Actions

Work Header

merah merona

Summary:

“eh! sorry sorry! gue kira lo jeni!” hape di tangan jaemin hampir saja jatuh ke lantai jika saja haechan tidak cepat meraih benda tersebut—yang membuat haechan kini berjongkok di hadapan jaemin, yang membuat kedua tangan lelaki itu bersentuhan, yang membuat jaemin kini dapat melihat wajah haechan dari dekat.

huh..? jaemin mengamati kedua pipi haechan yang memerah, ni bocah kepanasan juga ya?

Notes:

hiiiiii! cerita jeman kos dan haechie ketika masih kuliah. disini mereka emg blm deket. jeman jeni hubungannya masih bareng (tapi udah sering berantem & putus nyambung). mau ngingetin aja there's no cheating between jeman kos jeni dan haechie yaa.

if you wanna know more about them ke cc aku aja! hihi happy nahyuck day guys<3

Work Text:

jaemin kadang merasa ukt yang ia bayarkan per semesternya tidak sepadan dengan fasilitas yang disediakan fakultasnya.

entah sudah ke berapa kali lelaki itu menyeka keringatnya yang mengalir turun dari jidatnya. alisnya bertaut tanpa ia sadari ketika panas siang itu sepuluh kali lebih berasa di gazebo kampusnya. setidaknya fakultas bisa menyediakan working space indoor untuk mahasiswanya.

matanya sesekali melirik layar hapenya—menanti jawaban sang pacar yang seharusnya sudah selesai kelas dari 15 menit yang lalu, sambil juga memperhatikan beberapa orang yang sibuk mempersiapkan sound system.

huh..? jaemin kembali mengamati sekitarnya dan baru menyadari ada banner yang telah terpasang dengan tulisan “Open Recruitment Staff Pengurus Himpunan 2019” terpampang jelas di tengah gazebo.

pantes, pikir jaemin ketika menyadari banyak mahasiswa yang mengenakan jahim sedang berlalu lalang atau hanya sekedar duduk di kursi bundar sambil menunggu acara dimulai.

karena panas yang sudah tidak tertahan—lengan kemeja jaemin sudah ia tekuk hingga hampir siku dan kancingnya sudah ia buka tiga buah, mau tak mau lelaki itu menelpon kekasihnya yang tak kunjung datang.

masih dengan nada dering yang tersambung, tepukan tiba-tiba di bahunya membuat dirinya senang. setidaknya pacarnya kini sudah menghampirinya. memutar badannya, dengan sedikit nada ngambek, jaemin mengeluh “sayaaang, kamu lama banget sih! aku kepana—”

rengekannya terputus ketika ia menyadari orang yang menepuk bahunya bukan kekasihnya, bukan jeni, bukan wanita yang ia tunggu hampir setengah jam di gazebo panas fakultasnya.

melainkan seorang lee haechan, ketua himpunan jurusannya, teman satu kosnya yang jarang ketemu, yang kini menatapnya kaget, dengan mulut sedikit terbuka seolah-olah apa yang mau ia ucapkan tertahan begitu saja.

“eh! sorry sorry! gue kira lo jeni!” hape di tangan jaemin hampir saja jatuh ke lantai jika saja haechan tidak cepat meraih benda tersebut—yang membuat haechan kini berjongkok di hadapan jaemin, yang membuat kedua tangan lelaki itu bersentuhan, yang membuat jaemin kini dapat melihat wajah haechan dari dekat.

huh..? jaemin mengamati kedua pipi haechan yang memerah, ni bocah kepanasan juga ya?

“ga balik jaem?”

meskipun mereka berdua teman satu kos, haechan tidaklah sedekat jaemin ke jeno dan renjun. meskipun mereka berdua teman satu kos, interaksi keduanya sebatas sapaan ketika bertemu di tempat parkir kos ataupun dapur di jam satu pagi.

makanya, panggilan jaem oleh haechan terdengar sangat asing karena jaemin jadi merasa tidak asing dengan haechan.

haechan menggaruk kepalanya ketika jaemin tidak kunjung menjawabnya. dirinya beranjak berdiri, malu juga diabaikan oleh teman satu kosnya. jaemin kembali memperhatikan wajah haechan—tidak hanya pipinya yang memerah namun juga kini telinganya, membuat pria itu yang sedari tadi masih duduk segera bergeser dan menarik lengan haechan.

