Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of Nowhere Fast : Twitter AU
Stats:
Published:
2023-11-08
Words:
2,105
Chapters:
1/1
Comments:
5
Kudos:
170
Bookmarks:
5
Hits:
6,840

Nowhere Fast : Wonwoo’s Agony

Summary:

Wonwoo lembur di hari senin dengan Mingyu.

Notes:

Bagian dari twitter au : Nowhere Fast

Work Text:

Wonwoo murka.

Sangat bisa dimengerti. Sewajarnya hari yang paling tidak dinantikan dalam satu minggu, selalu saja ada alasan baru untuk membenci hari senin.

Pekerjaan selalu terasa lebih sulit untuk diselesaikan di awal minggu, dan entah kenapa selalu lebih banyak.

Tidak. Wonwoo tahu kenapa pekerjaannya terasa lebih banyak. Ini semua terjadi, terima kasih kepada dirinya di hari jumat kemarin.

Memandangi layar komputer yang menyala terang dan bekerja dengan luar biasa sempurna—andai saja komputernya sedikit ngadat—Wonwoo mengutuk versi dia di hari jumat yang memutuskan bahwa dia sudah cukup bekerja keras sepanjang minggu dan dia sudah sangat selesai dengan minggu itu lantas meninggalkan setumpuk pekerjaan yang belum selesai untuk diurus Wonwoo masa depan. Atau dikenal juga dengan Wonwoo hari ini.

Wonwoo tahu pasti, jika hari jumat kemarin diulang pun, dia masih akan tetap memilih jalan hidup yang sama, yakni reckless dan tidak bertanggung jawab. Karena dia adalah Wonwoo 30 tahun dengan profesi yang sama sekali tidak ingin dia jalani lagi dan bos yang dia benci setengah mati.

Dalam kepala Wonwoo terputar rekam bayangan, sebuah rute alternatif untuk hidupnya. Andai waktu bisa diputar dan Wonwoo terpaksa harus menjalani satu hari ekstra dimana dia berkutat dengan dokumen di atas meja, buku-buku manual dari projek terdahulu, kontrak dan seribu email yang belum dibaca, Wonwoo akan melakukan hal yang sama dengan yang dia lakukan sebelumnya.

Wonwoo akan datang di pagi hari, hanya satu menit lebih awal dari jadwal kerja korporatnya, melakukan perjalanan panjang dan super santai dari meja kerjanya ke mesin foto copy—dia tidak ada kegiatan apa-apa di sana, hanya membunuh sedikit waktu—lalu ke toilet, duduk selama 15 menitmengumpulkan keping-keping kewarasan dalam kepalanya yang berserak tidak teratur, mengelemnya menjadi satu dan berharap rekatannya akan bertahan hingga pukul lima sore. Setelah bersemedi singkat dan persiapan mental yang kurang matang, Wonwoo akan keluar dari bilik, mencuci tangannya dengan sangat perlahan. Wonwoo setia mengikuti aturan kampanye mencuci tangan. Durasi terbaik untuk mencuci tangan dengan sabun adalah 60 detik, di mana ini sama dengan dua kali lagu happy birthday. Setiap pagi Wonwoo menyanyikan lagu happy birthday dalam kepala dengan tempo lambat dan diulang sebanyak empat kali—dua kali dari anjuran ahli kesehatan untuk memastikan tangannya betul sudah bersih. Setelah ritual mencuci tangan yang makan waktu, Wonwoo kemudian akan pergi ke pantry, menyeduh kopi instan yang sangat krusial untuk memulai hari. Rangkaian kegiatan ini biasanya memakan waktu sekitar tiga sampai empat puluh menit. Setelah itu semua, barulah hari Wonwoo dimulai.

Akhirnya duduk di depan komputernya, hal pertama yang akan dilakukan Wonwoo adalah membuka email, mengecek satu per satu pesan masuk, melewatkan setiap pesan dari Kim Mingyu dengan sengaja—dia akan membaca semuanya nanti, paling akhir, sungguh—membaca sekilas pesan-pesan redundant dan menandai semua sudah dibaca, dan membalas pesan yang membutuhkan tanggapan khusus dari dirinya.

Selesai dengan membalas email, Wonwoo kemudian bekerja dengan malas-malasan karena lazimnya tanpa terasa dia sudah menghabiskan sangat banyak waktu menyusun kalimat sesopan, seprofesional mungkin, menghapus-menulis ulang beberapa umpatan dalam kalimatnya, lalu mengirim semua omong kosong itu, dan tiba-tiba saja tiga puluh menit lagi sudah memasuki jam makan siang.

