Actions

Work Header

forever to go.

Summary:

Forever is such a long time, but Seungcheol and Jeonghan know that they will always be there for each other from the very first time.

or

When the childhood bestfriend slowly turns into lovers

Notes:

this is a work of commission
commissioned by @antiqueromantica

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

Mereka umur 6 ketika takdir memutuskan untuk mempertemukan mereka pertama kalinya. Dua kaki kecil Jeonghan berjalan memasuki halaman yang dipenuhi dengan rumput-rumput pendek dan beberapa pohon rindang di sudut-sudut tertentu. Tangannya digandeng oleh seorang wanita paruh baya yang tersenyum hangat dan sesekali menyapa orang-orang yang berjalan melewati mereka dengan anggukan kepala kecil.

Hari itu adalah hari pertama Jeonghan duduk di bangku sekolah dasar. Bocah laki-laki dengan tas ransel bergambar telur mata sapi tersebut berkali-kali mengatakan kepada sang nenek bahwa ia tidak sabar untuk bertemu dengan teman-teman baru dan mempelajari banyak hal di sekolah. Tentunya dibalas dengan anggukan dan pelukan dari nenek sebagai tanda bahwa beliau teramat bangga terhadap sang cucu.

“Nana nggak usah antar aku nggak papa, Jeonghan bisa kok”

“Tapi ini kan hari pertama sekolah, bapak dan ibu guru harus bertemu Nana dulu.”

“Beneran?”

“Ya, Jeonghan. Seharusnya kan memang Mama yang menemani Jeonghan tapi Mama kan harus kerja.”

“Tapi habis itu, Nana pulang aja ya ke rumah. Jeonghan nggak usah ditunggu.”

“Berani?”

“Ya, ya, ya. Berani!”

Maka sesaat setelah Nana – panggilan Jeonghan kepada neneknya – bertemu dengan guru baru Jeonghan dan memastikan bahwa sang cucu terlihat nyaman berada di lingkungan barunya, Nana pun melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan kearah Jeonghan. Jeonghan membalasnya dengan menempelkan telapak tangannya kearah bibir mungil miliknya lalu melemparkan sebuah ciuman jarak jauh kepada sang nenek.

“Jeonghan sudah terlihat mudah sekali berbaur dengan teman-teman lain. Tidak perlu khawatir.”

Sang guru pun turut memastikan bahwa Jeonghan akan baik-baik saja dan tampak bahagia dengan teman-teman barunya.

“Terima kasih ya, Miss. Kalau ada apa-apa tolong saya langsung dikabari ya.”

“Pasti. Hati-hati di jalan, salam untuk Nyonya Yoon.”

Dan sepanjang hari itu, Jeonghan benar-benar menjadi seorang bocah laki-laki dengan energi luar biasa. Ia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh guru dengan lantang dan cepat, berkenalan dengan banyak teman baru, bahkan ia menawarkan diri untuk membantu salah satu classmatenya yang mengalami kesulitan ketika mereka diajarkan untuk melipat kertas berwarna warni.

“Sini aku bantu. Kamu mau bentuk jadi apa?”

Bocah di depannya hanya membisu. Matanya memperhatikan tangan Jeonghan yang cekatan mengambil dua carik kertas lipat dari wadahnya, satu berwarna kuning dan yang lainnya berwana merah. Yang merah diberikannya pada bocah laki-laki itu sambil tersenyum lebar.

“Ini kamu warna merah. Mau membuat apa? Kapal? Atau bintang? Tadi bu guru sudah kasih contohnya.”

Pertanyaan Jeonghan masih belum dijawab. Anak laki-laki yang seumuran Jeonghan itu hanya bisa mengedipkan matanya berkali-kali sambil memandangi Jeonghan yang juga masih ikut terdiam menanti keluarnya kalimat dari teman sekelasnya itu. Hingga kesabaran Jeonghan akhirnya habis, ia kemudian memutuskan untuk melipat dua kertas yang diambilnya tadi menjadi dua bentuk. Yang kuning menjadi bintang sedang yang merah jadi kapal. Setiap gerakan lincah jari-jari Jeonghan benar-benar diamati dengan seksama oleh anak yang berada di sebelahnya. Raut wajahnya penuh dengan kekaguman melihat kemampuan Jeonghan yang menurutnya keren itu.

“Sudah jadi! Ini!”

Hasil karya Jeonghan disodorkan mendekat ke bocah laki-laki tersebut.

“Kamu mau pilih yang mana? Kapal atau bintang?”

Lagi-lagi mematung, membuat Jeonghan harus sedikit memaksa anak itu untuk segera menentukan pilihannya. Kertas lipat berwarna merah berbentuk kapal akhirnya digenggamnya sambil memandang Jeonghan yang tersenyum lebar ketika mengetahui fakta bahwa ia akan mendapatkan kertas lipat yang berwujud bintang.

“Aku suka warna kuning! Kamu suka warna merah?”

Kini pertanyaan Jeonghan dijawab dengan anggukan, setidaknya ada sedikit kemajuan.

“Nama kamu siapa? Kita tulis nama kita di kertas lipat ini.”

Bocah laki-laki itu terlihat ragu menjawab pertanyaan Jeonghan namun Jeonghan sudah terlebih dahulu mengambil spidol dan menarik kembali kertas lipat berbentuk kapal dari genggamannya untuk kemudian menuliskan namanya di bagian belakang.

“Seungcheol.”

