Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 9 of September Scribble
Stats:
Published:
2023-09-09
Words:
403
Chapters:
1/1
Kudos:
3
Bookmarks:
1
Hits:
60

If you feel nothing, then why are you shaking?

Summary:

TIAP-TIAP yang berjiwa akan merasakan MATI.

Work Text:

ㅤㅤ𝑨𝑲𝑼 𝑴𝑨𝑺𝑰𝑯 𝑰𝑵𝑮𝑰𝑵 𝑯𝑰𝑫𝑼𝑷!

BACA! Bacalah kisah tentang AL-QAMAH. Dia yang lidahnya kelu dan terikat; dia dengan kebaktian yang sebabkan keresahan.

OLEH شمس الدين الذهبي adalah 70 DOSA besar: SYIRIK, membunuh, s i h i r—enam puluh tujuh lagi dan terus berlanjut, total tujuh puluh alasan untuk terbakar di dalam rumah tak bertuan itu, dan tidak satu pun kau hiraukan. Tidak. satu. pun.

{78} أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkanmu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. [4:78]

ㅤㅤTAPI—aku masih ingin hidup!

DARI غشم الر سداد adalah penutup KISAH tentang ▇▇▇▇▇: mata semerah bongkahan rubi, dengan cincin ular melingkar di jemari tengah, dan mahkota terbuat dari kawat berduri menusuk pelipis. Adalah dia (𝙰 𝙲 𝙸 𝙽 𝚃 𝚈 𝙰), dengan hati terbakar dan amarah melahap badan. Adalah dia, yang menjual waras demi SEGALA.

Apakah kamu tahu, betapa dinginnya tangan mereka? MEREKA, mereka yang tengah bergantung di ujung jurang kehidupan? MEREKA, mereka dengan MALAIKAT [berwajah EMPAT] di samping kanan ranjang mereka.

Apakah kamu tahu, betapa kuat cengkraman mereka? MEREKA, mereka yang bergetar hebat dengan mulut mereka terkunci (lidahnya kelu dan terikat!). MEREKA, mereka dengan keringat membasahi seluruh telapak tangan. Di sela-sela hebatnya goncangan itu, salah satu dari mereka menarik sang ▇▇▇▇▇, ACINTYA, dekat ke wajah mereka. Pucat pasi dan hilang sudah kilat yang semula tersorot dari kedua bola mata itu, dan dengan terbata-bata, mereka berbisik:

ㅤㅤAKU masih ingin hidup!

Maka, digenggamlah tangan mereka dengan lebih erat, dan didekatkannya bibir ke telinga mereka. Kemudian, ACINTYA berbisik:

ㅤㅤtidakkah kau INGAT?
ㅤㅤhari itu—ketika guru
ㅤㅤkita menghembuskan napas
ㅤㅤterakhirnya, kau berkata
ㅤㅤpadaku:

ㅤㅤ"mengapa TUHAN selalu
ㅤㅤmengambil orang-orang
ㅤㅤbaik terlebih dahulu?"

ㅤㅤtidakkah kau INGAT?
ㅤㅤtangannya dingin
ㅤㅤdan bergetar
ㅤㅤseperti sekujur badanmu,
ㅤㅤseakan dirinya terbakar.

ㅤㅤterbata-bata ucapannya
ㅤㅤketika dia menarikmu dekat,
ㅤㅤdan dengan seadanya
ㅤㅤdia mengucap syahadat.

ㅤㅤkau dan aku—kita berdua tidak
ㅤㅤpernah percaya akan mitos.
ㅤㅤmitos-mitos tentang kematian,
ㅤㅤdan bagaimana "TUHAN menyayangi
ㅤㅤhamba-NYA terlalu BESAR, DIA
ㅤㅤtidak rela melihat mereka
ㅤㅤtersiksa di dunia ini!"

ㅤㅤkau dan aku—kita berdua tidak
ㅤㅤpernah percaya akan mitos.
ㅤㅤdan kebohongan—kebohongan
ㅤㅤseharusnya tidak pernah
ㅤㅤada dalam amalan (kita).

ㅤㅤ(katakan padaku. katakan padaku
ㅤㅤbahwa kau takut.
ㅤㅤbahwa dalam momen ini,
ㅤㅤkau teringat akan tujuh puluh
ㅤㅤdosa besar yang tidak pernah
ㅤㅤkau hiraukan!)

ㅤㅤNAMUN, apabila mitos-mitos
ㅤㅤitu ternyata benar, maka
ㅤㅤ'kan kupastikan padamu:

ㅤㅤkau 'kan hidup.

ㅤㅤsatu, dua,
ㅤㅤseratus tiga tahun lagi—

ㅤㅤkau 'kan hidup
ㅤㅤㅤㅤselama-lamanya.

 

page-148

page-148

page-150

ending

Series this work belongs to: