Work Text:
**
“Hanna mau nginep sendiri di tempat oma? Hari sabtu ini?” Mama Hong seolah tak percaya karena Hanna hampir tidak pernah seperti itu. Hanna selalu nempel bapaknya kecuali Jisoo lagi kerja. Dia selalu manja dan dia tidak akan menginap di rumah oma - opa kalau ayahnya itu tidak menginap juga. Tapi kali ini gadis kecil itu mengangguk riang dan mantap.
“Aku kan kangen oma dan opa!” dia tersenyum lebar. Jisoo di sebelahnya hanya terkikik geli, karena gadis kecilnya sedang merencanakan sesuatu. Sedikit banyak, Jisoo jadi merasa melankolis. Hanna tiba-tiba sudah cukup dewasa untuk memikirkan sebuah skenario.
“Boleh, pasti boleh dong,” Mama Hong akhirnya menjawab seraya menyajikan brownies yang sudah dipotong sejajar beserta teh untuk anak dan cucunya. Hanna kemudian menunjukkan pose finger-gun ke ayahnya, menandakan bahwa rencananya berhasil. Jisoo akan punya waktu untuk dirinya sendiri hari Sabtu nanti.
Sebetulnya, Jisoo merasa sedikit gak enak sama orang tuanya. Sama sekali gak ada alasan untuknya menutupi bahwa saat ini dia sedang dekat dengan seseorang yang sudah pernah bertemu dengan ibunya. Bagaimanapun, Jisoo sudah tiga puluh empat tahun, duda, dan punya seorang anak. Semestinya tidak ada lagi hal yang perlu dipertanyakan dalam caranya mengambil keputusan yang bisa dipertanggungjawabkan.
Jisoo merasa aneh. Dia belum cukup yakin untuk berterus terang, tapi di sisi lain dia tidak suka memperlakukan Jeonghan seperti sebuah rahasia.
**
“Bang Han, lo tuh sekarang ada bisnis sampingan apa gimana?” Soonyoung meraih toples kecil berisi kastangel dari meja Jeonghan. Sebelum ini, kue kering yang ada di meja Jeonghan adalah lidah kucing. Sebelumnya lagi, nastar keju. Jeonghan cuma menanggapi keusilan Soonyoung sekadarnya sambil mengamati beberapa foto hasil X-Ray pasien. Dia gak pernah bilang ke siapapun bahwa dia selalu kebagian apapun yang Jisoo bikin dalam rangka praktek bikin aneka kue kering. Jisoo gak jualan, tapi dia bilang yang dia buat kadang terlalu banyak, makanya dibagi ke Jeonghan aja. Lalu Jeonghan bawa kuenya ke rumah sakit untuk dicemilin lagi sama rekan-rekannya karena menghabiskan setoples sendirian bakal terlalu lama.
“Lu laper apa doyan, nyong.”
“Kepo dong, bang. Udah jadian ya sama si dugem?” Soonyoung menyisipkan beberapa potong kue kering di antara bibirnya seraya bicara.
Jeonghan mengerutkan alis, “Dugem apaansi?”
“Duda gemes! Gebetan abang yang waktu itu abang cerita. Abisnya, bang Seungcheol bilang abang udah ke nikahan mbak Haseul sama dia, kan?” Jeonghan mengangkat wajah mendengar kalimat Soonyoung lalu melotot ke arah anak itu yang baru aja menelan potongan terakhir kastengel di toples, “Ampun bang, udah keburu ketelen kuenya.”
Jeonghan menghela napas, merapikan dokumen X-Ray sebelum kemudian memasukkannya ke dalam map besar, “Jisoo. Namanya Jisoo.”
“Lancar kan, bang?” Soonyoung menatap cemas seraya mengusap remah kastangel yang menempel di sudut mulutnya.
“Doain aja, nyong.”
“Mak gue mau umroh bang, mau nitip doa ke dia juga gak?”
Jeonghan menatap Soonyoung, “Sini lo gue jitak dulu, abis itu lo doain gue. Katanya doa orang teraniaya cepet terkabul.”
Ponsel Jeonghan lalu bergetar di mejanya, notifikasi dari Jisoo muncul –yang tentu saja langsung membuat Jeonghan melirik layar.
Sabtu ini gue bisa ke rumah lo, Hanna bilang mau nginep di rumah oma opanya.
Jeonghan melongo karena tidak menyangka, seraya bergumam dia berkata, “Luar biasa cespleng banget doa lo, nyong.”
**
Jeonghan tahu dia terkesan murah dan terlalu sederhana, tapi sebagai orang yang melewati akhir dua puluhan dan awal tiga puluhannya dengan begitu banyak kejadian yang mengubah hidupnya dengan drastis, dia jadi sadar bahwa kebahagiaan sesepele apapun tetap kebahagiaan. Jeonghan menyadari bahwa dia senang mendapati hal-hal kecil memotivasinya –selain melakukan pekerjaan & tanggung jawabnya.
Belakangan ini, kedekatannya dengan Jisoo memberinya hal-hal itu.
Jeonghan tau kalo pada dasarnya dia digantung, tapi itu gak sedikit pun membuatnya kecewa. Jisoo selalu menyambutnya untuk setiap obrolan, ajakan jalan, atau janjian. Tapi yang paling penting, Jisoo membuatnya ingin mengusahakan apa yang mereka punya sekarang.
Sebelumnya, Jeonghan cuma berbasa-basi mengatakan kalau kapan-kapan Jisoo boleh mampir ke kontrakannya. Jeonghan sama sekali gak berharap bahwa Jisoo beneran bakal tertarik, mengingat weekend adalah waktunya dia memprioritaskan keluarga. Tapi entah gimana –atau dengan bantuan Hanna si gadis kecilnya, Jisoo punya alasan untuk beneran berkunjung ke kontrakan Jeonghan.
Jeonghan mengakui bahwa dia serius ngajak Jisoo, walaupun tetep gak nyangka kalau semua akan berjalan selancar ini. Begitu dapet libur di hari Sabtu, Jumat malemnya Jeonghan buru-buru beberes rumah; nyapu, ngepel, ngelapin perabot sampe ngosek kamar mandi sebersih mungkin. Seorang Yoon Jeonghan melakukan itu, sampai tetangga pangling karena hari raya masih lama.
Apapun itu, Jeonghan puas. Gak banyak hal yang dia inginkan, gak ada tuntutan untuk terburu-buru, karena Jisoo membuatnya yakin kalau mereka selalu punya waktu.
**
“Hanna mau bawa piyama yang mana?” Jisoo menunjukkan satu berwarna peach dan satu lagi berwarna kuning kepada Hanna.
“Mau kuning,” Hanna meraihnya dari tangan sang ayah dan mulai melipatnya untuk kemudian dimasukkan ke ransel.
“Bisa ngelipetnya?” Jisoo memastikan. Hanna langsung mengangguk cepat meski hasil lipatannya gak simetris. “Semangat banget yang mau ke rumah oma opa,” ujar Jisoo seraya mengusap pelan rambut Hanna.
“Besok ayah mau ketemu om Jeonghan, kan?” gadis kecil itu nyengir.
Jisoo lalu tersenyum, “Hanna suka sama om Jeonghan? Bukannya dulu Hanna takut karena om Jeonghan ketus dan judes?”
“Iya, dulu,” sahut Hanna. “Tapi om Jeonghan baik, terus suka lucu! Terus Hanna suka karena ayah suka. Hanna suka orang yang suka sama ayah!”
Sesaat Jisoo seperti terkesiap oleh kalimat putrinya sebelum kemudian tertawa dan mencubit gemas hidung Hanna, “Hanna jangan cepet-cepet gede, ah. Nanti ayah sedih,” ujarnya berusaha menyembunyikan rasa haru, tapi tidak bisa menutupi melankolis yang melanda seiring putrinya semakin besar. Kemudian dia merasakan Hanna memeluknya erat.
“Ayah, Hanna juga mau liat ayah bahagia.”
**
Jisoo duduk agak lama, melamun sejenak saat dia terbangun oleh alarmnya di Sabtu pagi itu. Dia sudah mengantar Hanna sejak Jumat malam ke rumah oma opanya, dan rasanya agak janggal ketika dia terbangun sendirian seperti ini; tanpa pikiran harus menyiapkan apa untuk sarapan dan makan siang Hanna, tanpa mencari ide mau jalan-jalan ke mana mereka hari ini. Waktu yang hening dan lamban untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Sejak Hanna lahir, Jisoo sudah merelakan lebih dari sebagian hidupnya cuma tentang putrinya itu. Namun khusus hari ini, hidup Jisoo adalah tentang dirinya sendiri.
Pagi Han, masih molor gak 😄
I’ll be leaving home at 10ish I guess? Soalnya mau belanja dulu
Bilang aja kalo mau nitip
Sudah sekitar 6 bulan sejak Jeonghan ngajak pacaran dan Jisoo menjawabnya dengan belum siap, tapi hubungan mereka tetap bergulir seperti ini. Gak ada yang berubah dari sikap Jeonghan ke Jisoo, tapi hal itu membuat Jisoo gelisah sendiri. Dia merasa udah menggantungkan Jeonghan di saat bisa aja cowok itu gak membuang waktunya dengan menjalin hubungan dengan orang lain yang lebih siap. Namun Jisoo sedikit banyak takut kehilangan Jeonghan, selain karena Jeonghan perlahan sudah menjadi bagian dari kesehariannya, Jisoo merasa gak akan mudah menemukan orang lain yang seperti itu dalam hidupnya yang selama ini monoton.
Dan hari ini, mereka bakal berkencan –lebih tepatnya, untuk pertama kalinya mereka bakal menghabiskan waktu yang lebih lama berdua di kontrakan Jeonghan. Sebenernya ini rencana lama yang baru sekarang aja bisa direalisasikan karena kesibukan masing-masing. Tapi begitu kesempatannya datang, Jisoo malah jadi mikir apakah dia kurang persiapan? Haruskah dia menyiapkan sesuatu?
Jisoo lalu melirik sebuah kantong kecil yang sengaja dia letakkan di atas ranselnya agar tidak lupa. Jisoo udah nyiapin hadiah, baru-baru ini temen kantornya ngajak dia ikut workshop after office, dan salah satu hasilnya adalah apa yang sekarang ada dalam kantong kecil itu.
Jisoo sedang mengenakan bucket hatnya ketika notifikasi ponselnya berbunyi. Dari Jeonghan.
Tunggu gue jemput aja
Biar kita belanja bareng
Gue bawa mobil kok
Ini gue udah beres mandi
See u
Jisoo merasa aneh, kenapa kemungkinan akan kebahagiaan membuatnya malah pesimis, seolah dia gak layak menikmati hal itu sebagaimana banyak manusia di muka bumi.
**
Jisoo duduk di teras menunggu Jeonghan seraya membalas pesan yang mengabari kalo dia udah deket. Gak lama kemudian terdengar bunyi klakson dari luar pagar diikuti kemunculan mobil sedan warna silver. Jeonghan membuka jendela sisi penumpang, “Masuk, soo,” ajaknya. Jisoo bergegas keluar pagar dan masuk mobil, kemudian langsung terkekeh pelan ketika menyadari sesuatu. “Hah? Kenapa?” Jeonghan belum mudeng.
“Kalo gak mau samaan baju sama gue, gue masih bisa ganti baju dulu,” Jisoo cekikikan, dan Jeonghan akhirnya sadar kalo mereka pake hoodie abu-abu yang beneran sama persis dari tone warna sampe brand dan modelnya. Dia malah ikut cekikikan.
“Naik aja udah. Lucu kan kita jadinya kayak Ipin-Upin,” Jeonghan berujar.
**
Jisoo menimbang apakah dia sebaiknya nanya tumben-tumbenan Jeonghan gak jemput dia naik motor. Sebelum ini ke manapun mereka selalu naik motor sampai-sampai Jisoo kebiasaan bawa helm sendiri supaya gak merepotkan –dan Jeonghan juga sering bawa helm khusus Jisoo (“Nih gue stikerin helmnya pake nama panggilan lo, terus alamat, nomer hape,” Jeonghan pernah berkata dengan tengilnya pada suatu hari. Jisoo cuma bisa ketawa dan dorong dia pelan karena begitulah Yoon Jeonghan).
Selain itu, karena selama ini mereka jalan bareng cuma pas malem sepulang kerja. Jisoo sendiri gak masalah karena sejak kenal Jeonghan, dia menemukan ternyata dia enjoy naik motor.
Tapi naik mobil begini juga menyenangkan. Jeonghan terlihat menyambungkan speakernya dengan stream playlist; lagu ballad yang mengalun sayup-sayup. Jisoo hari ini baru tau kalo kemungkinan Jeonghan suka lagu kayak gini.
“Gue pikir lo bawa motor,” ujar Jisoo akhirnya.
