Work Text:
♡♡♡
The world is becoming a colorful place
BAGI seorang lelaki bernama lengkap Gojo Satoru, satu tahun yang lalu di musim panas merupakan hari yang sangat spesial. Lantaran sejak saat itulah seluruh dunianya terasa berubah total. Walaupun awalnya ia harus merasa sebal akibat berbagai kesialan yang tak kunjung usai. Dimulai dari ia yang bertengkar dengan sang ayah hanya karena tidak mau membantu memberi makan burung piaraan ayahnya, dan berakhir dengan hukuman tidak boleh minta diantar ke sekolah oleh sopir keluarga Gojo selama satu bulan lamanya. Alhasil, ia berangkat sekolah dengan kereta api yang mana setiap pagi dirinya harus berlari sekuat tenaga untuk mencapai stasiun terdekat dan berdesak-desakan di dalam kereta. Belum lagi ia masih harus berjalan kaki bahkan berlari dari stasiun kereta menuju ke lokasi sekolahnya berada.
Nahasnya, gerbang sekolah selalu sudah ditutup ketika ia tiba dengan kondisi fisik yang sudah lelah, penampilan sedikit berantakan, tubuh berkeringat, bahkan kacamatanya pun sedikit berembun karena embusan napasnya sendiri.
Dengan nekat Satoru mencoba untuk memanjat gerbang tersebut. Namun, sialnya sang kepala sekolah yang langsung memergoki aksi tidak terpujinya. Sang wali kelas pun tidak bisa berbuat banyak sebab Satoru sudah terlampau sering terlambat belakangan ini.
Akhirnya, atas perintah kepala sekolah, bagian kesiswaanlah yang mengambil alih kasus kenakalan Satoru. Ia memperoleh hukuman untuk membersihkan dan merapikan gudang di bagian gedung lama sekolah selama satu minggu berturut-turut. Hal itu membuat Satoru harus kemalaman saat pulang ke rumah, serta kembali berdebat dengan sang ayah hanya karena masih bersikeras untuk tidak mau membantu memberi makan burung piaraan yang jumlahnya sangat di luar nalar.
Lagi pula, untuk apa ayahnya memelihara itu semua? Dijual juga tidak, pikir Satoru.
Sampai suatu hari Satoru mendapati ada orang lain yang sudah berada di gudang tempat ia menjalani hukuman dan sedang terbatuk akibat debu tebal di tumpukan barang-barang.
Baru saja Satoru ingin menghampiri sosok yang semula membelakanginya, seketika ia dibuat tertegun di tempatnya berdiri tatkala melihat sosok tersebut.
Satoru tidak mengenalnya, bahkan baru kali ini ia melihatnya. Sosok itu adalah seorang gadis berbadan mungil, rambutnya pendek sedagu dan berwarna cokelat, serta tak lupa tahi lalat yang berada di bawah mata kanannya menarik perhatian sang lelaki bermarga Gojo ini.
Entah mengapa Satoru merasa tahi lalat itu terlihat lucu. Seakan-akan Tuhan memang sengaja menciptakan dan memosisikannya demikian sebagai penyempurna penampilan gadis asing ini.
Mereka pun berkenalan singkat. Sekadar menyebutkan nama lengkap dan juga asal kelas. Ieiri Shoko, itulah namanya. Ia berada di kelas 1-A, hanya berjarak 1 kelas dengan Satoru yang berada di 1-B.
Usai berkenalan, Satoru mulai melangkah ke tempatnya meninggalkan sekotak masker dan sarung tangan yang sengaja dibeli di hari pertamanya mendapat hukuman dalam perjalanan pulang, tepatnya di konbini dekat stasiun kereta.
Satoru tersiksa dengan semua debu yang entah sudah bersemayam sejak zaman kapan di sana. Ia tidak mau berakhir sakit paru-paru dan sejenisnya. Bisa-bisa ayahnya yang rempong itu pun mengajukan tuntutan pada dinas pendidikan atas tindak pendisiplinan siswa yang berlebihan. Tidak bisa Satoru bayangkan betapa kaosnya nanti. Tetapi, nasib sialnya ini sedikit banyak berkat campur tangan ayahnya juga, ‘kan? Andai saja ia tidak terlambat datang ke sekolah, pasti ia tak perlu menerima hukuman semacam ini.
Namun, bila ia tidak dihukum, pasti ia tak akan bertemu Ieiri Shoko, ‘kan? Wah, sungguh dilema, pikir Satoru.
Dalam hitungan detik, Satoru telah mengenakan masker dan sarung tangan. Lalu ia memberikan dua benda serupa pada sang gadis.
Gadis berambut cokelat itu sedikit terheran dengan betapa siap siaganya sang lelaki. Ia pun menerima dan mengenakan kedua benda tersebut dengan segera. Debu-debu tebal sudah membuatnya menderita meskipun baru beberapa menit berada di sana.
Lantas keduanya mulai bekerja dan terus bekerja selama beberapa waktu ke depan untuk menyingkirkan benda yang sekiranya tidak bisa diperbaiki atau digunakan lagi, memisahkan benda yang masih layak guna, dan menempatkannya di sudut ruangan yang sudah Satoru bersihkan selama dua hari sebelumnya.
Dapat Satoru perhatikan bahwa gadis bernama Ieiri Shoko ini sangat cekatan dan juga pendiam saat bekerja. Ada perasaan segan saat ingin mengajaknya berbicara. Namun, ada rasa penasaran juga yang begitu membara dan ingin dipuaskan segera.
Tetapi, Satoru takut salah kata. Ia pun uring-uringan sendiri di tempatnya sampai tak sadar gumamannya terdengar oleh sosok lain di sana.
“Kenapa? Lo mau tanya apa ke gue?”
“Eh ….” Satoru panik. “Emangnya suara gue kedengaran?”
“Iya. Jelas, kok.”
“Wah ….” Satoru semakin panik. “Maaf, maaf kalau gue gak sopan. Tapi, lo dihukum karena apa?”
Seketika sang gadis menurunkan maskernya. Ia merapatkan jari telunjuk dan jari tengahnya, serta menggerakkannya ke bibir dan ke depan; persis seperti orang merokok. Lantas peragaan singkatnya tersebut pun diakhiri dengan senyuman sambil membenarkan kembali posisi maskernya.
Satoru tidak bisa menyembunyikan keterkejutan di wajahnya meskipun ia memakai masker. Matanya membelalak sempurna, tak lupa seruan “Hah?” yang begitu keras terlontar dari mulutnya.
“Kenapa? Lo kayak gak pernah lihat orang ngerokok aja.”
“Emang gak pernah kalau perempuan dan masih di bawah umur,” sahut Satoru.
Gadis bermarga Ieiri itu pun terbahak di tempatnya. “Ada. Ini gue buktinya.”
“Ih, lo tuh ada masalah apa, sih?” cecar Satoru.
“Ih, kenapa lo jadi penasaran sama hidup gue? Aneh. Kita baru ketemu sekali, loh.”
Hati Satoru mencelos. Sebab memang betul, mereka baru pertama kali bertemu hari ini. Rasanya Satoru sudah kurang ajar sekali untuk ikut campur dalam urusan pribadi orang lain.
Alhasil, Satoru mengucap maaf dan kembali membersihkan gudang. Yang bisa Satoru simpulkan, gadis di hadapannya ini unik dan sulit ditebak. Ramah, iya. Kelihatan baik juga iya. Tetapi, misterius juga. Ah, Satoru sedikit benci dengan rasa penasaran semacam ini. Namun, lagi-lagi ia harus sadar diri agar tak membuat orang lain ilfeel dengannya saat baru pertama kali berjumpa.
Tatkala Satoru masih bergelut dengan hati dan pikirannya, sang gadis tiba-tiba saja bertanya, “Kalau lo kenapa bisa dihukum di sini?”
Satoru melepaskan sarung tangan kanannya agar bisa menggaruk tengkuk yang sebenarnya tidak gatal, lebih seperti aksi untuk menutupi rasa malunya. Akhirnya, ia menceritakan saja apa yang dialaminya selama beberapa waktu terakhir ini. Dan, tanpa disangka-sangka, cerita Satoru justru membuat gadis di hadapannya kembali tertawa dengan kerasnya.
“Sumpah … absurd banget, deh, ayah lo!”
Terus saja gadis itu tertawa hingga mengeluarkan air mata dan nyaris kehilangan keseimbangan jika saja ia tak berpegangan pada meja di sampingnya.
