Work Text:
In the classic way of office romance comedy, Hanbin found himself working as a legal secretary for the hot guy who used to like him back in uni. Hanbin doesn't remember most of his uni romance story, but when Jiwoong show up at the clean lawyer office in three piece suits and expensive looking reading glass, Hanbin known the universe is working their way to probably fuck with Hanbin’s life for (probably) shattered the said man's heart back in uni.
In the cliche plot of rom-com, of course Jiwoong is a divorcee with a six years old daughter. And of course Hanbin’s the one falling first this time around. And of course Hanbin's the one confessing his now undying love to the man who's just two years older than him.
Hanbin's confession story toward Jiwoong goes like this;
Jum’at pukul tujuh malam, Hanbin berpamitan untuk pulang pada Jiwoong yang sedang berkutat dengan dokumen di ruang kerjanya. Jiwoong menatap Hanbin dari ujung kaki hingga kepala, menyadari Hanbin yang sudah berganti dari pakaian kerja untuk menghemat waktu. Jiwoong hanya tersenyum lelah, lalu mengucapkan “have fun, Hanbin.”
Jum’at malam pukul setengah sepuluh malam, Hanbin sedang sibuk clubbing dengan teman-temannya, menenggak minuman beralkoholnya entah keberapa. Di Tengah sesi curhatnya soal pengacara seksi-garis miring-mantan gebetan jaman kuliah-garis miring-hot single dad pada teman-temannya, Hanbin dapat pesan singkat dari yang bersangkutan alias Kim Jiwoong;
from: Jiwoong Kim (work)
Have a couple things to do for you, sudah saya kirim ke email. You can do it monday, saya kirim sekarang sekedar biar nggak lupa.
Ps. you look good by the way. Have fun :)
Satu pesan singkat itu, dan Hanbin langsung berlari dari klub untuk kembali ke kantor, hanya bisa berharap kalau Jiwoong belum meninggalkan gedung kantor. Alkohol yang sudah mempengaruhi pikirannya membuat Hanbin tidak bisa membuat keputusan sederhana seperti mengirimkan pesan singkat, meminta Jiwoong untuk menunggu. Untungnya, Hanbin bertemu Jiwoong di tempat parkir, sedang mencari kunci mobil di dalam tasnya.
“Hanbin?” Jiwoong terlihat bingung. “Ada apa? Emergency?” Jiwoong terlihat panik, mendekat pada Hanbin. Hanbin bisa merasakan kepalanya berputar, dan perutnya seolah mendesak isinya untuk keluar.
“Pak,” hoek, Hanbin benar-benar mual. “Maksudnya, Jiwoong,” Hanbin bisa merasakan isi perutnya sudah naik ke tenggorokan dan jantungnya panas. Berlari ketika dia sedang mabuk jelas bukan pilihan yang tepat. “Pacaran yuk sama aku.”
Hoek.
Bruk.
Hanbin terbangun dengan kepala yang terasa berat dan nyut-nyutan, dan sewaktu dia membuka mata, ada Iroha sedang duduk diatas pahanya, menatapnya dengan wajah penuh dengan pertanyaan.
Eh?
Kenapa ada Iroha di sini?
“Om Hanbin udah bangun, aku bilangin ke ayah dulu ya.” Ujar Iroha. Dengan ceria turun dari kasur dan berlari keluar sambil berseru keras-keras; “Ayaaaaaah, om Hanbinnya udah banguuuuuuuuuuun!!”
Dengan kepalanya yang seolah dipukuli palu karet berulang kali, nyut nyut nyut nyut, Hanbin berusaha menurut kejadian semalam. Pertama, Jiwoong mengiriminya pesan soal pekerjaan, dan pesan singkat bilang ‘you look good.’ kedua, dia berlari kembali ke kantor sampai jantungnya seolah terbakar, lalu bertemu dengan Jiwoong di lobi depan. Ketiga, dia yang tanpa basa-basi langsung bilang ‘pacaran yuk sama aku.’ Keempat, dia yang muntah di dada Jiwoong dan ambruk.
Wow, talk about drunken confession gone bad.
Hanbin mendudukkan diri, lalu menyadari kalau pakaian yang dipakainya jelas bukan pakaiannya semalam. Pipinya memerah, membayangkan Jiwoong menggantikan pakaiannya.
