Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-10-14
Updated:
2023-10-29
Words:
7,876
Chapters:
7/8
Comments:
13
Kudos:
7
Hits:
143

BONE

Summary:

Jika aku kehilangan impianku, aku tidak ingin kau kehilangan impianmu.

Notes:

Selamat pagi \^^/
Saya membawa sebuah cerita untuk Shogoriku kembali
ini adalah ketikan saya sejak september lalu, dan saya merasa ingin membaginya kepada kalian mengenai kisah ini...saya menyukai mereka dan membuat cerita fiksi mengenai mereka adalah sesuatu yang menyenangkan bagi saya...

Saya sempat terhenti menulis ini, dan saya rasa sudah saatnya saya melanjutkannya. Dan terimakasih author Shogoriku lainnya di Ao3...saya merasa kembali bersemangat untuk mereka karena kalian masih ada disini <3<3<3

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Moon and Back

Chapter Text

PART 1

 

Sore itu ruangan latihan diisi dengan keheningan. Yamasho perlahan masuk dengan membuka pintu ruang tersebut dalam hening. Lagi-lagi pria itu yang selalu menjadi manusia terakhir diruangan tersebut.

 

“Kau tidak pulang?” Yamasho memilih duduk di samping Shogo.

Dari posisinya yang berbaring pada lantai berlapis Vinyl dengan warna coklat muda, Shogo melirik Yamasho sekilas. Nafasnya memburu setelah beberapa saat lalu masih berlatih menari untuk rangkaian konser grup mereka minggu depan.

“Tidak, sebelum aku menghafal satu gerakan yang masih sulit ku ingat,” sahut Shogo seraya tersenyum menatap langit ruang latihan di hadapannya. Yamasho ikut tersenyum menatap adik sekaligus rekan satu timnya itu.

“Bukannya lutut kananmu itu cedera 2 minggu lalu? Kenapa masih kau paksakan berlatih dengan keras seperti ini?” Mendengar pertanyaan yang diajukan Yamasho membuat Shogo merubah posisinya menjadi duduk dan segera mengelus lutut kanannya.

“Itukan 2 minggu lalu, sekarang aku sudah baik-baik saja. Terimakasih atas perhatianmu.” Shogo tersenyum dan kini bangkit untuk meraih tasnya yang tergeletak pada pojok ruangan.

 

“Kau sudah mencoba ke rumah sakit, kan?”

Mendengar apa yang ditanyakan Yamasho membuat Shogo berhenti sejenak untuk menyampir tas pada pundaknya. Tidak sampai hati jika dia bisa menjawab pertanyaan itu dengan cepat. Shogo tau pasti akan ada pertanyaan lain jika dia mengatakan sudah, dan akan ada nasehat lain jika dia mengatakan belum. Maka Shogo akan lebih memilih menjawab yang terakhir bukan?.

“Belum, dokter agensi mengatakan aku hanya keseleo. Aku rasa ini akan sembuh segera.”

“Kau jangan hanya percaya satu dokter, lebih baik kau ke rumah sakit juga, hari ini mau aku temani?” Desak Yamasho yang dengan segera mengeluarkan ponselnya untuk mencari nomor rumah sakit yang dia kenal.

“Eh?! Jangan sekarang, aku akan ke Gym!” Shogo segera menutup ponsel Yamasho dengan sekali klik pada tombol power di sisi ponsel. Yamasho kembali menatap Shogo dan menghembuskan nafasnya tanda kecewa. Bisa-bisanya anak ini masih ke Gym padahal lututnya baru saja cedera.

“Lalu mau kapan kau ke Rumah Sakit?”

“Astaga…percaya padaku, aku akan segera kesana….” Shogo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, semoga saja kakaknya itu bisa memahami gelagatnya yang tidak nyaman jika didesak seperti ini.

“Janji?” Yamasho menatap lamat kepada Shogo dihadapannya. Ini bukan sekali dua kalinya Shogo mengundur untuk mengecek dirinya di Rumah Sakit, cedera dilututnya ‘agak’ membuat performanya menurun akhir-akhir ini. Bahkan kemarin Kenta sempat kesal dan terlibat cekcok sedikit dengan Shogo akibat kesalahan Shogo yang berulang, jika saja saat itu Riku tidak tanggap menengahi keduanya, mungkin Kenta saat itu sudah meledak-meledak karena amarah.

“Janji.”

“Kapan?”

“Hari Jumat.”

“Bagus,” sambung Yamasho yang segera menepuk Pundak Shogo dan berlalu mendahului Shogo.

 

Ada perasaan lega dan khawatir yang menyelimuti perasaan Shogo. Dia bisa lolos saat ini, tapi tidak untuk hari jumat. Seketika dia menyesali responnya yang begitu cepat tadi. Tapi apa yang bisa dia lakukan? Nasi sudah jadi bubur. Mungkin nanti dia harus mencari cara lain untuk menghindari Yamasho selanjutnya.


 

Langit malam Tokyo tampak lebih cerah daripada kemarin. Tokyo sedang memasuki musim Hujan, melihat langit hari ini tidak menurunkan air dan terlihat satu atau dua kemerlip bintang membuat Shogo memilih pulang dengan berjalan kaki menuju Apartemennya.

 

“Wah, sudah lama tidak berjalan kaki seperti ini.” Shogo tak bosan-bosannya menatap langit diatasnya, selain Bintang yang bersinar bukankah bulan yang baru menampakkan dirinya diatas sana membuat senyumnya semakin merekah.

 

“Lebih baik ku foto dulu, bukankah bulan sebagian itu tampak cantik hari ini?” Seperti berdialog dengan seorang lainnya, malam ini Shogo tidak henti-henti mengagumi langit diatasnya. Mengambil foto dan merentangkan tangannya seperti anak kecil, lalu tertawa setelah membayangkan dirinya cukup kekanakan malam ini.

 

“Bulannya sangat indah bukan?”

Hampir saja ponselnya terjatuh ketika sebuah suara muncul tiba-tiba di telinga kirinya. “Riku-san?!”

Dengan cepat Riku meraih ponsel Shogo dan mengatur selfie pada kamera belakang ponsel tersebut. “Katakan ‘Chees’!” Dengan sekali aba-aba Riku menekan tombol foto pada ponsel yang mengarah kepada dirinya dan Shogo yang dalam rangkulannya.

“HAHAHAHAHA, coba lihat wajahmu! Lucu sekali senyumnya…HAHAHAHAH….” Shogo segera meraih ponselnya dan menatap hasil foto tersebut. Wajahnya tidak buruk juga untuk foto yang tiba-tiba.

“Kau!...Aishhhh benar-benar!” Shogo merengut wajahnya dan dengan cepat kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku. Dia kesal tapi dia senang Riku berada disampingnya.

 

Melihat Shogo dengan wajah pura-pura kesalnya membuat Riku mau tak mau meraih Shogo dalam dekapannya. Sudah berapa lama mereka berdua seperti ini? Sebulan? Dua bulan?.

“Aku kangen deh, Shogo.” Adu Riku sambil mengelus bahu Shogo dalam dekapannya. 

“Aku juga. Tapi bukankah ini masih dijalan? Bagaimana jika kau mampir ke rumahku Riku-san?” Shogo melepaskan dirinya dan menarik Riku untuk berjalan beriringan ke Apartemennya yang terlihat sekitar 30 meter didepan mereka.

 

Shogo tersenyum senang menatap lurus kedepan, dia tidak berani menatao Riku yang disampingnya. Khawatir wajah merahnya akan terekspos jika saja Riku menatap Shogo.

“Bagaimana promosi Film-nya?”

Riku menoleh sebentar kearah Shogo dan tersenyum senang meraih pundak Shogo untuk dia rangkul. “Aku sangat bersemangat untuk promosi ini, Kazuma dan Hokuto juga terlihat sama. Jujur ternyata berakting dalam film sesuatu hal yang menarik, ya.”

 

Berbagai perbincangan mengenai Film memenuhi obrolan keduanya sepanjang perjalanan. Tangga, Pintu, Lift dan Pintu Apartemen Shogo tiba-tiba tidak terasa sudah dilewati keduanya. Malam ini Riku sangat bersemangat mengenai Film nya bersama suribo yang akan tayang akhir tahun. Sampai-sampai dia lupa masih mengenakan jaketnya padahal sudah duduk manis di sofa Apartemen Shogo. Shogo-nya sih hanya tertawa sambil geleng-geleng kepala menanggapi cerita dan tingkah konyol Riku dengan semangat itu.

 

 

Malam itu, Riku memutuskan untuk menginap saja di Apartemen Shogo. Sudah lama juga dia tidak berkunjung, disina lebih menyenangkan dari pada Apartemennya, Shogo juga baik menanggapi ceritanya yang kelewat panjang malam ini.

 

Senyum Shogo mengembang manis. Kalau saja pipinya bisa berteriak mungkin otot pipi itu sudah berteriak pegal karena Shogo tidak henti-hentinya tersenyum. Shogo si murah senyum, seluruh member pasti memilih Shogo jika urusan keramahan.

Sudah 15 menit yang lalu kedua memilih berendam bersama di kamar mandi Shogo. Jika tadi Shogo sudah lebih dahulu menggosok punggung Riku, kini Riku harus bergantian menggosok punggung Shogo.

 “Kalau kau sesemangat ini mengenai Film, bisa-bisa kau tidak ingin bernyanyi lagi….” Seketika Riku menghenti gerakan tangannya yang saat ini sedang menggosok punggung Shogo.

“Mana mungkin aku tidak ingin bernyanyi, itu sudah menjadi cita-citaku sejak kecil.” Riku tiba-tiba saja menepuk punggung Shogo dengan gemas. Tidak mungkin Riku tiba-tiba meninggalkan nyanyian karena mencoba terjun didunia acting.

 

Shogo terdiam sesaat, benar juga. Dia, Riku-san maupun semua member bergabung untuk meraih mimpi mereka bersama. Semuanya tidak bisa egois, mereka telah melalui banyak hal bersama. Sebanyak apapun kesibukkan pribadi mereka. Mereka akan tetap menjadi satu jika hal itu menyangkut grup.

 

“Hmm…Kalau aku si, masih bercita-cita yang sama. Overseas…Dome Tour…dan terus bersama kalian di masa muda ini….” Hening, Riku hanya diam menatap punggung Shogo. Benar, itulah mimpi mereka bersama. Dengan manusia yang berjumlah 16 orang. Sifat, watak, dan latar belakang yang berbeda, inilah masa muda mereka…THE RAMPAGE.

 

“Riku-san!”

Perlahan Riku kembali dari lamunannya, tanpa sadar Shogo sudah memutar tubuhnya menatap Riku dengan bingung. Kenapa pula dia diam saja?.

“Ah…Tiba-tiba terbayang kalian semua tadi.”

“Tentu saja! Kita sudah lama tidak berkumpul bersama!” seru Shogo riang.

“Iya ya, Kapan ya terakhir kita berkumpul? Acara ulang tahun Rui?” Riku kembali melanjutkan pekerjaannya dengan punggung Shogo.

Shogo meraih ponselnya yang tergelatak diatas westafel dan membuka kalender didalamnya. Benar, sudah sekitar sebulan mereka berpecah-pecah dengan kegiatan masing-masing.

“Sebulan…kita tidak berkumpul sebulan,” jawab Shogo sambil meletakkan kembali ponselnya disana.

“Wah…lama juga ya….”

 

Percakapan terhenti ketika uap panas dari bak yang sedang diisi mulai menguar di dalam toilet. Shogo maupun Riku segera berpindah dan masuk kedalamnya bersama. Air tidak terlalu panas dan uap juga perlahan tidak terlalu menutupi indra penglihatan mereka.

“Riku-san”

Riku yang sejak tadi sibuk melipat handuknya beralih menoleh kearah Shogo didepannya. “Kau tidak boleh berhenti bernyanyi.” Sambung Shogo

Kedua alisnya tertaut, dan perasaan bingung membuat Riku menatap heran kearah Shogo. “Tentu saja aku tidak berniat berhenti bernyanyi-kan?”

Shogo terkekeh pelan, dan membilas mukanya sebentar dalam bak air. “Tentu saja! Karena aku akan terus mengiringi nyanyianmu dengan tarianku,” ujar Shogo mantap.

Riku ikut terkekeh menatap Shogo yang tidak banyak berubah dari yang dia kenal dulu. Shogo dengan kata-katanya yang mudah sekali membuat hatinya hangat. Tidak ada yang berubah, hanya tubuhnya dulu kurus dan sekarang agak berisi.

 

Namun, jika saja Riku lebih sadar lagi terhadap maksud perkataan Shogo, mungkin dia akan menangis bukannya tersenyum seperti itu.