Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-10-11
Words:
1,857
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
17
Hits:
185

Just Like A Love Song, I'm Always There Around You

Summary:

Bertahun-tahun sudah berlalu sejak dirinya lulus kuliah. Bertahun-tahun sudah terlewati sejak dia dan orang di sebelahnya berpisah. Namun Bujang masih ingat setiap momen yang dia habiskan dengan Padma.

Terlebih di perpustakaan, tempat Bujang pertama kali melihat gadis itu kembali sejak berpisah tanpa berpamitan setelah tiga tahun. Dan, pertama kali Bujang memberikan sesuatu ke Padma.

Notes:

writing this bcs i felt guilty bcs making THAT padmagam fic :') so i hope you guys like this

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

Menatap matahari terbenam bukan suatu hal yang Bujang rencanakan menjadi salah satu hobinya. Memandang bola api besar itu di hadapannya dari jarak jutaan kilometer dari tempatnya duduk, sembari menikmati hangat sinarnya dan angin yang berlalu. Semua ini karena kebiasaannya sejak kecil, kabur dari rumah saat orangtuanya tidak mengetahuinya pergi ke dalam hutan untuk menyendiri dan mencari ketenangan. 

Tempat rahasia itu begitu sunyi. Kalau ribut itu pun karena monyet-monyet yang rebutan makan buah manggis yang buahnya berserakan di tanah. Alam satu-satunya teman Bujang kala itu sementara ia menikmati tenggelamnya matahari. Mereka semua membisu, tidak berbicara. Semua yang ada di sana berbaik hati membiarkan Bujang menyendiri di situ selagi dia tidak merusak apapun. 

Alam merupakan teman terbaik yang Bujang pernah punya. Mereka diam, tidak bertanya apapun, bahkan menghakimi anak lelaki itu pernah menangis pun tidak pernah. Monyet pun ikut menjadi temannnya karena tidak memperdulikannya, membiarkannya menikmati ketenangan. Hingga Padma datang. 

Perempuan itu datang dengan penuh kejutan bagi Bujang. Seperti pesawat terbang yang melintasi langit-langit di atas talang, gadis itu berisik dan besar untuk ukuran perempuan remaja seusianya. Kekuatan yang dipunyanya juga terlalu kuat untuk ukuran seorang cewek.

Tapi, Padma juga seperti matahari terbenam yang biasanya Bujang tatap. Hangat dan membara. Gadis itu tetap menerimanya walau mereka babak belur bertarung satu sama lain memperebutkan tempat rahasia. Gadis itu mau mendengarkannya bercerita perihal keluarganya, tentang Bapak yang selalu memukulnya dan tentang Mamak yang selalu menangis tatkala Bujang dipukul. Bujang merasa jauh lebih tenang ketika Padma berada di sebelahnya. Ia merasa hangat, jauh lebih tenang.

Ia berpikir semua itu terjadi karena kesepian terlalu melekat pada dirinya ketika di talang, maka saat Padma bersamanya Bujang akan merasakan hal itu. Karena seperti sekarang, hatinya kembali menghangat ketika bertemu gadis itu lagi sejak tiga tahun lamanya berpisah tanpa pamit. Hati yang sudah lama mendamba rasa hangat itu datang lagi, berdebar kencang.

Bujang memperhatikannya dari jauh, membeku di tempat beberapa detik sebelum bersembunyi ke balik rak-rak buku.

Padma tampak lebih cantik setelah tiga tahun tidak berjumpa. Rambutnya masih panjang sejak terakhir Bujang melihatnya, menjuntai hingga ke pinggang.

Bujang yang hendak mengembalikan buku pinjamannya, terpaku di balik rak-rak buku, menatap Padma yang sibuk mencatat sesuatu dari buku yang ada di depan gadis itu. Wajahnya tampak serius, alisnya bertekuk.

Ujung bibir Bujang terangkat ke atas. Pemikirannya tentang dirinya dan Padma tak akan bertemu lagi seketika menghilang. Namun tak lama senyumnya memudar saat mengingat siapa dirinya sekarang. Dia sudah menjadi anggota Keluarga Tong.

Walau Padma pernah jujur ia telah membunuh penjaga ladang ganja, namun untuk kasus Bujang, tangannya sudah lebih kotor ketimbang gadis itu. Pistol dan pedang berlumuran darah karena dirinya. Ia tidak mau matahari satu-satunya menjadi redup karena berada dekat dengan dirinya.

Maka Bujang memilih untuk menjauh, memilih memperhatikan Padma dari jauh. Walau rasa ingin mendekatinya, menyapa gadis itu, merasakan kehangatan lama yang dia sempat rindukan, tapi demi kebaikan mereka berdua, terlebih Padma, Bujang memilih untuk mengubur keinginannya dan menatap di balik bayang-bayang.

Hingga, hari itu datang. Entah Tuhan sedang menjahili Bujang, lalu akan memberikan petaka yang berujung sakit hati yang menikamnya dalam-dalam, Bujang diberikan kesempatan untuk 'menghampiri' Padma di perpustakaan sore itu.

Suasana di dalam perpustakaan panas meski kipas angin di atas kepala bekerja maksimal. Melewati rak-rak yang dipenuhi buku, Bujang kembali menemukan Padma tengah membaca di satu meja panjang saat hendak mengembalikan buku lagi. Rambutnya terurai, gadis itu tampak kegerahan. Sepertinya dia tidak membawa ikat rambut.

Melihat keadaan Padma, Bujang ingin menghampirinya. Ia teringat dua minggu lalu saat sedang menge-print tugas, entah kesambet apa Bujang membeli ikat rambut hitam dengan pernak-pernak sebagai hiasannya. Satu plastik berisi tiga ikat rambut seharga dua ribu. Pernak-pernik di ikat rambut itu berbentuk bunga-bunga, seperti nama Padma. Barang itu masih tersimpan di dalam kantong tasnya. Tidak dikeluarkan dan malah berharap suatu saat akan diberikan ke Padma. Ternyata hari itu datang juga.

"Agam." 

Bujang tersentak dari lamunannya. Kepalanya menoleh, menemukan teman sekelasnya—yang juga ikut mengembalikan buku—sedang berdiri di belakangnya. 

"Kau sudah siap mengembalikan bukunya? Aku akan nongkrong bareng yang lain ke warung bakso depan. Kau ikut?"

Nongkrong? Sejak bergabung dengan Keluarga Tong, Bujang berusaha meminimalisir bergaul dengan teman-teman kuliahnya untuk mengurangi kecurigaan identitas aslinya—yah, walau beberapa orang sudah mencurigainya.

"Tidak, terima kasih. Aku harus segera pulang ke rumah pamanku setelah ini."

Temannya memandang skeptis. "Kau yakin? Kau tidak pernah terlihat di tongkrongan mana pun sejak semester satu. Kau tidak bosan di rumah pamanmu terus?" Bujang menggeleng.

Kapan dia akan selesai bertanya? batin Bujang dalam hati. Dia takut Padma sudah beranjak dari duduknya, membuat Bujang tak sempat memberikannya ikat rambut yang ada di dalam tas.

Matanya sekilas beralih ke arah tempat duduk Padma. Gadis itu masih di sana, berusaha menyanggul rambutnya dengan beberapa helai rambutnya namun gagal. Padma menggerutu kesal.   

Teman Bujang mengikuti arah tatapannya, lantas tersenyum jahil. "Siapa tuh? Cantik."

Bujang mendengus. Tanpa sadar menatap pemuda di depannya dengan tajam. "Bukan urusanmu."

"Gebetan?" Temannya tetap bertanya. Senyumnya berubah menjadi cengiran.

Kesal ditanyai terus, Bujang meninggalkan temannya tersebut dan berjalan menuju rak buku lain. 

Melihat reaksinya, teman Bujang menyorakinya rendah, melihat Padma sekali lagi lalu berjalan keluar dari perpustakaan. Bujang menatap kepergian pemuda itu dengan tajam sebelum kembali ke rak buku, tempatnya menatap Padma.

Sepatah umpatan akan keluar dari mulut Bujang ketika melihat Padma tidak lagi berada di kursi jika tidak segera menyadari satu hal. Gadis itu tidak lagi duduk di sana, tapi Padma meninggalkan buku yang dibacanya terbuka dan tasnya masih berada di atas meja. Menandakan Padma masih di perpustakaan, kemungkinan mencari buku lain untuk dibaca.

Insting Bujang berdeting, mengatakan ini saat yang tepat untuk meletakkan hadiah yang selama ini disimpannya ke atas buku bacaan Padma. Ragu-ragu Bujang keluar dari 'tempat persembunyian'-nya, melangkah cepat ke meja yang digunakan gadis itu.

Sore itu, tidak banyak mahasiswa datang ke perpustakaan, membuat kelakuan Bujang tidak menjadi bahan sorotan. Cepat-cepat ia mengambil bungkus ikat rambut yang selama ini disimpan di kantong tasnya, meletakkannya di atas halaman buku.

Sekilas Bujang melihat isi halaman buku yang dibaca Padma, dahinya sedikit terlipat. Ia pernah diwajibkan untuk membaca buku itu di semester satu. Bujang bertanya dalam hati. Apakah Padma sedang mengejar materi perkuliahan yang sempat dia tidak mengerti? Atau, apakah gais itu baru masuk kuliah? Karena sudah seharusnya mahasiswa fakultasnya mengerti isi dalam buku itu di semester. 

Lalu Bujang semakin bertanya-tanya. Mengingat keduanya tidak pernah menempuh pendidikan resmi dan Bujang masuk ke kampus bergengsi di Ibu Kota ini berkat Frans, bagaimana Padma bisa masuk ke kampus ini? 

Sebelum sempat berbagai pertanyaan berlarian di dalam kepala Bujang, dari kejauhan ia melihat Padma sudah berjalan kembali ke arah mejanya. Gadis itu membawa tiga buku lagi untuk dibaca, matanya sibuk menyisir rak-rak, masih mencari buku yang ingin dibaca. Ia belum menyadari kehadiran Bujang.

Segera Bujang keluar dari perpustakaan, meninggalkan hadiah ikat rambut untuk Padma di atas halaman buku, membuat gadis itu bertanya-tanya saat kembali ke meja baca. Siapa yang memberinya ikat rambut norak tersebut? Warna yang ngejreng tampak tidak cantik. Tapi setidaknya dia bisa mengusir rasa gerah sementara waktu saat membaca.

 


 

Beberapa tahun berlalu....

"Disini kau rupanya."

Padma sedari tadi menyarinya di dalam rumah. Kamar tidur, kamar mandi, bahkan di garasi suaminya tidak dapat ditemukan. Hingga ia berpikir mencari ke atas atap rumah. Bagaimana dia bisa lupa Bujang yang suka menatap matahari terbenam lebih memilih memandangnya dari atas rumah. Padma berjalan hati-hati mendekati Bujang. Angin berhembus lembut mengenai tubuhnya. Rambut hitamnya yang panjang terikat 

"Kau baik-baik saja?" Padma duduk di sebelahnya, bertanya. Biasanya Bujang pergi ke atas atap rumah, menatap matahari terbenam karena sedang mencari ketenangan juga mengingat kepingan masa lalunya.

Bujang mengangguk. Kakinya yang sedari tadi dipeluknya, diselonjorkan. "Aku cuma mau menenangkan pikiranku sebentar setelah beberapa minggu bekerja."

"Kau sudah hampir setengah jam di atas sini, Agam." Padma mendengus, menekukkan kaki, memeluk lutut.

Bujang terkekeh. "Aku pernah berjam-jam di dalam hutan cuma untuk menatap matahari terbenam. Setengah jam bukan apa-apa."

"Setidaknya kau bilang kepadaku kalau kau akan nongkrong di atap, hei. Aku memanggilmu dari tadi, kau tuli apa?" Padma meninju pelan lengan Bujang. Geram dengan kelakuan pria itu yang langsung saja naik ke atas atap dan memaku pantatnya di sana dalam waktu yang lama seakan dirinya tidak tinggal dengan seseorang.

Bujang tersenyum. "Maaf."

Lengang sejenak. Keduanya menatap pemandangan di depan rumah.

Danau kecil di bawah sana memantulkan lukisan dari atas langit. Hutan pinus berdiri kokoh dari sekitar rumah mereka. Angin membasuh wajah. Semua ini mengingatkan mereka kepada kampung halaman mereka. Tidak menyangka tinggal berdua di tepi kota kecamatan akan semenenangkan ini, berjarak lima kilometer dari jalan raya dan pemukiman warga.

