Actions

Work Header

Obat Lelah

Summary:

'Anak muda berpangkat tinggi tidak wajar kalau mengeluh', kata mereka. 'Badan masih segar bugar, apa yang perlu dikeluhkan?' ucap seorang tetua berkulit keriput. 'Saya waktu seumuran kamu juga sedang berperang melawan shogunate,' ucap yang lain ketika mereka lihat sedikit saja cacat di postur sempurna Ayato.

Capek.

Ayato sumpah capek sekali.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

 

Ayato juga manusia biasa. Well, terlepas dari gelar bangsawan dan seorang vision holder, Ayato sejatinya hanya laki-laki dewasa yang hampir setiap hari kelelahan karena pekerjaan. Memperbaharui negosiasi dengan klan-klan sekutu, mengecek secara langsung kondisi lapangan wilayah kuasa Yashiro Comission, menyelesaikan sengketa ini itu, menghadiri perjamuan dengan para ketua, juga memberi komando langsung pada para Shuumatsuban tentang misi super rahasia mereka.

Capek

Mempertahankan senyum dan tawa bisnis itu lebih sulit dari yang terlihat. Apalagi kalau lawan bicara punya tendensi merendahkn dan memang tidak menghormati sejak awal. Susahnya minta ampun untuk tersenyum manis dan melepas gelak moderat sementara hasrat dalam hati ingin melempar semua sajian di atas meja ke muka para bedebah di hadapan. Tapi bagaimana lagi, Ayato sudah menjadi kepala klan sejak usianya begitu muda. Meski cakap dan kompeten selama menjalankan kewajiban, pemikiran tetua klan lain yang begitu kolot agaknya tidak pernah bisa diubah.

Anak muda berpangkat tinggi tidak wajar kalau mengeluh, kata mereka. Badan masih segar bugar, apa yang perlu dikeluhkan? ucap seorang tetua berkulit keriput. Saya waktu seumuran kamu juga sedang berperang melawan shogunate, ucap yang lain ketika mereka lihat sedikit saja cacat di postur sempurna Ayato.

Capek.

CAPEK BANGET ASLINYA YA ARCHON.

Andai boleh dia serukan keluhan itu di depan koleganya, atau di perjalanan menuju Tenshukaku, atau di mana pun dengan lantang. Bahkan dirinya tidak tega mengeluh dengan lepas di rumahnya sendiri. Bagaimana pandangan orang-orangnya kalau tahu Tuan Muda Kamisato yang tanpa cela ini mengeluh karena hal sepele macam sebal dengan partnes bisnis yang menjengkelkan? Bisa hancur reputasi agung klan Kamisato yang mati-matian dia pertahankan sejak ditinggal ibu dan ayahanda.

“Ayato-sama, urusan hari ini sudah selesai.” Hyakubei, staff pribadi Ayato yang mengurus segala jadwal pertemuan bisnis, memberitahukan angin segar yang tidak terduga. “Ayato-sama ingin langsung pulang atau mampir ke Komore Tea House dulu seperti biasa?”

“Hmm.” Menimbang posisinya saat ini berada di Ritou, mampir ke Komore Tea House terdengar melelahkan karena berlawanan dengan arah pulang. Ayaka biasanya ada di sana, kalau tidak sedang berkeliling mengecek ini itu di wilayah kota. Tidak ada salahnya untuk mampir menengok sang adik tercinta, namun Ayaka sudah beberapa kali memperingati agar Ayato tidak perlu mengkhawatirkannya secara berlebihan. Terlebih lagi, ada yang lebih penting. 

“Apa Thoma pergi menemani Ayaka hari ini?”

“Mohon tunggu sebentar, Ayato-sama, saya akan mengecek jadwal Nona Ayaka.” Pemuda berkacamata itu membolak-balik jurnalnya, membaca baris demi baris dengan cekatan. “Menurut apa yang Nona Ayaka konfirmasikan kemarin, hari ini dia pergi bersama dengan putri dari Naganohara untuk mempersiapkan festival.”

Ayato mengangguk. Berarti, Thoma ada di rumah. “Aku ingin langsung pulang saja.”

“Baik, Ayato-sama.”

 

***

Seketika, segala suntuk Ayato hilang kala melihat seonggok kepala pirang yang tiba-tiba menyembul dari balik gerbang. Dengan sapu ijuk di tangan, lengan digulung hingga siku, jelas si pemuda berambut pirang tengah menyapu halaman. Istri — maksudnya — pengurus kediaman Kamisato itu bertanya dengan binar di kedua mata.

Waka sudah pulang?” Pertanyaan yang wajar, memgingat si sulung Kamisato kerap kali pulang seusai petang.

Mendengar suara renyah yang begitu ia rindukan, beban Ayato rasanya ikut tersapu bersama dedaunan. “Ya, Thoma, aku sudah pulang.” Senyum tipis nan lembut terpasang di bibir. Diraihnya pundak sang pengurus rumah tangga untuk diremas dengan halus, penuh afeksi. 

“Oh!” Tersadar sesuatu, Thoma segera menyandarkan sapu halaman ke batang pohon yang ada di samping mereka. “Waka ingin langsung membersihkan diri? Akan kusiapkan. Selagi menunggu, apa Waka ingin makan sesuatu? Cemilan, atau makanan ringan, mungkin?”

“Ya, Thoma. Apa pun.” Pinggang ramping direngkuh mendekat, membuat semburat merah menyebar di pipi si pirang.

W-waka … kita masih di halaman….”

“Lalu?”

“Para penjaga — ”

“Oh.” Ayato menoleh. Spontan, para bawahannya refleks memalingkan wajah ke arah lain. “Tidak ada yang melihat, tenang saja.” Oh, tentu saja mereka semua sudah tahu. Hanya saja, mereka lebih dari mengerti kalau menyebarkan rumor tak penting soal atasan tidak akan memberikan keuntungan apa-apa, setidaknya untuk saat ini.

“Aku capek sekali, Thoma.” Thoma rasakan hidung Ayato menggelitik ceruk lehernya. Geli. 

“M-mau langsung istirahat saja?” Masih terbata sebab tak nyaman menunjukkan kemesraan di ruang publik (halaman depan Kamisato Estate tetap bisa disebut ruang publik, kan?), Thoma bertanya pada kekasih — maksudnya, tuannya. “Tapi kalau tidak membersihkan diri, nanti istirahat Waka jadi tidak nyaman….”

“Ya sudah, boleh. Aku ingin mandi setelah ini.”

“Akan kusiapkan dengan segera, Waka. Waka mohon tunggu sebentar, ya?”

“Apa? Tidak, bukan begitu, Thoma.” Pelukan di pinggang semakin erat, mengabaikan si pirang yang mulai menggeliat tak nyaman. “Jangan menyuruhku menunggu sendirian. Ayo mandi bersama saja.”

W-waka!” Oh, ayolah, bagaimana bisa Ayato dengan entengnya mengatakan itu dengan lantang? Thoma menatap tuannya, mencari keseriusan di mata sebiru laut itu. Thoma menelan saliva, Waka benar-benar serius….

“Thoma tidak mau?” Ayato mengerjap, membuat ekspresi sok memelas yang sukses membuat semburat merah di pipi Thoma menjalar hingga kedua telinga. 

“Mau.” Thoma menjawab lirih dengan kepala ditundukkan serta pandangan dialihkan. “T-tapi tetap saja, biarkan aku menyiapkan tempatnya terlebih dulu. Waka tunggu di sini, aku akan segera kembali.”

“Baiklah.” Ayato tersenyum. Pelukan pada pinggang Thoma ia lepas, yang mengakibatkan si pirang terburu-buru pergi ke arah belakang. 

Benar. Si sulung Kamisato bergumam dalam pikiran, Obat lelahku memang hanya Thoma seorang.

.

END

 

 

 

Notes:

kangen ayathoma