“lo kepanasan ya? muka lo merah banget deh!”

haechan yang tiba-tiba ditarik duduk dan tidak siap atas keseimbangannya, berdecit pelan ketika tubuhnya hampir saja menduduki paha jaemin.

“eh!” seruan serupa muncul bersamaan dari kedua mulut lelaki itu.

suasana gazebo yang semakin ramai dengan mulai adanya soundcheck dari salah satu panitia himpunan seolah-olah bagaikan angin lewat.

“sorry…” lirih jaemin, namun dengan tangan yang masih menggenggam erat lengan haechan. matanya seolah tidak bisa lepas fokus dari wajah haechan. ternyata bukan hanya pipi dan telinga haechan yang merah tapi juga bibir dia.

loh?

jaemin buru-buru melepas genggamannya dan mundur sedikit—namun tidak terlalu jauh karena dirinya penasaran dengan parfum haechan yang tidak sengaja ia endus tadi. wangi juga ni bocah.

“iya, sorry juga gue kaget jadi hampir niban badan lo,” ujar haechan.

jaemin mengangguk, bingung dan canggung ingin menanggapi seperti apa. pasalnya ketika haechan menyadari lelaki di sampingnya ini tidak ada niat untuk melanjutkan pembicaraan mereka berdua, sang ketua himpunan tetap duduk sambil memperhatikan staffnya menyiapkan acara yang sebentar lagi akan di mulai.

jaemin sampai lupa bahkan setelah adegan memalukannya dengan haechan, pacarnya juga belum datang juga. bukannya kembali menghubungi jeni, jaemin ikutan memperhatikan kesibukan anak-anak himpunan.

jaemin bukan staff himpunan, bukan juga staff bem. tapi jaemin tergabung dalam salah satu organisasi kampus yang mengurusi pers fakultas. makanya dia tidak kaget ketika salah satu staffnya menghampiri haechan.

“eh kak jaemin! belum pulang kak?” sapa adik tingkatnya itu ketika menyadari kehadirannya di samping haechan.

“nungguin jeni nih, ning.” ningning, adik tingkatnya, ber-ooooh ria sebelum kembali fokus kepada haechan.

“kak haechan, nanti habis sambutan boleh wawancara sebentar tidak ya terkait rekrutmen ini?”

“oh oke, ntar ingetin gue ya ning. samperin aja misal gue ntar kalo gue lupa,”

“siap kak!”

ketika ningning pergi, keduanya masih terdiam canggung. jaemin hampir mau kembali membuka pembicaraan ketika lagi-lagi dia merasakan bahunya ditepuk seseorang.

“jaemiiiin, sorry banget aku lama! tadi aku ke kantin fisip dulu. kamu tau kan di sana ga ada sinyal? terus antri parah!” jeni, dengan gaya khasnya yang selalu high tension, yang bahkan ketika jaemin dapat melihat pacarnya itu kegerahan, tetap nyerocos menyampaikan alasannya agar jaemin tidak marah.

well, jaemin tidak marah.

tangan lelaki itu merapikan poni kekasihnya, “buset kamu keringetan banget jen.”

“ya kaan aku udah bilang! panas banget asli, males deh besok aku jajan di kantin fisip.”

“yeee kalo kamu dari kelas langsung nyamperin aku kita bisa makan di luar jen. bosen nih aku nungguin lama. mana panas lagi!” kini gantian jaemin yang nyerocos.

jeni hanya bisa cengengesan, tidak mau lagi memberikan pembelaan karena memang dirinya yang salah.

“bohong ya kamu bosen! orang itu ada haechan di samping kamu.” tegur wanita itu ketika menyadari kehadiran orang lain yang duduk di bangku mereka.

haechan, yang sedari tadi berusaha mengabaikan percakapan keduanya, menoleh dan tersenyum ke arah jeni.

jaemin yang memperhatikan jeni ikutan tersenyum melihat senyum haechan menjadi sedikit kesal.

ini bocah kaga senyum ke gue tapi kenapa malah ke cewe gue deh?

“udah yuk balik!” ajak jaemin pada akhirnya.

“ntar ah.ini ada acara apaan deh?” jeni bertanya kepada jaemin yang kini malah menatap kekasihnya itu dengan tatapan kesal.

“ih iya iyaaa. habis sambutan deh balik! tuh kok haechan udah ke depan aja sih?”

jeni memfokuskan pandangannya ke depan—yang membuat jaemin mau tak mau ikutan juga.

lee haechan yang ia tau, yang sudah beberapa bulan menjadi teman sekosnya, sangat berbeda dengan lee haechan yang kini sedang tersenyum lebar sambil memegang mic dan menyapa para maba yang gugup menunggu acara dimulai.

jaemin memutar matanya tiap kali ia mendengar teriakan dari cewe-cewe yang sengaja menghabiskan waktu istirahat mereka untuk menonton pembukaan open recruitment staff himpunan kali ini.

jaemin malas mengakuinya, tapi haechan cukup terlihat berkarisma. dan berwibawa. dan keren. dan….

jaemin harus menghentikan pujian yang ia berikan kepada haechan karena hal itu menyakiti egonya sendiri. apalagi ketika melihat jeni yang ikutan bertepuk tangan heboh saat haechan tertawa digodain oleh MC acara.

“haechan tuh keren banget ya.. kamu tau ga sih dia tuh sebenernya lawak banget? aku pernah sekelas sama dia terus dia bisa bercanda sama dosen. tapi kalo udah kasih sambutan keliatan berwibawa banget jaem..,”

kelopak mata jaemin berkedut.

apaan sih?

caper kali si haechan, pikir jaemin. karena selama mereka menjadi teman satu kos, jaemin tidak pernah mendengar tawa haechan. jarang melihat penampilan keren haechan di kos karena default baju lelaki itu di kos hanya celana pendek dan kaos belel.

jaemin kembali memperhatikan haechan yang kini mulai menutup sambutannya. jaemin menyadari bahwa pipi dan telinga lelaki itu sudah tidak merah. namun bibirnya masih merah. jaemin mengernyit heran. dirinya baru sadar haechan kalau berbicara sedikit manyun. jadi kayak bebek. lucu. dirinya tidak sadar tersenyum melihat bibir haechan itu.

loh?

jaemin buru-buru menyenggol lengan jeni, mengajak kekasihnya itu pulang.

kayaknya gue kepanasan deh. jaemin menelan ludahnya kasar. berusaha menghapus bayang-bayang bibir haechan.

iya bener. emang cuacanya lagi panas. batin jaemin, meyakinkan dirinya sendiri.

***

“jaem, kayaknya kita beneran harus nabung biar buruan bisa pindah ke apart yang gedean dikit deh!”

jaemin yang sedari tadi melamun menatap langit-langit kamar kosannya, jadi tersadar karena ucapan haechan.

mereka berdua yang kini sedang berbaring di kasur sempit di kamar haechan, dengan AC yang sudah maksimal pada suhu 16 derajat, masih saja merasa kepanasan.

jaemin membenarkan posisinya, kini menyamping menghadap haechan yang juga sudah menatapnya. pipi dan telinga haechan tidak merah, namun bibirnya masih sama. selalu merah.

“gila kenapa ya jaem kita betah banget di kos ini?” cara berbicara haechan juga masih sama. bibirnya selalu ikutan manyun.

kalau dulu jaemin bisa menyalahkan panas karena membuatnya memikirkan bibir haechan, kini dirinya bersyukur karena panasnya kamar kos mereka membuat jaemin tersadar.

kalau sedari dulu dirinya sudah ingin mencium bibir merah haechan.

Series this work belongs to: