Work Text:
Jam menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh menit, Jeonghan seharusnya sudah terlelap sedari tadi. Tubuhnya sudah direbahkan di atas ranjang dengan seprei abu-abu miliknya, gigi sudah digosok dengan seksama, kaki dan tangannya sudah dicuci bersih sedemikian rupa, serta pewangi ruangan yang selalu berhasil menenangkan dan memperbaiki moodnya pun sudah dipilih untuk menemani tidurnya malam ini. Namun entah mengapa matanya tidak kunjung bisa terpejam, pikirannya pun masih melayang kemana-mana memikirkan banyak hal yang entah nyata ataupun sebuah khayalan belaka. Padahal esok ia harus menghadiri kelas pagi di kampusnya dengan dosen yang kelewat killer.
Tangannya yang semula digunakan untuk memeluk guling kini bergerak meraih ponselnya yang sedang disii daya sejak kira-kira satu jam yang lalu. Ia membuka beberapa akun sosial medianya, menggeser setiap foto dan video yang lewat di berandanya sambil sesekali menekan tombol hati tanda bahwa ia menyukai unggahan tersebut. Sampai kemudian satu notifikasi pesan singkat masuk ke dalam ponselnya.
Seungcheol: knp blm tidur?
Jeonghan mengernyitkan dahinya. Agak was-was karena bagaimana bisa laki-laki bernama Seungcheol itu mengetahui aktivitasnya. Apa dia memasang kamera pengintai di kamar Jeonghan?
Jeonghan: dude how tf do u know?
Seungcheol: km barusan like fotoku?
Jeonghan kembali membuka aplikasi Instagramnya yang memang belum sempat ia tutup sepenuhnya dan menyadari bahwa ibu jarinya tidak sengaja memberi warna merah pada tombol hati di sebuah foto yang Seungcheol unggah beberapa jam yang lalu. Foto dimana Seungcheol terlihat tersenyum menampilkan deretan giginya sembari memandang ke arah kanan dan tangannya memegang segelas minuman yang ia yakini adalah salah satu menu dari kafe di dekat kampus tempat mereka biasa menghabiskan waktu. Cute.
Jeonghan: oh well gak bisa tidur
Seungcheol: knp? Besok kelas pagi kan
You see, this is why sometimes Jeonghan ‘hates’ Seungcheol. Karena pria itu seakan-akan tahu dan mengerti hampir seluruh seluk-beluk hidupnya. Kapan dan dimana jadwal kelas Jeonghan, makanan favorit Jeonghan, makanan yang tidak disukai Jeonghan, film atau serial baru mana yang kira-kira Jeonghan akan nikmati dan rela menontonnya dalam satu malam, tempat-tempat mana saja yang kiranya Jeonghan akan pilih atau tuju untuk tempat mereka mengerjakan tugas atau hanya untuk menghabiskan waktu bersama, siapa saja yang berada di daftar ‘buronan’ dalam hidup Jeonghan – orang yang ia benci, yang membencinya, yang pernah menyinggungnya atau melakukan apapun yang membuat mereka layak masuk ke dalam daftar tersebut – sampai ke kebiasaan-kebiasaan kecil yang Jeonghan selalu lakukan entah secara sadar maupun tidak sadar.
Mungkin memang semuanya terjadi begitu saja secara natural sejak mereka menjadi teman dekat sekitar hampir tiga tahun yang lalu, ketika keduanya masih menyandang status sebagai mahasiswa baru. Seungcheol dan Jeonghan dipertemukan dalam satu kelompok orientasi yang berisi mahasiswa-mahasiswa baru dari berbagai jurusan di fakultas mereka. Merasa cocok, pertemanan mereka kemudian bergulir hingga sekarang menjadi mahasiswa semester lima. Jeonghan sendiri sebenarnya tidak pernah ambil pusing soal bagaimana Seungcheol selalu hadir dalam hidupnya, toh memang itu yang seharusnya seorang teman lakukan? Namun terkadang beberapa orang di sekitar mereka berkali-kali mengatakan bahwa seharusnya mereka berkencan saja. We all can see it in your eyes, katanya.
Bahkan ada beberapa saat dimana Seungcheol memperlakukan Jeonghan lebih daripada seorang teman berperilaku pada umumnya, memberikan perhatian khusus atau melakukan hal-hal kecil yang dapat membuat teman-teman mereka lainnya saling bertukar pandang. Mungkin memang benar Seungcheol menaruh hati kepada Jeonghan, menyukainya lebih dari bagaimana seorang teman menyayangi sahabat dekatnya sendiri. Namun Jeonghan tidak pernah menaruh perhatian lebih soal itu. Ia membiarkan pikiran tersebut lewat begitu saja tanpa ada kemauan untuk memahaminya lebih dalam, terlebih menanyakan soal hal tersebut secara langsung kepada Seungcheol.
Bukan tanpa sebab, pasalnya Jeonghan bukan tipe laki-laki yang suka berkencan. Ia belum pernah dekat sampai harus menjalin hubungan dengan siapapun dalam hidupnya selama ini. Kalau ditanya apa alasannya, Jeonghan sendiri tidak tahu dan tidak pernah mau mencari tahu alasannya. Buang-buang waktu. Masih banyak hal yang lebih penting yang bisa ia pikirkan dalam hidupnya. Oh atau itu mungkin alasannya, berkencan sama dengan buang-buang waktu.
Jeonghan: bla bla bla ya gimana org gak bisa tidur
Jeonghan: km sendiri knp masih melek?
Jeonghan: anak fakultas mana lagi yang lagi kamu deketin haha
Jeonghan tau sejarah berkencan Seungcheol. Tidak sampai sepanjang daftar belanja bulanan milik ibunya, tapi cukup beragam dan berkesan. Baik bagi Seungcheol maupun Jeonghan. Seungcheol adalah tipe pria yang akan memperkenalkan orang yang sedang menjalin hubungan dengannya kepada teman-teman terdekatnya, membuat Jeonghan bisa dengan mudah menyebutkan wanita-wanita – dan pria – yang pernah dekat dengan Seungcheol dalam urutan kronologis secara tepat. Kebanyakan dari hubungan-hubungan tersebut, sifatnya tidak pernah serius dan hanya berjalan dalam jangka waktu beberapa bulan saja. Sesuatu yang Jeonghan simpulkan bahwa semuanya adalah fase tertentu saja bagi Seungcheol. Teorinya itu makin dibuktikan dengan fakta bahwa sekali waktu Seungcheol pernah tertarik dengan salah satu adik tingkat mereka di kampus, seorang lelaki dengan tampilan nyentrik, rambut panjang sampai menyentuh pangkal leher, dan memiliki ketertarikan yang luar biasa terhadap seni. Kalau tidak salah Minghao namanya. Namun kala itu Seungcheol masih meyakinkan pada dirinya sendiri bahwa mungkin itu hanya sebuah kekaguman biasa saja, bukan rasa ketertarikan layaknya ia tertarik dengan wanita-wanita pintar nan cantik di kampus mereka selama ini. Jeonghan hanya mengangguk saja, lagi-lagi semakin yakin bahwa jika memang Seungcheol menyukainya – seperti yang teman-teman mereka katakan – maka itu semua hanyalah sebuah fase, toh ia juga tidak akan merasa keberatan. Its only Seungcheol after all.
Seungcheol: ngaco, aku lg ngerjain tugas
Seungcheol: lg gak deketin siapa-siapa
Jeonghan: really?
Seungcheol: [sent a picture]
Seungcheol: see? Gak ada siapa-siapa di room chatku
Jeonghan: lol gak perlu klarifikasi juga sih
Tawa kecil keluar dari mulut Jeonghan. Ia melanjutkan kegiatannya semula, bermain-main di sosial media miliknya yang lain, mencoba melihat kegiatan macam apa yang teman-temannya lakukan seharian ini. Satu pesan singkat kembali masuk.