Wonwoo baru betul-betul bisa meletakkan tangan di atas keyboard, mata di depan layar komputer, tumpukan dokumen dan referensi di atas meja untuk menyelesaikan proposal yang diminta Mingyu dia selesaikan sekitar pukul tiga sore, hanya dua jam sebelum pulang dan jiwanya sudah tidak ada bersama tubuhnya di kursi itu sama sekali.

Instead, pikiran Wonwoo sudah ada di akhir pekan. Jumat malam sepulang kerja dia mau makan daging bakar dan minum dengan tiga sahabatnya dalam rangka menghibur Woozi yang baru putus dengan pacarnya. Setiap satu kali dalam beberapa bulan, Woozi putus dengan Seungcheol dan sahabatnya itu bersumpah bahwa ‘kali ini’ tidak ada lagi harapan untuk mereka kembali. Seperti minum obat cacing, hal ini terjadwal dalam beberapa bulan sekali. Dan Woozi pada akhirnya selalu rujuk dengan Choi Seungcheol dengan berbagai macam alasan. Meski dengan akhir yang sudah tertebak, tetap saja Wonwoo dan yang lain akan meluangkan waktu berkumpul untuk menghibur Woozi setiap kali.

Anyway, sabtu rencana Wonwoo adalah menonton dengan Jun, hari minggu untuk istirahat dan bersih-bersih rumah—oh iya dia harus menghubungi tukang AC untuk memperbaiki AC nya sudah tidak dingin beberapa hari ini—banyak yang harus dikerjakan di akhir pekan.

Wonwoo pulang sangat tepat waktu di hari jumat kemarin dan dia akan melakukannya lagi jika harus diulang. Meski proposal proyek belum tidak selesai, mass balance belum dihitung, performance guarantee belum dibuat sama sekali. Lagipula sebetulnya itu semua bukan pekerjaan yang sulit. Tinggal menyalin dari proyek-proyek sebelumnya untuk klien lain, pada dasarnya semua proyek yang mereka kerjakan sama saja. Hanya perlu mengubah angka-angka sesuai kapasitas proyek baru dan permintaan khusus klien.

Meski semua pekerjaan itu tidak dia selesaikan di hari jumat, dia akan memburu semuanya di hari senin, sehari sebelum deadline. Semua akan selesai dengan baik. Benar kan?

Tentu saja tidak benar dan Wonwoo di hari senin yang harus menanggung konsekuensi kemalasannya sendiri hari kemarin. Mau tidak mau, suka tidak suka, rela tidak rela, dia harus overtime untuk menyelesaikan semua pekerjaan yang dengan sangat sadar tidak dia kerjakan kemarin karena malas.

Sekali lagi, tetap saja jika diulangi, Wonwoo akan melakukan hal yang sama. Tidak ada penyesalan.

"Tolong cek ulang hitungan utility di file C79-X1. Kurasa ada yang salah. Konsumsi steam terlalu sedikit dibandingkan proyek lain yang kapasitasnya lebih rendah."

Tanpa mengalihkan perhatian ke sosok tinggi yang berdiri di sisi mejanya, Wonwoo malah melirik ke sudut kanan komputernya. Sudah pukul 20:45. Jika jam komputernya tidak salah. Wonwoo tahu pasti jam itu tidak pernah salah.

Satu hal tentang Kim Mingyu.

Dia tidak pernah melewatkan detail kecil. Dan dia tidak menoleransi kesalahan sedikit pun. Okay, that makes two thing. Tapi intinya, dia adalah semacam hukuman untuk seluruh eksistensi Wonwoo. Wonwoo terbiasa bekerja santai sesuai laju yang dia inginkan. Bekerja dengan lambat namun penuh kehati-hatian, sehingga dia punya cukup waktu untuk memperhatikan setiap kesalahan dalam hitungan maupun ejaan. Atasan Wonwoo yang lama memberi dia ruang untuk itu.

Berbeda dengan Kim Mingyu. Mingyu bekerja dengan efisien. Semua dilakukan dengan cepat, dia tahu dimana bisa menemukan kesalahan dalam setiap laporan yang Wonwoo kirim, dia tahu rumus yang lebih cepat untuk semua excel sheet yang Wonwoo buat, tahu desain yang lebih sesuai dibanding buatan Wonwoo. Semua yang dia kerjakan sempurna tanpa cela. Sementara semua pekerjaan Wonwoo perlu revisi, rombak total, ubah desain, ganti rumus, salah perhitungan, dan Wonwoo benci dengan Kim Mingyu karena itu.

