Work Text:
Thomas ingat gemintang memenuhi angkasa kala itu. Udara dingin yang menerpa di Kota London, membungkus kota tersebut dengan sunyi. Butiran salju turun dengan tenang. Menyelimuti jalanan kota dan gedung-gedung. Pemanas ruangan memeluk tubuh-tubuh yang kedinginan dengan hangat. Musim dingin datang dengan damai. Sebentar lagi Malam Natal. Orang-orang sibuk keluar masuk restoran—memesan reservasi. Ada juga yang sibuk keluar-masuk toko membeli pernak-pernik untuk di pajang di pohon natal.
Usai makan malam di restoran kawan lamanya, taksi membawa Thomas dan Maggie ke Westminster Bridge, hadiah untuk gadis tersebut karena sudah menemaninya makan malam setelah berkali-kali berhasil membujuknya di tengah tunggakan pekerjaan yang diberikan. Mendatangi jembatan itu bukanlah kemauan Maggie, melainkan Thomas. Ia ingin mekreasi ulang foto yang mereka ambil beberapa tahun lalu saat pertama kali ke London. Karena kalau permintaan Maggie sendiri, perempuan itu menginginkan gajinya dinaikkan.
Tapi tidak masalah, Setidaknya mereka bisa dekat dengan Big Ben yang berdiri dengan kokoh beberapa kilo dari Westminster Bridge. Lampu jam tersebut menyala, memperjelas jarumnya yang sebentar lagi menunjukkan waktu tengah malam. Salju kian memadati kota, sama halnya di jembatan itu, diramaikan oleh orang-orang yang berswafoto di sana sembari menantikan jam besar itu berdetang.
“Kau bisa bermain piano, Mag?” Celetukan Thomas membuat Maggie menoleh ke arahnya, mengikuti sorot tatapannya. Matanya mendapati seorang pria dengan baju hangatnya sedang memainkan piano techno. Jemarinya bermain dengan lincah, permainannya tampak mencolok. Hanya dia satu-satunya yang bermain piano itu di tengah penantian Natal. Lagu yang dibawakan terkesan upbeat, mengikuti suasana riang di jembatan.
"Tidak terlalu. Tapi, dulu aku pernah belajar memainkannya," jawab Maggie.
Thomas bergumam. "Kapan terakhir kau bermain?"
Maggie berusaha mengingat. "Sudah lama sekali. Aku berhenti bermain setelah dua tahun les piano sebelum persiapan ujian sekolah membuatku sibuk. Sampai sekarang, aku belum pernah menyentuh instrumen itu lagi."
Thomas mengangguk-angguk kecil. Kemudian, ia menoleh ke Maggie, tersenyum. "Aku bisa bermain piano. Kau tahu karya Chopin yang The Great Brilliant Waltz? Dulu aku sering memainkannya bersama papaku dan sekarang Oma-lah yang selalu menemaniku memainkannya. Kalau kau suka karya dari siapa, Mag?” Thomas beralih ke tepi jembatan, bersandar di sana. Kepalanya mendongak, menatap butiran salju yang masih jatuh.
Maggie menatap Thomas dengan bingung. Kenapa pria ini tiba-tiba membicarakan soal piano? Mengingat sebelumnya bosnya itu menggerutu karena dikira berpacaran dengannya oleh supir taksi yang mengantar mereka.
Maggie menoleh lagi, kembali melihat permainan piano techno di seberang jalan, lantas menyadari sesuatu. Dia tersenyum geli.
“Ya ampun, Thom.”
“Ada apa?” jawab Thomas.
“Kau gengsi sekali rupanya.” Maggie ikut bersandar di tepi jembatan. Menatap sungai di bawah sana. Tertawa kecil.
Thomas menaikkan sebelah alisnya tidak mengerti kalimat sekretarisnya.
“Jadi itu alasan kenapa kau menatap ke belakangku sewaktu di restoran? Sebenarnya kau sangat ingin memainkan piano yang dimainkan adik temanmu tadi, kan? Kau ingin pamer bisa bermain piano kepadaku?”
Maggie menoleh ke Thomas, tersenyum jahil. Senyuman yang selalu membuat Thomas geram.
Yang ditatap mengerucutkan bibirnya, wajahnnya yang kemerahan karena dingin semakin memerah karena malu. Thomas kembali menatap jalanan di depannya. Tidak mengacuhkan Maggie yang tertawa di sebelahnya sambil menepuk lengan Thomas.
“What are you? A child? Kau tahu kan, kau bisa memainkan piano itu kalau kau menawarkan diri ke adik temanmu? Pastinya dia tidak akan keberatan. Anak itu juga terlihat sedikit kelelahan memainkan piano selama kita di sana.”
“Ya, tentu aja aku akan melakukannya jika saja temanku tidak akan mengejekku, memasang wajah jahil sembari mengutarakan tatapan meledek ke arahku.”
Maggie tertawa kembali, puas melihat raut kesal bosnya sekali lagi. Ia berbalik badan, menghadap ke depan, ikut menatap jalanan yang ramai. Mereka diam sejenak, membiarkan salju hinggap di rambut.
“Clair de Lune karya Debussy, aku suka ciptaannya yang itu. Walau tampak sedikit susah memainkannya namun, melodinya terdengar indah. Aku suka mendengarnya setiap kali guru lesku memainkannya tapi, aku tidak pernah memainkannya.” Maggie menjawab pertanyaan Thomas sebelumnya.
Mendengar hal itu, Thomas mengangguk-angguk. Bergumam. “Tidak terlalu susah sebenarnya, aku pernah belajar memainkannya. Aku bisa mengajarinya kepadamu, lalu jika jemarimu sudah kembali lentur untuk bermain, kita bisa lakukan duet.”
Maggie memutar bola matanya. Semua kalimat tadi terdengar omong kosong, mengingat pekerjaannya yang selalu menumpuk akibat pria di sebelahnya. Bagaimana dia mau diajarkan piano dan diminta bermain duet dengan segala perintah remeh-temeh atasannya itu?
“Lagu itu dimainkan secara solo, Thomas. Bagaimana mau duet? Dan, omong-omong kenapa kau bersikeras ingin mengajariku piano?”
Thomas diam sebentar, berpikir. Wajahnya kembali memerah, ia memutuskan untuk jujur sedikit.
“Aku tidak pernah berduet piano dengan siapapun lagi semenjak papaku meninggal. Jadi, mendengar kau pernah les piano, itu membuat persentase keinginanku ingin berduet dengan seseorang meningkat.”
Menggelengkan kepala, Maggie menoleh. “Kau gila. Mengajariku bermain piano kembali sama saja seperti mengajari anak kecil piano dari nol.”
“Tidak apa-apa. Yang terpenting kau bisa bermain piano lagi.”
Maggie mendengus, tersenyum. “Baiklah, terserah. Kau bosnya.”
Kemudian, Maggie mengecek jam tangan. 10 menit lagi menuju pergantian hari. Salju tidak berhenti turun. Lampu-lampu kota tampak semakin gemerlap. Tidak ada hal yang dibicarakan, Maggie menoleh ke Thomas.
Memperhatikancahaya kuning dari lampu jalanan membasuh wajah pria tersebut. Rahangnya yang tampak terukir sempurna terlihat gagah. Matanya menatap pemandangan di depan dengan tajam. Maggie tetap mencari topik pembicaraan.
Kemudian ia terpikir satu hal.
“Thomas.” Maggie memanggil
Thomas bergumam.
“Apakah ada hal yang tidak bisa kau lakukan?”
Mendengar pertanyaan tersebut, Thomas menoleh ke Maggie. Menatap kebingungan kenapa sekretarisnya itu tiba-tiba nyeletuk soal kelebihannya. Mata mereka bertemu, saling bersitatap.
“Kau seorang konsultan, dapat bermain piano, memikat hati wanita—walau tidak semuanya, pria menyebalkan. Intinya kau paket lengkap, tipe idaman. Namun, manusia tidak sempurna, Thom. Jadi, selain pekerjaan yang terkadang membuatmu tampak seperti bedebah, hal apa yang tidak dapat kau lakukan?
Thomas terdiam. Ia berpikir sebentar sebelum tersenyum kembali.
“Ada banyak hal yang tidak dapat aku lakukan, Mag. Bahkan waktu menunggu pergantian hari ini tidak akan cukup untukku menceritakan segala kekurangan yang aku miliki. Tapi, apapun kegiatan atau rencananya.” Thomas merogoh telepon genggam di kantong mantelnya, mengetuk layar, membuka fitur kamera.
“Aku akan berusaha semaksimal mungkin, kalau bisa sampai semua tulangku patah, untuk mewujudkan setiap keinginanku bahkan milik orang lain juga, tetapi tergantung siapa orang itu. Contohnya, keinginanku untuk bisa berduet denganmu.”
Thomas kembali menatap Maggie, tersenyum. Ia tertawa kecil ketika melihat reaksi jijik Maggie dengan kalimatnya barusan. Thomas mengangkat tangan, memperlihatkan telepon genggamnya.
“Let's re-create all the photos we took a couple years ago.” Ia menggenggam tangan Maggie, menariknya menjauh dari lampu jalanan. Takut hasil foto menjadi back light. Mereka berdua berdiri di antara dua lampu jalan yang jaraknya sedikit jauh. Keduanya berswafoto dengan latar jam Big Ben di belakang.
Ketika hendak mengambil posisi baru untuk berfoto, suara detang Big Ben yang berada beberapa kilo dari jembatan menggema ke seluruh penjuru London. Keduanya berhenti sejenak untuk menoleh ke arah jam besar tersebut. Bunyinya menggelegar, menggetarkan para hati yang menantikan detangnya.
Orang-orang yang berada di dekat jam besar itu berseru riang. Tangan mereka bertepuk tangan dengan meriah seakan Santa datang. Para pejalan kaki yang masih berlalu lalang di Winchester Bridge berhenti, memperhatikan Big Ben yang sedang berdetang sambil mengucap selamat.
“Merry Christmas, Maggie.”
Maggie menoleh. Thomas sedang menatapnya. Sebuah senyuman terukir di wajahnya tampan itu. Matanya berbinar terkena pantulan sinar lampu jalan. Maggie balas tersenyum. Matanya ikut berbinar yang seperti milik Thomas.
“Merry Christmas, Thomas.”
Pemain piano techno yang terdiam sebentar, terpaku dengan bunyi detang Big Ben yang besar, kembali melanjutkan permainannya. Kali ini dia memainkan lagu-lagu Natal yang populer. Satu-dua melodi khas masuk ke dalam telinga, membuat orang-orang di Westminster Bridge mulai berjoget.
Suasana berubah menjadi lebih ceria.
Satu tahun berlalu.
Siang kala itu tampak mendung. Hujan mengguyur jantung Ibu Kota, membuat segala hal menjadi basah. Alunan melodi Clair de Lune yang terkenal di kalangan musisi klasik mengalun di dalam apartemen Thomas. Nadanya yang penuh romansa namun juga terkesan sedih, ketara dengan duka mengisi langit-langit.
Thomas sedang menikmati hari libur, mengisi waktu dengan bermain piano. Rambutnya tampak berantakan, seperti habis bangun tidur. Ia masih mengenakan baju tidurnya, sweatshirt abu-abu dan celana yang senada.
Jari-jarinya bergerak lincah, matanya fokus menatap layar tablet di depan, memperhatikan lembaran musik di sana. Irama musik karya Debussy itu membawa Thomas ke perjalanan masa lalu, mengingat kenangan yang dilalui bersama sekretarisnya di London setahun lalu. Membuat Thomas tersenyum kecil.
Tak terasa momen itu sudah berlalu setahun lalu lamanya. Thomas masih mengira kegiatan mereka berswafoto bersama di Westminster Bridge itu baru terjadi beberapa bulan lalu. Ia masih ingat makanan apa yang dipesan Maggie malam itu, tangannya yang mungil di dalam genggamannya terasa dingin karena hawa yang menusuk, hingga wajah memerah sekretarisnya itu ketika berdansa dengannya mengikuti irama dari lagu yang dari permainan piano techno. Kemudian, tawa Maggie.
Semuanya masih terekam jelas di dalam kepala Thomas.
Beberapa not dimainkan, perlahan alunan melodi mengecil. Jari-jari Thomas berhenti bergerak, dia selesai bermain. Ia menghembuskan napas. Sedikit terengah-engah akibat mengingat memori di London.
Thomas menoleh ke samping, tersenyum.
"Seperti itu cara bermain Clair de Lune, Mag. Kau harus gantian membayarku nanti. Aku menghabiskan waktu sebulan berkutat mengingat cara memainkan lagu ini." Thomas menyeringai, menatap Maggie. Perempuan itu tidak menjawab maupun bereaksi. Thomas mengambil tablet di depannya.
"Kau mau aku bermain karya siapa selanjutnya? Aku bosan memainkan karya Chopin terus akhir-akhir ini." Thomas mengusap layar tablet. Mencari lembaran musik dari komposer musik klasik lain. Jarinya mengetuk layar beberapa kali.
"Liebestraum karya Liszt. Hm, sudah lama aku tidak memainkan karyanya. Patut dicoba." Thomas mengembalikan tablet ke posisi semula. Membaca not balok sembari menekan tuts piano, mencari alunan melodi yang ditulis.
Sewaktu mendapatkan irama yang dicari, Thomas memperbaiki duduknya, duduk tegak. Jari-jarinya siap di atas tuts. Lalu, saat kunci pertama hendak dimainkan, suara nyaring pintu bel memecah fokus.
Thomas menoleh ke arah pintu. Siapa yang mengunjunginya di akhir pekan?
Kemudian, ia melihat jam. Pukul 1 siang. Matanya melebar. Ia baru teringat satu hal. Opa sudah janji akan mengunjunginya hari ini bersama Kadek. Thomas mengumpat dalam hati, tidak menyangka kakeknya itu akan benar-benar datang di tengah guyuran hujan seperti ini.
"Tunggu sebentar, Mag." Thomas berujar sebelum beranjak dari kursi, berjalan menuju pintu apartemen. Ia menghela napas sebelum membuka pintu. Berusaha memasang senyuman terbaiknya. Akhir-akhir ini pipinya terasa aneh saat melakukannya.
Opa dan Kadek berada di depannya ketika membuka pintu. Pria tua itu seperti biasa memasang senyum lembut ke Thomas seraya langsung memeluknya ketika pintu di buka. Kadek yang berada di belakang Opa menenteng rantang. Thomas mempersilakan keduanya masuk, walau perasaan buruk mulai menggantung di dada.
Dipandu Thomas, Kadek mengekorinya menuju dapur, menyiapkan makanan. Opa melangkah ke ruang santai. Duduk di sofa. Sesekali melihat keadaan apartemen cucunya.
Dari dapur Thomas melirik-lirik Opa sambil mengeluarkan beberapa piring dan diberikan ke Kadek. "Opa tidak lelah?" tanya Thomas.
Opa menggeleng, masih memperhatikan kondisi ruangan. "Aku pernah melewati masa-masa yang lebih buruk dari duduk manis di mobil selama satu jam, Thommi. Aku tidak lelah."
Buru-buru Thomas mengeluarkan makanan yang dibawa Kadek dari rantang. Aroma lezat dari bebek panggang menguar bersamaan dengan tumisan sayur. Kadek membawa piring yang sudah diisi makanan ke meja makan. Opa yang berada di sofa, beranjak dari duduknya tatkala pandangannya bersebobrok dengan piano yang dimainkan Thomas sebelumnya. Ia berjalan mendekati instrumen tersebut.
Melihat gerakan kakeknya, Thomas cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya. Menyerahkan urusan minuman ke Kadek, melangkah cepat menuju piano.
"Kau bermain piano lagi ternyata," ujar Opa. Jarinya menekan satu tuts piano, membuat instrumen itu berbunyi. Ia menoleh ke Thomas yang sudah berada di samping. Cucunya mengangguk, menelan ludah.
Opa kembali melihat piano, melirik ke atas samping piano. "Halo, Nona Maggie," sapanya. Ia tersenyum lembut. Thomas di samping Opa masih memperhatikan pria tua itu dengan gugup.
Opa mengambil tablet di atas piano, mengusapnya. "Liebestraum? Aku tidak terlalu mengenal karya musik klasik seperti papamu yang selalu menghabiskan waktu bermain dengan piano seakan itu saudaranya, tetapi kalau tidak salah dengar, Liszt terkenal dengan musiknya yang terinspirasi dari beberapa puisi, kan?"
Thomas menatap Opa ragu-ragu. Perasaan buruk di dadanya semakin membesar, namun ia tetap mengangguk.
"Kau tahu karya Liebestraum-nya terinspirasi dari puisi siapa?"
