Work Text:
"Master Luocha, kita berjumpa lagi,"
Hijau bertemu emas.
Luocha menatap sang Jenderal dengan perasaan tidak senang. Dia yakin pertemuan mereka kali ini pun bukanlah sebuah kebetulan. Sejak dirinya menjejakkan kaki di Xianzhou sepasang mata emas itu selalu mengawasinya seperti predator mengincar mangsa.
Alih-alih menunjukkan ketidak senangannya Luocha justru menyunggingkan senyuman.
"Jenderal Jing Yuan sepertinya memiliki banyak sekali waktu luang sampai bisa menunjukkan batang hidungnya di bazar seperti ini," sindir Luocha.
"Sejujurnya, kebalikannya," tanggap Jing Yuan dengan nada santai, dia bahkan mengulas senyuman. Sama sekali tidak menangkap sindiran Luocha.
"Kalau begitu sebaiknya anda kembali ke balik meja kerja anda. Saya yakin saat ini bawahan anda sedang sangat kerepotan karena Jenderal mereka menghilang,"
Mendengarnya Jing Yuan justru malah tertawa. Raut wajah Luocha yang sejak tadi berhasil mempertahankan ketenangannya kini sedikit berkerut. Hal tersebut justru membuat Jing Yuan semakin melebarkan senyumannya.
"Master Luocha tidak perlu khawatir. Anggota Cloud Knight semuanya terlatih dengan baik. Ditinggal barang sebentar bukan masalah besar,"
"Kalau begitu nikmati waktu bolos anda. Saya tidak akan mengganggu anda lagi."
Luocha ingin pergi dari sana secepatnya. Namun, saat dia hendak berjalan melewati Jing Yuan, ada tangan besar yang meraih lengan atasnya—menahan Luocha untuk tidak melangkah lebih jauh.
Kembali ditatapnya wajah sang Jenderal. Kali ini Luocha tidak segan menunjukkan ketidak senangannya.
Di tengah pendaran cahaya lentera, Jing Yuan dapat melihatnya dengan sangat jelas raut jengkel di wajah cantik Luocha, serta secuil kemarahan yang terpantul di kedua manik seindah batu peridot milik pria pirang tersebut.
"Temani aku?" Pinta Jing Yuan seraya melepaskan genggamannya pada lengan Luocha. Senyuman yang sejak tadi dia ulas tidak pernah memudar.
"Maaf mengecewakan anda, Jenderal. Tapi saya di sini ada untuk berbisnis, bukan untuk mencari hiburan seperti anda,"
"Hanya mengobrol tanpa menjual satu barang pun termasuk sedang berbisnis?" Tanya Jing Yuan tanpa maksud apapun.
Sayangnya Luocha menangkapnya lain. Dia merasa sedikit tersindir dan malu karena tertangkap basah oleh sang Jenderal. Tidak memiliki pelanggan tetap akan sulit berbisnis di malam hari, terutama di tempat asing. Seperti yang dikatakan Jing Yuan, sejak datang ke bazar Luocha belum berhasil menjual barang apapun.
Mendapati Luocha yang tiba-tiba saja jatuh terdiam, Jing Yuan sadar perkataannya mungkin telah memberi cuka di hati Luocha yang terluka.
"Sebaiknya anda kembali ke kantor anda, Jenderal Jing Yuan."
Usai mengatakannya Luocha segera beranjak pergi tanpa menoleh ke belakang lagi. Kali ini Jing Yuan tidak menghentikannya seperti sebelumnya.
Luocha pun kembali menyusuri jalan yang cukup ramai oleh pengunjung bazar yang sebagian besar didominasi pasangan yang sedang berkencan. Tidak sedikit pula kaki-kaki kecil berlarian dengan diiringi suara riang yang begitu antusias—entah itu bermain kejar-kejaran dengan teman sebayanya atau pun sibuk menarik-narik lengan orang tua mereka menuju kios tertentu.
