Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 2 of Nowhere Fast : Twitter AU
Stats:
Published:
2023-11-11
Words:
2,068
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
126
Bookmarks:
2
Hits:
4,883

closets of backlogged dreams

Notes:

A glimpse of Wonwoo’s personal life. The things that makes Wonwoo, Wonwoo
Please read the tags for this piece

This is part of twitter au Nowhere Fast

Work Text:

Mengatakan bahwa Wonwoo merasa hidup ini sangat lelah cukup bisa dimengerti.

Wonwoo sama sekali bukan anak yang sulit sewaktu dia masih kecil. Ini adalah salah satu ingatan Wonwoo paling awal. Dia tidak menuntut dibelikan pakaian atau mainan baru. Jadi orang tuanya pun tidak membeli untuknya sering kali. Apapun yang sudah tidak muat di Jeonghan akan dilangsir kepadanya atau mainan yang sudah bosan dimainkan oleh kakaknya itu, akan turun kepada Wonwoo.

Wonwoo tidak mengeluh. Atau mungkin dia hanya belum cukup besar untuk tahu cara protes menuntut keadilan.

Wonwoo kecil mengerti bahwa dia yang seperti itu menyenangkan hati orang tuanya. Mereka senang ketika Wonwoo duduk tenang. Tidak bicara. Tidak menunjukkan ketertarikan terhadap apapun.

Sementara Jeonghan rewel minta dibelikan mobil yang bisa berjalan dengan dinamo, Wonwoo diam dalam dekapanayah tanpa kata. Alih-alih meniru tantrum Jeonghan untuk mendapatkan kemauannya, Wonwoo berdiri satu langkah di belakang sembari memperhatikan raut wajah gusar Ibu dan geram dalam garis muka ayah. Wonwoo masih terlalu muda untuk mengerti, tetapi dia selalu mendapat pujian untuk ini.

"Untung saja Wonu tidak pernah bertingkah macam-macam," kata Ibu.

"Aku senang Wonwoo tidak rewel seperti Jeonghan," komentar ayah.

"Wonwoo anak yang baik dan lebih pengertian. Kuharap dia tidak akan pernah meniru sifat kakaknya. Cukup ada satu Jeonghan saja di rumah."

Kalimat-kalimat sepele yang tidak menyakiti siapa-siapa. Namun mengajari Wonwoo kecil bahwa diam, tidak mengutarakan keinginan apapun, memenangkan hati ayah dan ibu. Elusan di pucuk kepala serta kalimat 'anak pintar' menjadi hadiah untuk kenihilan suara dari dirinya di toko mainan. Kecupan di kening diberikan karena tidak meminta kostum super hero yang sangat mahal di saat Jeonghan merengek memaksa dibelikan satu set kostum batmanlengkap dengan topeng dan jubah.

Jeonghan selalu mendapat yang dia mau. Sementara Wonwoo belajar bahwa diamnya sangat diapresiasi.

Jadi Wonwoo diam.

Karena dia tahu itu menyenangkan hati ayah dan ibu. Karena dengan begitu, dia akan disebut anak pintar dan pengertian.

 

Wonwoo diam. Selama bertahun-tahun. Bahkan di saat sudah tidak ada hati ayah dan ibu yang perlu dia menangkan.

"Tidak ada yang membuatku lebih bersyukur dibanding mengetahui Wonwoo kami tidak rewel seperti kakaknya."

"Oh betapa lega rasanya setiap mendengar Wonwoo bilang dia tidak menginginkan apa-apa setiap kali kami bawa dia kemana-mana. Dia anak yamg sangat baik."

"Wonwoo sangat dewasa untuk usianya."

Senang rasanya mendengar nada lega dalam kalimat ibu dan pandangan lembut tertuju pada Wonwoo sembari mengutarakan kalimat serupa setiap kali.

Tanpa menyadari bahwa anak kecil seharusnya bersikap seperti anak kecil. Tidak perlu menjadi lebih dewasa dari usianya. Wajarnya orang tua yang harus mengerti akan anaknya yang tengah bertumbuh, bukan sebaliknya. Hal ini yang tidak dipahami baik ibu, ayah, maupun Wonwoo sendiri.

Wonwoo dan Jeonghan lahir dari persatuan dna dua orang yang sama. Namun memiliki orang tua yang sama bukan berarti mereka pun menjadi ‘orang tua’ yang sama untuk tiap anak. Mengesampingkan gen yang mereka bagi, latar belakang Jeonghan dan Wonwoo terlalu bertolak belakang. Hal ini yang kemudian menjadi akar dari perbedaan karakter dua bersaudara Jeonghan dan Wonwoo menuju kedewasaan.

Jeonghan tumbuh menjadi seseorang yang vokal akan apa yang dia suka dan tidak suka, apa yang bisa dia toleransi dan tidak, apa yang dia butuhkan untuk kepuasan pribadinya, dan mau jadi apa dia kemudian hari. Wonwoo di sisi lain menjadi si people pleaser yang selalu berusaha memenuhi ekspektasi dunia dan isinya.

Lalu ketika tiba masanya, sementara Jeonghan terus melangkah maju tanpa sekalipun menoleh ke belakang, Wonwoo terombang-ambing pusaran kekacauan yang mereka sebut 'keluarga'.

Jeonghan dan sifat keras kepala yang selalu fokus pada diri sendiri dan kebutuhannya mendapat privilege untuk memotong jembatan yang menghubungkan mereka. Wonwoo terlalu baik untuk itu. Sehingga dia terjebak dengan ibu yang tidak pernah menanyakan kabar, seorang ayah tiri yang kasar, dan dua adik yang entah bagaimana berakhir menjadi tanggunng jawab Wonwoo.

Ah, ketika mengingat kembali. Perbedaan karakter mereka terlihat paling mencolok dalam bagaimana mereka bereaksi akan perceraian orang tua mereka.

Saat itu Jeonghan delapan tahun, Wonwoo enam. Mungkin usia juga menjadi variabel yang berpengaruh. Jeonghan hidup dua tahun lebih lama dari Wonwoo. Dia tahu sedikit lebih banyak akan dunia ini.

Ada probabilitas bahwa di usia delapan tahunnya, Jeonghan sudah mengerti apa itu perceraian dan konsekuensi untuk mereka. Wonwoo tidak tahu bahwa ketika ayah mengepak barang di koper dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil artinya pria itu secara permanen keluar dari pigura keluarga. Saat itu Wonwoo bahkan tidak paham betul beratnya makna kata selamanya.

Yang Wonwoo tahu, sekali itu ayah masuk ke dalam mobil. Jeonghan memaksa ingin dibawa, menendang, menangis, melempar tantrum sepeti biasa. Sekali seumur hidupnya, Jeonghan didn't get his way. Untuk Wonwoo, itu hanya hari selasa biasa.

Lalu mobil ayah melaju meninggalkan pekarangan rumah. Meninggalkan Jeonghan yang marah, Wonwoo yang diam tidak mengerti apa-apa, dan ibu yang terlalu depresi untuk memeluk dua anak laki-lakinya bahkan sekedar untuk berkata "Semua akan baik-baik saja. Ada ibu di sini."

Jika ada satu hal yang sama antara Jeonghan dan Wonwoo, itu adalah pada akhirnya mereka tumbuh besar. Menyembuhkan luka batin anak kecil dalam diri masing-masing dengan cara sendiri dan akhirnya dewasa oleh rasa benci terhadap ayah dan tanpa cinta untuk ibu. Mereka hanya sama dalam sentimen terhadap kedua orang tua mereka.

Oh, satu lagi.

Seokmin.

Anak ayah mereka dari perempuan lain itu. Mereka membencinya dengan segenap jiwa dan raga. Mengutuk darah yang sama yang mengalir dalam tubuh mereka.

.
.

Selama tiga puluh tahun hidupnya, Wonwoo tidak pernah bisa memutuskan siapa yang paling ingin dia minta pertanggungjawaban untuk keadaan dimana dia terjebak kini.

Ayah dan ibu yang terlalu sibuk mecurahkan seluruh perhatian pada anak pertama mereka dan lupa akan Wonwoo karena dia 'lebih pengertian'?

Kakak yang tidak mau mengemban tanggung jawab sebagai anak paling tua di rumah dan hanya memikirkan diri dan ambisi hidupnya seorang?

Ayah yang menghancurkan keluarga mereka?

Wanita simpanan ayah yang kini menjadi istrinya?

Seokmin yang lahir tanpa pengetahuan bahwa dia lahir dalam rahasia dan disembunyikan selayaknya aib memalukan hingga usia lima tahun. Dan ketika akhirnya eksistensinya diketahui dunia, pada saat yang sama kehidupan yang seharusnya dimiliki Jeonghan dan Wonwoo direnggut untuk dirinya seorang?

Ibu yang menikah lagi dengan seorang pria tidak berguna yang menghukum Wonwoo dengan tali pinggang untuk setiap cara bernafas yang salah? Wonwoo tidak akan pernah lupa bagaimana masa kecil hingga remaja baginya bakneraka naik ke dunia tengah dan berada tepat di koordinat rumah ibu.

Atau haruskah dia menyalahkan dua adik tirinya yang tidak bisa Wonwoo abaikan? Oh betapa hidup akan jauh lebih mudah jika Wonwoo bisa berhenti khawatir akan dua anak ini dan melanjutkan hidup hanya untuk diri sendiri.

Maka semua akan mudah.

Wonwoo tidak perlu bertahan dengan pekerjaan yang dia benci. Bersama atasan yang jelas punya isu pribadi dengannya dan selalu menemukan cara baru untuk menindas Wonwoo agar dia tidak kerasan.

Oh betapa menyenangkan jika dia bisa move on dengan kehidupannya sendiri tanpa melihat ke belakang sama seperti Jeonghan.

Hidup akan terasa lebih ringan untuk dijalani andai dia ada di posisi Seokmin yang hidupnya terjamin, terima kasih pada ayah yang memberikan hidup layak dan kasih sayang yang gagal dia sediakan untuk anak-anak yang dia tinggal di masa lalu. Wonwoo dengar Seokmin sudah menyelesaikan kuliah S2. Wonwoo juga ingin sekolah lagi. Tapi dia tidak ada papa yang akan membiayai pendidikannya tanpa syarat.

Wonwoo berharap dia dibesarkan dengan cara yang berbeda. Deangan cara Jeonghan dibesarkan. Sehingga dia bisa menjadi lebih tegas memberi tahu seluruh dunia bahwa dia tidak suka dengan cara dia diperlakukan. Bahwa dia muak menjadi samsak tinju kehidupan. Bahwa dia tidak ingin masa depan dan hidup adik-adiknya harus selalu tergantung dengan gajinya.

 

Padahal Wonwoo pun punya cita-cita. Selayaknya Jeonghan dan Seokmin. Bekerja di kantor pukul 8 hingga 5 untuk bayaran yang tidak seberapa bukan bagaimana dia mencita-citakan masa depannya. Ada mimpi yang tidak bisa dia wujudkan hanya karena dia tidak boleh terlalu muluk dalam menjalani hidup. Dia harus kuliah dengan jurusan yang probabilitasnya paling tinggi untuk menjual Wonwoo di bursa pekerjaan. Begitu lulus, dia harus segera bekerja. Setelah masuk dalam dunia pekerjaan, dia tidak boleh keluar. Meski dagingnya terkoyak dan ototnya bergejolak saking lelah, dia tetap tidak bisa escape. Sekalipun dia sudah berdiri persis di depan pintu keluar labirin itu sendiri.

 

Tidak bisa melarikan diri.

Wonwoo hanya—

—lelah.

Capek.

Ingin menyerah.

Tidak boleh menyerah.

Kerja kerasnya saat ini bukan untuk dirinya seorang.

Ada Dino yang sedang di tahun terakhir kuliah. Dan Somi yang tahun depan juga akan mulai kuliah.

Wonwoo tidak boleh menyerah sekarang. Jika menyerah, siapa yang akan membantu dua adiknya? Ayah Dino dan ibu terlalu tidak berguna untuk itu.
.

.

.

Berbagai macam emosi memenuhi diri Wonwoo sejak pagi. Marah, panik, anxiety, semua menyerang dalam waktuyang terlalu padat tanpa jeda. Wonwoo tidak punya kesempatan untuk memproses satu per satu. Membuatnyademikian kewalahan sehingga dia harus mengambil waktu untuk menangis di bilik toilet.

Rasanya...

...ingin mati.

Tapi kalau dipikir lagi. Menyerah tidak pernah jadi opsi. Kematian sendiri adalah kemewahan yang tidak bisa Wonwoo dapat. Jika dia mati, bagaimana dengan Dino dan Somi?

Karena itu satu-satunya yang boleh Wonwoo lakukan hanya menangis di antara jam kerja dan kesibukannya. Sisanya, dia harus menepuk punggung sendiri untuk semangat.

Bagian terlucu dari semua ini adalah, bahkan untuk bersedih atau meratapi nasib, ada batas waktu untuk Wonwoo.

Tidak lebih dari 30 menit. Setelah tiga puluh menit, alarm akan berbumyi yang menandakan self pity time sudah berakhir. Sekarang waktunya bekerja.

Wonwoo mengeluarkan ponsel dari dalam saku tepat di saat alarm yang dia setel menyala.

Merobek tisu di sisi wc yang dia duduki untuk menghapus jejak air mata. Menarik nafas dalam berkali-kali untuk memaksa menenangkan diri. Meski masih banyak alasan untuk terus menangis, tapi itu juga adalah kemewahan lain yang tidak bisa Wonwoo miliki. Sepertiga dari waktunya adalah adalah milik perusahaan, kebetulan termasuk saat ini. He must get his shit together and start working. Karena perusahaan membayarnya untuk bekerja, bukan menangis di toilet berjam-jam.

Seseorang di bilik sebelah baru selesai dengan urusannya. Wonwoo tahu karena bunyi flush toilet baru terdengar.

Tidak ingin bertemu dengan siapapun dalam kondisinya yang menyedihkan, Wonwoo menunggu dua menit sebelum keluar dari biliknya sendiri. Hingga orang lain yang bersamanya di sini tadi sudah betul-betul meninggalkannya sendiri.

Ketika tidak terdengar lagi suara air mengalir maupun gerakan manusia lain, barulah Wonwoo membuka pintu bilik yang dia tempati setengah jam terakhir. Kakinya sedikit keram akibat duduk terlalu lama. Wonwoo berdiri susah payah. Dia harus membasuh muka sebelum kembali ke meja kerjanya.

Terdengar seperti misi yang mudah untuk diselesaikan.

Yang sulit adalah menebak cara apa lagi yang ingin digunakan seluruh dunia ini untuk bercanda dengan hidup Wonwoo hanya karena mereka rasa itu lucu.

Karena, kenapa begitu Wonwoo membuka pintu, hal pertama yang dia lihat adalah wajah atasannya yang menyandarkan bokongnya begitu santai di wastafel. Tangan terlipat di depan dada, wajah tertekuk tidak senang.

Oh man. You gotta be kidding me.

Wonwoo membeku dalam gerakannya.

Mingyu sendiri tidak berkata apa-apa.

Hanya atmosfer canggung melayang-layang pada jarak setengah meter yang memisahkan tempat keduanya berpijak.

Pikiran Wonwoo yang acak kadut sejak pagi semakin berantakan, Seperti benang yang sengaja diurai laludigumpalkan sembarangan. Berantakan.

Sejak kapan Mingyu berdiri di sana? Apa dia tahu Wonwoo menghabiskan banyak waktu mengular di toilet? Apa dia dengar tangisan Wonwoo? Apa yang dia pikirkan? Apa dia rasa Wonwoo adalah manusia paling tidak disiplin dan tidak profesional yang dia kenal? Apa dia semakin yakin bahwa Wonwoo tidak berguna dan harus disingkarkan dari timnya? Tidak sulit baginya menyingkirkan Wonwoo kan? Seperti bagaimana dia mendepak Wonwoo dari proyek yang sedang mereka kerjakan. Mungkin Mingyu akan bicara demgan HR, meminta Wonwoo dipindahkan ke departemen lain. Sebetulnya tidak masalah untuk Wonwoo. Selama dia tidak dipecat. Itu akan lebih mudah untuknya.

Apapun itu yang sedang dipikirkan Mingyu, Wonwoo tidak mendapat jawabannya.

Karena Mingyu menghela nafas. Sangat panjang. Dia tidak bicara apa-apa. Hanya merogoh saku belakang celananya. Lalu mengeluarkan selembar sapu tangan dari sana yang kemudian dia sodorkan ke depan wajah Wonwoo.

"Kau kelihatan kacau sekali. Ambil ini. Basuh muka sebelum kembali ke meja."

Lalu dia pergi.

Dan pikiran Wonwoo semakin amburadul tidak dapat dijelaskan.

Satu hal lagi tentang Kim Mingyu yang Wonwoo sadari. Dia tidak pernah meninggalkan formalitas kesopanan ketika berbicara dnegan Wonwoo. Wonwoo tidak pernah dipanggil hanya dengan nama atau disebut kamu, apalagi seperti barusan. Mingyu selalu bersikap profesional dengan tidak sekalipun melupakan sebutan 'bapak' ketika berbicara dengan Wonwoo atau siapapun di lingkungan kerja—ibu kalau untuk perempuan.

Ini pertama kali Mingyu menyebutnya 'kau'.


Wonwoo tidak tahu bagaimana perasaannya akan itu.

Mungkin saking kecewa Mingyu dengannya. Atau mungkin orang itu sudah menyerah dengan Wonwoo. Cukup bisa dimengerti. Wonwoo banyak mengacau dua hari ini.

Terserah.

Wonwoo akan memikirkannya lagi nanti. Sekarang dia perlu membasuh muka dan mengeringkan sisa air mata yang masih memaksa ingin keluar.

Que sera, sera.  

Series this work belongs to: