Work Text:
Dia tidak langsung turun. Sengaja masih duduk manis di kursi penumpang menontoni Jaemin membuka aplikasi catatan di ponsel (untuk cek ulang daftar belanjaan), membuka dompet (untuk cek kelengkapan kartu debit dan uang lembaran), membuka kompartemen mobil (untuk ambil hand sanitizer dan mengoleskannya ke telapak). Setelah ini, Jaemin akan mendongak ke spion dalam mobil untuk cek apa rambutnya masih rapi. Donghyuck penasaran sejak kapan dia hafal kebiasaan teman (hanya teman, kah, mereka?) setimnya ini. Penasaran apa ada orang lain yang hafal ritual Jaemin sebelum turun mobil.
Jaemin meraih kunci yang masih tergantung di lubang, menjepitnya di antara jari-jari panjang sebelum, klik, diputar ke arah mati, aksi yang menyebabkan urat di punggung tangannya makin kentara. Donghyuck mengikuti gerakan tersebut dengan lapar, membayangkan dua jari Jaemin melingkar di lidahnya, menuntut untuk dihisap alih-alih dipakai untuk mencabut kunci mobil. Bunyi mesin seketika hilang dari latar belakang. Di hening yang tiba-tiba datang, nafsu Donghyuck yang sama mendadak datangnya jadi terasa memalukan dan agak... primitif.
Really, Donghyuck? Hanya karena melihat Jaemin mencabut kunci mobil?
"Ayo." ajak Jaemin, suaranya lebih rendah dibanding kalau mereka sedang bersama orang lain. Lebih lembut, lebih intim; tidak pernah gagal membuat Donghyuck merasa istimewa.
Jaemin sudah membuka pintu di sisinya saat dia sadar Donghyuck masih belum bergerak. Donghyuck hanya tersenyum jahil melihat Jaemin mengangkat satu alis, mengamati Donghyuck tanpa bicara, kemudian mengurungkan niat keluar mobil dan menyeberangi jarak antara kedua kursi saat paham apa yang dimau Donghyuck. Satu tangannya bertumpu pada sisi headrest kursi penumpang, yang satunya melepaskan kunci sabuk pengaman dan membebaskan Donghyuck dari kursinya.
"Manja." omel Jaemin, walaupun masih pakai suara Khusus Donghyuck.
"Kan cuma sama kamu." cengir Donghyuck setelah ingat untuk bernapas kembali.
Jaemin hanya mendecak sebagai respon tapi ujung bibirnya yang terangkat cukup jadi bayaran bagi Donghyuck. Separuh dirinya yang serakah ingin meraup senyum itu dengan mulutnya sendiri, mencium Jaemin dalam-dalam sampai ketakutan cowok itu hilang; sampai yang tersisa di dalam kepalanya hanya donghyuck donghyuck donghyuck.
Donghyuck menimbang. Kalau dia cium paksa Jaemin sekarang, dia tidak mungkin ditolak. Toh mereka sama-sama tahu kalau mereka saling suka. Apalagi Jaemin selalu turuti maunya Donghyuck. Well, semua kecuali satu.
Donghyuck menimbang. Kaca mobil Jaemin gelap. Tidak ada orang selain mereka di tempat parkir. Jaemin hanya satu rem tangan jaraknya dari dia.
Donghyuck menimbang. Dia sudah menunggu lama. Bukankah dia pantas dapat satu ciuman?
"Haechan-ah?" Nada khawatir di suara Jaemin masuk ke telinga, menusuk sampai dada. "Hei, kenapa melamun? Kamu oke?"
Donghyuck menatap Jaemin tepat di wajah, pura-pura tidak tersentak karena ditarik keluar dari pikirannya sendiri. Donghyuck tanpa sadar menghela napas agak kasar. Mau seberapa licik dia merasionalisasi kemauannya untuk cium Jaemin; buat cowok itu jadi kepunyaannya, Donghyuck tahu dia tidak akan tega minta Jaemin kalau bukan Jaemin sendiri yang berikan.
Pfft. Bohong. Donghyuck tidak akan puas kalau bukan Jaemin sendiri yang menyerahkan diri.
"Romantis banget, ya, kita?" tanya Donghyuck balik, alih-alih menjawab kekhawatiran Jaemin.
Cowok di sampingnya menatapnya lama seperti Donghyuck gila, sebelum berujar lamat-lamat, "Haechan-ah, kita kesini untuk beli beras. Plus aku kehabisan sabun mandi."
"Oh, tapi implikasinya, Jaemin! Kamu kehabisan stok lebih cepat karena aku mandi di tempatmu! Dan makan di tempatmu! Bareng kamu!" seru Donghyuck, bicara sembarangan asal tetap dapat atensinya Jaemin. "Well, technically, kita gak mandi bareng, tapi tahu lah maksudku."
"Uhm," Jaemin berdeham, telinganya merah karena Donghyuck menyebut mandi bareng, dan kalau ini di waktu lain, Donghyuck pasti akan menggodanya mati-matian. "Jadi kamu bangga sudah numpang gratisan di rumahku?"
Donghyuck terbahak singkat sambil membuka pintu. “Jangan pura-pura gak suka, deh.”
Jaemin tidak membalas. Kadang Donghyuck merasa bangga sendiri karena bisa paham maksud Jaemin walaupun dia tidak bilang apa-apa, tapi kadang, seperti saat ini, dia berharap Jaemin mau mengakui perasaannya untuk Donghyuck secara verbal barang sekali saja.
It’s okay, batinnya sambil melangkah keluar mobil. Ini Jaemin. Dia rela menunggu selama apapun kalau soal Jaemin.
Sadar kalau sekarang malah Jaemin yang tidak beranjak dari duduknya, Donghyuck menunduk sedikit ke dalam, telapaknya ditumpukan di atap mobil. “Ayo turun,” ajaknya. “Aku gak sabar mau pilih-pilih beras.”
Jaemin mendengus tapi masih belum bergerak. Matanya bolak-balik antara pintu masuk supermarket dan Donghyuck.
Menyeringai jahil, Donghyuck bilang lagi, “Atau perlu kubukakan pintunya, Yang Mulia?”
“Aku suka.”
“Huh?” Hampir sepenuhnya yakin Jaemin hanya akan mendengus lagi, Donghyuck sama sekali tidak mengharapkan mendengar kalimat itu sebagai jawaban.
“Kamu bersamaku seperti ini.” tambah Jaemin. Mata cowok itu menolak menatap Donghyuck balik, tapi ada senyum samar-samar di wajahnya dan ya ampun, seandainya saja Donghyuck punya izin untuk cium bibir itu.
“Oh, ya? Bukan hanya karena kamu mau aku bawain belanjaanmu?” godanya.
Jaemin tersenyum makin lebar, ekspresinya yang sebelumnya campuran antara tegang, takut, dan malu, sekarang jauh lebih rileks setelah guyonan Donghyuck. Donghyuck ikut tersenyum agak miring, sedikit-sedikit mulai paham kalau hanya karena Jaemin punya kapasitas lebih kecil dari orang biasa kalau menyangkut bicara soal perasaannya sendiri bukan berarti perasaan tersebut tidak ada. Tapi, God, bisa tidak sih, hidupnya Donghyuck dipercepat sampai ke titik dimana dia merasa aman dalam hubungan mereka dan tidak harus mengais satu kalimat tulus per satu kalimat tulus yang Jaemin kadang-kadang haturkan padanya?
Sabar, batin Donghyuck ke dirinya sendiri sembari mengikuti langkah Jaemin menyeberangi tempat parkir, ini Jaemin. Dia gak mungkin mainin kamu.
Jaemin menyusuri lorong supermarket dengan fasih. Bukan hal aneh, mengingat ini satu-satunya supermarket di area rumahnya yang tidak butuh menyetir satu jam lamanya. Donghyuck membuntuti selangkah di belakang Jaemin dan troli, mencoba mengingat denah supermarket karena dia berencana untuk selalu ikut Jaemin belanja ke depannya.
