Work Text:
1.
pertama kalinya donghyuck tiba tanpa diundang, kaosnya berlumuran darah.
jaemin terpaku di ambang pintu, separuh karena kepalanya masih berat digelayuti kantuk separuhnya lagi karena punya donghyuck berdiri di teras rumahnya pukul dua pagi tidak terasa seperti realita. apa jaemin masih bermimpi?
“jaeman-ah,” panggil sosok di hadapannya, serak. “kamu gak persilakan aku masuk?”
jaemin tersentak dari posisi setengah tidurnya. dia mengernyitkan alis setelah sadar kalau, ya, donghyuck di depannya nyata, dan dia sukses mengganggu jam tidur jaemin yang baru saja mulai teratur.
“penampakanmu awut-awutan banget.” komentar jaemin, melirik kaos donghyuck yang ujungnya keluar dari jeans; rambutnya yang mencuat kesana-kemari; kantung matanya.
sebersit khawatir yang mampir di kepala jaemin membuat dia mundur sedikit, berikan ruang untuk donghyuck bisa lewat.
donghyuck melangkah masuk sebelum jaemin selesai buka pintu sepenuhnya. “trims,”
bunyi ‘klik’ lirih terdengar saat jaemin menutup pintu di belakang mereka, matanya mengikuti punggung donghyuck yang mengarah ke ruang tengah.
“aslinya aku pakai tema berantakan-tapi-modis, tapi bisa berharap apa dari kamu yang gak melek fashion.” gurauan donghyuck tidak mendarat seperti biasanya karena dia masih bicara dengan suara serak.
jaemin tidak menjawab, masih mencoba memproses kehadiran donghyuck di rumahnya yang walaupun bukan pertama kali, tetap saja terasa… luar biasa- no, di luar kebiasaan.
beralih dari pencahayaan redup lampu teras dan melangkah ke ruang tengah yang benderang, jaemin baru bisa lihat kalau corak gelap di leher kaos donghyuck dan cipratan di sekitarnya bukan motif pakaian. punggung jaemin dingin karena merinding.
“h- haechan-ah?” panggilnya. kawannya itu tidak terlihat terganggu bajunya berhiaskan darah kering. dia sibuk berjongkok di lantai, membuka-tutup kabinet di bawah televisi tempat jaemin menyimpan kotak P3K dan obat-obatan.
“hm?” donghyuck menggumam setengah hati sebagai jawaban, masih fokus menarik keluar kotak obat jaemin.
“darahmu?”
“huh?” donghyuck menoleh, bengong untuk sepersekian detik sebelum menunduk ke leher dan dada kaosnya. “oooh, iya.”
seperti diberi aba-aba, satu bulatan merah baru terbentuk di baju donghyuck saat dia menunduk, permukaan tetesannya memantulkan cahaya lampu sebelum terserap kain. jaemin hampir bisa merasakan jantungnya menendang tulang rusuknya dari dalam.
“haechan-ah, sini,” panggilnya tergesa, meraih lengan atas donghyuck untuk digandeng ke sofa. mendudukkan temannya pelan-pelan, tangannya yang lain mencabut lembaran tisu dari kotak di meja ruang tengah tanpa berpikir, menahannya di bawah hidung donghyuck dan menyaksikan kertas putih itu berubah merah.
“ahhh, anjing.” umpat haechan sambil mencoba merebut tisunya dari tangan jaemin. jemari keduanya bersentuhan dan jaemin punya urgensi untuk menciumi tiap buku-buku jari donghyuck dan bilang kalau dia tidak akan biarkan apapun buat donghyuck sakit lagi. saat jaemin mendongak dari tangan donghyuck, mata keduanya bertemu. “maaf, jaemin-ah, kukira mimisannya gak bakal balik lagi.”
“tunggu disini sebentar,” balas jaemin, telapaknya mendorong punggung donghyuck hati-hati, menuntun cowok itu untuk sedikit condong ke depan. “pencet hidungmu, aku gak bakal lama.”
jaemin berjalan ke dapur secepat yang dia bisa dengan sandal rumahnya yang kebesaran. meraih dua air mineral gelasan yang sengaja dia bekukan di pendingin dan membuntelnya dengan handuk. tangannya bekerja seperti autopilot sementara otaknya sibuk mengingat-ingat jadwal apa yang donghyuck punya malam ini. tidak ada jadwal manggung, itu jaemin yakin. bukan jadwal dengan dream juga, jadi sesuatu sehubungan dengan comeback 127? latihan? konten youtube? live broadcast?
“haechan-ah, dingin,” beritahu jaemin dari balik sofa sebelum menempelkan buntalan es ke tengkuk donghyuck.
“ungg…,” donghyuck mengeluarkan gumaman seperti protes saat kulitnya bersentuhan dengan handuk es, tapi dia tidak bergerak menjauh. jaemin menahan kompresnya tetap di tempat dengan menangkupkan tangannya ke buntalan, meringis kedinginan. ibu jari jaemin disandarkan di leher donghyuck sebagai penyangga. tanpa berpikir, jaemin mengelus kulit yang dia sentuh, menggambar lingkaran kasat mata dengan ujung jempol.
mereka bertahan di posisi itu bermenit-menit lamanya. donghyuck duduk tegak dan tegang di sofa, jaemin berdiri di belakangnya. jaemin melirik ke bawah, ke pucuk kepala donghyuck yang dihiasi rambut ikal natural. kalau jaemin menunduk sedikit, dia bisa kecup ubun-ubun donghyuck tanpa banyak tenaga. kalau jaemin berani sedikit-
“sudah berhenti.” ujar donghyuck lirih. “cuma kecapekan.” tambahnya singkat seolah mimisan tengah malam bukan hal besar.
“apa kamu mau lanjut dikompres?” respon jaemin, ibu jarinya berhenti mengelus.
“biar kupegang sendiri.” donghyuck meraih ke belakang, lagi-lagi merebut isi tangan jaemin perlahan.
“mau minum?” tawar jaemin.
donghyuck tidak langsung menjawab. alih-alih dia mendongak, tengkuknya bertengger di sandaran sofa, tepat menatap wajah jaemin yang masih menunduk. ada bekas darah di atas bibir donghyuck yang jaemin hapus pelan-pelan dengan jempol segera setelah dia lihat nodanya.
“haaa…,” donghyuck mengembuskan napas keras-keras, terlihat paling rileks sejak pertama dia muncul di balik pintu. “untung aku pulang kesini.” gumam donghyuck lirih seperti dia bicara ke diri sendiri.
jaemin membiarkan telapaknya singgah di dagu donghyuck untuk menahannya tetap mendongak; tetap menatap jaemin, hati-hati agar jempol berdarahnya tidak menggesek pipi. donghyuck tersenyum lamat-lamat, jaemin merasakan senyum itu terbentuk lewat jarinya sebelum terlihat mata.
ada sesuatu tentang donghyuck dengan rambut berantakan dan kantung mata yang sangat kentara; menyandarkan pipinya barang sedikit ke telapak jaemin; tersenyum cerah dengan bekas darah di hidung, yang membuat jaemin ingin berteriak kencang-kencang tapi juga ingin memeluknya erat-erat sampai donghyuck tidak bisa bicara. dia tidak lakukan keduanya.
