Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 2 of markicob the series
Stats:
Published:
2023-08-14
Words:
1,390
Chapters:
1/1
Comments:
19
Kudos:
121
Bookmarks:
6
Hits:
3,522

panas membara

Summary:

jaemin yang menyadari posisinya langsung menarik tubuhnya, tertawa pelan sambil melepas jaketnya dan meninggalkan kaos hitam ketat yang menempel pada tubuhnya.

buset, haechan meraih botol minum jaemin, kok gue masih kepanasan sih? batinnya sambil mengelap keringat yang mengalir di keningnya.

Notes:

happy belated bday jaemin...................... bingung mau post ini apa engga but.. here we are. probably gonna be my last update until idk when lol. enjoy!

Work Text:

karena menjadi penghuni paling baru di kosnya sekarang ini, haechan masih belum mengenal beberapa penghuninya.

paling yang ia tau cuma renjun, teman ospek univ-nya, dan jeno—temannya renjun.

meskipun berbeda jurusan, entah kenapa, jadwal kelas mereka hampir sama. yang membuat mereka bertiga menjadi akrab.

tapiiiii.

tapi, renjun dan jeno sebelum ada haechan juga sudah akrab dengan penghuni kos lain. namanya na jaemin.

jaemin, yang jadwalnya paling berbeda di antara mereka berempat.

jaemin, yang penampilannya terlalu kaya untuk sekedar ngekos sejuta lima ratus sebulannya.

jaemin, yang tiap berpapasan dengan haechan hanya akan menatapnya datar. kalo haechan beruntung dirinya akan mendapatkan anggukan tipis dari lelaki itu.

makanya haechan heran, kenapa dan bagaimana dirinya dan jaemin tidak akrab padahal mereka berdua berteman dengan renjun dan jaemin, mereka berdua sama-sama satu kos dan yang bikin haechan heran… mereka berdua satu fakultas.

pernah haechan menghampiri jaemin yang sedang duduk sendiri di gazebo untuk sekedar menyapanya sebelum ia memberi sambutan. tapi yang ada dirinya malah merasa panas.

panas karena terik matahari. panas karena malu. haechan tidak bisa menebak. intinya saat itu merupakan kejadian yang cukup memalukan untuk dirinya. kalau diingat-ingat, haechan selalu merasa kepanasan saat memori dirinya hampir saja terjatuh di pangkuan jaemin terputar di otaknya.

tapi entah kenapa, semenjak kejadian itu, jaemin malah terlihat lebih membuka diri kepada dirinya.

tatapan datar jaemin kini berubah menjadi senyuman. ucapan salam kaku kini bukan hanya sekedar “eh!” tapi sudah menjadi “baru balik chan?”

haechan sih senang-senang aja. karena niatnya yang ingin berteman dengan jaemin.

tapi kenapa dirinya tetap kepanasan ya saat makan mie rebus di jam satu pagi berduaan sama jaemin?

haechan tersedak ketika jaemin tiba-tiba sudah duduk di hadapannya. helm motornya ia letakkan sembarang di atas meja dapur—yang hampir menyenggol mangkok mie rebus haechan.

“pelan-pelan chaaan.” tegur jaemin sambil mengeluarkan botol minumnya dari tas dan menyodorkannya ke hechan.

kan.

nada jaemin yang masih terdengar asing di telinganya. terlalu akrab.

uhuk! thanks jaem. lo baru balik?”

jaemin tersenyum.

“iya, habis berantem sama cewe gue chan,”

haechan mengangguk perlahan. jujur dirinya bingung dengan curhatan jaemin tiba-tiba mengingat terakhir kali ia bertemu jaemin dan jeni—sang kekasih, saat mereka sedang berantem di kamar kos jaemin.

haechan masih ingat dirinya yang tidak sengaja lewat di depan pintu kamar jaemin dan mendengar suara sahut-sahutan tertahan dan tiba-tiba sosok jaemin yang keluar kamar dengan ekspresi berantakan.

tapi bedanya kali ini, meskipun jaemin habis berantem dengan pacarnya, lelaki itu menampilkan senyum khasnya—lebar dan cerah. di jam satu pagi.

“terus? udah baikan belom?”

“kayaknya malah mau putus kita chan,”

lagi-lagi haechan tersedak.

“udah parah banget ya?”

jaemin mengangkat bahunya, seolah-olah pertanyaan haechan memiliki jawaban yang cukup jelas untuk tidak dijawab.

“lo pernah gak sih chan ngerasa cocok sama orang tapi bukan sebagai pasangan? nah itu yang lagi kita rasain.”

bibir haechan membentuk O tanpa sadar, yang membuat jaemin melirik mulutnya cukup lama. haechan buru-buru mengelap dagunya—takut jika ada kuah atau liurnya yang mengalir.

“makanya kalian mau putus?”

“yoiii. lo sendiri udah punya cewe belom sih chan?”

haechan menyeruput kuah mie rebusnya, sedikit malas membahas perkara kisah cintanya yang cukup menyedihkan kalau diingat-ingat kembali.

“ga ada jaem. putus gue pas naik jadi kahim.”

alis jaemin langsung naik. he looooves a good gossip. a hot tea. especially when it comes to his friends’ miserable love life. karena setidaknya dia tidak merasa sendirian gagal dalam dunia percintaan.

ketika haechan menyadari tubuh jaemin semakin mendekat ke arahnya, matanya berkedut sesaat. dirinya menatap jaemin yang kelewat ceria dengan skeptis.

“ngapain lo maju-maju gitu?”

jaemin yang menyadari posisinya langsung menarik tubuhnya, tertawa pelan sambil melepas jaketnya dan meninggalkan kaos hitam ketat yang menempel pada tubuhnya.

buset, haechan meraih botol minum jaemin, kok gue masih kepanasan sih? batinnya sambil mengelap keringat yang mengalir di keningnya.

ia melirik mangkoknya, menyadari tinggal sedikit kuah yang bisa ia seruput, meratapi nasibnya yang mau tidak mau terjebak oleh jaemin yang kini menatapnya penuh dengan ekspektasi. entah atas apa.

“dulu mantan gue gak mau gue naik jadi kahim,” jelas haechan akhirnya ketika jaemin masih memandangnya, “pas itu gue hampir mundur sih tapi langsung dikata-katain sama temen-temen dan kating gue. katanya lu jangan mau digoblok-goblokin pacar dong! lu pengen jadi kahim kan? yaudah ada kesempatan maju aja!

haechan masih ingat jelas saat itu dia disidang di sekre himpunan ketika hendak mengutarakan keputusannya untuk mundur. dirinya juga ingat dia menangis di depan kating-katingnya karena bimbang untuk mengambil keputusan.

makanya, ketika ia kembali menceritakan kenangan pahit tersebut, rasa sedih juga kecewa kepada mantannya masih teringat jelas di memorinya. sampai-sampai haechan tidak sadar dirinya sudah bercerita panjang lebar kepada jaemin.

“...gitu deh. terus gue beneran kepilih jadi kahim.”

pandangannya yang sedari tadi ia fokuskan pada mangkok mie rebusnya, kini akhirnya beralih ke jaemin yang sedang bersedekap.

buset. secara tidak sadar haechan memeluk lengannya sendiri. gede banget deh jaemin?

“terus lo nyesel ga?” tanya jaemin, tangannya kini terjulur mengambil botol minumnya.

haechan menarik kerah kaosnya. panas banget sih.

“jadi kahim? engga.” jaemin mengangguk lalu tersenyum geli menatap haechan, “jujur kalo pas itu kita udah temenan mungkin lo juga gue kata-katain sih chan.”

kini gantian haechan yang tersenyum geli, “emang sekarang kita udah temenan?”

jaemin menatap lelaki di hadapannya ini tidak percaya, “waah parah lo chan. udah gue temenin makan mie rebus pagi-pagi gini masih belom lo anggep temen? gilaaa.”

haechan tertawa, yang membuat jaemin ikutan tertawa.

“jujur jaem, gue tuh beberapa kali pengen ngajak ngobrol tau. cuma aura lo tuh serem gitu,” aku haechan pada akhirnya.

“duh mungkin itu pas gue abis berantem sama cewe gue kali yaa,”

“lu sih berantem mulu. pacaran mah buat seneng-seneng anjir,” timpal haechan yang membuat jaemin terkekeh pelan.

“masih ada seneng-senengnya kok gue. masih bisa lah ngewe sekali dua kali,”

jaemin mengucapkan kalimat itu dengan cukup santai seolah-olah candaan ranjang antara dirinya dengan sang kekasih adalah hal yang biasa.

“buset jaem,”

“hehehe, wajar pasangan muda chan.”

haechan memutar kedua matanya bercanda. tidak mau munafik karena dirinya juga melakukan hal tersebut sama mantannya. dulu. damn, it’s been awhile.

haechan jadi kepikiran apakah dia masih mempunyai skill yang dulu sempat dipuja oleh mantannya. dirinya melirik jaemin yang masih setia memandangnya, jadi ikutan kepikiran apakah jaemin jago dalam masalah ranjang? apa jaemin tipe cowo yang suka mengangkat pacarnya saat ngewe? apa jaemin seperti dirinya yang lebih suka vanilla sex tanpa mencoba hal-hal baru dengan kekasihnya?

eh.

haechan menggeleng pelan. berusaha menghapus pikiran aneh yang tiba-tiba muncul di kepalanya. efek kepanasan deh kayaknya, pikir haechan.

“yaudah jaem, thanks udah nemenin gue makan mie rebus yaa,” ujar haechan yang dihadiahi oleh senyuman lebar jaemin.

“kapan-kapan cerita kayak gini lagi dong chan. di antara kalian, cuma lo aja nih yang gue belom deket.”

haechan menggigit bibir bawahnya. ternyata tidak hanya dirinya yang menyadari ketidakdekatan hubungan mereka.

“atur laaah. lu ketok aja pintu gue jaem besok.”

“eh lo ngerokok ga sih?” tanya jaemin tiba-tiba ketika haechan baru saja beranjak dari kursinya. dengan kedua tangannya yang memegang mangkok mie rebusnya, haechan menatap bingung jaemin.

“ngerokok kok… kenapa emang?”

“oh.. enggak sih. gue kepo aja kok bibir lo bisa merah banget.”

hah.

haechan mengerjapkan matanya. tiba-tiba dirinya merasa gerah.

aduuuh kenapa tiba-tiba panas gini sih?

“apaan dah kocak. gue duluan ya jaem!”

haechan buru-buru berbalik badan menuju kamarnya. dengan masih membawa mangkok mie rebus yang seharusnya ia letakkan di cucian.

panas banget badan gue, apa mau sakit ya? batin haechan, mengabaikan detak jantungnya yang semakin berdegup.

***

haechan memejamkan matanya ketika ciuman jaemin mengenai titik sensitif di lehernya. nafasnya semakin terengah ketika jaemin memainkan putingnya di luar kaos.

ciuman jaemin beralih ke rahang hingga kembali ke kedua bibirnya.

“chie,” panggil jaemin disela-sela ciumannya, yang hanya bisa dijawab hmmm oleh haechan.

jaemin menarik tubuhnya, memperhatikan kondisi haechan yang sudah keenakan.

“mau lanjut disini?” jaemin memastikan karena kini mereka sedang di sofa hotel dimana keputusan impulsif keduanya karena stress membuat mereka untuk staycation lagi.

haechan menatap jaemin yang kini menatapnya penuh dengan sayang. dengan kaos hitam andalan lelaki itu. tiba-tiba haechan tertawa.

tertawa mengingat pikirannya tentang jaemin saat awal pertama kenal dengan lelaki itu.

haechan mengalungkan kedua tangannya di leher jaemin, “kamu tau gak sih dulu aku sempet mikir kamu tuh suka gendong cewe kamu pas ngewe apa engga.”

kalimat haechan membuat jaemin menatapnya heran.

“kenapa gitu?”

haechan tersenyum tipis lalu menggeleng pelan dan menarik jaemin ke dekapannya. membiarkan suhu tubuh jaemin menghangatkannya.

holding jaemin feels like catching the sun. hot and burning but it makes haechan warm all over his body, mind… and heart.

Series this work belongs to: