Chapter Text
“ Aku jelek.”
Jari-jari Mark yang awalnya menari indah di atas keyboard seketika berhenti ketika mendengar Haechan bergumam lirih di sebelahnya.
Pandangan mata pemuda itu masih pada ponselnya yang menampilkan aplikasi burung biru.
“Siapa yang bilang?”
“Aku. Kan barusan aku yang bilang,” sahut Haechan santai, masih tidak menyadari tatapan tidak suka dari pria di sampingnya.
“Kamu cantik,” sahut Mark serius. Sekarang, justru Haechan yang berhenti menggerakkan jemarinya.
Ia menoleh ke arah Mark dengan pandangan bingung. “Hah? Kenapa tiba-tiba?”
Mark merubah arah duduknya. Laptop yang awalnya ada di atas pangkuannya kini ia letakkan di atas meja kaca di depan mereka. Ia kini sepenuhnya menghadap ke arah Haechan.
“Tadi kamu bilang kalau dirimu jelek. Entah siapa yang memulai atau bagaimana kamu bisa berpikir seperti itu, aku tidak suka itu. Aku tidak suka ketika orang yang selalu aku jaga hatinya merendahkan dirinya sendiri. Apakah pujian yang selama ini aku lontarkan belum bisa menjelaskan betapa indahnya seorang Lee Donghyuck?”
Haechan semakin bingung dengan arah pembicaraan mereka. Walaupun tidak dipungkiri bila pipinya mulai memerah dengan segala kalimat penuh keju yang Mark lontarkan.
Mark menggeser posisi duduknya agar ia semakin dekat dengan Haechan. “Mata ini, mata yang selalu menatapku dengan penuh cinta. Mata indah yang cahayanya bahkan mengalahkan ribuan bintang di langit malam.”
Tangan Mark pindah ke pipi gembil Haechan. “Kulit sewarna madu yang selalu dikatakan semua orang tidak sesuai dengan standar negara kita tapi justru warna kulit kesukaanku. Apalagi dengan sedikit tambahan warna merah yang kini menghiasinya. You looks so amazing, love.”
Haechan sudah tidak kuat lagi. Semua kalimat yang dilontarkan Mark sangat berbahaya untuk kesehatan jantungnya.
“Lalu …” Mark masih akan melanjutkan narasi penuh sarat cinta hingga Haechan membungkam mulutnya dengan kedua tangannya. “Hentikan semua kegilaan ini sebelum aku benar-benar marah padamu.” Berbanding terbalik dengan kalimatnya yang penuh ancaman, senyum lebar terpatri di wajah manisnya. Haechan merasa wajahnya sudah sangat panas dan pipinya pasti sudah sangat merah sekarang!
Mata Mark menyipit dengan apa yang Haechan lakukan. Sebelum ia sempat mengajukan protes, sebuah pelukan sudah diterimanya. Aroma citrus dari parfum yang biasa Haechan gunakan berlomba memasuki indra penciumannya.
“Terima kasih atas semua pujian yang kau katakan. Walaupun sejujurnya aku masih tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku suka. Kau selalu berhasil membuatku merasa menjadi manusia paling berharga.”
Mark tersenyum simpul di balik bahu Haechan. Ia mengeratkan pelukan di pinggang pria itu. “Kau pantas dengan semua hal terbaik di dunia ini. I love you so much and you need to know that you are worth all the best thing in this world. ”
Haechan tertawa mendengarnya. Tawa kesukaan Mark. “Kau tahu, aku masih membencimu bila kau mulai memujiku dengan bahasa alien itu. Aku masih tidak mengerti apa yang kau katakan.”
Mark tertawa kencang mendengarnya. “Maaf. Tapi, satu hal yang harus kau tahu. Apapun itu yang aku katakan, selalu yang terbaik untukmu.”
Haechan tidak mengatakan apapun. Ia hanya tersenyum simpul dan mengeratkan pelukannya pada Mark. Ah, betapa indahnya dicintai dengan sangat dalam oleh sahabatmu sendiri.