“How's your head?” Tanya Jiwoong, muncul di depan pintu kamar tempat Hanbin tertidur, dengan segelas air putih di tangan dan botol obat di tangan lainnya. “Ini, obat sakit kepala.”
Hanbin tidak tahu bagaimana dia harus mencerna sikap Jiwoong. Kenapa Jiwoong bisa biasa saja begini? Apa ungkapan cintanya semalam cuma terjadi di dalam imajinasi Hanbin?
“Makasih j-, pak.” Ujarnya, kikuk. Tangannya menerima uluran gelas dan obat dari Jiwoong.
“You're a stubborn one aren't you?” Jiwoong tertawa pelan. Hanbin berasumsi kalau maksud Jiwoong mungkin soal panggilannya pada Jiwoong yang tetap konsisten menggunakan ‘pak’ meskin jarak umur mereka hanya bertaut dua tahun, dan Jiwoong yang berulang kali minta dipanggil dengan nama di luar kantor. “Aku udah masak sarapan juga, perlu aku bawain ke sini?”
Aku? Sejak kapan Jiwoong mulai pakai aku? Biasanya kan saya??
“Sarapan?” Hanbin menatap Jiwoong dengan bingung. Pagi ini membingungkan, dan Hanbin yakin kalau kebingungannya bukan sekedar pengaruh alkohol. Air putih yang diminumnya juga masih belum bisa membantunya memahami pagi yang aneh ini.
“Well, the least I can do for my boyfriend, kan?”
Dan Hanbin, nyembur.
“Kenapa kaget? Kan kamu sendiri yang tadi malem ngajak, I simply agree to it. Atau kamu nggak serius soal itu?”
And that, kids, is how I start dating your father.
Hanbin nggak menyangka, bekerja sebagai legal secretary buat mantan gebetannya jaman kuliah, bakalan membuatnya berakhir dalam hubungan romansa yang dia pikir cuma bisa terjadi di fiksi-fiksi komedi romantis. Dating your own boss? Check. Secretly dating your own boss? Check. Secretly dating your own boss who happens to be a hot single dad? Check. Secretly dating your own boss who happens to be a hot single dad in their mid forty? Check, check, check, check.
Matthew adalah sahabatnya sekaligus anggota tim IT di kantornya, sekaligus satu-satunya orang yang tahu soal dia dan Jiwoong, lengkap dengan kronologi pernyataan cintanya buat si pengacara dan soal si kecil Iroha yang pasti akan jadi bagian besar dari dating life- nya dengan Jiwoong—
“Mana nih setorannya abis ngedate sama papa gula?”
—Dan jadi orang yang tidak berhenti mengejeknya sebagai sugar baby Kim Jiwoong.
“Gue sita lama-lama kunci cadangannya dari elu.” Gerutu Hanbin, memukul lutut sahabatnya dengan bantal buat menyuruh Matthew bergeser. “Ngapain di sini?”
“Makanan gue abis, dan gue tahu lo pasti punya stok makanan di kulkas” Ujar Matthew tanpa rasa bersalah. Ya Hanbin juga sebenarnya sudah terbiasa dengan sahabatnya keluar masuk apartemennya sesuka hati, dia juga yang memberikan kunci cadangan apartemennya buat Matthew. “Anggep aja gue kayak mami lo, memastikan lo dipulangin sama pak Jiwoong dengan selamat dan utuh.” Matthew melanjutkan candaannya sambil bergeser, memberikan ruang di sofa buat Hanbin untuk ikut duduk. “Tapi serius, how was the date? Kenapa lo udah balik, ini baru jam,” Matthew melirik ponselnya yang tergeletak di meja. “Setengah sembilan.”
“Oh, kita berdua baru aja mau pergi nganter Iroha ke rumah mamanya, sebelum kita pergi ke resto. Tapi mamanya Iroha telpon, katanya ada emergency , dan mendadak nggak bisa jagain Iroha malem ini” Hanbin memeluk bantal kursi yang tadi dia gunakan buat memukul sahabatnya. “Sebenernya gue tadi diajak nginep aja di rumahnya Jiwoong, cuma gue mendadak nervous banget jadi gue nolak.”
“Kenapa juga pake nervous nervous segala, lo confess ke pak Jiwoong aja ada acara muntah di jas mahalnya dulu.”
Dan bantal yang Hanbin peluk sekali lagi mendarat di wajah Matthew.
Sewaktu dia akhirnya berpacaran dengan Jiwoongㅡ akhirnya, dengan penekanan, karena pagi itu Jiwoong membuat Hanbin yang sedang hangover mengulang pernyataan cintanya, lalu mencium pipi Hanbin sambil bilang; “ayo pacaran.”— Hanbin sudah menyangka kalau dia akan jadi prioritas, setidaknya nomor tiga, setelah Iroha dan pekerjaannya. Tapi, dia juga tidak menyangka kalau itu juga berarti date mereka yang sukses baru terjadi setelah empat kali percobaan. Yang pertama gagal karena mantan istri Jiwoong yang mendadak tidak bisa menjaga Iroha, yang kedua gagal karena anak dari klien penting Jiwoong mendadak terlibat kasus narkoba (demi tuhan, bisa tidak sih anak-anak orang kaya ini tidak merusak hari-harinya saja?), lalu yang ketiga gagal karena Iroha terantuk kepalanya dan harus di larikan ke UGD (Hanbin ikut panik menemani Jiwoong, menemani Iroha di sisi kasur dorong sementara Jiwoong sibuk berlarian di lorong rumah sakit mengurus berkas-berkas. Iroha sendiri memasang wajah bersalah dan mata berkaca-kaca, sepanjang malam bilang; “maaf ya om, aku jadi ganggu om sama ayah pacaran.” BEGITU LUCU, mana mungkin Hanbin marah pada anak sekecil ini dan selucu ini.)
Hanbin juga tidak bisa marah pada Jiwoong atau siapapun (kecuali pada anak orang kaya yang merepotkan Jiwoongㅡdan otomatis dia juga—karena menabrak fasilitas umum dalam keadaan teler). Posisinya sebagai legal secretary membuat dia paham seberapa sibuk Jiwoong, dan posisinya sebagai mantan gebetan (sekaligus orang yang dulu mencampakkan Jiwoong ketika yang lebih tua menyatakan cinta) membuat Hanbin merasa bersalah kalau dia terlalu menuntut macam-macam dari pacarnya ini.
Untungnya percobaan keempat mereka berhasil, tanpa ada panggilan mengganggu dari klien-klien Jiwoong, hanya satu pesan singkat dari nanny Iroha lima belas menit yang lalu, mengabari Jiwoong kalau Iroha sudah tertidur nyenyak pukul setengah sembilan. Tidak ada salahnya kan, kalau Hanbin mau mengulur date mereka malam ini sepanjang mungkin? ini adalah kesempatan yang super langka.
“Pengen ice cream deh.” Ujarnya, dengan tangan disilangkan di depan dada. Jalan dari resto tempat mereka makan dan tempat Jiwoong memarkirkan mobilnya cukup jauh, membuat mereka harus berjalan sebentar di bawah remang lampu jalan. Hanbin tidak protes sih, apalagi kalau dia jadi dapat perlakuan super spesial dari Jiwoong; coat panjang milik pacarnya yang tersampir di pundak, dan tangan Jiwoong melingkar di pinggang.
Mendengar permintaan Hanbin, Jiwoong tertawa. “ Stalling our date, Bin?” Tanggapan dari Jiwoong membuatnya cemberut. Hanbin berpura-pura ngambek dengan mencoba menarik tangannya lepas dari genggaman. Dia nyaris benar-benar marah karena Jiwoong membiarkan tautan tangan mereka lepas, tapi sebelum dia benar-benar marah, Jiwoong sudah memeluk pinggang Hanbin dan menarik dirinya kedalam pelukan yang lebih tua. “Jangan ngambek dulu dong manis. Ayo, cari ice cream yang enak, atau kamu punya rekomendasi?”
(sejujurnya dia belum terbiasa amat dengan sikap Jiwoong versi pacarnya yang jauh berbeda dengan Jiwoong versi profesional. Tapi, bukan berarti Hanbin tidak menyukai sikap overly manis ini. Kenapa ya, dulu dia menolak Jiwoong semasa kuliah? Mungkin dia cuma sedikit bodoh.)
“Uh,” Hanbin bingung. Karena Jiwoong benar soal dia stalling their date. Dan dia asal ceplos soal ice cream. “Cuma pengen yang manis-manis aja buat dessert, coba aku cari deh yang deket sini.” ujarnya sambil mengeluarkan hpnya dari kantong.
“Well,” dari cengiran yang tergambar di wajah Jiwoong, Hanbin sudah bisa menebak candaan macam apa yang akan keluar dari bibir pacarnya, dan Hanbin sama sekali tidak bisa mencegah jokes menyebalkan itu keluar dari mulut Jiwoong. “Aku?”
Hanbin memilih untuk menjawab candaan Jiwoong dengan cubitan ringan di perut yang lebih tua, sambil berharap penerangan remang diatas mereka membantu menutupi wajahnya yang memerah. “ada nih, deket kalo bawa kendaraan, sekalian balik?”
“Yang ini aja lebih enak,” Jiwoong menggeser peta di layar hpnya, menunjukkan kedai ice cream lain yang jelas tidak sejalur dengan jalan menuju apartemennya ataupun apartemen Jiwoong.
“Tapi jauuuh.” Ujarnya.
“Nggak papa, niatku kan sekalian biar kita nge- date- nya makin lama.” tanggap Jiwoong dengan cengiran lebar terukir di wajahnya.
Ide Jiwoong buat memperlama agenda pacaran mereka malam itu bukan cuma dengan memilih kedai ice cream yang jauh, tapi juga punya ide buat memakan ice cream yang mereka beli di tempat yang lebih jauh lagi. Dan disinilah mereka, dengan Jiwoong yang memarkirkan mobilnya menghadap ke sungai.
“Nah, kalau udah sampe sini kan enak.” Jiwoong tersenyum pada Hanbin. “Sebenernya enak sekalian di luar, tapi dingin, udah masuk umur gampang masuk angin.” Canda Jiwoong sambil memundurkan kursinya. Hanbin mengambil inisiatif buat mengikuti yang lebih tua, ikut memundurkan kursi penumpang yang dia duduki.
“Padahal maksudku biar luas kalau mangku kamu lho, Bin.” Hanbin tidak tahu apakah Jiwoong serius soal ucapannya, tapi ada kilatan bercanda di mata Jiwoong yang membuat Hanbin makin salah tingkah. “Serius ini, luas kok.”
“Kayak abg baru pacaran aja deh.” kilahnya. Bukannya Hanbin tidak mau sih, cuma rasanya malu saja kalau dia harus naik ke pangkuan Jiwoong dan makan ice cream di pangkuan pacarnya yang paha luar biasa kencang dan sek-
“Abg mana yang baru pacaran udah pangkuan di dalem mobil? Itu mah abg salah asuhan.” Hanbin kira Jiwoong cuma membalas candaannya, tapi ketika dia menoleh buat mengecek ekspresi pacarnya, Jiwoong sedang memasang ekspresi serius, seolah dia benar-benar khawatir dengan pergaulan remaja sekarang. Dan Hanbin jadi teringat kalau Jiwoong adalah seorang ayah beranak satu. Dan, wajah serius Jiwoong berhasil membuatnya tidak lagi salah tingkah.
“Bercanda!!” serunya sambil tertawa. “Aku bercanda aja, nggak ada abg yang begitu soalnya belum bisa bawa mobil!” Demi menghapus kekhawatiran Jiwoong soal pergaulan remaja sekarang, Hanbin akhirnya berpindah, merangkak naik ke pangkuan yang lebih tua setelah melepaskan sepatunya. Dadanya bersentuhan dengan dada Jiwoong ketika dia sudah berada di atas pangkuan pacarnya. Dari angle begini, Jiwoong benar-benar ganteng.
Dan begitu Jiwoong melingkarkan tangannya di pinggang Hanbin sambil sedikit menarik badan Hanbin buat makin mendekat, dia cuma bisa mengikuti instingnya, yang seolah mendorongnya buat mendekatkan wajahnya pada wajah Jiwoong, dan;
Cup.
Diam terdiam membeku setelah sadar kalo dia baru saja asal sosor Jiwoong. Meskipun mereka sudah pacaran beberapa minggu, dan ini juga bukan ciuman pertama mereka, dan posisi mereka berdua memang compromising, dan bibir Jiwoong yang sangat menggoda, dan—
“Kenapa kok ngelamun gitu? Bibirku pait ya?”
“Itu lo aja kali yang overthinking. Pak Jiwoong udah umur berapa, lu udah umur berapa, pak Jiwoong jelas-jelas udah pernah kawin, udah punya anak bahkan, nggak mungkin lah beliau masih punya dendam sama lo cuma gara-gara dulu lo tolak pas jaman kuliah.” Itu yang Matthew ucapkan waktu Hanbin curhat soal bercerita soal dia perasaan yang mengganjal di dalam hatinya soal penolakannya ke Jiwoong jaman kuliah dulu.
“Tapi ini bukan soal rasa bersalah met.” ujarnya frustasi. Dia juga tidak menjelaskan kenapa dia merasa harus super berhati-hati dengan Jiwoong, padahal awal mula hubungan mereka saja sudah mirip adegan komedi improv.
“Terus apa?”
Entahlah, mungkin Matthew benar soal dia yang cuma overthinking. Atau mungkin Matthew juga benar soal dia masih merasa bersalah pada Jiwoong.
“Gak tau.”
“Yaudah sih, lo jelas pacaran sama bapak-bapak, tinggal coba obrolin aja baik-baik, menurut gue itu paling aman, daripada lo mikirin ini sendirian.”
“Enggak kok, enak.” Hanbin tertawa pelan, mengambil kedua cup hidangan manis yang tadi mereka beli. “Aku beneran makan eskrim sambil dipangku gini, nggak papa?”
“mmm.” Seolah berniat menguatkan jawabannya, Jiwoong memeluk pinggang Hanbin makin erat. “Sambil suapin dong?”
“hoooo, manja gitu ya?” Hanbin mengulurkan satu sendok ice cream yang sudah mulai mencair ke mulut Jiwoong. Buat beberapa saat mereka berdua tidak mengucapkan apa-apa, cuma Hanbin yang menyuapi Jiwoong ice cream dan Jiwoong yang jarinya tidak berhenti bergerak mengusap pinggangnya.
“Oh iya, aku pengen nanya sesuatu deh.” Hanbin menyendokkan ice cream yang tersisa pada Jiwoong.
“Gimana, gimana?” Jiwoong berucap, dengan sisa ice cream di ujung bibir. Hanbin mengusap cream berwarna putih dengan rasa vanilla itu dengan ibu jarinya. Jiwoong tersenyum dan menjilat cream itu dari jari Hanbin dengan senyuman yang seksi.
“Mmm.” Hanbin mempertimbangkan dalam kepalanya. Pertanyaan; “kamu udah move on belum dari fakta kalau aku dulu nolak kamu waktu kita mahasiswa?” terdengar bodoh di kepalanya, lebih bodoh dari pertanyaan yang pada akhirnya keluar dari mulut Hanbin; “Kalau aku jadi cacing, kamu masih sayang nggak sama aku?”
Straight out of the ‘10 silly things to ask during your date’ website.
Hanbin mengira Jiwoong akan bingung dengan pertanyaan itu, mengingat Jiwoong bukan orang yang sering online. Tapi Jiwoong justru tertawa terbahak-bahak, wajahnya dibenamkan di pundak Hanbin dan membuatnya bingung.
“Kenapa siiiih, emangnya selucu itu pertanyaannya buat kamu?”
“Bukan gitu.” Jiwoong menjauhkan wajahnya sembari tawanya mereda. “Kemarin Iroha ngasih les buat aku, katanya ‘ayah harus tau ini sebelum pergi ngedate sama om Hanbin!!’ dan pertanyaan cacing itu jadi salah satu hal yang Iroha ajarin ke aku.”
“Terus terus,” Hanbin jadi bersemangat dengan pertanyaan sendiri. Dia menangkup wajah Jiwoong dengan tangannya. “Apa jawaban kamu?”
“Aku bakal beli kebun biar kamu bisa bebas kemana-mana.” Jawab Jiwoong dengan penuh keyakinan. Tangannya mengusap tangan Hanbin sambil tertawa pelan.
“Kebun? Buat aku aja? Isn’t that a little too extravagant?” Hanbin mengusap lembut pipi Jiwoong, dengan ibu jari Hanbin perlahan mengusap bibir pacarnya.
“Mmm, anything for my favorit worm.”
“Flattering, tapi disaat yang sama juga nyebelin.” Hanbin makin mendekatkan wajah mereka berdua. Dari jarak sedekat ini, Hanbin bisa menatap detail-detail wajah Jiwoong, dan juga kerlingan di mata Jiwoong. Berlebihan tidak kalau Hanbin bilang dia bisa melihat ketulusan Jiwoong, Matthew benar soal dia yang keraguannya cuma bentuk overthinking?
“Kenapa sih, kok kayaknya kalau mau cium aku, kamu jadi ragu gini?” Tanya Jiwoong lembut. Hanbin mengerjap pelan, seolah sadar dari lamunannya.
“Bukan ragu, aku cuma terpesona aja kok.” Hanbin berbisik, akhirnya menyatukan bibir mereka. Tangannya mengusap pelan pundak Jiwoong, di pinggangnya, ia bisa merasakan tangan Jiwoong yang memeluknya makin erat, membuat badan mereka makin menempel satu sama lain.
Ciuman mereka bermula lembut. Hanbin melumat pelan bibir atas Jiwoong, merasakan sisa-sisa manis ice cream yang masih ada melapisi bibir pacarnya. Dari lumatan-lumatan kecil, bibir Jiwoong perlahan mulai menuntut makin agresif. Tangannya memeluk erat badan Hanbin, bibir mengulum bibir bawah Hanbin dan menggigit pelan. Hanbin mendesah pelan, lolos diantara tautan bibir mereka.
Tangan Jiwoong semakin lama makin bergeser, turun dari pinggang ke pantat Hanbin, meremas pelan, sementara keduanya masih sibuk saling melumat, lidah bertaut dan bertukar nafas.
Rasanya dia seperti anak muda usia dua puluh tahunan lagi. Sibuk ciuman dengan pacarnya di dalam sempitnya ruang kecil dalam kendaraan pribadi. Bedanya kali ini, dia bukan lagi berciuman dengan fresh graduate yang masih tinggal dengan orang tuanya, tapi dia ada diatas pangkuan the most eligible bachelor di kantornya, duda muda usia empat puluhan yang sudah punya anak.
Hidup memang banyak lucu-lucunya.
Hanbin menahan pundak Jiwoong dan melepaskan tautan bibir mereka, tersenyum lebar ketika Jiwoong mengejar pagutan bibir mereka, merengek pelan karena ciuman mereka Hanbin hentikan.
“Bentar, nafas dulu.” bisik Hanbin, mengecup bibir Jiwoong sambil jarinya mengusap lembut pipi yang lebih tua. Jiwoong membiarkan Hanbin mengatur nafas, tentu saja tanpa berhenti melakukan sesuatu. Tangannya yang tadi melingkar di pinggang Hanbin berpindah, sibuk melepaskan dua kancing baju Hanbin paling atas. Dan mulutnya kini sibuk memberikan kecupan-kecupan ringan di dada Hanbin, sambil sesekali menggigit pelan.
“Aah.. Jiw-”
Ting-ting-ting-ting.
Jiwoong sudah mematikan nada dering ponselnya sejak mereka makan malam tadi, dan ponsel yang lebih tua cuma berbunyi satu kali: sewaktu nanny Iroha mengirimkan pesan singkat lewat ponsel yang Jiwoong tinggalkan dirumah.
“Iroha, itu hp rumah kamu kan.” Hanbin memundurkan badannya, dan Jiwoong panik mencari ponselnya di dashboard mobil. Sesaat setelah Jiwoong membuka pesan singkat yang baru masuk, Jiwoong tertawa pelan sambil kembali memeluk Hanbin.
“Kenapa? Ada apa? Iroha nggak kenapa-napa kan?”
“Nggak kenapa-napa kok, anaknya kayaknya kebangun dan nannynya udah tidur. Liat deh dia bilang apa.” Ujar Jiwoong, menunjukkan pesan singkat yang ada di layar ponselnya.
Dari: Nomor rumah
Ayah!!! Kalo pacarannya sampe malem om Hanbin ajak nginep dong!!! Besok aku mau ajak om Hanbin cari sarapan yang enak!!!!!
“Jadi, gimana?” Tanya Jiwoong, mematikan layar ponselnya dan kembali meletakkan benda itu di dashboard. “Mau nginep di rumahku?”
“Ini yang minta Iroha aja, apa kamu juga?” Tanya Hanbin, kembali menangkup pipi yang lebih tua dengan kedua tangannya.
“Nuruti kemauan Iroha, dua puluh lima persen. Tujuh puluh lima persennya, aku juga mau kamu nginep di rumahku malem ini.” Jiwoong memberikan kecupan lembut di telapak tangan Hanbin.
“Yaudah, aku nginep ya kalau gitu malem ini.”
