Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Collections:
Faye's Writing Commission
Stats:
Published:
2023-09-26
Words:
2,180
Chapters:
1/1
Kudos:
22
Hits:
189

Forever is a Long Time

Summary:

Cyno berusaha untuk tidak jatuh terlalu dalam. Ia akan pergi saat hubungan mereka menginjak tiga bulan, karena ia tak ingin ditinggalkan. Tetapi Tighnari tak pernah berhenti berusaha meluluhkannya.

Dan tiga bulan menjadi tiga tahun. Tiga tahun menjadi selamanya.

Notes:

this is work of commission for @aurewus!

Work Text:

“Dengan demikian, kuliah hari ini saya akhiri. Sampai jumpa pekan depan.”

Kalimat dari dosen mata kuliah Kimia Nuklir tadi menjadi tanda penghujung perkuliahan. Seluruh mahasiswa tak lagi membuang waktu di kelas dan membereskan barangnya untuk keluar. Cyno sedikit terlambat, ia masih menyalin tulisan di papan tulis ke buku catatan. Ia lirik jam dinding di kelas, mengedikkan bahu, lalu lanjut menggerakkan pulpen di atas permukaan kertas.

“No, gak pulang?”

Cyno tak sempat menoleh namun ia tahu suara Gorou yang baru saja bertanya. “’Tar,” jawabnya singkat. Ia mengabaikan Gorou yang berpamitan dan keluar dari kelas. Satu per satu mahasiswa meninggalkannya, hingga tersisa ia seorang diri.

Cyno melirik pada jam dinding di samping kelas lagi. Ia selesai tepat sepuluh menit setelah kelas usai, dan menghela nafas. Ia belum ingin beranjak, sekalipun kelas itu adalah perkuliahan terakhir hari ini. Ia menimbang pilihan untuk tetap di kelas, agar dapat membuat alasan bahwa ia terlambat keluar, atau berjalan cepat tanpa ketahuan. Tapi rasanya sia-sia. Ia pasti sudah ditunggu di depan gedung fakultas sejak sepuluh menit lalu—tiga puluh menit lebih awal, bahkan—dan ia tak mungkin bisa menghindar. Notifikasi di ponselnya sudah membludak dengan chat dari seseorang.

Pemuda itu mendesah panjang. Perutnya sudah keroncongan, dan tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk diisi sebungkus nasi lauk dari Warteg Bu Minah. Dengan langkah gontai, ia pun berjalan untuk pulang. Ditekannya tombol G pada lift untuk segera mengantarnya turun ke lantai dasar.

Begitu pintu terbuka, dugaannya benar. Bahkan dari jauh, ia bisa melihat figur seseorang berambut gelap seleher yang ia hindari dari jauh. Sosok itu tengah berbincang dengan teman sekelasnya, si jenius berambut pirang, Albedo. Keduanya tampak mengobrol dengan akrab, dan bagi Cyno, ini kesempatan bagus untuk menghindar.

Tapi ia terlambat. Sosok itu telanjur berbalik, dan figur Cyno masuk dalam jarak pandangnya. Pemuda itu melambaikan tangan seraya meneriakkan namanya, “Cyno! Di sini!” Tanpa Cyno tunggu, pemuda itu pamit dan berjalan ke arahnya. Ia menghela nafas lagi.

“Kok tumben lama?” Tanpa Cyno persilakan, tangannya sudah dirangkul mesra oleh pemuda itu. Lebih tepat jika disebut pacar, bernama Tighnari. Cyno tidak terlalu peduli dengan status itu, dan hanya berpikir untuk pulang.

“Dosennya lama,” jawab Cyno tak acuh.

“Tapi tadi aku lihat Gorou keluar duluan, kok.”

“Kamu salah lihat.” Tanpa peduli, ia percepat langkah kaki. Tighnari baru saja membuka mulut untuk membalas, namun kelabakan dengan percepatan langkah Cyno.

“Ih buru-buru amat!”

Tighnari berusaha menyamakan langkahnya dan menabrak bahu Cyno.

“Minggu depan sibuk?”

“Mau apa?”

“Kamu lupakah? Minggu depan kan kamu ulang tahun.”

Dan, apa urusannya denganmu? Cyno hampir saja melontarkan kata-kata itu, namun ia urungkan agar Tighnari tak menceramahinya panjang.

“Aku mau belajar untuk UAS.”

“Sebentar aja, mau ketemu gak? Aku ada sesuatu buat kamu.”

“Lihat gimana nanti,” adalah jawaban dari Cyno.

“Gak mau tau. Aku tunggu kamu di Taman Kota jam sebelas, hari Minggu. Bye!” Tighnari berlalu meninggalkan Cyno yang menghela napas.

___

 

Seharusnya, Cyno merasa bersalah dengan sikap dinginnya pada Tighnari. Tetapi, ia menyingkirkan rasa bersalah itu dalam benaknya, masih berpegang pada prinsipnya sejak awal: ia tak boleh jatuh terlalu dalam. Tidak pernah ada yang bertahan lebih dari tiga bulan bersamanya, dan ia pastikan selama tiga bulan itu, tak akan ada yang bertahan.

Cyno tidak ingat bagaimana perasaan itu bermula. Yang ia tahu, suatu kejadian menjadi cetak biru dari prinsip itu. Sebuah perasaan di mana ia ditinggalkan lebih dulu, dibiarkan dalam keadaan terluka, tanpa dipedulikan siapa pun. Ia hanyalah ‘pengisi waktu luang’ bagi orang itu.

Sejak itu, ia memandang urusan percintaan dengan sama, hanya alat untuk ‘menghabiskan waktu luang’. Berkebalikan dengan pemahaman seluruh orang di dunia, mungkin. Hubungan pacaran tak perlu perasaan mendalam, karena perasaan itu hanya akan pudar. Jadi, ia tidak perlu mengucap janji kosong untuk bersama ‘selamanya’.

Tighnari, pacarnya saat ini, juga ia anggap sama. Ia agak unik, salah satu yang berani mengungkapkan perasaannya dengan terus terang, tidak memberikan kode-kode bagi Cyno. Awalnya ia bilang tak berharap lebih, ia hanya ingin mengungkapkan perasaannya. Namun Cyno menawarkan lebih. Ia tak bisa berbohong, ia punya ketertarikan pada mahasiswa Jurusan Farmasi itu. Sudah lama sejak terakhir ia punya hubungan romantis dengan seseorang.

Tak ada salahnya kan, menjalankan hubungan untuk pengisi waktu luang?

Bagi Cyno, Tighnari seperti itu. Ia harap Tighnari memandangnya sama.

__

 

Hari Minggu tiba. Tanggal 23 Juni terpampang di kalender meja. Cyno membisukan notifikasi ponselnya, sibuk bermain Valorant seharian, tidak seperti alasannya tempo hari. Ia anggap, jika ia menunjukan ketidakpedulian, Tighnari akan menyerah. Semoga ia menyerah.

Hujan deras turun jam dua siang. Ponselnya berdering, dengan nama Tighnari terpampang di layar. Ia berniat untuk membiarkan hingga dering berhenti, namun Tighnari terlalu keras kepala. Hanya sekali itu saja Cyno akan mengangkat, agar Tighnari terdiam.

Di mana?”

“Di rumah.”

Tighnari mendengus dari seberang sana. Ada suara hujan yang menjadi latar belakangnya.

Kamu bener-bener gak akan datang, ya?”

Cyno mengangkat alis. Ia sudah jelas tak peduli saat Tighnari membuat janji sepihak. Ia tidak menyangka bahwa Tighnari benar-benar menunggunya.

Tighnari menghela napas, agak panjang kali ini. “Kamu ini bisa kan, minimal kabarin aku kalau kamu lagi ada urusan lain? Bisa kan, gak biarin aku nunggu lama-lama dan kehujanan?

“Aku gak menyanggupi dari awal.”

Beberapa detik diisi keheningan. Tighnari mendesah lagi. “Aku selalu mencoba, No. Aku tahu kamu mungkin gak ngerasain apa yang aku rasain, tapi waktu kamu terima perasaanku, aku pakai itu sebagai kesempatan biar kamu bisa luluh. Tapi entahlah, kayaknya semua gak berguna di mata kamu. Mungkin sebaiknya aku nyerah aja.”

Telepon ditutup. Cyno memandang ponselnya kosong, lalu beralih pada jendela dengan kilat petir di luar.

___

 

Sejak hari itu, Tighnari tidak bisa dihubungi. Sesuatu yang tidak biasa dari Tighnari yang biasanya membuat ponselnya berisik dengan notifikasi. Kadang, bukan saja menanyakan kabar, Tighnari sering menceritakan tentang apa yang ia alami dengan melekatkan sebuah foto. Tiba-tiba semuanya berhenti.

Ini seharusnya kesempatan bagus, agar hubungannya dengan Tighnari segera selesai. Tapi, Cyno tidak suka dengan perasaan mengganjal di hatinya. Ada rasa takut yang ganjil, membuatnya gelisah. Ia berkali-kali memandang ruang obrolannya dengan Tighnari, berharap satu bubble tiba-tiba muncul. Minimal, tulisan ‘mengetik…’ di bawah namanya.

Nihil. Pesan terakhir pada ruang obrolan itu hanyalah ‘Panggilan Tak Terjawab’ di hari Tighnari meneleponnya.

___

 

Di hari ketiga Tighnari menghilang, ia coba mencari tahu dari teman-teman Tighnari. Collei, Nilou, dan lainnya memandangnya dengan tatapan aneh.

Collei memberikan senyum canggung. “Harusnya, kalau sakitnya gak parah, sih. Hari ini sudah masuk.”

Mata Nilou membulat, lalu menyikut rusuk Collei. “Hari ini ada surat dokter dari Tighnari.”

Collei membelalak. Lalu beralih memandang Cyno. “Ya, hehe. Maaf, aku juga baru tahu.”

“Dirawat di mana?”

“Dekat kok. RS Dar al-Shifa.”

Cyno mengangguk, mengucap terima kasih, meninggalkan Collei dan Nilou yang saling berpandangan. Setengah jam kemudian, setelah melewati administrasi rumah sakit, ia pun sampai di kamar tempat Tighnari dirawat.

Tighnari, dengan selang infus di punggung tangan, membulatkan matanya. Sendok yang hampir menyuapkan bubur ke mulutnya terhenti di udara.

___

 

Pertemuan mereka di bangsal rumah sakit berawal canggung. Tapi, Tighnari adalah Tighnari; ia sendiri yang akan memecah kesunyian dan bercerita tentang hal-hal paling random di kesehariannya. Bahkan, dengan menghabiskan waktu di rumah sakit, ceritanya tak juga kunjung habis.

Cyno hanya menyimak. Ia yang semula risih, kini rindu dengan celotehan Tighnari, sekalipun ia tak ingin mengakuinya. Diam-diam, ia menikmati momen saat bibir Tighnari tak berhenti bergerak, dan suara itu kembali terdengar telinganya.

Tighnari akhirnya berhenti. Ia melihat ke arah jendela, dan menghembuskan napas cukup panjang.

“Kamu tahu gak, No? Kamu pacar pertamaku.”

Cyno menaikkan alisnya, namun tetap memasang wajah datar. Informasi itu datang tanpa aba-aba.

Tighnari menggaruk pelipisnya canggung. “Aneh gak sih, haha. Udah lebih dari dua puluh tapi baru pacaran sekarang?”

“Gak aneh,” Cyno hanya menyahut singkat. Tighnari lanjut berbicara.

“Biasanya aku bilang ke semua orang, kalau aku sibuk dengan kegiatan sekolah dan akademis. Tapi alasan sebenarnya adalah, sekali memendam perasaan untuk seseorang, aku bisa bertahan sampai beberapa tahun. Sayangnya, semuanya cuma bertepuk sebelah tangan.”

Ini pertama kalinya Tighnari membahas tentang ini. Cyno, tanpa sadar, mencondongkan badannya ke depan.

“Paling lama berapa tahun?”

“Hmm… Enam tahun? Sejak aku kelas tujuh SMP sampai aku lulus SMA, haha.”

Bagi hitungan Cyno, waktu enam tahun adalah sangat lama. Ia salut, namun juga penasaran, bagaimana bisa ia bertahan dalam enam tahun? Tapi ia malah melontarkan pertanyaan lain.

“Dan akhirnya?”

Bibir Tighnari membentuk senyum datar. Ibu jarinya bermain-main dengan tepian selimut. “Sebenarnya… dari awal, aku udah ditolak. Tapi perasaan ini masih ada walaupun udah ditolak, dan aku keras kepala. Tapi akhirnya, orang yang aku suka itu pergi jauh dan punya kehidupan baru dengan pacarnya. Momen itu jadi momen terburukku. Belum lagi, dekat-dekat ujian perguruan tinggi, haha. Aku beruntung aku masih bisa masuk perguruan tinggi tahun ini sekalipun dalam kondisi paling buruk.”

Rasa penasaran Cyno semakin dalam mendengar jawaban Tighnari. “Kenapa kamu gak menyerah dari awal saja?”

Tighnari mengedikkan bahu. “Aku sudah coba menyerah dari awal, kok. Berkali-kali, No. Tapi entahlah, perasaan gak bisa dipaksain. Mungkin saat itu belum waktunya.”

Cyno menyunggingkan senyum tipis, dan menggelengkan kepalanya. Senyum yang membuat jantung Tighnari berhenti sedetik. “Kamu gak takut sakit hati?”

Tighnari terkekeh. “Aku lebih takut menyesal gak coba dulu.”

Dalam benaknya, Cyno berpikir, betapa beruntungnya orang yang dicintai oleh Tighnari selama itu. Enam tahun dengan penolakan, namun tetap dianggap penting dan layak untuk diperjuangkan.

Dalam mulutnya, ada getir yang tercecap. Membayangkan bagaimana jika orang tersebut akhirnya luluh dengan Tighnari, mungkin mereka akan jadi pasangan paling bahagia. Cyno tak suka pikiran itu; membayangkan Tighnari memberikan cintanya pada orang lain, selain dirinya.

___

 

Penanda bahwa hubungan mereka akan berusia tiga bulan, tinggal tiga hari lagi.

Cyno menunggu momen ini sekian lama, namun saat mendekati tanggal tiga puluh di bulan itu, ia menjadi gamang. Ia tahu apa yang ia harus lakukan: memutuskan Tighnari agar hubungan keduanya tak semakin larut. Ia harus, namun di sisi lain hatinya, ia tak mau.

Hari itu, Tighnari memintanya untuk menemaninya ke kebun binatang. Ia ingin lihat beruang madu, katanya. Cyno menurutinya. Dengan pikiran penuh dilema, ia pun menunggu di gerbang kebun binatang.

Tighnari terlambat tiga menit dari janjinya. Namun saat ia muncul di pelupuk mata, Cyno berhenti bernapas. Tighnari memakai sweater kuning, terusan overall, dan bucket hat berwarna krem melambai ke arahnya. Sinar mataharinya yang panas menyengat berubah menjadi halo di sekitarnya.

Cyno banyak diam hari itu, namun matanya tak lepas dari Tighnari. Ia tak ingat apa pun, kecuali satu kalimat dari Tighnari.

“Kamu tahu? Perasaan tidak bisa dikalkulasi dengan waktu. Ia bisa saja hilang lebih cepat atau lambat, kamu juga gak akan tahu.”

Tighnari menyodorkan wortel ke mulut kancil dari balik kandang besi.

“Selagi momen itu ada, kenapa gak dinikmati aja?”

Cyno tercekat di tempat. Sampai mereka pulang, tak ia ucapkan kata putus itu, hingga esok, esok, dan esok harinya.

___

 

Tighnari bertahan lebih lama dari dugaan Cyno. Tiga bulan berubah menjadi tiga tahun. Presensi Tighnari menjadi biasa saja, seperti rutinitas yang ia lakukan setiap pagi. Terasa biasa, namun saat tak ada, semuanya berubah total.

Di tahun terakhir perkuliahan mereka, Tighnari sidang duluan. Ia menangis selama enam menit di pelukan Cyno saat sidang telah usai.

Kini, giliran Cyno yang merasa gelisah. Di malam sebelum wisuda, Tighnari berkata, “Habis wisuda, kayaknya aku mau pulang ke kampung halamanku.”

“Lalu?”

“Magang di kantor pemerintah? Gak tahu. Orang tuaku sudah kode agar aku berkenalan dengan anak koleganya, sih.”

Cyno menyesap kola di tangannya dengan alis tertekuk. “Mereka gak tahu tentang kamu dan aku?”

“Gak pernah mau tahu.” Tighnari mengunyah keripik kentang dengan asal. Ia kemudian menghela napas panjang. “Kayaknya berat ya, LDR-an. Aku gak tahu bisa kuat atau nggak, sih. Kamu tahu kan aku se-clingy apa? Kamu bakal kangen gak kalau kita jauh?”

Cyno tidak menjawab. Ia tak mau memikirkan jawaban itu.

___

 

Cyno tak berkata apa-apa tentang datang ke wisuda Tighnari, namun di sinilah ia.

Basah kuyup, dilewati keluarga para wisudawan yang berlalu lalang, mencari Tighnari di kerumunan.

Di tangannya tergenggam karangan bunga yang ia pilih hati-hati. Namun karena hujan, bunga itu basah dan berantakan. Sudah tak lagi berbentuk megah.

Ia pun menangkap presensi orang yang ia cari. Tighnari memakai toga, dengan kedua tangan penuh dengan karangan bunga, berfoto dengan mama dan papanya. Senyumnya berseri, seakan-akan jadi mentari, tak peduli hujan deras di luar gedung.

Sesi foto selesai, dan Tighnari pun menangkap figur Cyno dalam penglihatannya. Ia melambaikan tangan dan berlari menuju Cyno.

“Cyno!”

Bibir Cyno bergetar karena kedinginan. Jaketnya masih berat dan basah, namun ia tetap berlari, menghambur ke dalam pelukan Tighnari. Saat itulah, ia bisa mengartikulasikan perasaan gelisah kemarin malam menjadi kata-kata.

Ia tidak ingin meninggalkan Tighnari, atau ditinggalkan oleh Tighnari. Jika pelukan itu bisa membuat Tighnari tetap tinggal, ia akan memeluknya seerat mungkin. Untuk sekali saja, ia ingin membekukan momen dan melupakan waktu yang berdetak.

“No, toga aku basah! Aku lupa gak bawa baju ganti. Duh.”

Segalanya berjalan cepat di sekitar mereka, namun juga terasa lambat bagi Cyno. Tighnari berhenti menggeliat dalam pelukannya, dan mulai memegang jaket Cyno untuk membalas pelukan.

Setelah beberapa saat, ia melepas pelukan, memandang Tighnari dengan lekat.

“Aku tahu kamu se-clingy apa. Aku tahu kamu gak bisa lepas. Aku gak akan bilang bakal kangen, karena aku gak mau melepas kamu gitu aja.”

Tighnari tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

“Kalau begitu, ayo kita coba terus, sampai selamanya.”

Saat itu adalah pertama kali Tighnari lihat Cyno tersenyum lebar.

“Selamanya itu waktu yang lama. Tapi kalau itu sama kamu, ayo kita coba.”