Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-09-02
Words:
1,101
Chapters:
1/1
Comments:
8
Kudos:
7
Hits:
85

REPLAY

Summary:

“Jika Riku-san merasa kesepian dan merasa dunia tidak berpihak denganmu…Percayalah, aku akan selalu disampingmu…”

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Riku meringkuk dalam diam pada pojok kamarnya. Wajahnya sejak tadi tenggelam dalam kedua lututnya dan juga tidak berniat berpindah sejak 5 jam yang lalu.

Kamarnya dibiarkan tanpa penerangan. Hanya cahaya yang berasal dari ruang tamu muncul dari sela Pintu yang sejak tadi dibiarkan terbuka oleh sang pemilik ruangan.

 

Dengan setelan jas hitam dan kemeja putihnya, perlahan Riku mulai menegakkan kepala dan memilih menyandarkan kepalanya pada dinding dibelakang tubuhnya. Badannya sakit, lehernya pegal dan juga kakinya merasa kram. Tapi, dia tidak mampu berbaring dan hanya terus memilih duduk dalam diam pada posisinya.

Wajah yang sejak tadi tenggelam dalam kedua lututnya, kini menampilkan penampilan sembab dan merah. Entah sudah berapa lama dia menangis, tapi Riku yakin kini air matanya telah kering dan hanya menyisakan bekas air mata pada kedua pipinya.

 


Perlahan pintu yang semula terbuka sedikit, kini mulai terbuka lebar dengan sosok mungil yang ikut masuk dalam ruangan yang gelap ini.


“Riku-san…”


Intensitas cahaya yang tiba-tiba masuk menerpa pandangan Riku, membuat dirinya kesulitan melihat siapakah yang masuk ke dalam kamarnya.


Perawakan kecil dengan wajah berseri dari sosok di hadapannya sukses membuat mata Riku melebar. Dia terkejut bukan main menatap seseorang dihadapannya.

Tentu dia tau betul siapa dihadapannya ini. Dengan melihat siluet dan mendengar suaranya, bukankah hanya sosok ini yang selalu dia butuhkan ketika dia rapuh dan tidak bisa berpijak pada kakinya sendiri?.

“Sho-go..”
Suaranya tercekat dan Riku masih dalam rasa terkejutnya. Bagaimana pria dihadapannya dapat menemukannya?

 

Shogo perlahan duduk bersila diadapan Riku dan menatap lurus pada mata pria yang sembab itu. “Bukankah aku selalu mengatakan tolong andalkan aku?”

Dengan balutan  kemeja putih dengan celana putih kini Shogo meraih wajah Riku dan mengusap pelan pada pipi yang merah dengan bekas air mata disana.


“Dingin…” cicit Riku.
Menanggapi cicit an Riku kini Shogo tersenyum dan kembali menarik tangannya kembali.


“Apakah Riku-san akan terus menangis sendiri seperti ini?”
Riku menggeleng namun dia yakin bahwa selanjutnya dia akan terus menangis dalam diam seperti hari ini.


“Riku-san berbohong..” lirih Shogo.

Riku tertegun dan menatap pria dihadapannya kembali dengan air mata.
“Bodoh…untuk apa aku berbohong…”

Shogo tersenyum dan sedikit tertawa kecil menanggapi ucapan Riku.
“Jadi kamu serius menggeleng untuk tidak menangis sendirian lagi Riku-san?”

 

Riku terdiam sejenak, namun dia tidak bisa memberikan tanggapan yang sesuai dengan dirinya. Daripada menanggapi obrolan pria dihadapannya. Riku memilih diam dan terus memandang wajah Shogo dihadapannya.

“Aku rindu kamu…”
“Aku juga rindu padamu Riku-san…”
“Apa disana menyenangkan?”
“Nanti juga kamu merasakannya….” Tawa renyah terdengar dari Shogo namun itu membuat Riku merasa lebih baik dari sebelumnya. Mendengar tawa itu, rasanya tubuh riku menjadi lebih ringan.

 

badan Riku yang semula kaku perlahan dapat menjangkau Shogo ketika dia melihat beberapa helai rambut yang sedikit beranatakan pada dahi Shogo. Riku perlahan meraih rambut itu dan menyingkapnya agar terlihat lebih rapih.

Melihat helai rambut yang sudah sedikit tertata pada dahi Shogo, membuat Riku perlahan kembali menarik tangannya.

Siapa sangka ternyata Shogo lah yang kembali menahan tangan riku dan cengkramannya di pergelangan tangan Riku.
“Apa kamu sesedih itu Riku-san ditinggal aku?”

Riku menghela nafas, namun dia mengangguk lemah. “Kamu bertanya sesuatu hal yang semakin membuatku sedih.…”
Shogo mengendurkan genggamannya pada tangan Riku dan membuat tangan Riku terjatuh.

 

“Maaf, sepertinya aku membuatmu tidak bisa kembali mengandalkan aku ya?...” lirih Shogo.
“Ya…ini juga salahku..”
Dahi Shogo mengernyit dan alisnya bertaut. “Apa maksudmu ini salahmu?”

 

Riku beralih menatap langit kamarnya dan tersenyum getir. “Seandainya aku lebih memperhatikan perubahanmu…mungkin aku tidak akan kehilanganmu…”

Shogo tertunduk dan memilih memainkan ujung bajunya. Shogo tidak bisa mengelak, dia memang sempat kesal dengan Riku yang terus menerus sibuk dengan urusan pribadinya. Bagaimana bisa Riku mengabaikan Shogo untuk meluangkan waktu dengannya, ketika Shogo saja dapat memberikan dirinya untuk diandalkan oleh Riku?!.

“Terimakasih telah menyadarinya…” ucap Shogo.

Riku melihat perubahan raut wajah Shogo dan menatap mata yang tampak murung itu dalam diam. 


“Apa kamu kesini untuk menjemputku?” ucap Riku.
“Jangan bodoh, belum ada tempat untukmu disana…”

Riku mengusap wajahnya frustasi, dia tertawa keras dan membuat Shogo dihadapannya tertegun dengan perubahan emosi orang dihadapannya.
“HAHAHAHAHA…jadi Shogo hanya mengunjungiku untuk terakhir kalinya?” kini Riku menyeka air matanya setelah tertawa, tapi anehnya air mata itu terus turun dan sedikit membuat dirinya mengeluarkan sesegukan kecil.

 

Tidak…Shogo tidak suka Riku yang terlihat mencoba membohongi dirinya.
Shogo tidak suka melihat senyum yang sebenarnya menyimpan kesedihan itu.
Shogo tidak suka Riku ketika dia tidak bisa mengeluarkan perasaan yang sesuai dengan kondisinya.
Dia tidak suka…Riku terluka…

 

“Riku-san…jangan seperti ini…”
“Apa maksudmu seperti ini?! tentu saja aku pasti akan seperti ini karenamu..”

Shogo terdiam, Riku benar…tentu saja semua ini karenanya. Oleh karena itu dia diberikan sekali lagi kesempatan untuk datang kembali kepada Riku.

 

“Tolong…kuatlah Riku-san…”
Ucapan Shogo semakin memberikan rasa sesak di dada Riku. Siapa yang menyangka…bahwa mungkin saja ini ucapan dari Shogo untuk terakhir kalinya kepadanya.

“Aku tidak bisa Shogo…”
“Tidak…kamu bisa. Ayo temukan kebahagiaan lain..”
“Apa kamu bercanda?”

Riku sukses mematung dengan tatapan Shogo yang terlihat serius menatapnya. Shogo kerap bercanda dan tersenyum, tapi shogo dengan sisi kesungguhannya lah yang sangat Riku sukai dari pria Bernama lengkap Iwaya Shogo.

 

“Tolong Bahagia…Riku-san…”
Perlahan Shogo memudar dan berkerlip. Waktunya sudah hampir habis ternyata.

“Shogo…”

“Tidak! Riku-san tolong dengarkan aku untuk terakhir kalinya.”

Riku terpaku dengan perubahan wujud Shogo yang semakin lama semakin hilang intensitasnya. Tapi dia berusaha memfokuskan diri dengan arahan Shogo yang cukup menyentaknya tadi.


“Jika Riku-san merasa kesepian dan merasa dunia tidak berpihak denganmu…percayalah, aku akan selalu disampingmu…”
“Bagaimana caranya aku mengetahuinya?”
“kamu berbohong jika tidak mengetahuinya…kita terhubung satu sama lain…”
“Apa aku bisa mempercayainya?”
“Tentu…karena aku juga akan selalu percaya kamu Riku-san..”


.

.

.

Riku mengerjapkan matanya berkali-kali. Cahaya terang terus memaksa masuk dalam matanya dan membuat dirinya harus membiasakan diri dengan pandangannya.

“RIKU?!…kamu sudah sadar?”
“Apa yang terjadi?”
“Kamu pingsan didalam kamarmu.”

Zin mengusap wajahnya kasar dan memeluk rekannya dalam pelukan tiba-tiba.
“Hey bodoh!…apa maksudmu pingsan dalam kamar yang gelap seperti tadi? Kamu mau mati juga?” Zin terlihat marah dengan wajah yang memerah.
“Terimakasih telah mengkhawatirkan aku…”
Zin terisak dan menangis dalam pelukan Riku. “Bodoh! Jangan lakukan seperti itu lagi! Shogo juga tidak akan mau kamu seperti itu…”

Riku melepaskan pelukannya dengan Zin dan tertawa pelan menanggapi ucapan Zin.


“Shogo sudah pergi..” lirih Riku yang menatap sekaligus mencengkram selimutnya.
“Aku tau ini sangat tiba-tiba…bagaimana dia bisa menyembunyikan sakitnya selama itu…” ucap Zin.
“Shogo bukanlah orang yang ingin merepotkan orang lain…bahkan aku sampai lengah dan suka melupakan dirinya dengan kesibukkanku pribadi…”
“Ini bukan salahmu Riku…”
“Aku tau…Shogo yang memberitahu...”
“Shogo? Apa dia menemuimu?”
“Ya…dia mengatakan aku harus Bahagia…”
“Jadi…Kamu akan kembali menyanyi dan menari lagi?”
“Tentu saja…Shogo percaya aku akan kembali, jadi aku harus mempercayainya…”

Notes:

someone please tell Rampage come to Indonesia \(T..T)/