Work Text:
Megumi pikir dirinya sudah gila.
Ia dan Nobara berjalan beriringan, menjauh dari tempat mereka berhasil mengeksorsis kutukan untuk kedua kalinya di tengah hari yang terik ini, meninggalkan sisa busuk tidak terlihat untuk dibersihkan oleh asisten manajer penyihir jujutsu yang bertugas.
Nobara di sebelahnya berjalan dengan tangan memegang palu dan paku yang ia pakai sebelumnya sambil mengerang kecil. Ada tiga kali tarikan napas lelah sebelum gadis itu meraih tas kecil yang menggantung di pinggangnya, membuka kancing tas tersebut lalu memasukkan alat-alat yang memenuhi tangannya tadi dengan asal.
Kepala Nobara mendongak ke atas, menatap Megumi yang 15 senti lebih tinggi dari dirinya. "Semuanya betulan sudah beres, 'kan?" tanyanya skeptis. Otaknya memutar memori dua jam yang lalu, saat dua kutukan yang mereka duga berkelas lebih tinggi dari yang seharusnya mereka lawan tiba-tiba muncul dan menyerang dari balik pepohonan besar di tengah taman yang terbengkalai. Beruntung mereka berada di sana berdua, dan dengan sinkronasi hebat hasil berbulan-bulan berlatih bersama, mereka berhasil mengalahkan kutukan dengan wujud katak raksasa menjijikkan yang membuat Nobara bergidik ngeri itu hingga tuntas.
"Ya," jawab Megumi sekenanya. Ia menoleh sedikit dan melihat dari balik pundaknya untuk memastikan semuanya sudah selesai. Pandangannya ia alihkan pada si gadis berambut pendek itu lagi, yang sekarang sedang membuat gestur mencekik dengan kedua tangannya sambil memekik kecil, "Aku bersumpah tidak akan bertemu dengan katak atau kodok manapun lagi di dunia ini! Mereka menjijikkan!" dan sebagainya, mengabaikan fakta bahwa teknik kutukan yang Megumi, rekannya kali ini, miliki ialah pemanggilan shikigami berbentuk hewan, salah satunya katak.
Namun, itu sama sekali tidak membuat Megumi merasa tersinggung. Yang menjadi masalahnya sekarang adalah Megumi yakin bahwa dirinya sudah gila saat netra gelapnya menatap tangan Nobara, yang masih membentuk gestur mencekik, lebih lama dari yang ia harapkan. Matanya melihat bagaimana matahari siang menggantung tinggi di langit, menyoroti wajah Nobara dengan cahayanya yang terik dan membuat dahi si gadis membentuk kerutan sebal tanda ia terganggu oleh sinar sang mentari. Rambut pendeknya yang berwarna jahe terlihat seperti helai-helai emas yang bersinar, meninggalkan jejak halus imajiner bak debu peri dari film kekanakan yang pernah Yuuji tonton. Megumi akui gadis itu memang cantik dari awal mereka bertemu, tapi setelah lama menghabiskan waktu bersama, ia merasa Nobara sangat cantik. Kecantikannya menguar dalam setiap geraknya, membentuk suatu harmoni yang memesona dengan karakternya yang kuat. Dirinya berdiri kukuh dengan berani dan indah, tidak tersembunyi dalam bayang-bayang pertempuran dan misi-misi mereka. Karena gadis itu adalah sang mawar liar, yang tumbuh berduri dan cantik di manapun ia berada.
Ada perasaan menggelitik dari dalam perut, atau dada, atau diafragma—Megumi bahkan tidak paham dari mana sensasi menggelikan itu muncul. Terlebih lagi alasannya karena matanya kembali melihat kedua tangan Nobara yang sekarang terangkat untuk si gadis regangkan. Muncul pertanyaan aneh di dalam benaknya; bagaimana kira-kira rasanya menggengam kedua tangan milik si gadis?
Lelaki itu sekarang menatap kedua tangannya sendiri lalu kembali pada tangan si gadis, kemudian berpikir, mungkin tangan Nobara yang lebih kecil akan tepat menghilang dalam dekapan satu tangannya jika ia berhasil menggenggamnya. Mungkin tangan Megumi akan merasakan bukti nyata sulitnya menjadi seorang penyihir jujutsu —tidak peduli mereka seorang pria atau wanita — pada telapak tangan milik Nobara yang bisa saja terasa kasar dan memiliki bekas luka. Mungkin tangan si gadis berambut warna jahe itu akan lebih halus dari yang ia bayangkan, menimbang bahwa ada banyak produk kecantikan wajah dan tubuh di dalam tas belanja yang Megumi bawa dalam perjalanan pulangnya bersama Nobara dari pusat perbelanjaan beberapa minggu lalu. Atau mungkin semua perkiraannya salah, dan semuanya hanya akan terjawab saat ia merasakannya langsung tanpa membuat tebakan dengan dasar yang membuat dirinya kalut tanpa alasan.
Ini seperti bukan dirinya. Bahkan gurunya dengan label 'yang terkuat' sering mengomel soal mental block yang kerap menahan dirinya sendiri untuk berkembang, berkata bahwa Megumi harus lebih terbuka dengan segala kemungkinan yang ada dan sesekali mengambil langkah yang egois.
Mungkin ini yang gurunya sebut dengan egois. Sekarang, semua kemungkinan yang muncul di otaknya membuat kepalanya gatal, rasa ingin tahunya meminta untuk disuapi agar jawabannya muncul tepat di depan mata. Momen di mana Megumi merasa sangat amat yakin bahwa dirinya benar-benar sudah gila tiba saat tangan kanannya menyentuh lembut sisi luar tangan kiri Nobara yang kini menggantung bebas di sebelahnya, memberi rasa penasarannya sebuah bendera kemenangan saat ia membuang semua kalkulasi dan hipotesis dalam kepalanya seraya berkata, "Hey, boleh kalau aku memegang tanganmu?"
Perasaan menggelitik dari dalam perutnya - akhirnya ia dapat merasakan lebih jelas sumbernya dari mana —sekarang naik ke dada, membuncah bersamaan dengan degup jantung yang berdetak lebih cepat saat Nobara menoleh pada Megumi, menampakkan ekspresinya yang terkejut lalu berubah menjadi senyum percaya diri dengan cepat. Kemudian, tangan si gadis yang lebih mungil menangkap tangan Megumi dan menggenggamnya dengan erat bahkan sebelum lelaki itu sempat bergerak.
"Heh, aku sudah menunggu 10 menit untuk mendengarmu berkata itu," ucap Nobara, bibirnya mengoles senyuman miring. "Aku sudah tahu dari awal! Gerak-gerikmu dari tadi sangat terbaca, tahu. Kau suka padaku, 'kan?!"
Megumi merasa bahwa tangannya sedikit berkeringat sekarang, tapi ia tidak peduli dan tidak berusaha melepaskan kesempatan yang ada sekarang untuk memberi makan rasa penasarannya yang mengganggu. Maka dari itu, yang ia lakukan selanjutnya adalah mempererat genggaman antara kedua tangan mereka. Kini ia telah berhasil merasakan tangan Nobara yang benar lebih kecil dibanding tangannya, tetapi ternyata lebih lembut dari yang ia perkirakan, juga lebih hangat daripada tangannya yang entah mengapa terasa dingin di tengah hari yang panas. Ia berhasil memberi makan semua rasa penasarannya dengan jawaban manis nan nyaman yang bahkan tidak dapat otaknya bayangkan satu menit lalu.
Dan ia sekarang paham apa maksud dari rasa kalut yang berputar-putar dalam benaknya, saat asumsi-asumsi yang timbul berdasar pada momen-momen yang Megumi telah habiskan bersama satu-satunya rekan perempuan kelas satu yang ia miliki adalah bahwa dia telah menemukan satu lagi orang yang dapat mengisi hidupnya. Hanya satu jawaban yang keluar saat ia merasa rela jika harus terperangkap dalam rasa takjub tidak berujung atas karakter Nobara yang diam-diam Megumi selalu cermati, dan siap untuk mengetahui hal-hal yang belum pernah ia ketahui bersama si gadis —menikmati lebih banyak momen yang mereka tulis dalam dunia mereka berdua bersama.
"Yah … Iya," jawabnya, tangan kirinya yang bebas bergerak untuk menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mungkin ini jawaban egois pertama yang bisa ia lontarkan; menghancurkan dinding tipis di antara mereka dan berlari untuk mengejar sesuatu yang terdengar lebih elok dibanding dengan frasa 'hanya berteman'. Lantas Megumi membuka mulutnya lagi, melanjutkan dengan yakin, "Kurasa begitu."
Lalu, semua tensi yang entah sejak kapan menyelimuti mereka berdua luntur, berganti dengan keheningan nyaman yang merinai mengiringi dua pasang langkah kaki yang bergerak menjauhi area pepohonan. Di sebelah Megumi, Nobara bergumam kecil, tanpa menciptakan reaksi heboh darinya yang sudah Megumi perhitungkan — yang ia dapat malah figur si gadis yang membuang muka ke arah kanan, telinga kirinya yang terselip rambut terlihat memerah.
Anehnya, itu semua sudah menjadi jawaban yang cukup untuk Megumi.
Megumi yakin Nitta menatap mereka kebingungan saat mereka berdua sampai di pagar penghalang tempat mobil manajer terparkir, dengan tangan masih saling menggengam dan rona merah di pipi keduanya.
