Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of affogato
Stats:
Published:
2023-10-03
Words:
2,382
Chapters:
1/1
Comments:
13
Kudos:
46
Bookmarks:
2
Hits:
668

Cream: unplanned scheme

Summary:

Seungkwan selalu penasaran bagaimana rasanya sebuah ciuman, di bibir, dengan orang yang ia cintai. Yang manis atau yang memabukkan, ia akan terima apapun itu bentuknya.

"Nu, kamu pernah ciuman?"

Sekarang Seungkwan sudah punya kekasih, umurnya pun sudah cukup, seharusnya tidak ada alasan yang bisa lebih logis lagi, ‘kan?

Tapi pacarnya justru membalas dengan ekspresi aneh yang ketara. "Ngomong apa sih?"

Notes:

mau membuktikan kalo user kunciperak itu BISA bikin fluff.

haloo~ another wonboo with a different dynamic~ aku ga tau apakah ini termasuknya series, lebih ke kumcerpen sih sebenernya. super ringan almost no conflict, so yep.

semoga suka <3

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

Seungkwan selalu penasaran bagaimana rasanya sebuah ciuman. Bukan, bukan ciuman hangat di kening seperti rasa sayang yang enggan diucapkan. Bukan juga ciuman di pipi yang datang dan perginya lebih singkat dari ucapan selamat tinggal. Tapi ciuman di bibir, yang biasanya dilakukan sepasang kekasih di atas sebuah pernyataan, atau mungkin juga bisa dikatakan sebagai simbol dari kenyataan.

You are gorgeous,

I've been longing for you,

It's been so long since we last met,

Atau jutaan perasaan lainnya yang mungkin belum pernah Seungkwan rasakan sebelumnya di usia yang masih tergolong muda ini.

Kalau boleh ditarik ke garis awal, rasa penasaran itu sebenarnya datang setelah Vernon, sahabatnya sejak kecil, secara tak sengaja mengatakan bahwa ia mencium pacarnya di taman dekat sekolah. Seungkwan ingat betul waktu itu ia masih SMA kelas dua. Jadi fakta bahwa teman seumurannya sudah mendapatkan ciuman pertama cukup membuatnya terkejut.

"Gimana rasanya?"

Kedua bahu Vernon terangkat acuh. "Biasa aja."

There's no way Vernon is right. Kedua alis Seungkwan terpaut menyatu, matanya memicing. “Ga mungkin.”

“Apanya ga mungkin?”

“Ga mungkin biasa aja.”

Vernon mengangkat kedua bahunya sekali lagi. “Lah, ya udah kalo ga percaya.”

Seungkwan memang tidak percaya. Adegan-adegan ciuman yang ada pada setiap film yang ia tonton selama ini selalu meninggalkan suatu kesan tersendiri kepadanya. Seperti ada percikan, dan hangat, dan lembut, dan juga solid. Tidak mungkin “biasa aja”.

Ia ingat kalau langkah kakinya saat itu meninggalkan satu pertanyaan besar sepulangnya ia dari rumah Vernon. Andai ada seseorang yang sudah cukup dewasa yang bisa ia tanyakan perihal ini. Orang dewasa dan sudah punya pengalaman sebelumnya.

“Kenapa coba itu pulang-pulang cemberut?” Itu suara abangnya, Bang Seungcheol, dari sofa yang ia duduki sembari nonton TV. Umurnya sudah kepala dua, masih kuliah dan sedang dalam proses mengerjakan skripsi yang tidak kunjung selesai. Meskipun begitu, Bang Seungcheol sudah bekerja, sudah punya pacar juga. Abang pernah bilang kalau ia mau serius dengan hubungannya yang satu in– wait.

“Bang.” Kepala Seungkwan menoleh cepat, matanya membulat besar seperti ada bohlam lampu yang tiba-tiba mengisi tempurung otaknya. “Abang udah pernah ciuman belom?”

“Uda– hah apaan?”

“Ciuman sama pacar abang itu. Udah pernah, ya?”

Seungcheol mengernyit kesal. Ia tahu benar kalau adiknya ini lebih sering mendahulukan mulutnya ketimbang otaknya, tapi pertanyaan satu itu benar-benar di luar kebiasaan. “Urusan apa lo sama aktivitas pacaran gue?”

Seungkwan melangkah mendekat untuk kemudian duduk di sebelah Seungcheol. Bibirnya mengerucut lucu dilengkapi dengan bola matanya yang menampilkan rasa penasaran besar. “Rasanya gimana? Deg-degan atau engga? Sampe basah atau kecupan bia– aduh!”

Satu pukulan bantal mengenai kepala Seungkwan. "Anak SMA belajar aja sana, ngapain cium-ciuman."

Lihat, ‘kan? Tidak ada yang mengerti. Akhirnya rasa penasaran itu ia pupuk dalam-dalam dan berharap ada yang memahaminya ketika ia dewasa kelak. Tentunya dengan seseorang yang tepat.

“Seungkwan,” panggil Wonwoo. 

Ah, benar, Wonwoo adalah pacarnya. Tiga tahun sejak insiden Seungcheol menimpuknya dengan bantal, satu tahun sejak ia diterima kuliah di salah satu universitas di kotanya, Seungkwan mendapatkan pacar seorang kakak kelas bernama Wonwoo. Cute, right?

“Kenapa senyum-senyum gitu? Makalah kamu sudah selesai?”

Seungkwan mengangguk. Mereka berjanji untuk menghabiskan waktu berdua di rumah Seungkwan sembari mengerjakan tugas kuliah masing-masing seselesainya kegiatan perkuliahan hari ini. Seperti sebutan orang-orang itu… apa namanya? Study date? Ya begitulah kira-kira.

"Kalau gitu tunggu, ya, sebentar lagi aku selesai."

Ia mengangguk sekali lagi dan kemudian mengunci rapat mulutnya tepat ketika pandangan Wonwoo kembali sibuk ke layar laptop. Kedua tangannya menumpu dagu pada meja pendek tempatnya dan Wonwoo lesehan di lantai. Matanya lurus memandangi wajah sang pacar yang terlihat sangat serius.

How… to describe Wonwoo?

Wonwoo tampan, jelas, tanpa bantahan. Matanya bisa begitu foxy, tapi berubah lovely pada detik berikutnya. Hidungnya bisa mengerut lucu setiap kali ia tertawa pada hal-hal yang menurutnya lucu. Bibirnya memiliki porsi yang seimbang dengan tipis pada bagian atas dan tebal di bagian bawah. Merah muda, ranum, seperti ada yang pernah merasakannya… bagaimana rasanya….

"Nu."

"Hm?"

"Kamu pernah ciuman?"

Wonwoo menoleh dan hening seketika. Tidak ada kata yang keluar dari Wonwoo, juga tidak ada kata yang keluar dari Seungkwan. Mereka saling menatap satu sama lain dengan kebingungan masing-masing. Yang satu bingung atas apa yang baru saja ia dengar, yang lainnya bingung atas apa yang baru saja ia katakan.

"Ngomong apa sih?"

"Eum…." Seungkwan menggaruk pelipisnya. "Tiba-tiba aja mau tau."

"Di dunia ini pasti ada sebab akibat, Seungkwan. Ga mungkin kamu tiba-tiba mau tau, pasti ada pemantiknya. Kenapa kamu tiba-tiba mau tau kalau aku udah pernah dicium atau belum? Dan ‘dicium’ di sini tuh dalam konteks apa? Cium di jidat? Udah, sama Nenek. Cium di pipi? Udah, sama Mama."

Oke, itu berlebihan. "Jadi udah?"

"Aku baru jawab hipotesis aku sendiri, belum benar-benar jawab pertanyaan yang kamu maksud, dapat kesimpulan dari mana?"

Seungkwan berdengus. That's not fair, ia hanya ingin tahu. Kenapa Wonwoo menganggap semua hal butuh alasan? "Soalnya aku mau tau rasanya ciuman di bibir."

Kedua alis milik pria di depannya menyatu. Ia menegakkan tubuhnya dan menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Hubungannya sama aku apa?"

Serius? Itu pertanyaan Wonwoo? "Soalnya kamu pacar aku."

"Apa status kita yang pacaran ini akan mengubah sesuatu soal kamu yang mau merasakan ciuman? Aku rasa eng–"

"Wonwoo, aku mau kita ciuman!"

Yep, that's how you communicate with Wonwoo. Singkat, lugas, langsung ke intinya. Pacarnya tidak pandai dalam mencari maksud-maksud terselubung dari sebaris kalimat ambigu meski dikaruniai otak cerdas. Ia masih sering penasaran kenapa.

Seungkwan menggeser tubuhnya untuk lebih dekat dengan Wonwoo. Cukup dekat tapi ia tetap memberikan jarak di antara mereka. “Aku udah putusin kalo aku mau ngerasain ciuman pertamaku sama kamu.”

“Kamu… yakin?”

Seungkwan mengangguk tanpa ragu. "Sekali aja, setelah itu kamu boleh lupain. Dan kalau kamu ga suka, aku ga akan minta lagi."

Ugh, Seungkwan, stop terdengar putus asa. Tapi masalahnya ia memang putus asa. Ada rasa kecil di hatinya yang mengatakan kalau ia mungkin akan menyesal jika memberikan pengalaman first kiss-nya ke orang lain dan bukannya Wonwoo. Mungkin Wonwoo tidak sempurna, tapi setidaknya pacarnya itu orang baik. And if, somehow, their kiss turns out to be awful, at least he knows that it's not Wonwoo's fault.

"Oke. Ayo ci… ciuman, tapi–" Wonwoo menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka. Memang selalu begitu, keluarga Seungkwan melarang mereka untuk menutup pintu jika ingin bermain di kamar. "Jangan lama-lama, nanti ketahuan." Dan Seungkwan setuju.

Oh, Tuhan, kenapa pula Seungkwan baru gugup sekarang? Ke mana perginya keberanian yang hinggap di tubuhnya beberapa menit yang lalu? Ia dapat merasakan jantungnya berdegup sangat cepat, ujung-ujung jarinya seketika kehilangan hangatnya, bahkan bibirnya bergerak gelisah tipis-tipis.

Semakin dekat. Ada hembusan napas Wonwoo yang menyambut napasnya, tapi apa yang harus ia lakukan setelah itu? Berdasarkan film yang Seungkwan tonton, biasanya dua tokoh utama pada detik ini akan disorot sedemikian dekat. Menggambarkan keintiman dan rasa ingin. Well, damn, he's done it already.

Apalagi, apalagi… oh! apakah Seungkwan harus menutup mata? Benar, tutup mata. Akan awkward rasanya mencium seseorang dengan mata terbuka kecuali kau tidak mencintai orang tersebut.

Oke… sedikit lagi….

"Tunggu," kata Wonwoo tiba-tiba, "barusan aku minum kopi… ga apa-apa?"

Ah, iya… mereka berdua habis minum kopi. Apakah rasa kopi di lidah mereka akan menjadi masalah? Ugh, kenapa banyak sekali yang harus dipikirkan? Apakah berciuman selalu serumit ini?

"Eum…," Seungkwan menggumam dengan suara yang sangat kecil, tapi Wonwoo bisa mendengar itu dengan jelas karena jarak wajah mereka yang masih sangat dekat. "Mungkin ga apa-apa, Nu."

Wonwoo membasahi kerongkongannya. Seungkwan lihat, dan entah bagaimana bisa gugup yang Wonwoo rasakan saat ini menjalar menular kepada dirinya. Ia sudah gugup sejak tadi, tapi sekarang ditumpuk bersamaan dengan milik pacarnya.

Man up, Seungkwan.

And… it’s finally there. Bibirnya di atas bibir Wonwoo. Menempel tanpa jarak dengan manis. Seungkwan hampir melepaskan cekatan napasnya begitu sentuhan itu terjadi.

Jika ia boleh jujur, rasanya… tidak seperti apa-apa. Satu gambaran yang paling mendekati adalah ketika bibir yang terkatup rapat bersentuhan dengan kulit tubuh bagian lain. Bedanya lebih hangat dan… lembut? Apakah itu kata yang tepat untuk mendeskripsikan bibir Wonwoo?

Seungkwan memutuskan untuk mengisi kebingungannya dengan menggerakkan bibirnya. Hanya gerakan-gerakan kecil, seperti mengecup bibir Wonwoo tapi tidak memutus jarak mereka sama sekali. Ada banyak sensasi asing yang tiba-tiba muncul di seluruh tubuhnya saat ini, seperti bulu kuduknya yang berdiri, jari-jarinya yang melipat gelisah, atau perutnya yang mengerut karena kehabisan napas. Anehnya, Seungkwan tidak mau mengakhiri semua itu segera.

Wonwoo juga melakukan gerakan yang sama. Aneh, benar-benar aneh, hanya dengan satu perubahan itu bisa membuat Seungkwan merasa diinginkan. Mungkin ini yang orang-orang maksud sebagai “membalas ciuman”? Mungkin sekarang mereka bisa bergerak lebih dal–

“Seungkwan!”

Ciuman itu langsung terlepas begitu suara Seungcheol terdengar dari anak tangga. Seungkwan buru-buru menjauh dan mengambil buku apapun yang ada di atas meja, sedangkan Wonwoo bergerak cepat pura-pura sedang mengetik sesuatu di laptopnya. Hanya beberapa detik kemudian, Seungcheol muncul dengan pakaian rapi.

“Woi, gue mau keluar sekalian beli makan malem. Mau nitip ga?” 

“Boleh,” jawab Seungkwan. Suaranya melengking dengan sedikit serak, buru-buru ia berdehem sebelum kembali bersuara, “apa aja.”

Satu alis Seungcheol terangkat heran. Insting tajam abangnya jelas sekali merasakan ada sesuatu yang tidak beres barusan. Seungkwan membalas tatapan curiga Seungcheol, memasang ekspresi apapun yang ia pikir mampu mengusir kecurigaan itu.

“Wonwoo.”

Si pemilik nama terlonjak kaget sebelum menoleh. “Iya, Bang?”

“Mau nitip, ga?”

“Euh….” Ujung mata Wonwoo melirik Seungkwan yang ada di sebelahnya, seperti meminta bantuan. Tapi pria yang satunya lagi bahkan tidak sanggup untuk berdiri tegak lurus. “Ga usah deh, Bang.”

“Serius? Ga makan malem di sini aja?”

“Engga, Bang, nanti aja kalau sudah sampai kosan.”

Seungcheol mengangguk. Meskipun begitu, matanya sempat memicing curiga untuk beberapa saat sebelum akhirnya berkata, “ya udah. Kalo panas nyalain aja AC-nya. Mukanya sampe pada merah gitu.”

Oh, crap.

Tangan Seungkwan langsung menyambar remot AC di atas kasur. Tidak tahu kenapa, tidak ada kewajiban untuk menuruti kalimat abangnya tapi hanya itu yang terdengar logis sekarang.

Ada hembusan napas lega dari keduanya tepat setelah terdengar suara pintu depan yang dikunci dan gerbang yang ditutup. Satu telapak Seungkwan ia taruh di atas dada untuk merasakan debaran jantung di sana. That was harder than any cardio exercises, ever.

Tidak ada yang berkata apapun setelah itu. Seungkwan tidak tahu apa yang sedang Wonwoo lakukan saat ini karena arah pandangnya enggan beranjak dari buku yang masih ia pura-pura baca. Gosh, this is worse than when Seungcheol came in. Haruskah ia mengatakan sesuatu? Tapi apa? Soal apa? Soal ciuman mereka barusan? Dan Seungkwan akan mengatakan apa perihal itu? Kalau ia menikmatinya? Puft, jangan harap. 

Ia menggigit bibir bawahnya tepat ketika merasakan ada sensasi menggelitik di sana. Sensasi itu tiba-tiba datang seperti hendak menjadi pengingat soal sentuhannya dengan Wonwoo beberapa menit yang lalu. Sentuhan yang sepertinya sama-sama mereka nikmati. Benar, sepertinya, karena Seungkwan tidak mau terlalu percaya diri.

Butuh beberapa menit bagi Seungkwan untuk akhirnya memberanikan diri melirik ke arah si pacar. Ia tidak menyangka kalau pandangan Wonwoo sudah berada pada dirinya ketika mata mereka bertemu. Sejak kapan? Kenapa Seungkwan tidak sadar?

"Jadi?"

Huh?

“Gimana rasanya?

Seungkwan tidak segera membalas, pandangannya matanya kembali ke arah buku-buku di atas meja. Jari-jarinya memainkan ujung lembar kertas buku tanpa tujuan yang jelas. Ia tidak mengerti bagaimana Wonwoo bisa menanyakan hal itu dengan santai. Setelah semua efek yang ia rasakan dari ciuman barusan, harusnya Wonwoo juga merasakannya, ‘kan?

"...oke,” bisik Seungkwan pelan.

Detik berikutnya yang ia rasakan adalah dua jari Wonwoo yang menyentuh dagunya untuk membalas tatapan laki-laki itu. Tangannya yang satu lagi menghentikan permainan jari Seungkwan, meminta seluruh perhatian Seungkwan untuk jatuh kepadanya. Serbuan degup jantungnya bergemuruh tak karuan ketika pandangnya dengan Wonwoo kembali bertemu. 

"Cuma 'oke'?"

“Emang mau gimana?” Bibir Seungkwan mengerucut. “Emang kamu ngerasainnya gimana?”

Seungkwan bertanya-tanya kenapa Wonwoo banyak menuntutnya hari ini. Sedari tadi ia mencoba untuk merangkai segelumat kata yang ada di otaknya, tapi sekeras apapun usahanya, kata-kata itu tidak mau tersusun dengan benar. 

“Aku… ga tau.”

Dan mungkin mereka memang harus menerima fakta bahwa tidak ada satupun dari mereka yang punya jawabannya, setidaknya untuk saat ini. Tapi Seungkwan dan Wonwoo masih banyak waktu untuk mencari tahu, jadi… mungkin akan lebih baik untuk tidak terburu-buru.

"Mungkin kita harus lakuin lebih sering sampai kita tau kesimpulannya?"

Mata Wonwoo mengerjap beberapa kali. Laki-laki itu melihat Seungkwan seperti ia baru saja mendengar ide paling cemerlang yang pernah ada.

Ia mengangguk setuju kemudian berkata, "mungkin, iya. Otak kamu lagi melepaskan endorfin dan karena itu kamu merasakan yang namanya antusiasme– well… bisa jadi kamu merasa antusias, aku ga tau apa yang lagi kamu rasain sekarang, kamu belum kasih tau aku. Tapi balik lagi ke endorfin, itu hormon yang otak manusia lepaskan setelah melakukan aktivitas tertentu, seperti olahraga, meditasi, tertawa, atau hubungan seksual–ciuman masuk ke arah sana, kayaknya. Dan endorfin ini melepaskan euforia, ada hubungannya juga sama dopamin yang merangsang perasaan ketagihan. Jadi, wajar kalau kamu merasa ketagihan setelah ciuman barusan, itu cuma cara otak manusia bekerja. Ga perlu malu."

Ini… serius ga sih?

Seungkwan terpana. Wonwoo and his way of thinking sometimes can be so… odd. Siapa sangka permintaan implisitnya untuk mengulang ciuman mereka justru menjadi pemaparan singkat soal hormon manusia? Tapi kemudian Seungkwan terkekeh. Jelas Wonwoo yang seperti ini yang membuatnya jatuh cinta sejak awal. 

Dan entah mengapa gagasan bahwa Wonwoo tidak menolak kemungkinan adanya ciuman-ciuman mereka yang lain membuat perutnya tergelitik. Mungkin memang terdengar berbeda dari apa yang biasa orang lain lakukan, tapi begitulah cara Wonwoo mengungkapkan pikirannya yang begitu tebal.

"Jadi… kita ciuman lagi?" tanya Wonwoo hati-hati

Seungkwan tersenyum. "Kamu maunya gimana? Endorfin di otak kamu bilang apa?"

Wonwoo terdiam. Lidahnya membasahi sela di antara kedua bibirnya ketika kedua mata pria itu menatap bibir Seungkwan. Oh tentu, tentu Seungkwan melihat semua gerakan tipis itu.

"Boleh? Aku boleh cium kamu lagi?"

Anggukan sebagai jawaban, tak butuh dua kali berpikir bagi tangan Wonwoo untuk membawa tubuh Seungkwan mendekat, menuntunnya untuk duduk di pangkuan. Yang lain menyetujui tanpa ada perlawanan, menaruh telapak tangannya di kedua sisi pipi Wonwoo. Memberikan kiasan jangan menjauh sekaligus mempersempit jarak mereka. Ibu jarinya mengusap rahang tajam Wonwoo dengan guratan halus yang hangat. Agaknya penyesalan datang sedikit terlambat karena kenapa pula ia harus menolak Seungkwan tadi jika kenyamanan seperti ini yang akan ia dapatkan?

"Kayaknya emang harus kamu," bisik Seungkwan di antara tarikan napas mereka.

"Apanya?"

Tapi pria itu hanya tersenyum kemudian menggelengkan kepala. Menyimpan segala pikirannya untuk dirinya sendiri dan enggan berbagi kepada Wonwoo. Tepat seperti apa yang Seungkwan selalu lakukan, tapi hal terindah dari fakta itu adalah Wonwoo selalu tidak pernah keberatan. Karena ia tahu, cepat atau lambat pacarnya pada akhirnya akan suka rela berbagi apapun dengannya, apapun itu, kapanpun itu. Ia hanya perlu siap menerima dengan kedua lengan yang terbuka.

 

Notes:

gitu deh. just a classic first kiss short story.

Series this work belongs to: