Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-11-04
Completed:
2023-11-04
Words:
1,965
Chapters:
2/2
Kudos:
9
Hits:
250

One of these Nights

Summary:

Suatu kejadian tak mengenakkan menimpa Doyoung. Mobilnya mogok dalam perjalanannya pulang ke kampung halaman. Atas pertolongan Jaehyun, Doyoung bisa mendapatkan mobilnya berjalan normal kembali. Tapi, siapa sangka jika itu adalah awal mula yang menyebabkan dia mempunyai hubungan spesial dengan Jaehyun.

Notes:

[Song fic, jaedo au]
From 'One of these nights' by Red Velvet

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Doyoung's side

Chapter Text

Aku baru saja bangun dari sebuah mimpi.

Satu tahun yang lalu, masih teringat dengan jelas dalam ingatan ini. Pertama kali kita bertemu. Kau yang memakai pakaian santaimu, menghampiriku yang tengah kesulitan membenarkan mesin mobil yang mati. Hari sial itu sungguh membuatku frustasi. Perjalanan pulangku ke kampung halaman harus terhenti, yang awalnya harusnya bisa aku lalui sebelum hari gelap malah berakhir dengan kacau. Harus berakhir menyedihkan karena mesin mobil yang mati itu.

“Mau menginap di rumahku?”

Kau berbicara dengan senyuman di lesung pipimu. Begitu mudahnya kau menawari seorang asing sepertiku. Karena memang hari itu sungguh gelap, dan cuaca seperti akan hujan.

Akhirnya, aku mau saja mengikutimu setelah kau berkata bahwa mobilku akan diperbaiki oleh temanmu esok hari.

 

Ada satu bintang yang sedih dan kesepian di langit yang begitu gelap.

Aku dan kau bercerita banyak hal, berawal dari satu dua patah kata perkenalan.

“Siapa tadi namamu?” Doyoung?”

Kau menyebut namaku dengan benar. Aku pun mengangguk dengan ringan.

“Iya, aku Doyoung. Kim Doyoung.”

Percakapan kita berdua terus mengalir begitu saja. Dengan keadaan rumahmu yang sepi, semakin mendukung kita berdua untuk menyelam lebih jauh cerita masing-masing.

Dan aku dapati bahwa, ceritamu begitu menarik. Mungkin karena keadaan diriku yang baru saja dikhianati. Cara bicaramu telah membuatku jatuh. Aku meyakini ini adalah jatuh cinta pada pandangan pertama.

“Terimakasih ya, Jaehyun.”

 

“Selamat tinggal", aku berpamitan dengan canggungnya.

Hiruk pikuk kesibukan orang di sekitar rumahmu di pagi hari, menjadi penanda bahwa malam yang panjang telah berganti menjadi hari baru.

Mobilku sudah selesai diperbaiki, dan aku akhirnya harus berpamitan setelah kau memberiku sepiring sarapan dan segelas teh hangat. Sungguh, aku tidak akan melupakan hari itu.

 

Saat aku berbalik dan melanjutkan perjalanan, aku merasa ini sudah terlalu jauh.

Kenapa kesan yang kau tinggalkan begitu membekas di dalam hati ini?

Aku terus merutuki diri. Karena aku harus pamit pergi untuk pulang ke kampungku dengan rasa yang tertinggal, hatiku telah jatuh kepadamu.

…Jung Jaehyun.

 

Di saat yang sama, hanya sebentar.

Di tempat yang sama, tunggulah sebentar.

Satu bulan kemudian, aku kembali ke tempatmu. Mencoba ingin hidup di dekat tempat tinggal-mu, meninggalkan rumah sewaku yang kebetulan sudah habis masa sewanya.

Kau membantuku mencari rumah sewa baru, tentu saja aku merasa begitu senang. Karena rumah yang aku sewa hanya berjarak dua rumah dari tempatmu tinggal. Aku jadi mudah jika ingin pergi ke rumahmu.

 

Mengapa aku tidak sadar bahwa itu sebuah keajaiban?

Hari demi hari berlalu, kau selalu membantuku menunjukkan tempat maupun hal yang kucari dan butuhkan. Kau selalu membantu jika aku sedang kesulitan dengan segala hal.

Hingga tiba suatu hari, kau mengajakku untuk menjalin sebuah hubungan.

“Doyoung, aku suka denganmu, maukah kau berpacaran denganku?”

Satu kalimat yang membuat senyumku merekah. Ternyata cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Untuk pertama kalinya kau membawa jemari tanganku untuk kau kecup. Kita berdua menghabiskan malam itu dengan saling berbagi kehangatan satu sama lain.

 

Aku menghentikan hari itu dengan cerita lama ini.

