Work Text:
Mereka… pacaran?
Mungkin itu yang ada di kepala sebagian orang ketika melihat dua sejoli dengan kepribadian yang berbeda menjadi sepasang kekasih. Entah sudah berapa banyak Seungkwan menyaksikan tatapan heran dari orang-orang terdekatnya yang mengetahui bahwa ia memiliki pacar seorang Wonwoo. Hah? adalah respons yang paling sering muncul pertama kali, disusul dengan dua mata yang membesar dan dua kata yang diucapkan dengan agak melengking: kok bisa?
Untungnya, Seungkwan tidak terlalu mementingkan itu. Biasanya jawaban Seungkwan hanya akan berupa kedua bahu yang terangkat atau tawa tipis basa-basi. Ia akui, apa yang ia dan Wonwoo punya memang bukan sesuatu yang lumrah dijumpai. Wonwoo adalah mahasiswa Geografi sedangkan Seungkwan berada di jurusan Pariwisata, pola pikir Wonwoo berlandaskan pada hukum pasti sedangkan Seungkwan bekerja dengan hati, Wonwoo lebih suka martabak telur sedangkan Seungkwan lebih suka terang bulan. Jadi… agaknya wajar jika kebanyakan orang menilai mereka tidak cocok dari sekali lihat.
Terus, kok bisa sampai pacaran?
“Ada yang namanya takdir.” Itu yang selalu Seungkwan percayai selama ini. Takdir, satu kata magis itu yang ia yakini sebagai pemersatu dirinya dan Wonwoo. Bahkan sejak pertama kali mereka berjumpa.
Semua bermula pada momen ujian akhir semester pertama. Seperti sudah menjadi budaya di kampusnya–atau mungkin kampus lain juga–gedung fakultas yang ia tempati untuk belajar akan terasa lebih hectic sesaat kalender akademik menyatakan berlangsungnya pekan UAS. Semua mahasiswa terlihat lebih kalut, wajah kusam bercampur tegang dan letih yang ketara. Puluhan pasang kaki yang melangkah di koridor-koridor kampus menjadi dua kali lipat lebih cepat demi mengejar apapun penyebab dan tujuannya.
Termasuk Seungkwan di jam 10 pagi itu, tidak sekali ia harus menyalip mahasiswa lain di depannya yang menurutnya berjalan terlalu lambat di lorong. Jelas ada yang harus ia kejar pagi ini: kelas kosong. Sebagai PJ mata kuliah Komunikasi Publik yang baik, Seungkwan harus memastikan kalau ruang belajar yang sudah Bapak Admin jurusannya tandai sebagai kelas angkatan Seungkwan belajar tidak akan diserobot oleh mahasiswa lain. Sasaran Seungkwan adalah ruang kelas favorit seantero gedung fakultas: Ruang 107.
Untungnya, usaha Seungkwan pagi itu berhasil. Ruangan itu masih kosong, ia dan teman-temannya bisa mengerjakan UAS dengan tenang. Khusus untuk Seungkwan, rasanya terlalu tenang. Mungkin karena mata kuliah ini adalah salah satu materi kesukaannya dari keseluruhan mata kuliah di semester pertama. Dan ada rasa lega yang menjalar di seluruh dadanya ketika kesepuluh soal esai sudah ia selesai kerjakan sebelum tenggat waktu ujian habis.
Seungkwan menoleh ke arah teman-temannya. Kedua bola matanya bergerak menjalari seluruh kelas, banyak dari isi kelas yang masih serius mengerjakan soal, ada yang sudah tenang dan membalas tatapan Seungkwan, satu orang di pojok kelas tengah tertidur dengan kepala yang tertutup kertas soal. Seketika mata Seungkwan langsung melirik jarum jam di depan, sepuluh menit lagi. Ada baiknya untuk mengecek jawaban sebelum waktu ujian selesai.
UU No. 11 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan
Kedua alis Seungkwan terangkat naik ketika ia tidak sengaja membaca beberapa baris kata samar yang tertulis di atas meja lipat yang ia tempati. Seseorang menulis catatan kecil di pojok atas permukaan meja dengan gurat tipis, seperti menggunakan pensil kalau dilihat dari warna coretannya. Tapi karena permukaan meja lipat berwarna putih, setiap kata pada catatan itu masih terlihat cukup jelas untuk bisa ditangkap kedua matanya.
Kedua mata Seungkwan menelusuri kelanjutan dari kalimat itu, di bawahnya tertulis nomor satu sampai enam yang berurut. Di samping masing-masing nomor ada satu kalimat singkat yang setidaknya terdiri dari dua sampai tiga kata kunci. Meskipun terlihat tidak ditulis dengan lengkap, Seungkwan yang hafal di luar kepala langsung bisa mengetahui bahwa poin-poin itu adalah isi dari pasal 1 di dalam undang-undang terkait.
Seungkwan mengambil pensil mekanik dari tempat pensilnya. Jari-jarinya mengambil posisi menulis di dekat judul undang-undang itu. Detik berikutnya pensil mekanik yang ia pegang membuat pola melingkar pada frasa “No. 11”, kemudian menarik garis tanda panah yang menunjuk ke atas.
bukan no. 11 tapi no. 10
Sudah Seungkwan bilang kan kalau ia hafal di luar kepala? Siapapun yang menulis sontekan ini salah mengingat nomor undang-undang soal kepariwisataan. Hanya satu kesalahan kecil yang sangat fatal karena bisa jadi UU No. 11 tahun 2009 tidak sama sekali membicarakan soal pariwisata.
Untuk sejenak, ia merasa puas dengan apa yang ia lakukan barusan, tapi kemudian senyumnya luntur seketika. Mungkin koreksi yang ia tulis pun percuma karena siapapun yang menulis catatan itu kemungkinan besar berasal dari pengisi ruangan ini sebelumnya, yang mana artinya waktu UAS mereka sudah selesai sejak beberapa jam yang lalu.
“Waktu habis. PJ, tolong kumpulkan semua kertas jawaban dan kertas soal, ya.”
Fokus Seungkwan dari sontekan kecil di atas meja seketika terpecah ketika Pak Dosen memberikan titah kepadanya. Tubuhnya langsung beranjak dari tempat duduk dan mematuhi apa yang telah diperintahkan.
Satu tes selesai, masih ada tiga lagi dan dua tugas akhir. Seungkwan menghembuskan napasnya berat hanya dengan memikirkan itu. Gila bagaimana rasanya hanya dengan satu minggu krusial di akhir semester dapat menarik jiwa positif dari orang paling positif yang pernah Seungkwan kenal: dirinya sendiri. Karena seingat Seungkwan, tidak ada satupun orang-orang di sekelilingnya pernah memberikan peringatan soal beratnya menjadi seorang mahasiswa di penghujung semester. Huft, Mami, Papi, dan Bang Seungcheol berhutang banyak soal ini.
Tapi mungkin semesta juga berhutang banyak kepadanya karena selalu bekerja semaunya sendiri. Selalu memberikan kejutan paling lucu yang tidak pernah Seungkwan duga kemunculannya. Hanya sebuah kejutan kecil, tapi hal kecil itu yang kemudian mengubah kehidupan perkuliahannya setidaknya untuk satu tahun ke depan: ada sebuah coretan pensil baru di meja lipat yang sama yang ia duduki kemarin tepat di dalam ruangan yang sama pula.
Terima kasih koreksinya.
Seungkwan mengerjapkan matanya beberapa kali, ia membaca tiga kata sederhana itu sekali lagi. Benar ‘kan? Betapa lucunya semesta ini bekerja. Untuk informasi saja, kelasnya hampir tidak bisa menggunakan ruangan ini untuk ujian jika bukan karena Seungkwan yang membantu PJ mata kuliah Pengantar Akomodasi dan Restoran berbicara dengan senior yang salah membaca jadwal penggunaan ruangan.
Siapa sangka kalau usaha untuk berbicara dengan senior yang keras kepala itu menuntun Seungkwan kepada momen ini? Seseorang membalas koreksi mengenai UU Kepariwisataan yang ia tulis kemarin? Yang sebenarnya ia lakukan untuk mengoreksi orang lain? Apakah orang yang menulis sontekan dengan orang yang merespons sekarang adalah orang yang sama?
“Apakah semua sudah mendapat kertas soal?” Tidak ada jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan Ibu Dosen, tapi setidaknya pertanyaan itu dapat mengumpulkan semua fokus mahasiswa yang ada di ruangan untuk mendengarkan Bu Dosen yang ada di depan.
“Baik, kalau begitu. Untuk ujian akhir semester mata kuliah Pengantar Akomodasi dan Restoran, Anda saya minta untuk membuat menu planner selama seminggu sesuai dengan prioritas dan prosedur yang sudah kita bahas di semester ini. Menu planner terdiri dari tiga waktu, breakfast, lunch, and dinner, yang masing-masing dibuat lengkap dengan food cost-nya. Setiap tiga orang di kelas ini mendapatkan tiga latar belakang yang berbeda untuk meminimalisir kesamaan jawaban. Latar belakang tercantum pada lembar soal, mohon dibaca dengan teliti, ya. Waktu Anda 50 menit.”
Oke, tidak ada waktu untuk memikirkan siapa penulis catatan kecil pada meja yang Seungkwan tempati kalau begitu. Tapi sama seperti kemarin, ia bisa menyelesaikan tes hari ini dengan lancar. Waktu yang tersisa ia gunakan untuk memperhatikan permukaan meja lipat yang seketika menjadi terlalu menarik untuk dilewatkan begitu saja.
Beberapa coretan kecil sudah dihapus, tapi ada beberapa coretan tambahan juga, termasuk ucapan terima kasih yang tadi ia baca. Beberapa hitungan matematika sederhana di sana sini, tertulis juga rumus yang Seungkwan tidak tahu akan kegunaannya. Ada bisikan kecil di kepalanya yang mengatakan bahwa pelaku dari coretan-coretan ini adalah orang yang sama. Entah kenapa sekadar memikirkan hal itu mampu menciptakan senyum simpul di wajah Seungkwan.
“Waktu habis,” kata Bu Dosen tiba-tiba. Seungkwan dan beberapa mahasiswa lain mengumpulkan kertas jawaban mereka tanpa ragu.
Setelah kembali ke meja, ia mengambil pensil mekanik dari tempatnya untuk kemudian memperhatikan permukaan putih meja lipat sekali lagi.
16 x 4 butuh coret-coretan? itu kan hitungan gampang?
Senyumnya semakin lebar. Apa yang mendorong Seungkwan untuk mengejek seorang anonim yang dari kemarin ia ajak bicara di atas meja random di dalam kelas Fakultas Ilmu Sosial? Tidak tahu, tidak ada alasan lebih jauh dan tidak ada jawaban penuh. Dan ia juga yakin, bahwa apapun yang ia rasakan dan pikirkan soal tulisan misterius dari orang misterius yang mengobrol dengannya sejak kemarin tidak bisa menyajikan jawaban atas pertanyaan mengapa sisa hari Seungkwan saat itu terasa begitu indah?
Rapat UKM yang berlangsung sampai malam terasa begitu menyenangkan untuk didengar, omelan Bang Seungcheol sesampainya ia di rumah terdengar begitu merdu, dan nasi goreng depan kompleks pembelian Mami yang sudah terlewat dingin terasa begitu nikmat. Anehnya, semua efek itu masih juga belum berakhir bahkan sampai ia membuka mata pada keesokan harinya. Berangkat menuju mimpi buruk yang ia beri nama sebagai “kampus” terasa seperti perjalanan yang penuh bunga.
Tapi senyum simpul itu berubah menjadi raut sinis ketika ia membaca sesuatu yang mengganggunya di atas meja sakral siang hari itu–“meja sakral” adalah sebutan dari Seungkwan, hanya agar dapat dieja dengan lebih mudah. Kebetulan hari ini kelas Seungkwan tidak menggunakan ruang 107 sebagai tempat ujian, tapi firasatnya sejak pagi memaksa Seungkwan untuk mengunjungi kelas ini sesudah menyelesaikan tes terakhir dari mata kuliah Pengantar Pariwisata dan sebelum ia melanjutkan aktivitas yang lain.
Jackpot. Bertambah satu lagi coretan kecil di atas meja yang sama. Kali ini seseorang menulis tanda panah di samping hitungan kotor food cost yang kemarin Seungkwan lupa hapus.
Matematika tambah kurang kayak gini aja ga bisa?
“Huh?” Apakah si Misterius mencoba untuk membalas mengejeknya? Dia… mengajak Seungkwan bercanda?
Tapi kemudian kedua matanya tak sengaja menangkap coretan pendek yang tertulis di pojok kanan atas meja.
Maaf tulisan yang kemarin sudah dihapus. Kena tegur dosen.
Seungkwan baru ingin mengambil pensil ketika ia sadar akan satu hal. Hari ini mungkin akan menjadi kali terakhir dirinya dengan si Misterius bisa berinteraksi. Seungkwan sudah menyelesaikan seluruh tes ujian akhir semester dari beberapa mata kuliah, sisanya akan berupa tugas akhir atau praktek, setelahnya liburan semester tiba. Ia tidak akan mendatangi ruang 107 lagi untuk waktu yang cukup lama.
Satu wejangan hidup yang mudah Seungkwan lupakan adalah: hidup selalu menemukan jalannya. Tidak tahu darimana petuah itu bermula, tapi itulah yang selalu Seungkwan dengar. Dan mungkin hari ini akan menjadi tanda baginya untuk segera menanamkan petuah itu sebagai prinsip hidup. Khususnya setelah ia membaca lanjutan kalimat yang ditulis si Misterius tepat di bawah tulisan yang baru saja ia baca.
081798960107 -Wonwoo.
Bohong rasanya kalau Seungkwan bilang tidak ada degup jantung yang tiba-tiba berpacu cepat muncul di dada. Bohong kalau Seungkwan bilang rentetan nomor telepon yang hampir terhapus di meja tidak langsung ia upayakan untuk hafal hingga luar kepala. Bohong kalau ujung lidahnya tidak gatal karena berulang kali menyebut nama yang juga tertera di sana.
Wonwoo.
Wonwoo.
Wonwoo.
Meskipun ini adalah tahun pertamanya berkuliah, Seungkwan cukup populer di lingkungan fakultasnya karena berbagai kegiatan yang ia ikuti. Seungkwan mengenal banyak mahasiswa dari jurusan lain, ia bahkan banyak mengenal senior dari berbagai jurusan. Tapi tidak ada nama Wonwoo yang memicu ingatannya.
Jika menurut Wonwoo dengan memberikan nama dan nomornya kepada Seungkwan tanpa konteks lanjutan akan membuat Seungkwan senang, laki-laki itu salah besar. Seungkwan semakin bingung apa maksudnya, semakin banyak pertanyaan di benaknya.
“Mikirin apa sih, lu?” Kakaknya yang satu itu selalu masuk di momen yang paling tepat. Seungkwan yang sedang tiduran di sofa melihat Seungcheol mencoba untuk merebut area kecil di sofa untuk duduk. Satu tangannya penuh dengan stik es krim. Bang Seungcheol habis jajan?
“Detergen udah gue beli tadi siang, besok-besok lu yang beli sih.”
“Bang.”
“Apa?”
“Kalo ada orang yang ngasih nomor telepon ke kita itu tandanya apa sih, Bang?”
Seungcheol menoleh. “Sales?”
“Bukan,” sahut Seungkwan jutek, “anak kampus gue.”
“Lo kenal?”
Seungkwan menimang sejenak. Apa Seungkwan kenal Wonwoo? Apa percakapan mereka beberapa hari ini bisa menjadi deklarasi kalau mereka saling kenal?
“Sedikit.”
Seungcheol tidak langsung menjawab. Seungkwan tidak tahu abangnya memikirkan apa, tapi wajahnya terlihat tidak yakin. Ia kembali menghadapkan pandangnya ke arah televisi sebelum kemudian berkata, “mau nawarin pinjol kali.”
…benar juga. Kenapa tidak terpikirkan sebelumnya? Apanya yang manis dari orang asing yang memberikan nomor teleponnya tiba-tiba?
Tapi… sekali lagi, semua ini soal cara absurd kehidupan mengajak Seungkwan bermain. Ketika ia memutuskan untuk melupakan Wonwoo dan insiden unik yang mengelilingi mereka berdua selama beberapa hari ini, takdir memutuskan untuk mempertemukan mereka berdua. Tepatnya ketika Seungkwan hendak mencari buku sebagai bala bantuannya menyelesaikan tugas akhir semester di perpustakaan kampus.
Seungkwan melihat laki-laki itu di sana. Duduk di belakang meja pustakawan, memandang lekat komputer yang ada di depannya sembari mengisi data buku yang mau Seungkwan pinjam. Tahu darimana kalau laki-laki itu adalah orang yang sudah empat hari ini tiba-tiba hadir di dalam hidup Seungkwan? Tentu dari lanyard yang mengalungi leher laki-laki itu. ‘Wonwoo’ tertulis tebal tepat di bawah foto yang menampilkan wajah yang sama persis seperti si pemakai, ‘Pustakawan’ tertulis sedikit lebih tipis di bawah namanya.
“Ini bukunya,” kata Wonwoo sembari memberikan tiga buku yang bertumpuk, disusul dengan pemberian kartu perpustakaan milik Seungkwan. “Dan ini kartu perpustakaannya. Dipinjam atas nama Seungkwan. Masa peminjaman lima hari kerja terhitung hari ini, Kamis, 20 Juni sampai Rabu, 26 Juni. Lewat dari masa peminjaman dikenakan denda sebesar Rp3000 per hari. Apa ada lagi yang bisa dibantu?”
“Wonwoo… mahasiswa Ilmu Sosial, ya?”
“Huh?”
Iya, Seungkwan, gimana?
Jangan tanya darimana datangnya pertanyaan impulsif itu. Tapi sekarang pun rasanya sudah terlalu basah, kenapa tidak sekalian saja berenang… iya, kan?
“Sorry,” cicit Seungkwan pelan. Ia menggigit bibir bawahnya karena mata Wonwoo semakin tajam memicing curiga. “Gue Seungkwan.”
Kelewat bodoh, Seungkwan! Sekarang Wonwoo bakal nganggep lo aneh!
“UU No. 10 tentang Kepariwisataan?” Wajah laki-laki di depannya masih belum berubah. “Tiga hari lalu lo nulis contekan di salah satu meja ruang 107 di gedung Fakultas Ilmu Sosial?”
Kedua mata Wonwoo masih lekat menatapnya kosong. Ugh, Seungkwan sungguh merasa kecil, ini benar-benar memalukan.
Tapi tepat ketika ia ingin mengundurkan diri, Wonwoo tiba-tiba berkata, “Oh… iya. Aku ingat.”
Eh? Aku?
Seungkwan menghela tawa canggung. “Iya, aku Seungkwan. Yang ngoreksi contekan kamu.”
Wonwoo membalas dengan tawa canggung yang mirip. “Terima kasih–”
“Jadi kamu mahasiswa Ilmu Sosial juga kan? Jurusan apa? Angkatan berapa?” Rasa antusias dan rentetan pertanyaan yang tiba-tiba muncul dari Seungkwan berhasil membuat Wonwoo semakin tercengang.
Tapi siapa yang bisa menyalahkan Seungkwan? Rasanya wajar jika semangatnya berapi-api saat ini karena sudah menemukan sosok yang selama beberapa hari ke belakang ia andai-andaikan eksistensinya. Wonwoo nyata, seorang manusia, dan tidak terlihat seperti sales atau rentenir.
Faktanya, Wonwoo adalah seorang mahasiswa, sama sepertinya. Jurusan Geografi, satu tahun lebih senior dari Seungkwan. Tepat seperti dugaannya, kelas Wonwoo-lah yang mengisi ruang 107 pada jam pertama tempo hari sebelum kelas Seungkwan menggunakannya untuk UAS. Waktu itu Wonwoo tengah menjalankan UAS mata kuliah Geografi Pariwisata, menjelaskan penyebab dari mengapa Wonwoo butuh untuk mengingat undang-undang itu.
“Jadi yang kamu tulis waktu itu bener contekan?”
“Sontek bukan contek,” koreksi Wonwoo, “dan bukan, itu pengingat aja.”
“Emang kalau kayak gitu bisa dihitung ingat? Kan kamu ingatnya sebelum waktu ujian?”
“Toh yang penting ingat, kan?”
Seungkwan terkekeh. Wonwoo lucu. Bagaimana ia tahu? Tentu dari percakapan mereka selanjutnya. Mereka bertukar banyak informasi soal satu sama lain sepanjang sore itu. Seungkwan merasa seperti mengenal Wonwoo lebih dalam dari sebelumnya. Sekarang ia tahu kalau alasan Wonwoo berada di perpustakaan adalah karena laki-laki itu mendaftarkan dirinya untuk menjadi volunteer– jelas, tapi kalau mereka tidak mengobrol, Seungkwan tidak akan tahu kalau Wonwoo tidak tertarik untuk mengikuti organisasi kampus dan lebih memilih melakukan kegiatan lain. Wonwoo juga menyebutkan kalau ia adalah anak perantauan yang kosannya tidak jauh dari kampus.
“Oh, ya? Kamu asal mana? Jauh, ya?”
“Bekasi.”
Seungkwan tertawa. “Kok sampe ngekos?”
“Disuruh orang tua karena mereka pikir dengan ngekos aku akan punya kehidupan yang lebih menantang.”
Seungkwan tertawa lagi. Berbicara dengan Wonwoo itu memang menyenangkan. Wonwoo selalu memberikan jawaban yang tidak terduga, tapi kelihatannya laki-laki itu juga tidak menduga setiap reaksi yang diberikan oleh Seungkwan. Untungnya, Wonwoo tidak keberatan dengan segala obrolan mereka ini.
Jadi Seungkwan kembali datang pada keesokan hari, dan juga keesokannya lagi. Yang terakhir bersama dua cup kopi gula aren yang mereka berdua sama-sama sukai. Hari ini adalah hari terakhir periode UAS, seharusnya Seungkwan sudah tidak punya alasan untuk terus datang ke kampus–khususnya ke perpustakaan–tapi tidak mungkin kan kalau Seungkwan korbankan masa pendekatan ini begitu saja?
“Kita… PDKT?”
“Loh? Bukannya kamu yang ngajak PDKT?” Seungkwan menyedot tetes terakhir kopi yang ada di cup miliknya. Suara sesapannya membuat beberapa kepala mahasiswa menengok ke sumber suara.
Dua mata Wonwoo mengerjap dua kali di balik kacamatanya. “Engga, kata siapa?”
“Kan kamu yang tulis nomor telepon di meja waktu itu? Apa maksudnya kalo bukan karena mau ngajak PDKT?”
Jangan-jangan benar kata Bang Seungcheol? Wonwoo mau menawarkan pinjaman online?
Bibir Wonwoo membulat tanpa suara. “Maksudku, kalau kamu butuh tutor matematika silakan hubungi nomorku itu. Aku bisa bantuin kalau cuma pertambahan sama pengurangan.”
…eh?
Seungkwan mengedip dua kali, Wonwoo mengedip tiga kali. Hanya ada hening di antara mereka berdua, tapi detik berikutnya hening itu segera berganti menjadi gelak tawa yang tidak bisa Seungkwan tahan. Jadi semua ini masih soal coretan matematika di atas meja? Coretan yang Seungkwan mulai hanya karena iseng? Ah, betapa uniknya cara berpikir Wonwoo.
“Sst, jangan berisik Seungkwan,” teguran dari Wonwoo berhasil menghentikan tawa laki-laki di depannya. Ia memaksa dirinya untuk berhenti meskipun perutnya masih terasa geli.
Percakapan ini terdengar bodoh. Seungkwan merasa dirinya bodoh. Tapi perasaan bodoh ini terasa begitu baru, dan nyata, dan menyegarkan. Seungkwan mau terus menjadi bodoh.
“Wonwoo, kita pacaran, yuk?”
Laki-laki di depannya sedikit kaget, tapi kemudian ia bertanya, “atas dasar apa?”
“Kayaknya udah takdir deh.”
“Puft,” Wonwoo mengeluarkan tawa tertahan. Entah sengaja atau tidak, tapi apapun itu berhasil membuat Seungkwan heran. “Takdir?”
“Kamu ga percaya takdir?”
“Takdir cuma untuk orang-orang yang putus asa, Seungkwan.”
“Kenapa gitu?”
Wonwoo menghela napas perlahan sembari menutup buku besar di depannya. “Apa yang membuat kamu merasa kalau pertemuan kita ada karena takdir?”
“Hal-hal kecil selalu mempertemukan kita selama beberapa hari ini.”
“Itu cuma kebetulan.”
“Bahkan keinginanku untuk ngoreksi contekan kamu waktu itu juga kebetulan?”
“Termasuk kamu yang mengoreksi sontekanku. Kamu ngelakuin itu karena kamu anak pariwisata yang lebih tau ilmunya.” Wonwoo memainkan pulpen di antara jari-jarinya. Tubuhnya ia condongkan lebih dekat ke arah laki-laki di seberangnya dengan tangan terlipat di depan dada yang menumpu pada meja. “Atau… kamu mau bilang kalau kamu pilih aku sebagai takdir kamu?”
Seungkwan juga melakukan hal yang sama, seperti enggan menepis fakta bahwa percakapan mereka bisa dipisahkan oleh meja kayu tua perpustakaan. Satu tangannya menumpu dagu dan kedua matanya lekat menatap milik Wonwoo. Dengan bisikan perlahan, ia berkata, “engga.” Tarikan senyum muncul pada kedua sudut bibirnya. “Aku mau bilang kalau waktu itu aku memilih untuk cari hal baru.”
Putaran pulpen di jari Wonwoo terhenti. Begitu juga dengan waktu di sekitar mereka, katup AC yang tadinya bergerak naik dan turun, pengunjung perpustakaan yang berlalu-lalang, buku yang hampir jatuh, juga rasa penasaran yang melambai lembut di sekitar Seungkwan dan Wonwoo sejak pertemuan pertama. Tidak ada yang mencoba untuk menarik diri mereka sendiri, jarak ini sudah sangat pas. Tinggal memutuskan apakah perlu mengambil satu langkah ke depan atau ke belakang. Kali ini Seungkwan biarkan Wonwoo yang memutuskan.
“Kamu familiar untuk selalu cari hal baru, ya? A challenger?”
Seungkwan menggeleng. “Ga selalu, hanya yang menurutku patut untuk dicoba.”
Ting.
Notifikasi pesan masuk. Seungkwan merogoh saku celananya, tapi di dalam hati, ia berharap bahwa bunyi notifikasi barusan tidak datang dari ponselnya atau ponsel Wonwoo. Terserah siapa saja, asal bukan mereka.
Betapa kecewanya ia ketika melihat ada pesan baru dari ketua UKM yang menyuruh seluruh anggotanya untuk berkumpul di ruang sekretariat pukul 16.00. Jam pada ponsel Seungkwan sudah menampilkan pukul 15.45… jadi begini akhirnya?
Seungkwan menghela napasnya perlahan, ponsel kembali ia masukkan ke dalam saku celana. Tangannya dengan sigap mengambil tali tas dan tiga buku yang sudah menjalankan tugasnya dalam membantu Seungkwan menyusun makalah.
“Oke, mungkin ga adil kalo semua ini disimpulkan dengan ‘takdir’ sedangkan kita berdua tau kalo selama ini selalu ada usaha untuk bisa mendapat kebetulan-kebetulan itu.” Seungkwan bangkit dari posisi duduknya. “Tapi gerakan dadu punyaku udah habis, Nu. Giliran kamu.”
“Dadu?”
Kedua mata Seungkwan berayun jengah. “Probability, Nu. Aku udah pake semua usahaku ke kamu sejak kita pertama kali ketemu tepat di sini, sekarang giliran kamu mau ambil langkah yang sama atau engga. Apa kamu mau mempertahankan probability yang sama? Atau cukup sampai di sini? Kayaknya kamu cukup pintar untuk paham hal ini, deh.”
Seungkwan memberikan senyum tipis terakhir sebelum kemudian melangkah menjauh dari sana. Tangannya memencet tombol tanda panah ke bawah yang berada di samping lift. Hanya butuh beberapa detik sebelum kemudian pintu lift terbuka menampilkan isinya yang kosong. Kaki Seungkwan melangkah masuk, jarinya menekan tombol lift yang ada di dalam kubik, kali ini tombol lantai satu. Pintu sudah setengah tertutup ketika seseorang memanggil nama Seungkwan.
Wonwoo… di depannya. Mencoba menggagalkan pintu lift yang hendak memisahkan mereka berdua, dengan tarikan napas besar tapi memendek, rambut semi keritingnya yang bergoyang akibat langkah lari kecil yang ia ambil tadi, dan matanya yang begitu berkilau karena menemukan Seungkwan masih di sini.
“Kamu salah.”
Seungkwan merengut.
“Probabilitasnya bukan dimulai sejak kita pertama kali ketemu, tapi dimulai sejak kamu ngoreksi sontekan aku di ruangan 107.” Wonwoo masih mencoba untuk mengatur deru napasnya. “Tapi kamu benar soal gerakan dadu kamu yang sudah habis–mungkin berlebihan kalau disebut ‘habis’ karena siapa yang bisa pastikan kalau kamu cuma punya satu dadu? Gimana kalau ternyata kamu punya dua? Atau tiga? Dengan tiga dadu, kamu bisa punya probabilitas yang berbeda sampai 216 kali banyaknya, tapi Seungkwan–”
“Bahkan dengan probabilitas sebanyak itupun akan selalu ada batasannya–beda dari hukum yang ada, jelas, tapi itu karena kamu yang menentukan seberapa banyak dadu di atas tangan kamu, bukan aku atau matematika.” Satu jari Wonwoo membenarkan letak kacamatanya. Napas laki-laki itu sudah tidak lebih berat dari sebelumnya, ia menghela napas panjang sekali lagi sebelum berkata, “dan mungkin… aku akan jadi orang yang paling rugi kalau sampai melihat probabilitas itu habis di depan mataku karena aku ga melakukan apa-apa.”
Jari-jari Seungkwan bergerak tak nyaman di sisi tubuhnya. “...jadi?”
Pintu lift kembali mencoba untuk menutup dan Wonwoo kembali mencoba untuk menahannya. “Aku ga akan biarkan probabilitas itu habis, dan aku ga peduli gimana awal terbentuknya. Mau itu disebabkan oleh hukum alam paling logis sekalipun, atau hanya kebetulan, atau bahkan sekonyol takdir seperti yang kamu bilang tadi… aku akan jadi sesuatu itu, sesuatu yang kita sama-sama belum tau apa jawabannya. Sesuatu yang baru.”
Seungkwan masih ingat betul bagaimana akhir dari semuanya, termasuk rasanya. Wonwoo yang membiarkan pintu lift tertutup–bukan karena ia membiarkan Seungkwan pergi, tapi laki-laki itu membiarkan Seungkwan berkerumun dengan segala rasa yang ia tuangkan sebelumnya. Menemani Seungkwan selama perjalanannya ke lantai satu gedung itu, meskipun kemudian Seungkwan biarkan mereka mengendap di sudut-sudut lift pada akhirnya.
Lucu bagaimana ia bisa begitu yakin kali ini. Seungkwan tidak pernah seperti ini sebelumnya–bukan berarti ia punya banyak pengalaman soal cinta, jelas tidak–tapi entah kenapa Wonwoo membuat Seungkwan percaya kalau tidak mungkin laki-laki itu membiarkan perasaannya menggantung sendirian. Rasanya begitu ringan, kepalanya, hatinya, bahkan jari-jarinya yang mengirim pesan kepada kontak bernama ‘Wonwoo’, sekadar mengabarkan kalau ia sudah sampai di rumah dengan selamat. Oh, haruskah Seungkwan gambarkan betapa mudahnya senyum lebar muncul di wajah ketika Wonwoo membalas pesannya?
“Filmnya ga seru, ya?”
Tidak ada yang lebih ia syukuri daripada fakta bahwa perasaan itu masih bisa ia rasakan sampai sekarang. Satu tahun sejak dimulainya hubungan mereka, dan rasanya masih sama. Ketakjubannya dan penasarannya. Persamaan mereka dan perbedaan mereka. Debaran jantungnya dan senyum hangatnya. Wonwoo memenuhi janjinya untuk tidak menyia-nyiakan probabilitas yang pernah Seungkwan berikan.
Yang lebih manis lagi, kali ini di tambah terang bulan mini di tangan Seungkwan, dan martabak telur di tangan Wonwoo, dan film pilihan Wonwoo yang berputar di laptop pada suatu malam minggu di kamar kos laki-laki itu.
“Mau diganti yang lain?”
Seungkwan menggeleng. Ia merapatkan posisinya di rangkulan sang pacar untuk meringkuk semakin dalam. Tidak ada satupun dari semua ini yang mau Seungkwan ganti.