Sebuah klakson mobil terdengar dari bawah. Padma berdiri, melongok ke bawah. 

"Chen sudah sampai." 

Bujang ikut berdiri dan melongok ke bawah. Ada Chen di sana, ia melambaikan tangan kepada mereka. Ia datang menjemput Padma untuk menjalankan misi. Bujang membalas labaian tangan tersebut.

"Masuk saja, Chen. Aku akan segera ke bawah." Padma menyeru.

Chen mengangguk, segera masuk ke dalam rumah. 

"Ayo," ajak Padma ke Bujang. Ia berbalik badan, lalu berjalan menuju tepi atap.

Sepintas dan Bujang sangat yakin ia melihat sesuatu yang familier. Warna hitam dari ikat rambut Padma, pernak-pernik bunga dengan warna norak itu mirip sekali dengan ikat rambut yang diberikan Bujang. Apakah mungkin? 

Bujang segera menahan kepergian Padma, menggenggam lengan wanita tersebut, membuatnya behenti. Padma menoleh. Mereka bersitatap. 

"Ikat rambutmu..."

"Kenapa ikat rambutku?"

"Kapan kau membelinya?"

Bujang menatapnya lekat-lekat. Tanpa Padma ketahui, pria itu tengah berharap. Ikat rambut pemberian Bujang sudah bertahun-tahun terlewat, sudah lama sekali. Ia perlu memastikan apakah itu ikat rambut yang sama dikasihnya, karena sudah bertahun-tahun berlalu sejak dia kuliah, sejak dia memberikan hadiah kecil itu ke Padma. Jadi apakah mungkin Padma masih menggunakannya? Sekuat apa ikat rambut itu, kok bisa masih bisa dikenakan hingga sekarang? Atau apakah itu ikat rambut baru yang gayanya hampir mirip dari yang diberikannya saat kuliah?

Padma menatap Bujang, bingung. Tidak biasanya pria itu peduli perihal ikat rambut yang digunakannya.

"Aku tidak membelinya, tapi dikasih."

Jantung Bujang berdebar-debar. "Dikasih? Kapan? Dan dari siapa?"

Padma semakin bingung. Ia mengedikkan bahu, menjawab santai. "Saat aku masih kuliah. Aku tidak tahu siapa pemberinya, tapi aku hampir tidak pernah menggunakannya. Warna bunganya terlalu norak, jadi tak lama dikasih, aku beli ikat rambut dan menyimpan yang ini. Tapi, setelah ingat aku pernah diberikan ikat rambut ini, aku merasa nggak enak karena sudah diberikan sesuati tapi malah nggak kupakai."

Sebuah rasa hangat meledak di dalam hati Bujang. Ia tersenyum senang. Hipotesis yang sempat berkeliaran di kepalanya hilang seketika. Ia sempat mencemaskan bahwa ikat rambut yang diberikannya tidak pernah di pakai Padma dan malah dibuang. Ternyata tidak. Ia tetap menyimpannya dan bahkan memakainya sekarang. Tanpa Padma sadari ia selalu membawa sebagian "diri" Bujang ke mana pun gadis itu pergi, hingga saat keduanya akhirnya bersama.

"Kenapa? Jelek ya? Memang jelek sih kalau saja warna bunganya tidak senorak itu." Padma menyentuh ikat rambutnya.

Bujang terkekeh, melepas genggamannya. "Biar aku belikan yang baru, yang lebih cantik." Ia mengelus kepala istrinya, memberikan kecupan di sana sebelum turun ke bawah.

Dari belakang, Padma masih bingung kenapa Bujang jadi begitu peduli dengan perihal ikat rambut ini. Tidak biasanya pria itu menanyakan hal remeh seperti itu. Lihatlah, senyumannya masih terpatri di wajah pria itu tatkala melepaskannya pergi misi selama seminggu bersama Chen.

Masih dalam keadaan kebingungan, Padma mengedikkan bahu. Baik, terserah. Yang penting Padma akan mendapat ikat rambut baru setelah pulang dari misinya.

 

 

Notes:

yeah that's it, tysm for reading