Hubungan kita semakin dekat. Aku selalu bergantung padamu, aku ingin kau selalu berada di dekatku. Dan kau dengan senang hati berikan semua itu. Aku pun setuju dengan tawaranmu untuk pindah dan tinggal bersama denganmu. Saat itu aku hanya ingin, waktu indah itu berhenti untuk kita berdua. Selamanya aku ingin seperti ini bersamamu.

“Jangan suka pergi seenaknya ya, Jaehyun.”

“Apa maksudmu pergi? Aku kan selalu ada di sini.”

 

Aku bersedih, penderitaan kita lebih lama dibanding waktu kita saling mencintai.

Tiba saat waktumu mulai berkurang sedikit demi sedikit. Pekerjaanmu menjadi lebih sibuk dibanding sebelumnya. Aku menjadi sensitif dan sulit untuk mencoba bersabar. Pertengkaran kecil pun mulai terjadi.

“Malam ini kau tidur duluan saja, ya.”

Lagi-lagi kata itu yang kau ucapkan sebelum kau berangkat bekerja.

Sepi.

Rumah ini menjadi sepi. Aku pun pergi bekerja dengan pikiran penuh akan dirimu.

Rasa sepi itu semakin menjadi-jadi karena hampir setiap hari kau pulang terlambat. Dan satu kesalahan yang kau perbuat, membuat kepercayaan-ku mulai luntur begitu saja. Kau pulang ke rumah dalam keadaan mabuk, dengan diantar oleh seseorang yang merangkul pundak mu dengan intim. Mengabaikan kehadiranku yang membukakan pintu untukmu. Mengabaikan pertanyaan-ku tentang siapa lelaki yang bersamamu waktu itu.

Kau menjawabnya dengan enggan.

“Aku lelah, bisa kita bicara besok saja?”

Bukan hanya kau, aku-pun begitu. Kita sama-sama telah mencapai rasa lelah itu. Bagaimana aku bisa tenang menunggu hari esok? Bajumu penuh dengan aroma parfum orang lain. Kita menjadi dikuasai amarah, dan berujung tidur dengan saling memunggungi satu sama lain.

 

Jauh melewati bima sakti, aku melintasi kenangan kita yang putih.

Teringat saat kita berdua berkencan di taman dengan suasana bahagia. Walaupun hanya dihabiskan dengan duduk berdua di bawah sebuah pohon. Kau menjadikan pahamu sebagai bantalan, aku berbaring dengan kepala bersandar di sana. Dengan senyum indah, penuh perasaan membuncah.

“Aku mencintaimu.”

Berkali-kali kau ucapkan itu, dan aku tersenyum salah tingkah.

“Aku juga, Jaehyun.”

Kecupan kecil kau daratkan di bibirku. Kita sama-sama hanyut dalam romansa kala itu.

 

Tidak masalah jika aku hanya bisa melihatmu dalam mimpiku.

Mimpi itu datang lagi, kenapa kau suka sekali hadir dalam mimpiku?

Tapi aku senang, sungguh senang. Bahkan aku berharap aku tidak akan bangun kali ini. Tapi itu mustahil, rekaman dirimu hilang begitu aku terbangun.

Aku harus menghadapi realita ini lagi, kembali dalam rasa sunyi.

 

Jadi mari kita bertemu lagi.

Bisakah? Jika bisa, mari kita bertemu lagi, Jaehyun.

Karena aku rindu, sungguh rindu akan kehadiranmu yang mewarnai hari-hariku.

 

One of these nights.

Malam itu, jika ada kesempatan, aku ingin mengulanginya lagi. Kembali pada malam itu, malam saat kita bertengkar dan berujung mengakhiri hubungan kita.

Karena aku ingin mendengarkan penjelasan-mu keesokan harinya dan ingin mencoba mengerti. Mungkin jika aku mau mendengarkannya, ceritanya akan berbeda. Sayangnya aku malah memilih untuk pergi tanpa pamit.

Tanpa mengucapkan selamat tinggal denganmu yang saat itu masih tertidur. Aku memilih untuk pergi, meninggalkanmu dengan status hubungan dalam ketidakjelasan. Dan aku menganggapnya berakhir.

Ku akui, aku sangat bodoh.

Pada kenyataannya, kenapa malah aku sendiri yang seenaknya pergi meninggalkanmu?

 

Aku memang sangat bodoh. Bisakah kita bertemu lagi? Ku rasa akan sulit.

Kembali pada waktu sekarang, aku sudah berada di depan rumahmu. Sayangnya yang kutemui adalah keadaan rumahmu yang sangat sepi. Ternyata kau sudah pindah, begitu kata orang yang tinggal di sebelah rumahmu.

“Kemana saja kau Doyoung? Jaehyun baru saja pindah satu bulan yang lalu.”

Aku bertanya dimana, tetapi orang itu tidak bisa menjawabnya. Karena Jaehyun pergi tanpa memberitahu tempat barunya.

Aku telah terlambat, jika saja aku datang ke sini satu bulan lebih cepat. Maka mungkin kesempatan itu masih ada.