Chapter Text
“Apa iya aku masih bisa pake ini ya?”
Pagi yang seharusnya berjalan dengan membuat sarapan sebelum pergi bekerja, berakhir dengan Sanji yang menatap pisaunya kebingungan. Awalnya ia ingin mengasah pisaunya seperti biasa. Tapi pisau tua di tangannya itu sudah mengecil dan tipis seiring berjalannya waktu. Sanji sayang dengan pisau pemberian ayahnya. Kuat dan kokoh, tak cepat tumpul meski ia sempat tidak merawat pisau itu dengan benar.
Berbeda dengan pisau-pisau supermarket yang ia beli untuk menggantikan pisau tua itu sesekali, Sanji selalu kembali ke pisau pemberian ayahnya. Itu membuatnya mengerutkan kening dalam-dalam. Menggigit bibir dalamnya dan mencoba mencari tahu lebih dalam dari mana almarhum ayahnya bisa mendapatkan pisau ini.
Sepuluh tahun yang lalu, Sanji mendapat pisau cantik itu dari ayahnya. Pisau favorit ayahnya itu punya ukiran yang cantik nan memesona. Tapi Sanji tidak pernah memperhatikan detailnya lebih dalam karena ia pikir, pisau ini bisa tergantikan.
Ternyata lebih sulit dari yang ia kira.
Matanya beralih mencari tulisan pada gagang kayu pisau tersebut. Sampai ia mengambil kacamata dari kamarnya dan mencari petunjuk yang akan membawa dia menuju asal pisau kokoh ini. Matanya terpaku oleh tulisan ‘Seki, Gifu’ pada pojok gagang pisau tersebut. Tulisannya juga nyaris hilang.
Entah keajaiban apa yang bisa membuat tulisan itu masih bertahan tanpa menghilang setelah terus tergesek tangan Sanji selama bertahun-tahun. Dengan komputernya, Sanji segera mencari tahu mengenai Seki, kota pengrajin pisau di Jepang. Senyumnya langsung terulas menarik pada wajahnya. Sanji tidak mau buang-buang waktu lebih lama lagi. Sekarang sudah waktunya untuk cuti juga, ia akan pergi ke Seki demi pisau barunya.
Sanji berhasil mendapatkan cuti dua minggunya. Ia terbang ke Seki dengan tujuan yang pasti. Berlibur dan mencari pisau. Sebagai seorang koki, Sanji juga memiliki ketertarikan menyayangi pisau-pisaunya. Karena bagaimana pun, partner kerjanya yang paling setia hanyalah pisaunya. Pisau seolah sudah menjadi bagian dari dirinya. Memiliki pisau yang berkualitas bagus itu menambah suasana hati bekerjanya. Pakai pisau apapun sebenarnya dia bisa. Tapi pisau dari ayahnya itu sudah menjadi belahan hatinya selama ini.
Kalau melepaskan begitu saja, sepertinya Sanji tidak bisa. Setidaknya, ia harus mencari pengganti yang sangat mirip. Setidaknya begitu.
Tapi sesampainya di sana, Sanji benar-benar bingung harus pergi ke mana.
Seki itu kota yang kecil, meski terletak di tengah Jepang. Tidak begitu ramai dan tidak begitu sepi. Kota klasik itu membawa udara nostalgia masuk ke dalam Sanji. Mengingat masa kecilnya yang tinggal di Jepang dulu. Meski masih bisa berbicara bahasa Jepang, memori Sanji tentang Jepang sangatlah kecil.
Ia juga tidak pernah kemana pun selain kota kelahirannya dulu. Semenjak pindah ke Prancis, Sanji juga tidak pernah pulang ke Jepang karena tidak ada siapapun yang menunggunya di sini. Sanji mengeluarkan rokok dari kantong jasnya dan menyalakan rokoknya seraya bersandar pada kursi tunggu stasiun. Sanji menghembuskan asap rokoknya dengan tenang. Memikirkan ke mana ia harus pergi untuk mencari pisaunya. Mungkin ia harus pergi ke museum pedang di sana. Atau mungkin ia harus bertanya dengan warga local yang menjadi pengrajin pisau juga.
“Salah banget datang ke sini tanpa cari tahu dulu,” gumam Sanji mengacak rambutnya. Ia merokok di stasiun sepi sore itu. Mengetukkan kakinya pada lantai keramik sebagai gestur gelisahnya. Sanji kembali duduk tegap dan mematikan rokoknya pada asbak yang ada di atas tempat sampah sebelum masuk kembali ke stasiun untuk bertanya pada petugas di sana.
Petugas di sana menyarankannya untuk pergi ke museum-museum di sana dan bertanya pada pengrajin mereka. Atau kalau dia masih tinggal sampai minggu depan, dia bisa mencari satu persatu dari 50 pengrajin yang mungkin akan hadir saat Festival Hamono di Seki. Mungkin itu akan melelahkan bagi Sanji.
Festival Hamono adalah festival alat makan yang rutin ada di Kota Seki. Budaya penting ini menyimbolkan budaya produksi pisau mereka. Untuk mencari pisau yang sama persis di sana pasti akan sulit, Sanji akan menurunkan ekspektasinya dan membeli pisau baru yang sama kokohnya.
Tapi minggu pertama ini akan Sanji habiskan dengan menelisik pengrajin pisau yang berhasil ia temukan.
Sayangnya, setelah beberapa jam mengelilingi dari satu museum ke museum lainnya, Sanji belum menemukan pisau yang sama dengan miliknya. Sebenarnya, Sanji sudah berkali-kali merasa tertarik dengan pisau buatan mereka. Tapi ia masih tidak enak hati untuk membeli sebelum menemukan pisau yang sama dengan miliknya.
Kini Sanji berada di dalam rumah makan kecil yang klasik dengan pelanggan tidak lebih dari tiga. Ia duduk dengan helaan lelah.
“Mau pesan apa, Tuan?”
Sanji yang sedang kelelahan itu terlepas dari lamunan membaca menu saat koki restoran itu berbicara kepadanya. Sanji tersenyum ramah, ingin berbicara. Tapi koki itu sudah berbicara lebih dulu, “Nasi Kare akan cocok untuk lelahmu.”
“Kalau begitu, Nasi Kare saja.” Sanji mengangguk setuju. Koki itu pun langsung mengerjakan nasi kare pesanannya.
Sebagai koki, Sanji juga tertarik untuk memperhatikan pekerjaan koki lain. Apa yang koki itu lakukan sama seperti resep umum kare yang Sanji pelajari dulu. Tapi yang membuatnya salah fokus adalah, pisau dari koki itu. Dia punya motif yang familiar. Warna gagang kayu yang sama.
“Kalau boleh tanya….”
Koki itu berhenti memotong bahan-bahan karenya dan menoleh pada Sanji. Sanji menyentuh dagunya dan mengernyit serius sebelum bertanya, “Pisau itu … anda dapat dari pengrajin di sini kah?”
“Iya!” seru koki itu senang.
“Dari mana?” tanya Sanji semangat. Kini kedua alisnya naik dengan senyum yang perlahan terulas.
“Shimotsuki.” Koki itu membersihkan pisaunya dengan kain sebelum menunjukkannya pada Sanji. Sanji berdiri dari kursinya untuk memperhatikan pisau itu lebih detail. Ukiran yang sama. Lekukan yang sama.
“Shimotsuki….” Sanji menggumam.
“Mereka punya pisau dan katana yang bagus-bagus. Walau nggak begitu terkenal di sekitar sini,” jelas koki itu. Sanji menatap koki itu dengan semangat. “Di mana tokonya?”
“Nggak jauh dari sini. Keluar dari toko ini ke kanan, lurus terus sampai ketemu perempatan ke-2, belok kanan, lurus terus nanti ada dojo besar, itu Shimotsuki,” jelas koki itu. Sanji mengangguk paham seraya mencatat itu pada notes kecilnya. “Terima kasih banyak.”
“Good luck ya, koki juga? Saya merasa dari tadi kamu memperhatikan cara saya memasak,” ujar koki itu. Sanji terkekeh malu dan mengusap tengkuknya. Merasa tidak enak karena melihat orang lain melakukan pekerjaan yang sama dengannya membuatnya tertarik untuk memperhatikan juga. “Maaf, saya selalu saja memperhatikan tanpa sadar.”
“Tidak apa. Saya merasa tidak masalah.” Koki itu menggeleng sebelum melanjutkan kegiatan memasaknya.
Malam itu, Sanji pun keluar dari rumah makan kecil itu dengan perasaan bahagia. Ia mendapatkan daftar beberapa pengrajin yang bisa ia hampiri. Dan target pertamanya besok adalah Shimotsuki! Sekarang, ia akan segera pulang ke penginapan.
Ternyata, perjalanannya menuju ke penginapan akan melewati pasar malam. Musim gugur waktu itu menghadirkan hawa dingin yang menyelimuti tubuhnya. Jadi Sanji mengeratkan mantelnya.
Di tengah keramaian itu, Sanji tidak sengaja berpapasan dengan pria berambut hijau yang berkimono hijau gelap. Pada lirikan pertama, Sanji pikir—ternyata di kota kecil ini ada orang aneh juga—tapi pada lirikan kedua yang lebih detail, dunia di sekitarnya serasa berhenti. Suara orang berbicara di antara dirinya dan pria berambut hijau itu juga seolah hilang. Ada ombak yang menyapu punggungnya dengan kencang ketika ia dan pria berambut hijau itu berkontak mata. Satu-satunya suara yang mengisi telinganya hanyalah dentingan dari tiga anting emas pria itu.
Namun, ketika Sanji berhenti dan memutar balik badannya untuk mencari pria itu, ia tidak menemukan suara tiga anting itu lagi. Ia tidak melihat di mana pria berambut hijau itu lagi.
Malam pertama Sanji di Seki ia habiskan dengan berendam air panas di pemandian umum yang tak jauh dari penginapannya. Penginapannya juga klasik dengan kamar khas jepang sehingga ia tidur di atas futon yang digelar di atas tatami. Hari ini Sanji lelah. Tapi ia bahagia.