“mau minum?” tawar jaemin lagi.
“mau baju ganti.” jawab donghyuck akhirnya, senyumnya masih belum hilang.
“oke. sebentar.” jaemin balik badan untuk ambilkan kaos. melangkah cepat-cepat ke kamar tidur.
kalau aku? pikirnya sambil membuka lemari, satu-dua-tiga-lima, ada lima pasang baju donghyuck tertinggal di rumahnya. apa kamu mau aku?
2.
jaemin mentransfer berat badannya bolak-balik dari kaki kanan ke kaki kiri—kanan-kiri kanan-kiri—sambil menunggu aba-aba boleh pulang. ujung sepatu kulitnya terasa menjepit jari. mungkin lain kali dia bisa minta sneakers saja ke stylist Dream. yang ukurannya sesuai.
di sekelilingnya, anggota yang lain terpencar-pencar, sedang cari cara masing-masing untuk mendistraksi diri dari lelah.
sebentar lagi, pikir jaemin. jadwal terakhir minggu ini.
selain video musik resmi, syuting performance video jadi salah satu jadwal paling berat secara fisik. mengulang rutin tarian yang sama berjam-jam lamanya tidak terdengar jauh beda dengan latihan biasa, tapi jika ditambah dengan keharusan untuk selalu pasang wajah siap kamera dan sepatu kulit kekecilan, well… neraka di bumi, mirip-mirip.
“jaemin! semangat!” mark menepuk bahunya keras dari belakang, terlalu sumringah untuk jam kelima syuting. “besok libur!”
jaemin memutar mata dan menggigit pergelangan tangan mark sebagai balasan. “hyung, jawab aku serius. sekarang ini hyung memang masih berenergi atau malah sudah masuk fase gila?”
mark terbahak singkat. the dreamies are prone to exhaustion-induced insanity. “aku tidur di pesawat, man. i feel great right now!”
satu tengokan ke sekeliling ruangan dan mark seharusnya sadar tidak ada satu orang pun yang punya perasaan yang sama.
“haechan tuh yang gak tidur. bukannya istirahat, dia malah main game.”
ah, donghyuck. dia dan mark baru mendarat di korea tadi pagi, setelah tiga hari mengisi acara festival di eropa.
yang bersangkutan sedang duduk di lantai bersandar dinding set. lututnya ditekuk di depan dada. punggungnya membungkuk di pose yang jaemin sudah sering omeli untuk tidak dilakukan, tapi tentu saja tidak didengar.
“haechan.” panggilnya, menyodorkan botol air mineral.
“trims,” donghyuck meraih botolnya, memutar tutupnya setengah hati, kemudian dikembalikan ke jaemin, minta dibukakan.
“ck,” decak jaemin sambil kembali menyodorkan botol yang sudah terbuka. “kamu ngapain meleyot disini? sebentar lagi pulang.”
“pfft, kamu mau kubawakan cermin? mukamu sama kusutnya, jaemin. jangan komentari aku.” kekeh donghyuck.
jaemin hanya tersenyum kecil, tahu persis bentuk wajahnya sendiri saat ini. dia berjongkok di depan donghyuck, menangkupkan kedua telapaknya pelan-pelan di tempurung lutut yang sedang duduk. mengelus lutut donghyuck yang terbungkus celana. donghyuck menghela napas yang terdengar seperti lega.
jaemin baru saja akan mengangkat tangan untuk menyapu keringat donghyuck dari dahi saat samar-samar bunyi tepuk tangan dan kru sahut-menyahut “kerja bagus!”; “selamat berakhir pekan!”; “siapa mau gabung makan malam?” pertanda aba-aba bubar yang jaemin tunggu sejak tadi sudah digaungkan.
ah, akhirnya. donghyuck sepertinya juga sadar karena dia mengembuskan napas keras-keras sambil menyeringai kecil.
“laparrrr,” sungut pemuda itu sambil menatap jaemin. “mau makan bareng?”
jaemin bangkit dari jongkok, bersamaan dengan lengan donghyuck yang mengayun ke atas minta ditarik. jaemin meraih tangan donghyuck tanpa berpikir.
“ayo coba tempat yang disebut chenle waktu itu.” ajak donghyuck lagi saat keduanya sudah sama-sama berdiri.
“ah,” jaemin terhenti, ragu-ragu. “aku… capek.”
yang jaemin mau saat ini adalah menyetir pulang, menghapus riasan, membuat makan malam sederhana lalu bebersih diri dan bergelung di bawah selimutnya yang baru dicuci. delapan jam dikelilingi banyak orang seharian ini sudah memenuhi kuota jaemin, dia tidak yakin punya cukup energi untuk berada di antara pengunjung restoran yang terkenal ramai.
“oh…,” donghyuck bergumam, kontemplatif. “kamu mau langsung pulang?”
jaemin mengangguk lemas dan pasti ada sesuatu di ekspresinya karena donghyuck hanya terkekeh ringan dan tidak lanjut memaksa.
“haechan!” chenle berjalan cepat-cepat ke arah keduanya. “mark, aku, renjun mau makan di resto yang kemarin aku bilang. ikut?”
jaemin melirik pintu keluar studio. jisung dan jeno sudah tidak terlihat. renjun bersandar di dekat pintu, melihat lurus ke arah mereka bertiga. mark di sampingnya menari kecil ke lagu di headphone , masih terlihat terlalu aktif untuk orang di situasinya.
“kalau hyung aku tahu gak bakal ikut,” tambah chenle lagi, mencibir main-main ke arah jaemin. kemudian ke haechan, seperti jaemin tidak ada disana: “aku sudah menyerah ajak jaemin main, capek ditolak terus.”
jaemin mengangkat dagu, menyetujui ucapan chenle. kemudian, sebagai permintaan maaf, dia mengelus rambut adiknya itu agak kasar.
“mmmm,” donghyuck menggumam panjang. jaemin tahu trik ini. biasa donghyuck pakai kalau dia pura-pura menimbang sesuatu padahal sudah punya jawaban di kepala. “lain kali,” tekannya, “aku yang traktir. hari ini aku skip dulu.”
“huh?” chenle menelengkan kepala, tidak menyangka tawarannya akan ditolak. “well, okay. langsung pulang?”
“mmm,” jaemin bisa lihat seringai yang donghyuck coba sembunyikan. sebelum sadar candaan apa lagi yang donghyuck akan lontarkan, bahu jaemin dirangkul oleh satu lengan hangat. kulit donghyuck yang tidak tertutupi baju lengan pendek bersentuhan langsung dengan tengkuk jaemin. semoga donghyuck tidak sadar jaemin bergidik merinding. “aku lagi ingin makan masakan jaemin.”