Sejak hari pertama dia di sini menggantikan manajer lama Wonwoo, sejak itulah Wonwoo tidak tidur tenang sepulang bekerja dan kehilangan semangat untuk memulai hari di pagi hari. Wonwoo mendapati dirinya lebih depresi di ketika alarmnya berbunyi di pagi hari sejak kehadiran Kim Mingyu.

"Kurasa rumus yang dimasukkan salah."

Wonwoo terkejut ketika Mingyu bicara lagi. Dia kira orang itu sudah pergi dari tadi.

"Dimana?"

"Seharusnya dibagi dengan cell D5, di rumus bapak itu dibagi dengan C5."

Wonwoo memicingkan mata untuk mengikut perkataan Mingyu. Memandangi tulisan-tulisan yang mulai sedikit buram karena matanya sudah sangat lelah. Tidak sulit menemukan kesalahan yang ditunjuk. Sesuai komentar Mingyu, Wonwoo memasukkan cell yang salah dalam rumusnya. Perbedaan satu huruf bisa mengacaukan satu projek. Wonwoo segera mengoreksinya.

"Saya rasa semua sudah benar sekarang. Tolong masukkan angka baru ini ke dalam file tadi. Lalu kirim ke saya."

Wonwoo tidak langsung bergerak melakukan perintah Mingyu. Dia diam sejenak, sebelum membukan mulutnya untuk berkata. "Sebentar ya Pak, saya ke toilet dulu."

Tidak menunggu balasan, Wonwoo langsung berdiri dari kursinya.

Di toilet, Wonwoo merenung tentang bagaimana dia benci Mingyu. Dengan wajah seperti itu, Mingyu tidak mungkin jauh lebih tua dari Wonwoo. Mungkin dua atau tiga tahun maksimal di atas Wonwoo. Tapi dia terlihat sangat jauh dalam hidup ini dibanding Wonwoo. Pencapaian karirnya, pengalamannya, kapabilitasnya. Siapa yang memperbolehkan orang itu dengan tubuh tinggi seperti model, baju yang rapi setiap hari, datang ke kantor ini mengenakan high end branded fashion, dengan segala ide cemerlang, efektivitas dan kesempurnaannya dalam bekerja.

Sementara Wonwoo datang dengan kemeja yang dia beli dengan diskon beli dua gratis satu, minum kopi sachet murah, dan membuat kesalahan bodoh seperti memasukkan  cell yang salah di rumus excel sederhana.

Wonwoo benci karena dia bekerja dari pagi hingga malam untuk menyelesaikan proyek bodoh ini. Wonwoo benci karena dia tidak mengerjakan setidaknya setengah dari pekerjaanya minggu lalu agar dia tidak perlu lembur dengan Mingyu hari ini. Wonwoo benci karena dia sangat lelah sehingga dia melakukan kesalahan bodoh tidak hanya sekali, dua kali, tapi berkali-kali semenjak Mingyu menjadi atasan barunya. Dan di atas semua itu, Wonwoo benci karena Mingyu dengan sangat mudah menunjuk kesalahannya hanya dalam satu pandangan, every single time.

Bodoh.

Wonwoo merasa dirinya konyol. Breakdown hanya karena Mingyu mengoreksi satu kesalahan kecilnya. Bagaimana bisa kepercayaan diri Wonwoo yang dari awal memnag tidak tinggi-tinggi amat, hari-hari ini merosot sampai menyentuh tanah semenjak ada Kim Mingyu.

Mingyu membuat Wonwoo merasa begitu kerdil.

Wonwoo menghela napas panjang, mencoba membuang seluruh beban hari itu ke atas wastafel toilet mereka.

Get it together, Jeon Wonwoo. Bahkan hari ini juga, akan berakhir.

Setelah merasa cukup menenangkan diri dengan sedikit basuhan air di wajah, Wonwoo mengumpulkan sisa tenaga yang dia punya.

Hanya sedikit lagi. Ganti angka di file, kirim ke Mingyu, tunggu dia review, lalu pulang.

 


Saat Wonwoo berjalan keluar dari toilet, hal pertama yang menangkap perhatiannya adalah ruangan Mingyu yang gelap gulita. Artinya orang itu sudah selesai dengan pekerjaannya dan pulang. Wonwoo kira Mingyu masih ingin mereview file yang mereka kerjakan?

Wonwoo melihat jam di tangannya. Sudah lewat pukul sembilan. Setelah menahan Wonwoo sampai malam di kantor, sekarang orang itu malah pulang lebih dulu tanpa peduli dengannya. Semua orang lain pun sudah meninggalkan kantor sejak tiga jam lalu. Hanya ada Wonwoo sendiri. Menyebalkan sekali. Wonwoo bahkan sudah tidak punya tenaga untuk merasa kesal.

