Work Text:
Kalau ditanya alasan tepatnya Donghyuck datang kesini alih-alih klinik 24 jam, dia tidak akan punya jawaban jelas. Tapi menyaksikan Jaemin mondar-mandir untuk mengakomodasi kebutuhannya Donghyuck, dia yakin ini pilihan tepat. Well, tepat untuknya. Dia tidak yakin Jaemin akan bilang hal yang sama soal dibangunkan jam dua pagi dan harus lari sana-sini ambil kompres, ambil baju ganti, ambil handuk, ambil… panci?
“Buat apa panci?”
“Rebus jahe,” jawab Jaemin singkat, tangannya bergerak luwes tanpa henti. Dia terlihat nyaman di dapurnya sendiri, tiap aksinya mengalir tanpa ragu. Donghyuck tidak pernah tahu seseorang bisa terlihat seseksi ini hanya karena mereka tahu pasti perabot apa yang ada di laci mana.
“Jahe?” Donghyuck bangkit dari kursi makan, mengintai apa yang dilakukan Jaemin dari balik punggungnya. Berhenti setengah langkah di belakang Jaemin. Berusaha untuk tidak menempelkan dadanya ke hangat tubuh Jaemin, atau menaruh dagunya di pundak Jaemin, atau mencium tengkuk cowok itu dan teriak kencang-kencang kalau Donghyuck suka.
Berada sedekat ini dengan Jaemin, ditambah fakta kalau hanya ada mereka berdua di rumah, membuat Donghyuck pusing. Jenis pusing yang berbeda dengan pusing yang datang karena kehilangan darah akibat mimisan.
Donghyuck melongok. Ada jahe segar yang baru dikupas, batang kayu manis dan serai, serta gula aren tertata rapi di talenan. “Yuck.” Donghyuck mencibir tanpa sadar.
Jaemin hanya terkekeh kecil tanpa tersinggung, seperti dia sudah tahu Donghyuck akan bereaksi begitu. Seperti dia tahu Donghyuck.
“Kamu mandi, gih,” suruh Jaemin sambil memutar badan. Donghyuck otomatis mengepalkan tangan di sisi, takut kalau dirileks-kan, tangannya akan bergerak sendiri meraih pinggang orang di hadapannya. “Pas kamu selesai, ini bakal sudah jadi,” lanjutnya, menggestur rempah-rempah di talenan.
Donghyuck memasang ekspresi yang buat Jaemin tergelak lirih.
“Janji rasanya bakal enak. Aku jago buat beginian.”
“You don’t have to,” bisik Donghyuck, tidak tahu kenapa dia berbisik. Sesuatu di kepalanya bilang kalau dia bicara dengan volume normal, gelembung yang memerangkapnya dan Jaemin dalam intimasi bisa pecah dengan mudah. “…do all this.”
“Hm?" Jaemin angkat satu alis. Tampannya luar biasa bahkan dengan wajah telanjang dan rambut bantal acak-acakan. “Aku mau.”
Donghyuck membuang muka yang tambah panas tanpa bisa dikontrol, mundur selangkah, dua langkah, sampai dia kembali di samping kursi makan. Menyayangkan hilangnya hangat badan Jaemin tapi tahu dia bisa meledak kalau tetap berada sedekat itu. Meraih handuk yang disampirkan Jaemin di kursi, Donghyuck beranjak pelan-pelan ke arah kamar mandi tamu, sedikit tidak rela berpisah dengan Jaemin.
“Kalau kamu bilangnya gitu, aku mana bisa nolak,” katanya sebelum hilang di balik pintu kamar mandi.
Jaemin mendudukkannya di kursi makan segera setelah Donghyuck bebersih diri. Air seduhan jahe mengalir lembut dan hangat di tenggorokannya saat diseruput. Kesepuluh jarinya memeluk cangkir, hangatnya terasa nyaman di telapak. Kulit kakinya sama nyamannya berbalut sandal rumah Jaemin yang empuk dan berlapis beludru. Donghyuck terdiam sejenak, meminum momen damai ini rakus: dia di dapur Jaemin, berbalut celana piyamanya Jaemin, menggenggam cangkir Jaemin, bersama Jaemin. Yang bersangkutan duduk di seberang meja makan, menopang pipi dengan tangan sambil balik mengamati Donghyuck. Alisnya bertaut cemas.
"Haechan-ah?"
"Maaf, ya, aku mampir tiba-tiba," lirihnya.