Seungcheol: tidur Han, kantung matamu nanti makin keliatan
Jeonghan: ??? yg penting aku masih keliatan cakep???
Seungcheol: you know that you always do
Seungcheol: looking good is one of your greatest ability
Jeonghan: awwww jadi gini rasanya ya jadi cewe-cewe yang kamu gombalin itu selama ini
Jeonghan: thank you tho for the free-pass experience
Jeonghan: lol
Seungcheol: aku serius
Jeonghan: i know i know
Jeonghan: udh deh bye tiba2 ngantuk
Jeonghan: see u at campus
Seungcheol: good night, han
Seungcheol: aku bsk kelas siang, ketemu waktu makan siang
Jeonghan: ok
Seungcheol: good night, han
Jeonghan: you’re obsessed with me that much sampai harus ucapin good night dua kali cheol?
Jeonghan: lol good night too
Seungcheol: 😊
“Anjing!”
Belasan pasang mata mengalihkan pandangan mereka ke sumber suara yang terdengar cukup keras barusan. Termasuk seorang lelaki yang sedari tadi sibuk membaca tulisan di sebuah buku tebal di hadapannya. Sebuah tatapan mematikan diberikan lelaki tersebut kepada Jeonghan yang menutup mulutnya malu.
“Sorry.”
“Kita di perpusatakaan kalau kamu lupa,” Jihoon berbisik rendah sambil mendekatkan badannya ke arah Jeonghan. Mengingatkan kepada pria itu untuk bersikap lebih hati-hati dan menjaga lisannya.
“Kan aku sudah minta maaf.”
“Emang salah ajak kamu ngerjain tugas di perpustakaan, seharusnya kita di kafe aja.”
Jihoon hendak membereskan barang-barang bawannya dan beranjak dari duduknya ketika Jeonghan menarik tangannya cepat untuk tetap diam seperti semula. Tidak mau meninggalkan tempat itu.
“Disini aja, I’ll behave.”
Mata Jihoon memicing tajam mengamati Jeonghan sedang yang dipandang hanya tertawa kecil khas anak kecil yang nakal. Jeonghan mengisyaratkan Jihoon untuk melanjutkan kembali kesibukannya, membaca buku untuk mencari referensi yang akan mendukung papernya itu. Jeonghan sendiri kembali membuka ponselnya dan melanjutkan mengulang salah satu ronde game yang belum bisa ia menangkan sejak kemarin.
“Tugasmu nggak akan selesai kalau kamu malah fokus main game by the way.”
“Satu kali lagi terus nanti lanjut ngerjain.”
Jihoon hanya memutar bola matanya malas. Ia sendiri heran, bagaimana Jeonghan dapat bertahan selama beberapa semester terakhir perjalanan akademik mereka memang patut dipertanyakan. Anak itu kerap kali memandang remeh tugas yang diberikan oleh dosen-dosen mereka, memaksimalkan jatah ‘bolos’ yang diberikan pada tiap kelas yang ia ambil, menjelang ujian akhir pun belajarnya juga selalu setengah-setengah. Namun ajaibnya, Jeonghan tetap mendapatkan nilai akhir yang memuaskan, bahkan mungkin beberapa kali lebih memuaskan dibandingkan dengan nilai Jihoon atau nilai teman-teman mereka lainnya yang memang mati-matian belajar dan berusaha untuk mendapatkan hasil sempurna.
Beberapa orang – termasuk Jeonghan – menilai bahwa hal tersebut sepertinya tidak lain dan tidak bukan memang sebuah ‘anugerah’ tersendiri dari Tuhan yang Jeonghan miliki, bahwa ia sudah cerdas dan hanya perlu usaha kecil untuk bisa memenuhi ekspektasi kehidupan. Jihoon justru pernah menyeletuk bahwa mungkin saja keberuntungan yang Jeonghan miliki ini adalah hasil baik dari sikap acuh tak acuh Jeonghan yang ia miliki selama ini, bahkan terlampau acuh sampai tidak pernah terpikirkan olehnya untuk menjalin kedekatan dengan seseorang. Hanya segelintir teman yang Jeonghan merasa nyaman untuk bisa berada di dekat mereka, itupun ia tidak pernah menaruh perhatian yang teramat dalam kepada mereka. Sisa waktu hidup Jeonghan hanya dihabiskan untuk fokus kepada dirinya sendiri dan bersenang-senang dengan caranya sendiri.
“Han.”
“Apa?”
Jeonghan mematikan gamenya, tangannya bergerak menyentuh touchpad laptop di hadapannya sebagai upaya untuk menghidupkan layarnya. Ia mengetikkan beberapa huruf kata sandi ke dalam laptopnya dan kembali membuka file tugasnya yang sebenarnya sudah setengah jalan.
“Habis ini mau kemana?”
“Nggak tahu, mungkin ketemu Seungcheol. Sejam lagi kelasnya harusnya udah selesai.”
Ah Seungcheol. Jihoon hampir melupakan eksistensi Seungcheol di kehidupan Jeonghan. Teman terdekatnya yang – menurut Jihoon – terlampau dekat. Semua orang di sekitar mereka kiranya juga paham bahwa Seungcheol selama ini menaruh hati kepada Jeonghan. Meski memang pria itu mengencani beberapa wanita lain dalam hidupnya namun hal tersebut tidak mengubah fakta bahwa satu-satunya orang yang ia sayangi adalah Jeonghan.
Semua gerak-gerik yang Seungcheol lakukan selama ini terlalu jelas dan eksplisit. Bagaimana pria itu memperlakukan Jeonghan, berbicara kepada Jeonghan dengan nada yang lebih halus dibandingkan dengan ketika ia berbicara kepada teman-teman lainnya, dengan senang hati akan menjemput atau mengantar Jeonghan tiap kali kendaraan milik Jeonghan rewel tidak mau dinyalakan, selalu khawatir kala Jeonghan jatuh sakit, dan berusaha semaksimal mungkin untuk melindungi Jeonghan.
Satu hal yang Jihoon tidak pahami adalah kenyataan bahwa Seungcheol belum pernah mencoba menyatakan perasaannya terhadap Jeonghan selama ini dan bagaimana Jeonghan nampaknya kelewat tidak peduli untuk menyadari bahwa Seungcheol diam-diam menyukainya selama ini. Atau mungkin memang keduanya sama-sama terlampau bodoh saja.
Ngomong-ngomong soal bodoh, berbeda dengan Jeonghan yang memang sudah secara ‘ajaib’ cerdas dari lahir, baik secara akademis atauupun hal-hal yang bersifat practical dalam hidup, Seungcheol berbeda. Seungcheol adalah tipe pribadi yang harus benar-benar menaruh sepenuh-penuhnya konsentrasi terhadap sesuatu yang ia ingin kuasai. Baik pelajaran-pelajaran di sekolah, pengetahuan-pengetahuan umum yang sebenarnya mudah saja didapatkan informasinya dari internet, ataupun kemampuan berolahraga seperti sepak bola atau basket. Ini yang kemudian menjadikannya sering kali terlihat sebagai seorang cupu dan kutu buku. Meski kenyataanya tidak sepenuhnya benar, Seungcheol hanya membutuhkan waktu tersendiri untuk dapat lepas dari teman-temannya sejenak agar ia dapat fokus terhadap hal-hal yang ia gemari.
Mereka yang mengenal Seungcheol dengan baik sudah sepenuhnya hafal dan mengerti akan sikap Seungcheol yang demikian, terlebih Jeonghan. Ia tahu betul bahwa temannya itu memang punya cara uniknya untuk bisa tenggelam dalam dunianya sendiri dan ia tidak pernah keberatan soal itu. Toh bagaimanapun, itu semua kan hanya yang terlihat dari permukaan oleh orang-orang luar saja, sifat asli Seungcheol hanya dapat muncul ketika pria itu berada di sekeliling orang yang memberikan kenyamanan tertentu untuknya. Namun terkadang, tidak dapat dipungkiri bahwa pandangan orang-orang cukup mengganggu Jeonghan. Opini-opini orang tentang Seungcheol yang terlalu polos harus berteman dengan Jeonghan yang sifatnya teramat ‘playful’. Orang-orang itulah yang masuk ke dalam daftar ‘buronan’ Jeonghan. Lain dengan Seungcheol yang hampir tidak pernah memperhatikan pendapat-pendapat tersebut. Entah kelewat polos atau memang naif saja.
“Mau ikut makan bareng aku nggak?” Jihoon menawarkan sebuah ajakan makan siang kepada Jeonghan.
“Seungcheol gimana? Ajak juga ya? Tunggu kelas dia selesai dulu.”
“Aku udah keburu kelaparan kalau harus tunggu kelas dia selesai, lagian ini juga bareng teman-teman organisasiku. Nanti kalau memang Seungcheol mau ikut ya suruh susul aja.”
“Sekarang banget?”
“Ya… lima belas menit lagi deh. Ini teman-temanku lagi pada di jalan.”
“Memangnya mau makan dimana?”
“Ada rumah makan situ lah pokoknya.”
“Ya udah, aku kabarin Seungcheol dulu kalau gitu.”
Jeonghan melepas sepatu yang ia kenakan dan meletakannya di sebuah rak yang terletak di teras rumahnya. Sepasang sepatu berwarna putih yang tergelatak di dekat pintu berhasil menarik perhatiannya, pasalnya ia tahu jelas siapa pemiliki sepatu itu. Jeonghan dengan sigap masuk ke dalam rumahnya dan berteriak menanyakan soal keberadaan pemilik sepatu tersebut.
“Ma? Seungcheol disini?!” suaranya menggelegar ke hampir seluruh penjuru rumahnya. Langkahnya dilanjutkan memasuki ruang tengah milik keluarganya. Hampir saja ia berteriak lagi karena pertanyaannya tadi tidak kunjung dijawab oleh sang ibu, namun manik matanya menangkap kehadiran dua sosok yang sedari tadi ia cari kemunculannya.
“Jangan teriak-teriak kan bisa, Jeonghan.”
“Seungcheol kok tiba-tiba disini?” nada tanya Jeonghan penuh selidik dan sedikit menggoda.
“Aku mau kembalikan bukumu yang minggu lalu aku pinjam, tadi waktu kesini aku kira kamu sudah pulang ternyata belum. Tadinya aku mau kabarin kamu tapi keasikan ngobrol dengan tante Yoon.”
Yang disebut namanya hanya tersenyum kecil. Wanita itu kemudian mengisyaratkan kepada Jeonghan untuk mengajak Seungcheol masuk ke kamarnya saja. Sebuah alasan tersendiri untuknya bisa bersantai menonton televisi dari gangguan anak-anak muda itu. Jeonghan tentu dengan sennag hati mengajak Seungcheol untuk masuk ke dalam kamarnya, toh ia juga tidak sabar untuk menceritakan suatu hal yang terjadi ketika dirinya dan Jihoon makan siang bersama teman-teman Jihoon tadi.
“Udah simpan di meja itu aja dulu bukunya, Cheol. Nanti aku beresin”
Seungcheol hanya mengikuti perintah Jeonghan dengan patuh. Ia meletakkan buku-buku yang sedari tadi berada di genggamannya ke atas meja belajar milik Jeonghan yang berantakan. Kertas-kertas bertuliskan catatan tangan Jeonghan berserakan dimana-mana, sebuah buku tebal terlihat diletakkan begitu saja di ujung meja, hingga beberapa lembar foto Jeonghan dan teman-temannya yang belum sempat ditempel di figura tempat koleksi foto Jeonghan berada juga ikut tergeletak disana.
“Kamu nggak ada niat untuk beresin mejamu ini?”
Jeonghan mendecak kecil, “Ada, tapi nanti kalau tugasku sudah selesai semua.”
“Aku beresin aja, boleh?”
“Jangan! Nanti aku bingung cari barang-barangnya. Udah sini duduk.”
Jeonghan menepuk sisi kasurnya yang kosong, mengajak Seungcheol untuk duduk di hadapannya. Tangannya sekarang bergerak menekan-nekan tombol remote televisi. Memilih tontonan di salah satu platform streaming digital kesukaannya.
“Kamu udah makan belum?”
Seungcheol mengangguk.
“Kenapa tadi nggak jadi nyusul?”
“Jun ngajakin beli kopi.”
“Mana kopinya?”
“Udah habis.”
“Terus sekalian makan?”
“Iya.”
Jeonghan mengangguk mengerti. Ia kemudian kembali fokus memperhatikan tayangan di televisinya, serial yang akhir-akhir ini sedang ia ikuti dengan seksama. Begitupun dengan Seungcheol, bedanya ia sudah lebih dulu menyelesaikan satu episode lebih awal daripada Jeonghan, jadi sekarang ini Seungcheol hanya bisa mengikuti Jeonghan untuk menonton ulang episode tersebut.
“Teman-teman Jihoon tadi siapa aja?”
“Banyak, aku lupa nama-namanya.”
“Cowok semua?”
“Iya. Nggak ada yang cewek, nggak ada yang bisa aku kenalin ke kamu.”
“Bukan gitu maksudku.”
“Terus apa?” Jeonghan tertawa kecil. Tahu sekali kalau dia sedang menggoda Seungcheol sekarang.
“Cuma tanya.”
“I see..”
“Jangan ngeledek begitu, aku beneran cuma tanya.”
“Iya aku tahu. By the way, ada satu teman Jihoon tadi yang tiba-tiba minta kontakku.”
“Oh ya? Kamu kasih alasan apa lagi buat nolak?”
Seungcheol hafal betul bahwa selama ini Jeonghan akan selalu menolak siapapun yang meminta kontaknya karena pria itu tahu bahwa mereka-mereka pasti memiliki ketertarikan terhadap Jeonghan hingga ingin kenal lebih dekat dengannya. Padahal Jeonghan sama sekali tidak punya minat untuk berada di sebuah hubungan romansa.
“Nggak, aku kasih kok nomorku.”
Kini Seungcheol mengalihkan pandangannya penuh ke arah Jeonghan. Cukup terkejut dengan jawaban yang baru saja ia lontarkan.
“Tumben?”
“Nggak tahu, tadi aku pikir kayaknya wont hurt juga. Orangnya asik juga, penampilannya juga oke-oke aja, so I guess why not?”
Ada kekehan kecil keluar dari mulut Seungcheol. Sejujurnya ia tidak percaya bahwa hari dimana seorang Yoon Jeonghan akhirnya bisa diluluhkan juga ternyata datang di hari ini. Tahu begitu seharusnya tadi ia menyusul Jeonghan saja agar ia dapat melihat langsung penampakan pria yang dimaksud tersebut. Sebagai teman yang baik sudah sewajarnya Seungcheol merasa ingin tahu dan ingin memastikan bahwa Jeonghan tidak salah pilih. Right?
“Terus sekarang udah chatting?”
Buru-buru Jeonghan mengecek notifikasi di ponselnya. Ada satu pesan singkat masuk beberapa menit yang lalu dari sebuah kontak yang belum ia simpan.
“Ini barusan dichat.”
Seungcheol hanya tersenyum sembari mengangguk-anggukkan kepalanya. Tatapannya memperhatikan bagaimana Jeonghan mengetik beberapa kalimat balasan untuk orang di ujung sana. Senyuman-senyuman kecil terlihat menghiasi Jeonghan tatkala ia mendapat balasan dari pria itu, Seungcheol sendiri tidak dapat membendung senyumannya tanda bahwa ia ikut senang dengan apa yang Jeonghan rasakan saat ini. Meski kalau boleh jujur, ada sedikit – banyak – bagian dari hatinya berdesir dan berdegup secara tidak nyaman tatkala ia tahu perhatian Jeonghan kini akan lebih banyak diberikan kepada pria itu. Seungcheol tahu bahwa ia menyayangi Jeonghan, ia rela melakukan apapun untuk Jeonghan agar temannya itu bahagia, ia juga berjanji akan ikut merasa senang jika suatu saat Jeonghan merasakan kebahagiaan. Tapi yang kali ini, mengapa rasanya cukup sulit untuk dilakukan?
“Seungcheol!”
Jeonghan mengetuk pintu rumah Seungcheol dengan tak sabaran. Mulutnya juga berkali-kali meneriakkan nama Seungcheol untuk segera membuka pintunya. Seungcheol tinggal sendiri di rumah orang tuanya, sedangkan Ayah dan Ibu Seungcheol kini sedang tinggal di negara tetangga karena Ayah Choi ditugaskan kantornya untuk mengelola kantor cabang disana, kalau kakaknya sudah menikah tahun lalu jadi otomatis sudah hidup terpisah dengan keluarganya.
“Seungcheol!”
Jam masih menunjukkan pukul Sembilan pagi, di hari Sabtu, dengan cuaca yang agak mendung, semua orang juga pasti akan memilih untuk tetap berada di kasur dan kembali menarik selimut terbang ke alam mimpi. Tapi tidak dengan Jeonghan. Pagi ini ia terbangun dengan satu pesan singkat dari Taejoon – lelaki yang sedang dekat dengannya – yang berisi ajakan kencan. Dengan pengalaman nol besar dalam urusan percintaan, Jeonghan tentu saja panik dan tidak tahu harus berbuat apa untuk menanggapi ajakan tersebut. Satu-satunya hal yang dapat ia pikirkan adalah dengan cepat pergi ke rumah Seungcheol untuk meminta beberapa saran dan nasihat yang tepat.
“Seungch-“
Pintu terbuka dengan kasar, menampilkan Seungcheol dengan rambut kusut berantakan, wajah memerah dan agak bengkak khas tampilan bangun tidur serta – wow – badan bagian atasnya yang terekspos hingga ke pinggang karena Seungcheol selalu tidur tanpa memakai atasan.
“Oh, Jeonghan!”
Seungcheol yang semula masih terlihat kurang bernyawa itu seketika terbangun sepenuhnya tatkala menyadari bahwa seseorang yang memanggil namanya sejak tadi adalah Jeonghan.
“Seungcheol, good morning maaf aku ganggu sabtu pagimu, oh hey… looking good there.”
Jeonghan menaik turunkan alisnya sambil memandang ke arah perut Seungcheol yang mulai terlihat berotot. Seungcheol buru-buru menutupinya dengan lengannya agar Jeonghan tidak menggodanya lebih jauh.
“Morning too, ada apa Jeonghan?”
“Oh iya, Seungcheol I need your help!”
Tanpa menunggu ajakan masuk dari Seungcheol, Jeonghan begitu saja mempersilakan dirinya sendiri untuk masuk ke dalam rumah Seungcheol. Ia buru-buru duduk di ruang tengah rumah tersebut sembari tangannya membuka notifikasi yang ia dapat dari Taejoon semalam. Seungcheol sendiri hanya membiarkan Jeonghan melakukan itu semua, ia justru kini sedang sibuk mencari kaos untuk menutupi badannya dan memakai kacamata yang ia selalu letakkan di meja kecil sebelah kasurnya.
“Kamu harus tahu Seungcheol, semalam Taejoon mengirim pesan.” Jeonghan berbicara agak berteriak, mengingat Seungcheol masih berada di kamarnya sedang memakai pakaian.
“Apa katanya?” Seungcheol balas berteriak. Ia kemudian bergabung dengan Jeonghan untuk duduk di ruang tengah. Kacamatanya ia benarkan letak posisinya sambil menerima ponsel yang Jeonghan ulurkan untuk membaca pesan singkat yang ia maksud.
“Wow, kapan mau kencannya?”
“Dude, don’t you get it?”
“Apa?”
“Ini aku harus balas apa? I have no fucking clue about dating and shit, aku harus apa? Tanya tanggalnya? Tempatnya? Atau langsung aja aku iyain sekarang.”
“Jeonghan, relax. Kamu kedengaran kayak panik banget. Kamu balas saja kapan dan dimana? Tunggu dia balas apa nanti, kalau dia minta kamu yang menentukan ya kamu tinggal pikir aja mau kemana dan kapan.”
Jeonghan hanya mengikuti saran Seungcheol. Membalas pesan Taejoon dengan persis seperti apa yang Seungcheol katakan. Beruntungnya, Taejoon cepat merespon pertanyaan Jeonghan dan menjawabnya dengan kalimat yang membiarkan Jeonghan untuk memilih dan menentukan tempat serta tanggal mereka akan berekencan. Jeonghan mencoba untuk menegosiasi bahwa Taejoon lah yang seharusnya menentukan, toh pria itu yang lebih dulu mengajak namun sialnya Taejoon tetap bersikeras meminta Jeonghan yang memilih.
“Anjing buang-buang waktu.”
Seungcheol terkejut dengan Jeonghan yang tiba-tiba saja mengumpat di sebelahnya.
“This is why I don’t date, kenapa sih ribet banget mau pergi kemana aja kayak nggak bisa mikir. Dia yang ajak kenapa aku yang repot.”
“Dia suruh kamu yang nentuin?”
“Iya! Stupid ass man, aneh. Udahlah aku jawab aja nanti aku pikir dulu.”
Seungcheol tertawa melihat tingkah Jeonghan. Menurutnya Jeonghan terlihat sangat menggemaskan jika sedang merasa jengkel dan kesal seperti saat ini.
“Kamu memang seharusnya coba-coba kencan Han, biar nggak seperti ini. Besok kalau kamu ketemuan berdua langsung sama dia gimana coba?”
Jeonghan tertegun. Benar juga yang dikatakan Seungcheol barusan. Kencannya dengan Taejoon besok akan menjadi kencan pertama dalam hidupnya dan ia tidak punya pengalaman sama sekali soal berkencan. Selama ini ia selalu pergi keluar dengan orang-orang terdekatnya saja, ketika pergi berdua pun seringnya ia pergi dengan Jihoon atau Seungcheol. Apalagi kali ini mereka sama-sama tahu bahwa Taejoon punya intensi tersendiri untuk lebih dekat dengan Jeonghan dan menjalin hubungan romansa. Apa mungkin ia perlu berlatih menjadi seorang kekasih? Berlatih pura-pura berada di dalam sebuah hubungan percintaan?
“Aku rasa kamu harus latihan dulu, Han.”
Bagaikan cenayang, Seungcheol seakan-akan dapat membaca pikiran Jeonghan.
“Iya kan? Aku mungkin harus cari kelas gitu deh kayak boyfriend 101 atau apa ya ada seminar gitu tentang itu nggak sih.”
“Bukan gitu yang aku maksud, latihan aja pura-pura pacaran.”
Jeonghan tertawa kecil meremehkan, “Sama siapa?”
“Aku?”
Mata Jeonghan membelalak kaget mendengar jawaban Seungcheol. Bagaimana bisa pria ini memiliki ide luar biasa unik dan nyeleneh seperti ini.
“Ngaco!”
“Oh, come on. Kita berdua tahu aku expert at this jadi aku bisa kasih kamu panduan dan tips untuk kencanmu besok. Lagipula kan ini cuma aku, bukan orang asing sembarangan.”
“Nggak deh, ngeri.”
“Come on Han, it will be fun.”
Jeonghan terdiam. Sejujurnya ia membayangkan berbagai scenario layaknya pasangan kekasih yang dapat terjadi di antara dirinya dengan Seungcheol. Meskipun hanya sebuah sandiwara belaka, Jeonghan pikir sepertinya akan cukup menyenangkan dapat menghabiskan banyak waktu dengan Seungcheol seperti orang yang sedang dimabuk asmara. Namun satu hal yang ia khawatirkan, bagaimana bisa pertemanan mereka nantinya berjalan dengan normal setelah sandiwara ini berakhir.