“oh, ok. kami duluan kalau begitu. bye!” chenle melambaikan tangan sambil jalan cepat ke renjun dan mark yang masih menunggu di dekat pintu.
donghyuck balas mengangkat tangannya yang tidak dipakai merangkul jaemin. seringainya terpampang jelas di wajah sekarang. donghyuck terlihat seperti orang di ambang kegilaan.
setelah kepala ketiga teman mereka hilang di balik pintu, jaemin dan donghyuck bertatap-tatapan dalam hening. donghyuck dengan senyum khasnya. jaemin dengan mata menyipit mencoba mencari tahu apa ada guyonan tersembunyi yang dia lewatkan.
saat sadar kalau donghyuck serius ingin pulang ke rumahnya, jaemin hanya bilang, “masak sendiri.” sambil bergegas menggapai pintu.
“hmm?” donghyuck membuntuti dari belakang, gayanya tengil dan jenaka. minta dicium, celetuk otak jaemin yang hilang filter karena lelah. “kalau kamu masakkan aku makan malam, kamu boleh tidur di kasur bareng aku, deh. gimana?”
jaemin menahan pintu agar donghyuck keluar lebih dulu. “itu kasurku, haechan-ah,”
“iya! yang aku bakal tiduri! sebuah kehormatan!” donghyuck bicara agak keras sekarang. jaemin menggeleng ringan. fase gila karena kecapekan.
as it turns out, malah donghyuck yang berakhir memasak makan malam mereka. jaemin keluar dari kamar mandi dengan rambut masih setengah basah, dan disodori pemandangan donghyuck menyusun meja makan.
“sungguh gak sopan,” gerutu donghyuck main-main. “mana ada tuan rumah yang biarkan tamunya masak makan malam sendiri untuk ditinggal mandi.”
jaemin mendecih. “bukan tamu kalau gak diundang.”
mendudukkan diri di kitchen island yang juga berperan sebagai meja makan, jaemin sadar kalau makanan yang donghyuck hidangkan sama persis dengan menu yang jaemin rencanakan akan masak sendiri. tanpa sadar gumaman gembira keluar dari jaemin.
“plis beli bahan lain selain dada ayam.” omel donghyuck dari seberang meja. wajahnya berbinar walaupun matanya masih berkantung.
riasan donghyuck sudah hilang dari wajah, sudah pasti hasil mencuri kapas dan pembersih dari kamar jaemin. bajunya sudah diganti dengan bawahan piyama jaemin dan kaos oblong miliknya sendiri yang dia titip cuci di rumah jaemin tapi tidak pernah diambil lagi. rambutnya masih kaku bekas riasan. sayang sekali, padahal jaemin suka rambut natural donghyuck yang melengkung di ujungnya, menggoda untuk dielus.
“apa yang harus kubeli?” tanya jaemin, sungguhan ingin tahu kalau ada sayuran yang sedang musim atau resep viral yang harus dicoba. donghyuck biasanya selalu tahu trend makanan.
“ramen.”
jaemin memutar mata. “tck, aku gak makan ramen.”
“tapi aku kan makan.”
“kenapa aku yang harus belikan kalau akhirnya kamu yang makan?” protes jaemin lagi, walaupun sudah mendaftar merk dan rasa apa saja yang ada di swalayan seberang kompleks.
“aaah~ jangan begitu, jaemin-ah. aku bakal tetap panggangkan kamu dada ayam, tapi jangan halangi cintaku untuk ramen.”
jaemin mendecak lagi, baru sadar saat menunduk kalau piringnya sudah penuh lauk. donghyuck mengoceh sambil memotongkan jaemin ayam, ternyata.
tanpa bisa dicegah, jaemin terkekeh sendiri. membayangkan dia mengunyah salad ayamnya sementara donghyuck sibuk menyeruput mi instan di seberang meja. air putih dinginnya vs soda kalengannya donghyuck. must be quite a ridiculous view.
“oke,” setuju jaemin.
“oke! lain kali aku kesini, dapurmu harus sudah punya rak khusus ramen! jin! neoguri! nongshim!” donghyuck menghitung dengan jari di depan muka jaemin.
“oke,” setuju jaemin lagi, senyumnya dia sembunyikan di antara kunyahan ayam panggang. “lain kali.”
3.
kali ini bukan jaemin yang menyetir. tinggal paling jauh dari pusat kota biasanya jadi alasan utama dia ditunjuk sebagai supir informal tiap Dream jalan bareng atau kumpul-kumpul. biar bisa sekalian jemput yang lain sambil berangkat, katanya. jaemin tidak punya masalah dengan itu, tapi sesekali bisa santai di kursi penumpang begini ternyata nyaman juga.
“mau mampir kemana, nih?” tawar renjun dari belakang kemudi.
“ohooo, mentang-mentang sudah hafal jalan.” goda donghyuck yang duduk di kursi depan. mereka baru pulang dari acara nobar dadakan di apartemen jisung. mark dijemput manajer untuk kembali ke studio, chenle menyetir pulang sendiri, dan renjun menawarkan untuk mengantar ketiga kawan sebayanya pulang.
“heh,” dengus renjun bangga, “berani taruhan aku dan chenle yang paling fasih jalanan seoul.”
“jeno, kita disindir!” donghyuck berseru dramatis, kedua telapaknya menangkup pipi, dia menoleh ke belakang dengan ekspresi kocak yang sukses membuat jeno dan jaemin di kursi belakang terbahak keras-keras. “ini diskriminasi terhadap kaum naik taksi!”
“makanya kamu cepat buat SIM,” omel renjun separuh serius, “berhenti repotin aku.”
“uh, halo? tuan hwang renjun? yang nawarin duluan buat nganterin kita-kita pulang kamu sendiri, ya.” donghyuck mencondongkan badan melewati batas tengah antar kursi. renjun meletakkan telapaknya tepat di muka donghyuck yang makin dekat dan mendorongnya kuat-kuat sampai dia jatuh terduduk di kursinya lagi. “lagipula, aku sadar aku gak terlalu butuh mobil sendiri. kalau kerja, ada manajer. kalau main, ada jaemin.”
“dasar gak tahu diri. berhenti repotin jaemin.”
“dih, orangnya saja gak protes! kan? jaemin-ah?” mata mereka bertubrukan di kaca spion dalam mobil. senyum di wajah donghyuck jenaka, tapi sisa wajahnya bilang kalau dia sungguhan ingin tahu jawaban jaemin.
“aku gak keberatan.” jaemin mengangkat bahu, pura-pura tidak pernah kegirangan tiap kali donghyuck menumpang mobilnya. “tapi kamu memang harus cepat buat SIM, haechan-ah. jaga-jaga.”
“bah! kukira kamu di pihakku!” tuding donghyuck. jempolnya dijungkirbalikkan, mencibir jaemin lewat kaca spion.
“aku gak sadar aku harus pilih kubu?”
“seenggaknya kalau ada haechan, jaemin gak bakal ngantuk di jalan,” celetuk jeno, kalem dibanding kehebohan renjun dan haechan di kursi depan.
“ya mana bisa ngantuk kalau di sebelahmu ada pembual seberisik ini.” sahut renjun tanpa jeda, selalu siap menyerang donghyuck kapan saja.
“hei!” donghyuck baru akan mulai protes saat dia sadar mobil renjun berhenti. “huh?”
jaemin, terlalu fokus dengan celotehan donghyuck, juga baru sadar mereka sudah tiba di tempat jeno.
“turun.” perintah renjun.
jeno turun dari mobil tanpa basa-basi.
“dingin banget.” komentar jaemin dari belakang.
renjun menoleh sambil tersenyum menahan malu. “niatku bercanda, mana tahu dia bakal turun sungguhan.”
jeno melambai dari luar mobil, senyum di matanya bilang dia tahu renjun bercanda tapi sengaja keluar cepat-cepat sebelum menyaksikan dia kelahi lagi dengan donghyuck. bertiga di dalam mobil balas melambai.
“mau kemana?” tawar renjun lagi agak galak setelah jeno menghilang di balik pintu masuk.
“wow, aku bakal kasih rating bintang satu setelah ini. supirnya galak! pilihan lagunya jelek! mobilnya bau kuburan!” donghyuck bergaya mengutak-atik ponsel.
“ingatkan aku buat buang dia di pinggir jalan, jaemin.” renjun berujar datar sambil membawa mobilnya keluar pagar.
“jangan di dekat lampu merah. nanti kita yang ditangkap polisi karena buang sampah sembarangan.” sahut jaemin.
“wooow,” donghyuck geleng-geleng kepala tapi tidak menyanggah lagi.
“serius, mau kemana?”.
“pulang!” seru donghyuck.
“mau pulang kemana kamu?” tanya renjun lagi sungguh-sungguh, sudah habis energi dan kemauan untuk saling cemooh dengan donghyuck.
jika ada sesuatu untuk dikomentari tentang kenapa renjun bertanya seolah-olah rumah donghyuck ada dua, jaemin harap donghyuck tidak bilang apa-apa.
“apartemenku, plis.”
oh.
well, bukankah ini hal yang normal? tentu saja donghyuck pulang ke apartemennya. jaemin diam saja, menelan kecewa tanpa suara, mencoba berdamai dengan fakta kalau ‘pulang’ berarti berpisah dengan donghyuck.
haruskah jaemin bilang dia mau mampir ke tempat donghyuck? kalau ditanya kenapa, haruskah dia bilang kalau dia cuma mau bersama donghyuck sedikit lebih lama?
“ada yang mau kuambil sebelum pulang ke tempat jaemin.”
oh.
“urrrggghh!” senyum jaemin terbentuk bahkan di sela-sela geraman jengkel renjun. “bolak-balik ini jadinya!”
“'gak keberatan'?” tanya donghyuck saat keduanya sudah di dapur jaemin, segar setelah mandi, kelaparan setelah seharian menghabiskan energi.
jaemin menggumam sebagai jawaban, kedua tangannya sibuk menuangkan kuah sup ke mangkuknya dan donghyuck. donghyuck sendiri bergabung dengannya di meja dapur sambil membawa dua mangkuk nasi di masing-masing telapak.
“gak keberatan?” tanyanya ulang, memarkir badannya tepat di sisi jaemin. dadanya menempel ke bahu kiri jaemin. seluruh lengan atas jaemin yang bertempelan dengan tubuh donghyuck terasa terbakar.
sengaja tidak menjawab sampai selesai dengan kegiatannya, jaemin akhirnya mendongak. panci kosong di tangan kanan, sendok sup di satunya. dia menelengkan kepala sedikit untuk menatap donghyuck. kalau ada satu hal dari fisik mereka yang jaemin suka, itu hampir tidak adanya selisih tinggi badannya dengan donghyuck. jaemin suka dia tidak harus mendongak atau menunduk terlalu ekstrim untuk bisa lihat donghyuck tepat di wajah. sudutnya pas, dia dapat view paling bagus, dan dia bisa memandang donghyuck lebih lama karena lehernya tidak capek.
cowok itu punya ekspresi yang sama seperti di mobil tadi sore. bibirnya sedetik jaraknya dari seringai tengil, tapi sisa wajah donghyuck mengharapkan jawaban asli.
“gak puas dengan gak keberatan?” tanya jaemin, nadanya dibuat seringan mungkin.
donghyuck menggeleng kuat-kuat. “gak puas hanya dengan toleransi.”
tahu donghyuck tidak akan berhenti mengejar sampai jaemin jawab sungguh-sungguh, dia menepis keinginan untuk lari, dan bilang jujur, “aku senang kamu sering temani aku menyetir.”
itu bukan bohongan. tapi itu juga bukan 'aku senang kamu pulang bersamaku ’ yang jaemin awalnya ingin katakan.
donghyuck terdiam sejenak. ujung bibirnya turun sepersekian derajat sebelum dia membenamkan wajahnya di ceruk leher jaemin.
“jaeminnn,” erangnya manja.
jaemin berdiri tegang di tempat. keinginan untuk melingkarkan lengan di badan donghyuck dia urungkan karena sendok sup.
“jaeminnn,” panggil donghyuck lagi, napasnya hangat di kulit leher jaemin. “kita ini sedang apa, sih?”
jaemin tidak merespon karena dia tidak tahu jawabannya.
4.
hal paling menggondokkan dari jatuh sakit di tengah-tengah jadwal padat—selain kepala yang berdenyut tanpa henti; badan bolak-balik antara kepanasan dan kedinginan; mood tidak karuan—adalah semua pergeseran dan realokasi agenda yang tak pelak menimbulkan pergeseran dan realokasi lebih banyak agenda lain. sejak Dream tinggal terpisah dan mulai dapat tawaran solo gig masing-masing, mengatur jadwal kegiatan tim terasa seperti butuh satu-dua langkah lebih banyak dibanding sebelumnya.
well, setidaknya gak bakal ada yang ketularan sakitku, pikir jaemin sembari berbaring merana dan kesepian di kamar tidurnya.
bel rumahnya berdering. jaemin sudah pilih bel dengan suara paling tidak menyebalkan ketika dia baru tempati rumah ini, dan di lain waktu jaemin tidak pernah benci bunyinya, malah seringnya berpikir, ‘ah, aku jago pilih bel rumah…’, tapi kali ini bunyi ding-dong dari bel tak berdosa itu terasa seperti menggema di liang kuping jaemin. setengah hati bangkit duduk di ranjang, jaemin melihat sekeliling kamar untuk pertama kalinya sejak semalam saat demamnya mulai datang. bungkus obat penurun panas dan segelas air di nakas, ada debu mengapung di permukaannya karena jaemin lupa taruh tutup gelas di atasnya. bajunya berserakan di lantai karena jaemin bolak-balik ganti baju, merasa tidak nyaman dalam semua helai pakaian setidaknya sampai dia pakai kaos shinchan punya donghyuck. ada bekas keringat di sprei dan ujung sarung bantal, which was weird, karena jaemin menggigil kedinginan sejak tadi subuh.
ding-dong.
argh. jaemin ingin berteriak jengkel tapi yang keluar dari mulutnya hanya ‘ggrhhh’ parau seperti bunyi zombie di serial yang dia tonton dengan jisung selumbari. huh. jaemin memang merasa seperti zombie saat dia menyeret kaki dan sandal rumahnya yang kebesaran ke pintu depan.
separuh senang karena ada yang menjenguk (kalau sedang sakit begini, jaemin jadi rindu tinggal bareng Dream), separuhnya lagi kecewa karena pasti yang menjenguk bukan donghyuck. donghyuck tidak pernah pencet bel. sejak menerima kunci cadangan rumah jaemin dua minggu lalu, donghyuck sering bablas keluar-masuk seperti ini rumahnya sendiri. seandainya ide tinggal bersama donghyuck tidak semenggiurkan ini, jaemin mungkin sudah merampas balik kunci rumahnya dari cowok itu.
“SUP!!!” adalah kata—bentakan?—pertama yang jaemin dengar segera setelah dia membuka pintu. chenle mengangkat plastik berisi rantang porselen yang sudah pasti berisi makanan hangat buatan mama zhong. “ATAU BUBUR! dua-duanya ada! terserah hyung mau yang mana!”
jaemin menggeser badan, mempersilakan chenle, jeno, dan manajer mereka masuk. “kenapa kamu marah-marah?” tanyanya bingung.
“tau gak!” chenle menuding-nuding muka jaemin dengan tangannya yang masih memegang bungkusan, bunyi kresek-kresek dari tas plastik bergoyang di udara. manajer buru-buru mengambilnya dari tangan chenle sebelum ada yang tumpah. “berapa kali aku menelepon hyung semalam? kukira hyung mati!”
jaemin memutar mata sambil tersenyum miring tanpa sadar, menikmati rasanya dikhawatirkan. “dasar dramatis.”
“ya aku kan khawatir, hyung. apalagi aku ketambahan diteror haechan, disuruh cek keadaanmu . ” cemberut adiknya itu. “sudah minum obat?”
“semalam.”
“biar kusiapkan sarapanmu dulu. aku gak bisa lama-lama,” ujar chenle lagi, sikapnya kembali normal seperti dia tidak barusan teriak-teriak di dapur jaemin pukul tujuh pagi. “harus ke studio.”
jaemin menoleh ke jeno. rambutnya sudah rapi dan wajahnya dioles riasan tipis yang membuat tulang pipi dan rahangnya makin menonjol. walaupun jeno masih dibalut hoodie dan celana kasual, dia terlihat siap untuk pemotretan.
“cakep banget?” jaemin mencolok tulang pipi jeno, bermaksud mengejek kawannya itu tapi olokannya hilang di ujung karena tertelan batuk.
jeno menepuk punggung atasnya pelan-pelan dengan alis mengernyit tapi tetap menjawab, “tulang pipi more like tulang punggung keluarga karena gajiku datang dari sini,” sambil angkat bahu.
ah, mungkin jaemin memang kangen tinggal bareng. saling bertukar ejekan atau pujian sarkastik atau guyonan jayus yang tidak punya banyak arti tapi lumayan bisa dijadikan colokan charger energi gratisan.
“iya, iya, ini orangnya disini.” chenle meletakkan mangkuk berisi bubur yang asapnya masih mengepul di meja dapur tempat jaemin duduk, ponselnya terjepit antara telinga dan bahu. “gak, gak parah, masih kuat olok-olokan sama jeno-hyung."
jaemin dan jeno sama-sama mendongak. jaemin karena merasa digosipkan tepat di depan muka, jeno karena namanya tiba-tiba disebut.
“ugh, telpon sendiri kenapa,” ujar chenle lagi ke ponselnya. mengernyitkan alis hampir jengkel, chenle menyodorkan ponselnya ke jaemin. “haechan.”
“kamu gak angkat telponku.” protes donghyuck sebelum jaemin selesai bilang ‘halo’. “tau gak seberapa panik aku semalam?”
“dalam pembelaan saya, yang mulia,” sahut jaemin, sengaja berlagak bercanda karena nada khawatir donghyuck terdengar terlalu tulus di telinganya. “saya juga tidak mengangkat semua panggilan dari orang lain.”
“tapi aku bukan orang lain, jaemin.” donghyuck mengembuskan napas di seberang panggilan, alih-alih menanggapi skit dadakan jaemin, dia bertanya serius dengan nada aneh yang hampir datar. sesuatu di suara donghyuck membuat dada jaemin ngilu seperti sedang diremas-remas dengan kejam. “…kan?”
“mh,” jaemin beringsut di tempat duduknya, tiba-tiba merasa tidak nyaman harus bicara dengan donghyuck di bawah tatapan tiga orang lain di ruangan. “cahaya layar bikin mata dan kepalaku sakit, jadi aku sengaja gak pegang ponsel.”
donghyuck terdiam agak lama. samar-samar bunyi pemberitahuan bandara. 127 sedang ada di negara tetangga. jaemin bisa bayangkan donghyuck duduk merosot di kursi lounge bandara, rambut ikalnya awut-awutan, satu kaki bergetar seperti tiap kali dia gelisah, mencoba membuat jaemin paham seberapa besar dia peduli, hanya untuk jaemin pura-pura tidak tahu. segumpal rasa bersalah yang pahit dan buruk rupa terbentuk di dada jaemin. fuck, seandainya dia sedikit saja lebih berani.
“donghyuck-ah,” panggilnya lirih, tiba-tiba ingin mengusir jeno dan chenle dari rumahnya, ingin menolak afeksi mereka seperti dia menolak donghyuck. mungkin dengan begitu dia bisa merasa sedikit lebih adil dan mengurangi rasa bersalah. kenapa menerima perhatian member lain selalu jauh lebih mudah dari menerima perhatian donghyuck?
“aku pulang sebentar lagi,” ujar donghyuck. donghyuck tidak bilang, tunggu aku, tidak bilang kalau dia akan pulang ke jaemin. tapi jaemin tahu dia tetap saja akan menunggu.
“dream ada latihan dance malam ini.” itu benar. mereka punya jadwal latihan yang tidak mungkin dibatalkan hanya karena satu orang absen. sama seperti jeno yang akan kembali ke ruang latihan setelah pemotretannya selesai, donghyuck juga akan meluncur ke agensi langsung dari bandara.
“aku pulang lima belas jam lagi,” koreksi donghyuck tanpa jeda.
jaemin tergelak tanpa sempat di-filter. dia ingin bilang maaf, ingin bilang kalau bukan, kamu bukan sekedar orang lain, ingin bilang, tolong tunggu sebentar, aku masih menabung keberanian.
“mmm,” gumam jaemin. “aku tunggu.”
setelah ponsel chenle kembali ke empunya dan bubur jaemin termakan setengah porsi, chenle mencucikan piring dan menata sisa makanan ("hyung, mau buka warung? ini ramen kenapa banyak banget stoknya?”) dan manajer menyalakan mesin mobil, jeno mendekatkan kursi untuk menunjukkan layar ponselnya ke jaemin.
“lihat.” yang terpampang di layar adalah ruang chat jeno dengan donghyuck. isinya pesan beruntun donghyuck bertanya apa jeno sedang di rumah jaemin; kenapa jaemin tidak angkat telepon; minta jeno cek jaemin langsung; daftar obat untuk dibeli; minta tolong jenguk jaemin, ya, aku baru balik besok. plus usaha gagal jeno untuk menenangkan donghyuck, berulang kali bilang kalau jaemin tidak apa-apa, yang hanya dibalas agresif DARIMANA KAMU TAHU KALAU KAMU SENDIRI BELUM CEK. pesan mereka akan jadi lucu kalau saja bukan tentang jaemin. “bocahnya sungguhan panik semalam.”
gumpalan buruk rupa itu muncul lagi ke permukaan. jaemin telan mentah-mentah untuk bilang main-main, “jadi kalian berdua kesini karena diteror?”
“tck,” jeno mendecak, kembali ke posisi duduknya, sudah biasa dengan kebiasaan jaemin mundur selangkah dari perbincangan serius. “aku tahu kamu gak minta pendapatku tapi menurutku sudah waktunya kalian berhenti kejar-kejaran.”
jaemin memutar mata. untung ini jeno. kalau ini member lain, dia mungkin akan berputar-putar cari alasan dan bilang kalau dia tidak tahu apa maksud mereka. “iya, tahu.” jawaban jaemin terdengar kekanakan bahkan di telinganya sendiri.
sekarang giliran jeno yang memutar mata. “takut apa, sih? ditolak? dengan donghyuck yang begini?” jeno menodongkan layar ponsel sekali lagi ke muka jaemin seperti barang bukti.
jaemin menampis tangan jeno, wajahnya panas tapi bukan karena demam. geez, ini sedikit memalukan. “iya, iya.”
sahabatnya itu menatap jaemin untuk beberapa waktu sebelum tersenyum lega, seperti prahara percintaan jaemin itu masalah pribadinya yang akhirnya akan terselesaikan. “pajak jadian masih berlaku.” celetuknya sembari bangkit untuk menuju pintu keluar, pemotretannya dimulai tiga jam lagi.
sesuatu di kepala jaemin bilang untuk berterima kasih karena jeno—dan chenle—sudah menyempatkan mampir pagi-pagi hanya untuk antar sarapan. jaemin tidak bilang apa-apa. “ini 2023.”
“masih berlaku.”
jaemin mendecih. berdiri di ambang pintu, pura-pura tidak menggigil karena embusan angin bulan September, dia melambaikan tangan ke mobil yang seluruh jendelanya ditutup. tck. dua orang itu pura-pura melambai balik pun tidak.
walaupun sudah berusaha, jaemin akhirnya menyerah menunggu donghyuck. toh dia sudah punya kunci. jaemin masih menggigil sesekali tapi mandi air hangat dan dua cangkir teh manis berhasil buat sakit kepalanya hilang. jaemin bergelung di bawah selimut, menikmati tekstur halusnya bergesekan dengan kulit betis dimana celana rumahnya tersingkap.
ketiga kalinya jaemin terbangun—dua kali sebelumnya dia tersentak dari tidur tanpa alasan jelas, mengecek jam dinding dan mengerang kecewa karena tahu latihan Dream masih berlangsung, sebelum jatuh tidur lagi—itu karena merasa geli ada sentuhan ringan di belakang lehernya.
“hm?” gumamnya tidak jelas.
“oh.” jemari di tengkuknya hilang. “maaf.”
donghyuck.
jaemin berguling dari posisi tidur miringnya, telentang di kasur dan menatap donghyuck yang duduk di pinggir ranjang lamat-lamat. dia tahu dia punya banyak hal yang ingin dia bicarakan dengan donghyuck, tapi otak setengah tidurnya masih belum bisa ingat.
“sudah baikan?”
jaemin mengangguk kecil. walaupun sudah coba ditahan, senyum tetap terbentuk di wajahnya. melihat muka donghyuck setelah sehari-semalam kesakitan rasanya seperti diberi waktu bernapas setelah lari keliling lapangan.
“sudah makan malam?” jaemin mengangguk lagi. “obat?” anggukan.
donghyuck bergumam, kakinya memainkan baju jaemin yang masih berserakan di lantai, melontarkan sembarang pakaian yang kaki panjangnya bisa raih untuk ditangkap lagi dengan jari kaki. kalau tidak sedang sakit, jaemin mungkin akan memukulkan guling ke belakang kepalanya.
“gak ada aku pun kamu baik-baik saja.” renungnya.
“yang begini kamu bilang baik-baik saja?” sanggah jaemin dengan suara serak, tangannya naik-turun menggestur seluruh badannya yang, walaupun sudah tidak menggigil, masih lemas.
donghyuck terkekeh. “maksudku, walaupun sakit dan sendirian pun, kamu bisa lakukan semua yang perlu kamu lakukan.”
“umurku sudah 23, haechan.”
“iya, tahu,” dengus donghyuck sambil menyibak rambut jaemin yang menempel tidak nyaman di dahi. “kan kita seumuran.”
jaemin tidak menjawab.
“gak tau, ya…,” ujar donghyuck lagi, kalimatnya digantung seperti dia sedang menimbang apakah ingin melanjutkan omongannya. “mungkin aku cuma berharap kamu bakal, uhm, butuh aku?”
“untuk minum obat?” tanya jaemin, berusaha sekuat tenaga mengusir awan kantuk dari kepala.
“untuk apapun.”
“rasanya jauh lebih baik ada kamu disini.” tawar jaemin karena dia tidak tahu harus jawab apa.
“oh, ya?” donghyuck menyeringai. telapak kirinya dia tumpukan di sisi kanan jaemin, badannya condong di atas jaemin yang masih terlentang.
“dan aku suka kamu perhatikan.” jujur jaemin lagi. berusaha tidak menjauhkan wajahnya dari wajah donghyuck karena tahu dia akan merasa seperti kalah kalau dilakukan.
“hmm?” donghyuck menegakkan punggung. insting pertama jaemin adalah menarik baju donghyuck agar tidak bergerak menjauh, untungnya dia masih punya akal sehat jadi tangannya diam saja di sisi badan. “tapi kamu gak angkat teleponku.” cemberutnya, melirik ke ponsel jaemin yang terlantar di atas nakas, mati kehabisan baterai.
“hei,” protes jaemin, “kamu coba lihat layar hape saat kepalamu jedug-jedug kesakitan.”
“oke, that's fair." donghyuck mengangkat kedua telapak tangan ke samping telinga, pura-pura menyerah. tapi jaemin tahu donghyuck cukup baik kalau itu hanya ancang-ancang untuk tembakan lain. “kalau kali lainnya kamu pura-pura gak sadar aku peduli?” kejar donghyuck. benar, kan. hanya ancang-ancang. "what happened there? ”
jaemin menatap donghyuck yang balas menatapnya. are they really doing this?
“…aku ketakutan?” jawaban jaemin terdengar bodoh; tidak terdengar sama sekali seperti jawaban valid tapi donghyuck menanggapinya seperti iya.
“takut apa?” tanya donghyuck kalem, ekspresinya sedikit lebih lembut dari sebelumnya, matanya tidak lepas dari wajah jaemin dan telapaknya menangkup tangan jaemin hati-hati. exactly the way jaemin feared he would.
jaemin mengangkat tangan, membebaskannya dari genggaman donghyuck, menggestur antara dada donghyuck dan dadanya yang terbalut kaos punya donghyuck. “ini.”
itu jawaban paling ambigu yang bisa jaemin tawarkan tapi donghyuck menggumamkan “oh…,” lirih seperti dia paham benar apa yang jaemin maksud.
“tapi kamu tahu aku suka kamu, kan?”
jaemin pikir, licik banget, menembakku seperti ini saat dia tahu aku lagi sakit. jaemin pikir, holy fuck. jaemin pikir, kamu gak bisa lebih kentara.
“donghyuck,” ujarnya sambil susah-payah bangkit duduk. “donghyuck-ah, dengarkan aku.”
donghyuck duduk sedikit lebih tegak. di bawah lampu tidur jaemin, pipinya berwarna sedikit lebih merah dari biasanya.
“aku gak seperti kamu,” mulai jaemin, berusaha menyusun kata-kata supaya mereka bisa melewati momen ini tanpa salah paham. “kalau kamu sudah memutuskan sesuatu, itu mutlak jadi fakta buatmu dan kamu gak… kamu gak berhenti,”
jaemin hampir menyerah segera setelah dia mulai. he can't do this. bagaimana caranya menjelaskan kalau saling suka saja tidak cukup bagi jaemin? bagaimana caranya membuat donghyuck paham kalau bukan donghyuck yang jaemin takuti, tapi perasaannya sendiri?
“kalau aku… aku bisa saja berubah pikiran satu hari nanti, mungkin satu bulan, satu tahun dari sekarang. apalagi semua keputusan dan urusanku harus kusembunyikan baik-baik kalau gak mau jadi konsumsi publik. aku gak mau jadi orang seperti itu di hidupmu.” aku gak mau menyembunyikanmu; aku bakal sakiti kamu cepat atau lambat, itu yang mau jaemin katakan tapi tidak cukup tega. “…kamu paham maksudku, kan?”
“tapi kamu suka aku?”
“a- hah?” kalau jaemin bisa bercermin, dia yakin dia bisa lihat mukanya merah sampai dada. sadar kalau muka merahnya yang donghyuck sedang tatap sekarang, dia memalingkan muka.
“kamu suka aku.” ujar donghyuck dan itu bukan pertanyaan.
“haechan-ah…,” jaemin menggaruk tengkuk, sadar kalau dia sudah kalah duluan. “kamu gak dengar apa yang barusan aku bilang, ya?”
“kamu suka aku,” ulang donghyuck lagi, dan sesuatu di ekspresi jaemin memancing seringai familiar yang somehow berhasil membuat dada jaemin sedikit lebih ringan. “soal aku patah hati dan nangis saat kamu putusin tahun depan, itu urusan nanti.”
“hhh,” jaemin memutar mata. ketakutannya terasa insignifikan kalau diucapkan keras-keras begini. “maksudku bukan begitu.”
“bukan?” tanya donghyuck.
“bu…kan,” jawabnya sedikit ragu.
“jadi ini,” donghyuck mengulang gestur jaemin, merujuk ke jarak antara dada mereka berdua. “bukan masalah, kan?”
“tapi bisa saja jadi masalah satu hari nanti.”
“yang bisa kita ributkan nanti kalau sudah terjadi.”
huh, batin jaemin. mengkhawatirkan solusi hanya saat konfliknya sudah terjadi. itu konsep baru di pola pikirnya.
huh, batin jaemin, tidak pernah pandai bicara bahkan di dalam kepala sendiri. are we really doing this?, tanyanya ke diri sendiri sambil menyaksikan telapak tangannya dicium donghyuck.
5.
mereka tidak pacaran.
mereka tidak jalan di bawah hujan sambil bergenggaman tangan, walaupun jaemin sekarang selalu memastikan dia berdiri di samping donghyuck tiap mereka naik elevator. tidak pergi kencan keliling kota, walaupun jaemin sekarang selalu membawa donghyuck ke supermarket untuk belanja bulanan. mereka bahkan tidak saling cium, hanya sering tidur bersama di kasur jaemin dan saling jadi hal pertama yang dilihat di pagi hari.
mereka tidak pacaran. kadang jaemin berharap donghyuck tanya lebih dulu, kali lain dia bersyukur donghyuck belum tanya; sengaja memberi jaemin waktu.
“jadi… gimana, sih? haechan-hyung sama jaemin-hyung sekarang pacaran?”
hening. pertanyaan lugu jisung berhasil memotong obrolan apapun yang anggota lain punya, dan memfokuskan tatapan mereka ke jaemin dan donghyuck.
mereka bertujuh sedang duduk sembarangan di ruang tengah jaemin, meja di depan televisi diganti dengan matras tipis serta tumpukan selimut dan bantal. kotak pizza yang masih separuh terisi bersanding dengan botol soda di lantai. sleepover ala-ala untuk merayakan selesainya promosi album Dream.
jaemin duduk bertempelan bahu dengan donghyuck di lantai, punggung bersandar pada sofa. tidak ada yang bersuara. biasanya di sekitar timing ini, ada saja yang menceletuk guyonan tidak lucu soal jangkrik dan awkward pause. tapi bahkan mark hanya diam saja.
dari samping, jaemin bisa merasakan tatapan donghyuck membakar pelipisnya tapi donghyuck tetap diam, memberikan jaemin hak untuk menjawab—berharap jaemin yang menjawab. jaemin sengaja tidak balas tatap. pipinya panas sampai ke telinga.
“sebentar,” donghyuck akhirnya memecah keheningan, menyelamatkan jaemin dari ekspektasi untuk merespon. “kenapa rasanya seperti aku dan jaemin lagi disidang?”
“intervensi.” sahut jeno dari atas kepala mereka, sobatnya itu bertengger santai di sofa tanpa sadar kalau jaemin hampir meledak.
“makanya, ayo kita tata hubungan kalian. definisikan! kasih label!” ujar mark, disahuti anggukan yang lain.
what?
“maaf aja, nih, kenapa jadi kalian yang repot?” pekik donghyuck agak histeris, jaemin tidak bisa tahan senyum geli, di satu sisi sedikit senang bukan cuma dia yang panik soal ini walaupun separuh otaknya yang lain sedang teriak-teriak belingsatan. “urusanku dan jaemin ini!”
“ya masalahnya kita jadi ikut bingung, haechan-ah,”
“gak ada yang minta hyung buat ikut mikir!” donghyuck sekarang sepenuhnya menjerit di depan muka mark.
“makanya,” kata mark lagi pelan-pelan. kedua tangannya memegang bahu donghyuck untuk dituntun menjauh dari wajahnya. “plis kasih tahu kita satu hal iniii saja, kalian sekarang pacaran atau gak? kita kan juga butuh tahu supaya bisa bersikap, dude."
donghyuck tergagap, melirik ke jaemin barang sedetik. “a–,”
“belum.” jawab jaemin, berusaha membuat suaranya terdengar di antara kekehan renjun dan bisik-bisiknya jisung—chenle.
jaemin hampir bisa dengar bungi pyong-pyong-pyong tanda tanya raksasa muncul satu-satu di atas kepala mark. yang dia maklumi, karena jawaban jaemin memang aneh, ambigu, tidak tegas, berpotensi melukai harga diri donghyuck. “maksudnya belum?”
“sekarang belum pacaran, tapi nanti iya,” jelas jaemin, meringis dalam hati karena jawabannya sendiri.
“oh?” suara donghyuck mengalihkan pandangan jaemin dari mark untuk melihat bukan-pacarnya itu sedang berusaha tapi gagal untuk menahan senyum. “nanti iya?” tanyanya, girang.
jaemin mengedikkan bahu, menoleh ke member lain untuk mencoba menjelaskan maksudnya; curhat soal kenapa ‘belum’; sedikit pamer soal donghyuck yang tidak pernah menuntut, tapi yang lain sudah tidak tertarik. melihat ke jaemin saja tidak. sudah kembali ke ponsel atau kegiatan masing-masing walaupun masih ada bisik-bisik, apa maksudnya; aku juga gak tahu; mungkin menunggu tanggal cantik?; ew norak; jangan bilang kita harus lihat muka kesengsem haechan terus mulai dari sekarang. yang terakhir itu pasti renjun.
sesuatu yang hangat menempel di bahu dan lengan jaemin, donghyuck merapatkan badan, kembali ke posisi duduk mereka semula.
“tau gak,” donghyuck mencondongkan kepala untuk berbisik di telinga jaemin, hangat napasnya menyapa kulit leher jaemin dan jaemin harus menahan diri untuk tidak bergidik. “aku jago menunggu kalau itu kamu.”
1.
selesainya promosi album Dream juga berarti selesainya jadwal bersama yang donghyuck punya dengan jaemin. dengan donghyuck yang harus lari sana-sini di 127 dan jaemin yang rutenya kembali ke rumah—kantor—rumah—kantor, pilihan paling rasional adalah pulang ke apartemennya sendiri yang letaknya di tengah kota, lebih dekat ke studio; lebih dekat ke agensi. bukannya itu alasan donghyuck pilih tempat ini?
sayangnya, pikiran donghyuck tidak bisa lepas dari rumah jaemin. rumah jaemin bagus. hangat. homey. ada banyak perintilan tersebar di tiap sudut rumah. ini kado dari fans; ini oleh-oleh dari jisung; ini foto saat 00z main ke air terjun; ini lukisan buatan sepupu balitanya; ini kado hiasan kulkas dari donghyuck; ini kabinet khusus ramen rekuesnya donghyuck; ini piyamanya donghyuck; ini sikat giginya; ini sandal rumahnya; ini cangkir tehnya. keliling rumah jaemin terasa seperti cari-cari harta karun dalam bentuk memori tapi malah tanpa sengaja menemukan bukti kalau ini juga tanpa sadar sudah jadi rumahnya. donghyuck selalu merasa seperti pulang tiap ada disana. well, koreksi: tiap ada jaemin bersamanya.
setelah sekian minggu berturut-turut pulang ke jaemin, prospek untuk kembali ke apartemennya sendiri sendirian terdengar buruk. oke, mungkin bukan buruk. apartemennya bagus, kok, walaupun tidak rapi. hanya saja jika dibandingkan rumah kecil di ujung seoul yang didiami satu orang spesifik, apartemennya terasa inferior.
“haaa…,” donghyuck sengaja mengembuskan napas keras-keras, siapa tahu bisa membuat perasaannya lebih lega. dia melepas sneakers-nya di koridor depan sembarangan, membiarkan badannya tersiram cahaya lampu otomatis.
hal pertama yang mampir di kepala donghyuck adalah: ada yang aneh.
hal kedua yang dia pikirkan: jaemin?
dada meletup-letup karena antisipasi, donghyuck bergegas melangkah lebih jauh ke dalam apartemen. tas gendongnya dia taruh di sofa acuh tak acuh, matanya hanya tertuju ke pintu kamar tidur setidaknya sampai dia lihat bekas kotak makan yang sudah disingkirkan dan disusun rapi di samping wastafel, siap dibuang. ada satu cangkir belum dicuci. kunci mobil yang gantungannya familiar karena donghyuck sendiri yang belikan tergeletak di meja dapur.
donghyuck hampir bergetar kegirangan saat dia meraih pintu kamar untuk dibuka. jaemin setengah terduduk di ranjang single donghyuck, sudah pasti terbangun karena bunyi-bunyiannya saat datang. kunci cadangan yang donghyuck berikan ke jaemin bulan lalu duduk manis di nakas.
donghyuck berhenti sebentar di ambang pintu, menikmati pemandangan jaemin di kamarnya; terbungkus selimutnya; bersamanya. apa ini normal?, suara di belakang kepala donghyuck bertanya. sebahagia ini karena bertemu satu orang yang dia temui secara rutin, apa normal?
“sudah pulang?” sapa jaemin, suaranya masih kental dengan kantuk, matanya bahkan belum sepenuhnya terbuka, tapi ada cikal bakal senyum terbentuk di bibir.
donghyuck menatap pacarnya lama sebelum bilang, “mm, aku pulang.”