Thomas mengangguk sekali lagi. "Puisi 'Oh Cinta, Selama yang Kau Bisa' karya Ferdinand Freiligrath."
"Ah, lagu romantis melodrama ternyata." Opa tidak terlalu tahu banyak mengenai puisi dari luar negeri, namun cukup mendengar judul puisi Liebestraum sudah meyakinkannya kalau itu puisi yang terkesan sedih.
Opa meletakkan kembali tablet Thomas di atas piano. Menatap cucunya dengan lembut, menepuk pundaknya. "Ayo, kita santap bebek panggang yang lezat itu."
Mereka bertiga makan dengan kusyuk. Hujan yang masih berjatuhan di luar tidak mengurangi rasa hangat di dalam ruangan. Terlebih dengan masakan di siang hari ini.
Thomas yang pertama menyelesaikan makan. Ia beranjak dari kursinya, menyuci piringnya yang kotor lantas mengambil air mineral untuk dia minum, menegaknya habis dalam beberapa teguk. Ia berdiri di depan dispenser sebentar, menghela napas. Jantungnya berdetak tidak karuan. Keringat menggucur di pelipisnya. Perasaan tidak enak saat membukakan pintu untuk Kadek dan Opa masih ada di dadanya.
Opa yang masih menyantap daging bebek panggang memperhatikannya. Kadek ikut melirik Thomas, mengambil tumisan sayur lagi.
"Thommi."
Thomas tampak sedikit terperanjat. Ia menoleh. "Ya?" Wajahnya tampak sedikit cemas.
"Duduk disini kembali," perintah Opa.
Thomas terlihat ragu sebentar, namun tetap menuruti Opa. Ia duduk kembali di kursi setelah mengambil air mineral lagi. Matanya menatap taplak meja makan, merasa canggung menatap kakeknya.
Opa memberikan piring kotor ke Kadek, pemuda itu beranjak dari duduknya, pergi ke wastafel untuk cuci piring. Air mineral yang berada di samping Opa, diminum. Kemudian, momen yang Thomas harap tidak terjadi, datang. Perlahan, tidak langsung. Dia tahu Opa tidak akan bersikap to the point seperti dirinya.
"Bagaimana kabarmu, Nak?"
"Lumayan, liburanku berjalan sempurna walau bosan. Tidak ada yang mengganggu. Polisi-polisi juga tidak ada yang datang atau mengancam nyawaku."
Opa mengangguk-angguk. Kadek yang berada di dapur mendengarkan seksama.
"Bagaimana jadwal tidurmu?"
Thomas memilih memainkan renda telapak meja. Pertanyaan pertama yang dia harap tidak ditanyakan. Ia memilih jujur. "Kembali normal. Pekerjaanku tidak sepadat saat akhir tahun, jadi aku bisa tidur lebih cepat." Opa mengangguk kembali.
Lengang sejenak, Opa mencari pertanyaan lain.
"Kapan terakhir kali kau makan?"
"Barusan."
Opa tersenyum. "Kau tahu bukan itu yang aku maksud, Thommi."
Thomas ikut tersenyum, tampak memaksakan. Ia sedikit menggigit bibirnya. Sejenak, Thomas ragu menjawab pertanyaan itu. Tangannya masih memainkan renda telapak meja. Ia melirik ke luar jendela. Ia memilih jujur kembali.
"Dua hari lalu, tepatnya saat makan malam."
Opa mengangguk lagi. Orang tua itu masih tampak tenang. "Apa yang terjadi setelah itu?"
Thomas terdiam. Perasaan buruk semakin pekat di dadanya. Ia merasa susah untuk menelan ludah, napasnya terasa sesak tatkala mengingat apa yang terjadi setelah makan malamnya dua hari lalu. Perlahan dia menatap Opa yang masih setia menunggu jawabannya dengan wajah yang teduh.
"Aku bermimpi." Thomas menelan ludah, memotong kalimatnya sendiri. Jarinya menarik-narik kecil renda telapak meja.
"Ya?"
"Maggie mendatangiku."
Opa terdiam.
Bukan hal yang gila saat kau memimpikan seseorang ketika tidur. Bahkan dalam mimpi yang terkesan tabu sekalipun, hal lazim kau akan bertemu dengan seseorang di sana. Namun, ketika kau memimpikan seseorang yang sudah mati, pertanda apakah itu?
Kadek yang sedang mengelap tangannya, terhenti. Ia menoleh ke meja makan. Opa tampak terperangah dengan ucapan Thomas barusan. Ia kembali duduk, bergabung dengan Opa dan Thomas, walau dia tahu seharusnya dia tidak perlu ikut mendengarkan sesi pembicaraan. Namun, Opa pasti akan memaksanya untuk duduk kembali.
"Kau yakin itu Maggie?" Opa bertanya, memastikan. Karena Maggie yang disapanya tadi hanya berupa foto-foto yang diambil Thomas bersama sekretarisnya itu ketika berada di London setahun lalu. Cucunya itu membuatkan bingkai untuk foto-foto tersebut dan menaruhnya di atas piano. Perbincangan Thomas dengan Maggie tadi juga hanya obrolan tunggal saja, dia berbicara sendiri ke foto-foto itu.
"Tidak ada atasan selain diriku yang sangat mengenali sekretarisnya sehingga tidak mungkin aku tidak mengenalnya di mimpi sendiri. Dia benar-benar Maggie, sekretarisku. Bahkan di dalam mimpi sekalipun dia tetap terlihat cantik.” Thomas tersenyum kecil.
“Jangan khawatir, Opa. Aku belum gila." Walau terlihat berusaha tegar, tak bisa disangkal Opa tengah mengkhawatirkannya setengah mati. Dari tiga bulan lalu sorot mata kakeknya selalu begitu setiap kali melihatnya.
Opa mengerjapkan mata, mengangguk. Ia menghela napas, sedikit lega.
"Berapa kali kau bermimpi tentangnya sejak dua hari lalu itu?"
"Hanya malam itu saja, setelah makan malam." Thomas mengambil gelasnya, kembali meminum air. Tenggorokkan mendadak terasa kering.
"Kau mengobrol dengannya?"
Thomas meletakkan gelasnya yang kosong, menggeleng. "Dia hanya menatapku."
"Penuh emosi?"
Thomas menggeleng kembali. Terdiam sejenak sebelum menjawab dengan tatapan sedikit tak nyaman.
"Kosong, hampa. Benar-benar seperti orang mati." Mata Thomas yang terlihat tidak tidur selama dua hari mulai berkaca-kaca. Ia menggigit bibir, menahan sesak. Dari dua hari lalu, dirasa semakin susah untuk menelan ludah saat keinginan untuk menangis semakin mendobrak.
"Aku tidak suka cara dia menatapku di mimpi.” Thomas menatap keluar jendela, air mata kian mengumpul di kelopak matanya. “Tatapannya terlalu menyakitkan seolah dia menyalahkanku atas kematiannya," lanjutnya dengan setetes air mata jatuh ke tangannya tanpa seizinnya. Bibirnya menekuk. Bulir air mata kian membanjiri pipinya tak lama. Isak tangis perlahan mulai terdengar. Sebelah tangannya mulai menjambak rambutnya.
Opa diam, tidak bertanya lagi. Mendengar pengakuan dan ekspresi cucunya sudah cukup untuk mengetahui bagaimana kondisi Thomas sekarang. Dia kembali hancur. Opa menyuruh Kadek untuk mengambilkan Thomas minum kembali, dirinya berjalan mendekati cucunya yang tengah terisak. Thomas semakin menjambak rambut.
Satu tahun berlalu dan banyak hal yang terjadi. Banyak hal yang berubah. Waktu berjalan seperti biasa, tetapi tidak berhenti. Kau tidak bisa seenaknya memintanya untuk mundur ke belakang, membuatmu dapat mengubah sesuatu, atau maju ke depan, menjadikanmu bisa mengetahui apa yang akan terjadi kedepannya.
Dia seperti Tuhan, namun lebih kejam. Dia tidak akan memperdulikan tangisanmu, semua raungan penyesalan dan amarahmu. Dia tidak akan memperdulikan semua rasa gembiramu, menginginkannya untuk berhenti sesaat untuk selalu mengingat momen itu. Dia akan terus berjalan, tidak kenal lelah hingga Sang Pencipta siap menghancurkan alam semesta.
Seperti sekarang, Thomas menangis tersedu-sedu mengingat memori kelamnya yang terjadi tiga bulan lalu.