“Ooh, motor gue lagi di bengkel. Kemarenan mogok gak mau distarter,” jawab Jeonghan. “Makanya berapa hari ini gue kudu bawa mobil. Tapi kan gitu, gue jadi gak bisa nyalip-nyalip,” Jeonghan kemudian tersadar kalau Jisoo tengah menatapnya lama.
“Jangan ngebut,” pandangan Jisoo kembali ke depan. Jeonghan jadi cengengesan. Mobil mereka lalu berhenti karena lampu merah menyala, dan Jeonghan gak bisa gak memanfaatkan kesempatan itu untuk menyentuh Jisoo.
“Seneng deh, dikuatirin,” cengiran Jeonghan jumawa.
Jisoo terkekeh, “Wajar, kan? Chan juga juga pasti bakal bilang begitu,” Jisoo membiarkan tangan Jeonghan menyentuhnya lebih lama sebelum akhirnya lampu merah berganti hijau.
**
Jeonghan sebenernya bingung mau belanja apa. Dia jarang banget masak karena pola makannya sehari-hari kurang lebih; pagi - bubur ayam atau kupat tahu atau gorengan, siang - nasi padang atau ramesan warteg atau apapun yang lagi bikin Soonyoung ngidam pada saat itu, malam - cenderung skip makan malem karena udah keburu ngantuk, ditambah lagi sore biasanya udah kenyang jajan –atau Jeonghan beli pecel lele kalo lagi rajin. Intinya dia jarang masak, kecuali bikin mie instant bisa dianggap demikian.
“Gue pikir lo cuma suka baking,” Jeonghan berkomentar seraya bersandar pada handle trolly sambil dia melihat Jisoo yang lagi milih bawang putih.
“Malah gue belajar masak duluan sebelum belajar baking, kalo baking tuh gara-gara anak kantor gue suka ngajakin gabung workshop gitu,” Jisoo meletakkan sekantong bawang putih yang akhirnya dia pilih. “Dan gue biasa nyiapin bekalnya Hanna tiap pagi, jadi gue harus belajar banyak resep biar anaknya gak cepet bosen.”
Untuk kesekian kalinya sejak mengenal Hong Jisoo, lagi-lagi Jeonghan takjub. Keberadaan Haseul membuat Jeonghan nyaris gak usah mikirin sejauh itu tentang kebutuhan Chan sehari-hari. Haseul selalu mengurus segala keperluan Chan sendiri, sebelum dan sesudah mereka bercerai. Bahkan kalaupun Haseul berakhir terlalu capek dan gak sempet, dia bakal langganan catering karena buat dia Chan wajib dan kudu 4 sehat 5 sempurna tiap hari. Jeonghan bisa aja ngeback up–walaupun Haseul gak sepenuhnya percaya sama dia perkara pengasuhan, setidaknya mereka selalu berdua. Sementara Jisoo, dari awal selalu sendirian walau sedikit dibantu oleh orang tuanya.
“Terus lo mau bikin apa ini?” tanya Jeonghan.
“Steak burger, lo pernah cerita lo doyan daging, kan?”
**
Walaupun Jisoo udah sering denger cerita tentang rumah kontrakan yang ditempati Jeonghan, melihatnya sendiri secara langsung rasanya jelas beda. Kalau dari cerita Jeonghan, kontrakannya itu serba ngepas; kamar cuma ada 2; kamar tidurnya dan kamar tidur Chan kalau dia lagi nginep. Kontrakannya muat 1 mobil dan 1 motor, dengan sedikit teras yang ada sepetak rumput di belakang pagarnya dan sedikit space buat jemur baju di belakang rumah. Jeonghan juga pernah menyebut berhubung dia lebih sering tinggal sendiri, semakin kecil space-nya semakin baik, karena dia gak butuh banyak waktu atau tenaga untuk beres-beres. Kemudian dari karakter Jeonghan yang males ribet, Jisoo menduga bahwa tempat tinggalnya pun akan ringkes & polos, tapi ternyata dia salah duga.
Rumah Jeonghan terlihat rapi dan nyaman. Selain deskripsi yang benar sudah sempat disebutkan sebelumnya, di teras Jeonghan ada set meja kecil dengan asbak di atasnya dan sepasang kursi. Sementara itu di tepiannya berderet pot-pot kecil berisi tanaman hias yang kelihatannya dirawat dengan baik, karena semuanya kelihatan segar dan subur.
“Lo suka tanaman hias?” ujar Jisoo seraya melepas sepatu saat mau masuk.
“Ooh sebenernya gak juga, cuman lo tau kan anak RS yang suka gue ceritain itu, si Soonyoung. Nah, ortunya hobi ngebibitin taneman sama nyetek gitu, terus dikasih ke gue karena gue dan ortunya Soonyoung lumayan deket,” jelas Jeonghan. “Yuk, masuk,” Jeonghan mempersilakan Jisoo begitu dia berhasil membuka kunci rumah.
Di dalam rumahnya juga rapi, dan gampang melihat sekeliling. Hanya saja, di beberapa sudut ada tempelan dan mainan yang ketara banget itu punya siapa. “Chan sering nginep, ya?”
“Iya, kalo lagi ngambek sama bundanya atau lagi pengen jajan cilok diem-diem,” Jeonghan nyengir. “Eh, sori ya kalo agak berantakan. Nanti kalo mau ke kamar mandi ada di sebelah situ,” ujarnya seraya menunjuk salah satu ruangan.
“Alright,” Jisoo menyahut, meletakkan belanjaan di meja makan. Gak sulit bagi Jisoo untuk menemukan peralatan masak karena Jeonghan bener-bener meletakkan semua di tempat yang terlihat.
“Gue bantu, ya? Kalo motong sama ngupas aja bisa kok, gue,” Jeonghan menawarkan. Jisoo menerima tawaran itu dengan senang hati.
**
Ini adalah kali pertama Jisoo menghabiskan weekendnya seperti ini, datang ke rumah seseorang dan masak bersama-sama. Sebelum mengenal dan dekat dengan Jeonghan, sepulang kantor kadang rekan-rekannya akan mengajak Jisoo ikut kegiatan, atau hari Sabtunya mereka akan ikut workshop yang ramah anak di mana dia bisa mengajak Hanna. Tapi ternyata begini pun menyenangkan, dan lucunya, waktu ini adalah pemberian Hanna.
Hanna pernah cerita kalo papanya Chan itu lucu –tentu saja gadis kecil itu mendengarnya dari Chan. Papanya gampang frustasi, gak sabaran, kadang ngomelin keran air. Tentunya pas bantuin masak Jisoo melihat semua itu, tapi entah kenapa, sama seperti tanggapan Hanna, menurutnya hal seperti itu lucu dan menarik. Dia tak pernah melihat Jeonghan sedekat ini, masuk ke dalam lingkungannya yang paling personal seperti tempat tinggal begini. Jisoo mengerjap ketika menyadari bahwa pikirannya melayang jauh dan memasukkan dirinya sendiri dalam frame kehidupan Jeonghan. Kalau seandainya mereka memutuskan menjalani hidup bersama, merawat hubungan mereka yang masih tunas hingga menjadi kebun.
“Semuanya enak,” komentar Jeonghan membuyarkan lamunan Jisoo. Ketika Jisoo tersadar, piring Jeonghan udah kosong, licin, tandas. Bahkan saus gravy yang digunakan untuk menyiram patty burger aja nyaris gak bersisa –padahal pas nyicip tadi Jisoo sempet mikir kalo sausnya agak keasinan. Jisoo kemudian melahap suapan berikutnya dengan canggung. Dia bahkan baru makan setengah porsi dari apa yang disajikannya sendiri.
“Setiap bersama lo, gue jadi sadar kalo gue makannya lama,” ujar Jisoo. Jeonghan cuma menyingkirkan piringnya ke sisi sebelum kemudian menyandarkan dagunya ke tangan.
“Gapapa, kok. Malah bagus kan, buat pencernaan,” Jeonghan cengengesan. Dia emang gak salah, sih. Tapi Jisoo kemudian menyadari sesuatu.
“Tumben lo gak ngerokok habis makan,” katanya. Jeonghan menggaruk wajahnya yang gak gatel.
“Ooh iya, nanti gampang,” ujarnya. “Abis ini mau es krim atau apel?”
**
2 cup es krim sudah teronggok kosong di meja, sementara Jeonghan dan Jisoo menyaksikan film dokumenter netflix tanpa ada dari mereka yang bicara. Tapi semua ini gak terasa canggung. Jeonghan kemudian beranjak sejenak, mengumpulkan cup es krim kosong untuk kemudian membuangnya. Piring bekas apel langsung dia cuci, dan ketika Jisoo menatap punggung Jeonghan dari ruang tamu, dia berpikir jika ada pilihan-pilihan dalam hidupnya yang akan membawanya mendapati pemandangan itu setiap hari.
Untuk mendapati orang lain selain putrinya di rumah, seseorang yang setara dan bisa diajak berdiskusi. Seseorang yang ingin menggenggam tangannya seingin Jisoo menggenggam tangan orang itu. Jeonghan yang gak sabaran tapi juga sangat sabar menunggu dia. Jeonghan yang mudah frustasi tapi selalu berusaha untuk mengimbangi. Jeonghan yang bikin salah dan minta maaf karena dia mengakui dan menyesalinya. Jeonghan yang penuh ironi yang manusiawi.
Jisoo bukannya gak pernah memikirkan ajakan Jeonghan untuk pacaran. Tentu saja dia memikirkannya. Sesuatu yang gak pernah dia sangka akan dia alami dalam keadaan sudah jadi duda dengan satu anak. Jisoo begitu ingin menerima itu begitu saja, namun dia masih dibayangi ketakutan bahwa selamanya itu tak ada. Bahwa hidup berdua saja dengan Hanna sudah cukup dan dia gak perlu berharap meraih kebahagiaan lain.
Jisoo lalu menatap Jeonghan dalam diam. Jeonghan seperti hendak menyulut rokok tapi alih-alih sekarang dia membiarkan batang rokok cuma menggantung di antara bibirnya. Kemudian pikiran Jisoo melayang pada perkataan putrinya semalam.
“Ayah, Hanna juga mau liat ayah bahagia.”
Selamanya itu tak ada, tapi mereka berdua bisa berusaha.
Jisoo menelan ludah, tangannya mencengkram lututnya pelan sebelum kemudian dia bicara.
“Han,” panggilnya pelan. Jeonghan melepas rokok mati di mulutnya sebelum kemudian dia menoleh ke arah Jisoo.
“Hm?”
“Tawaran yang dulu masih berlaku, gak?”
Jeonghan kicep, belom nyambung sama apa yang dimaksud. Jisoo lalu menarik napas sambil terkekeh pelan, lebih untuk dirinya sendiri, “Oke, biar gue yang bilang kali ini.”
“Gimana kalo kita pacaran?”
Jeonghan mangap sejenak, gak langsung menjawab apapun, malah dia cekikikan. “Kalo gue jawab iya, gue boleh cium lo gak?”
“Kenapa?”
“Karena lo ada di sebelah gue.”
“Lantas?”
“Lo ada di rumah gue, kita duduk di sofa yang sama, bersebelahan, dan lo adalah pacar gue.”
Jisoo ketawa, “Jadi maksudnya diiyain, nih?” tapi Jisoo tau pertanyaannya itu gak penting, karena mereka sudah saling mendekatkan wajah. Walau terdengar agak konyol, ini akan menjadi ciuman pertama Jisoo yang dilakukannya bersama orang yang benar-benar dia sukai. Bukan orang pilihan siapa-siapa, bukan orang yang tidak memilih untuk bersamanya.
**
Jeonghan udah lupa banget kayak gimana rasanya ciuman. Gimana rasanya berdebar-debar atau merasa otw mati bahagia karena perasaan yang berbalas. Dia pikir dia udah terlalu tua untuk hal-hal kayak gitu. Tapi bahkan dengan anggapan yang seperti itu, atau dengan semua hal yang udah pernah dia lalui, yang dialaminya bersama Jisoo terasa sangat baru. Bibir Jisoo hangat dan lembut, napasnya masih wangi es krim stroberi, dan Jeonghan mikir apakah Jisoo juga bisa mencium aroma es krim karamel dari mulut Jeonghan. Segalanya tentang Jisoo dan penerimaannya terhadap Jeonghan hanya membuat Jeonghan semakin yakin untuk bersamanya.
**
Jeonghan menawarkan Jisoo untuk nganterin dia pulang. Petang itu agak macet, karena di jalan-jalan yang mereka lalui kebetulan padat, soalnya ada beberapa event besar dan pameran yang sudah memasuki hari terakhir. Meskipun mobil mereka cuma bisa melaju pelan dan banyakan berhentinya, Jeonghan gak merasa jengkel sama sekali. Bahkan ketika dia dan Jisoo sama-sama cuma menikmati siaran radio yang nyetel lagu-lagu kekinian sambil sesekali update info lalu lintas.
Sore itu cerah, matahari perlahan terbenam dan cahayanya yang oranye menimpa sebagian wajah Jisoo dan Jeonghan seperti diingatkan kalau Jisoo punya mata yang indah, berkilau dan kelopaknya terukir begitu mulus dan indah. Seperti dulu ketika pertama kali dia mulai memperhatikan Jisoo saat mereka mulai berbaikan di area Aquarium.
“Han,” panggil Jisoo, tepat begitu lampu merah menyala, dan 120 detik terhitung mundur sebelum berganti hijau lagi. Jeonghan menoleh, menyimak apa yang mau disampaikan Jisoo.
“Sebelumnya gue minta maaf kalo gue gak bisa menjamin jadi pasangan yang baik. Gue mungkin cuma tau cara mengusahakan.”
“Kita baru jadian 2 jam.”
Jisoo terkekeh, “Gue mikirin ini lama banget, Han. Tapi selama berbulan-bulan kita bersama, gue mulai menyadari sesuatu.”
“Kalo?”
“Kalo gue berharap lo ada di masa depan gue…dan Hanna.”
Mata Jeonghan membulat, agak tersipu karena Jisoo keliatan begitu…ekspresif dan yakin.
“Kalo gitu gue juga mau disclaimer bahwa kita mungkin gak bakal selalu baik-baik aja. Tapi…
…karena itu lo, gue mau usaha, Soo. Misalnya…misalnya ada masa di mana kita gak baik-baik aja, gue mau usaha untuk memperbaiki. Begitu, berulang-ulang, gue mau.”
Jisoo lalu meraih tangan Jeonghan di sisinya, menggenggamnya lembut karena dia gak tau apa yang harus dikatakan lagi. Kemudian 120 detik habis dan lampu lalu lintas kembali berganti hijau.
**
“Si Hanna balik kapan?” Jeonghan menepikan mobilnya di depan pagar rumah Jisoo.
“Nanti maleman, gue jemput di rumah ortu gue,” Jisoo melepaskan seatbelt. “Oiya Han, ada yang mau gue kasih sejak kita baru naik mobil menuju pulang. Tapi lo lagi ribet nyetir dan lampu merahnya gak gitu banyak, jadi –nih,” Jisoo mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sepasang gelang tali yang mirip. “-Abisnya gue bingung, masa gue gak bawa apa-apa buat lo selain belanjaan. Makanya gue bawain ini, though, I’m not sure if you are a bracelet-kind of person,” ujar Jisoo.
“Pasangin dong,” Jeonghan nyengir usil. Jisoo cuma mendengus, sebelum kemudian mengambil salah satu dan melingkarkannya di pergelangan tangan Jeonghan.
“Ini bukan simpul mati ya, nanti lo tinggal longgarin kalo mau lepas. Tarik aja yang sebelah sini nih,” Jisoo menjelaskan.
“Terus lo gak pake juga? Kan udah ada sepasang?” Jeonghan masih mepet.
Jisoo terkekeh, Jeonghan pasti merasa dikasih celah buat ngegodain dia, “Nanti gue pake.”
“Pake sekarang aja, terus nanti kita foto.”
“Apa sih, kayak abege aja.”
“Tapi belom pernah kan, jadi abege kayak gitu?” cengiran Jeonghan makin lebar. Jisoo akhirnya merangkai simpul untuk gelang talinya sendiri, dan seperti ide Jeonghan, mereka motret tangan mereka pakai gelang couple. Padahal Jisoo gak ada niatan seperti itu dari awal, karena gelang itu cuma hasil dari apa yang dia pelajari dari workshop.
Jisoo ngerasa gak ingin berpisah, rasanya dia pengen minta Jeonghan tinggal lebih lama –kalo aja dia gak inget bahwa ada tanggung jawab yang harus dia lakukan. Mereka lalu ciuman di mobil sekali lagi dan ketika Jisoo masuk ke rumah, dia sampe bengong dulu karena merasa ini semua kayak gak nyata. Setelah bertahun-tahun lamanya dia punya pacar. Pacar pertama dalam hidupnya yang baru dia temui ketika sudah berstatus duda.
**
Hari udah berganti Senin lagi. Sebenernya sebelum jadian juga Jisoo dan Jeonghan emang banyak kontakan, tapi ucapan enjoy your day dari Jeonghan rasanya beda dengan ucapan yang sama dia kirim setidaknya hari Senin minggu lalu. Jisoo berjalan melewati koridor menuju ruangan departemen finance di kantornya, disambut dengan pemandangan biasa anggota timnya di pagi hari; sekumpulan cewek-cewek yang mengubah ruangan mereka menjadi salon dadakan setiap pagi karena ada yang lagi ngeblow rambut, make up sama nyatok, tidak lupa dengan roll rambut yang masih terpasang di ubun-ubun. “Pagi guys,” sapa Jisoo sambil meletakkan ransel dan menyalakan laptop.
“Pagiii Mas Jisoo,” balas anak-anak itu dengan riang.
“How was your weekend?” tanya Jisoo.
“Rebahan aja mas, sambil netflikan,” Yerim, anak junior menyahut.
“Eh Mas Jisoo aku pas Sabtu ke Supermarket liat mas loh, dari jauh! Lagi jalan sama cowok! Pacarnya yah, mas?” Yeojin si anak magang heboh sendiri sambil asik nyatok.
“Diiiih si bocil masih Senin udah ngelambe aja, kelarin dulu tuh ngarsip invoice,” Jungeun, staff lain nyeletuk sambil menggoda Yeojin. Jisoo cuma cekikikan.
“Iya, lagi belanja,” Jisoo senyum. Dia tau banget kalo itu cuma pertanyaan kekanakan biasa, tapi lucu juga ngeliat Yeojin dan Yerim kelihatan lebih excited dari dia.
“Nanti pake adat apa, mas?” mata Yerim dan Yeojin kelihatan berbinar, dan tentunya mendengar pertanyaan itu membuat Jungeun spontan nimpukin roll rambut ke arah keduanya. “Ih kenapa sih, kak. Kan seneng tau kayak denger temen jadian,” Yeojin manyun.
Perkataan Yeojin si anak magang membuat Jisoo menyadari hal yang selama ini dia lewatkan. Bahwa terlepas dari pilihan-pilihan salah yang dia buat, hal-hal tidak mulus ataupun kegagalan yang pernah dilaluinya, dia akan selalu pantas menerima cinta ataupun mencintai orang lain tanpa perlu terus-terusan berpikir soal pantas tidaknya dia melakukan itu.
**
Bulan-bulan berlalu dan semuanya berjalan seperti biasa. Yang membuatnya berbeda adalah, Jisoo menyadari bahwa dia sekarang punya teman bicara. Meskipun tidak semua hal yang mereka jalani berbunga-bunga, tapi hubungan yang mereka rawat tumbuh dan berkembang dengan baik. Jisoo gak pernah merasa begitu ingin berusaha untuk berhubungan dengan orang lain seperti dia pada Jeonghan, begitu pun dia gak pernah merasa begitu diusahakan oleh orang lain seperti yang Jeonghan lakukan padanya.
Kemudian pada suatu malam, di mana mereka baru kembali dari berkeliling menghabiskan Jumat malam seperti biasa, dan motor Jeonghan sedang diservis untuk kesekian kalinya, Jisoo melontarkan pertanyaan apakah Jeonghan mau bertemu dengan orang tuanya. Mobil kemudian agak oleng dikit dan mereka berdua ketawa.
“Kalo kamu belom siap gapapa,” Jisoo mengusap belakang kepala Jeonghan.
“Aku mau kok, hari ini juga aku siap. Emang aku maunya gitu,” sahut Jeonghan.
Jisoo tersenyum, “Coba kita puter balik di depan, terus nanti ambil kanan,” tunjuknya.
“Loh? Muternya jadi jauh, dong?”
“Gak apa-apa, biar lebih lama sama kamu.”
Jeonghan tersenyum tipis, mungkin Jisoo tau kalo dia gelagapan. Tapi pembahasan ini bukanlah hal yang gak pernah Jeonghan perkirakan sebelumnya. Dia sama sekali gak bohong kalo dia emang udah lama mempersiapkan diri.
Makanya ketika mereka sampai di depan rumah Jisoo, di mana sudah pasti ada orang tuanya juga di dalam yang menjaga Hanna, Jeonghan ikut turun dan bilang ke Jisoo kalau dia siap ketemu orang tuanya, dan ini bukan karena Jisoo membahasnya tiba-tiba di mobil.
Derit pintu pagar malam itu terasa seperti menyeret jantung Jisoo sedikit, tapi kemudian dia merasakan Jeonghan menggamit tangannya dengan lembut tapi yakin, “Kamu gak apa-apa…? Kita gak perlu-”
“Gak apa-apa,” ujar Jeonghan menenangkan, sebelum kemudian dia menambahkan,
“Aku percaya sama kita.”
**