“Ya tapi kan…”
“Ya terserah kamu sih mau dibantu apa nggak…”
Desahan nafas panjang keluar dari mulut Jeonghan.
“Oke, tapi cukup dua hari aja. Hari ini sama besok, sisanya aku cari tahu sendiri.”
“Aw! Thank you, baby!”
“Apa?”
“Baby! Kan kamu pacarku sekarang.”
Oh, right.
Tidak sesuai dengan ekspektasi diawal, dimana Jeonghan merasa sangat percaya diri akan skenario sandiwara ini bahwa ia tidak akan terlalu ambil pusing dengan ide menggelikan Seungcheol ini, toh mereka juga sudah bertahun-tahun berteman jadi pikirnya ini akan menjadi salah satu kenangan pertemanan mereka belaka, justru kini Jeonghan terlihat begitu canggung dan bingung harus bersikap seperti apa. Bertahun-tahun mereka kenal, baru kali ini Jeonghan merasakan yang demikian. Meskipun ia tidak secara gamblang menunjukkannya kepada Seungcheol bahwa ada beberapa momen di antara mereka yang cukup membuatnya cemas dan hatinya berdegup tak karuan – karena tentu saja egonya tidak mau membiarkan Seungcheol terlihat lebih ahli daripada dirinya – namun perilaku Seungcheol tetap saja membuatnya sering bertanya-tanya, apa benar ini hanya sebuah simulasi belaka?
Misalnya, kemarin setelah mereka setuju dengan rencana latihan berkencan untuk Jeonghan, Seungcheol bahkan tanpa basa basi dengan cekatan memasak sarapan untuk mereka berdua. Ia bahkan menawarkan apakah Jeonghan ingin bergabung dengannya untuk mandi pagi karena memang banyak pasangan di luar sana yang sering melakukan hal serupa namun jelas Jeonghan menolaknya mentah-mentah. Seungcheol bahkan dengan sabar menunggu Jeonghan untuk memilih restoran untuk tempat mereka makan siang yang ujung-ujungnya berakhir dengan rumah makan yang sudah sering mereka kunjungi selama ini. Mobil milik ayah Seungcheol yang sengaja ditinggal untuk dapat digunakan Seungcheol beraktivitas meski nyatanya laki-laki itu lebih sering menggunakan motornya, dengan spesial sengaja dikeluarkan dari garasi agar Jeonghan merasa nyaman bepergian, bahkan Seungcheol membukakan pintu mobilnya untuk Jeonghan. Di restoran pun, Seungcheol membersihkan alat makan Jeonghan dan memastikan bahwa hidangan yang tersedia tidak terlalu panas untuk Jeonghan santap dengan tergesa.
Ada kalanya di sela-sela tindakannya itu, Seungcheol memberikan nasihat pada Jeonghan untuk jangan merasa terkejut karena besar kemungkinan Taejoon akan melakukan semua hal yang ia lakukan sejak pertama tadi. Kebanyakan dari pria yang sedang melakukan pendekatan dengan orang yang mereka sukai memiliki tendensi akan bersikap seperti layaknya gentlemen yang sesungguhnya. Jeonghan sendiri hanya mengangguk-angguk mengerti dan mencatat baik-baik pesan Seungcheol di dalam memorinya seraya merekam bagaimana Seungcheol terlihat bergitu tampan dan seksi melakukan semua tindakan tersebut.
Kini keduanya sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan, tipikal kencan yang banyak dilakukan oleh anak-anak muda pada umumnya. Mulanya mereka ingin menonton bioskop, sebuah ide yang dilontarkan Seungcheol. Soalnya biasanya kalau lagi pendekatan tuh suka ajakin nonton, celetuknya. Tapi Jeonghan mengurungkan niat mereka, film yang sedang ditayangkan kurang menarik perhatiannya. Lagipula ia tidak mau menghabiskan dua jam hanya untuk duduk berdampingan dengan Seungcheol tanpa ada obrolan. Jeonghan lebih memilih kegiatan lain yang bisa memberikan akses untuknya memandangi Seungcheol yang terlihat sangat tampan sekarang ini. Penampilan yang berkali-kali berhasil membuatnya susah berkonsentrasi sedari tadi.
“Main arcade aja yuk, mau nggak?” Seungcheol menawarkan sebuah ide.
“Boleh, aku mau deh coba capit boneka itu.”
“Oke.”
Keduanya melangkah memasuki arena arcade yang banyak diisi oleh anak-anak kecil dan orang tuanya. Mendekat ke arah counter tempat seorang petugas berdiri menyambut mereka dengan senyuman. Koreksi, menyambut Seungcheol dengan senyumannya.
“Selamat datang, mau isi saldo untuk kartu permainannya atau mau beli kartu baru?”
Petugas itu adalah seorang laki-laki yang Jeonghan tebak seumuran mereka dengan rambut ikal dan serta tindik di kedua telinganya. Kukunya dibiarkan memanjang dengan manicure yang terlihat diselesaikan di sebuah salon murahan di pinggir kota.
“Kalau beli kartu baru dapat saldo berapa?”
“Langsung dapat lima puluh ribu, kalau mau ditambah lagi juga boleh. Nanti aku kasih diskon.”
Jeonghan mengamati bagaimana petugas itu tidak mengalihkan pandangannya dari arah dada Seungcheol. Ia kemudian menyadari pemandangan yang jelas-jelas menjadi bahan utama untuk cuci mata siapapun yang melihatnya. Sebagai gambaran, Seungcheol saat ini memakai sebuah kaos polos berwarna putih yang sangat-sangat pas dengan badannya, jangan lupakan fakta bahwa Seungcheol rajin berolahraga hingga terbentuk otot sixpacks di perutnya serta bagaimana kedua belah dadanya terlihat begitu menawan di balik kaos putih tersebut. Tak heran petugas genit itu memandangi Seungcheol sedari tadi. Tunggu dulu, jadi sedari tadi mereka jalan berkeliling pun pemandangan yang demikianlah yang orang-orang lihat? Jeonghan tidak bisa membiarkan ini.
“Whoo, hey, eyes here. Beli kartu baru, nggak perlu ditambah saldonya dan nggak perlu didiskon juga.”
Jeonghan seketika menarik Seungcheol mundur dan maju mendekat ke arah petugas tersebut sembari dua jarinya memetik dan menunjuk matanya agar petugas tersebut fokus untuk berbicara dengannya. Tentu saja ada pandangan tidak suka dilayangkan oleh petugas tersebut, namun ia tetap melakukan kewajibannya untuk melayani pembeli dan menyodorkan kartu permainan baru ke Jeonghan.
Saat mereka menjauh dari counter pembelian kartu, Jeonghan melepas cardigan yang ia kenakan dan memberikannya ke Seungcheol.
“Apa?”
“Pakai.”
“Hah? Buat apa? Kamu gimana?”
“Ini bajuku kan sudah lengan panjang. Kamu pakai aja.”
“Kenapa? Ini bajuku jelek ya?”
Jeonghan gemas setengah mati, ingin rasanya ia berteriak bahwa ia tidak suka dengan tatapan lapar orang-orang tiap kali melihat Seungcheol dan tubuhnya yang bagai dewa Yunani itu. Namun ia terlalu gengsi untuk mengakuinya.
“Just wear it.”
Tentu, sebagai seorang ‘kekasih’ Seungcheol hanya bisa menuruti permintaan Jeonghan tersebut. Sepenuhnya tidak paham apa alasan dibalik permohonan Jeonghan yang begitu tiba-tiba itu. Mereka kemudian melanjutkan agenda mereka untuk menjajal permainan capit boneka seperti yang Jeonghan inginkan diawal. Mulanya, Seungcheol yang lebih dulu mencoba beberapa kali. Namun usahanya benar-benar sia-sia, tidak membuahkan hasil. Kini giliran Jeonghan yang maju mengambil alih mesin permainan tersebut. Sasarannya adalah sebuah boneka bebek berwarna kuning dengan bibir tebal yang menjadi daya tariknya sendiri. Percobaan pertama gagal, percobaan kedua ia hampir berhasil, bonekanya sudah berhasil dicapit namun terjatuh di tengah jalan, hingga kemudian pada percobaan ketiga Jeonghan berhasil memasukkan boneka tersebut ke dalam lubang keluar. Ia memekik kegirangan hingga secara tidak sadar memeluk erat Seungcheol yang juga tertawa senang.
“Keren, baby!”
Jeonghan buru-buru mengambil boneka tersebut dan memandangnya penuh senyum.
“Kenapa pilih yang bebek itu?”
“Lucu aja, mulutnya apalagi?’
“Mulutnya lucu?”
“Iya lucu gitu kayak kamu kalau lagi cemberut, ngambek gitu Cheol.”
Kalimat barusan keluar begitu saja dari mulutnya Jeonghan bahkan tidak manyadari bahwa ia dengan mudah mengatakannya. Seungcheol yang mendengar juga cukup kaget dibuatnya, namun cepat-cepat tersenyum dan merangkul Jeonghan. Mendekatkan pria itu ke dalam dekapannya dan mencium singkat ujung kepala Jeonghan sembari berbisik,
“Thank you, baby.”
Now, what the fuck was that. Why does Jeonghan’s heart beat so fast?
“Kok rasanya beda ya.”
“Kenapa?”
“Ini es krimnya rasanya nggak kayak biasanya. Mau cobain nggak?”
Seungcheol menyodorkan sebongkah es krim rasa cokelat di genggamannya, menawarkan kepada Jeonghan untuk dapat ikut merasakan keanehan yang ada di lidahnya. Jeonghan menjulurkan lidahnya dan mencicipi rasa es krim tersebut, Sebenarnya, tidak ada yang salah dari rasa es krim tersebut, namun sepertinya ia sudah ikut tersugesti oleh kalimat Seungcheol barusan sehingga ia hanya mengangguk menyetujui.
“Mau tukar punyaku?”
“Nggak usah, kan kamu lebih suka strawberry.”
Mereka sedang berada di sebuah taman dekat rumah Jeonghan, setelah seharian menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan dan berperan layaknya sepasang kekasih, kini Seungcheol dan Jeonghan bersantai mengistirahatkan diri mereka sejenak dengan duduk di bangku yang disediakan taman tersebut. Tidak banyak pengunjung yang berada di taman malam itu, bukan hanya karena memang hari semakin gelap namun juga biasanya taman itu dipenuhi anak-anak kecil dan lansia yang umumnya tidak banyak beraktivitas di malam hari.
“So, gimana? Kamu udah siap kencan sama Taejoon?”
Fuck. Jeonghan hampir lupa kalau dua hari belakangan ini mereka hanya bermain peran. Kalau boleh ia sesungguhnya ingin sekali meminta Seungcheol untuk berhenti bersandiwara dan mulai berkencan layaknya pasangan pada umumnya saja. Tapi tentu saja ia tidak mau merusak momen di antara mereka begitu saja.
“Siap nggak siap. Its not like you’re gonna pretend to be my boyfriend forever juga kan? Eh, atau iya? Mau, baby?”
Lagi-lagi Seungcheol dibuat kewalahan dengan pertanyaan Jeonghan yang selalu penuh arti itu.
“Bukan gitu, aku kan cuma memastikan. Jasaku selama ini oke nggak?”
“Oke kok, mungkin kamu buka aja jasa sewa pacar kan biasanya banyak tuh orang-orang yang butuh. Menurutku sih kamu bisa ya sukses lewat jasa itu.”
God Forbid. Apa-apaan jasa sewa pacar? Jeonghan saja tidak tahan melihat orang-orang yang sedari tadi tidak bisa melepaskan pandangannya dari Seungcheol dan badannya yang kelewat seksi itu. Ini lagi, ia harus dipaksa ‘berbagi’ dengan orang yang menyewa Seungcheol untuk kesenangan sesaat saja? Hell no.
“Nggak lah, udah cukup sekali jadi pacar bohongan aja. Demi kamu.”
“Jago banget ya gombalnya.”
“Nah itu, kamu harus takes notes juga ya ada kemungkinan mungkin Taejoon juga akan gombal begitu waktu kalian ketemu. Kalau bisa kamu balas juga pakai gombal.”
“Oke, noted.”
Seungcheol ini professional sekali. Di tengah-tengah pembicaraan santai seperti ini saja, ia masih memberikan tips-tips untuk Jeonghan dalam menghadapi kencannya dengan Taejoon mendatang.
“Seems like you ready though.”
“Semoga.”
“Tenang aja, ingat-ingat aja gimana dua hari ini dan ka-“
“Cheol gimana kalo dia tiba-tiba mau cium aku?”
“Hah?”
“Gimana kalo tiba-tiba dia mau cium aku.”
“Kind of weird sih sebenarnya soalnya kalian baru first date tapi kalau misalkan iya pun ya… go for it I guess? Its not like you haven’t kiss before, kan?”
Betul, memang Jeonghan sudah pernah mencium seseorang sebelumnya. Namun tentu saja tidak sesering dan tidak semenarik Seungcheol. Satu kali ia pernah – terpaksa – mencium teman satu angkatannya ketika mereka sedang berada di acara keakraban khas mahasiswa. Itupun benar-benar cepat dan singkat sekali. Ciuman lainnya, tak lain dan tak bukan adalah Seungcheol. Tentu saja keduanya berada di bawah pengaruh alkohol kala itu. Jeonghan masih ingat dengan seksama bagaimana rasa bibir memabukkan milik Seungcheol menempel dengan ciamik di atas bibirnya. Ingin sekali ia merasakan kembali perasaan itu.
“Iya, tapi maksudku should I just follow my instinct or what?”
“Iya kurang lebih begitu. Mau aku bantu tunjukkin nggak?”
“Maksudnya? Kamu mau ajarin aku how to kiss properly?”
Seungcheol mengangguk. Cobaan macam apalagi ini ya Tuhan. Rasanya tidak cukup Seungcheol berkali-kali bertindak di luar ekspektasinya dua hari ini. Semakin sering Jeonghan menghabiskan waktunya dengan Seungcheol sebagai pacar gadungannya, semakin sering pula Seungcheol hadir mengisi pikiran-pikirannya membuat Jeonghan kerap kali bertanya-tanya tentang perasaan yang ia rasakan ini. Apakah ini nyata atau juga sekedar sandiwara belaka?
“Fine if you say so.”
Seungcheol tersenyum simpul. Ia kemudian menyamankan posisinya menghadap Jeonghan lalu menuntun Jeonghan agar ikut mengahadapnya secara penuh.
“Oke, satu hal yang harus kamu ingat adalah kamu akan perlahan merasakan nuansa di sekeliling kamu berubah ketika Taejoon nanti punya tendensi ingin mencium kamu, oke?”
Jeonghan hanya dapat mengangguk. Ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari bibir Seungcheol yang sedari tadi bergerak berbicara.
“Kalau kamu udah merasakan nuansa itu, coba perhatikan matanya. Ada kemungkinan dia akan ngeliat kamu dengan pandangan seperti ini.”
Seungcheol memandang Jeonghan dengan tatapan penuh arti, bukan sepenuhnya nafsu untuk segera mencium bibir Jeonghan namun sebuah tatapan yang mengisyaratkan banyak hal di baliknya. Jeonghan ikut memandang dalam mata Seungcheol.
Tangan Seungcheol kemudian mulai bergerak meraih pipi Jeonghan untuk mendekat, masih dengan tatapan penuh arti yang memabukkan, bedanya kali ini sudah berpindah mengamati bibir Jeonghan lekat-lekat. Jeonghan sendiri mulai merasakan debaran di jantungnya. Menyadari bahwa jarak wajah mereka hanya beberapa centimeter saja sudah cukup membuat lutut Jeonghan lemas dan tangannya menggengam erat boneka bebek yang memang sedari tadi ada di pangkuannya.
Mata Jeonghan mulai terpejam perlahan tatkala ia dapat merasakan hembusan nafas lembut milik Seungcheol, mengikuti tiap pergerakan yang Seungcheol lakukan. Sedikit banyak berharap bahwa ini bukanlah latihan, melainkan Seungcheol memang-memang benar akan menciumnya setelah ini. Hembusan nafas yang keluar dari hidung Seungcheol semakin membuat Jeonghan tidak lagi dapat berpikir jernih, kalau dia gila sedikit mungkin dia sudah lebih dulu menghamburkan bibirnya untuk dapat disatukan dengan bibir Seungcheol. Tidak mempedulikan bagaimana pria di hadapannya itu nanti bereaksi. Namun kini yang bisa ia dambakan hanyalah semoga Seungcheol betul-betul akan menunjukkan bagaimana mencium seseorang dengan baik dan benar yang ditunjukkan secara langsung lewat penyatuan bibir mereka.
Clap. Seungcheol menepuk tangannya keras sembari berkata,
“And boom, he finally kissed you!”
Bajingan. Jeonghan tidak habis pikir. Bisa-bisanya pria ini menghentikan ‘tutorial’nya begitu saja. Disaat ia sudah mulai tenggelam dalam permainannya, berharap lebih bahwa mereka Seungcheol akan menciumnya malam ini, dan mungkin akan berakhir dengan hal-hal lain di antara mereka. Boneka bebek yang semula berada di genggaman Jeonghan itu kini sudah terlempar mendarat di atas wajah Seungcheol. Yang menghasilkan suara mengaduh dari korban kekerasan tersebut.
“You’re such an asshole!”
“Hah? Jeonghan? Babe! Hey, Jeonghan!”
Seungcheol mengejar boneka bebek yang tidak sengaja bergerak jatuh dan bergulir beberapa meter dari tempat mereka duduk, lalu memungutnya dan membersihkan kotoran yang menempel di permukaan boneka tersebut. Ketika ia memutar badannya untuk melihat keberadaan Jeonghan, pria itu tidak lagi berada di bangku mereka. Pandangannya pun diedarkan ke sekeliling taman, mencoba mencari dimana pria itu sambil meneriakkan namanya berkali-kali.
“Jeonghan? Han! Oh, come on!”
“Dan yaudah tiba-tiba dia pergi gitu aja. I mean, what did I do wrong?”
Seungcheol mengunyah makan siangnya sambil memandang kedua sahabatnya yang duduk di hadapannya. Jun dan Soonyoung memandangnya dengan tatapan sinis dan – sedikit – jijik setelah mendengar cerita yang Seungcheol ungkapkan soal awal mula sandiwara pacar gadungannya dengan Jeonghan sampai pada saat Jeonghan meninggalkannya begitu saja di taman setelah ia berusaha untuk menunjukkan kepada pria itu bagaimana cara mencium seseorang dengan baik dan benar.
“Guys?”
“Kamu itu otaknya terbuat dari apa?”
“Soon, apa-apaan sih kok gitu?”
“Are you an idiot, Cheol?”
“Jun, apaan sih?”
Kedua teman Seungcheol itu bertukar pandang, masih dengan tatapan heran tiap kali mereka memandang wajah Seungcheol.
“Kenapa, sih?”
“He clearly likes you, you fool!!!” Soonyoung berseru sambil sedikit menggebrak meja di hadapan mereka. Terlalu gemas dengan sikap Seungcheol yang bodoh setengah mati. Yang diteriaki hanya mematung di tempatnya. Masih memproses perkataan sahabatnya tersebut.
“Dan kita semua tahu kalau kamu sebenarnya juga suka sama Jeonghan.”
“Wh-what?”
“Jangan terlalu bego gitu deh, Cheol. Apalagi namanya kalau nggak suka padahal kamu selalu perhatian sama dia, selalu senyum gede banget kalau ada dia, mau dengan senang hati bantuin dia ngapain aja kayak itu tuh ide anehmu jadi pacar gadungan itu.”
“You fell hard, bro.”
Memori Seungcheol kemudian berputar layaknya kaset lama. Ia mengingat-ingat setiap meomen yang ia habiskan bersama dengan Jeonghan selama ini. Dari awal mereka kenal sampai saat ini, ia memang banyak menghabiskan waktu dalam hidupnya bersama Jeonghan. Meskipun kepribadian mereka yang sebenarnya bertolak belakang, dengan Jeonghan seorang laki-laki bertubuh ramping dengan rambut pirang dan sejuta pesona yang bisa saja menggaet setiap orang yang ditemuinya namun memilih untuk tidak terlalu memikirkan presensi orang lain dalam kehidupannya dan hampir selalu bersikap ‘bodo amat’ di setiap situasi dalam hidupnya nyatanya menjadi pesona tersendiri untuk Seungcheol, seseorang yang selalu membutuhkan usaha lebih untuk bisa mendalami apapun yang ia gemari dan selama ini memandang dunia dari sisi luarnya saja hingga mungkin akan sangat mudah untuk menipunya di tengah jalan karena pribadinya yang terlampau baik namun tetap ingin mencoba untuk mencari pengakuan lewat upayanya untuk berkencan dengan orang-orang yang menurutnya menarik itu.
Semua itu membuat Seungcheol sadar, jawaban atas pertanyaan yang pernah muncul di dalam pikirannya tentang apakah Jeonghan hanyalah sebuah fase belaka dalam hidupnya seperti mantan-mantan kekasih yang lainnya atau memang selamanya hatinya terikat untuk Jeonghan? Kini Seungcheol menemukan jawabannya, bahwa Jeonghan, satu-satunya orang yang sedari dulu mengisi relung hatinya dan tidak pernah tergantikan barang sedikitpun. Bahwa selama ini dia terlalu bodoh, atau naif, membiarkan perasannya terhadap Jeonghan begitu saja. Tidak pernah diungkapkan. Seungcheol sadar bahwa kini semuanya perlahan jatuh di tempatnya dengan tepat. Bahwa kini sudah saatnya Seungcheol memperjuangkan apa yang selama ini ia rasakan diam-diam.
“Mama lag-“
Jeonghan terdiam ketika ia menangkap kemunculan Seungcheol di teras rumahnya. Tubuhnya membeku, bingung harus berbuat bagaimana. Pasalnya beberapa hari belakangan ini ia memang sengaja menjauhi Seungcheol. Sejak kejadian di taman tempo hari itu, Jeonghan berusaha mati-matian untuk tidak terlalu memikirkan Seungcheol dan bagaimana bibir miliknya itu mendekat menyapa bibirnya. Sehingga ia merasa salah satu cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan tidak bertemu dengan Seungcheol sama sekali.
Jeonghan juga sudah membatalkan agenda kencannya dengan Taejoon dan blak-blakan mengungkapkan keinginannya untuk kenal dengan pria itu sebatas teman saja. Hal tersebut Jeonghan lakukan sesaat setelah ia menyadari bahwa ia jatuh hati kepada Seungcheol. Jeonghan sendiri tidak tahu pasti sejak kapan perasaan itu muncul, entah sejak awal mereka bersandiwara menjadi pasangan kekasih, atau sejak Seungcheol memberikan tips-tips cara mencium seseorang atau bahkan sejak awal mula mereka berkenalan beberapa tahun yang lalu. Satu hal yang pasti, Jeonghan tahu betul bahwa hatinya hanya ingin berlabuh di satu dermaga, tak lain dan tak bukan adalah milik seorang Choi Seungcheol.
“Seungcheol.”
“Hai.”
Seungcheol terengah-engah, terlihat mencoba mengatur nafasnya. Jeonghan melirik ke arah pagar rumahnya. Ada motor Seungcheol terparkir dengan sembarangan disitu.
“Hai?”
“Oh, ini… huh.. aku kesini… huh… boneka bebek kamu.”
Boneka bebek berwarna kuning yang Jeonghan dapatkan dari wahana permainan arcade waktu itu disodorkan oleh Seungcheol ke arahnya. Ia memandangi boneka itu penuh arti. Lagi-lagi teringat dengan kejadian malam itu di taman perumahannya. Sungguh sebenarnya Jeonghan tidak berniat melempar boneka dan memaki Seungcheol kala itu. Namun rasa gugupnya jauh lebih besar daripada akal sehatnya, sehingga itu satu-satunya reaksi yang bisa ia berikan waktu itu.
“Oh, makasih. Kamu mau masuk? Minum dulu barang kali, kelihatannya capek banget.”
Seungcheol mengangguk. Mengekor Jeonghan yang mempersilakannya untuk duduk di ruang tengah sembari ia mengambil segelas air putih untuk tamunya tersebut. Seungcheol cepat-cepat meneguk air itu dengan tidak sabaran dan mengucapkan terima kasih setelahnya. Jeonghan hanya tersenyum. Keheningan kemudian menyelimuti kedua insan tersebut.
“Cheol.”
“Han.”
Keduanya tertawa. Merasa bodoh dengan atmosfer canggung yang mengisi di sela-sela mereka.
“Kamu aja dulu, Han.”
“Hm, aku cuma mau bilang terima kasih soal kemarin. Makasih udah jadi ‘pacarku’ dan sampai ajarin cara ciuman yang baik.”
“Sama-sama, Han. Gimana datenya sama Taejoon?”
“Ah iya itu, aku batalin ajakannya. Aku bilang sama dia aku mau kenal sebagai teman aja.”
“Serius? Kenapa gitu?”
Jeonghan tertegun sejenak. Ragu atas jawaban yang akan ia lontarkan untuk menjawab pertanyaan Seungcheol barusan.
“There is someone else I like.”
Seungcheol yang sejatinya masih mengatur nafasnya sejak tadi, akibat gerakannya yang terlalu buru-buru pergi meningggalkan dua temannya untuk mencari keberadaan Jeonghan, dengan kecewa menerima pernyataan pahit dari Jeonghan yang sudah memiliki ketertarikan dengan orang lain.
“Oh? Wow, well congratulations to that guy I guess…”
Jeonghan sendiri masih tidak percaya dengan balasan Seungcheol. Pasalnya ia kira Seungcheol akan dengan cepat menangkap sinyal yang ia berikan. Bahwa pria yang ia maksud adalah dirinnya, bukan orang lain. Jeonghan juga yakin bahwa kehadiran Seungcheol ke rumahnya juga pasti bukan tanpa sebab, selain untuk mengembalikan boneka bebek yang tidak seberapa itu, Seungcheol pasti ingin mengajaknya berbicara atau setidaknya mengungkapkan sesuatu. Tapi mengapa pria di hadapannya ini sekarang bertingkah layaknya orang bodoh.
“Cheol, are you dumb or what?”
“Hah?”
“You are the someone else, silly.”
Mata bulat Seungcheol membelalak, hampir tidak mempercayai ungkapan perasaan yang Jeonghan lakukan barusan.
“Maksudnya?”
“I like you, well I guess I’ve fallen for you.”
“Oh, Jeonghan.”
Tangan Jeonghan ditarik untuk masuk ke dalam pelukannya. Pekikan kecil keluar dari bibir Jeonghan tatkala ia merasakan tubuhnya terhuyung ke dapan dan tangan hangat Seungcheol melingkar dengan nyaman di pinggang kecilnya. Seungcheol menenggelamkan kepalanya di perpotongan leher Jeonghan. Menyesapi aroma khas yang keluar dari tubuh Jeonghan.
“Jeonghan, I like you too. Im sorry it took so long buat aku akhirnya benar-benar sadar kalau ini bukan cuma fase, kalau selama ini cuma ada kamu, no one else.”
Punggung tangan Jeonghan dibawa Seungcheol mendekat ke bibirnya lalu diberikannya kecupan-kecupan singkat tanda sayang dan bersukurnya terhadap Jeonghan.
“So you admit it? Kalau selama ini kamu memang suka sama aku? I mean, teman-teman selama ini bilang kalau kamu diam-diam suka aku, but now you actually admit it?”
“Iya, dengan bangga aku mengakui kalau selama ini aku tidak jauh dari budak cinta seorang Yoon Jeonghan.”
“You really are obsessed with me, aren’t you?”
“Hm… i guess so.”
Tangan Jeonghan melingkar dengan erat di pundak Seungcheol. Ia dapat merasakannya, nuansa yang tiba-tiba hadir ketika seseorang ingin memberikan ciuman untuknya, persis seperti yang Seungcheol ajarkan kala itu. Jeonghan meresapi tiap momen yang hadir di antara mereka, memandang mata Seungcheol dalam penuh arti, sedikit memiringkan kepalanya, memberikan akses kepada Seungcheol untuk diraih dan digenggam dagunya dengan lembut. Senyum kecil terlukis di wajah kedua insan tersebut. Hembusan nafas silih berganti dapat mereka rasakan di permukaan wajah masing-masing. Jeonghan menyibak beberapa helai rambut Seungcheol yang turun menutupi dahi tampannya. Kembali tersenyum tatkala matanya menangkap Seungcheol yang menjilaat bibirnya sembari matanya tidak lepas dari bibir Jeonghan.
“I’m gonna kiss you, now.”
“Oh, so you won’t clap your hands and just stop?”
“Kali ini, enggak. You really are mine this time.”
Jeonghan memejamkan matanya. Bibir Seungcheol perlahan menyapa permukaan bibirnya. Lembut, hangat, manis, persis seperti yang ia terakhir kali ingat ketika mereka berciuman di bawah kendali alkohol. Bedanya kali ini, cumbuan itu diiringi dengan perasaan kekaguman dan kasih sayang yang tersalurkan dengan nyaman dari keduanya. Seungcheol mengecup panjang bibir Jeonghan, yang dibalas dengan kecupan tak kalah sensualnya dari sang pemilik bibir, Jeonghan tersenyum lebar di sela-sela sesi ciuman mereka, memberikan kesempatan untuk Seungcheol masuk ke dalam mulut Jeonghan dan mulai memainkan lidahnya. Jeonghan benar-benar dimabukkan oleh Seungcheol dan bibirnya. Hampi gila ia dibuatnya. Bertanya-tanya pada dirinya sendiri mengapa mereka tidak melakukannya sejak dulu saja.
“Bibir kamu manis, Jeonghan.”
“Akunya nggak manis?”
“You know the answer to that, baby.”
Darah Jeonghan berdesir Seungcheol kini secara resmi menjadi kekasihnya. Bukan lagi skenario picisan seorang pasangan kekasih bohongan yang bahkan payah dalam menjalankan tugasnya. Seungcheol kini seutuhnya menjadi milik Jeonghan.
“Say it again.”
“Apa?”
“Kamu panggil aku apa tadi?”
“Baby? Baby, baby, baby. So you like it, huh?”
Jeonghan mengangguk dalam pelukan Seungcheol yang hangat dan nyaman. Ia tidak pernah berpikir bahwa ia akan berakhir dalam dekapan salah satu teman dekatnya sendiri. Meski mungkin memang selama ini berkali-kali ia katakan bahwa bukan masalah besar jika memang Seungcheol mneyukainya, toh ini Seungcheol, teman dekatnya sendiri, bukan sembarang orang asing. What could happen?
Ternyata ini jawabannya. Bahwa ia bisa jatuh cinta terhadap Seungcheol. Jatuh cinta dengan dalam dan menyeluruh kepada Seungcheol dan tiap-tiap bagian dalam pria itu. Satu hal yang Jeonghan harap untuk yang satu ini, bahwa semuanya berjalan dengan baik dan bertahan untuk waktu yang luar biasa lama. Karena sungguh, ia tidak pernah bisa membayangkan bagaimana jadinya hidupnya tanpa seorang Choi Seungcheol.
“I love you, baby. Jeonghan, my baby.”