Gadis itu tidak tahu saja bahwa hati Satoru mulai berkecamuk, debaran jantungnya pun serasa aritmia. Bagaimana bisa tawa seseorang yang notabenenya asing berakhir membuat perasaannya tidak keruan? Rasanya Satoru seperti masuk ke dalam dimensi yang berbeda dan di sana seluruh dunianya terasa penuh warna.
Alhasil, sejak saat itu Satoru selalu berusaha untuk membuat dunianya tetap berputar pada porosnya, dengan gadis bermarga Ieiri sebagai matahari yang mencerahkannya.
♡♡♡
From now on, can I stay next to you more often?
TATKALA terbangun dari tidur, entah mengapa memori satu tahun yang lalu kembali bermunculan. Memori saat baru bertemu Shoko, serta rasa penasaran dengan segala yang ada pada dirinya.
Setelah dipikir-pikir kembali, segalanya terasa konyol. Namun, membuat Satoru berbunga-bunga.
♡♡♡
“Aku punya kenalan baru yang aneh banget,” ujar Shoko pada dua orang sahabatnya asal Kyoto.
Shoko menceritakan pertemuannya dengan lelaki bernama lengkap Gojo Satoru di gudang sekolah, lebih tepatnya saat menjalani hukuman.
“Cakep gak?” tanya sahabatnya yang bernama Mei Mei.
“Lumayan.”
“Penampilannya gimana?” tanya Mei Mei lagi.
“Rapi, bersih, tinggi, putih, pakai jam tangan dan kacamata bermerek. Kelihatan pintar juga, sih.”
“Pacarin!”
“Ih, tapi katanya aneh. Jangan mau sama orang aneh! Shoko gak boleh pacaran sama orang aneh!” Kali ini sahabat Shoko yang bernama Utahime-lah yang menimpali sembari memeluk Shoko.
“Halah, masalahnya definisi “Aneh Banget” versi Shoko nih pasti gak seaneh tingkah laku diri dia sendiri juga gak, sih?”
Shoko tak kuasa menahan tawa tatkala mendengar penuturan Mei mei. “Kak Mei tahu aja. Tapi, ya belum tahu sih bakal seaneh apa dia. Cuma tuh radar keanehan yang ada di diri gue gak bisa menyangkal kalau gue udah menemukan orang aneh lainnya. Paham gak, sih?”
Meskipun sudah mengetahui tingkah laku Shoko, Mei Mei tetap menepuk dahinya sendiri sebagai respons atas ucapan juniornya itu.
“Aku gak setuju, ya. Aku takut kamu nanti diapa-apain sama orang aneh. Gak boleh!” protes Utahime.
“Kak Utahime gak perlu khawatir. Lagian siapa yang mau pacaran coba? Nambahin beban pikiran aja.”
Lantas Utahime mengelus kepala Shoko dan mereka bertiga lanjut mengerjakan tugas sekolah maupun kuliah masing-masing.
♡♡♡
“Sampai kapan sih lo dihukum?” tanya lelaki bermata sipit yang merupakan teman sebangku Satoru, Suguru-lah namanya.
“Senin depan udahan, kok.”
“Kok lama?” sahut sahabat yang paling mungil, bernama Yu.
“Tapi, belum sebanding dengan berapa kali dia terlambat datang ke sekolah, ‘kan?” Lelaki berambut pirang bernama Kento-lah yang kini turut masuk ke dalam konversasi.
Satoru berdecak sebal karena apa yang diucapkan Kento adalah fakta yang tak bisa dibantah. “Ya, habisnya gimana … awal-awal gue masih bingung loh sama jadwal kedatangan keretanya. Dan gue juga gak nyangka kalau jarak dari stasiun kereta ke sekolah kita tuh lumayan jauh.”
Suguru lantas menggeleng-gelengkan kepala sembari menepuk pundak Satoru, dan tak lama kemudian perbuatannya ditiru oleh Yu.
“Orang kaya memang beda,” sindir Yu.
“Sialan!”
“Bawa sepeda aja kayak gue. Lebih hemat waktu dan gak khawatir desak-desakan sama orang di kereta juga,” saran Suguru.
“Jauh, Sug. Tepar di jalan gue nanti.”
“Ya udah, nebeng Kento aja,” saran Yu.
“Kan beda arah,” jawab Kento singkat, padat, dan jelas.
Sontak Suguru dan Yu kembali menepuk-nepuk pundak Satoru sambil mengejek prihatin.
♡♡♡
Dalam masa-masa menjalani hukuman, Satoru dan Shoko hanya menghabiskan waktu pulang sekolah untuk membersihkan gudang. Meskipun jauh di lubuk hati keduanya terasa enggan untuk mengerjakan, tetap saja mereka melakukannya tanpa segan-segan. Banyak sekali barang yang akhirnya mereka singkirkan. Bukan hanya karena kondisinya saja yang tidak memungkinkan untuk lagi dipergunakan, namun sebagian besar pun sudah ketinggalan zaman.
“Gila, udah 4 hari belum bisa bersih juga ini gudang,” keluh Satoru.
Shoko yang berada tepat di sebelah Satoru, kini mengusap dahi untuk menghilangkan peluh. “Ini kita kayak lagi dikerjain gak, sih? Dasar Om Yaga ngeselin!”
“Eh? Apa tadi? Om?” respons Satoru terkejut. “Ini … maksudnya Pak Kepsek itu om lo? Serius? Apa gimana, sih?”
Sang gadis terbelalak sebab tidak sadar sudah membongkar rahasia keluarganya sendiri. Sontak ia mengalihkan pandangannya ke tempat lain dan berpura-pura tidak mendengar Satoru.
“Oi, Ieiri!” ujar Satoru. “Ieiri …,” ucapnya lagi sambil memiringkan kepala dan membuat tinggi badannya sejajar dengan wajah sosok yang dipanggil.
“Ssst, berisik!”
“Ih, gue yakin kalau gue gak salah dengar loh!”
Di balik maskernya, Shoko tertawa tanpa suara. Rasanya seru untuk mengerjai lelaki berambut putih salju ini.
“Mau tahu banget, ya?”
“Emang boleh?”
“Hahaha. Lo ngeselin!” jawab Shoko. “Beliin gue minuman di vending machine yang di lobi depan sekolah dulu, gih. Nanti gue ceritain.”
Dengan raut wajah heran, Satoru pun menjawab, “Kenapa harus yang di lobi depan? ‘Kan yang di dekat lapangan sini juga ada.”
Shoko menggeleng. “Pokoknya harus yang di lobi depan. Di sana pilihan minumannya lebih banyak dan lebih enak.”
“Hah? Masa?”
“Hmm, iya. Cek aja sendiri,” ujar Shoko yang mencoba menahan tawa.
“Oke. Gue beliin.”
“Ya. Gue tunggu di bawah pohon sana, ya,” ucap Shoko sambil menunjuk ke arah samping gudang.
Satoru mengangguk saja sebagai respons dan segera melenggang pergi menuju ke tempat vending machine yang dimaksud.
“Ck, polos banget, sih,” celetuk Shoko sambil berjalan ke sudut ruangan untuk mengambil sesuatu yang ia sembunyikan di sana sejak kemarin.
Dengan cepat Shoko mengantongi kedua benda tersebut dan membawa langkahnya menuju ke satu-satunya pohon besar di samping gudang. Ia mendudukkan diri di rumput serta mengeluarkan dua buah benda yang ternyata adalah sebungkus rokok dan korek api.
Mata Shoko berbinar-binar, seakan ia baru saja menemukan harta karun berharga di dunia.
Shoko sebenarnya sengaja menyuruh Satoru pergi ke lokasi vending machine yang jauh sekali dari gudang. Ia ingin menikmati kesendiriannya barang sebentar di bawah pohon, ditemani embusan angin musim panas, serta menghirup aroma nikotin yang selama beberapa hari terakhir absen dari hidupnya.
Rasanya sangat menyebalkan. Sebagian kebebasannya serasa direnggut paksa. Tetapi, kini secuil kebahagiaan akan kembali dalam apitan dua jarinya, begitulah pikirnya.
Namun, saat Shoko hendak menyalakan api pada rokok yang sudah bertengger di belah bibirnya, secara tiba-tiba korek yang ia pegang direbut oleh seseorang.
Shoko yang terkejut lantas mendongak. Seketika ia memindahkan rokoknya dengan tangan kiri sambil berdiri dan berusaha merebut korek yang digenggam oleh partner bersih-bersihnya.
Sial! Kok dia udah balik lagi? batin Shoko.
“Gojo, balikin!”
“Nanti kalau ada yang lihat, gimana?” Satoru panik.
Bukannya menjawab, Shoko justru mengalihkan pembicaraan sebab ia tak melihat lelaki di hadapannya ini membawa minuman. “Mana minumannya?”
Satoru yang mudah terdistraksi lantas menanggapi, “Dompet gue ketinggalan di tas, makanya gue balik lagi.”
Seketika itu pula Shoko mencuri kesempatan untuk merebut korek yang ada di genggaman sang lelaki.
“Eh!”
Shoko tersenyum dan berujar, “Kita sekalian pulang aja, ya. Gue ceritain sepanjang perjalanan kita ke stasiun. Itu pun kalau lo masih mau tahu ceritanya, sih.”
“Terus lo mau merokok di jalan, gitu?”
“Ya, enggaklah! Aneh lo! Tapi, ini kalau gue minta lo nungguin gue habisin satu batang aja, lo mau nunggu gak? Atau lo mau sekalian ikut ngerokok juga bareng gue?”
Satoru menganga sebab tidak habis pikir dengan apa yang diucapkan lawan bicaranya. Sontak ia mengacak rambut sang gadis dengan perasaan geram, sedangkan Shoko sudah mengaduh dan mencubit lengan Satoru.
“Tunggu di sini, gue ambil tas punya kita berdua dulu. Dan, jangan merokok! Seenggaknya jangan di sini.”
Shoko mendengus kecewa sembari memasukkan lagi rokok yang telah ia keluarkan ke dalam bungkusnya, serta mengantongi kembali bersama korek apinya.
Satoru menyerahkan tas kepada sang empunya tak lama setelahnya. Lalu mereka berjalan bersisian, tetapi belum ada satu pun yang membuka obrolan sama sekali.
Setibanya di lobi, Satoru berlari kecil untuk menghampiri vending machine, serta mempersilakan sang gadis menekan tombol minuman mana yang diinginkan.
Gadis berambut cokelat itu menekan tombol minuman bersoda rasa jeruk, sedangkan Satoru menekan tombol minuman jus rasa stroberi.
Selepas meninggalkan area sekolah, barulah Shoko mulai bercerita dan Satoru menyimak tanpa menyela.
Jadi, sebenarnya Pak Yaga atau kepala sekolah mereka adalah kakak dari ibunya Shoko. Ia terpaksa bersekolah di sana karena tuntutan dari orang tuanya. Lantaran SMA Jujutsu Kaisen dikenal sebagai sekolah SMA yang menghasilkan banyak siswa dengan peringkat yang tinggi se-nasional, serta memiliki peluang yang besar untuk masuk perguruan tinggi terbaik di Jepang. Terlebih sedari kecil Shoko telah didoktrin untuk memiliki profesi sebagai dokter, persis seperti ayahnya. Dan, di Tokyo Shoko tinggal bersama dua sahabatnya asal Kyoto di sebuah apartemen yang mereka sewa.
“Yah, begitulah, kurang lebih,” ujar Shoko.
“Terus orang tua lo tahu lo merokok?”
“Enggaklah. Makanya Om Yaga yang hukum gue. Dia juga ngancam bakal ngadu ke orang tua gue semisal gue ketahuan lagi.”
Satoru mengacak rambutnya frustrasi. Ia sedikit tidak mengerti dengan tingkah misterius gadis di sampingnya ini. Seketika ia menghentikan langkahnya dan menarik lengan kanan Shoko sampai sang gadis menatap ke arahnya dengan ekspresi keheranan.
“Ya, terus kenapa lo mau ngelakuin itu di dekat gudang tadi? Kalau ketahuan lagi gimana? Kalau gue ikut keseret juga, gimana? Meskipun gue sebenarnya gak keberatan kalau keseret, asal nanti dihukumnya bareng lo lagi, gak sendirian. Cuma … alangkah lebih baiknya kita terhubung karena sesuatu hal yang lain gak, sih? Maksud gue bukan karena ngejalanin hukuman gitu loh. Lebih ke … berteman. Berteman dengan cara yang lebih normal.”
“Ah …,” gumam Shoko seraya tersenyum. “Lo mau berteman sama gue?”
“Iya. Lo gak mau?”
“Lepasin dulu tangan gue.”
“Oh,” respons Satoru sambil melepaskan tangan Shoko.
“Kita mulai dari nol, ya, Gojo.”
“Satoru … panggil gue Satoru. Kalau lo manggil Gojo, seluruh keluarga gue Gojo semua marganya.”
“Sialan!” jawab Shoko sambil tertawa. “Panggil gue Shoko kalau gitu. Lo kemarin-kemarin manggil gue Ieiri, berasa ayah gue yang dipanggil sama pasien-pasiennya.”
Akhirnya mereka tertawa bersama sambil menghabiskan minuman masing-masing.
Tak lama kemudian mereka pun berpisah di tangga perbatasan peron stasiun karena berbeda tujuan. Kini, Satoru telah mengetahui sedikit informasi tentang sosok yang menjadi teman barunya.
Teman … entah kenapa rasanya sedikit janggal sebab Satoru merasa selalu ingin berada di sisinya. Padahal … dengan teman-temannya yang lain Satoru tidak pernah merasa begini. Apakah karena Ieiri Shoko adalah perempuan pertama yang menjadi temannya, ya? Mengingat selama ini Satoru selalu disekolahkan di sekolah khusus laki-laki oleh keluarganya. Namun, karena ketiga sahabatnya mengincar selangkah lebih maju untuk meraih cita-cita, akhirnya Satoru mengikuti jejak mereka untuk bersekolah di sekolah umum, SMA Jujutsu Kaisen.
♡♡♡
Is this love? I hope that it is love
SAAT kenaikan kelas 2, Satoru akhirnya berada di kelas yang sama dengan Shoko. Satoru tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya dan kepalanya pun penuh dengan rencana harus bisa semakin lebih dekat dengan Shoko. Mengingat di kelas 1 dirinya hanya bisa bertemu Shoko tiga kali dalam seminggu setelah masa hukuman di gudang berakhir, bila hitungannya tidak meleset. Lantaran ternyata kelas 1-A lebih sering moving class untuk tiap mata pelajarannya ketimbang kelas 1 yang lainnya.
Satoru juga tidak begitu mengerti mengapa sekolahnya memberlakukan hal semacam ini. Selentingan kabar yang pernah ia dengar, kelas 1-A pun menerapkan sistem downgrade untuk para siswa yang tidak bisa memenuhi standar yang telah ditetapkan saat ujian tengah semester. Namun, nyatanya hingga saat ini belum pernah ada yang terdepak dari sana, kecuali saat kenaikan kelas ada siswa kelas lain yang lebih unggul dan memiliki kesempatan untuk masuk ke kelas A menurut hasil rapat para guru.
Satoru sebenarnya tidak terlalu memedulikan akademik, yang penting ia bisa menjawab semua soal ujian dengan maksimal. Begitulah dirinya. Selebihnya ia hanya perlu yang namanya keberuntungan atau keajaiban.
Nyatanya, kini ia cukup beruntung untuk masuk kelas 2-A dan berada di kelas yang sama dengan gadis yang tidak tahu betapa ia menantikan momen ini.
Selain itu, sahabatnya yang bernama Kento pun masuk ke kelas yang sama dengannya, sementara Suguru dan Yu berada di kelas 2-B. Dengan semangat, Satoru mengajak Kento untuk duduk di bangku yang berada persis di belakang Shoko.
Shoko yang melihat kehadiran sosok yang dikenalnya bersama dengan wajah baru di sampingnya, membuat pemilik rambut pendek sedagu itu tersenyum dan menyapa, “Oh, Satoru. Lo masuk kelas ini?”
“Iya. Akhirnya kita sekelas juga, ya.”
Shoko mengangguk, sementara Kento bertanya, “Kok kalian bisa saling kenal?”
“Oh …,” respons Satoru dan Shoko bersamaan.
Keduanya saling bertatapan dan mempersilakan untuk berbicara duluan. Alhasil, Shoko-lah yang menjelaskan secara singkat kisah pertemuan mereka di gudang akibat dihukum di musim panas tahun lalu.
“Dia gak ngerepotin lo, ‘kan?” tanya Kento. “Oh, sori kita belum kenalan. Gue Nanami Kento.”
“Mana ada sih gue ngerepotin!” gerutu Satoru.
“Haha, malah gue yang ngerepotin dia mulu,” sahut Shoko. “Nama gue Ieiri Shoko, salam kenal.”
Lantas sepanjang jam istirahat sekolah, Satoru diinterogasi oleh Suguru dan Yu usai mendengar apa yang diucapkan Kento. “Satoru ternyata dekat sama cewek tuh dari tahun lalu.”
♡♡♡
Kehidupan Satoru sebagai siswa kelas 2-A sudah berjalan satu bulan lamanya. Ketika ia duduk menghadap ke jendela kamarnya, tiba-tiba terlintas sebuah kenangan. Tepatnya tatkala ia memberikan permen tangkai berperisa lemon kepada Shoko di hari terakhir mereka menjalani hukuman.
“Biar lo gak merokok lagi,” ujarnya.
Gadis itu pun tertawa dan berkata, “Tapi, nantinya gue diabetes dan sakit gigi.”
Meskipun terkesan sarkas, pada akhirnya Shoko tetap menerima pemberian dari Satoru.
Sejak saat itu juga, Satoru jadi berusaha untuk mencari permen dengan kandungan gula yang tidak terlalu tinggi atau bahkan mencari permen yang terbuat dari bahan-bahan herbal, serta memberikannya kepada Shoko setiap kali mereka berjumpa. Sebab Satoru berharap Shoko dapat melepaskan nikotin untuk selamanya.
♡♡♡
“Gue sekelas sama cowok aneh itu,” ujar Shoko tiba-tiba memecah keheningan saat sedang merapikan peralatan makan di dapur apartemen.
“Hah? Serius?” tanya Utahime
Shoko mengangguk sebagai respons.
“Masih suka ngasih lo permen, gak?” Mei Mei turut bertanya.
“Masih,” jawab Shoko sambil tertawa. “Tuh, yang di toples itu. Permen yang baru dikasih minggu ini.”
“Dan permen lo yang dari kapan tahu pun pada akhirnya berpindah ke perut Utahime dan teman-teman kuliah gue doang.”
Sang empunya nama mendelik sebal karena diekspos dengan cara yang demikian. “Lagian, Shoko kan gak suka makanan manis!”
“Bukan gak suka, Kak Utahime. Tapi, gak terlalu suka. Kayak … 1 aja udah cukup. Cuma … sekali dikasih langsung 10. Mau nolak gak enak juga. Karena setelah gue amati, itu permen harganya lumayan dan kebanyakan dijual di tempat khusus oleh-oleh. Gak sengaja gue lihat informasinya di koran perpustakaan.”
“Betulan anak orang kaya deh ini, dia,” ucap Mei Mei. “Siapa namanya? Mendadak gue lupa.”
“Gojo Satoru.”
“Gojo … Gojo.” Sontak Mei Mei menjentikkan jarinya seakan mengetahui sesuatu. “Itu loh … yang pengusaha mochi terkenal di Kyoto, kalau gak salah ada cabangnya juga di Tokyo. Pimpinannya tuh hobi pelihara burung, karena sering beli di tempat ayah gue. Persis yang diceritain sama teman aneh lo itu, ‘kan? Ayahnya piara banyak burung.”
“Eh? Sempit banget dunia ini, masa?” Utahime takjub.
Shoko pun tertawa mendengarnya. “Serius kah?”
“Ya, kalau dia memang orang berada, pasti keluarga Gojo yang itu. Yakin, sih, gue,” ujar Mei Mei mantap.
“Gak heran kalau dia suka makanan manis, ya,” gumam Shoko.
“Dan gak heran kalau sebenarnya ada maksud dari ini semua,” terka Mei Mei.
Lantas Shoko dan Utahime pun saling bertukar pandang dengan heran.
♡♡♡
Usai makan malam, tiba-tiba sepupu Satoru yang bernama Amanai Riko datang berkunjung. Riko berkata bahwa ia butuh bantuan Satoru agar dapat bersembunyi karena ayahnya sedang murka.
Bisa dibilang Riko mempunyai sifat bagaikan refleksi diri Satoru sendiri, hanya berbeda jenis kelamin, ukuran tubuh, serta suaranya saja.
Belum lagi keduanya sama-sama anak tunggal yang sering mengeyel jika berbeda pendapat dengan ayah mereka.
“Sat, masa katanya kalau udah cukup umur gue tuh mau dijodohin? Ngaco banget gak, sih?” ujar Riko sambil merebahkan tubuh di kasur Satoru.
Dari sofanya Satoru berseru, “Hah? Siapa yang bilang?”
“Gue gak sengaja dengar ayah ngomong gitu pas lagi teleponan sama orang.”
“Buset, sial amat lo.”
“Tahu tuh, makanya gue ngamuk dan kabur ke sini. Aneh, berasanya gue kayak gak boleh jatuh cinta atau nyari pasangan sendiri. Apa banget, ih!”
Satoru berdecak tidak suka. Jika Riko saja begini, bisa jadi dirinya pun akan mengalami hal serupa di kemudian hari.
“Tapi, Sat … lo sendiri pernah jatuh cinta gak, sih?”
“Hah? Gue … gue gak yakin.”
Riko kini memosisikan dirinya duduk di tengah-tengah kasur Satoru sambil menatap ke arah sang empunya wilayah.
“Katanya … kalau lo jatuh cinta, lo bakal selalu teringat sosoknya, lo bakal terus menjaga kenangan kalian bersama, dan lo bakal berbuat apa aja demi dia. Kayak … lo rela deh jadi goblok hanya untuk dia. Tapi, masa udah mau 17 tahun lo hidup di dunia, lo gak pernah ngerasain?”
Satoru seketika terdiam. Namun, di dalam kepalanya langsung berseliweran segala kenangannya bersama Shoko, apa saja yang sudah ia lakukan hanya demi bertemu dengan gadis berambut cokelat itu, serta bagaimana ia begitu sumringah saat mengetahui dirinya berhasil masuk ke kelas yang sama dengannya.
Rasanya setiap hari akan tercipta kenangan baru. Rasanya setiap hari akan tercipta rencana-rencana baru. Rasanya setiap hari akan selalu ada ruang hanya untuk mengagumi, bersyukur, dan merasa bahagia.
Akan tetapi, apakah benar bahwa ini adalah cinta?
Apakah benar begitu?
Satoru tidak mengerti. Tetapi, bukan berarti ia tidak boleh berharap untuk mengerti, ‘kan?
Selain itu, jika boleh berharap lagi … semoga saja ini adalah benar cinta. Cinta pertama untuk Satoru yang masih belum sepenuhnya yakin dengan apa yang ia rasa.
♡♡♡
Like a fool I was floating on air all day
“KALAU lo suka sama dia, minimal ajak ketemuan di luar sekolah. Ngobrol, cari tahu apa yang dia suka dan gak suka. Dan pastinya, lo gak boleh seenaknya,” pesan Riko.
Kalimat yang diutarakan oleh sepupunya itu terngiang-ngiang di kepala usai ia menjelaskan segala hal yang dialaminya selama satu tahun belakangan ini.
Tentang betapa tidak relanya ia tatkala hari hukuman mereka berakhir. Tentang betapa ia yang selalu ingin bertemu atau melihat sosoknya meskipun dari kejauhan. Tentang betapa ia yang tidak ingin dilupakan begitu saja hingga sampailah pada keputusan untuk memberikan permen setiap kali berjumpa.
Satoru bahkan tidak memedulikan berapa banyak pasang mata yang melihat aksinya tersebut. Selama ini, ia berpikir perbuatannya itu adalah hal yang wajar untuk dilakukan oleh seorang teman. Satoru hanya ingin Shoko berhenti merokok sepenuhnya serta menjalani hidup yang lama dan juga bahagia di dunia. Satoru pun ingin setidaknya secuil momen kebahagiaan itu berasal dari dirinya yang merupakan salah satu temannya.
Meskipun sampai saat ini Satoru masih belum mengetahui secara pasti alasan sebenarnya mengapa Shoko merokok, sejak kapan, dan bagaimana caranya ia bisa mendapatkan benda tersebut, padahal ia masih di bawah umur saat itu. Akan tetapi, jauh di lubuk hati Satoru merasa pasti suatu saat nanti ia akan mengetahuinya.
Entah dari mana keyakinan itu datang, Satoru juga tidak tahu.
Terlalu banyak hal ajaib yang semula tidak pernah terlintas lantas berakhir terpikirkan.
Terlalu banyak hal yang semula terlihat bodoh, justru kini membuat dirinya sendiri yang heboh.
Terlalu banyak hal yang mungkin terlihat aneh, namun kini tak bisa dianggap remeh.
Lantas dalam posisinya yang kini merebahkan diri di sofa sepeninggal Riko menuju ke kamar tamu, tiba-tiba saja Satoru teringat hari di mana ia diinterogasi oleh Suguru dan Yu akibat celotehan Kento tentang dirinya yang dekat dengan Shoko sejak setahun yang lalu.
“Kok bisa lo dekat sama cewek?” tanya Suguru.
“Gila lo, gak ngasih info apa-apa,” protes Yu.
“Yang mana deh orangnya?” tanya Suguru lagi.
Kemudian diceritakanlah segala kronologinya. Namun, berbagai respons konyol pun menyertai setelahnya. Sungguh membuat heran mengapa ia bisa terjebak dalam lingkup pertemanan yang di luar nalar.
“Kenapa lo gak coba aja ngudut bareng? Gak ada siapa-siapa juga kan akhirnya di sana?” tanya Suguru.
“Kalau gue jadi lo, gue sih pengin lihat gimana tuh cewek ngerokok. Gokil, dah,” ujar Yu.
“Sesat!” respons Kento. “Udah betul tindakan Satoru, tuh. Justru bikin heran kenapa dia mendadak pintar baca keadaan.”
Jujur saja rasanya Satoru kini seperti sedang mengambang di atas awan, dengan pikiran dan isi hati yang begitu tidak keruan.
Memangnya ada orang yang mengaku berteman kemudian mencintai tanpa alasan?
♡♡♡
Hey, will you notice them? I almost can't help myself
DUA bulan musim semi pun terlewati. Satoru mencoba untuk menata kembali hati dan pikirannya, terlebih ujian tengah semester sudah ada di depan mata. Melihat betapa individualisnya para siswa di kelas 2-A, membuat Satoru seakan berada di tempat yang salah. Namun, bila Satoru melihat adanya sosok gadis yang tahun lalu ia kenal, mau tak mau dirinya jadi berusaha keras untuk merasa betah.
“Gojo,” ujar seseorang. “GOJO SATORU!”
Sang empunya nama akhirnya menoleh dan sontak berdiri karena terkejut. Ternyata yang memanggilnya adalah guru matematika dan kebetulan sedang mengulas ulang materi untuk persiapan ujian tengah semester.
Dengan tatapannya yang nyalang, Satoru disuruh maju ke depan untuk mengerjakan sebuah soal induksi matematika. Lebih seperti membuktikan bahwa 5 pangkat 2n + 3n - 1 dapat habis bila dibagi 9.
Satoru sedikit kelabakan karena rasa terkejutnya belum sepenuhnya musnah, padahal ini adalah soal yang mudah.
Melihat betapa kacaunya kondisi teman anehnya, langsung saja Shoko mengacungkan tangan dan mendapatkan perhatian dari sang guru saat itu juga.
Shoko tersenyum sambil menunjukkan telapak tangan di hadapan Satoru, tepatnya untuk meminta kapur yang masih berada di genggamannya.
Dalam sepersekian sekon, kapur itu telah berpindah ke tangan gadis berambut cokelat, dan Satoru diminta untuk kembali duduk di kursinya.
Satoru memperhatikan setiap gerak-gerik Shoko. Tulisan gadis itu terbilang rapi, lebih rapi daripada dirinya. Lantas yang paling penting adalah cara penyelesaian soal tersebut. Satoru merasa sangat bodoh dan tidak berguna hanya karena tak dapat mengerjakannya di depan sana.
“Jangan melamun terus makanya!” tegur Kento.
“Kata siapa gue melamun!” jawab Satoru tak terima.
“Minta diajarin si Ieiri sana! ‘Kan lo dekat sama dia.”
“Hah?” respons Satoru dengan suara yang membahana di tempatnya.
Secara otomatis, puluhan pasang mata langsung tertuju ke arahnya dan sang guru pun bertanya, “Ada apa, Gojo?”
“Ah, anu … gak apa-apa, Pak. Saya cuma baru nemu jawabannya,” ujarnya gelagapan.
Sumpah, Satoru panik sekali. Entah apa yang membuat jantungnya berdebar cukup kencang. Berkat ucapan Kento barusan atau justru karena responsnya sendiri yang berakhir menarik perhatian banyak orang, termasuk dengan sosok yang sedang dibicarakan?
♡♡♡
Tanpa terasa, ujian tengah semester pun berakhir. Satoru harus menerima kenyataan bahwa dirinya bukanlah manusia yang sempurna. Rasanya nyaris mustahil untuk menjadi yang paling unggul di antara yang unggul. Lagi pula, ia juga selalu berpegang teguh pada pendiriannya bahwa nilai akademik bukanlah segalanya.
Lain halnya dengan Kento yang tampak puas dengan usaha kerasnya. Begitu pun Shoko yang terlihat santai-santai saja dengan senyum tersemat di wajahnya.
“Kenapa? Kusut banget muka lo,” ledek Shoko.
Satoru menggelengkan kepala. “Gue cuma merasa kayaknya gue gak cocok di kelas ini. Gak ada ribut-ributnya. Gak seru,” jawab Satoru asal.
“Lo aja kalau gitu yang bikin keributan, nanti gue bantu.”
“Hah? Suka ngaco, lo! Parah!”
Shoko tertawa terbahak melihat ekspresi Satoru yang berubah-ubah akibat candaannya.
“Bentar lagi musim panas. Mendingan lo rencanain liburan, jalan-jalan. Baru UTS aja lo udah stres,” ujar Shoko.
“Tapi, UAS dulu ‘kan? Baru libur,” responsnya lesu sambil memosisikan kepalanya di atas meja.
Melihat ekspresi Satoru yang kembali muram, seketika Shoko berseru, “Ah, gimana kalau belajar bareng? Lo mau?”
“Serius?” tanya Satoru yang mendadak bersemangat.
Shoko memberi tanggapan berupa anggukan.
“Terus mau belajar di mana?”
“Di mana aja. Yang penting akses ke stasiun keretanya gampang, ya?”
Seketika Satoru memberikan acungan jempol pada gadis mungil itu.
♡♡♡
Sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan, Satoru dan Shoko akhirnya sering bertemu di akhir pekan untuk belajar bersama, persiapan UAS lebih tepatnya. Untungnya saja kelas 2-A jarang mendapatkan tugas atau pekerjaan rumah sehingga mereka bisa benar-benar mempelajari apa yang harus dipelajari.
Terkadang mereka bertemu di perpustakaan kota, di restoran cepat saji, di taman, dan yang paling terakhir adalah di kediaman keluarga Satoru yang berada di Tokyo.
Benar seperti apa yang Satoru pernah ceritakan bahwa banyak sekali koleksi burung beserta kandang milik ayahnya. Shoko sampai bingung dan membatin seandainya ia adalah orang awam, pasti akan mengira bahwa dirinya sedang berada di pameran burung antik atau bahkan kebun binatang.
Suasana di rumah yang begitu megah itu pun jadi terasa ramai sebab suara kicauan burungnya saling bersahutan.
Shoko juga sempat mengira bahwa sepertinya Satoru akan kesulitan untuk tidur siang jika begini kondisinya. Namun, Shoko segan untuk bertanya demikian.
Selama di sana, Shoko disambut dengan sangat baik oleh para pekerja rumah tangga, disuguhi berbagai camilan dan minuman, bahkan disiapkan berbagai lauk untuk makan siang.
“Makan yang banyak, biar cepat besar!” ledek Satoru.
Mendengar hal tersebut membuat Shoko geram dan langsung mencubit lengan Satoru yang kini duduk bersebelahan dengannya di ruang makan.
“Satoru … yang tinggal di rumah ini sebenarnya berapa orang, sih?”
“Hmmm, 12 orang kali, ya? Gue, ayah, juru masak, tukang kebun, tukang bersih-bersih, sopir, sama orang yang direkrut untuk ngurusin burung piaraan ayah.”
“Terus ibu lo?”
“Oh, ibu di Kyoto, di rumah utama. Anggota keluarga yang lain pada tinggal di sana. Sebenarnya rumah ini dibangun cuma karena sayang aja sama tanahnya, hampir ditawar sama pemerintah gitu untuk pembangunan apalah gue gak ngerti sebelum gue lahir. Jadinya … begini, deh.”
“Ooh … gitu,” respons Shoko. “Berarti betul ya kalau keluarga lo itu yang punya toko mochi terkenal di Kyoto?”
“Gue gak tahu yang dimaksud terkenalnya ini gimana. Tapi, ya berkat usaha itulah keluarga gue syukurnya … gak kekurangan dan bisa membuka lapangan pekerjaan untuk warga sekitar.”
Shoko tersenyum dan mengangguk mendengar penuturan Satoru.
Entah mengapa, makin mengenal Satoru membuat Shoko semakin merasa bahwa lelaki itu adalah anak baik-baik, meskipun terkadang agak aneh.
“Omong-omong, liburan musim panas nanti lo ada niatan mau pulang ke Kyoto gak?” tanya Satoru.
“Eh? Lo mau ke Kyoto?”
“Rencananya gitu. Sejak naik kelas, gue belum ketemu sama ibu soalnya.”
Shoko sedikit bimbang. Sebenarnya ia sangat menghindari untuk pulang ke Kyoto di waktu liburan seperti itu. Sebab Shoko tak ingin berakhir menghabiskan waktu di klinik ayahnya selama liburan. Namun, kapan lagi ia bisa bermain bersama teman sekolah di tempat tinggalnya yang sebenarnya?
“Shoko. Hei!” ujar Satoru lantaran sang gadis terlihat sibuk sendiri dengan pikirannya.
“Oh, ya …. Asalkan lo di sana temanin gue main, biar gue gak dipenjara di klinik ayah gue.”
Satoru tertawa sambil mengacak rambut Shoko gemas. Lantas Shoko kembali mencubit Satoru dengan geram karena rambutnya telah diacak-acak.
“Oke. Gue bakal ajak lo main ke mana pun lo mau. Dan, kita berangkat dari sininya bareng aja, naik mobil. Biar gue tahu lokasi rumah lo di mana. Oke?”
“Ih, gue jadi enak kalau gitu.”
Lagi-lagi Satoru tertawa dengan respons dan tingkah lucu gadis di sampingnya. Tidak tahu saja bahwa sebenarnya Satoru telah menahan diri mati-matian untuk tidak merusak suasana. Hati Satoru ingin meledak rasanya.
Hei, Shoko … lo jangan gemas-gemas kenapa? batin Satoru.
♡♡♡
I’m in Love
LIBURAN musim panas akhirnya tiba. Satoru bersama sopirnya kini menunggu kedatangan Shoko di areal parkir apartemen sang gadis. Rupanya, yang akan menghampiri Satoru tidak hanya Shoko sendiri, gadis itu ditemani dua orang sahabatnya.
Satoru sedikit merasa kikuk saat melihat mereka bertiga berjalan ke arah mobilnya. Saat ia sedang berusaha menenangkan diri dengan mengatur napas, justru ia tersentak ketika mendengar suara ketukan di jendela mobil.
Hampir saja Satoru mengumpat jika saja sang sopir tidak lekas membuka pintu untuk membantu Shoko memasukkan barang bawaannya ke bagasi.
Satoru pun menyusul untuk membuka pintu setelah merasa lebih tenang. Ia mencoba untuk bersikap sesopan mungkin saat memberi salam pada dua sahabat Shoko yang katanya lebih tua dari usianya maupun Shoko.
“Titip Shoko, ya,” ujar Mei Mei.
“Awas aja lo kalau Shoko kenapa-kenapa!” ancam Utahime.
“Iya, bakal dijagain supaya gak lecet. Tenang aja.”
Shoko tertawa. “Udah, ih. Kayak mau ngapain aja gue jadinya.”
“Habisnya kita biasanya pulang bareng ke Kyoto,” ucap Utahime sedikit merajuk.
“Kasian deh anak kuliahan!” ledek Shoko. “Nanti gue bawain oleh-oleh aja, ya.”
“Bawain mochi!” sahut Mei Mei.
Lantas Shoko membentuk isyarat ‘oke’ dengan jari kanannya.
Usai berpamitan, Satoru mempersilakan Shoko untuk masuk ke dalam mobil. Gadis itu kemudian membuka jendela dan berdadah ria dengan dua sahabatnya.
Beberapa menit setelahnya, Shoko menutup jendela dan terkejut melihat Satoru yang tiba-tiba berada di hadapannya sebab ingin meraih sabuk pengaman yang berada di sebelah kiri Shoko.
“Sori. Biar aman. Soalnya lo dari tadi nengok ke samping jendela terus.”
“Hmm, gak apa-apa.”
“Oh, iya …,” ujar Satoru. “Ini, gue bawain permen yang biasa gue kasih ke lo di sekolah.”
Shoko menutup mulut dengan telapak tangannya. Ia tak percaya bila lelaki berambut putih salju ini membawakannya satu toples besar permen. Dengan perasaan canggung, Shoko menerimanya. Namun, hati kecilnya seakan tak bisa berkhianat. Rasanya ini saat yang tepat untuk berkata jujur pada Satoru.
“Satoru.”
“Ya?” jawabnya sembari membuka bungkus permen.
“Gue mau jujur sama lo.”
Tatkala mendengar hal tersebut, jantung Satoru mulai berdetak lebih cepat. Namun, akal sehatnya terus mengingatkan untuk tidak asal menarik kesimpulan.
“Gimana?” respons Satoru karena Shoko tiba-tiba menjeda terlalu lama.
“Maaf … sejujurnya gue gak terlalu suka makan makanan manis. Dan, tiap kali lo ngasih gue permen, gue tuh merasa berdosa karena yang makan bukan gue sendirian. Kak Utahime, Kak Mei Mei, sama teman-teman kuliah mereka yang sering ngabisin. Soalnya lo kalau ngasih permen tuh banyak banget.”
“Wah … kenapa lo baru bilang sekarang?”
“Eh, aduh … sori. Gue bukannya gak bersyukur, tapi ….”
“Oke, tenang. Tenang. Gue gak marah sama lo, enggak. Justru kayaknya gue yang gak bisa baca keadaan. Atau mungkin gue yang terlalu memaksakan orang lain untuk harus satu selera sama gue. Sori … serius. Gue juga minta maaf banget sama lo, Shoko.”
Shoko menggelengkan kepalanya usai mendengarkan penuturan Satoru. Shoko benar-benar tidak enak hati. Mengapa jadi Satoru yang meminta maaf kepadanya? Shoko bingung sekali.
Melihat Shoko yang kebingungan membuat Satoru jadi tidak tega. Alhasil, ia bertanya, “Jadi, apa yang lebih lo sukai?”
Gadis itu akhirnya menjelaskan segala hal yang ia sukai. Seperti ia yang lebih menyukai kopi ketimbang teh atau cokelat, ia yang lebih menyukai camilan yang berasa asam atau gurih ketimbang manis, ia yang lebih menyukai sesuatu hal yang simpel daripada rumit, ia yang lebih memilih menjadi orang biasa-biasa saja ketimbang menjadi orang ternama, ia yang lebih suka bercanda ketimbang terjebak dalam suasana serius, ia yang lebih menyukai melakukan segala hal seorang diri daripada merepotkan orang lain, dan ia yang lebih menginginkan kebebasan daripada siapa pun juga.
“Terus kalau boleh tahu, kenapa lo merokok? Dari kapan dan gimana cara lo dapetin rokok itu pertama kali?”
Seketika Shoko tertawa, ia mengingat segala kenangan gilanya. Kenangan atas kenakalan pertama yang membuat dirinya terjebak selama beberapa bulan, sampai akhirnya ia menerima hukuman dan dipertemukan dengan si lelaki yang mengajaknya untuk berteman.
Jadi, pada awalnya Shoko bermain di warnet, tepat setelah orang tuanya memaksa dirinya untuk bersekolah di Tokyo. Ia melakukan pencarian tentang bagaimana caranya manusia melampiaskan rasa penat di dalam dada, atau mungkin stres secara singkatnya. Lantas bermunculan berbagai solusi, mulai dari yang masuk akal hingga paling ekstrem untuk dilakukan.
Bagi Shoko yang saat itu masih di bawah umur, ia hanya ingin mencari sesuatu yang paling mudah untuk dilakukan. Merokoklah jawabannya.
Setelah mencari tahu, ternyata membeli rokok tidak bisa sembarangan. Setidaknya ia butuh kartu identitas untuk membuktikan dirinya sudah mencapai batas usia legal. Dan, sayangnya Shoko masih butuh beberapa bulan lagi untuk mencapai usia legal.
Entah itu takdir atau bagaimana, tiba-tiba saja Shoko bertemu dengan seorang pemulung yang mendorong gerobak berisi tumpukan kardus. Shoko memperhatikan ada segerombolan anak laki-laki seusianya yang menghampiri pemulung tersebut. Mereka seperti tengah melakukan transaksi jual beli, namun Shoko tidak bisa melihatnya dengan jelas. Lantaran rasa penasarannya yang tinggi, akhirnya Shoko mencoba menghampiri dan ia pun tersenyum setelahnya. Ah, ini dia yang gue cari-cari, batinnya.
Kemudian Shoko membeli dua bungkus sebagai bahan percobaan. Ia pun berjalan menuju ke tempat yang sangat sepi untuk mencoba menyulut api pada sebatang rokok yang bertengger di belah bibirnya.
Seketika itu asap kecil berubah mengepul saat ia mencoba untuk mengisap sedikit dan meniupkan dengan napasnya. “Wah!” Itu adalah komentar pertama Shoko pada percobaan pertamanya pula.
Shoko tidak menyangka bila menghirup nikotin akan sedikit menenangkan pikirannya. Anehnya juga, ia tidak terbatuk. Seakan-akan dirinya memang memiliki bakat untuk melakukan hal semacam ini.
Lantas sebelum benar-benar pergi ke Tokyo, Shoko mencoba untuk membeli beberapa bungkus rokok beraneka rasa. Shoko ingin tahu rokok mana yang paling cocok dengannya. Dan, sesampainya di Tokyo justru ia bernasib sial. Beberapa bungkus rokok yang diselipkan di kopernya berakhir dibuang oleh Mei Mei saat membantunya merapikan barang-barang. Untungnya saja ia masih mengamankan dua bungkus terakhir di dalam tas sekolahnya. Namun, lagi-lagi Shoko mengalami kesialan. Omnya yang merupakan kepala sekolah memergoki aksi kenakalannya, serta merampas benda tersebut darinya tanpa tahu masih ada satu bungkus yang utuh dan tersembunyi. Kemudian Satoru adalah orang terakhir yang memergokinya juga. Bungkus rokok terakhir yang sempat dikantongi olehnya hari itu, akhirnya ia singkirkan karena mulai bingung harus berbuat apa jika mengingat segala ucapan Satoru. Terlebih lelaki itu bertindak seakan paling memedulikan dirinya.
“Gitu, deh, ceritanya,” ujar Shoko.
Satoru menepuk jidatnya sendiri karena heran dengan tingkah ajaib dari gadis di sampingnya ini.
Lantas selama sisa perjalanan selanjutnya, keduanya memakan camilan yang Satoru bawa, mendengarkan lagu dengan penyuara telinga yang dibagi dua; kanan Shoko dan kiri Satoru, serta tertidur usai bercanda.
♡♡♡
Sesampainya di Kyoto, Satoru terbangun dan mendapati kepala Shoko bersandar di pundaknya. Satoru ingin membangunkan sang gadis, namun pemikiran jahilnya berkata sebaliknya. Justru ia tetap sengaja membiarkan Shoko tertidur, dan bersusah payah untuk mengambil ponsel lipat yang ia kantongi.
Satoru membuka aplikasi kamera dan mencoba mengambil gambar mereka berdua. Satoru menahan tawanya tatkala melihat hasilnya. Lucu sekali. Shoko terlihat sangat lucu saat sedang tertidur. Tetapi, saat Shoko terbangun nanti ia akan meminta maaf karena telah mengambil foto tanpa izinnya.
Tak lama kemudian, tidur Shoko terusik karena pundak Satoru tampaknya sudah mulai pegal dan bergerak-gerak sedikit.
“Eh, buset, kita udah sampai mana?” ujar Shoko yang terbangun tiba-tiba.
“Udah di Kyoto, tapi alamat rumah lo di mana?”
“Sumpah? Lama banget dong gue tidur? Pundak lo pasti pegal juga gak sih gara-gara kepala gue?” Shoko merasa tak enak hati. “Rumah gue di xxx, dekat xxx. Pokoknya ada papan nama besar tulisannya ‘Klinik Ieiri’.”
Satoru menggelengkan kepalanya. “Gak apa-apa, gue juga belum lama kebangun, kok. Dan omong-omong, gue mau minta maaf karena tadi gue sempat iseng,” ucap Satoru sambil menyerahkan ponselnya.
Dahi Shoko mengerut sebab tak mengerti ada apa sebenarnya. Namun, ia menerima ponsel tersebut dan menekan tombolnya. Lantas muncullah sebuah foto dengan wajah mereka berdua yang sama-sama memejamkan mata.
Shoko tidak marah, justru merasa lucu dengan itu. Kalau dipikir-pikir kembali, ini adalah foto pertama mereka sejak mereka berteman.
“Hahaha jelek banget gue di situ!”
“Ih, mana ada jelek! Lucu tahu!” protes Satoru.
“Ih, lucu dari mananya?” Shoko mencoba mengelak, namun tak kuasa menahan tawa.
“Lo gak marah, ‘kan?”
“Hmmm. Kali ini gue gak marah. Tapi, besok-besok gak boleh gini lagi, ya? Lo gak mau dilaporin sebagai penjahat karena udah ambil foto orang lain sembarangan, ‘kan?”
Satoru mengangguk. “Gue janji, gak akan lagi begini. Makanya gue langsung ngaku pas lo udah bangun.”
Melihat Satoru yang seperti ini membuat Shoko gemas sendiri dan membuatnya mengulas senyum dengan sangat tulus.
Beberapa menit kemudian, Shoko pun tiba di kediaman orang tuanya. Satoru juga turut membantu membawa barang dan berpamitan dengan orang tua Shoko.
Sejujurnya, Satoru sangat tegang dan sempat berpikiran bahwa orang tua Shoko akan terlihat galak, mengingat bagaimana Shoko mendeskripsikan keduanya terkesan seperti orang tua yang pemaksa atau suka menuntut anaknya sendiri. Tetapi, nyatanya Satoru disambut dengan baik oleh mereka.
♡♡♡
Dalam beberapa hari selanjutnya Satoru dan Shoko selalu menghabiskan waktu bersama. Mereka mengunjungi kuil untuk beribadah dan meminta agar diberi kemudahan saat mengerjakan soal ujian, serta mencoba berbagai macam makanan yang dijual tak jauh dari lokasi kuil, seperti takoyaki, okonomiyaki, yakitori, dorayaki, dan taiyaki. Untuk minumnya, baik Satoru maupun Shoko sengaja memilih air mineral saja agar dapat menetralkan segala rasa makanan yang telah masuk ke dalam mulut mereka.
Hari itu pun benar-benar panas sekali. Saking panasnya, Shoko sampai terpaksa mengikuti jejak Satoru untuk memakan es krim.
Sepanjang petualangan mereka menjelajahi Kyoto, tak lupa Satoru mengabadikannya lewat foto. Kali ini ia sengaja membawa kamera dan terkadang meminta tolong kepada siapa saja yang ada di sekitar keduanya untuk mengambil gambar mereka.
Satoru ingin membuat liburan musim panas ini berkesan bukan hanya untuknya seorang, namun untuk Shoko juga.
Lantas ketika matahari mulai menghilang ke peraduannya, Satoru mengantarkan Shoko untuk pulang ke rumah orang tuanya.
♡♡♡
Keesokan harinya, Satoru menelepon ke kediaman Ieiri pagi-pagi sekali. Untung saja yang menerima telepon tersebut adalah Shoko. Kontan rasa tegang yang ia alami menghilang secara perlahan.
Melalui telepon, Satoru berkata bahwa ia ingin mengajak Shoko piknik ke sebuah taman bunga. Bahkan Satoru akan mempersiapkan segalanya. Hanya saja, Shoko perlu membawa tas, barangkali nantinya mereka akan berjalan cukup jauh dari lokasi parkir mobil dan tak sempat untuk bolak-balik mengambil sesuatu.
Selain itu, Satoru juga berpesan agar Shoko menggunakan pakaian yang nyaman digunakan saja, dan kalau bisa memiliki warna yang cerah agar tidak mudah membuatnya merasa kepanasan di bawah terik matahari musim panas.
Mendengar segala penuturan Satoru membuat gadis penerima telepon tertawa. Jika dipikir-pikir kembali, entah sudah seberapa sering Shoko dibuat tertawa oleh teman anehnya ini.
Lantaran merasa sudah menyampaikan segala informasi pada lawan bicaranya, Satoru pun berpamitan dan berkata akan menjemput Shoko pukul 9 pagi.
Usai meletakkan gagang telepon ke posisinya semula, Shoko bergegas untuk mempersiapkan diri. Dicarinya pakaian ternyaman untuk dikenakan. Bahkan Shoko juga sengaja menyesuaikan warna tas yang akan dibawa dengan warna pakaiannya.
Beberapa menit kemudian Shoko pun telah siap sepenuhnya. Ia menghampiri ruang makan untuk ikut sarapan bersama kedua orang tuanya. Anehnya, sejak kedatangan Satoru pertama kali, mereka tak pernah sedikit pun memaksa Shoko untuk tinggal di rumah selama liburan atau bahkan membantu pekerjaan di klinik.
Mereka justru bertanya, “Mau pergi ke mana lagi hari ini?” dengan nada bicara yang normal. Tidak ada emosi, rasa kesal, atau apa pun.
Sama seperti hari ini, mereka hanya bertanya seperlunya dan meninggalkan beberapa lembar uang untuk Shoko jadikan pegangan. Tak lupa sang ibu memberikan kecupan di pucuk kepalanya, sebelum akhirnya pergi menuju klinik bersama ayahnya.
Setelah membereskan segala peralatan makan, Shoko menatap ke arah jam dinding. Masih ada sekitar 10 menit lagi untuk Satoru sampai. Namun, di luar perkiraan ternyata Satoru tiba lebih awal.
Dari dalam rumah ia berlari tatkala mendengar suara bel berbunyi. Diraihnya tas yang sudah ia siapkan, dipakainya sepatu yang sudah ia sesuaikan, mengunci pintu dengan sempurna, dan membuka pintu pagar rumah yang mana langsung memunculkan lelaki jangkung berkacamata.
Senyum cerah terpatri di wajah sang lelaki, seakan-akan ini adalah hari paling membahagiakan selama ia hidup di dunia.
Usai mengunci pagarnya, Shoko menghampiri sang lelaki dan menepuk lengannya. “Bahagia amat!” ucap Shoko.
Namun, sang lelaki hanya tertawa dan merespons dengan anggukan.
♡♡♡
Perjalanan mereka cukup memakan waktu, bahkan Shoko sendiri tidak tahu akan dibawa ke mana sebenarnya. Namun, ia mencoba untuk menikmatinya saja. Dapat Shoko lihat berbagai perlengkapan lain memenuhi bagasi mobil, seperti tikar, kotak bekal makanan, beberapa botol air mineral, serta buah semangka dan pisaunya.
“Kita betulan piknik, nih?”
“Jelas! Sekalian lihat bunga. Katanya sih bagus kalau lagi musim panas gini.”
“Oh, oke.”
Setelah berbelok dari jalan utama, kini akhirnya mereka masuk ke halaman parkir taman bunga yang Satoru maksud.
Sopir Satoru pun kini membawakan barang-barang milik sang tuan muda. Namun, Shoko yang merasa tak enak hati akhirnya memilih untuk membawa apa saja yang masih sanggup ia bawa. Pilihannya jatuh kepada buah semangka.
Setelah berjalan agak jauh dari tempat parkir mobil, mereka mencari tempat yang teduh untuk menggelar tikar. Satoru dan sopirnyalah yang menggelar tikar, sedangkan Shoko yang menata barang-barang lainnya.
“Lo udah pernah ke sini belum?”
“Belum. Gue aja baru tahu kalau ada taman begini.”
“Iya, bunganya kuning semua lagi, kan? Terus sama juga warnanya dengan baju yang kita pakai.”
“Eh, iya juga. Padahal kita kan gak janjian,” ucap Shoko heran.
“Udah takdir, kali,” jawab Satoru sekenanya.
Shoko tersenyum sebab merasa ini adalah kebetulan yang lucu. “Bisa jadi, ya.”
Tak lama kemudian Satoru mengajak Shoko untuk mengelilingi taman, memotret segala hal yang bisa diabadikan, dan bercengkerama tentang segala keseharian yang biasanya mereka lalui jika sedang tidak liburan.
Pertukaran cerita yang kadang terkesan tidak penting, dipenuhi dengan hal-hal jenaka, dan diakhiri dengan ejekan terhadap satu sama lain ini membuat mereka merasa terjebak di dalam zona nyaman.
Terutama untuk Satoru. Ia sudah terlampau nyaman dengan Shoko dan ingin membuat sang gadis selalu ada di setiap momen hidupnya. Bahkan mungkin ia juga sudah bertransformasi menjadi apa yang pernah dikatakan oleh sepupunya, Riko, bahwa orang yang jatuh cinta akan melakukan apa saja untuk sosok yang dicinta.
Meskipun Satoru masih belum tahu apakah Shoko juga memiliki perasaan yang sama dengannya, atau justru masih menganggapnya sebagai teman seperti yang ia pinta setahun yang lalu.
“Shoko, seandainya di masa depan lo datang ke sini lagi. Kira-kira lo bakal pergi sama siapa?”
“Hah? Tiba-tiba banget ngomongin masa depan.”
Satoru pun tertawa. “Iya, juga, ya. Random banget gue. Cuma, serius deh … ada bayangan gak lo?”
“Enggak. Gue gak kebayang apa-apa. Justru kalau ke sini lagi, gue bakal ingat sama lo, tahu! Karena lo yang pertama kali ngajak gue ke sini.”
“Sumpah?”
“Iya. Bahkan kalau bukan karena lo, liburan musim panas gue kayaknya bakal monoton. Bangun tidur, makan, mandi, ke konbini, yah paling gitu-gitu aja. Atau sisanya makan di luar sama Kak Utahime dan Kak Mei Mei.”
Seketika Shoko melangkah menjauhi Satoru, sementara sang lelaki masih berdiri di tempatnya sambil memegang kamera. Namun, langkah demi langkah yang Shoko lakukan membuat Satoru memosisikan kameranya dalam keadaan siap memotret. Telunjuknya pun otomatis menekan tombol shutter tatkala mendapatkan hal yang sempurna untuk dipotret.
Kemudian Shoko membalik badannya dan berteriak, “Satoru, makasih udah mau jadi teman gue. Makasih udah selalu baik sama gue. Makasih udah selalu peduli sama gue. Dan, makasih udah jadi bagian dari kenangan berharga masa remaja gue.”
Satoru terpaku di tempatnya. Kameranya pun kini tergantung saja di lehernya tanpa dipegang oleh tangan.
Lantas Satoru balas berteriak, “Arrrgh, Shoko!!!”
Shoko pun tertawa sebab tak tahu harus bagaimana lagi. Entahlah, Shoko juga bingung. Apa yang sedang merasukinya hingga ia berteriak semacam itu?
Usai mengais sisa kewarasannya, Satoru pun berlari menghampiri Shoko dan berkata, “Di bayangan gue, gue tuh mau ngelakuin segala sesuatu dengan proper. Apalagi kalau dipersembahkan untuk lo. Tapi, kayaknya gue udah gak sanggup lagi menahan diri. Gak tahu juga kapan tepatnya gue jadi semakin aneh kayak gini. Intinya, kalau gue mau lo terus ada di sisi gue, kira-kira apa bisa?”
Shoko tertawa dengan kerasnya karena entah kenapa ia kini seperti terjebak dalam adegan klise sebuah drama roman picisan. Ada perasaan geli dan aneh yang juga menggelayuti hatinya. Apakah ini yang namanya cinta? Apakah Shoko juga sudah merasakan jatuh cinta?
Logika dan perasaan Shoko seakan bertentangan. Tetapi, ia juga merasa sedikit tidak senang apabila menyakiti seseorang yang sudah selalu ada untuknya, meskipun selama ini hanya berstatus teman aneh.
“Gue gak bisa ada di sisi lo kalau kita terpisah oleh maut gak, sih? Atau barangkali lo ketemu jodoh lo yang sebenarnya,” jawab Shoko mencoba realistis.
“Kalau gue maunya berjodoh sama lo?”
“Jangan gombalin gue, ih. Tega lo sama anak perawan!”
Namun, tanpa Satoru duga, Shoko tiba-tiba mendekatinya dan berbisik, “Intinya lo mau pacaran sama gue, ‘kan? Ya, udah. Coba dulu aja.”
Secara otomatis wajah Satoru berubah menjadi merah. Perasaan malu, bingung, senang, semua bercampur menjadi satu.
Padahal bukan seperti ini kejadian yang selama ini ia bayangkan. Tingkah Shoko ternyata memang benar-benar di luar nalar. Aneh, unik, apa pun itu sebutannya, pokoknya hanya Shoko seorang yang mampu membuatnya merasa seperti ini.
Ya Tuhan … seperti inikah jatuh cinta?
Fin.
