Work Text:
Kalimat terakhir sebuah artikel majalah kesehatan berbunyi: alarm yang paling bagus tidak lain berasal dari mekanisme tubuhmu sendiri.
Sebagian besar orang mempercayai itu, lebih tepatnya tersugesti. Pun Hitoya, bagian dalam tubuh memang berhasil membangunkannya… walaupun melalui rasa sakit.
Film tengah malam tidak selamanya buruk, buktinya mereka mampu membuat Hitoya agar terjaga. Perhatiannya terserap layar kaca, ia merasakan adrenalin yang mengalir dari bahu hingga punggung. Terlalu seru, terlalu larut. Akibatnya Hitoya terlambat masuk kamar, dengan mata terkantuk-kantuk ia membuka selimut yang sudah mengembung diisi oleh seseorang. Hitoya berbisik, mengucap kalimat selamat malam. Hanya suara dengkur halus yang terdengar. Hitoya pun memejamkan mata, tak peduli jika bantalan kepala terlalu tinggi, pinggangnya membentuk garis diagonal dan satu kakinya menekuk ke dalam serupa angka empat.
Selamat pagi, alarm yang diatur pun berdering. Denyut keras tiba-tiba timbul dari pangkal leher hingga pinggangnya. Rasa nyeri itu seolah mengakar pada bagian belakang tubuhnya. Hitoya menepuk-nepuk leher agar sakitnya tak merambat ke kepala. Namun, terlambat. Denyut keras begitu cepat hinggap di kedua pelipis, Hitoya coba usir dengan memijatnya. Ketidakseimbangan antara kepala dan kaki menyebabkan langkahnya sempoyongan bak orang mabuk. Omong-omong saat bangun Hitoya mendapati ranjang telah kosong, dan itu cukup untuk jadi petunjuk pertama. Bagus, sekarang ia tahu harus ke mana.
Ketika membuka pintu belakang, Hitoya disambut angin segar, dedaunan menghijau cerah dan kupu-kupu terbang menyapa bunga. Tak membutuhkan waktu lama untuk menemukan yang Hitoya cari, dia sedang duduk bersila di atas lantai dingin, menaruh kedua telapak tangan di masing-masing lutut, dan memejamkan mata. Rambut panjangnya tergulung tinggi, titik embun keringat menyelimuti leher, menikmati salam matahari. Hitoya sedikit menyesal, harusnya dia tidak mengganggu sesi damai pria itu.
Jinguji Jakurai perlahan membuka mata, lalu tersenyum. Hitoya menganggap senyum Jakurai sama hangatnya dengan matahari, sama-sama dapat membuat wajahnya memerah sesaat. Rasa nyeri itu membuat otak Hitoya gagal berpikir jernih, bibirnya ingin mengucap selamat pagi tetapi yang keluar malah, ‘Apa kau sudah sarapan?’
Dokter itu tertawa lalu menggeleng. Jakurai bangun tanpa menimbulkan suara, semakin mendekati Hitoya semakin ia memahami situasi. Hitoya berkata bahwa akan membuat sarapan setelah minum obat pereda nyeri otot atau… (ide konyol yang masuk akal) Jakurai bisa menggunakan hypnosis microphone untuk menyembuhkannya.
Akan tetapi Jakurai tidak menuruti keduanya.
Sambil melewati Hitoya, Jakurai berkata belakangan ini lututnya sakit karena selalu menekuk ketika tidur.
Jadi, bukan obat atau mikrofon yang mereka butuhkan,
Melainkan tempat tidur baru.
Perjalanan terasa lebih cepat dari kedipan mata. Berbekal perkataan Jakurai yang menilai ranjang termasuk aset-jangka-panjang, Hitoya akhirnya setuju. Kendati percaya pada pacarnya, Hitoya menolak untuk menunggu di luar. Ia harus ikut menyalurkan suara demi kepentingan bersama –terdengar terlalu serius untuk sekadar memilih ranjang.
Tidak berlebihan, aspek terpenting adalah ukurannya harus besar. Sempat berdebat mengenai bahan yang digunakan, pilihan mereka jatuh pada kasur pegas spiral, paling umum. Hitoya yang memilih latex (berbahan alami dan anti bakteri) akhirnya kalah karena keterbatasan ukuran. Ditambah, Jakurai bilang kalau tingkat keempukan busa tepat, kasur jenis pegas spiral bisa menopang tulang punggung lebih baik.
Baiklah, mereka sudah sepakat. Proses pengiriman dipilih yang tercepat, transaksi pun selesai.
Dengan dua tangan yang saling bertaut, mereka berjalan ke lain sudut. Peritel perabotan dan furniture itu cukup lengkap, Hitoya menunjuk salah satu kabinet dapur yang dipamerkan, berniat untuk memperbarui tata letak dapur mereka, dan Jakurai mengangguk sebagai jawaban. Jakurai sangat percaya karena Hitoya selalu berhasil menyeimbangkan selera perabotan rumah dengan baik. Ia tak perlu takut kehilangan seleranya sendiri.
Tepat di sudut aksesori laundry, tautan tangan mereka terlepas. Hitoya tiba-tiba berhenti, Jakurai sontak menoleh bingung. Ekspresi Hitoya seperti campuran antara melihat hantu dan menahan diare, Jakurai bertanya keadaannya dan dia menjawab ingin menunggu di mobil saja; mengkhianati keputusan awal.
‘Eh? Kenapa?’ pertanyaan itu tergambar jelas di wajah Jakurai.
Nada Hitoya tersendat-sendat saat berkilah, seakan kemampuannya sebagai pengacara menghilang. Pokoknya ia harus pergi dari sana. Tanpa menunggu jawaban Jakurai, Hitoya pun berjalan cepat ke jejeran perabotan besar, berjingkat sambil sembunyi-sembunyi. Jakurai berdiri memandangi pacarnya yang bertingkah aneh.
Selang beberapa detik, Jakurai mendengar namanya dipanggil. Saat mengalihkan pandangan, ada dua orang laki-laki berlari kecil ke arahnya. Mereka menyapa Jakurai hampir bersamaan.
Jakurai lantas menutup mulutnya, tertawa pelan. Akhirnya dia tahu siapa yang Hitoya hindari.
Mereka adalah Hifumi dan Doppo –anggota Matenrou yang sedang membawa pan dan spatula.
“Apa kita terlihat payah?” tanya Hitoya sesampainya mereka di mobil, duduk, dan menikmati es krim vanila.
“Hanya karena dua pria berusia hampir 40 tahun memakan es krim vanila bukan berarti mereka payah,” jawab Jakurai membuka dasbor mobil.
“Apa aku terlihat payah?” pertanyaan Hitoya membuat Jakurai diam sesaat, kemudian menoleh.
“Iya,” terdengar helaan napas gusar dari pengacara, “Kenapa kau melarikan diri? Apa kau takut pada Doppo dan Hifumi?” tanya dokter itu tersenyum tipis.
“Ada dua hal penting di sini. Pertama, aku tidak mau mereka tahu,” Hitoya menunjuk Jakurai, “kedua, aku mencoba menyelamatkanmu dari pertanyaan menjebak.”
“Bukankah itu sudah jadi tugasmu, Hitoya? Seharusnya kau ada di sana, membelaku,” Jakurai tidak bisa menahan tawa. Ia tak menyangka Hitoya memilih gaya berpacaran secara diam-diam. Pertarungan rap kedua memang sudah berlalu, tetapi sepertinya Hitoya masih melihat sekat antara Jakurai dan dirinya. Secara formalitas, pastinya.
“Oh, sekarang aku—hey, apa itu?” Hitoya menunjuk kemasan natto yang dipegang Jakurai.
“Mereka tidak menjual varian ini, jadi aku membuatnya sendiri."
“Sejak kapan ada di sana?”
“Cukup lama. Aku selalu punya persediaan darurat, tahu.”
“Astaga, aku akan berpura-pura tidak mendengarnya,” Hitoya memilih melempar pandangan keluar jendela, lekas menghabiskan es krim.
“Apa rencanamu berikutnya?” Hitoya bertanya saat kudapannya habis.
Jakurai hanya menggeleng pelan, “Tidak ada.”
“Bagaimana kalau malam ini—”
“Aku ikut,” sambar Jakurai kemudian. Hitoya terkejut, ‘Cepat sekali’, katanya dalam hati.
“Baiklah. Sudah kuputuskan, agenda hari ini adalah malas-malasan sambil menonton film.”
“Tumben kau ingin bermalas-malasan,” Jakurai seolah tak bosan untuk menggoda pacarnya.
“Aku hanya memanfaatkan hari libur yang singkat, Jakurai-sensei.”
“Ah, begitu ya.”
“Aku tidak tahan, di mana obat pereda nyeri ototnya?” kini giliran Hitoya yang mengobrak-abrik dasbor.
“Aku akan memberimu setiba di rumah,” jawabnya selesai dengan es krim dan memakai sabuk pengaman. Hitoya pun mengikutinya.
“Mengemudilah dengan hati-hati.”
“Tenang saja, aku bisa diandalkan.”
“Aku tidak mempercayaimu.”
“Aku juga mencintaimu.”
-The End-