Sudahlah. Semoga dia masih sempat mengejar bus terakhir.

Wonwoo berjalan gontai menuju mejanya. Tapi saat tiba dia depan meja, Wonwoo mendapati komputer dalam keadaan mati. Berkas-berkas yang tadinya berserakan sudah menghilang. Hanya ponsel Wonwoo yang masih tergeletak sebagaimana Wonwoo meninggalkannya tadi.

Wonwoo meraih ponselnya, ada beberapa notifikasi dari grup chat dan pesan pribadi dari Jun.

"Sudah siap untuk pulang, Pak?"

Suara Mingyu begitu tiba-tiba, mengisi ruangan dan mengejutkan Wonwoo. Nyaris saja Wonwoo melempar ponsel dari tangannya. Wonwoo berani sumpah dia sama sekali tidak mendengar langkah kaki Mingyu mendekat. Apa-apan dia ini? Semacam ninja?

Tangan diletak di depan dada, Wonwoo berbalik menghadap Mingyu. "Astaga Pak. Saya kira sudah pulang tadi. Hampir copot jantung saya, bapak tiba-tiba muncul gitu."

Mingyu tertawa. Tidak terlihat lelah meski sudah menghabiskan waktu 12 jam di kantor yang penat ini. Pada akhirnya mungkin kepenatan itu hanya terasa bagi Wonwoo.

"Saya barusan mengembalikan folder-folder yang bapak pinjam ke ruang dokumen. Biar bantu bapak sedikit."

"Oh gitu. Thanks Pak."

"File yang tadi juga sudah saya review dan saya kirim sendiri ke email saya. Besok tinggal final check lalu kirim ke klien."

Wonwoo hanya mengangguk. Bersyukur. Artinya hari ini sudah betul-betul selesai.

"Kalau bapak sudah selesai beres-beres barang, kita pulang."

"Siap Pak."

"Bapak bawa mobil?"

"Saya naik bus Pak."

"Jam segini masih ada bus?"

"Kayaknya sih masih ada bus terakhir Pak. Asalkan saya larinya agak kenceng ke halte."

"Lari?"

"Yap."

Dipikir-pikir enak juga kalau Wonwoo punya kendaraan sendiri dan tidak bergantung dengan transportasi umum. Di saat terpaksa pulang larut seperti ini, dia tidak perlu khawatir ketinggalan bus atau semacamnya. Terkadang dia terpaksa harus naik taksi. Tapi ongkos taksi jauh lebih mahal, dompet Wonwoo bisa menangis

"Rumah bapak dimana?" Mingyu bertanya lagi saat mereka berjalan keluar gedung.

Saat Wonwoo memberitahu alamatnya, Mingyu diam sejenak. Nampak berpikir sebelum bertanya lagi, "Bus terakhir jam berapa?"

"Sepertinya sih jam 9.30"

"Kita pulangnya arah berlawanan, tapi kalau memang masih sempat, saya antar bapak ke halte saja. Kalau bus  terakhir sudah berangkat, gak apa saya antar Bapak sampai rumah."

"Waduh, gausah Pak. Ngerepotin"

"Tidak masalah. Lagian bapak jadi pulang malam karena saya suruh lembur. At least, ini bentuk tanggung jawab saya kepada bawahan."

Dia tidak perlu melakukan itu, Wonwoo berbisik dalam hati.

 


Wonwoo benci dengan Kim Mingyu atasannya. Dia tinggi, dia tampan, dia pintar, dia sukses di usia muda. Dia terlalu sempurna sehingga Wonwoo benci.

Malam ini Wonwoo dapat satu alasan tambahan untuk benci dengannya.

Di balik sifat perfeksionis dan kakunya, dia selalu berusaha memperhatikan kesejahteraan Wonwoo dan tim member lainnya. Seperti pagi ini sewaktu dia memaksa Wonwoo untuk ke klinik bertemu dokter padahal Wonwoo hanya sedang mencari alasan untuk tidak langsung bekerja. Lalu sekarang dia berusaha bertanggung jawab memastikan Wonwoo bisa pulang ke rumah dengan selamat.

Rasanya akan lebih baik jika dia lebih angkuh dan memiliki God complex.

Tapi tidak. Dengan segala kesempurnaannya, Mingyu juga sangat manusiawi dan perhatian seperti ini.

Wonwoo benci itu. Dengan Mingyu yang tidak memberi celah untuk Wonwoo mengeluh bahwa dia jahat.

Dunia sangat tidak adil. Wonwoo sering berpikir. Kim Mingyu adalah salah satu bukti ketidakadilan dunia itu bagi Wonwoo.

Series this work belongs to: