Actions

Work Header

Mr. Sun

Summary:

Tentang Wonwoo dan langkah kakinya yang berjalan menuju masa lalu untuk mengembalikan yang hilang.

Notes:

Halo semua, ini adalah karya pertamaku menggunakan bahasa Indonesia, jadi aku minta maaf ya jika nantinya ada kalimat yang tidak enak dibaca. Cerita ini berlatar belakang satu tempat yang sangat indah di Indonesia, tapi aku juga minta maaf jika nanti detail atau informasinya kurang tepat, semua yang aku ceritakan di cerita ini adalah fiksi belaka.

Aku harap kalian bisa membaca cerita ini sembari mendengarkan lagu Rendy Pandugo berjudul Mr. Sun! Selamat membaca.

Note: kalimat yang tercetak miring berarti kejadian dimasa lalu, bahasa asing atau penekanan
Warning: kdrt, violence, blood

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Berjalan kedepan

Chapter Text

Mingyu terbangun tepat pukul 3 pagi Waktu Indonesia Tengah, lebih cepat dari yang ia harapkan. Ponselnya berdering tepat 15 menit kemudian dan terlihat jelas simbol alarm di layar handphonenya, menyadarkannya dari lamunan serta pikiran yang terus memenuhi pikirannya sejak semalam, sebelum kedatangannya ke pulau Sumba dan jauh dari hiruk pikuk keramaian Ibukota.

Dibukanya tirai tebal berwarna kelabu yang menghalangi cahaya matahari untuk masuk ke dalam kamar hotelnya. Laut biru dihadapannya masih terlihat gelap, deburan ombak halus memancarkan cahaya bulan yang mengenai permukaannya, beberapa pohon kelapa berdansa pelan mengikuti irama ombak dan terpaan angin pagi dini hari itu. Dengan teh hangat di tangan kanannya, Mingyu memandang kebesaran Tuhan di hadapannya.

Dering telfon kamar hotelnya menyudahi kegiatan santainya pagi itu, di liriknya jam dinding berwarna senada dengan tirai kamarnya yang kini menunjukan waktu pukul 4 pagi. Sedikit malas, Mingyu mengangkat telepon berwarna putih itu.

"Selamat pagi, pak Mingyu. Mohon maaf mengganggu waktunya, kami ingin mengabari bahwa saat ini sudah pukul 4 pagi dan sesuai dengan permintaan bapak kemarin malam untuk dibangunkan di pukul 4 pagi"

"Selamat pagi mas, terima kasih sudah membangunkan saya"

"Terima kasih kembali pak Mingyu, selamat melanjutkan aktifitas"

Mingyu berdiri dari duduknya dan mengambil peralatan mandi serta pisau cukur yang telah ia kemas di dalam koper berwarna silvernya. Mingyu berjalan ke kamar mandi setelah sebelumnya menanggalkan kaos berwarna hitamnya dan melemparnya sembarang ke tempat tidurnya. Kebiasaan yang buruk, tapi Mingyu tidak peduli, pekerjaannya menunggunya.

 


 

"Kakak tolong bantu Ibu! Ibu berdarah, tolong Adik dan Ibu kami kakak!"

Wonwoo segera terbangun dari tidurnya dan bergegas membawa tas berisi perlengkapan bekerjanya tanpa melihat terlebih dahulu anak kecil yang berteriak panik dan menangis memanggil namanya. Wonwoo berlari sembari menggenggam erat tangan anak laki-laki berumur 8 tahun yang memanggilnya di pagi hari ini, keduanya berlari tanpa alas kaki melewati jalan setapak berbatu menuju rumah si anak. Beberapa warga desa menatap khawatir dan beberapa dari mereka ikut berlari menyusul keduanya.

Bidan sudah datang mendatangi rumah keluarga Litinau dan beberapa Ibu berusaha membantu Bidan menyiapkan kelahiran anak ketiga keluarga Litinau. Pak Litinau sendiri duduk di sisi kasur dan meremas tangan istrinya dan mengatakan kalimat penenang dengan bahasa mereka yang Wonwoo tidak terlalu pahami. Sebenarnya kehadiran bidan sudah cukup untuk membantu persalinan, tapi semenjak satu tahun yang lalu Wonwoo yang merupakan seorang dokter umum berusaha membantu persalinan dengan mengecek beberapa hal yang masih dalam ranahnya. Hampir 20 menit bu Litinau mengejan sekuat tenaga berjuang agar anak ketiganya dapat menghirup udara dunia serta bisa melihat tanah Sumba yang indah. Bidan berkali-kali memberi instruksi dan beberapa ibu berlalu lalang bergantian membantu mengganti air yang terkena darah persalinan. Hingga semua wajah tegang yang berada di rumah keluarga Litinau pukul 5 pagi itu tersenyum haru mendengar tangisan seorang bayi cantik yang lahir dengan selamat dan sehat.

Semua orang di kamar keluarga Litinau bersorak gembira dan mengucap syukur serta selamat kepada keluarga mereka, mereka saling memanjatkan doa untuk kesehatan dan berkah untuk si adik bayi dan keluarga sekalian. Ini bukan persalinan pertama yang Wonwoo bantu tapi Wonwoo selalu takjub bagaimana orang di sekitar turut berbahagia karena kelahiran manusia lain di lingkungan mereka.

 


 

Wonwoo kini tengah duduk di teras rumah keluarga Atahau yang memintanya untuk mampir sejenak dan menawarkannya sarapan karena Wonwoo telah direpotkan oleh persalinan sejak pagi buta dan keluarga Litinau sendiri masih sibuk merayakan kelahiran anak ketiga mereka sehingga dengan sukarela keluarga Atahau memasakannya sarapan ikan kuah kuning dan segelas teh manis hangat.

Wonwoo masih teringat dengan jelas satu tahun yang lalu hari pertama kedatangannya ke desa Pambota Jara ia selalu menolak tawaran dari Ibu-Ibu desa yang berbaik hati memberikannya masakan jadi atau makanan mentah seperti ikan dan hasil kebun. Wonwoo tidak bermaksud untuk menolak, tapi Wonwoo takut dirinya tidak bisa mengembalikan kebaikan dari warga di desa tersebut.

"Kak Wonwoo, kami justru sangat senang karena ada dokter baru yang datang ke desa kami, justru bantuan kak Wonwoo sebagai dokter yang kamu takuti tidak bisa kami balas seperti seharusnya" ucap Ibu Ambu yang tersenyum sembari memberikan pisang goreng dan beberapa gorengan lain di pintu rumahnya. Setelahnya, Wonwoo dengan senang hati menerima pemberian warga sekitar dan ia pun turut berbagi ketika paket berisi makanan dari rumahnya datang ke rumah kontrak Wonwoo di desa Pambota Jara.

Pukul 7 pagi ketika Wonwoo hendak berangkat ke Puskesmas seorang anak laki-laki berumur 8 tahun berlari mendatanginya dan memeluk tubuhnya erat, Touwa, anak pertama keluarga Litinau yang tadi pagi menangis berteriak meminta tolong kepadanya untuk membantu ibunya melahirkan.

"Kakak Wonwoo terima kasih, adik sehat dan ibu tidak lagi kesakitan, adikku cantik sekali kakak, namanya Talia, Talia Litinau" Wonwoo tersenyum mendengar celotehan anak laki-laki yang kini tengah menatapnya penuh binar. Wonwoo mensejajarkan badannya, berlutut di depan Touwa dan mengusap kepalanya perlahan.

"Berarti sekarangTouwa harus jaga adik Talia ok? Jangan lupa jaga Ibu juga, Touwa juga harus membantu Ibu merawat Talia, jangan bandel pergi ke bukit hingga petang, kasihan Ibu dan adik nanti"

"Baik kak Wonwoo, Touwa dan Laiya akan menjaga adik Talia. Touwa punya permen untuk kak Wonwoo. Maaf kak Wonwoo hanya ada rasa cokelat, Touwa sudah beri rasa strawberry kepada ibu bidan Yohana"

"Tidak apa-apa, anak baik. Terima kasih ya permennya. Touwa harus berangkat sekolah kan? Hati-hati ya dan jangan nakal"

"Baik kak Wonwoo, sekali lagi terima kasih"

 


 

Mingyu berjalan keluar hotel dengan tas ransel hitam di kedua pundaknya, Mingyu berdiri di pintu masuk hotel yang ia tempati sembari melihat handphonenya mencari sesuatu yang dapat menemaninya menunggu teman serta rekan kerjanya untuk datang menjemputnya menggunakan mobil yang telah mereka sewa sebelumnya. Waktu di handphonenya menunjukan waktu pukul 5 pagi, perutnya terasa lapar, teh manis hangat tadi pagi tidak cukup memberikannya rasa kenyang.

"Mingyu ayo" suara klakson mobil SUV di hadapannya membuyarkan pikiran mingyu tentang makanan yang ingin ia santap sebelum ia melakukan pekerjaannya nanti. Mingyu berjalan mendekati Hao dan Seokmin yang duduk di kursi kemudi serta penumpang, menerima dua bungkus makanan yang dibungkus dengan daun lontar dari tangan Hao, supir mereka hari ini.

"Kue manggulu, enak buat ganjel perut lo Gyu. Nanti kalau udah sampai tempat kita baru cari makan. Kita harus ngejar matahari nih buat footage. Air minum di kursi belakang" Mingyu bergegas membuka pintu mobil dan meletakan tas ranselnya di kursi sampingnya sembari merapikan topinya yang sedikit miring.

Mobil SUV berwarna silver itu perlahan melaju menembus embun pagi yang masih menyelimuti mereka. Mobil itu bergerak menjauh dari pantai dan mulai memasuki kawasan hijau perbukitan dan sabana. Tiga sekawan itu tiada hentinya mengucap kata gokil karrena pemandangan yang mereka lihat. Bentangan warna hijau di sekeliling mereka sukses membuat ketiganya merasakan perasaan senang. Sembari memakan kue manggulu, Mingyu menurunkan kaca mobil di tempat duduknya dan mengeluarkan kamera analog tua dari ransel hitamnya, mengabadikan apa yang ia lihat.

"Cakep banget buset, ngga ada nih di Jagakarsa yang begini" Ucap seokmin yang turut mengabadikan pemandangan di depannya dengan handphonenya untuk ia post di instagramnya nanti.

"Cakep sih cakep, tapi gue takut ngga keburu ngejar ambience buat footage nih. Kalau ngga dapet besok kita harus ke Wairinding lebih pagi lagi" Hao menimpali perkataan Seokmin dengan sedikit nada khawatir meski matanya turut melihat pemandangan dari balik kemudi.

"Santai aja hao, kalau ngga keburu malem ini cari penginapan di deket bukit aja biar bisa jalan pagi"

"Bener kata Mingyu, lagian kenapa dari awal ngga nyari yang sekitar sana aja hao?"

"Kalau hotel gue udah cari ngga ada ya, palingan homestay kecil-kecil aja. Gue nggak masalah sebenarnya cuma kemarin kan kita baru dateng dan perjalanan jauh jadi seenggaknya cari yang nyaman aja dulu. Kalau emang mau pindah ke daerah bukit Wairinding nanti kita coba tanya orang sekitar sana aja"

Dua pria dari tiga sekawan itu mengangguk secara bersamaan mendengar rencana dari temannya dan kembali sibuk dengan urusannya masing-masing hingga tidak terasa sudah 55 menit lamanya mereka berkendara dan mobil memasuki desa Pambota Jara, mereka berencana akan mencari makan di desa tersebut dan melanjutkan perjalanan menuju bukit Wairinding. Jam tangan Seokmin menunjukan angka 6:05 ketika mereka menemukan warung makan yang bau masakannya sukses membuat perut kosong mereka berbunyi dan membawa mereka untuk duduk di meja yang telah disediakan.

"Kakak semua datang dari mana?" Ibu pemilik warung datang sembari membawa nampan menghentikan obrolan tiga sekawan terkait rencana kedatangan mereka ke pulau Sumba. Nampan berwarna coklat itu penuh dengan tiga gelas teh manis hangat, tiga piring dengan nasi putih.

"Kami dari Jakarta Ibu" Duduk di ujung meja membuat seokmin membantu Ibu pemilik warung untuk membagikan nasi serta teh agar tepat tersanding di depan kedua teman-temannya.

"Wah jauh ya, mau ke bukit ya? Ada foto untuk pernikahan?" Datang sosok anak perempuan yang terlihat masih belia sekitar belasan tahun dengan rambut hitam yang dikepang dua membawa nampan coklat lain berisi sayur daun ubi dan ayam santan bumbu kuning pesanan tiga serangkai itu. Si anak permisi terlebih dahulu karena tugasnya membantu sang ibu telah selesai.

"Hehehe kebetulan iya Ibu, kami mau lihat lokasi dulu dan ambil beberapa gambar sebelum besok calon pengantinnya datang" Kini giliran hao yang menjawab Ibu pemilik warung sembari tersenyum dan menyesap teh manis hangatnya.

"Oh betul, kalian harus datang terlebih dahulu untuk menikmati pemandangannya sebelum sibuk karena mengurus pengantin. Silahkan dinikmati ya, panggil Ibu kalau butuh sesuatu" Ibu pemilik warung kemudian berlalu pergi dari hadapan mereka dan menghilang dibalik tirai hijau yang menjadi pembatas antara warung dan dapur.

Ketiganya menyantap makanan di hadapan mereka penuh suka cita karena ternyata masakan sang Ibu cocok di lidah mereka. Dimakannya setiap butir nasi dan kuah dari ayam santan bumbu kuning itu, tidak ada yang tersisa termasuk teh manis hangat. Seperti sudah menjadi sebuah kebiasaan Mingyu dan Seokmin dimana keduanya pergi keluar dari warung untuk merokok dan meninggalkan Minghao yang sibuk berbincang dengan Ibu pemilik warung dan sesekali bermain dengan sosial medianya.

Kepulan asap dari rokok dengan bungkus putih dengan sedikit corak merah itu memenuhi ruang disekitar Mingyu dan Seokmin, keduanya berbincang sedikit mengenai calon pengantin yang ternyata merupakan teman SMP Seokmin ketika masih di Banjarmasin, Seokmin dan kedua calon pengantin bertemu secara tidak sengaja ketika Seokmin tengah mengedit foto dari client sebelum mereka di sebuah cafe di salah satu Mall di Jakarta. Mereka bertiga berbincang lama dan saling berbagi cerita tentang kondisi mereka saat ini.

"Jadi awalnya lakinya nggak mau nikah?" Tanya Mingyu sembari mengeluarkan asap rokoknya dari kedua belah bibirnya yang kemudian masuk kembali ke dalam hidungnya.

"Duanya laki nyet" Seokmin terkekeh mendengar pertanyaan polos Mingyu.

"Maksud gue temen lo, si Soonyoung" Seokmin menggerakan batang rokok yang tersisa setengah diantara jari telunjuk dan jari tengahnya untuk membuang abu yang sudah panjang. Seokmin mengangguk dan menghisap kembali batang rokoknya.

"Soonyoung belum siap, duit mah ada dia, tapi mental kan ngga ada yang tau ya nyet. Jihoon juga ngga masalah sebenernya kalau masih mau nunggu tapi Soonyoung kasihan juga kalau Jihoon harus nunggu lebih lama lagi demi Soonyoung yang ngga tau siapnya kapan"

"Tapi buktinya siap kan tuh, besok aja udah mau prewed" Seokmin menggeleng pelan dan menggosokan puntung rokoknya yang sudah pendek ke bagian belakang tembok warung yang tidak dicat, membuangnya ke tempat sampah setelah memastikan apinya sudah benar-benar mati.

"Gue ngga tau dia emang beneran siap atau berani, tapi Soonyoung yang gue inget anaknya emang bertanggung jawab. Pacaran dari SMA sampai udah pada tua gini, artinya anaknya emang ngga neko-neko" Mingyu mengangguk dan mematikan rokoknya dengan cara yang sama seperti Seokmin. 

Keduanya duduk diatas tembok yang tingginya sebatas lutut Seokmin sembari memainkan handphone mereka dan sesekali melihat kehidupan pagi hari di desa Pambota Jara. Lima menit kemudian Minghao keluar membawa tas kecil milik Seokmin dan bergabung diantara kedua teman lainnya, membicarakan rencana mereka selanjutnya.

"Kak Wonwoo! Tunggu Lia!" 

Ketiga laki-laki yang tengah duduk di depan warung seketika mengalihkan pandangan mereka ke sosok perempuan yang tadi membantu Ibu pemilik warung membawa makanan mereka. Kini perempuan itu telah berganti pakaian yang semula kaos berwarna hitam dan celana pendek berwarna biru muda menjadi kemeja putih dengan renda sederhana di bagian kerahnya dan rok berwarna cream serta flat shoes warna coklat tua penampilan perempuan yang menyebut dirinya sendiri sebagai Lia itu disempurnakan dengan tas bahu berwarna putih gading. Perempuan belia itu berjalan menghampiri sosok laki-laki berkulit putih pucat, rambut hitam yang disisir ke belakang dan memperlihatkan dahinya serta kacamata hitam yang bertengger di hidung mungilnya yang manis. Laki-laki yang dipanggil oleh Lia tersenyum melihat Lia yang menghampirinya, pakaiannya terlihat seperti pakaian kerja dengan tas ransel yang hanya digantungkan di bahu kanannya.

Kini Lia dan laki-laki bernama Wonwoo itu berjalan bersebelahan dan pergi menjauh dari warung meninggalkan ketiga sosok laki-laki yang secara tidak sengaja menonton drama bergenre teenlit itu.

"Tipe lo tuh Gyu" Ucap Minghao memecah keheningan diantara ketiganya setelah kedua punggung laki-laki dan perempuan itu tidak lagi terlihat. Seokmin tertawa kencang mendengar ucapan Minghao seolah paham siapa yang dimaksud oleh Minghao, sedangkan Mingyu yang diejek hanya mendengus sembari berdiri menarik kedua tangan kawannya dan membawa keduanya ke arah mobil sewaan mereka.

"Keburu panas nih bro"

 


 

Wonwoo meletakan tas ranselnya di meja kayu dan mendudukan dirinya di kursi kerjanya, menggulung lengan kemejanya hingga siku, mengeluarkan stetoskop dari tasnya dan menggantungkan benda tersebut di lehernya. Ia menyalakan komputer berwarna putih di hadapannya dan tangan kanannya sibuk bergerak menggenggam mouse untuk mengarahkan kursor di komputer dan mengecek log pasien di sistem puskesmas barangkali ada pasien yang sudah datang untuk berobat di jam 8 pagi itu.

Wonwoo sudah bekerja selama satu tahun di puskesmas desa Pambota Jara sebagai dokter umum bersama 3 rekan dokter lainnya. Dua diantara keempat dokter di puskesmas merupakan dokter pendatang dari Jawa sedangkan dua lagi merupakan warga asli Sumba yang kembali dari pendidikannya di Jawa dan mengabdi untuk daerah kelahirannya. Kedatangan Wonwoo ke pulau Sumba bukan semata-mata hanya perintah untuk mengabdi, Wonwoo sendiri yang datang ke kantor pusat ikatan dokter dan meminta pengabdiannya ditempatkan di Sumba, lebih tepatnya di desa Pambota Jara. Wonwoo tidak menyebutkan alasan spesifik kenapa dia ingin ditempatkan disana disaat teman sejawatnya berlomba-lomba berdoa untuk ditempatkan di Ibukota atau kota-kota besar.

"Saya ingin mengabdi" adalah satu-satunya jawaban dari Wonwoo ketika ditanya oleh dokter senior yang ia kenal di kantor pusat dan seniornya hanya diam menatapnya selama satu menit sebelum kemudian mengangguk dan berkata bahwa dia akan mencoba untuk membantu terkait penempatan Wonwoo. Sesungguhnya ada alasan lain kenapa Wonwoo ingin ditempatkan di desa Pambota Jara dan alasan itu hanya Wonwoo yang tau

"Won, udah sarapan?" Salah satu teman dokternya bernama Seungkwan yang tanpa permisi membuka ruang kerja Wonwoo.

 


 

Semua peralatan sudah selesai disiapkan, tripod dan kamera sudah berada di tempatnya. Kini ketiganya tengah tertidur beralaskan karpet plastik di bawah pohon sedikit jauh dari tempat mereka memasangkan tripod dan kamera. Mingyu sibuk melihat foto-foto yang ia ambil di kamera DSLR nya, Minghao sibuk dengan ponselnya, menghubungi kekasihnya di Jakarta, dan Seokmin tertidur dengan lengan kanannya yang tertekuk di bawah kepalanya sebagai bantal.

"Cakep banget gini ya, pantes banyak yang prewed disini" Ujar Mingyu sembari tangannya terus menekan tombol next di kameranya masih melihat-lihat hasil fotonya di Bukit Wairinding. Seokmin dan Minghao mengangguk dan bergumam setuju dengan perkataan Mingyu, kemudian ketiganya secara bersamaan terduduk dan memandang hamparan perbukitan dan sabana berwarna hijau sedikit coklat dan kuning yang berada di depan mereka.

"Semoga habis proyeknya Soonyoung sama Jihoon bisa balik kesini lagi deh, lumayan juga buat kita kabur dari macetnya Jakarta sama polusi yang bikin sakit tenggorokan" Mingyu kembali berucap dan kini dirinya telah berdiri dan mendekat ke arah view bukit Wairinding, pantatnya duduk menyentuh rumput dengan kaki yang tertekuk dan dipeluknya kaki itu melekat dengan dadanya, pandangannya mengarah ke arah garis cakrawala di hadapannya dan beberapa kali mengucap syukur karena diberi kesempatan datang untuk menikmati karya Tuhan. Terik matahari yang mulai terasa di kulitnya tidak menghentikannya memandang kemegahan di hadapannya hingga Seokmin menyadarkannya dari lamunan dan wajahnya terlihat khawatir sembari menunjuk ke arah Minghao yang tengah terlentang sembari memegang perutnya.

"Hao perutnya sakit, ke puskesmas yang tadi yuk? Takut ada apa-apa nih, lo yang nyetir sambil tuntun Hao ke mobil, gue yang beresin karpet sama kamera" Mingyu segera bergegas menuntun Minghao dan memapahnya ke arah mobil disusul Seokmin yang membawa tripod dan ransel berisi kamera. Dengan sedikit tergesa ketiganya menuruni bukit dan pergi ke puskesmas desa.

 


 

"Pak Minghao tadi sarapan?" Sembari menulis diagnosa dan resep di kertas, Wonwoo bertanya dan beberapa kali melihat ke arah Minghao yang kini tengah duduk di kursi tepat di samping kiri meja kerjanya. Sesekali Wonwoo kembali meletakan ujung stetoskopnya ke perut Minghao.

"Sarapan, nasi ayam sama sayur daun ubi" Jawab Minghao yang masih merintih. Di belakang Minghao berdiri sosok Mingyu yang kini tengah menatap dokter muda di hadapannya.

"Tadi malam gimana? Makan? Jam berapa?" Minghao terdiam cukup lama mengingat pukul berapa dirinya makan malam hingga akhirnya dia sadar bahwa dirinya tidak makan malam sedari pukul 11 siang kemarin, hanya roti sobek yang mengganjal perutnya.

"Kasihan pak perutnya, ini asam lambung bapak naik, Pak Minghao tau kan kalau punya asam lambung?" Wonwoo kembali melontarkan pertanyaannya kepada Minghao sedangkan Mingyu yang hanya mendengarkan percakapan sahabatnya dengan dokter di hadapannya terdiam terus memandangi si dokter dengan khidmat.

"Tau dok, tapi kemarin memang ngga sempet makan malam"

"Lain kali makan teratur ya pak, ini resep obatnya nanti bisa ditaruh di apotek puskesmas ya. Kalau ini temen pak Minghao ada keluhan juga?" Kini tatapan Wonwoo berpindah kepada Mingyu yang berdiri di hadapannya, Wonwoo sampai harus mendongak sedikit lebih tinggi dari biasanya karena tinggi badan Mingyu yang bisa dibilang diatas dari rata-rata.

"Oh tidak dok, saya hanya menemani teman saya" Wonwoo mengangguk mendengar jawaban Mingyu dan diserahkannya kertas berisi resep obat kepada Minghao. Minghao dan Mingyu kemudian membungkuk berterima kasih kepada dokter Wonwoo dan keluar dari ruang pemeriksaan. Tiga sekawan itu kini tengah menunggu obat yang diresepkan di depan apotek.

"Kaya ngga pernah lihat manusia aja, atau emang bukan manusia Gyu?" Seokmin menyikut lengan Mingyu yang duduk di samping kanannya sembari alisnya ia gerakan seperti meledek. Mingyu yang paham apa yang dimaksud oleh sahabatnya menyikut balik lengan Seokmin dan meminta temannya untuk berhenti meledeknya.

"Kenapa sih?" Minghao yang masih terduduk lemas dan menyenderkan kepalanya di pundak kiri Mingyu melirik ke arah kedua temannya penuh kebingungan.

"Tadi temen lo ini ngeliatin dokternya kaya yang ngga pernah ngeliatin orang aja. Itu dokter yang tadi di warung bukan sih? Udah ada yang punya tuh Gyu" Minghao terkekeh hingga kepalanya mengenai tembok di belakangnya, tangannya yang tadi meremas perutnya karena sakit kini karena tertawa melihat Mingyu yang tersipu malu.

"Tapi Gyu, sebelum jalur kuning melengkung mah gas aja, kita tungguin deh kalau lo mau balik buat minta nomernya" Seokmin kembali menggoda Mingyu yang kini benar-benar seperti kepiting rebus, kulit tannya terlihat memerah karena malu.

Tawa Hao terhenti ketika seorang apoteker memanggil namanya sedangkan Seokmin tetap memukul pelan lengan sosok lelaki di samping kanannya yang kini tengah melipatkan kedua tangannya di depan dada dan menggulirkan bola matanya. Sebal.

 


 

Karena keadaan Hao yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan pekerjaan dan kembali ke hotel, mereka bertiga memutuskan untuk menyewa sebuah kamar di homestay sederhana di desa Pambota Jara untuk dua hari kedepan atau selama pekerjaan mereka. Mingyu dan Seokmin kembali ke kota Waingapu, lebih tepatnya kembali ke resort mereka untuk merapikan barang-barang mereka, checkout dan kembali ke Pambota Jara.

"Gyu lo masih suka sama Jeonghan ngga?" Mingyu yang tengah menyetir mobil SUV silver itu menegang di tempat duduknya dan tergesa-gesa mengganti persneling mobil sewaan itu agar sedikit lebih cepat karena mereka telah keluar dari kemacetan lampu lalu lintas.

"Ngga lah gila, udah lama juga kali" Seokmin hanya mengangguk dan kembali memainkan ponselnya dengan posisi kedua kakinya yang ia letakkan di dashboard mobil dan flanel coklatnya yang sudah ia tanggalkan tersampir di kursinya, dan kini ia hanya mengenakan tanktop putih yang membalut tubuhnya.

"Mau nikah dia, nih story instagram-nya semalem tunangan sama the one and only.. hm.. Choi Seungcheol’

"The one and only Seungcheol" Mingyu mengulang perkataan Seokmin dan mengangguk menyetujui kalimat yang keluar dari mulut sahabatnya. 

 


 

Jeonghan dan Mingyu adalah sepasang kekasih yang selalu dielu-elukan karena keduanya terlihat amat sangat mencintai satu sama lain dan jika keduanya terlihat tidak berjalan bersama maka itu mengartikan bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja alias Mingyu dan Jeonghan tengah bertengkar.

Hubungan kasih mereka dimulai ketika Mingyu berada di tahun pertamanya dan Jeonghan di tahun ketiganya. Jeonghan merupakan mahasiswa bisnis sedangkan Mingyu mahasiswa desain, keduanya bertemu di kantin FIB ketika berebut kursi untuk menikmati ayam goreng kremes yang terkenal di kantin FIB.

Jeonghan lah yang memulai langkah pertama, dia mengajak Mingyu untuk berkenalan ketika keduanya sama-sama telah menghabiskan ayam goreng kremes mereka. Menurut Jeonghan, Mingyu itu indah dan Jeonghan suka, Jeonghan jatuh hati pada pandangan pertama. Mingyu pun merasa Jeonghan itu cantik, ingin rasanya Mingyu melukis bibir ranum dan hidung mancung tapi mungil Jeonghan di kanvas putih bersih yang baru saja ia beli.

Setelah pendekatan yang berjalan 2 bulan, kala itu Mingyu yang memutuskan untuk mengambil langkah besar untuk hubungan keduanya, meminta Yoon Jeonghan untuk menjadi kekasihnya and the majestic Yoon Jeonghan accepted him as his boyfriend. Perjalanan mereka tentu saja tidak semulus itu, beberapa kali mereka saling menyakiti, bertengkar dan beberapa kali mereka kembali ke pelukan satu sama lain, menyerap hangat tubuh sang kekasih.

Hingga the one and only Choi Seungcheol datang ke kehidupan mereka, Choi Seungcheol adalah mahasiswa pascasarjana ekonomi dan bisnis yang secara kebetulan bertemu dengan Jeonghan ketika Seungcheol bertugas menjadi asisten dosen dan menggantikan sang dosen untuk mengajar di kelas Jeonghan.

"The one and only Choi Seungcheol" Nama panggilan itu seketika menjadi ramai diperbincangkan dikalangan mahasiswa S1 di fakultas ekonomi dan bisnis. Choi Seungcheol adalah satu-satunya mahasiswa yang menjadi asisten dosen karena dosen fakultas ekonomi dan bisnis jarang sekali meminta mahasiswanya menjadi asisten mereka, tapi Choi Seungcheol berhasil menembus dinding itu dan menjadi asisten seorang guru besar.

Diantara Seungcheol dan Jeonghan sejujurnya tidak pernah terjadi perbincangan yang berarti, hanya interaksi antara mahasiswa dan asisten dosen yang semestinya, but something in Jeonghan shifted, dan Jeonghan mengakui itu ketika dia menangis di sofa rumah Mingyu bahwa cintanya untuk Mingyu seketika menghilang, he fall out of love ‘Ini salahku Mingyu, maafkan aku Mingyu, aku sungguh minta maaf’ memang benar bahwa Jeonghan tidak menduakannya secara langsung, tapi pikiran Jeonghan sudah tidak pada tempat yang semestinya, yaitu Mingyu dan itu membuat Jeonghan memutuskan untuk menyudahi hubungan mereka karena dia tidak ingin memaksakan perasaannya kepada Mingyu dan tidak adil kepada laki-laki yang lebih muda darinya itu.

Kabar berpisahnya Mingyu dan Jeonghan menjadi perbincangan hangat di fakultas ekonomi dan bisnis dan fakultas seni. Tidak ada lagi sosok Jeonghan yang memakan ice cream di kantin seni dan juga Mingyu yang batang hidungnya sepenuhnya menghilang dari fakultas ekonomi dan bisnis. Hubungan Jeonghan dan Seungcheol tetap berada di batas asisten dosen dan mahasiswa. Hingga Seokmin memberinya kabar bahwa Jeonghan akan menikah dengan Seungcheol setelah 5 tahun perpisahan Mingyu dan Jeonghan.

"Ikhlas kan, Gyu?"

"Ikhlas, Seok"

 


 

Wonwoo berjalan keluar dari puskesmas dengan jas dokternya yang ia gantungkan di tangan kirinya dan tangan kanannya sibuk melihat ponsel hitamnya takut apabila terjadi sesuatu di desa karena selain menerima pekerjaan di puskesmas, Wonwoo juga mengizinkan warga desa untuk menghubunginya jika sesuatu terjadi seperti kejadian pagi tadi. Ada beberapa pesan yang masuk, dari pak Litinau yang berterima kasih karena telah membantu persalinan istrinya, Lia yang menanyakan apakah Wonwoo sudah makan atau belum, Seungkwan yang bergosip tentang pria blasteran asal Bali yang beberapa bulan lalu datang ke Pambota Jara serta Ibunya yang bertanya apakah tahun ini Wonwoo akan pulang ke rumah.

"Wonwoo lihat nanti ya bu. Maafin Wonwoo ya bu" Tombol biru bertuliskan send di layar ponselnya ia tekan dan pesan itu berhasil terkirim kepada Ibunya yang menunggu kepulangan anak semata wayangnya di rumah. 

Wonwoo berjalan menyusuri jalan raya yang lenggang dan sesekali kendaraan melewatinya, matanya menatap kedua kakinya yang terbalut sepatu NB 530 berwarna hitam putih itu, sepatu yang Ibunya belikan sebelum kepergian Wonwoo ke tanah Sumba ‘untuk melindungi kaki Wonwoo’ kata Ibunya, dan kini pikiran Wonwoo melayang jauh kepada sosok perempuan berjarak 2.035 KM dari dirinya sekarang. Wonwoo sejatinya merindukan satu-satunya orang tuanya yang selalu menunggunya sejak hari pertama kepergiannya, tapi Wonwoo belum bisa kembali sebelum ia merasa ‘puas’ dengan hasil pencariannya di tanah Sumba ini. Sudah satu tahun dia menetap disini tapi dia belum juga menemukan masa lalu yang ia cari, sejujurnya sedari awal Wonwoo juga tidak tau darimana dia harus memulai pencariannya, satu tahunnya terbuang sia-sia dan membuat Ibunya menunggu tanpa kepastiannya.

"Wonwoo itu anak baik, saya bangga sama kamu, Ibu kamu juga bangga sekali. Ibu itu selalu menceritakan tentang anak kesayangannya kepada saya setiap malam, Ibu juga menceritakan hal-hal nakal yang dilakukan Wonwoo, tapi itu tidak membuat penilaian saya terhadap kamu menjadi buruk, bukankah semua orang di dunia ini pernah melakukan kesalahan, Wonwoo?"

"Wonwoo itu.. apa ya.. saya juga bingung, Wonwoo itu pemberani, perkataannya sering kali benar, terkadang saya juga merasa takjub melihat kamu tumbuh sebagai anak yang baik, pintar, bijaksana, tegas tapi lembut sekali kepada Ibunya. Menurut saya Ibu berhasil mendidik kamu loh Wonwoo, kalau menurut Wonwoo bagaimana?"

"Semua tidak pernah terlambat Wonwoo, maaf ya karena saya pernah membuatmu merasa takut lagi. Maaf ya Wonwoo?"

Air mata Wonwoo turun secara tiba-tiba, langkahnya terhenti, tubuhnya menekuk dan kedua tangannya menumpu pada lututnya. Tangis Wonwoo semakin menjadi, isaknya terdengar jelas, jas dokternya terjatuh bersamaan dengan air matanya yang jatuh mengenai sepatunya. Penglihatannya yang buram karena air mata menangkap sepasang sepatu converse chuck taylor 70s berwarna hitam yang kedua ujungnya menyentuh ujung sepatunya, ia pun melihat sebuah tangan yang mengambil jas dokternya dan sebuah tangan lain yang terjulur ke depan matanya yang masih menunduk melihat kedua pasang sepatu mereka yang saling bersentuhan.

"Dok Wonwoo mau ditemenin ngga pulangnya?" Wonwoo mengangguk dan meraih tangan orang asing yang sedari tadi terjulur di hadapannya, tanpa melihat rupa sang pemilik tangan, Wonwoo menyandarkan dahinya di dada lelaki bersepatu converse itu.

"Tunggu sebentar, boleh?"

"Boleh, dok Wonwoo"

 


 

"Mingyu mana Seok?" Seokmin yang tengah memejamkan mata dan beristirahat di kursi kayu ruang tamu homestay tempatnya tinggal beberapa hari ke depan terperanjat kaget karena menemukan sosok Minghao yang berdiri tepat di depannya. Seokmin kemudian kembali memejamkan matanya dan menghela napas perlahan, mengatur nafasnya setelah sendirian mengeluarkan tiga buah koper dan 2 ransel dari mobil.

"Mengejar janur kuning yang belum melengkung"

 


 

Mobil pick up putih yang mengangkut dua anak adam terhenti di dekat pintu masuk bukit Wairinding yang terlihat sepi di sore hari itu. Salah satu anak adam yang lebih tinggi dengan kaos putih yang membalut tubuh bidangnya menjulurkan tangannya kepada sosok yang berusaha turun dari pick up putih itu setelah sebelumnya berterima kasih kepada sang supir sekaligus pemilik pick up karena telah berbaik hati memberikan keduanya tumpangan hingga bukit Wairinding. Wonwoo menerima uluran tangan itu dan mengucapkan terima kasih seraya tersenyum menatap sosok asing itu dengan mata sembabnya yang ikut tersenyum.

"Makasih Mingyu" Kini keduanya berjalan berdampingan dengan Mingyu yang membantu membawakan tas dan jas Wonwoo di tangan kirinya, tangan kanannya yang kosong beberapa kali bersentuhan dengan punggung tangan kiri Wonwoo. Keadaan Wonwoo kini sudah lebih baik, ia sudah berhenti menangis sesaat setelah pak kepala desa menemukan keduanya yang diam berdiri di sisi jalan raya, paham dengan keadaan Wonwoo, sang kepala desa tersenyum kepada Mingyu dan menawarkan tumpangan ke arah Bukit Wairinding untuk mencari rumput ilalang. Mingyu tersenyum dengan tawaran sang kepala desa, diusapnya lembut punggung lelaki yang menunduk di hadapannya dan bertanya kepada sosok dokter itu atas tawaran pak kepala desa.

"Mau.. tapi mau.. mau duduk di belakang.."

Setelah 10 menit berjalan dari sabana tempat pemberhentian pak kepala desa, Wonwoo dan Mingyu kini telah tiba di puncak bukit Wairinding, keduanya duduk di sisi jalan dan kaki mereka terjulur ke arah lembah di hadapan mereka. Mingyu masih saja takjub melihat pemandangan di hadapannya, ditambah dengan cahaya dari lentera yang telah nampak dari kaki bukit. Mingyu menopang tubuhnya dengan meletakkan kedua tangannya di samping tubuhnya dan sedikit menyerongkan tubuhnya ke belakang sembari menikmati angin yang menerpa wajahnya dengan lembut dan menggerakan rambutnya perlahan.

"Dok tau ngga? Tadi siang aku juga kesini tapi karena Hao sakit jadi ngga bisa lama-lama deh ngerasain santai kaya gini" Wonwoo menirukan posisi Mingyu dan menutup matanya, berdeham sebagai tanda bahwa dirinya mendengarkan Mingyu.

"Kalau ada yang minta kesini lagi buat foto pre-wedding kayanya aku ngga nolak deh dok, cakep banget tempatnya" Kini Mingyu merebahkan tubuhnya di rerumputan bukit Wairinding dan menggunakan lengannya sebagai bantalan untuk kepalanya.

"Mingyu kotor" Mingyu hanya tersenyum dan menatap awan putih yang bergerak perlahan di atas kepalanya, memikirkan bentuk-bentuk yang terlihat mirip dengan awan itu.

"Mingyu"

"Iya dok?"

"Jangan panggil dokter, panggil Wonwoo aja, kayanya kita seumuran"

"Emangnya dokter umur berapa kalau boleh tau?"

"27, kamu?"

"Ngga seumuran dong itu, aku masih 25 dok, tapi aku panggil Wonwoo aja ngga apa kan?" Wonwoo tersenyum dan menggeleng, matanya masih menatap ke arah jajaran bukit di hadapannya dan tangannya bermain dengan rumput hijau sedikit kecoklatan.

"Mingyu mau denger cerita ngga?"

"Mau, memangnya boleh, Wonwoo?" Kini mingyu membalikan badannya, kedua tangannya menopang dagunya dan menatap mata Wonwoo yang kini tengah berbalik menatapnya sembari tangan kiri sang dokter itu membersihkan kaos mingyu dari rumput, tanah dan bebatuan yang menempel.

"Boleh, Mingyu. Tadi kan kita udah kenalan di pick up, Mingyu juga cerita tentang bobpul yang suka gigitin sikat gigi bekas Mingyu. Sekarang gantian aku yang cerita"

"Wonwoo mau cerita anjing Wonwoo suka gigit sikat gigi bekas juga?" Tawa Wonwoo pecah, tidak terlalu keras tapi dimata Mingyu, Wonwoo tertawa sepenuh hati. Tawa yang benar-benar tertawa. Cantik , batin Mingyu.

"Aku udah satu tahun disini, kesini mau nyari seseorang, tapi belum ketemu"

"Nyari… siapa?" Sebenarnya Mingyu sedikit cemas jika harus mendengar jawaban Wonwoo jika Wonwoo pergi ke tanah Sumba untuk mencari kekasihnya yang telah lama menghilang. Sepertinya Seokmin dan Minghao benar, terkadang isi kepala Mingyu terlalu berlebihan, seperti saat ini. Mingyu tidak bisa berbohong jika dia merasa tertarik kepada sosok dokter yang lebih tua dua tahun darinya ini, dan jika alasan Wonwoo menetap di Pambota Jara adalah untuk mencari kekasihnya maka Mingyu harus mundur. Sebenarnya Mingyu juga tidak bisa berekspektasi terlalu berlebihan karena ia sendiri pun harus meninggalkan desa ini dalam dua hari dan kembali ke Jakarta. Terlintas kata LDR di dalam pikirannya, tapi sebelum sampai di titik itu bisakah Mingyu mengambil hati sang pujaan dalam 3 hari ini? Jika ia bertanya kepada kedua sahabatnya pasti mereka akan menjawab ‘Mikir aja lah Gyu’

"Nyari Bapak"

 


 

Wonwoo merupakan seorang anak laki-laki yang lahir dalam sebuah keluarga dokter, Ibunya merupakan seorang dokter umum dan Ayahnya seorang dokter bedah dalam. Sebuah pasangan yang menurut kebanyakan orang merupakan keluarga bahagia, penuh kekayaan, dan sukses. Tapi Wonwoo kecil yang kala itu menginjak umur 7 tahun dan telah duduk di bangku kelas 2 SD sudah dapat memahami apa itu kebahagiaan dan kesedihan. Bahkan sering kali di setiap malam Wonwoo berbicara sendiri dengan mainan robot yang Ibunya belikan ketika ia berulang tahun ke-5, ia berbagi cerita bahwa ia tidak merasa bahagia.

"Kenapa ya Ayah suka sekali memukul Ibu? Memangnya Ibu salah ya bawain aku bekal mie goreng? Kenapa Ayah marah sekali.. seharusnya Ayah marah sama aku kan? Kan aku yang minta Ibu buat bikinin mie goreng"

"Hai robot, hari ini Ayah pukul aku disini.. di tangan aku, wow sampai merah. Katanya aku nakal soalnya nilai IPA aku 60. Iya sih salah aku, aku ngga belajar, tapi aku sakit kemarin terus kata Ibu aku istirahat dulu sehabis minum obat, kata Ibu kalau Ayah pulang nanti Ayah yang periksa aku soalnya kata Ayah, Ayah itu lebih pintar merawat orang daripada Ibu"

"Aku… aku sedih hiks… Ibu tadi menangis keras sekali waktu dipukul Ayah… Aku udah bilang… hiks… Aku udah bilang Ayah buat berhenti pukul Ibu, tapi Ayah kurung aku dikamar, aku ngga bisa pergi robot, aku mau bantu Ibu"

"Robot, menurut aku Ayah jahat"

Wonwoo kecil menjadi saksi hidup bagaimana kehidupan Ibunya seperti berada di Neraka. Ayahnya yang selalu dibanggakan oleh keluarganya dan Ibunya ternyata sosok mengerikan ketika di rumah. Ayahnya kerap kali memukul sang Ibu jika Ibu melakukan sesuatu hal yang tidak sesuai dengan ‘prinsip’ sang Ayah. Seperti membuat bekal mie goreng untuk Wonwoo yang dianggap tidak sehat, nilai sekolah Wonwoo yang menurut Ayahnya jelek, Ibunya yang belum pulang melebihi pukul lima sore, sarapan yang terlalu asin atau kopi yang terlalu manis. Semua dimulai sejak Wonwoo berumur 6 tahun, malam itu Ayahnya pulang dengan mata merah penuh emosi karena dia tidak berhasil mendapatkan jabatan yang diinginkan di rumah sakit dan sejak itu Ayahnya tidak bisa mengontrol emosinya dan menjadikan Ibunya sebagai samsak kemarahannya, bahkan terkadang Wonwoo terkena dampak kemarahan sang Ayah, tapi Ibunya akan selalu melindungi sang anak di dalam pelukannya. 

Hingga suatu malam ketika Wonwoo sudah berumur 8 tahun, Wonwoo demam tinggi, meski Ibunya merupakan seorang dokter, perasaan seorang Ibu membuatnya nekat pergi ke rumah sakit dan membawa Wonwoo ke UGD. Suaminya yang memiliki harga diri yang teramat tinggi itu mengetahui keberadaan sang Istri dan anak yang kini berada di salah satu bilik UGD tempatnya bekerja. Keadaan sang suami mirip sekali seperti 2 tahun lalu, matanya merah, nafasnya cepat dan berat menahan amarah, kepalan tangannya terlihat kencang bahkan suster yang tadinya merawat sang anak meminta izin untuk pergi meninggalkan keluarga kecil itu setelah memastikan infus yang terhubung ke tangan kecil Wonwoo telah terpasang dengan baik dan benar.

Di balik tirai salah satu bilik UGD, di hadapan anak semata wayangnya yang lemas karena terindikasi terkena DBD, sang Suami menampar pipi sang Istri sangat keras, hingga Istrinya terjatuh dari tempat duduknya. Suster yang berjaga di meja administrasi tiada yang berani bersuara, mereka memilih mencengkram pulpen hitam atau setumpuk selimut yang baru selesai dicuci.

"Kau memalukan, kau kan seorang dokter, kenapa kau membawa anak ini ke UGD? Kau mau menunjukan kepada orang lain kalau kau tidak bisa merawatnya dengan baik? Kalau aku tidak bisa merawatnya? Pulang kalian, rawat anakmu di rumah" Bahkan sang Suami tanpa pikir panjang mencabut infus yang tertancap di punggung tangan anaknya dan membuat sang anak berteriak kesakitan menggenggam tangannya yang mengeluarkan darah. Lagi-lagi perasaan seorang Ibu menang melawan logika ketika sepasang matanya yang lelah melihat anaknya menangis kesakitan menahan darah yang mengalir dari punggung tangannya. Suaranya yang tak pernah meninggi, suaranya yang tak pernah keras, tangannya yang tak pernah memukul, matanya yang tak pernah membenci, malam itu terlihat sosok Ibu dan Istri yang siap melawan dunia untuk menjaga sang buah hati meski dia harus melawan suaminya sendiri, Ayah kandung dari anaknya.

Kejadian setelahnya adalah satpam serta dokter sejawat yang membantu memisahkan sang Suami dengan sang Istri, entah dibawa pergi kemana sosok Suami yang telah menyakiti Istri dan anaknya itu, yang orang-orang tau dan lihat adalah sosok Ibu yang memeluk anaknya dengan erat, menangis memohon maaf kepada anaknya karena menganggap dirinya gagal menjaga anaknya. Dua minggu kemudian sang Istri mengirimkan gugatan cerai kepada sang Suami dan meminta hak asuh penuh atas anaknya. Di umurnya yang ke 9, Wonwoo tumbuh hanya bersama Ibu, Kakek dan Neneknya di kota Kembang, tanpa sosok Ayah. Kejadian satu tahun lalu membuatnya paham bahwa hidupnya sudah bahagia meski tanpa sosok Ayah. 

Ibunya berjuang menghidupi sang Anak dengan bekerja sebagai dokter umum di sebuah klinik sederhana di kota Bandung. Wonwoo tumbuh sebagai anak yang baik, tutur katanya lembut seperti sang Ibu, kepribadiannya sedikit tegas seperti sang Ayah tapi Wonwoo dapat mengatur emosi dan amarahnya. Wonwoo kembali ke kota Jakarta setelah menyelesaikan pendidikan SMA nya dan menjadi seorang mahasiswa kedokteran di salah satu kampus di Jakarta. Awalnya sang Ibu tidak ingin melepaskan anaknya kembali ke Jakarta karena masih terlalu banyak trauma yang terjadi di kota itu. Sang Ibu juga cukup khawatir apabila suatu saat nanti ada hari dimana mantan Suaminya akan bertemu dengan sang anak.

"Ibu, kalau Ibu takut, Wonwoo kuliah di Bandung aja ya? Nanti Wonwoo coba ambil swasta atau ngulang tahun depan, yang penting Ibu seneng" Ucap sang anak ketika menemukan Ibunya yang tengah duduk termenung di atas kasurnya, Wonwoo mendudukan dirinya di lantai kamar sembari menggenggam tangan sang Ibu dan mengecupnya beberapa kali. Tidak terlihat ada perasaan sedih atau kecewa di mata Wonwoo jika dirinya harus merelakan kesempatannya bersekolah di Jakarta, tapi perasaan cinta sang Ibu membuat keberaniannya datang dan mengizinkan jalan takdir sang anak untuk melanjutkan pendidikan di Jakarta.

"Wonwoo boleh pergi tapi Ibu ikut"

"Iya Ibu ikut" Setelahnya Ibu dan anak itu berhasil menemukan rumah sederhana di kawasan Jakarta Selatan, cukup dekat dengan kampus Wonwoo. Sang Ibu tetap bekerja sebagai dokter umum di sebuah rumah sakit swasta dan menghidupi anaknya sendirian, sudah keputusan sang Ibu sedari awal bahwa ia tidak meminta ayah kandung Wonwoo untuk memberi anaknya nafkah karena ia bisa melakukannya sendiri dan hal itu terbukti berhasil hingga Wonwoo menyelesaikan kuliahnya dan melanjutkan koas.

 


 

"Wonwoo kalau mau nangis terus peluk aku juga boleh ya, peluk aja"

"Makasih Mingyu" Diletakkannya kepala Wonwoo di pundak kiri Mingyu sembari keduanya menatap pemandangan serta garis kemerahan di ufuk barat. Tangan kanan Mingyu perlahan menggenggam tangan kiri Wonwoo setelah sebelumnya meminta izin kepada empunya dan Wonwoo mengangguk mengizinkan.

 


 

Ketika Wonwoo menginjak umur 20 tahun, sang Ibu mendapatkan amanah dari rumah sakit tempatnya bekerja untuk mengabdi di desa Pambota Jara, bekerja di puskesmas yang sama seperti tempat Wonwoo bekerja sekarang. Ibunya menghabiskan 2 tahun bekerja jauh dari sang anak, meski begitu mereka tetap saling terhubung hampir setiap malamnya. Di setiap sambungan telepon antara Ibu dan anak itu, Wonwoo dapat mendengar dengan jelas intonasi suara sang Ibu yang bahagia, jauh lebih bahagia dari yang biasanya, seolah semua beban yang Ibunya tanggung sudah lepas dan bahunya terasa ringan. Wonwoo menyadari hal itu, Wonwoo juga seringkali bertanya kepada sang Ibu apakah ada kejadian yang menarik atau menyenangkan.

"Tidak Wonwoo, Ibu memang… merasa bahagia saja" Hingga ‘kebahagian’ sang Ibu hadir di hadapan Wonwoo ketika Wonwoo wisuda dan mendapat gelar Sarjana Kedokterannya. Kebahagian Ibunya adalah sosok Letnan Dua yang datang menemaninya ke hari wisuda Wonwoo. Ibu mengenalkannya sebagai teman, tapi Wonwoo tau bahwa laki-laki berperawakan tinggi dan gagah itu merupakan kekasih Ibu. Wonwoo menerima bouquet bunga matahari dari lelaki itu dengan tangan yang sedikit bergetar, ia paksakan untuk tersenyum dan seolah percaya bahwa sosok itu hanya seorang teman bagi sang Ibu.

Sehari setelah wisuda Wonwoo, Ibunya membuat sebuat pesta kelulusan yang dirayakan secara sederhana di Bandung tepatnya di kediaman Kakek dan Neneknya, Wonwoo duduk berdua bersama sang Ibu di teras rumah berwarna coklat itu setelah sebelumnya mengantarkan teman laki-laki Ibu pulang. Ya, teman laki-laki Ibu turut diundang.

"Ibu tau kalau Wonwoo tau" Ibunya dengan tenang menyesap teh manis hangat di teras rumah sembari melihat rintik hujan yang membasahi pekarangan rumah.

"Apa yang ada di pikiran Wonwoo memang benar, Om Lodu itu bukan sekedar teman. Ibu minta maaf karena tiba-tiba mengenalkanmu padanya di hari wisudamu" Keheningan menyelimuti keduanya selama hampir 5 menit lamanya, kepulan asap dari cangkir berisi teh manis hangat itu kini telah menghilang, rintik hujan secara perlahan berhenti mengguyur kota Bandung dan menciptakan kubangan kecil di pekarangan rumah masa kecil Ibunya.

"Ibu ikut Wonwoo, Ibu tidak mau mengulang kesalahan yang sama. Ibu bisa memilih pasangan Ibu, tapi Wonwoo tidak bisa memilih Ayah Wonwoo. Ibu tinggal ke dalam ya? Nini minta dipijitin kakinya" Sebelum Ibunya sepenuhnya bangkit dari kursi kayu jati yang berada di teras rumah, Wonwoo menggenggam tangan Ibunya hati-hati, penuh kasih sayang dan kelembutan dari hangatnya suhu tubuh Wonwoo.

"Wonwoo.. Wonwoo mau Ibu bahagia, kalau Om Lodu bisa buat Ibu senang dan bahagia.. sekarang Wonwoo yang ikut Ibu" Sudah 15 tahun tidak terbesit peran Ayah dalam hidup Wonwoo, dia merasa sudah cukup dengan sosok Ibu, Kakek dan Nenek yang menyayangi Wonwoo tanpa alasan dan tanpa batas. Meski sudah 15 tahun lamanya, bekas itu masih teringat jelas di kepala Wonwoo, neraka dunia yang Ibunya jalani karena sosok laki-laki berstatus Ayah kandung dan Suami. Memang benar Wonwoo mengikhlaskan Ibunya untuk menjalin hubungan dengan sosok bernama Lodu, tapi dalam hatinya masih terasa sakit mengingat kejadian yang lalu. Ia takut Ibunya tersakiti kembali.

"Ibu ingat ya, Wonwoo sayang Ibu, Wonwoo sudah bisa jagain Ibu sekarang"

"Iya, Ibu ingat"

 


 

"Om Lodu itu asli sini, Mingyu. Dulu Om Lodu kerja di Waingapu terus pulang kesini, ketemu Ibu deh. Kalau ada hari libur pasti ke Pambota Jara. Semenjak nikah sama Ibu, Om Lodu ngajuin pindah ke Jakarta, lumayan lama sih permohonannya diterima, tapi akhirnya Ibu pulang terus mereka nikah"

"Kamu seneng ngga waktu itu Ibu nikah sama Om Lodu?"

"Seneng karena Ibu seneng"

"Ganti deh pertanyaannya, Wonwoo sendiri suka ngga sama Om Lodu?" Mingyu dan Wonwoo berjalan beriringan menuruni bukit Wairinding, jas dokternya kini sudah berada di genggaman Wonwoo, tapi tas Wonwoo masih berada ditangan Mingyu, Mingyu tidak mengizinkan Wonwoo membawanya dan Wonwoo hanya bisa menghela nafasnya. Jam tangan Wonwoo menunjukkan sudah pukul 17:33 dan lima menit yang lalu pak Kepala Desa sudah mengirimkan chat di whatsapp bahwa dirinya sudah selesai mencari rumput ilalang untuk herkules, kuda kesayangannya dan mengajak dua anak adam itu untuk pulang bersama ke desa.

"Aku suka sama Om Lodu, tapi udah terlambat Mingyu"

 


 

Wonwoo belum bisa sepenuhnya menerima kehadiran Om Lodu sebagai Ayah sambungnya, ia masih memanggil suami dari Ibunya dengan panggilan ‘Om’ meski begitu baik Ibu atau Om Lodu tidak pernah memaksakan Wonwoo untuk memanggilnya dengan sebutan yang semestinya.

"Wonwoo menerima saya sebagai suami kamu saja saya sudah bersyukur neng" Neng. I ngatannya kembali ketika Wonwoo berumur 7 tahun dimana ayah kandungnya tidak pernah memanggil ibunya dengan sebutan sayang hanya ‘kamu’ dan terkadang makian kasar ketika sang Ayah emosi. Tapi sosok Om Lodu ini memanggil sang Ibu dengan lembut, memanggil sang Ibu dengan sebutan ‘sayang’ atau ‘neng’ secara perlahan Wonwoo turut merasakan kasih sayang dari sosok Om Lodu.