Senyuman lebar terlukis di wajah Jeonghan, “Aku Jeonghan. Mulai sekarang kamu temanku dan aku temanmu.”

Seungcheol mengangguk-angguk tanda mengerti.

“Oh iya, mama aku bilang kapal itu biasanya dipakai nelayan untuk mencari ikan di malam hari dan di malam hari pasti akan banyak bintang-bintang. Sama kan seperti kertas lipat kita, aku jadi bintangnya kamu jadi kapalnya. Harus berteman selamanya.”

Mungkin memang benar adanya bahwa kalimat sejatinya adalah doa. Sama halnya dengan celotehan Jeonghan tersebut ketika mereka bahkan belum menginjak usia puber. Pasalnya sampai kemudian berpuluh-puluh tahun kemudian, pertemanan mereka masih terjalin dengan baik.

Sejak perkenalan mereka hari itu, Jeonghan – sebagai pribadi yang lebih ramai dan supel terhadap hampir semua orang – selalu menjadi orang yang lebih dulu berinisiatif untuk dekat dan berteman baik dengan Seungcheol. Ia bahkan dengan sengaja meminta izin kepada ibu guru untuk bisa duduk bersebelahan dengan Seungcheol. Jeonghan juga tidak pernah absen membagi bekalnya dengan Seungcheol, meskipun bocah itu juga memiliki bekalnya sendiri. Seungcheol sendiri tentu senang dengan kehadiran Jeonghan menjadi teman pertamanya di sekolah. Ia yang memang notabenenya agak pemalu, jadi merasa tidak terlalu perlu memusingkan cara untuk mencari teman lagi karena sudah ada Jeonghan di sampingnya.

Mereka tetap dekat sampai tahun terakhir di sekolah dasar, sengaja memilih tempat bimbingan belajar yang sama agar tetap terus selalu bersama dan saling mendukung satu sama lain jelang ujian kelulusan. Keduanya juga sudah menentukan sekolah menengah mana yang akan mereke tuju setelah ini, sama-sama berjanji untuk belajar dengan giat agar dapat mewujudkan keinginan mereka itu.

Terbiasa bersama sejak tingkat pertama sekolah dasar, duduk bersebelahan setiap waktu, dimana ada Jeonghan disitu pasti ada Seungcheol, keduanya dikejutkan dengan fakta berbeda ketika pembagian kelas sekolah menengah pertama ternyata dilakukan secara acak. Mereka kira akan dikelompokkan sesuai dengan urutan ketika melakukan registrasi ulang, pasalnya mereka memang benar-benar melakukan semua tahapan pendaftaran secara bersamaan, berharap adanya fakta itu akan membantu mereka untuk juga tidak dipisahkan ketika menginjak bangku sekolah menengah itu.

“Gimana? Udah kenalan sama teman-teman sekelasmu?”

“Beberapa sih udah. Masih kesal kenapa kepisah kelasnya.”

“Iya ya, nggak asik banget. Kenapa nggak diurutkan aja sih sesuai nomor pendaftaran, kan kalau dipikir juga akan lebih mudah.”

Jeonghan hanya terdiam. Ia masih kecewa berat dengan keadaan yang mengharuskan mereka berpisah seperti ini. Terdengar berlebihan memang, namun apa daya, mereka benar-benar menghabiskan hampir tiap menit selama enam tahun belakangan ini bersama-sama, jadi memang cukup membuat Jeonghan mengalami kekecewaan yang mendalam. Apalagi mereka kan sedang beradaptasi di lingkungan baru, setidaknya keberadaan seseorang yang sudah lebih dulu kita kenal sebelumnya pasti akan mempermudah.

“Nggak papa, kita masih bisa ketemu setiap istirahat. Kan juga pulangnya bareng.”

Ternyata memang benar adanya, bahwa berbicara memang jauh lebih mudah daripada bertindak. Seungcheol dan Jeonghan adalah bukti nyata dari kiasan tersebut. Di tahun pertama mereka, Seungcheol memang masih selalu menemani Jeonghan makan siang bersama dan tidak pernah absen ikut serta dengan Jeonghan setiap jam pulang datang. Terkadang, jika Jeonghan harus tinggal sedikit lebih lama di sekolah untuk mendiskusikan tugas kelompok dengan teman-teman lainnya, Seungcheol akan tetap setia menunggu sampai Jeonghan selesai dengan urusannya, pun begitu sebaliknya dengan Jeonghan.

Namun ketika mereka menginjak tahun kedua dan ketiga, agaknya komitmen tersebut mulai sulit untuk dijalani. Ditambah dengan adanya perpindahan kelas yang memang selalu dilakukan setiap pergantian tahun ajaran, yang lagi-lagi tidak berhasil menyatukan Seungcheol dan Jeonghan untuk berakhir di satu kelas yang sama, malahan Seungcheol dipertemukan dengan beberapa teman baru di kelasnya yang ternyata memiliki hobi olahraga yang sama, sepak bola. Seungcheol yang semula dikenal sebagai anak yang pemalu dan cenderung cuek, berubah hampir seratus delapan puluh derajat setelah mengenal teman-teman barunya itu. Ia bergabung dalam kegiatan ekstrakulikuler sepak bola di sekolah mereka dan dengan cepat menjadi idola baik murid maupun guru-guru. Kemampuannya dalam mengontrol bola dan mencetak gol berhasil menarik perhatian pelatih hingga ia diamanahi untuk menjadi kapten tim, bertanggung jawab membawa nama kebanggan sekolah di ajang-ajang kejuaraan tingkat daerah maupun nasional. Tentu, Seungcheol berhasil melakukannya, mengharumkan nama tim sepak bola sekolah sampai dikenal kehebatannya satu negeri.

Kepopuleran Seungcheol tersebut tidak hanya menjamur di lingkungan sekolah mereka saja, namun juga tersebar di antara murid-murid sekolah lain. Baik wanita maupun pria, semua muda-mudi rasanya ingin berteman dengan Seungcheol, atau mungkin di antara mereka bahkan menginginkan yang lebih. Hal tersebut terjadi bukan hanya karena talenta Seungcheol yang luar biasa hebat, namun juga karena parasnya yang begitu tampan dan menawan. Seungcheol memang tumbuh menjadi pria remaja dengan garis wajah tegas, alis tebal, bibir mempesona, serta tubuh yang terlihat gagah dan kuat. Membuat siapapun yang melihatnya mungkin bermimpi menjadi bola sepak yang dapat menyentuh badannya dengan leluasa.

Meski demikian, Seungcheol tidak pernah menganggap serius dan mencari keuntungan tersendiri dari meledaknya namanya tersebut. Ia hanya menganggap itu semua sebagai bonus belaka, yang selalu ada di pikirannya adalah bagaimana caranya ia tetap menjadi siswa teladan yang bisa menyeimbangkan akademik dan prestasi atletiknya. Kehebatan Seungcheol pun sempat membuat salah satu gurunya memberikan tawaran untuknya bergabung dengan tim nasional milik negara, tentu jika ia setuju Seungcheol harus dipindahkan ke sekolah lain yang memang dikhususkan untuk para atlet-atlet muda nasional. Seungcheol dengan sopan menolak tawaran tersebut, alasannya karena takut tidak bisa berkomitemen terhadap studinya, takutnya nanti malah mengecewakan orang tua. Meski sesungguhnya ada satu alasan lain yang memberatkan hatinya untuk menerima ajakan dari sang guru. Jeonghan.

Seungcheol mulai menyadari perasaan yang ia miliki ini sejak tahun pertama mereka. Entah apa nama perasaan ini, namun yang jelas ia tidak mau terpisah jauh dari Jeonghan. Seungcheol ingin agar bisa terus bersama dengan Jeonghan, menghabiskan masa muda mereka bersama. Meski sebenarnya Jeonghan pun tidak akan menghalangi Seungcheol untuk menerima tawaran tersebut, tapi Seungcheol tetap tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya hidupnya kelak tanpa Jeonghan dekat dengannya.

Selama ini, hampir separuh hidup Seungcheol sudah banyak dihabiskan bersama Jeonghan. Berawal dari Jeonghan yang lebih dulu mendekati dan mengajak Seungcheol berteman saat mereka sama-sama menjadi anak baru di sekolah dasar hingga gini keduanya menginjak tahun kedua sekolah menengah pertama. Sedikit banyak sebenarnya Seungcheol merasa berhutang besar kepada Jeonghan, sebab jika saat itu pria itu tidak lebih dulu menyapanya mungkin sampai saat ini Seungcheol tidak akan punya teman seperti sekarang. Seungcheol juga merasa banyak belajar dari Jeonghan perihal menjadi pribadi yang lebih terbuka dan peduli dengan sekitar hingga kini ia dapat mengakrabkan diri dengan banyak teman-teman seumurannya.

“Jeonghan!”

Seungcheol berlari meninggalkan gerombolan teman-temannya sambil berteriak menghampiri Jeonghan yang terlihat menghentikan langkahnya menunggu Seungcheol.

“Seungcheol?”

“Mau pulang?”

Jeonghan mengangguk.

“Tunggu sebentar, lima menit. Aku ambil tas sama pamitan ke yang lainnya, kita pulang bareng.”

“Loh kamu nggak latihan?”

“Nggak, pelatih lagi sakit. Tunggu ya.”

Jeonghan hanya mematung menuruti perkataan Seungcheol. Tidak sampai lima menit kemudian, Seungcheol terlihat keluar dari ruangan yang bertuliskan “Basecamp Sepak Bola” dengan sebuah ransel di punggungnya. Tangannya dilambaikan ke arah teman-teman satu timnya dan melangkah dengan cepat ke tempat Jeonghan berdiri.

“Ayo.”

“Aku hari ini nggak bawa sepeda, jadi naik bus. Kamu baw-“

“Aku juga nggak bawa. Ayo naik bus, aku udah lama nggak naik itu.”

Ada senyuman kecil terukir di ujung bibir Jeonghan. Seungcheol tidak menangkap kehadiran senyum itu. Alih-alih ia merebut sebuah tas kecil yang sedari tadi digenggam Jeonghan, tas yang berisi kotak bekal makan siang Jeonghan. Sebuah kebiasaan yang dari dulu selalu Seungcheol lakukan. Kalau dulu, alasan Seungcheol melakukannya adalah karena ia merasa kasihan melihat Jeonghan yang terlihat kesusahan membawa tas bekal makan siang mereka sewaktu masih di sekolah dasar, maklum Nana selalu membawakan bekal dan cemilan yang jumlahnya banyak hingga mengharuskan Jeonghan membawa tas yang ukurannya terlalu besar untuk tubuh kecilnya dahulu. Namun sekarang, meski Jeonghan sudah tumbuh remaja dan tas bekal yang dibawanya pun tidak sebesar waktu itu, Seungcheol masih tetap melakukan kebiasaan serupa.

Hal-hal kecil seperti inilah yang sejatinya Jeonghan rindukan belakangan ini. Pulang bersama dan menghabiskan waktu dengan Seungcheol. Sejak mereka naik kelas, sudah jarang sekali mereka terlihat bersama. Seungcheol yang sibuk dengan kegiatan ekstrakulikulernya dan Jeonghan yang sibuk mengamati Seungcheol dari kejauhan.

Berbeda dengan Seungcheol, yang seakan-akan bertemu dengan oase di tengah-tengah padang pasir, menorah prestasi, memperoleh popularitas hingga dikenal banyak orang, Jeonghan justru hampir tidak memiliki teman di tahun keduanya ini. Apes memang, Jeonghan harus terpilih masuk ke kelas yang kebanyakan dari muridnya sudah saling mengenal satu sama lain, beberapa dari mereka teman ketika taman kanak-kanak, sebagian lain teman dari sekolah dasar ataupun sudah pernah satu kelas sebelumnya saat tingkat pertama, sisanya hanya Jeonghan dan beberapa anak lain yang masih belum mengenal masing-masing. Hal itu menjadikan mereka sebagai kaum minoritas yang membuat mereka terpaksa memisahkan diri dari kelompok-kelompok tersebut.

Teman-teman Jeonghan di kelasnya itu juga kebanyakan adalah orang-orang yang sangat vokal dan ramai, bukannya Jeonghan tidak bisa mengimbangi, toh dia juga tidak memiliki masalah tersendiri soal bergaul, namun sering kali mereka menunjukkan sikap tidak suka dan raut wajah yang menyebalkan ketika harus bersinggungan dengan Jeonghan atau anak-anak minoritas lainnya. Jeonghan tahu ini salah satu bentuk perundungan, meski bentuknya tidak terlihat secara jelas dan tidak melalui kekerasan fisik maupun verbal, namun cukup membuat Jeonghan dan teman-teman yang lainnya merasa kecil serta tidak nyaman.

“Anak-anak itu masih suka bully kamu?”

“Ya begitu deh.”

“Wali kelas kamu tahu nggak, sih?”

“Tahu kayaknya, tapi diam aja.”

“Sejauh ini mereka nggak pernah nakal sama kamu kan, Han?”

“Maksud kamu ngejek atau mukul gitu?”

“Iya, yang kayak gitu-gitu.”

“Nggak pernah sih.”

“Kalau sampai iya, kamu harus bilang aku!”

“Memangnya kalau aku bilang ke kamu, ngaruh ke mereka gitu, Cheol?”

“Ngaruh! Nanti aku nakalin balik. Kalau perlu aku tendang, kan kamu tahu sendiri tendanganku keren.”

“Nggak boleh gitu tahu! Yang ada nanti malah kamu dilaporin ke guru BK.”

“Biarin aja, siapa suruh ganggu Jeonghanku.”

Jeonghanku. Jantung Jeonghan seketika berdegup kencang mendengar nama panggilan tersebut. Pertama kalinya Seungcheol menyebutnya dengan istilah yang demikian dan entah mengapa ada perasaan senang, gugup, serta entahlah semuanya bercampur menjadi satu di dalam hatinya. Kalau Jeonghan tidak cukup pintar untuk menahan reaksi dari emosi yang ia rasakan tersebut, mungkin ada muntahan berisi masakan Nana di hadapannya sekarang ini.

“I-iy-iya, nanti aku bilang.”

“Bagus.”

Malam itu, Jeonghan tidak bisa menghilangkan senyuman yang sejak siang terlukis besar di wajahnya. Nana bahkan sampai bingung dan heran melihat tingkah Jeonghan yang tiba-tiba berubah menjadi lebih riang, cucunya itu bahkan dengan senang hati memberikan pijitan untuk kakinya dan berinisiatif untuk menata meja makan sebelum mereka makan malam bersama. Mama Jeonghan juga tidak bisa berhenti bertanya tentang apa yang terjadi di sekolah sampai Jeonghan terlihat seperti habis memenangkan lotre, pikirnya apa mungkin Jeonghan mendapatkan nilai sempurna di ujiannya namun ia tahu bahwa musim ujian datangnya masih lama.

Jeonghan bahkan tidak bisa menghentikan tawa kecilnya tiap kali ia teringat kata manis itu keluar dari mulut Seungcheol siang tadi. Jeonghanku. Rasanya, ia ingin mengukir kata tersebut sebanyak-banyaknya di atas buku tulis yang sedang ia gunakan untuk mengerjakan tugas rumah. Beberapa kali Jeonghan memejamkan matanya sambil menempelkan tangannya ke atas dada sebelah kirinya. Ingin mengingat-ingat bagaimana suara Seungcheol terdengar begitu indah ketika memanggil namanya tadi sambol merasakan jantungnya akan berdegup lumayan kencang tiap kali memorinya berputar mengingat kejadian itu.

Diam-diam Jeonghan memang tahu bahwa ia menaruh rasa pada Seungcheol. Cinta monyet kalau kata orang-orang. Dan Jeonghan sadar betul memang itu yang ia rasakan, sehingga ia tidak berani berbuat lebih dengan menyatakan perasannya terhadap Seungcheol. Toh dia juga tidak tahu apakah Seungcheol juga merasakan hal yang sama dengannya, lebih jauh lagi ia juga tidak pernah paham apakah Seungcheol memiliki ketertarikan seksual yang sama dengannya. Ditambah, ia tidak mau perasaannya ini menjadi penghalang atau bahkan perusak hubungan pertemanan mereka kedepannya. Mereka masih remaja pula, jalan hidupnya masih panjang, dan Jeonghan masih ingin kehadiran Seungcheol di setiap langkah kehidupannya. Maka ia memutuskan untuk bungkam dan hanya mengagumi Seungcheol dalam diam.

“Tumben kamu bawa bekal, Cheol.”

“Ini yang masak Papa, dia tiba-tiba dapat resep baru gitu dari temannya terus coba-coba. Pastilah aku sama kakak jadi korban percobaan.”

“Enak?”

“Nggak sama sekali.”

Jeonghan tertawa. Mereka sedang menyantap bekal makan siang masing-masing di kelas Jeonghan. Satu dari sekian banyak kebiasaan masa kecil mereka yang perlahan kini mulai menghilang dari keseharian. Sedikit bagian dari Jeonghan selalu ingin berterima kasih kepada Papa Seungcheol atas hobinya yang sering iseng menjajal resep-resep aneh untuk jadi menu bekal Seungcheol dan kakaknya, karena dengan begitu Jeonghan punya alasan untuk bisa menghabiskan jam istirahatnya dengan Seungcheol. Meskipun hal tersebut tidak sering terjadi, namun setidaknya ada saat-saat dimana Jeonghan tidak akan merasa kesepian karena harus makan bekal siangnya sendiri di kelas.

“Kamu udah mulai belajar untuk ujian akhir?”

Mereka sudah tingkat akhir sekarang. Dan seperti murid pada umumnya, selalu ada rasa takut tersendiri ketika menginjak kelas tiga, takut gagal ujian ataupun takut terpaksa harus mengganti tujuan sekolah lanjutan yang memang sudah diincar sejak lama. Jeonghan sendiri sudah menentukan pilihannya, Sekolah Menengah Atas yang terletak bersebelahan dengan Sekolah Menengah Pertama mereka saat ini. Tidak ada alasan khusus selain jaraknya yang memang tidak jauh dari rumah Jeonghan, membuat Jeonghan tidak harus mengeluarkan biaya transportasi lebih atau merepotkan Mama untuk mengantar dan menjemputnya setiap waktu.

“Belum, akhir-akhir ini aku kalau sampai rumah langsung tidur. Capek banget, pelatih kasih set baru untuk latihan dan aku masih adaptasi.”

“Oh… tapi jangan sampai lupa belajar, Cheol. Nanti Mama kamu marah kalau hasil kamu jelek.”

“Iya. Aku minggu depan juga udah dipanggilin guru les kok. Eh, kamu ikut yuk!”

“Mana bisa, Mama aku pasti nggak ada uang buat bayar gurunya.”

Jika Seungcheol terlahir dari sebuah keluarga serba berkecukupan bahkan mungkin melebihi rata-rata, Jeonghan justru terbiasa tumbuh dengan keadaan ekonomi yang sifatnya hanya pas. Pas untuk makan, untuk sekolah, untuk transportasi pergi bekerja, untuk belanja bulanan yang sebenarnya tidak seberapa jumlahnya, serta pas untuk bisa memperoleh hiburan-hiburan sederhana seperti makan di restoran satu bulan sekali itupun selalu memilih menu yang dapat dibagi dan dimakan bersama-sama untuk bertiga.

Sepanjang hidupnya, Jeonghan habiskan bersama Mama dan neneknya tanpa mengenal banyak Papanya. Yang Jeonghan ingat tentang figur bapak tersebut adalah suatu malam ketika ia masih duduk di bangku taman kanak-kanak, Papa masuk ke dalam mobil Jeep dengan dua tas besar di genggamannya sedang Mama mengetuk-ketuk kaca mobil berkali-kali sambil tetesan air mata terus mengalir dari pipinya. Jeonghan kecil berada di pangkuan Nana – yang belakangan ini ia pahami sedang mencoba mengalihkannya dari pemandangan tidak menyenangkan di depannya. Sejak malam yang dihiasi dengan hujan deras itu, Jeonghan tidak pernah lagi mendengar kabar Papanya. Setiap kali ia mencoba bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi di hari itu atau bertanya soal keberadaan Papa kepada Mamanya, wanita itu hanya bisa mengatakan bahwa saat ini Papa butuh waktu sendiri, bahwa suatu saat nanti Papa akan datang lagi untuk menemui Jeonghan.

Sejak saat itu pula, Mama Jeonghan harus berjuang keras untuk bisa memenuhi kebutuhan mereka bertiga. Apapun beliau lakukan demi dapat mengabulkan semua keperluan dan kemauan Jeonghan tanpa terlihat terbebani sama sekali. Meskipun begitu, Jeonghan tahu bahwa ia harus bisa menjadi anak yang bijak dan berhati-hati dengan uang yang dimilikinya, bahwa ia tidak bisa sembarangan menghamburkan uangnya begitu saja. Jeonghan juga tahu bahwa ia butuh usaha lebih untuk bisa mendapatkan nilai bagus, ia harus bisa mendengarkan pelajaran di sekolah dengan baik, memanfaatkan sebaik-baiknya fasilitas gratis yang disediakan oleh guru-gurunya tanpa harus meminta bimbingan belajar tambahan kepada Mama karena ia tahu Mama pasti akan sulit untuk bisa membayar biayanya. Menjadikan Jeonghan sebagai seorang yang sudah terlatih mandiri sejak dini.

“Nggak usah bayar, lagian kata Mama aku itu biaya gurunya sama kok kalau satu atau dua orang. Kalau tiga orang baru tambah uang lagi, Papa juga bilang katanya suruh ajak kamu.”

“Tapi yang tahun kemarin aku juga ikut les sama kamu.”

“Nggak papa lah. Justru kalau nggak ada kamu, aku jadi nggak semangat lesnya. Nanti aku dimarahin Mama. Mau ya?”

“Boleh deh. Tapi nanti aku bilang mamaku dulu.”

“Oke. Nanti aku bilang mamaku juga, biasanya kan mamaku sama mamamu suka ngobrol juga.”

“Makasih ya, Cheol.”

“Sama-sama. Aku juga makasih karena udah mau nemenin.”

Berkat ajakan Seungcheol untuk ikut mengikuti tambahan belajar di rumahnya selama beberapa bulan menuju ujian kenaikan kelas, Jeonghan berhasil mendapatkan nilai yang cukup memuaskan. Cukup memuaskan karena ternyata soal-soal yang dikeluarkan di ujian kali ini jauh lebih susah dari teori yang selama ini mereka pelajari dari guru di sekolah. Terima kasih kepada guru les Seungcheol yang selalu memberi pertanyaan-pertanyaan tambahan untuk diselesaikan bersama selama bimbingan belajar membuat Jeonghan setidaknya masih mencapai nilai-nilai di atas rata-rata. Seungcheol sendiri juga merasa kewalahan selama menjawab ujian, kemampuan akademisnya yang memang jauh lebih rendah dibandingkan Jeonghan ditambah dengan ia yang masih kurang serius menjalani lesnya selama ini terpaksa harus menerima beberapa nilai jelek.

“Maaf ya liburan kemarin aku nggak banyak bisa main, soalnya Papa marah nilaiku kurang memuaskan. Tapi untungnya, aku masih diterima di sekolah ini.”

Kini mereka menjadi siswa sekolah menengah atas. Sesuai dengan rencana Jeonghan, ia berhasil diterima di sekolah incarannya. Seungcheol tentu hanya mengikuti saja, toh orang tuanya juga setuju karena menurut mereka Jeonghan memberikan dampak positif bagi Seungcheol. Meski nilai Seungcheol pas-pasan, namun berkat prestasinya di bidang olahraga ia dapat lolos seleksi dan berhasil menjadi salah satu siswa beruntung di sekolah itu.

Karena prestasinya yang luar biasa tersebut, Seungcheol mau tidak mau harus melanjutkan karir sepak bolanya di sekolah baru. Kembali menjadi kapten tim sepak bola kebanggaan sekolah dan lagi-lagi menjadi idola yang dikagumi banyak khalayak baik teman-teman satu angkatan ataupun kakak kelas.

“Nggak papa, aku juga kemarin diajak nenek keluar kota kok. Ini aku beli gelang, satu buat kamu, aku juga pakai.”

“Bagus banget, ini oleh-oleh dari sana?”

“Iya, buatan warga sana gitu deh.”

“Aku pakai ya. Makasih, Jeonghan.”

Gelang manik berwarna hitam itu selalu rapi melikar di pergelangan tangan sebelah kiri Seungcheol, hanya dilepas ketika ia sedang berada di lapangan berperan sebagai atlet kebanggan sekolahnya berusaha yang terbaik untuk menjadi pemenang. Katanya sayang kalau sampai lepas di tengah-tengah pertandingan atau malah mungkin putus berserakan terkena senggolan pemain lain. Jeonghan sebenarnya tidak pernah bertanya perihal alasan mengapa gelang itu dilepas ketika Seungcheol bermain bola, sahabatnya itu dengan sendirinya menjelaskan jawabannya.

Senang, Jeonghan merasa bahwa Seungcheol ternyata memperhatikan detail-detail kecil tentang mereka. Senang juga karena ternyata pemberiannya yang teramat sederhana itu dihargai begitu besarnya oleh Seungcheol. Namun, kesenangannya tidak berlangsung lama, pasalnya beberapa orang mulai menyadari adanya kemiripan di antara gelang yang dipakai Seungcheol dengan gelang yang selalu ada di tangan kanan Jeonghan. Spekulasi tentang hubungan spesial di antara mereka mulai muncul di kalangan murid-murid hingga sampai ke anak-anak dari sekolah lain.

Seungcheol, si primadona penuh pesona sedangkan Jeonghan, siswa biasa saja yang tidak pernah menarik perhatian banyak orang. Meski sesungguhnya obrolan-obrolan kecil tersebut tidak menganggu mereka, namun justru Jeonghanlah yang pertama kali meminta Seungcheol untuk tidak usah lagi memakai gelang tersebut takutnya nanti menjadi beban dan mengusik fokus Seungcheol. Awalnya Seungcheol menolak, namun akhirnya ia menuruti permohonan Jeonghan tersebut lagian dia juga tidak mau gelang itu nanti rusak, jadi pikirnya akan lebih baik untuk disimpan saja.

Namun apa yang terjadi setelah keputusan tersebut sama sekali tidak pernah Seungcheol duga sebelumnya. Tiba-tiba saja, secara hampir bersamaan, Seungcheol banyak menerima surat yang berisi kekaguman dari berbagai murid di sekolahnya. Kebanyakan menggunakan nama samaran sehingga Seungcheol tidak pernah benar-benar mengetahui siapa pengirim dibalik surat-surat tersebut. Entah karena hormone remaja yang mulai meledak atau anggapan bahwa sekarang mereka sudah jadi murid SMA sama dengan mereka sudah lebih dewasa dari kemarin-kemarin membuat pengirim-pengirim surat tersebut berlomba-lomba memenuhi keinginan terbesar mereka.

Semuanya berjalan dengan biasa saja, Seungcheol hanya menerima surat-surat tersebut dengan senyuman kecil dan jarang sekali memperhatikan isi surat tersebut. Justru diam-diam ia akan pergi ke rumah Jeonghan setelah jam sekolah berakhir sambil membawa tumpukan amplop berisi surat dari penggemar-penggemar sang kapten tim bola itu dan membiarkan Jeonghan membaca satu per satu surat itu sampai malam datang.

“Lucu-lucu ternyata fans kamu.”

“Aku nggak punya fans, kan aku bukan artis.”

“Lah ini buktinya banyak banget surat cintanya.”

“Nggak penting banget, habis ini juga bakalan dibuang.”

“Jangan lah, udah pada susah-susah nulis ujung-ujungnya cuma kamu buang.”

“Lagian salah siapa nulis begini.”

Jeonghan melanjutkan kegiatannya membaca kertas demi kertas yang beragam bentuk dan warnanya itu. Banyak diantaranya berwarna pink atau biru dengan hiasan-hiasan lucu di sudut-sudut permukaannya membuat Jeonghan tidak bisa menahan tawa kecilnya setiap melihat penampakan surat-surat tersebut. Seungcheol di sampingnya masih sibuk memainkan game di ponselnya.

“Kamu benar-benar nggak ada yang tertarik sama sekali ini, Cheol?” Jeonghan memberanikan diri untuk bertanya meski sebenarnya ia tidak siap dengan jawaban yang mungkin saja keluar dari mulut Seungcheol. Takut, kalau ternyata selama ini Seungcheol diam-diam sudah menaruh rasa pada orang lain.

“Nggak. Lagian aku juga nggak tahu itu pengirimnya siapa aja, pada pakai nama samaran semua atau malah nggak ada namanya.”

“Berarti kalau ada namanya atau ada yang ngasih ke kamu secara langsung, kamu bisa aja tertarik?”

Suara game di ponsel Seungcheol berhenti sejenak, pria itu terlihat berpikir sejenak. Pikirannya melayang membayangkan kalau suatu saat nanti ada seseorang yang datang ke hadapannya dan mengungkap kekaguman mereka secara langsung, mengira-ngira reaksi apa yang akan keluar darinya. Kalau boleh jujur, Seungcheol sendiri malah tidak terlalu mempedulikan soal itu, alih-alih ada sedikit perasaan yang membuatnya bingung mulai berkecamuk dalam hatinya. Perasaannya terhadap Jeonghan, perasaan yang selama ini masih dipertanyakannya, apakah memang betul ia mulai jatuh hati kepada sahabatnya ini atau mungkinkah ini adalah bentuk kasih sayang biasa antara dua sahabat yang sudah saling lama mengenal.

Seungcheol sendiri ragu untuk bertindak, bahkan ragu untuk memikirkan perasaan ini terlalu dalam, takut kalau-kalau ia terlalu menunjukkannya kepada Jeonghan hingga membuat Jeonghan tidak nyaman, takut kalau-kalau ternyata ini semua hanya perasaan konyol belaka yang tiada artinya. Maka ia memilih untuk menguburnya dalam-dalam, membiarkan perasaan itu begitu saja tenggelam dengan sendirinya meski Seungcheol tahu semua usahanya itu akan sia-sia.

“Mungkin?”

“Oh… ya mungkin siapa tahu habis ini ada yang ngasih surat ke kamu secara langsung.”

Lagi-lagi, sebuah manifestasi nyata dari perkataan Jeonghan. Tidak lama setelah pertemuan mereka malam itu, seorang gadis dari kelas yang letaknya berjarak dua ruangan dari kelas Seungcheol, datang menghampiri Seungcheol yang sedang duduk berhadapan Jeonghan di kantin sekolah mereka. Seungcheol baru saja menyelesaikan makan siang yang dibelinya dari salah satu penjual di kantin, sedangkan Jeonghan masih mengunyah beberapa sendok terakhir bekal makan siangnya saat gadis itu secara tiba-tiba duduk di bangku yang masih kosong di sebelah kanan Seungcheol.

“Halo Seungcheol.”

“Eh? Halo? Kenapa?”

“Ini, dari aku buat kamu. Dibaca ya.”

Gadis itu menyodorkan sebuah amplop kepada Seungcheol sembari mengedipkan mata sebelah kirinya genit, lalu pergi begitu saja tanpa mengatakan apa-apa. Seungcheol yang terpaksa menerima surat tersebut mematung, cukup kaget dengan fenomena terasa baru baginya barusan. Jeonghan dihadapannya juga ikut terkejut, ia tidak pernah menyangka bahwa Seungcheol akan benar-benar mendapatkan surat penggemar secara langsung seperti prediksinya beberapa hari yang lalu.

Jeonghan hendak menawarkan diri untuk membaca surat itu, sama seperti yang biasa ia lakukan tiap kali Seungcheol mendapat surat cinta. Namun mulutnya kembali terbungkam ketika ia melihat Seungcheol menyobek amplop yang membungkus kertas di dalamnya dan mulai membaca kalimat-kalimat yang tertulis di atasnya. Jeonghan hanya bisa terdiam memerhatikan Seungcheol yang menyeringai kecil membaca surat tersebut. Dia paham sekarang, Seungcheol sepertinya benar-benar tertarik dengan wanita tadi.

