Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-08-09
Words:
1,440
Chapters:
1/1
Kudos:
4
Hits:
56

Think About Me {[SPECIAL BIRTHDAY RIKU-SAN]}

Summary:

“Aku sangat menyukaimu! Jadi biarlah hanya aku yang ada dipikiranmu.”

Notes:

Hai haiiii!!
Ini menjadi FF pertama perayaan ulang tahun Riku-san...

SELAMAT ULANG TAHUN RIKU-SAN!

Happy reading minna (-3-)/

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“Kaisei-san!”

Seorang pria yang diketahui sebagai member bungsu THE RAMPAGE berlari kecil menghampiri pria berambut keabuan dengan panjang sebahu.

“Takkun?”

 

Takuma mengeluarkan ponselnya dan menggulirkan jarinya pada layar ponsel dengan bersemangat. “Kaisei-san…bantu aku menghitung ini!”

 

Secara perlahan kaisei mendekatkan wajah ke layer ponsel yang diperlihatkan Takuma. Matanya memicing dan dia tampak berfikir sebentar. “Bukankah ini anggaran biaya makan siang THE RAMPAGE?” Tanya Kaisei.

 

“Tentu saja! Zin-san yang biasanya menghitung anggaran biaya ini…tapi dia tiba-tiba diberikan tugas baru dan melihatku yang baru masuk ruangan. Jadi dia memohon kepadaku untuk membantu dia menghitung….Ishhh, dia kan tau aku lemah dalam menghitung!”

Takuma meracau frustasi sambil kembali melihat layar ponselnya.

 

“Baiklah, kamu kirimkan saja.” kaisei berlalu memunggungi Takuma dan beralih mengambil satu buah apel yang tersedia diruang latihan THE RAMPAGE.

Takuma segera bergegas menghampiri kaisei dan menggenggam pundaknya cepat. “Kaisei-san serius akan membantuku?” matanya berbinar dan deretan gigi cemerlang menghiasi wajah cerah Takuma.

“Tentu.”

 

Dengan cepat Takuma kembali menggulirkan ponselnya dan meneruskan anggaran biaya makan siang tersebut pada kontak kaisei.

“Kaisei-san…Aku sudah kirimkan ya beberapa rinciannya. Mohon bantuannya ya!!” Takuma berbalik dan dengan cepat menghilang dari pintu.

 

“WOYY TAKKUN! MAKSUDKU KITA KERJAKAN BARENG!” namun sayang sekali teriakan Kaisei berlalu begitu saja bagi Takuma yang sudah pergi.

 


 

Beberapa lembar kertas tercecer diatas meja pada dapur mini ruang latihan THE RAMPAGE. Rambut Kaisei bergerak pelan dan tangannya cekatan menuliskan berbagai angka dalam kertas.

“Ternyata ini tidak mudah...” gumam Kaisei.

 

Suara tawa dan sautan perlahan mendekati dapur mini ruang latihan THE RAMPAGE. “Aku buat kopi dulu!” sebuah Teriakan mengagetkan kaisei dari duduknya.

“Eh, Gomen…” Riku terkejut juga ketika menyadari Kaisei yang terlonjak kecil dari bangku. Perlahan Riku tertawa pelan melihat reaksi Kaisei yang saat ini sedang mengelus dadanya.

“Bikin kaget saja Riku-san.”

“Sorry…Apa yang sedang kamu kerjakan?”

 

Kaisei sedikit mengangkat beberapa lembar kertas dan memperlihatkannya dihadapan Riku. “Anggaran biaya?” ujar Riku saat dia mengenali judul laporan tersebut bertuliskan ‘Anggaran Biaya’.

 

Kaisei kembali menarik lembar kertas itu dan sedikit melemparnya kembali keatas meja. Kaisei menatap nanar pada beberapa lembar kertas dihadapannya, duduknya dibuat merosot pada sandaran dan perlahan badannya lebih turun dari posisi awalnya.

 

“Sulit sekali?” Riku mendekati Kaisei dan meraih lembar kertas lain yang sudah terisi sebagian dengan perkiraan pengeluaran biaya.

“Tidak juga si…tapi banyak…”

Kaisei mengambil handuk basah yang sedang dia rendam dan memerasnya untuk diletakkan di matanya. Setelah dirasa handuk cukup kering, kini kaisei meletakkannya di atas matanya sambil menegakkan kepalanya menatap langit ruangan.

 

Riku berlalu dan mendekati mesin penyeduh air panas. Setelah air memenuhi gelasnya, kini dia bersandar pada westafel dan sesekali menyeruput kopi menatap kaisei yang masih setia dengan kegiatannya.

 

“Aku heran, kamu sejak dulu sulit sekali ya menolak permintaan orang lain…kamu kan bisa saja menolak membantu Zin-san.” Ucap Riku.

 

Kaisei kembali membetulkan posisinya dan melepaskan handuk dari matanya. “Tadi Takuma yang meminta tolong, aku jadi tidak bisa menolak.”

Riku kembali menyeruput kopinya dan mengangguk pelan menanggapi ucapan Kaisei.

“Kaisei baik sekali ya.”

 

Kaisei tersenyum dan mengangkat tangannya sambil memperlihatkan dua jarinya yang membentuk ‘peace’. “yoshh! Mari semangat melanjutkan pekerjaan ini.”

“Yosh! Aku salut dengan otak pintar Matematikamu itu.” Riku terkekeh pelan dan kembali menyeruput kopinya.

“Aku akan melakukan yang terbaik.” Ucap Kaisei penuh dengan keyakinan

 

Pandangan Kaisei melayang pada kopi di genggaman Riku. Kopi itu sejak tadi sudah mengganggu aroma penciumannya.

“Riku-san! Itu Capucino atau latte?” Ucap Kaisei sambil menunjuk gelas pada genggaman Riku.

“Latte.”

 

Kaisei mendekati Riku dan mendongakkan kepalanya menatap permukaan air dalam gelas Riku. “Aku juga mau…” Kaisei tersenyum dan melirik berkali kali pada gelas yang Riku genggam ditangan kanannya.

 

Kaisei yang sangat dekat dengan Riku, membuat Riku gelagapan dibuatnya. Perlahan Riku mendongakkan kepalanya dan menatap Kaisei pada mata yang sedang tersenyum itu.

 

Dengan cepat, Riku memegang pipi Kaisei dan mengelus kedua mata Kaisei yang sedang tersenyum itu. Raut wajah tanpa penolakan menghiasi wajah Kaisei terhadap rabaan tangan Riku pada wajahnya.

Perlahan Kaisei mendekati wajah Riku dan menghapus jarak diantara mereka dengan bibir yang saling terpaut. Tangan Riku yang sedang tidak menggenggam gelas meraba tengkuk kaisei dan menariknya untuk lebih memperdalam ciumannya. Ciuman semakin dalam dan membuatnya mulai menjambak rambut Kaisei yang panjang.

 

Sungguh diluar dugaan…. Karena semua itu hanyalah…

 

 

“Riku-san…”

 

“Riku-san!”

Sebuah panggilan menyadarkan Riku yang sedang berkhayal. “EH?!”

 

Kaisei masih berdiri dihadapan Riku namun matanya menatap bingung Riku dihadapannya. “Riku-san Baik-baik saja?” Tanya Kaisei. Sejak tadi Riku menghalangi mesin pemanas air, sehingga kaisei yang telah mengambil gelas kesulitan mengambil air panas untuk dia menyeduh kopi.

 

Wajah Riku perlahan berubah warna menjadi merah padam. Apa yang baru saja dia pikirkan?!.

 

Dengan cepat, Riku menyingkirkan badannya dan bergegas membasuh wajahnya di westafel.

“Ada apa denganmu Riku?” Batin Riku mengutuk khayalannya.

Jadi semua yang tadi dia lakukan dengan kaisei hanya khayalan?

 

Kini Kaisei sudah kembali di bangkunya dan kembali berkutat dengan beberapa lembar penuh angka diatas mejanya. Lagi-lagi Riku-san mengutuk kebodohannya.

 

“Riku-san?” terdengar sebuah suara di balik tembok yang menyadarkan Riku.

“Shogo.”

“Aku menyusul karena kamu tidak langsung kembali.” Ucap Shogo.

 

Shogo menatap Kaisei yang sedang sibuk dengan kertas dan Riku bergantian. Wajah Riku terkejut namun wajah Kaisei tidak menunjukkan gelagat aneh seperti yang Riku lakukan.

 

“Ayo kembali!” seru Riku yang segera mencuci gelasnya dan kembali meletakkannya di rak.

“Kaisei! aku kembali. Semangat menyelesaikannya…”

Riku malu mengakuinya, khayalannya membuatnya jadi canggung.

“hmm..Jaa-nee..”

 

Shogo sejak tadi hanya mengamati gelagat keduanya. Kini Riku telah lebih dahulu berlalu meninggalkan Shogo.

 

“Ada apa dengan mereka berdua? Eh tidak…lebih tepatnya hanya Riku-san terhadap Kaisei…” batin Shogo

 


 

“Hoammmm!” Riku menguap dan merenggangkan tubuh ketika melangkah keluar gedung agensi bersama Shogo.

“Mau makan ramen?” tanya Riku yang melirik Shogo sekilas dibelakangnya.

“Hm…” hanya respon pendek yang Shogo berikan terhadap pertanyaan Riku.

 

Sejak tadi Shogo memang tidak banyak bicara, mungkinkah banyak yang dia pikirkan?.

 

Riku menghentikan langkahnya dan menengok kearah Shogo yang sejak tadi menatap aspal. Ada apa dengannya?

“Kamu baik-baik saja Shogo?”

“Hmm…”

Lihat! Pasti ada sesuatu dengan Shogo. Buktinya ketika Riku menghentikan langkahnya tetapi Shogo terus berjalan meninggalkannya.

 

“Hey Shogo!” seru Riku yang membuat Shogo tersadar dengan lamunannya. Shogo berbalik dan menatap Riku yang sudah dibelakangnya.

“Katakan apa yang terjadi denganmu?” tanya Riku yang mendekati Shogo.

“Tidak ada..” kini Shogo terus berjalan dan meninggalkan Riku yang melihatnya bingung.

 

“APA KARENA SALAHKU?!” seru Riku yang lagi-lagi menghentikan langkah Shogo. Riku berlari dan menyusul Shogo.

Riku menatap Shogo dan merangkul bahunya cepat. Tapi semua itu di tolak Shogo dan membuat Riku terkejut.

 

Ternyata benar Shogo marah dengannya?

 

“Riku-san…aku ingin sendiri..” ucap Shogo yang terlihat jengah menatap Riku.

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa…aku hanya perlu merenungi pikiranku...”

“Aku tau pikiranmu selalu rumit ya Shogo…aku jadi teringat dengan Kaisei yang kesulitan dengan laporan hari ini..” wajah Riku kembali memerah ketika mengingat khayalannya kembali.

Inilah yang Shogo maksud…kenapa wajah Riku bersemu ketika membahas kaisei, namun tidak pernah bersemu ketika dengannya?.

 

“Riku-san wajahmu memerah….apa kamu menyukai kaisei?”

Dengan cepat riku mengusap wajahnya dan memilih untuk tertawa kecil dengan pertanyaan Shogo. Belum sempat Riku menjawab kini Shogo kembali memotong percakapan mereka.

“Tentu aja Riku-san menyukai Kaisei…lihatlah! Banyak sekali kelebihan Kaisei dari pada aku..”

 

Riku terlonjak kaget dengan ucapan Shogo tentang dirinya sendiri. Apa yang membuat Shogo membandingkan dirinya dengan Kaisei?.

Shogo menatap Riku sekilas dan berbalik kembali. Riku menahan tangan Shogo dan memaksanya berhadapan.

“Hahh…Aku cukup heran…ada apa denganmu Shogo?”

“Bukankah seharusnya aku yang bertanya? Ada apa denganmu Riku-san? Kamu bersemu merah hari ini karena Kaisei!”                                                                                                                                                                                                 

 

Riku lagi-lagi mengusap wajahnya kasar dan memijat pelipisnya pelan. Dia harus akui kepekaan Shogo sangat tinggi dengan orang terdekatnya ya..

 

“Jika aku jelaskan, mungkin saja kamu akan tertawa Shogo…”

“Tapi jika kamu tidak menjelaskannya, aku terus menerus melihatmu kesal Riku-san…”

 

“Hahhhh..” Riku membuang nafasnya kasar.

“Janji tidak tertawa?”

“Tentu.”

 

Riku menutup matanya dan mengatakan intinya secara cepat. “Entah mengapa…hari ini tiba-tiba aku berkhayal berciuman dengan Kaisei…kamu tau…itu khayalan yang terasa sangat nyata sekali.”

 

Riku tidak berani menatap Shogo. Jadi dia buru-buru berbalik dan bergegas meninggalkan Shogo.

“Hey Riku-san!” seruan Shogo membuat Riku menghentikan langkahnya.

“Kenapa meninggalkanku? Bukankah aku sudah janji tidak akan tertawa?” Ucap Shogo yang kembali mendekati Riku dengan wajah serius.

 

Kini keduanya berhadapan dan saling menatap satu sama lain.

Rahang Shogo mengeras dan kepalan tangannya mengencang. Apakah Shogo marah?.

 

Riku menatap Shogo was-was dan memilih untuk tetap menunggu orang dihadapannya itu buka suara.

“Ekhem…” Shogo berdeham canggung dan kini memilih menatap objek lain selain Riku didepannya.

 

“Riku-san…” Shogo memberi jeda dan memilih menghembuskan nafas sebelum melanjutkan ucapannya.

“Jika kamu sebelumnya menganggapku sebagai temanmu. Bagaimana jika mulai sekarang kamu mulai menganggapku lebih dari teman dan hanya berkhayal tentang aku?”

 

Riku menatap Shogo dengan sebuah alis yang terangkat. Baru saja Riku akan membuka suaranya, namun Shogo lebih dulu mendahuluinya.

“Aku sangat menyukaimu! Jadi biarlah hanya aku yang ada dipikiranmu.”

Notes:

wkwkwkwkw
Cerita ini kolaborasi dengan ide jee si user @kazuhokuGF...Penulis jadi ditantang untuk membuat cerita dengan couple Kairiku....tapi karena spesial ultah Riku, mari buat semua cerita untuk Riku wkwkwkw

Ayo nantikan cerita berikutnya

Terimakasih telah mampir (-3-)/