Tragedi kematian sekretarisnya, Maggie, yang ditembak di dada secara langsung di depan mata saat Thomas hendak menyelamatkannya dari Polisi Bintang Tiga.
Kejadian itu terjadi atas kecerobohan dan tingkah nekatnya. Penyamaran Thomas sebagai pengantar pizza gagal total ketika polisi yang berjaga mengenalinya dengan cepat.
Thomas menghela napas kasar. Kenangan buruk itu ternyata masih menghantui kepalanya.
Masih teringat jelas olehnya bagaimana Polisi-bangsat-Bintang Tiga itu menelponnya, menjadikan Maggie sebagai sandera dengan ancaman akan menembak kepalanya jika Thomas tidak datang sesuai tenggat waktu yang diberikan…. kemudian suara tembakan itu.
Suara tembakan yang Thomas harap tembakan itu mengenai Si Polisi daripada Maggie.
Semuanya terekam jelas di kepala Thomas.
Sudah tiga bulan berlalu namun, Thomas masih ingat begitu jelas bagaimana peluru itu melesat menuju Maggie, menembus dada sekretarisnya itu, hingga tubuhnya yang terjatuh ke lantai. Kritis. Polisi sialan itu mengubah titik tembaknya. Yang tadinya membidik kepala tetapi mengubah arah tembak, membuat Maggie merasakan rasa sakit sedikit lebih lama. Sedangkan, Thomas mati-matian berusaha membuka kunci cengkraman polisi di atasnya.
Sebuah keajaiban Rudi datang membantu. Menembak peluru bius ke dua polisi, membuat empat lainnya langsung menaruh perhatian ke Rudi dan segera Thomas melepaskan kunci cengkraman polisi di atasnya lalu ikut menghajar mereka, mengambil senjata mesin otomatis yang terlepas dari polisi itu. Terlambat sedetik saja, Thomas akan ikut dihabisi, peluru akan tertanam di kepalanya.
Tetapi, keajaiban tidak datang untuk Maggie. Perempuan itu kehabisan banyak darah. Ia meninggal di mobil yang dikendarai Rudi yang melaju ke rumah sakit, di pangkuan Julia. Tetapi, di detik terakhirnya, Maggie tetap menjalankan tugasnya sebagai sekretaris.
Tiket terbang Thomas ke Denpasar. Maggie memberinya ke Julia, mengkode perempuan itu untuk memeriksa kantong celananya sebelum menghela napas terakhir, yang diterima Julia dengan gelengan kepala sambil mencengkram tangan Maggie dengan erat dan air mata yang menyentuh pipinya. Gadis itu begitu yakin kalau Maggie bisa selamat, dia sangat yakin. Tapi, malaikat maut malah menjemput
Melepaskan cengkraman di rambut, Thomas mengangkat wajahnya, melihat ke luar jendela sembari Opa berada di sampingnya, mengelus pundaknya. Wajahnya tampak kusut, matanya mulai membengkak.
"Aku tidak bisa menyelamatkannya, Opa. Aku ceroboh, seharusnya aku bisa menyamar lebih baik. Andai bawahan polisi bangsat itu tidak cepat mengenaliku, andai aku memiliki rencana lebih matang, Maggie tidak perlu merasakan rasa sakit itu. Andai peluru itu yang mengenaiku dan bukannya Maggie. Aku belum bisa memaafkan diriku walau orang tua Maggie sudah memaafkanku. Seharusnya aku yang mati, Opa." katanya dengan suara sengau setengah parau.
Opa menepuk-nepuk pundak Thomas. Dia mengerti, dia juga masih ingat raut wajah Thomas setelah memenangkan pertarungan. Raut wajahnya penuh dengan kekecewaan, Thomas kecewa besar terhadap dirinya. Pria itu kecewa terhadap bayaran yang harus dibayar untuk mendapat kemenangan. Karena hal tersebut mengingatkannya terhadap pertanyaan Maggie tahun lalu di Westminster Bridge.
Apakah ada hal yang tidak bisa kau lakukan?
Ya, ada.
Thomas melihat bingkai foto di atas piano. Menatap fotonya dengan Maggie yang tersenyum. Semua kebahagiaan dari memori tersebut menghilang seketika saat mengingat tragedi 3 bulan lalu.
Thomas terisak lagi, setitik air mata meluncur di pipinya. "Maafkan aku, Maggie."