Wonwoo hanyalah manusia biasa, sebagaimana kerasnya ia mengontrol emosi serta amarahnya, Wonwoo masih manusia biasa, beberapa kali emosinya mengambil alih dirinya. Suatu hari Wonwoo bertengkar hebat hingga ia memukul teman koasnya karena masalah pasien. Pasien yang tengah kesakitan harus menahan sakitnya 30 menit lamanya karena kelalaian temannya. Baku hantam terjadi antara Wonwoo dan temannya di ruang istirahat koas, membuat keduanya mendapat teguran langsung dari konsulen mereka dan Wonwoo pulang dengan keadaan ujung bibir yang sobek serta pipi yang memar.

"Loh Wonwoo sudah pulang?" Om Lodu yang tengah duduk di ruang keluarga sembari melihat berita mengalihkan perhatiannya ketika mendengar suara motor vespa milik Wonwoo yang memasuki garasi rumah. Diperhatikannya keadaan anak dari istrinya tersebut secara cermat. Mata Om Lodu yang tegas dan raut wajahnya yang matang membuat nyali Wonwoo ciut, secara tidak sadar Wonwoo menggenggam punggung tangannya yang 16 tahun lalu mengeluarkan darah karena efek dari infus yang dicabut secara paksa, punggung tangannya terasa ngilu karena kenangan buruk itu kembali menghantui kepalanya ketika ia melihat sosok Om Lodu yang duduk diam memperhatikan dirinya.

"Wonwoo sini duduk, saya boleh ngobrol sebentar?" Wonwoo secara perlahan berjalan mendekati Om Lodu dan duduk di sofa berwarna putih gading berhadapan dengan Om Lodu yang kini tengah menurunkan volume televisi.

"Wonwoo mau cerita kenapa Wonwoo bertengkar?" Wonwoo terdiam sebentar dan menggeleng, matanya terus menatap lututnya, kedua tangannya memainkan jaket parasutnya mencengkramnya ujung lengannya cukup erat.

"Ya sudah kalau Wonwoo tidak mau. Om juga tau Wonwoo bukan anak yang mudah melayangkan tinju ke orang lain. Sebentar ya Wonwoo, tadi om masak air untuk bikin kopi" Sosok Om Lodu kemudian berdiri dan menghilang dibalik tembok yang membatasi ruang keluarga dengan dapur, terdengar suara kompor yang dimatikan, air yang dituang di gelas, serta suara sendok yang berdenting mengenai dinding gelas kopi Om Lodu.

"Om buat dua, maaf kalau tidak sesuai selera Wonwoo ya, ini selera Om soalnya, kopinya satu sendok, gulanya dua sendok" Om Lodu tertawa dan meniup kopi hitam yang baru saja ia buat dan menyesapnya perlahan karena airnya yang masih panas. Wonwoo turut mengambil cangkir kopinya dan melakukan hal yang sama seperti yang Om Lodu lakukan. Wonwoo tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya, berbincang dan menikmati kopi panas bersama sosok laki-laki dewasa yang berstatus suami dari Ibunya, semenjak ia berusia 9 tahun, semenjak perpisahan Ibu dan Ayah kandungnya, Wonwoo secara perlahan menerima kenyataan bahwa ia tidak akan bisa melakukan kegiatan yang biasa seorang anak dan ayah lakukan. Tapi Om Lodu secara perlahan masuk dan mengetuk pintu hati Wonwoo yang telah terkunci dengan hal-hal kecil seperti menikmati kopi hitam bersama.

"Kalau Wonwoo tidak mau cerita, Om yang cerita boleh?" Wonwoo mengangguk mengiyakan dan kembali menikmati kopi hitam dengan 2 sendok gelas itu.

"Dulu sewaktu masih di Sumba, saya sering sekali berhadapan dengan anak remaja yang bertengkar. Terkadang alasannya sepele dan terkadang alasannya tidak pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya. Untuk alasan sepele saya rasa memang wajar, ada masa dimana anak-anak berada pada umur dengan semangat berontak yang tinggi dan emosi yang tidak stabil. Entah bertengkar berebut kekasih atau hanya sebatas saling menyenggol saja. Untuk alasan kedua biasanya membuat saya ikut berpikir ulang tentang prinsip yang selama ini saya jalani" Om Lodu kembali menyesap kopinya dan membuka kaleng wafer rasa coklat yang Ibunya biasa beli di supermarket, mengambil dua wafer dan memberikan salah satunya kepada Wonwoo.

"Tidak semua orang yang melakukan kekerasan itu orang jahat. Saya pernah dimintai tolong oleh teman saya yang bekerja sebagai polisi untuk menemaninya menangkap seorang pembunuh. Seram ya? Sekarang pembunuh itu masih mendekam di dalam penjara. Tapi dia bukan orang jahat. Dia hanya seorang kakak yang begitu menyayangi adiknya hingga siap untuk melawan dunia meski harus mengorbankan dirinya sendiri. Betapa hancurnya perasaan seorang kakak melihat adik perempuannya yang ia rawat dan ia jaga sendirian tanpa bimbingan orang tua diperkosa oleh makhluk yang tidak pantas disebut sebagai manusia" Om Lodu menghentikan ceritanya sejenak dan menatap Wonwoo yang kini tengah meremas kedua tangannya, diusapnya kepalan tangan Wonwoo dan ditepuknya pundak kiri Wonwoo yang menegang mendengar cerita Om Lodu.

"Saya dan teman saya sejujurnya tidak bisa menahan amarah mendengar kesaksian seorang kakak yang menangis menceritakan keadaan yang sesungguhnya. Kami sadar dia bukan orang jahat, keadaan yang memaksanya, perasaan sayang seorang kakak yang menguasai logikanya. Tapi dia bukan orang jahat, dia hanya seorang manusia yang melakukan kesalahan dan harus mempertanggungjawabkannya. Wonwoo itu anak baik, saya bangga sama kamu, Ibu kamu apalagi, bangga sekali dia itu. Neng itu selalu menceritakan tentang kamu kepada saya setiap malam, neng juga menceritakan hal-hal nakal yang pernah dilakukan kamu ketika remaja, tapi itu tidak membuat penilaian saya terhadap kamu menjadi buruk, bukankah semua orang di dunia ini pernah melakukan kesalahan, Wonwoo? Maaf ya saya membuat kamu takut tadi, saya tidak marah kok Wonwoo. Saya tau kamu punya alasan dibalik kejadian ini. Mau mengobrol bersama saya dulu atau mau bersih-bersih langsung?" Pada akhirnya Wonwoo berani menatap kedua mata tegas milik Om Lodu dan merilekskan badannya yang sedari 10 menit lalu menegang secara tidak sadar. Wonwoo tersenyum menatap pria di hadapannya dan menyesap kopi hitam miliknya sekali lagi sebelum beranjak pergi ke kamarnya.

"Wonwoo mau bersih-bersih dulu Om, baru pulang dari rumah sakit. Nanti ngobrolnya dilanjut sehabis Wonwoo selesai bersih-bersih ya Om?" Om Lodu tersenyum sembari mengangguk melihat calon dokter itu yang berhenti berjalan ketika menaiki tangga menuju kamarnya untuk mengatakan kepadanya bahwa ia ingin melanjutkan obrolan antar laki-laki.

"Iya Wonwoo, Om tunggu ya?"

 


 

"Om Lodu orang baik ya?"

"Baik banget, Mingyu. Sampai aku menyesal, dan perasaan menyesalnya sampai sekarang" Mingyu kembali membawa Wonwoo ke pelukannya ketika keduanya duduk di mobil pick up bersandar dengan rumput ilalang milik pak Kades.

 


 

Perubahan yang terjadi di antara suami dan anaknya membuat Ibu Wonwoo menangis terharu, selama satu tahun pernikahan, Wonwoo terlihat menghindari dari Om Lodu, sudah sering sekali Ibunya berusaha untuk menyatukan keduanya, tapi Wonwoo selalu mempunyai cara untuk menghindar. Om Lodu pun hanya tersenyum melihat kepergian Wonwoo ketika Istrinya memutuskan untuk mengajak anak semata wayangnya makan malam bersama. Om Lodu hanya mengucap kalimat hati-hati kepada Wonwoo.

"Ngga apa neng, pelan-pelan ya?"

Kini Wonwoo dan Om Lodu sering sekali menghabiskan akhir pekan atau hari libur Wonwoo untuk pergi memancing, jogging atau berkelana mencari sate ayam madura terenak kesukaan Wonwoo. Keduanya tengah menyantap sate ayam madura di sebuah tenda kaki lima di jalan Sabang.

"Om, kalau Wonwoo belum bisa panggil Bapak, ngga apa kan?"

"Sedari awal Om tidak mau paksain kamu menerima Om kok Wonwoo, terima kasih ya kamu sudah mau membuka diri ke saya"

Setelah sebulan Wonwoo merayakan ulang tahun ke 26 nya, Om Lodu terserang leukemia dan kejadian itu langsung membuat Ibu dan Wonwoo hancur tapi tetap harus saling menguatkan bahwa Om Lodu akan baik-baik saja meski keduanya paham dan mengerti bahwa dokter mengatakan dia tidak bisa memastikan Om Lodu bisa berjuang melawan penyakitnya atau tidak. Om Lodu, sosok pria kuat yang membuat Ibunya jatuh cinta mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, kedua tangan lemahnya mengelus kedua kepala yang menunduk menangisinya di kedua sisi kasur rumah sakit, tertawa perlahan sembari terus mengatakan ‘Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja’

Ibunya yang terlebih dahulu tersenyum melihat senyum dan mendengar tawa suaminya itu, bibirnya terus mengecup tangan suaminya yang terbaring lemah di hadapannya.

"Aa kuat kan?"

"Kuat neng, neng juga kuat kan?"

"Demi aa sama Wonwoo, neng kuat" Kini Om Lodu mengalihkan pandangannya kepada anak laki-laki dari istrinya, dan mengelus rambut hitam anak laki-laki itu.

"Wonwoo itu.. apa ya.. saya juga bingung, Wonwoo itu pemberani, perkataannya sering kali benar, terkadang saya juga merasa takjub melihat kamu tumbuh sebagai anak yang baik, pintar, bijaksana, tegas tapi lembut sekali kepada Ibunya. Menurut saya Ibu berhasil mendidik kamu loh Wonwoo, kalau menurut Wonwoo bagaimana?" Tanpa memutus kontak matanya dengan Om Lodu, Wonwoo mengangguk mantap dan menggenggam tangan Ibunya yang tengah menggenggam tangan sang suami.

"Ibu orang tua terbaik yang Wonwoo punya. Om Lodu juga, Wonwoo ngga pernah punya pikiran untuk merasakan kasih sayang seorang ayah, makasih ya Om udah hadir di hidup Ibu dan Wonwoo, maaf karena Wonwoo terlambat"

"Semua tidak pernah terlambat Wonwoo, maaf ya karena saya pernah membuatmu merasa takut lagi. Maaf ya Wonwoo?"

"Maafin Wonwoo ya Bapak" Runtuh sudah pertahanan Wonwoo, terbuka lah pintu hati Wonwoo. Terdengar klise karena Wonwoo baru bisa mengucap kata ‘Bapak’ ketika dokter meminta ia dan Ibunya untuk mencoba ikhlas atas kondisi Om Lodu. Tapi sejatinya, Wonwoo ingin memanggilnya dengan sebutan yang seharusnya sejak lidahnya mencicip kopi hitam dengan dua sendok gula sore itu. Wonwoo tidak terlambat menyadari bahwa pintu yang ia tutup untuk menerima kedatangan laki-laki dengan status Ayah sebenarnya sudah lama terbuka, tapi lidahnya masih terasa kelu untuk memanggilnya dengan sebutan ‘Bapak’ karena terakhir kali dia memanggil sosok laki-laki dengan sebutan ‘Ayah’ laki-laki itu justru melukai Ibunya dan dirinya.

Selama dua bulan Om Lodu menerima rawat jalan, dan sesekali harus kembali menginap di rumah sakit untuk menerima kemoterapi. Wonwoo pun semakin mantap memanggil laki-laki itu dengan sebutan Bapak. Jika tubuh sang Bapak terasa segar, Bapak akan mengajak Wonwoo pergi memancing atau jalan-jalan sore di taman komplek rumah mereka. Meski badannya terlihat lemas, sorot mata Bapak masih terasa sama, tegas dan kuat seperti Bapak yang Wonwoo kenal.

Hingga bulan desember, tubuh bapak tidak kuat lagi menerima kemoterapi dan sel darah putih terus menggerogoti bapak. Bapak pergi menghembuskan nafas terakhirnya di kasur rumahnya, tempat ternyaman menurut Bapak. Bapak telah pergi meninggalkan Wonwoo yang terlambat untuk mengenal sosok laki-laki kuat itu. Kepergian Bapak membuat Wonwoo begitu merasa kehilangan, tiga tahun pernikahan Ibunya dengan Om Lodu meninggalkan kenangan yang lebih berharga dibanding kenangannya dengan sang Ayah kandung.

 


 

"Terus sekarang Wonwoo kesini mau ngapain?" Tanya Mingyu setelah mendengarkan seluruh cerita Wonwoo dan membantu menenangkan Wonwoo yang sesekali terisak mengingat sosok sang Bapak yang hanya ia kenal selama 3 tahun lamanya. Wonwoo menggeleng perlahan mendengar pertanyaan Mingyu. Kini keduanya tengah duduk di ruang tamu rumah kontrakan milik Wonwoo di desa Pambota Jara sembari meminum secangkir kopi hitam dengan gula dua sendok.

"Ngga tau Mingyu, mau cari Bapak, tapi ngga tau mau cari darimana" Mingyu paham apa yang dimaksud Wonwoo, dia tidak mencari sosok sang Bapak secara harfiah, yang Wonwoo cari adalah kenangan yang tertinggal di desa ini, tanah kelahiran Om Lodu.

"Kalau.. aku temenin, boleh?"

"Boleh"

 


 

Esok harinya Mingyu terbangun di kasur yang dilapisi sprei berwarna abu-abu dan selimut yang senada, di sampingnya ada Wonwoo yang tidur meringkuk dan sedikit kedinginan karena selimutnya yang tersingkap ketika Mingyu duduk dari posisi tidurnya. Mingyu memastikan selimut abu itu sepenuhnya menutupi tubuh Wonwoo sebelum ia berdiri dari kasur dan berjalan menuju dapur rumah Wonwoo dengan hanya boxer hitam yang menutupi tubuhnya.

Mingyu melihat jam yang menunjukkan pukul 6 pagi, ia tidak tau kapan Wonwoo harus bangun dan bersiap untuk bekerja, tapi melihat hari kemarin ia paham bahwa Wonwoo tidak boleh bangun lebih dari pukul 7. Dibuatnya dua cangkir kopi hitam dengan dua sendok gula, kopi kesukaan Bapak dan Wonwoo sebagai sarapan Mingyu dan Wonwoo. Sebenarnya Mingyu ingin memasak sesuatu untuk Wonwoo, tapi ia merasa bahwa itu kurang sopan karena mereka baru berkenalan selama satu hari. Lamunan Mingyu terhenti ketika bahunya disentuh oleh Wonwoo yang saat ini menggunakan kaos putih miliknya dan masih mengusap kedua matanya.

"Kok ngga bangunin aku, Mingyu?"

"Kayanya kamu capek banget, mau kopi? Gulanya dua sendok. I hope you like it" Wonwoo tersenyum melihat sebuah cangkir di hadapannya serta melihat senyum Mingyu yang sedari awal telah memikat hatinya. Kedua tangannya menerima cangkir itu dan bibirnya memberikan kecupan singkat di bibir Mingyu.

"Thank you, Mingyu"

"Wonwoo.."

 


 

Mingyu melangkahkan kakinya ke homestay tempat dirinya dan kedua sahabatnya menginap selama dua hari kedepan, hari ini seharusnya kedua calon pengantin datang untuk memulai proses pemotretan. Setelah sarapan dengan secangkir kopi dan roti bakar di rumah Wonwoo, mereka bersiap bersama-sama dan berjalan dari rumah Wonwoo hingga puskesmas dan kembali ke homestay. Langkahnya ringan, senyumnya lebar, tapi ia lupa bahwa kedua temannya sudah menunggunya sejak kemarin sore.

"Masih inget kita lo?"

"Diculik siapa lo?" Mingyu yang baru saja membuka pintu homestay seketika dibombardir pertanyaan dari teman-temannya dan juga tas kecil milik Minghao yang melayang dan tepat mengenai dadanya. Tatapan kedua sahabatnya itu sungguh mematikan, siap memukul Mingyu jika ia bergerak sedikit saja.

"Sorry.. sorry.. maaf deh sumpah, lupa banget gue.."

"Untung lo pulang sumpah deh, terus si Soonyoung juga belum dateng, kalau udah dateng gue gorok leher lo sumpah" Itu Minghao dengan tatapannya yang masih saja tajam, Minghao terlihat sudah jauh lebih baik dari kemarin, terdengar dari bagaimana cara Minghao memaki kebodohan Mingyu.

"Jadi lo habis dari mana aja, perasaan lo ngga ada urusan lain disini selain kerja bareng kita" Seokmin menekan kata kerja dan membuat Mingyu meringis takut karena jika Seokmin marah dan melayangkan tinju, maka Mingyu benar-benar habis.

"Boleh cerita sambil sarapan di warung kemarin ngga? Laper nih belum isi nasi" Akhirnya ketiga sekawan itu memutuskan untuk segera berangkat dan sarapan sebelum menemui client mereka di pintu masuk bukit.

 


 

"Pake kondom ngga?" Mingyu seketika melotot dan tersedak ayam kuah kuningnya sesaat setelah mendengar pertanyaan dari Minghao yang sangat vulgar dan membuat Ibu warung tertawa melihat ketiganya. Minghao terlihat biasa saja, Mingyu tersedak dan Seokmin tertawa renyah.

"Bisa ngga fokus kesitu ngga sih? Lagian gue ngga cerita gue ngapain kan?"

"Sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya tercium juga. Iya ngga bu?"

"Betul kak" Seokmin yang melihat Ibu warung tertawa sebelumnya, secara sengaja justru mengajak Ibu warung untuk ikut kedalam perbincangan tiga sekawan itu. Ibu yang paham dengan maksud Seokmin menjawab sembari mengacungkan jempolnya dari balik etalase makanan.

"Lo pulang pakai baju kemarin, baunya nempel tolol"

"Ya sorry"

"Terus udah nih, jalur kuning kan ngga melengkung tuh akhirnya, tapi kan habis kerjaan ini kelar lo cabut Gyu, pak dokter mau lo gimanain?"

"He said he will wait, I’ll be back" Minghao yang telah selesai dengan sarapannya kini kembali menanggapi percakapan kedua sahabatnya itu.

"Biarin aja Seok, Mingyunya udah gede. Tapi beneran kan Gyu? Serius sama yang ini?" Kini giliran Mingyu yang menyelesaikan makanannya

"Gue ngga pernah main-main sama orang Hao"