Work Text:
"gyuv gyuv gyuv!!! udah tahu belum kelas kita bareng sama siapa?" dipanggil, gyuvin mengangkat kepalanya yang sejak lima menit lalu dia istirahatkan di atas meja.
"anjing, deket banget muka lo nyet!!" rutuknya kesal. sebab ketika dia mengangkat wajahnya, dia dihadapkan dengan wajah taesan yang cuma berjarak beberapa senti dari wajahnya. "emang kelas siapa sih? semangat bener kayak sama kelasnya gebe-" menyadari kalau kalimatnya mungkin benar, mata gyuvin membelalak. taesan yang sepertinya juga mengerti kalau gyuvin akhirnya paham mengapa dia begitu girang, makin tersenyum lebar. "sama kelas sebelas tiga?" gyuvin berdiri dengan bersemangat.
"iya!!!" seru taesan. mengangkat kedua tangannya, gyuvin dengan kegirangan yang sama menautkan kedua tangannya dengan tangan milik taesan, dan mereka berdua berloncatan girang di depan kelas.
——————
kalau harus diringkas, maka inti dari ceritanya adalah seperti ini:
kelas sebelas ipa tiga adalah kelas dari dua orang penting—setidaknya buat gyuvin dan taesan—adalah kelas yang diketuai oleh park gunwook, dan juga kelas dari leehan. gunwook adalah orang yang dideklarasikan oleh gyuvin sebagai gebetannya (meskipun yang tahu deklarasi satu sisi itu cuma teman-teman sekelas gyuvin sendiri) dan leehan adalah calon pacar dari taesan (sekali lagi, cuma sepihak, karena taesan cuma berani mendeklarasikan leehan sebagai calon pacarnya di depan beberapa orang temannya.)
kalau informasi yang taesan berikan benar, maka di perjalanan study tour mereka bulan depan, dia dan taesan akan berbagi satu bis dengan gunwook dan leehan. kalau ditambah dengan fakta bahwa dia dan gunwook sama-sama ketua kelas, maka ada sembilan puluh persen kemungkinan kalau dia akan duduk bersama gebetannya sepanjang perjalanan. membayangkan hal itu saja sudah berhasil membuat gyuvin rasanya seperti melambung tinggi ke angkasa. sedikit hiperbola, tapi ya, namanya juga remaja.
“lo bisa nggak ngatur biar gue sama duduk sama leehan, please please bangetttttt,” rengek taesan. gyuvin tidak memberikan perhatian pada rengekan temannya, lanjut menikmati semangkuk bakso yang terhidang di hadapannya.
“gimana caranya biar gue bisa membuat kalian berdua satu bis tanpa membuat gunwook curiga?” tanyanya, tidak melepaskan fokusnya dari makanan dihadapannya.
“ya gimana keeeeeek, lu kan udah pasti duduk sama gunwook, sama-sama ketua kelas. ntar kalo berhasil gue jajanin bakso lima kali deh!” tawar taesan. mendengar tawaran itu, gyuvin akhirnya mendongakkan kepala, menatap temannya dengan wajah iseng menyebalkan.
“oke, gue terima.”
“taruhan apa lu berdua anak muda.” si abang bakso menanggapi. gyuvin cuma memberikan cengiran lebar pada si abang tukang bakso.
“ini bang, dia minta gue bikin duduk bareng gebetannya.” gyuvin menunjuk pada taesan ketika dia menjawab pertanyaan si abang bakso. tertarik dengan percakapan mereka, si abang bakso mengambil kursi dan ikut duduk di meja keduanya.
“wih, seru amat. kalo udah jadian ajak lah pacar lo kesini.”
“gratisin lah bang.” seru taesan, menatap abang bakso dengan cengiran tengil.
“alah, emang lu berani ngajak jadian?” tanggap gyuvin, menyeruput es jeruknya.
“emangnya elu berani?” taesan membalik pertanyaan gyuvin. abang bakso yang ikut dalam percakapan mereka cuma mendecak tidak percaya.
“ah cupu lu berdua anak muda,” si abang bakso bangkit dari duduknya. “kalo berhasil pacaran gue gratisin deh makan bakso sama pacar lo berdua. tapi kalo boongan ntar kena karma sakit perut.”
“janji ya bang?” seru mereka berdua bersamaan.
“kompak bener, iya beneran, janji gue!”
“asik, bakso gratis!!!” lagi, mereka berdua berseru kompak.
“eh, ajak dulu gebetan lu buat pacaran kunyuk dua!”
——————
cuma bicara soal duduk dengan gebetan itu mudah, apalagi kalau pembicaraan itu terjadi antara dia dengan taesan yang sama bucinnya. tapi, duduk dengan gebetannya ternyata tidak semudah yang dia bayangkan. well, setidaknya buat dia sih, sepertinya gunwook sendiri tidak punya masalah berbagi tempat duduk dengan gyuvin.
"vin, kok kayaknya kamu agak pucet, mabuk kendaraan?" dikhawatirkan begitu, yang muncul di pikiran gyuvin justru monolog bodoh; huhuhuhu mamaaaaa, gunwook pake aku-kamu sama gyuvin maaaaaaa. "kalau agak mabuk aku bawa antimo ini, sengaja siapin agak banyak buat anak-anak kelas," mamaaaaaaa gunwook anaknya perhatian dan peduli sesamaa, ma booking gedung maaa. monolog itu berlanjut di kepala gyuvin.
"enggak kok wook, kalo minum antimo takutnya ntar g- eh, aku ketiduran.” mamaaaa, aku pake aku-kamu sama gunwook. monolog dalam hati itu masih berlanjut.
“ya nggak papa, santai aja. daripada sakit kan?” gunwook berkata sambil mengulurkan satu pil berwarna oranye dan sebotol minum air putih. “jangan ngerasa terlalu beban sama anak-anak lain, aku juga ketua kelas kok di sini, tidur aja, gue yang jagain.”
mamaaaaaaa, gyuvin belum sampe jogja tapi rasanya udah terbang sampai surgaaaaa.
“beneran nggak papa kan?” dengan malu-malu, gyuvin menerima obat anti mabuk yang gunwook ulurkan. “maaf ya misalnya gu- eh, maksudnya, aku ketiduran terus jadi banyak gerak.”
“nggak papa vin, serius. kalo nggak diminum-minum, nanti aku bantu suapin lho lama-lama.”
udaaaah, yatuhan gyuvin mana kuat kalo beginiiiiiiii.
(jangan ada yang memberitahu gyuvin kalau sepuluh menit setelah dia menelan obat anti mabuk itu, kepalanya terantuk ke jendela satu kali. dan gunwook yang sudah berjanji nanti aku jagain pada gyuvin, merubah arah kepala gyuvin agar bersandar di pundaknya. dan oh, jangan beritahu gyuvin juga kalau semu merah di pipi gunwook jelas bukan karena cuaca panas, mengingat mereka sudah berada dalam lindungan kendaraan dengan air conditioner yang dinginnya membuat semua orang memakai jaket mereka.)
——————
“—ngun dulu, ini lagi berhenti makan siang.” suara gunwook dan guncangan pelan di pundak membuat gyuvin akhirnya terbangun. ketika dia membuka mata, ada wajah gunwook berjarak setengah meter dari wajahnya. refleks, gyuvin menutup wajah mengantuknya dengan lengan.
“jam berapa sekarang?” tanyanya dengan suara serak bangun tidur. gunwook hanya tertawa pelan dan (akhirnya) menjauhkan wajahnya dari wajah gyuvin.
“jam dua belas, ayo makan dulu, yang lain udah pada turun. kasian kalau kamu nggak makan, takut makin parah mabuknya.” gunwook mengulurkan tangan.
jujur saja, gyuvin sebenarnya tidak lagi semabuk itu, mual dan pusingnya sudah sembuh setelah minum antimo dan tidur selama dua jam perjalanan tadi. tapi, kenapa juga dia menolak perlakuan baik hati dari gebetannya. ya kan? jadi, gyuvin menerima uluran tangan gunwook dan menggunakan beban tubuh gunwook untuk membantunya berdiri.
wow, gini rasanya dapat princess treatment.
“masih pusing?” tanya gunwook, memastikan berat tubuhnya bisa menjaga keseimbangan mereka berdua.
“dikit.” ujar gyuvin, sedikit berbohong. padahal dia sebenarnya cuma masih sedikit mengantuk saja.
“yaudah ayo jalan dulu, ntar kamu tinggal duduk aja. kayaknya taesan sama leehan tadi bilang mau jagain meja. nanti aku bawain makanannya ke meja.”
“makasih ya wook.” ujarnya, dengan senang hati menggandeng lengan gunwook, menggunakan kesempatannya sebagai pasien mabuk kendaraan dengan sempurna.
——————
taesan ipa 4
12.04
buset kata gue mah
12.05
lu kali yang buset
12.06
kalah lah gue sama yang masuk ke rumah makan sambil lendotan
12.07
awww maloe bngt 🫣🫣🫣
12.07
menurut lu kira-kira bisa nggak kita malakin bang yuto bakso gratis abis balik dari study tour?
12.08
harus yakin sob
12.09
benar sob, yakin dulu ygy
btw cie yang makanannya dibawain (calon) ayang
12.10
🫣🫣🫣🫣🫣🫣
takut banget gila jantung gue kayak mau lepas ke perut sob
12.11
semangat sob, lu harus KUAT
——————
taesan benar, gyuvin harus kuat.
harus kuat, sebab perlakuan baik gunwook nggak cuma berhenti sampai di waktu makan siang mereka. sepanjang perjalanan setelah makan siang, gunwook masih memperlakukan gyuvin dengan princess treatment yang luar bisa membuat gyuvin ingin jungkir balik saking senangnya. padahal, semua orang di bus juga tahu kalau gyuvin sudah sehat sepenuhnya. seperti sekarang:
“anak-anak berisik banget, nggak pusing lagi kan vin?” tanya gunwook dengan suara pelan. gunwook benar soal teman sekelas mereka yang amat berisik. segerombolan anak yang duduk di kursi belakang sedang menyanyikan keras-keras lagu dangdut pantura, ketua dari gerombolan itu? tentu saja kim taeyoung, juara paling badut dan paling terkenal satu angkatan.
“nggak papa sih, udah biasa denger taeyoung begitu setiap jam kosong.” ujarnya sambil bersandar di kursinya. well, gunwook tidak perlu tahu kalau dia sebenarnya anggota tetap gerombolan berisik taeyoung kalau sedang ada jam kosong di kelasnya kan?
“sebenernya kalau keberisikan aku mau ngajakin nonton bareng,” gunwook mengulurkan satu sisi dari earphonenya. “semalem udah download film di netflix buat jaga-jaga kalau butuh hiburan.”
walah, siapa sih gyuvin untuk menolak tawaran menggiurkan seperti itu? menonton film bersama sambil berbagi masing-masing satu sisi earphone? kalau begini terus bisa-bisa dia mendirikan tenda hajatan begitu sampai di jogja.
“boleh deh.” ujarnya sambil nyengir, menerima uluran earphone dari gunwook. tidak butuh waktu lama buat suara dengdeng familiar terdengar di telinganya.
(kalau oleh jujur, gyuvin tidak begitu ingat inti cerita dari film yang ditonton bersama gunwook. dia terlalu sibuk mengatur detak jantungnya yang berantakan. sepanjang film, gunwook membuat badan mereka menempel begitu dekat, bahu gunwook dan bahunya saling bersenggolan. kalau misal dia pingsan karena serangan jantung, maka orang pertama yang harus dijadikan tersangka adalah park gunwook, yang wangi colonge nya luar biasa enak. entah karena memang betulan enak atau dia saja yang terlalu bucin.)
——————
“vin, kamu temen deketnya taesan kan?” pertanyaan yang dilayangkan oleh leehan membuatnya menoleh dari ponselnya dan berfokus pada teman sekamarnya. leehan menanyakan soal taesan? kalau temannya tahu, si taesan pasti sudah melompat sampai ke bulan saking senangnya.
“iya, gimana han?” masa bodoh soal progress dari game yang dia mainkan. pertanyaan leehan soal taesan jauh lebih menarik dibandingkan game apapun.
“aku penasaran sama sesuatu, tapi boleh janji dulu nggak, jangan bilang siapa-siapa soal ini, terutama sama taesan?”
“janji, suweeer.” ujarnya sambil mengulurkan jari kelingkingnya, yang disambut oleh jari kelingking juga dari leehan.
“taesan tuh, nggak punya pacar kan?”
oooooh pertanyaan menarik.
“setau gue sih, beneran masih jomblo, ngenes malah.” maaf ya san, ini demi hubungan lo biar bisa berhasil sama leehan. “lo, eh maksudnya kamu suka sama taesan?” gyuvin bertanya, sambil merubah posisinya jadi telungkup, kedua tangan menangkup wajahnya demi melihat reaksi leehan terhadap pertanyaannya.
“um….”
“nggak papa, kalau emang beneran suka, aku bisa bantuin.”
leehan mengangguk. menggemaskan. gyuvin jadi paham kenapa temannya itu naksir berat pada leehan. dan well, taesan bakal punya hutang budi padanya kalau dia berhasil membantu mereka berdua pacaran.
“nanti aku bantuin buat deketin gunwook kalau gitu.” ujar leehan, kalimat yang berhasil membuatnya terkaget dan berguling jatuh dari kasurnya sendiri.
“k-kenapa gitu??!??” tanyanya panik, sambil merubah posisinya jadi duduk di lantai.
“kamu naksir sama gunwook kan? aku liatnya gitu. maksudnya biar kita sama-sama saling membantu.” ujar leehan, bersila di atas kasurnya.
“emang sekentara itu ya?” cicitnya panik. kalau memang naksirnya pada gunwook sejelas itu dimata orang lain, apa gunwook juga bisa dengan mudah tahu kalau dia naksir? mampus aja.
“aku nggak tahu sih sekentara apa, itu cuma dari hasil observasiku aja. bener berarti ya?” tanya leehan sambil tersenyum lebar. “kalo bener kan jadi kebetulan, aku bisa bantuin kamu deketin gunwook, kamu bisa bantuin aku deketin taesan.
wah, alamat bang yuto bakal bangkrut sih ini mah.
——————
taesan ipa 4
20.49
bilang makasih sama gue
20.52
?????
20.53
tunggu aja tanggal maennya sob
20.55
apesih anjrit
——————
leehan nggak bercanda soal membantu dia untuk lebih dekat dengan gunwook. sewaktu guru mereka menyuruh semuanya untuk berpasangan buat perjalanan mereka ke museum merapi, leehan dengan mudah mengusulkan ide awal agar gyuvin dan gunwook yang sama sama ketua kelas jadi pasangan, dan membuat mereka berdua yang memasangkan teman-temannya.
“urutan selanjutnya, leehan berarti ya. sama siapa vin dari kelas kamu.”
“taesan deh.” ujarnya tanpa berpikir. taesan yang duduk di kursi belakang bersama dengan gerombolan taeyoung dan junhyeon berseru senang. sepertinya temannya itu sudah tidak sembunyi-sembunyi soal crush nya buat leehan.
“oke, leehan sama taesan. sekarang siapa lagi berarti, jiho ya.”
——————
dengan alasan sebagai ketua kelas, gyuvin dan gunwook berakhir di barisan paling belakang rombongan mereka. gyuvin tidak protes sih, mengingat gunwook justru menawarkan buat berpegangan tangan, katanya tadi sih; “biar nggak kepisah vin. kalaupun nyasar minimal kan kita nyasarnya nggak sendirian.”
kalau begini sih bisa-bisa pulang study tour gyuvin terkena penyakit jantung.
dan disinilah dia, berjalan bergandengan dengan gunwook, terpisah beberapa meter dari tour guide museum dan teman-teman mereka, sama-sama sibuk menghindari tatapan mata satu sama lain.
“semalem bisa tidur nyenyak vin?” pertanyaan itu membuat gyuvin menoleh kearah gunwook begitu cepat.
“eh?”
“semalem tidurnya nyenyak? takutnya masih nggak enak gara-gara perjalanan berjam-jam.” gunwook mengulang pertanyaannya.
“ooh, nyenyak kok. kamu?” bisa nggak lebih awkward dari ini?
“nyenyak juga kok.”
gyuvin boleh nggak sih ge-er kalau semu merah yang muncul di pipi gunwook tuh karena dia?
“vin, tau ngg-”
“woi vin! wook! jangan sampe ketinggalan!”
dan mereka berdua cuma bisa tertawa mendengar seruan dari taeyoung, lalu menyusul gerombolan teman mereka yang ada beberapa meter di depan. kalaupun ada yang melihat mereka bergandengan tangan, tidak ada yang berkomentar.
( kecuali taesan yang mengiriminya sepuluh bubble chat hanya berteriak ‘cieeeeeee.’)
——————
berdasarkan yang direncanakan, semuanya sudah siap. taesan bahkan berhasil membuat penjaga penginapan yang sedang melakukan shift malam itu memberi ijin untuk melancarkan rencananya, entah bagaimana. sekarang, tinggal bagian gyuvin dalam rencana, membawa leehan dari kamar ke lobi tanpa membuat leehan mencurigai apapun.
tidak ada kesulitan apapun sih, dia cukup bilang kalau dia butuh bantuan soal gunwook, dan leehan dengan senang hati ikut gyuvin keluar dari kamar, tanpa mencurigai apapun.
sebenarnya yang direncanakan juga tidak besar-besar amat sih, cuma taesan yang menunggu di lobi dengan buket snack yang dibuat sendiri (berdasarkan informasi yang dia dapatkan dari taesan, dibantu oleh beberapa teman perempuan leehan, yang dengan senang hati membantu taesan, membuatnya yakin kalau taesan sudah yakin soal perasaannya yang dibalas oleh leehan.
dan begitu dia dan leehan sampai di lobi, dia membuat leehan berdiri ditengah-tengah lobi, ikut bergabung dengan gerombolan temannya yang berdiri di pinggiran lobi, dan membiarkan taesan yang maju sambil menyodorkan buket snack itu.
“kim leehan, mau nggak jadi pacarku?” tanya taesan, pada leehan, yang diiringi dengan lagu but i like you yang disetel keras-keras dari ponsel taeyoung. pas sekali.
“mau.” jawab leehan dengan senyuman lebar, menerima buket yang diulurkan oleh taesan.
“eh ini udh pasangan kedelapan coy.” ujar junhyeon.
“siapa aja?” tanya taeyoung, mematikan lagu yang dimainkan dari ponselnya, mengingat ini sudah cukup malam.
“dari kelas kita aja udah tiga ini. pas di museum itu, rei ditembak anak ips dua, minji juga diajak pacaran sama anak ipa satu. terus ini taesan nembak leehan.”
“wih, dari kelas kita tiga. harusnya nambah gue juga yak.” tanggap taeyoung.
“lah, siapa suruh naksirnya kayak tingkat,” gyuvin ikut menanggapi. “terus limanya siapa lagi?”
“yang dari kelas lain ada siapa aja dah, bentar.” junhyeon mengangkat kedua tangannya dan melipat tiga jari. “seinget gue, ada bahiyyih ditembak juga, terus wonyoung juga, niki nembak sunoo, riwoo juga, ada juga sungho.”
“gila sih, itu mah kayak semua orang yang kita kenal.” ujar gyuvin.
“elu dong kesembilan!” ujar taeyoung, mendorong pundak gyuvin. “kan deket tuh sama gunwook sekarang gue liat-liat.”
“entar ya liat.” gyuvin hanya bisa tertawa kecil. dalam kepalanya, dia ingat ada satu lagi sepasang orang yang baru jadian tapi belum junhyeon sebutkan.
——————
taesan ipa 4
23.29
sob temen sekamar gue balikin sob
sob gue laper sob
jajan indomaret yuk sob
ah elah sibuk pacaran ya lu sob
delivered
——————
gunwook ketua ipa 3
23.31
vin? dah tidur belum?
23.32
SEBUAH KEBETULAN D:
23.33
????
23.33
aku pengen jajan keluar….. mau nemenin nggak? 🙁
23.34
sure, aku tunggu diluar lobi lima menit lagi?
23.35
yeaaaayyy 😍
——————
"aku pake kaos lengan panjang kok, serius vin, santai aja." gunwook berujar sambil melepaskan hoodie yang dia pakai. gunwook nggak berbohong tentu saja, dibalik hoodienya, gunwook betulan.
"beneran nggak papa?" tanyanya sambil menerima uluran hoodie itu. mereka bahkan belum sampai di minimarket yang mau dituju, dan gyuvin sudah gemetar kedinginan karena dengan percaya diri keluar hanya dengan kaos pendek tipis.
"nggak papa, asli deh. nggak kepikiran ya kalau bakal dingin?" tanya gunwook. gyuvin cuma mengangguk sambil mengenakan hoodie itu. satu hal lagi yang dia sadari, hoodie itu kentara sekali kebesaran, padahal tadi sewaktu dipakai gunwook, hanya sedikit saja kebesaran seperti hoodie pada umumnya.
"nggak kepikiran kalau bakal sedingin ini." ujarnya, menyamankan diri dalam balutan hangat hoodie milik gunwook. wajahnya ia sembunyikan di lekuk leher hoodie, menyembunyikan rona merah yang sepertinya mulai muncul ketika otaknya mulai menyadari kalau dia sedang mengenakan hoodie milik gunwook.
“penasaran sesuatu deh vin, kamu kenal deket sama taesan kan?” tanya gunwook. gyuvin menggumamkan ‘iya’, sambil tangannya dimasukkan di kantong hoodie milik gunwook yang dipakainya.
“temen mayan deket, aku udah temenan sama taesan dari smp.” jawab gyuvin ketika gunwook tidak melanjutkan kalimatnya.
“emangnya taesan udah lama naksir sama leehan?” gunwook akhirnya menyampaikan pertanyaannya.
“taesan? uh,” gyuvin berucap ragu, tidak yakin apa dia harus mengungkapkan rahasia temannya (yang sebenarnya tidak rahasia-rahasia amat, mengingat hampir setengah teman sekelasnya adalah pendukung berat agenda taesan buat naksir leehan). “udah cukup lama sih, tapi jangan bilang siapa-siapa ya? kayaknya nggak banyak yang tahu sih.”
“oooh, pantesan.”
“pantesan?”
“pantesan udah berani ngajak pacaran. soalnya leehan juga udah lama naksir taesan. leehan cerita sama kamu kan?” tanya gunwook.
“iya, malah sampe minta dibantuin biar bisa deket sama taesan. lucu juga sih sebenernya, soalnya aku tau kalau taesan juga naksir, jadi aku bakal yakin kalau mereka bisa jadian.” gyuvin tertawa ketika kembali mengingat soal leehan yang minta dibantu agar dekat dengan leehan. lucunya dia sepertinya cuma melalukan satu hal buat mereka berdua, dan taesan sudah berani mengajak leehan pacaran.
“minta tolong ke kamu?”
“iya minta tolong buat bisa deket sama taesan terus gantinya leehan mau bantuin aku d-” sebentar, kan janji leehan adalah membantu dia untuk dengan dengan gunwook, orang yang saat ini sedang menemaninya ke minimarket di tengah malam, orang yang sedang dia ajak bicara soal ini.
“bantuin aku d-apa?” ulang gunwook sambil bertanya.
“uh, bantuin aku dapet… uh ada deh, rahasia aku sama leehan!” serunya, mempercepat langkah menuju minimarket yang sudah tidak jauh. di belakang, gunwook berseru memanggil sambil menyusul.
“vin! jangan buru-buru dong! aduh, janji nggak nanya lagi kok!” seru gunwook, berhasil menyamakan langkah tepat ketika gyuvin mendorong pintu kaca minimarket terbuka. dalam hati, dia berseru ‘ ya kan mau dapetin lu!’ tapi kalimat itu ditahan, dan justru yang keluar dari mulutnya cuma jawaban singkat;
“oke!”
——————
taesan ipa 4
00.02
ini leehan udah gue anterin balik ke kamar coyyy
mana lu
00.03
heheheheheh
lagi ke indomaret sama gunukk 🥹
00.04
woooooooh udah bikin leehan panik
untung belum lapor pak guru kalo lu ilang
00.05
ih tesan gitu mentang2 punya ayang sekarang mikirinnya ayang muluuuuu
sedih aku tuh
00.06
ketikan lu agak najis
inikah efek lagi sama gebetan?
00.07
gue juga ngetiknya agak hoek gitu sih
hnggg gonuk 🥹
00.09
hoek lagi
balik masih lama lu?
00.10
enggak, bentar lagiiii, takut kemaleman juga
00.11
ttdj
jangan berbuat asusila di semak semak
00.12
woi
——————
sejak mereka keluar dari penginapan tadi pagi, sampai ketika mereka turun dari bus, gunwook selalu berada di sekitarnya. kalau gyuvin boleh ge-er, gunwook seperti sedang mencari kesempatan untuk berduaan dengan gyuvin.
“vin, mau muter-muter sama siapa?” tanya gunwook, berdiri di depan gyuvin dengan kedua tangan disembunyikan di saku celana jeans. sumpah, gyuvin boleh nggak sih ge-er kalau gunwook berniat buat mengajaknya menyusuri hutan pinus ini berdua? tapi, demi menjaga nama baiknya (memangnya gyuvin punya?), dia berpura-pura menoleh kesekitar, entah mencari siapa, sebelum akhirnya menjawab dengan muka dibuat melas gemas sebisa mungkin; “enggak tau wook. kamu?”
meeeen, demi diajak gunwook jalan-jalan dia mah siap bersikap seperti damsel in distress. bucinnya sudah akut.
gyuvin nggak paham apakah ini murni keberuntungan dia doang, atau ada campur tangan leehan, tapi gunwook betulan mengatakan kalimat yang ingin dia dengarkan (bukan, bukan mengajak gyuvin pacaran, kayaknya dia terlalu jauh bermimpi kalau itu);
“mau muter-muter bareng aku?”
puja kerang ajaib!!! seru gyuvin dalam hati. tapi dia berusaha mengontrol ekspresi wajahnya, lalu tersenyum lucu sebelum mengangguk mengiyakan ajakan gunwook.
“boleh!” gyuvin refleks mengulurkan tangannya, mirip princess di film disney ketika diajak berdansa. dia nyaris saja menarik tangannya dan kabur menjauh karena malu dengan sikapnya, tapi gunwook justru tertawa kecil dan menerima uluran tangan gyuvin.
“ayo.”
rasanya gyuvin sudah terbang tinggi sampai ke bulan bintang.
——————
“kalau dipikir-pikir sebelum study tour ini, kita jarang ngobrol ya vin.” ujar gunwook, tangannya menggenggam tangan gyuvin erat-erat. sebenarnya mereka cuma sedang menanjaki tangga kayu saja sih, dan gyuvin yakin kalau dia tidak akan jatuh tergelincir, tapi siapa sih gyuvin buat menolak pegangan tangan dari gebetannya yang setiap menitnya semakin terlihat ganteng itu?
“iya juga ya, padahal kita sama-sama sering ketemu kalau ada rapat. eh akrabnya malah sekarang ini.” gyuvin mau bilang dekat, tapi dia takut kalau cuma dia yang menganggap mereka dekat. “tapi kayaknya banyak juga sih yang baru akrab gara-gara study tour. taesan sama leehan tuh juga contohnya.”
“sama banyak juga yang jadian kan.” ujar gunwook, tertawa kecil. “tau nggak disekolah kita ada rumor kalau setiap study tour pasti bakal ada sembilan pasangan yang jadian?”
aduh, apaan sih ini, gyuvin tidak mau terlalu berharap. yang semua orang tahu, taesan dan leehan adalah pasangan kedelapan yang berhasil jadian dalam jangka waktu tiga hari ini dan sedang menunggu pasangan yang kesembilan, tapi banyak yang tidak tahu kalau malam sebelumnya ada lagi satu pasangan yang jadian. gyuvin tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka ketika dia keluar untuk mengambil air minum dari dispenser yang ada di lobi penginapan. dia cuma bisa mengenali suara jungwon. melihat bagaimana jungwon yang tidak lepas dari sisi seseorang yang gyuvin tidak begitu ingat namanya, gyuvin jadi menyimpulkan kalau merekalah pasangan yang kedelapan, dan sahabatnya semalam berhasil jadi orang kesembilan yang berhasil menggaet pacar di study tour ini.
“tau dong.” ujarnya sambil tertawa kecil.
“leehan sama taesan udah jadi pasangan yang kedelapan. sebenernya keren juga ya dalam jangka waktu tiga hari ada delapan pasang orang jadian.” lanjut gunwook. gyuvin mencoba menahan detak jantungnya yang dirasa terlalu kencang. percakapan ini rasanya sedang mengarah kesana, tapi dia tidak mau terlalu berharap.
“tau jungwon kan?” tanyanya pada gunwook. kebetulan, subjek pembicaraan mereka sedang berjalan tidak jauh di depan mereka, meskipun cukup jauh hingga jungwon mungkin tidak mendengar kalau dia sedang dibicarakan.
“tau, loh. dia juga abis jadian?” tanya gunwook, menyadari kalau jungwon sedang menggandeng seseorang.
“iya, kemaren malem malah tengah malem gitu. aku mau ambil air putih di lobi dan nggak sengaja denger.” tanggapnya.
“oh,” suara gunwook terdengar panik. “berarti leehan taesan sembilan ya.”
“iya, udah sembilan,” ujar gyuvin, mengigit bibir karena ragu untuk mengucapkan kalimat yang akan dia ucapkan selanjutnya. “tapi kan mitos mah mitos aja nggak sih, nggak ada yang salah kalau yang jadian nggak sampai sembilan, atau lebih dari sembilan.” dalam hati, gyuvin sudah mengucapkan ‘ tembak gue dong gunwook, please’ berulang kali.
“iya juga sih,” sumpah, gunwook yang terlihat gelisah membuat gyuvin makin ge-er. “vin?”
“iya?” tangannya yang masih digenggam gunwook terasa basah. dia memang berkeringat, siapa sih yang tidak nervous kalau digandeng erat oleh gebetannya sepanjang jalan? tapi dia juga bisa merasakan kalau gunwook juga mulai berkeringat nervous.
“mau mematahkan mitos itu bareng aku nggak?”
“eh?”
“eh maksudnya tuh, pacaran, eh aneh ya, maksudnya bukan cuma masalah mitos, aku cuma bahas mitos itu buat bahan percakapan, maksudnya mau nggak pacaran sama a-”
“mau.” gyuvin memotong ocehan gunwook. membuat gunwook terdiam dengan mulut menganga, bingung.
“hah?”
“aku mau pacaran sama kamu, gunwook.” ujarnya, dengan cengiran lebar yang tidak bisa dia hilangkan dari wajahnya. tangan gunwook dia genggam makin erat.
“oh,” ekspresi bingung di wajah gunwook kini diganti dengan ekspresi lega, dengan rona merah yang sudah tidak lagi malu-malu muncul di pipinya. “makasih udah nerima ajakan aku, meskipun ngajaknya kacau banget.”
“makasih juga udah nembak aku.” tanggap gyuvin, rona merah yang serupa ikut muncul di pipinya ketika gunwook merubah genggaman tangan mereka jadi lebih intim, dengan jemari mereka kini saling bertaut diantara satu sama lain.
——————
Taesan ipa 4
13.07
HEHEHEHEHEHEHE gue ditembak gunwook coooyy
13.10
Njir??
Kapan?
13.11
Tadi di hutan pinus WKWKKWKWK
13.12
Lu kesembilan?
13.13
Sepuluh sih WKWK
13.15
Asik mematahkan mitos mitos
Jir kita bisa bisa malakin bang yuto bakso
13.17
WKWKKWKWK
Kudu bawa ayang dong makan di bakso bang yuto
13.18
Demi bakso gratis
13.19
Demi bakso gratis sob!
——————
“bang yuto!! mau nagih bakso gratisnya bang!!” ujar gyuvin dan taesan bersamaan, menghadap ke abang bakso yang sudah berjanji sebelumnya akan memberikan bakso gratis pada mereka juga mereka berhasil memacari gebetan mereka masing-masing.
“eh buset, kenapa gue dipalakin nih?”
“kita berhasil ngajak gebetan kita pacaran bang!” ujar taesan, nyengir bangga. dibelakang gyuvin dan taesan, ada gunwook dan leehan yang cuma bisa ikut nyengir, entah buat sopan santun atau menahan malu dengan tingkah dua tengil di depan mereka.
“lu berdua pacarnya ini kunyuk dua?” tanya si abang bakso pada gunwook dan leehan, yang mengangguk mengiyakan pertanyaan tersebut.
“kok mau sih?”
“bang!!” seru gyuvin dan taesan bersamaan.
“buset, santai dong. iya dah kan gue udah janji. bakso gratis buat lu berempat.”
“gue dua porsi boleh bang?”
dan pertanyaan taesan dijawab dengan sabetan serbet.