Atmosfir penuh kebahagaiaan di sekitarnya itu membuat suasana hati Luocha kembali membaik. Dia terus berkeliling sambil sesekali mampir ke suatu kedai hanya sekedar untuk melihat-lihat maupun mengobrol sebentar dengan sesama pendagang.
Sampai sosok tinggi besar Jing Yuan kembali menyapa indera penglihatan Luocha. Dalam jarak kurang dari sepuluh meter Luocha melihat Jing Yuan dikelilingi setidaknya oleh lima anak kecil.
Salah satu tangannya menggenggam sejumlah jajanan berupa manisan khas Xianzhou yang dikenal dengan nama berrypheasant skewers. Satai yang berisi buah berry berwarna merah yang dibalut cairan gula. Rupanya sang Jenderal Cloud Knight tengah membagi-bagikan manisan tersebut kepada anak-anak.
Luocha akui, Jing Yuan memang merupakan sosok yang ramah. Meskipun terkadang keramahannya tersebut jadi sedikit mengganggu. Terutama jika Jing Yuan mulai menggoda Luocha.
Antara insting yang kuat atau hanya sebuah kebetulan semata, Jing Yuan kini menoleh ke arah Luocha. Senyuman memesona sang Jenderal seakan tidak pernah luntur dari wajahnya yang tampan. Manik emasnya menatap Luocha dengan penuh kehangatan.
Akan tetapi, itu tidak berlangsung lama. Perhatian Jing Yuan kembali disita anak-anak yang menginginkan berrypheasant skewers. Daripada disebut Jenderal, pemandangan Jing Yuan saat ini lebih pantas disebut sebagai abang penjual manisan. Pikir Luocha.
Tidak tahu sejak kapan dirinya melamun—Luocha disadarkan oleh rasa lengket di bibirnya dan wangi manis yang menyerbu indera penciumannya. Setusuk berrypheasant skewers ditempelkan ke bibir Luocha oleh orang yang tidak lain adalah Jing Yuan.
"Untukmu," Ucap Jing Yuan sambil menuntun jemari Luocha untuk bergantian menggenggam gagang tusukan manisan tersebut.
Sang Jenderal kembali mengembangkan senyuman ketika Luocha menggenggam berrypheasant skewers tersebut tanpa perlawanan dan sedikit mengemut bibirnya sendiri saat manisan itu dia jauhkan dari bibirnya.
"Kenapa memberikannya pada saya?" Tanya Luocha yang sudah kembali dari keterkejutannya.
"Tidak semua tindakan harus memiliki alasan, bukan?" Tatap Jing Yuan, "Aku hanya ingin memberikannya padamu, itu saja."
Karena tidak mau ambil pusing, Luocha menyampaikan terima kasihnya kepada Jing Yuan. Lagi pula Luocha sendiri senang mencicipi makanan baru dari seluruh dunia.
"Ngomong-ngomong, apa master Luocha masih keberatan jika aku meminta untuk ditemani minum?"
Melihat sorot mata Jing Yuan yang penuh harap hati Luocha jadi sedikit melembut. Jing Yuan juga sudah berbaik hati memberinya manisan. Menemani minum barang sebentar tidak akan menyakitkan. Pikir Luocha.
"Baiklah."
.
Saat Jing Yuan mengatakan ingin ditemani minum, Luocha pikir mereka akan pergi ke kedai arak terdekat. Dia tidak mengira akan dibawa ke sebuah paviliun yang sangat indah.
Terletak di tengah kolam bunga teratai. Pantulan cahaya bulan tercermin jelas pada permukaan airnya.
"Kuharap master Luocha tidak keberatan aku ajak ke sini."
Bukankah sudah terlambat untuk mengatakannya sekarang? Pikir Luocha.
"Tempat ini sangat indah. Bagaimana bisa saya merasa keberatan jika dibawa ke tempat seindah ini?"
Jing Yuan menuangkan arak di kedua cawan mereka. Matanya tersenyum menatap Luocha di hadapannya. Dia lalu mengangkat cawan arak miliknya ke arah Luocha—mengajak bersulang.
Tanpa berpikir lagi Luocha segera menerima tawaran bersulang dari Jing Yuan. Keduanya meminum bagian mereka masing-masing secara bersamaan.
"Menikmati arak lezat di bawah sinar rembulan dengan ditemani sosok yang menawan memang cocok dilakukan di tempat seperti ini, bukan begitu?" Kata Jing Yuan yang matanya mengerling ke arah Luocha—guna menggoda pria berambut pirang di hadapannya tersebut.
Luocha meletakkan cawan arak miliknya dengan gerakan yang menurut penglihatan Jing Yuan sangat anggun. Iris hijaunya kemudian memandang Jing Yuan dengan tatapan tak tergoyahkan.
"Selain kita berdua tidak ada orang lain di sini. Kecuali Jenderal Jing Yuan merasa dirinya adalah orang yang menawan. Jika demikian, saya yang orang biasa ini hanya bisa mengangguk setuju,"
Jing Yuan sontak terbahak ketika mendengar ucapan Luocha. Dia yakin pria pirang di hadapannya itu sengaja melakukannya.
"Kenapa kamu sulit sekali menerima pujian?"
Luocha tersenyum tipis sebelum berkata, "Suatu kehormatan bagi saya jika mendapat pujian dari Jenderal Cloud Knight yang agung. Tapi saya memang tidak merasa sedang dipuji oleh anda,"
"Perlukah kukatakan dengan sangat jelas dan terperinci jika ingin mendapat pengakuanmu kalau aku memang tengah memujimu?"
"Saya tidak berani selancang itu pada anda, Jenderal,"
Jing Yuan mengistirahatkan kepalanya di atas telapak tangan kanan yang sikunya bertumpu pada meja. Mata emasnya menatap Luocha dengan penuh ketertarikan. Bibirnya menyunggingkan senyuman menggoda.
"Kalau begitu, terima pujianku yang tadi,"
"Jika hal itu bisa membuat anda merasa puas, baiklah,"
"Bagaimana jika aku mengatakan kalau aku tertarik padamu?" Tanya Jing Yuan yang masih mempertahankan posisinya seperti sebelumnya. Namun kali ini iris matanya menatap Luocha seduktif.
"Saya tidak paham selera humor anda, tapi, terima kasih." Jawab Luocha yang terdengar seperti enggan menanggapi.
Mendapat respon dingin dari Luocha tidak membuat Jing Yuan kesal maupun tersinggung. Justru dia malah semakin ingin menggoda pria pirang tersebut. Dengan demikian Jing Yuan tidak pernah melepaskan perhatiannya pada Luocha. Berniat membuat pria itu canggung.
Di lain sisi, Luocha yang sangat menyadari akan hal itu berusaha mengabaikannya dengan bersikap biasa saja dan fokus minum. Lagi pula arak yang mereka konsumsi malam itu adalah salah satu arak terbaik yang pernah Luocha cicipi.
Saat posisi bulan semakin tinggi, sudah ada lebih dari lima botol arak kosong di atas meja. Piring yang sebelumnya menyajikan songlotus cake pun telah kosong.
Semburat merah pengaruh alkohol nampak di wajah Luocha—membuatnya terlihat semakin cantik dan sexy. Pria yang mengaku sebagai seorang pedagang tersebut nampak mabuk, namun tangannya masih bergerak menuangkan arak ke cawan miliknya sendiri.
Jing Yuan masih setia memperhatikan sambil menikmati arak bagiannya. Perbedaannya, sang Jenderal tidak mabuk sama sekali dan masih terlihat segar. Dia lalu menurunkan cawan miliknya dan menggeser tubuhnya agar bisa mendekat pada Luocha.
"Cukup." perintah Jing Yuan dengan suara lembut. Jemari kokoh miliknya menggenggam pergelangan tangan Luocha—menahan cawan arak yang sudah menempel di bibir ranum dan basah itu agar tidak maju lebih jauh. "Kamu sudah terlalu mabuk."
Alis Luocha berkerut tidak senang. Pandanganya sedikit kabur saat memandang Jing Yuan yang terlihat begitu dekat. Dengan usaha sia-sia dia berusaha melepaskan jeratan Jing Yuan dari tangannya. Dia terus mencoba dengan sisa-sisa tenaga miliknya, tetapi tetap tidak berhasil.
"Jing Yuan!"
Untuk kali pertama Luocha menyebut nama Jing Yuan tanpa embel-embel gelar miliknya. Hal itu bahkan membuat Jing Yuan sedikit tertegun. Sang Jenderal semakin gemas saat melihat iris mata seindah batu peridot itu menatapnya seperti seekor anak kucing yang marah.
Senyuman jahil kembali tersungging di bibir sang Jenderal. Dia melepaskan pergelangan tangan Luocha, namun segera merebut cawan milik pria pirang tersebut. Membuat arak di dalamnya sedikit tumpah karena guncangan yang tiba-tiba.
"Rebut sendiri jika kamu masih ingin minum." Goda Jing Yuan yang sedikit mundur untuk menjauh.
Luocha yang mabuk sangat mudah terpancing, tidak seperti dirinya saat waras. Dia menggeser tubuh rampingnya mendekat, lalu dengan sedikit mencondongkan badan Luocha segera mencoba merebut cawan di tangan Jing Yuan.
Bukan Jing Yuan namanya jika dia tidak semakin menjadi menggoda Luocha. Dia akan sengaja memancing Luocha dengan membuat keadaan seperti sedang lengah, lalu akan bergerak lincah menarik cawan arak di tangannya saat Luocha hampir berhasil merebutnya.
Luocha akan menggeram kecil tiap kali Jing Yuan berhasil mencegahnya merebut cawan. Bagi Jing Yuan itu terdengar imut.
Lalu terbersit di pikirannya sebuah ide jahat.
Kali ini Jing Yuan justru meminum isi cawan dengan tatapan mengejek saat Luocha kembali mencoba merebutnya.
Di luar dugaan Luocha yang sangat mabuk malah menerjang ke arah Jing Yuan. Keduanya bisa saja berakhir jatuh saling menindih di lantai kayu kalau saja Jing Yuan tidak bergerak cepat menahan tubuh mereka berdua dengan salah satu tangannya. Sedangkan tangan yang sebelumnya memegang cawan kini sudah melingkar sempurna di pinggul ramping Luocha.
Hal yang sebenarnya membuat Jing Yuan terkejut justru sensasi lembut, dingin dan basah yang menyentuh bibirnya. Luocha menghisap bibir Jing Yuan tanpa ampun seperti orang kehausan. Untuk beberapa detik otak Jing Yuan seakan berhenti berfungsi.
Mata emasnya membulat sedikit lebih lebar menatap kelopak mata Luocha yang tertutup. Dia baru menyadari kalau Luocha memiliki bulu mata yang sangat lentik dari jarak sedekat itu.
Jing Yuan pun segera membalas lumatan bibir Luocha. Bahkan lebih dalam dan intens. Membuat Luocha mengeluarkan suara desahan kecil.
Alih-alih rasa arak, Jing Yuan menemukan rasa yang amat manis saat melumat bibir ranum Luocha. Seakan pria pirang tersebut memakan berrypheasant skewers tepat sebelum mereka berciuman.
Jing Yuan takut kecanduan dan kehilangan akal. Bahkan terkena mara struck tidak semenakutkan perasaannya saat ini.
Dia juga sadar dirinya berengsek karena memanfaatkan kesempatan. Tapi Jing Yuan benar-benar kehilangan kendali dirinya. Luocha seperti iblis hati yang sulit untuk dia kendalikan.
"Jangan salahkan jika suatu hari nanti aku benar-benar akan membelenggumu seutuhnya. Menjadikan dirimu hanya milikku seorang, Master Luocha." Bisik Jing Yuan dengan nada posesif pada Luocha yang sudah tak sadarkan diri saat setelah tautan bibir mereka terlepas.