“Mau beli ramen dulu?” tawar Jaemin saat dia sudah selesai menyisir area daging, isi keranjang mereka saat ini sebagian besar dada ayam, dan bakso beku karena Donghyuck pernah bilang mau sesekali coba buat spaghetti meatball.
“Jaemin-ah, aku makan makanan lain selain mi instan, tahu?”
“Mau, gak?”
“Mau.”
Saat Donghyuck berusaha mengingat sisa stok ramennya di dapur Jaemin dan membandingkannya dengan jejeran merk mi yang sekarang terpampang di hadapannya, dia baru sadar kalau Jaemin beli semua pilihan merk yang bisa dia beli di toko ini. Huh. Itu pemborosan. Donghyuck hanya bolak-balik makan antara tiga merk ramen dan paling banyak tujuh macam rasa. Pantas saja Chenle sering komentar kalau dapur Jaemin mirip warung mi.
“Neoguri, Jin, Indomie?” tanya Jaemin, tangannya sudah bergerak duluan meraih bungkus mi yang dari awal sudah Donghyuck masukkan daftar imajiner di kepala. “Menurutmu kita perlu beli yang gak pedas, juga? Jaga-jaga kalau Jisung mampir?”
“Yup.” sahutnya singkat. Kemudian, berusaha menutupi detak jantungnya yang tiba-tiba bertambah cepat, “Kalau aku bikinkan kamu ramen topping-nya dada ayam, apa kamu mau makan?”
Jaemin terkekeh ringan, jari-jari panjangnya memeluk pegangan troli, Donghyuck membayangkan kalau itu tangannya sendiri yang digenggam Jaemin. “Memangnya aku pernah gak makan masakanmu?”
Well. Itu benar. Terakhir kali Jaemin bahkan melahap semangkuk udang-rumput laut-kecap eksperimennya Donghyuck yang dia buat karena iseng. Bahkan Donghyuck sendiri tidak sanggup habiskan.
“Untuk sarapan?” tanya Donghyuck saat melewati rak roti dan sereal. Kebiasaan makan pagi mereka berbeda hampir 180 derajat. Donghyuck wajib makan nasi apapun keadaannya sementara Jaemin lebih pilih menu yang sederhana dan cepat matang. Akhir-akhir ini Donghyuck ikut menikmati toast alpukat karena ketularan.
“Masih ada.” sahut Jaemin sambil terus mendorong troli sebelum berhenti mendadak di dekat belokan. “Kecuali kamu mau roti putih?”
Minggu lalu Donghyuck protes karena Jaemin membuatnya makan roti gandum lima hari berturut-turut. Well, sebenarnya Jaemin tidak membuatnya melakukan apapun. Dia punya satu kulkas penuh bahan makanan kalau Donghyuck mau buat sarapan lain. Tapi memangnya Donghyuck harus bagaimana? Tidak makan makanan yang sudah Jaemin siapkan untuknya?
“Nu-uh,” Donghyuck menggeleng, menempatkan telapaknya di punggung bawah Jaemin, menuntunnya untuk terus bergerak ke lorong camilan, tahu kalau Jaemin masih butuh ambil protein batangan.
Satu-dua-tiga-empat, Donghyuck menonton Jaemin bergerak luwes mencomoti macam-macam rasa energy bar tanpa berhenti berjalan. Agak bingung saat dia juga mencomot bungkus keripik ubi jalar yang, jujur, sejak tadi sudah dilirik Donghyuck.
“Kamu suka keripik?” tanyanya dari balik punggung Jaemin.
“Hm?” Jaemin menghentikan langkah, memutar badannya ke belakang sebelum menarik pergelangan Donghyuck sehingga mereka berdiri bersandingan. “Enggak. Kukira kamu suka?”
“Oh.” Semua calon guyon soal keripik ubi yang sudah dia siapkan tiba-tiba lenyap dari kepala Donghyuck, digantikan dengan mau cium mau cium mau cium yang menari berputar-putar di pikiran.
“Kamu gak mau ini?” tanya Jaemin lagi bingung, tangannya sudah meraih camilan yang bersangkutan untuk dikembalikan ke rak.
“Mau!” sahut Donghyuck buru-buru, merebut jajanan itu dari tangan Jaemin dan menaruhnya rapi di troli, di atas tumpukan ramen yang Jaemin pilihkan untuknya, bersanding dengan sabun mandi yang mereka pakai berdua. Protein bar-nya Jaemin hampir tergencet oleh stok soda kalengannya Donghyuck. Pengharum ruangan aroma bunga karena Donghyuck bilang wewangian kopi punya Jaemin membuat rumahnya bau warkop. Overpriced sosis siap saji karena Donghyuck cuma mau makan yang isian keju. Dua botol busa cukur karena kulit Donghyuck iritasi kalau pakai merk yang dipakai Jaemin.
Ya ampun, geram Donghyuck ke diri sendiri. Mukanya panas sampai ke belakang leher. Kalau bercermin mungkin dia bisa lihat kulitnya ikut merah. Perkara keripik ubi jalar saja sampai tersipu begini?
“Haechan-ah?”
Ya ampun, kutuknya lagi, bukti sayangnya Jaemin sudah sekeranjang belanjaan banyaknya, kamu mau minta yang bagaimana lagi?
“Hei, kamu melamun terus, deh, hari ini.” Nada bicara Jaemin khawatir lagi. Setelah didengar dua kali seperti ini, cemasnya kentara sekali. Agak bodoh kalau Donghyuck bilang dia tidak tahu Jaemin juga sama sukanya dengan dia.
“Pelukkk,” rengeknya karena tidak tahu mau bilang apa, rasanya kalau dia tidak sentuh Jaemin sekarang, saat ini juga, Donghyuck bisa meledak.
Jaemin mundur selangkah sampai pinggangnya bertabrakan dengan pegangan troli. “Heh, jangan sinting.”
“Gak ada yang lihat iniii~” Berlagak merajuk hanya karena dia bisa, Donghyuck merentangkan tangan sambil memanyunkan bibir. Sedikit menantang Jaemin untuk menuruti maunya, seperti biasanya.
“Serius? Disini?”
Donghyuck separuh tidak menyangka Jaemin benar-benar akan merengkuhnya di tengah lorong supermarket disaksikan jejeran bungkus camilan, separuhnya lagi sudah tahu Jaemin bersedia lakukan apa saja kalau Donghyuck yang minta. Mungkin kalau saat ini Donghyuck ajak pacaran, dia akan bilang iya? No, Donghyuck will not do that to him.
Menepis keinginan itu jauh-jauh, Donghyuck balas mendekap Jaemin tepat satu detik sebelum melepaskan diri. Walaupun dia yang minta, kalau sungguhan dipeluk di tempat publik begini, dia juga bisa malu.
“Puas?” tanya Jaemin, telinganya sama merahnya dengan punya Donghyuck.
“Kalau nanti di parkiran dilanjut lagi, boleh?”
Jaemin meninjunya di lengan atas.
“Jaemin-ah,” panggil Donghyuck saat mereka sudah setengah jalan menuju mobil.
“Hm?” Jaemin, kedua tangan penuh menenteng tas belanja, menoleh tanpa berhenti jalan.
“Ayo suit.”
“Astaga, Haechan,” Jaemin memutar mata tapi tetap berhenti dan menaruh satu tasnya di tanah untuk membebaskan tangan kanannya.
Lihat, suara kecil di belakang kepala Donghyuck berujar kesenangan, dia tanya alasannya saja belum tapi tetap turuti kamu.
“Suit buat apa?”
Donghyuck meringis, tangannya terkepal di depan dada berancang-ancang, sungguhan berharap dia beruntung kali ini. “Yang kalah kembali masuk buat beli beras.”