"Hmph." Jaemin mendengus tapi tatapannya melembut barang sepersekian derajat. "Baik begini daripada kamu sakit sendirian di apartemenmu."
"Plis deh," Donghyuck memutar mata, tidak suka diingatkan alasan kenapa dia datang kesini in the first place. "Cuma kecapekan doang, dibawa tidur juga sehat lagi."
"Walaupun sudah sampai berdarah-darah begitu?" Donghyuck cemberut mendengar nada bicara Jaemin. Tentu saja dia tidak bisa bebas tanpa diomeli terlebih dulu. Belum sempat dibantah, Jaemin lanjut lagi, "Kamu tuh kebiasaan, deh, sering menggampangkan sakit kalau yang sakit kamu sendiri."
Cemberutnya Donghyuck sengaja ditambah-tambah, sampai bibirnya manyun panjang ke depan dan mukanya terlipat-lipat, tapi bukannya kasihan, Jaemin masih lanjut mengomel.
"Mana kamu sendirian, kan, tadi kesininya? Kenapa gak langsung ke klinik aja, minta ditemenin manager atau siapa."
"Maunya ditemenin kamu," goda Donghyuck sambil menyeringai tengil. Berdo'a semoga dengan ini omelannya Jaemin berhenti.
Jaemin memang terdiam, tapi muka cowok itu malah merona seketika sampai-sampai Donghyuck yang kelabakan menahan diri untuk tidak cubit cium gigit pipi Jaemin. Melihat Jaemin bereaksi secantik itu terhadap ucapannya buat Donghyuck ikut tersipu. Apa normal? Yang terkena damage gombalan Donghyuck malah Donghyuck sendiri, apa normal?
"Aku beneran gak apa, Jaemin," ujar Donghyuck agak serius, lama-lama tidak tega lihat Jaemin mengkerut khawatir.
Jaemin mendelik separuh tidak percaya. Donghyuck tiba-tiba punya urgensi untuk membenamkan wajahnya di ceruk leher Jaemin, peluk cowok itu erat-erat, tuntun tangan Jaemin menjelajahi tiap inci badannya untuk membuktikan kalau Donghyuck memang baik-baik saja.
Donghyuck baru akan menembakkan guyonan lagi untuk mengusir kerutan cemasnya Jaemin, tapi yang bersangkutan sudah bergerak duluan. Torsonya condong menyeberangi meja makan, satu tangan ditumpukan di meja satunya lagi ditempelkan ke dahi Donghyuck, pindah ke pipi, pindah ke leher. Kemudian ditarik lagi, rapi dilipat di atas meja seperti dia tidak baru saja menyandera napasnya Donghyuck.
Kalau ada yang gak baik-baik saja, itu jantungku yang kamu buat gak normal detaknya.
"Seenggaknya kamu gak demam," gumam Jaemin lebih ke diri sendiri. "Jam berapa jadwalmu besok- nanti? Ayo bareng ke SM."
Dream tidak punya jadwal bersama di sisa minggu ini. Jaemin tidak punya jadwal minggu ini. Sepanjang pengetahuan Donghyuck, at least. Kadang Donghyuck suka berlagak seperti dia paling kenal Jaemin—takes pride on that, even—tapi kemudian harus kecewa sendiri tiap kali sadar Jaemin punya banyak sisi yang Donghyuck belum punya izin untuk kenal lebih dalam.
"Kamu ngapain ke SM?"
"Hm?" Jaemin menelengkan kepala. "Antarin kamu, mau ngapain lagi?"
"Ya ampun, Jaemin." Donghyuck geleng-geleng kepala, mencoba menyembunyikan ekspresinya yang terlalu kentara kalau dia suka.
"Oh, atau kamu mau izin sakit?" koreksi Jaemin saat lihat reaksinya Donghyuck. "Biar aku yang bilang manajer-hyung, sehari libur harusnya gak apa. Jadwalmu besok gak ada yang ketemu fans, kan?"
"Ya ampun, Jaemin," ulang Donghyuck lagi karena dia kehabisan kata-kata. Mukanya dibenamkan di kedua tangan. Rasanya Donghyuck bisa gila karena suka.
"Apa? Kamu maunya gimana?" tanya Jaemin sungguh-sungguh, tangannya menjulur mengetuk punggung tangan Donghyuck dengan telunjuk, mencoba membuatnya mengangkat kepala.
