Actions

Work Header

kutukan pemburu iblis.

Summary:

oh, sanemi takkan siap; lepaskan giyuu.

Notes:

ah, well; aku baru nyoba-nyoba ao3 akhir-akhir ini. this is a repost from my works on twitter! hope you like it <3

Work Text:

 

"maafin aku, nemi," suara bariton itu berkata lemah—tangan dinginnya menggenggam erat milik sanemi. ah, waktu berjalan makin cepat rasanya; atau sanemi yang tak siap?

sanemi tak bisa katakan apapun—lidahnya kelu, melihat senyum lemah giyuu. senyum yang mencoba menenangkannya, gagal sebab sanemi menangis tersedu. melihat wajah sang terkasih makin pucat—kutukan mereka berdua makin dekat, namun giyuu lahir lebih dulu.

tuhan—sanemi tak bisa lakukan ini, lagi. sanemi tak bisa rasakan lagi, kehilangan yang disayanginya—tanpa bisa membantu mereka menghindarinya. oh, sanemi akan menyesal akan banyak hal setelah giyuu pergi; sanemi yakin.

ibunya, adik-adiknya; yang bahkan sanemi tak ingat lagi suara mereka—rekan-rekannya, genya. sanemi kehilangan mereka semua, hanya dua rekannya yang masih berdiri bersamanya di dunia. itupun, akan berkurang lagi.

giyuu hampir mencapai usianya yang ke-dua puluh lima, yang berarti tubuhnya makin lemah—giyuu akan mati sebab tubuhnya tak kuat dengan efek kebangkitan tanda pemburu iblis itu. sanemi juga akan mati—berselang beberapa bulan setelah giyuu berpulang. tapi, tapi—yang sanemi punya sekarang hanya 'lah giyuu; dan sanemi akan kehilangan giyuu juga.

sanemi tak mau jatuh dalam gelungan alkohol lagi—pelukan beracun dimana giyuu yang menariknya keluar, membawanya ke arah kewarasan. jika tak ada giyuu, kemana dia akan melepas penat? kemana dia akan mencari hangat—setelah dihantui genya di mimpi-mimpinya? kemana dia akan berjalan, tanpa giyuu disampingnya?

sungguh, sanemi ingin sesali keputusannya untuk membiarkan hatinya mencari labuhan baru. kirimkan bahteranya untuk pergi ke pemberhentian baru—dengan optimis hatinya berkata, semoga ini yang terakhir dia mencari tambatan hati.

dan saat itu—sanemi menemukan dirinya jatuh hati pada sang gugur; giyuu tomioka yang kehilangan satu tangannya, giyuu tomioka yang pernah dibencinya. dengan rasa itu, mungkin giyuu yang terlalu baik; membiarkannya mengambil hati si surai gagak.

dan bahtera sanemi sampai ke labuhan milik giyuu, mengambang nyaman di hangatnya cinta—lupakan ombak dan badai yang pernah diterjangnya.

sanemi tak pernah duga, bahwa labuhan terakhirnya itu akan jatuh dengan sendirinya. ombak di lautan mereka terlalu kuat; buat labuhan itu jatuh sedikit demi sedikit. sanemi bersumpah—jika ini bukanlah yang terakhir, sanemi tak mau cari yang lain.

air matanya berjatuhan, membasahi kimono giyuu yang terlalu besar—sanemi ingat ketika pertama kali membelikannya bagi si manis, itu ukuran yang pas. mengapa sekarang terlihat begitu besar; atau giyuu yang makin mengurus? rasanya seperti melihat si pangeran pemenang hatinya melebur bagai debu—di hadapannya sendiri, dan sanemi tak bisa cegah semua itu.

sanemi tak terpikirkan; bahwa dirinya akan bernasib sama beberapa bulan lagi.

"giyuu, jangan, jangan—" dan tangan si pensiunan pilar air yang tersisa mendarat di pipinya—yang penuh bekas luka, mengusapnya dengan lembut.

rasanya dingin.

sanemi ingat, giyuu sering lakukan ini padanya setiap pagi—namun rasanya hangat; bukan dingin. sanemi makin terisak, batinnya tersiksa dengan fakta bahwa giyuu akan segera pergi. di pelukannya sendiri. bahkan dalam jarak sedekat itu, sanemi tak bisa cegah apapun yang ambil giyuu dari dunianya.

"jangan nangis.. nemi," itu membuat sanemi bereaksi sebaliknya—napasnya makin tak teratur, isakannya makin keras. bahkan angin tak bisa sunyikan isaknya, bahkan angin menyerah membawanya.

tangan sanemi menggenggam lengan yang terasa lebih kurus dari yang diingatnya—otot hasil latihan mati-matian jaman iblis masih jaya tak terlihat lagi. giyuu terlihat lemah, dan mudah dihancurkan.

sanemi mencoba selembut mungkin ketika mengeratkan genggamannya di lengan itu—teringat bahwa giyuu paling suka di beri afeksi yang lembut nan halus. walau itu seperti hari terakhir giyuu hidup—namun sanemi takkan berhenti prioritaskan kebahagiaan giyuu; terlebih senyum itu.

senyum lemah, namun lembut menghiasi wajah giyuu—sanemi tak kuasa menatap senyum itu; tidak ketika giyuu hancur sedikit demi sedikit.

"maaf, nemi.. aku bakal nunggu kamu disana 'ya?" dan sanemi menangis meraung-raung. tubuh giyuu dieratkannya dalam pelukan yang penuh dengan rasa—takut, tak mau lekas lepas. giyuu memeluknya; sama rasa dengan sanemi; hanya lebih lemah.

sanemi bisa rasakan napas giyuu yang makin pelan terdengar—wajahnya yang terpusat di dada giyuu tak dengar detak jantung lagi.

sudah waktunya; sanemi tak mau lepaskan tubuh giyuu begitu saja.

dipeluknya tubuh dingin itu, walau sanemi tau itu takkan membuat giyuu memeluknya balik—sebab giyuu sudah tak ada.

giyuu pergi, dengan senyum—di peluknya.