Actions

Work Header

it's not a secret we try to hide

Summary:

Semi Eita mendadak mengambil izin keluar dari asrama di akhir pekan. Shirabu yang kecewa karena latihannya harus batal, tak sengaja mengetahui fakta bahwa kakak kelas yang ia hormati ternyata diam-diam sudah memiliki kekasih. Dan lagi, "pacar rahasia"-nya adalah sesama pemain voli tingkat SMA?? Orang Tokyo pula! Siapa kiranya dia?

Notes:

all characters belongs to Haruichi Furudate

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: 1. Siapa pacar Semi?

Chapter Text

Kalau ada yang bertanya mengapa Semi Eita ngotot sekali mengambil izin di akhir pekan ini, jawaban anak-anak Akademi Shiratorizawa adalah : tidak tahu — atau tidak ingin tahu, awalnya.

“Padahal, kalau nggak latihan voli, ya, dia pasti belajar di asrama.” Ohira Leon, salah satu orang yang satu kamar dengan Semi berkomentar.

“Atau ya ke ruang musik. Biasanya aku lihat Kak Semi latihan biola, atau main piano.” Tambah Kawanishi Taichi, yang sering bolak-balik koridor ruang ekskul karena tugasnya sebagai sekretaris klub. “Kak Semi keren ya, voli oke, main musik oke.”

“Eh, tapi kalau akhir pekan, kadang aku juga suka dengar suara gitar dari rooftoop asrama loh,” Tsutomu Goshiki — anak-anak kelas satu menempati gedung asrama di lantai paling atas, memang — tiba-tiba menimpali, “Karena penasaran, pernah aku coba samperin ke atas. Ternyata kak Semi lagi main gitar sambil nyanyi, eh — ”

“Kenapa Goshiki?” Shirabu Kenjiro, oknum yang mengawali pembicaraan soal sang pinch server andalan Shiratorizawa itu bertanya penasaran. Bukannya apa-apa, tetapi biasanya kakak kelasnya itu tidak pernah berlaku aneh sampai ingin mengambil izin di akhir pekan seperti ini. Seperti yang Leon katakan tadi, Semi Eita tergolong anak yang rajin, yang memilih untuk belajar atau melakukan kegiatan di dalam kompleks sekolah ketimbang bermain ke kota.

Hanya pekan ini saja yang terasa salah. Bahkan, Semi sampai membatalkan rencananya untuk menemani Shirabu berlatih toss. Hal yang sangat aneh, mengingat setelah kekalahan sekolah mereka melawan Karasuno kemarin, Semi berkata penuh semangat bahwa dia akan dengan senang hati menemani Shirabu berlatih demi menjadi setter yang keren. Ketika ditanya mengapa latihan bersama itu batal, Semi menjawab dengan alasan yang sulit untuk Shirabu pahami.

Yang ditanya, anak kelas satu berambut mangkok, Goshiki, malah semakin heboh ketika memorinya memutar kembali kejadian yang dimaksud. “EH WAKTU ITU! AKU INGAT KALAU — ”

“Kalau apa Goshiki??” Shirabu makin gemas.

“Aduh gimana ya bilangnya.”

“Apa sih?? Kak Semi kenapaa??” Shirabu menggoncang kedua bahu adik kelasnya, tidak sabar karena Goshiki terus saja memotong penjelasannya sendiri.

“Uh,” Goshiki menggaruk pipinya yang tidak gatal. Jujur, dia masih setengah tidak percaya dengan apa yang dia lihat waktu itu. “Kalau nggak salah ya, kalau nggak salah … waktu itu Kak Semi lagi videocall sama seseorang.”

“HAAAAH?” Bukan hanya Shirabu, tapi Taichi, Leon, dan bahkan Hayato yang dari tadi tidak ikut nimbrung menggibah Semi pun sama-sama terkejut.

“Semi? Semi Eita kan yang kamu lihat di rooftop?” Tanya Leon memastikan.

“Iya,” Goshiki mengangguk yakin, “Waktu aku buka pintu, ada kak Semi yang lagi nyanyi — aku nggak ingat lagu apa — sambil main gitar, noleh sambil bilang ‘eh Goshiki, ada apa?’ gitu. Aku lihat hape Kak Sem disandarin di depan dia, jadi dia gitaran sambil ditonton orang yang ada di hapenya kak Sem. Terus … EH!”

“EH APALAGII?” Shirabu kian tidak sabar. Ingatkan ia untuk memukul lengan Goshiki nanti sebagai ganjaran sudah membuatnya penasaran setengah mati.

“Kak Semi — bukan, tapi orang yang lagi vidcall Kak Semi itu sempat lihat ke arahku juga.”

“Siapa, Goshiki? Kamu kenal?” Giliran Taichi yang rasa penasarannya naik.

Goshiki menggeleng. Dia mencoba mengingat-ingat kejadian itu.

***

Sore itu, Goshiki tidak ikut anak-anak lain berlatih voli secara mandiri di gedung olahraga karena demamnya belum sepenuhnya hilang. Bosan berdiam di kamar ketika hari libur, Goshiki berniat untuk berjalan-jalan di sekitar asrama saja. Tapi, ketika sampai di tangga, Goshiki mendengar suara petikan gitar entah dari mana. Goshiki menatap lorong asrama anak kelas satu yang lengang. Tidak ada pintu yang terbuka lebar, harusnya tidak suara gitar seperti ini tidak akan terdengar dari sini.

Lantunan melodi itu mulai memainkan nada-nada baru. Ah, kali ini Goshiki mengenal lagu yang terdengar.

Sekali lagi, anak itu menoleh ke kanan dan kiri untuk tak mendapati apa pun. Ia kemudian memejamkan mata, mencoba fokus mencari arah datangnya suara gitar tersebut. Sambil bersenandung kecil dan mengikuti insting, Goshiki melangkah menapaki tangga menuju rooftop asrama. Itu bukan area terlarang, tapi anak-anak Shiratorizawa agaknya lebih suka menghabiskan waktu di fasilitas sekolah yang lain ketimbang nongkrong di atap. Ketika sampai, pintu rooftop terbuka lebar dan benar saja, suara gitar terdengar semakin jelas — dan seseorang yang sedang bernyanyi.

‘Tunggu, suara ini kan —’

“Goshiki?” Semi Eita, setter sekaligus pinch server andalan klub voli Shiratorizawa itulah yang Goshiki temui di rooftop. “Ada apa?”

Kakak kelasnya itu duduk bersila sambil memangku gitar tak jauh dari pintu masuk. Semi duduk menghadap ke dinding, di hadapannya ada ponsel yang disandarkan untuk menghadap dirinya.

“Siapa, Eita?”

Eh, kak Semi sedang menelepon? Goshiki berseru dalam hati. Sedetik kemudian dia menyadari bahwa kakak kelasnya bukan hanya menelepon, tapi bahkan bermain gitar sambil didengarkan oleh orang yang meneleponnya! Apalagi … lawan bicara kak Semi — Goshiki yakin sekali — adalah laki-laki. HUH??

“Ah, juniorku. Sebentar, ya.” Tersenyum tipis pada ponsel, tanpa mematikan layar, Semi kembali meletakkan perhatiannya pada Goshiki yang masih membatu di ambang pintu. “Mencariku, Goshiki?”

“Iya, eh — enggak!” Goshiki mendadak gelagapan.

Semi menaikkan alisnya, ujung bibirnya terangkat tipis, seperti menahan tawa, “Jadi? Iya atau enggak?”

“Eh — anu, tadi aku cuma nggak sengaja dengar suara gitar,” Goshiki melempar pandang ke sembarang arah, “Ternyata kak Semi. Maaf banget aku ganggu kak Semi!” Anak itu membungkukkan badan meminta maaf, kemudian langsung berlari keluar rooftop. Beruntung, sebelum lari, Goshiki sempat melirik sekilas layar ponsel milik Semi.

***

“HAAHH?!” Shirabu, Kawanishi, Leon, dan bahkan Hayato sekali lagi bereaksi bersamaan setelah Goshiki selesai bercerita.

“Aku nggak mungkin salah lihat, kak.” Mata Goshiki berbinar, “Nggak mungkin salah, soalnya dari suaranya udah jelas laki-laki.”

“Sebentar!” Shirabu memijit dahinya, “Jadi, Kak Semi video call nyanyi sambil main gitar ke seorang cowok di rooftop. Gitu kan?” Melihat Goshiku mengangguk, kepala Shirabu terasa makin pening. “Aku lagi memproyeksikan adegan itu dan …ya. Memang sangat kak Semi, sih.”

Shirabu tahu, Semi Eita itu sangat keren. Sebutlah dia kurang ajar karena merebut poisisi main setter di tim utama klub voli sekolah mereka. selain Ushijima Wakatoshi, Semi Eita adalah senior yang Shirabu kagumi. Selain jago main voli, pemuda bersurai kelabu itu juga pintar main musik dan termasuk murid yang tidak buruk secara akademik. Poin plus lainnya lagi, Semi itu baik hati. Sangat. Melihat iklim sekolah yang persaingan individunya sangat tinggi, seharusnya Semi tidak mungkin menemani dia berlatih toss, kan? Tapi tidak, Semi selalu menerima permintaan Shirabu untuk berlatih bersama.

“Pacar kak Semi?” celetuk Kawanishi, “Dan kayaknya bukan dari sekolah kita, karena … kenapa harus videocall, kan? Kenapa juga harus di rooftop?”

“P-PACAR?” Goshiki terbata, “EH IYA — ”

“Eh apalagi??” Shirabu bersumpah akan menendang pantat anak itu juga karena memberi informasi secara tidak utuh sejak tadi.

“Orang di telepon manggil kak Semi … ‘Eita’, gitu.”

Ah, entah mengapa Shirabu merasa sebal pada laki-laki yang ada di telepon itu, tanpa tahu mengapa.

“Loh, lagi ngomongin Semi-semi ya?” Di tengah kehebohan sesi menebak pacar-kak-Semi, Tendou Satori yang baru masuk ke gym tiba-tiba ikut bergabung.

“Semi?” Ushijima Wakatoshi, sang kapten Shiratorizawa yang datang bersama Tendou juga berjalan mendekat. “Semi kenapa? Dia sedang ambil izin.”

“Eh iya kak,” Shirabu, yang merasa bertanggung jawab karena telah memulai percakapan ini pun inisiatif bertanya. Siapa tahu kak Ushi tahu. “Sebenarnya kak Semi berjanji mau latihan bareng. Tapi tiba-tiba kemarin dia membatalkan janji. Kak Semi cuma bilang ada urusan penting. Jadi kami penasaran — “

Tanpa semua orang — minus Tendou — duga, Ushijima langsung menjawab dengan santai. “Oh, Semi ke Tokyo.”

Perlu jeda dua detik untuk menyadari apa yang baru mereka dengar.

“Tokyo??”

Sang Kapten mengangguk. “Dia mau menemui ayahnya yang bekerja di Tokyo.”

Baru saja Shirabu hendak bernapas lega, perkataan Tendou sekali lagi membuatnya serasa disambar petir.

“Tapi itu pasti akal-akalan si Semi-semi ajasih. Sekarang kan udah babak penyisihan Haru-ko.”

Tampaknya, yang mengerti maksud pernyataan Tandou hanya anak-anak kelas tiga.

“Oh ya, Karasuno yang jadi wakil Miyagi.” Kata Leon, agak sebal. “Tahun terakhir malah nganggur aja di sini.”

“LOH IYA!” Hayato sepertinya baru mengingat suatu kenyataan. “Kalau Semi sampai bela-belain ke Tokyo, jangan-jangan sekolah itu lolos kualifikasi nasional?”

“Sekolah apa kak?” Kawanishi bertanya di tengah kebingungan. Dua tahun berada di klub voli, tidak pernah ada rumor yang tidak berkaitan dengan pertandingan yang menyebar dan jadi perbincangan hangat. Agaknya, perihal kali ini cukup rapat tersimpan di kalangan kakak kelasnya saja.

“Jadi, waktu kita kelas satu dulu — aduh nggak papa kali ya, diceritain aja?” Hayato meminta persetujuan rekan-rekannya, yang dibalas anggukan oleh Ushijima serta tawa dari Tendou.

Shirabu, Kawanishi, dan Goshiki yang telanjur penasaran, berkata tidak sabaran. “Cerita ajaa kak! Kita nggak bakal bawa ke luar klub voli!”

“Jadi waktu kelas satu dulu, Semi ‘ketemu’ seseorang di Tokyo Metropolitan Gymnasium. Kurang tahu detailnya, tapi kayaknya dia suka — ” Hayato tampak ragu. Dia menyikut Leon untuk membantu.

“Jujur aku juga nggak terlalu paham mereka ini temen atau ‘pacar’. Semi nggak pernah cerita, dan menurut yang Goshiki bilang tadi, kemungkinan ya Semi memang kalau ‘pacaran’ diem-diem sampai kita nggak ada yang tahu.” Leon menambahkan.

“Loh kak Leon yang sekamar sama kak Semi sampe nggak tahu?”

Leon menggeleng. “Tahu kalau mereka masih sering kontakan, tapi nggak tahu statusnya. Lagian si Semi emang rajin banget. Di kamar kalau nggak belajar ya, istirahat. Jarang aneh-aneh.”

“Nggak kayak Leon main mulu.” Tendou berkomentar, yang segera Leon hadiahi pukulan di tangan.

Pertanyaan Kawanishi belum terjawab sepenuhnya, jadi ia kembali memperjelas perkataannya. “Berarti kakak-kakak pada kenal si ‘orang’ ini?”

“Nggak, sih.” ucap Leon.

“Nggak, kita nggak match juga waktu itu.” jawab Hayato.

“Loh, jadi kak Semi nemuin orang itu di mana?” Shirabu mulai frustrasi. Dia sudah menyelam sedalam ini, kalau tidak tahu semua faktanya, rasanya usahanya sia-sia.

“Di jalan kali,” Tendou terbahak-bahak, “Ushi, ushi, kayaknya ushi kenal.”

Sekarang semua mata memandang Ushijima. Sang kapten merangkap perwakilan timnas Jepang itu balik menatap rekannya satu per satu. Pemuda itu menimbang sejenak. Semi memang tidak pernah bilang agar hubungannya dirahasiakan, tapi temannya itu juga tidak pernah bilang kalau ia mengizinkan untuk memberitahu teman-temannya.

Ushijima akhirnya menghela napas.

“Saya tahu, tapi tidak kenal.”

“Siapa kak Ushi?” Karena Ushijima berkata kalau ia tidak kenal, Shirabu segera mencoret beberapa nama atlet-atlet muda yang menjadi kandidat timnas Jepang seperti spiker menyebalkan dari Itachiyama atau setter menjengkelkan dari Inarizaki.

“Tidak ingat namanya. Tapi dia sekarang kapten dari salah satu tim perwakilan Tokyo. Jersey mereka berwarna merah.”

Shirabu bersumpah dia akan memelototi televisi yang menyiarkan penyisihan Haru-ko besok. Untuk apa? Tentu mencari tim berjersey merah. Mengapa ia ingin melakukan itu? Shirabu tidak tahu. Dia hanya merasa harus melakukannya.

***

Mari sedikit kembali ke masa lalu.

Pada hari itu, setelah Goshiki menghilang dari pandangan, Semi meraih ponsel dan mengangkatnya sejajar wajah. “Maaf ya, ada interupsi dikit.”

“Kenapa tuh tadi? Kamu galak jadi adik kelasmu langsung kabur?” si lawan bicara tertawa renyah.

“Mana ada aku galak. Dia emang nggak begitu akrab sama aku, sih.”

“Junior tim voli?”

Semi mengangguk. “Kamu nggak kenal. Dia masih kelas satu.”

“Iya, aku tahunya yang Shirabu-Shirabu itu.” Ada gelak tawa lagi, “Oiya kamu masih suka ngajarin dia jadi setter? Keren banget kamu, serius. Padahal posisimu juga udah direbut dia. Kalau aku sih kayaknya bakal caper ke coach biar diturunin di match lagi.”

Agak tersipu karena dipuji, Semi jadi tidak bisa menyembunyikan senyum. “Nggak usah bahas lagi, toh aku masih main juga di match.”

“Betul juga. Kamu kan sekarang jabatannya macho banget, Semi Eita si pinch server Shiratorizawa. Servicenya wuoh, kalau aku receive bolanya mental sampai tribun penonton.”

Semi spontan melepas tawa. “Berisik, Tetsurou.”

.

.

[]