Kamu tahu darimana isi jadwalku. Kamu tahu aku lebih dari mampu panggil taksi sendiri. Aku maunya kamu.
"Maunya bareng kamu," jawab Donghyuck akhirnya, memberanikan diri.
Jaemin menarik tangannya kembali, Donghyuck hampir, hampir, menangkapnya untuk digenggam sendiri. "Ya sudah, makanya nanti aku antar."
Yang Donghyuck maksud, dia mau bareng Jaemin sebagai pacar; mau jadi orang yang memang punya hak untuk selalu bareng Jaemin. Yang Donghyuck maksud, dia juga mau jadi orang yang Jaemin tuju kalau Jaemin sedang sakit. Yang kalender google-nya digabung dengan punya Jaemin supaya mereka sama-sama tahu jadwal masing-masing. Yang kontaknya ada di speed dial nomor satunya Jaemin. Yang Donghyuck maksud, dia mau bareng Jaemin di luar konteks Dream, di luar profesi mereka, di luar kontrak. Dia mau bareng bareng Jaemin bahkan setelah semuanya selesai—the fame, the spotlight, the glittery life.
Tapi Donghyuck bisa menunggu, siap menunggu.
Untuk sekarang, bersama Jaemin di meja makan sambil meneguk seduhan rempah yang Jaemin buat untuknya, ini saja sudah cukup. Untuk sekarang.
Donghyuck tidak bisa tidur. Dia berbaring menyamping, menghadap Jaemin yang telentang di sisi lain kasur. Puji Tuhan Jaemin masih belum jadi beli kasur lipat untuk Dream kalau menginap.
Ini bukan hal baru. Dream sering tidur tumpuk-tumpukan di satu kasur—satu sofa pun pernah—sejak masih trainee. Tapi tidak pernah hanya berdua dengan Jaemin. Tidak dengan kesadaran Donghyuck atas perasaannya sendiri.
Dada Jaemin naik-turun teratur. Bibirnya terbuka sedikit. Tangannya rapi dilipat di atas perut. Bulu matanya menyentuh kulit bawah mata saking panjangnya. Donghyuck berkedip lama, berpikir (dengan tidak rasional) kalau dia mengedipkan mata seperti shutter kamera, gambar Jaemin yang ini akan bisa tersimpan sampai lama di memori kepala.
Donghyuck mengembuskan napas panjang dan pelan-pelan, merenungi seberapa benar momen ini terasa. Seperti ini memang tempatnya Donghyuck, di rumah Jaemin; di sisi Jaemin.
Kalau ditanya kenapa Donghyuck pulang kesini hari ini, dia tidak akan punya jawaban kongkret.
Karena hal yang dia pikirkan ketika darah dari hidungnya jatuh pertama kali di toilet agensi adalah, "Aku mau pulang" tapi tempat yang terbayang di kepalanya bukan apartemennya sendiri. Karena dia tahu Jaemin akan mengurusnya dengan baik. Karena Jaemin membuatnya merasa aman. Karena dia mau bersama Jaemin apapun kondisi tubuhnya.
Donghyuck menekan berat badannya ke kasur, mencoba menjangkarkan diri sendiri karena memikirkan Jaemin membuatnya merasa seperti melayang. Hati-hati, Donghyuck menempelkan ujung telunjuknya ke pipi Jaemin. Tidak ditekan. Hanya kulit bersentuhan ringan dengan kulit. Sekedar cukup untuk Donghyuck yakin ini bukan mimpi atau halusinasi karena kurang darah.
Kenapa aku pulang kesini?
"Aku paling percaya kamu," bisik Donghyuck ke bantalnya sendiri, menutup mata pelan-pelan, mencoba tidur.
Aku percaya kamu gak akan mengusirku pergi. Aku percaya kamu bakal rawat aku sungguh-sungguh. Aku percaya kamu akan jaga hatiku baik-baik kalau aku kasih.
Bunyi kain bergesekan membuat Donghyuck membuka mata lagi walaupun sudah hampir jatuh tidur. Jaemin sudah berpindah posisi, matanya lurus menatap Donghyuck. Telapak Jaemin menangkup pipi Donghyuck pelan-pelan seperti dia takut Donghyuck bisa retak di bawah sentuhannya.
"Good," bisiknya balik. "Kamu bisa percaya aku."
Ya ampun, Jaemin, rutuk Donghyuck dalam hati walaupun bibirnya malah membentuk senyum, kalau tingkahmu begini terus, gimana bisa aku gak berharap?
