wade sangat susah sekali untuk dicari. Ia memutuskan untuk mengambil udara segar, keluar dari hiruk pikuk rumah tersebut dan berjalan menuju mobilnya, untuk meneguk air putih yang ia bawa.

———

Wade baru saja menegak alkohol yang dibawakan Flash, hanya menegak 2 kali karena ia tidak ingin pulang dengan keadaan berwangian alkohol. Jadi ia membatasi hanya 3 gelas alkohol saja. Saat Flash menawarkan gelas ketiga, Wade berusaha keluar, ingin mencari udara segar karena jika tidak, bisa-bisa ia terus meminum minuman beralkohol itu sampai 1 botol habis. Flash tentu saja tidak melepaskan Wade dengan mudah, tetapi karena Flash sudah terlanjur mabuk, kekuatannya untuk menahan Wade tidak begitu kencang dan akhirnya Wade bisa bebas dari genggaman Flash.

Berjalan melewati beberapa orang mabuk, Wade akhirnya bisa keluar dari tempat tersebut. Bertepatan saat ia keluar, ia juga melihat Peter yang hanya bersender di mobilnya dan menegak minuman dari botol minumnya. Wade berniat untuk mencari tempat lain, sebelum akhirnya Peter memanggilnya.

"Wade! Di Sini!"

Mau tidak mau Wade berjalan ke arah Peter, karena Wade adalah orang yang baik. Ini sama sekali bukan karena Wade menyukai Peter.

"Kenapa di luar? Di dalam berisik ya?" Wade tidak tahu harus menjawab apa, lidahnya seperti di tahan oleh sesuatu yang begitu berat. Jadi Wade hanya menganggukkan kepalanya. Peter kemudian melakukan hal yang sama sembari tersenyum, melihat ke arah pasir yang bertebaran di bawah sepatu mereka.

"Di sini sejak kapan?"

Wade diam memandangi Peter. Peter diam memandangi Wade sembari menunggu jawaban dari Wade. Wade baru sadar jika rambut Peter acak-acakkan karena terkena hembusan angin malam. Wade memutuskan untuk membenahi rambut Peter sebelum membalas pertanyaan Peter.

"Oh, rambutku pasti acak-acakkan lagi, ya." Peter akhirnya membenahi rambutnya sendiri sembari menunggu jawaban dari pertanyaannya.

"Aku, aku sudah di sini semenjak 2 jam yang lalu." Wade terdiam.

Lagi-lagi hanya hembusan angin yang menjadi saksi bisu mereka, menatap satu sama lain. sampai akhirnya Wade dan Peter mendekatkan diri mereka dan berusaha menutup jarak yang ada, sebelum akhirnya Wade menarik dirinya sembari mengatakan,

"Ini gila, kita tidak seharusnya melakukan ini."

Peter memiringkan kepalanya, sangat amat lucu di hadapan Wade.

"Mengapa tidak?"

Sekarang giliran Wade yang memiringkan kepalanya. Ada apa dengan Peter? Bukankah ia memiliki seorang kekasih? Gwen Stacy?

"Oh Tuhan, Peter, apakah kau baru saja ingin selingkuh dari pacarmu? Dengan cara menciumku? Aku memang menyukaimu, tidak, mencintaimu, Peter. Tapi tidak dengan berselingkuh seperti ini." Di mata Peter, Wade terdengar seperti melantur. Sangat melantur, selingkuh? Siapa yang selingkuh? Ia dan Gwen hanyalah teman dekat. Tak pernah menjadi sepasang kekasih. Mencium Wade? Tentu saja ia ingin mencium Wade, dia menyukai Wade semenjak memasuki bangku SMP. Tunggu, tunggu sebentar. Mencintai? Wade mencintainya? Sejak kapan?

"Sejak kapan?"

Wade menghentikan lanturannya.

"Sejak kapan kamu menyukai--bukan, mencintaiku?"

Mencintai? Kapan Wade mengucapkan? Ohh, betul, Wade baru saja membeberkan kalau ia menyukai, ralat, mencintai Peter Benjamin Rogers-Stark-Parker.

Matilah kau, Wade.

Peter menunggu jawaban dari mulut Wade. Wade hanya menatapi Peter.

"Sejak aku membasahi bukumu saat SD dulu dan kau tak bereaksi apa-apa." Mata Peter membulat. Selama itu?

"Aku mengerti bahwa perasaanku ini tidak akan pernah terbalaskan karena kau sudah bahagia bersama pacarmu, aku harap kau dan Gwen--"

Omongan Wade terputus kala ada benda kenyal yang menempel di bibirnya. Bibir Peter. Bibir Peter? HOLY SHIT! Peter Benjamin Rogers-Stark-Parker baru saja menciumnya. Benar-benar menciumnya. Peter memperdalam ciuman tersebut dengan mengalungkan kedua tangannya di leher Wade sekaligus menaruh jari-jarinya di rambut Wade. Wade membalas ciuman Peter dengan mengangkat Peter agar ia bisa duduk diatas mobil dan memegangi pinggang Peter. Mereka akhirnya melepaskan ciuman mereka sembari mencuri-curi ciuman kecil.

"Bagaimana dengan pacarmu?" Tanya Wade. Peter hanya menggeleng.

"Aku tidak punya pacar, Wade. Jika yang kamu maksud itu Gwen maka kamu salah besar. Gwen itu teman dekatku, sama seperti Harry. Tidak mungkin juga aku memacarinya, ia lebih tertarik kepada senior kita yang sudah lulus itu, Johnny Storm."

Oh. Oh. Sekarang Wade mengerti kenapa setiap ia bermain basket bersama Flash dan Harry, Harry selalu mengucapkan, jangan pernah percaya dengan semua rumor yang beredar di sekolah ini, sebagian besar dari rumor itu tidak benar. Sekarang Wade mengerti saat Gwen menangis di taman sekolah, Peter hanya mengusap-usap punggungnya, mencium kepala Gwen, dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Wade tentu saja sama sekali tidak menguping untuk yang ini. Ia kebetulan saja lewat di taman yang sama dan duduk membelakangi Peter dan Gwen

"Jadi, bagaimana? Apakah kita sekarang boleh berpacaran?" Tanya Peter sembari tersenyum manis menatap Wade.

Wade tidak tahan, ia kembali mencium Peter yang kemudian dibalas kembali oleh Peter, mereka terus berciuman sampai ada suara yang memanggil,

"PETER BENJAMIN ROGERS-STARK-PARKER! TURUN DARI MOBILMU SEKARANG JUGA!" Uh oh. Suara Gwen Stacy terdengar seperti sangat penuh amarah. Betul saja, Gwen marah karena ia sedang menggeret Harry yang sudah kepalang mabuk dan mulai meracau hal-hal aneh. Peter dan Wade hanya bisa tertawa karena, a) dari mereka bertiga, Harry adalah yang paling cepat tipsy. b) dan SELALU hanya Harry yang berakhir meracau tidak jelas seperti ini. c) dan SELALU JUGA Gwen dan Peter yang harus mengangkat Harry agar bisa memasuki rumahnya dan menaruhnya ke atas kasurnya.

Peter akhirnya turun dari mobi dan ikut membantu Gwen dalam misinya menggiring Harry keluar dari tempat Flash. Untuk sepersekian menit ia lupa, ia baru saja mennghabiskan waktunya menciumi Wade Wilson di parkiran mobil Flash. Sampai akhirnya ia berhasil memasukkan Harry ke dalam mobil. Tentu saja dengan mendengarkan sesi racauannya dulu untuk beberapa detik.

Sampai akhirnya Gwen menatap keduanya lalu mengatakan, "Jika aku melihatmu menyakiti Peter, ingat bahwa aku tahu siapa orang tuamu, kakak-kakakmu, dan adik-adikmu." sebelum akhirnya Gwen masuk ke kursi pengemudi dan menyalakan mobil Peter sembari membalikkan mobilnya tersebut. Ia dan Peter perlu pulang,

"Jadi?"

"Peter Benjamin Rogers-Stark-Parker, maukah kau menjadi pacarku? Aku akan menyayangimu setiap hari, membawakanmu bunga setiap kita pergi berkencan dan di saat hari jadi kita, dan juga tidak lupa membantumu dalam memberikan semangat batin saat kau kelelahan dengan tugas-tugas kuliahmu." Wade mengatakannya dengan sangat yakin, membuat Gwen dan Peter, terutama Peter. Hampir saja meneteskan air mata, sebelum akhirnya tertawa lepas dan mengatakan

"Tentu saja aku mau, Wade Winston Wilson!"

Seperti ada beribu-ribu beban yang terangkat dari dada Wade dan bersuka cita mendengarkan ini semua. Bagaikan mimpi yang akhirnya menjadi nyata dan lebih bagus daripada apa yang ia impikan sebelumnya.

Peter berlari kecil ke arah Wade dan mencium pipi Wade dengan sangat dalam sebelum akhirnya mencium bibir Wade dengan sangat dalam. Terlarut dalam ciuman panas yang mereka lakukan, tiba-tiba saja Gwen membunyikan klakson mobilnya, membuat Wade dan Peter memisahkan diri mereka dan hampir saja Wade ingin memarahi Gwen, sebelum ia melihat ekspresi muka Wen yang sangat serius.

"Aku tahu kalian ingin merayakan hari dimana kalian akhirnya bisa bersama tetapi ada bocah yang harus kau antar pulang, Pete. Dan janji yang kau ucapkan pada Popsmu."

Oh tidak! Peter betul-betul lupa dengan janjinya yang mengatakn bahwa ia akan pulang pukul 12 malam. Ini sudah pukul setengah 1 malam, Peter hanya bisa berharap semoga Ayah dan Popsnya tidak memarahinya habis-habisan.

"Oh, ayolah! Aku hanya berjanji kepada ayahku untuk pulang maksimal pukul 1 malam! Pete! Ayo! Maafkan aku Wade, tapi jika Peter tidak pulang sebelum pukul 2 malam, maka ia sudah pasti tidak akan bisa bertemu denganmu besok di acara malam sekolah."

Wade melihat Gwen sejenak sebelum matanya kembali melihat Peter.

"Kita akan bertemu lagi, besok, di acara malam sekolah. Jangan lupa." Lalu Peter memberikan kecupan manis di pipi Wade sekali lagi sebelum memasuki mobilnya dan membiarkan mobil tersebut melaju menuju perkotaan. Sepanjang malam Wade memegangi pipi dan bibirnya dan mengatakan pada dirinya sendiri, ini tidak mungkin.

Oh, tetapi ini mungkin, Wade. Sangat mungkin.

Di lain tempat, Peter hanya diomeli untuk beberapa saat karena ia sampai rumahnya pukul 1 lewat 15 menit. Peter menerimanya dengan lapang dada karena memang ia salah kali ini. Tetapi yang ia pikirkan adalah cara Gwen berkendara. Ia lain kali harus meminta Gwen untuk mengajarinya cara membawa mobil secepat itu.

———

Malam terasa hangat kala acara malam sekolah. Acara yang diikuti oleh siswa, guru, dan orang tua atau wali siswa ini pun berjalan lancar. Bahkan sampai detik-detik acara dimana para siswa memberikan ucapan perpisahan kepada para guru dan teman-teman mereka. Tidak ada lelucon yang sering Wade dan teman-temannya lakukan ketika ada acara sekolah. Semua terasa sangat sempurna. Bahkan saat Wade dan Peter memojokkan diri mereka dan saling bertukar cerita serta mencuri-curi ciuman kecil.

"Sejak kapan?" Tony Stark yang membuka pembicaraan

"Sejak anakku membasahi buku anakmu. Di bangku SD." Ucap Charles. Tony hanya menganggukkan kepalanya.

"Baiklah, kurasa akan kuberikan restuku untuk anakmu, asal jangan membuat kehebohan lagi."

"Aku tidak bisa berjanji untuk yang terakhir itu."

Charles dan Tony kemudian saling meminum minuman mereka. Lalu mereka menatap Wade dan Peter yang sedang memojokkan diri, berpikir bahwa tidak ada yang bisa melihat mereka bersama jika mereka memojokkan diri.

"Mereka akan bertahan sampai menikah, ya?"

"Aku rasa, iya."

"Oh, aku harus mulai membiasakan diri dengan Wade dan juga cucu-cucuku yang akan datang."

Charles yang mendengar ini hanya tertawa, cucu. Mereka tidak akan datang, setidaknya tidak untuk 5 tahun ke depan. Kemudian pergi untuk mengambilkan Tony minuman lainnya. Ah, ini akan menjadi cerita yang panjang bagi Wade Winston Wilson dan Peter Benjamin Rogers-Stark-Parker.

Notes:

so??? how was it???
I truly hope u enjoy it, maaf panjang bangettttt, aku kayaknya kebawa arus waktu nulis ini dan akhirnya dari yang niatnya cuman 2k malah jadi 5k (zuzur kaget yazzzz) tapi semoga kalian suka ya, bila ada salag kata mohon dimaafkan dan dikoreksi aja di comment yaa, boleh give kudos sama komennya, thank you so much for reading this!

if you guys noticed, this story is heavily inspired by 'Can You Remember The Rain - Sequence Remix' by Garrett Atterberry. Especially the the first half of the story

love u all,
Lanabewithme