Minggu-minggu selanjutnya, Jeonghan semakin menyadari kedekatan yang mulai terjalin antara Seungcheol dengan gadis itu. Beberapa kali Jeonghan melihat Seungcheol pulang bersama gadis itu, bahkan tak jarang pula mereka gadis itu terlihat berada di antara gerombolan teman-teman satu tim sepak bola Seungcheol. Jeonghan tidak dapat berbuat banyak selain bersikap tahu diri dengan memberikan jarak untuk dirinya dengan Seungcheol, meski sampai saat ini Seungcheol tidak pernah menceritakan yang sesungguhnya kepada Jeonghan tentang apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dengan perempuan itu, namun bagaimanapun Jeonghan tetap ikut senang dan bahagia selama Seungcheol juga bahagia.

Tahun kedua datang dengan cepat, tahun dimana murid-murid mulai memilih jurusan yang lebih disenangi untuk nanti memudahkan mereka masuk ke perguruan tinggi. Jeonghan sebenarnya ingin memilih jurusan sains, namun hati kecilnya tiba-tiba merasa ragu dengan pilihannya. Entah mengapa, ada keinginan mendesak dari dalam dirinya ketika ia hendak mengisi formulir yang ditempelkan di aula besar tempat murid dikumpulkan dengan tanda centang di kolom sains. Hingga akhirnya ia kemudian memutuskan untuk mengganti pilihannya dengan jurusan sosial, mengikuti nasihat Nananya yang pernah mengatakan bahwa jika dihadapkan dengan dua pilihan maka hatimu sebenarnya memang lebih menyukai pilihan yang kedua.

“Kok nggak jadi pilih sains?”

Suara familiar menyapa dari arah belakang. Seungcheol ternyata diam-diam memperhatikannya sedari tadi.

“Nggak papa, berubah pikiran aja.”

Seungcheol berjalan mendekat, mengambil formulir kertas milik Jeonghan dan menumpuknya di atas formulir miliknya.

“Udah selesai kan isinya? Aku kumpulin.”

“Iya, makasih.”

“Sama-sama. Btw, semoga kita sekelas ya, Han.”

Semesta rupanya mengamini. Seungcheol berangkat ke sekolah dengan senyum merekah di bibirnya, sebab semalam pengumuman pembagian kelas sudah disebar ke seluruh siswa. Ia membaca namanya tertulis dengan jelas di daftar nama murid, begitupun dengan nama Joenghan yang terletak beberapa baris di bawahnya. Senang bukan main rasanya, ia dapat kembali berbagi kelas yang sama dengan sahabatnya sejak kecil.

“Hai.”

Senyum lebar masih menghiasi wajah Seungcheol ketika ia mendudukkan dirinya di kursi sebelah Jeonghan yang masih kosong, namun senyuman itu perlahan memudar ketika ia menangkap tatapan kosong manik Jeonghan dan bagaimana teman dekatnya itu tidak menanggapi sapaannya sama sekali.

“Jeonghan?”

Baru ketika Seungcheol menyentuh bahu Jeonghan, matanya kemudian bertukar pandang dengan milik Jeonghan. Senyum kecil menyapanya, yang sepertinya amat sangat dipaksakan untuk dilakukan.

“Halo, Seungcheol.”

“Kamu nggak papa?”

“Nggak papa kok. Oh iya, kamu mau duduk disini? Di sebelahku?’

“Iya lah? Dimana lagi?”

“Ya siapa tahu kamu mau duduk di tempat lain.”

“Nggak disini aja. Kamu sudah sarapan? Aku punya roti kalau kamu mau.”

“Udah kok.”

“Gila, Jeonghan. Aku senang deh akhirnya kita bisa sekelas lagi, waktu aku ketemu kamu di aula itu aku sebenarnya diam-diam ngeliatin kamu dari belakang dan ngikutin pilihan jurusan kamu haha.”

“Serius?”

“Iya, karena aku pikir kalau kita satu jurusan kan pasti ada peluang untuk kita bareng lagi. Eh ternyata beneran!”

“Kenapa kamu nggak tanya langsung aja ke aku, sih? Daripada diam-diam gitu.”

“Karena kamu kemarin sempat jauhin aku? Aku pikir kamu marah sama aku?”

Jeonghan mengernyitkan dahinya.

“Bukan jauhin kamu, aku sadar diri aja kasih jarak ke kamu.”

“Ngapain kasih jarak?”

“Ya karena aku tahu kamu udah punya pacar walaupun kamu belum cerita sama aku.”

“Pacar? Han, sejak kapan aku punya pacar?”

“Loh, cewek yang waktu itu. Kamu pacaran kan sama dia.”

Seungcheol terbahak keras sekali. Sampai membuat teman-teman mereka yang lain mengalihkan pandangannya ke arah mereka. Jeonghan sendiri malah membisu melihat tingkah Seungcheol. Jangan-jangan dia keliru selama ini.

“Kamu salah sangka. Dia itu bukan pacar aku.”

“Te-terus?”

“Dia itu temanku waktu taman kanak, waktu itu dia kasih surat ke aku isinya bilang kalau dia suka sama Wonwoo, kamu tahu Wonwoo kan teman satu tim sepak bolaku. Nah, karena dia malu kalau harus bilang langsung ke Wonwoo, dia minta tolong ke aku supaya sering-sering ajak dia nongkrong sama teman-teman yang lain biar dia bisa dekat sama Wonwoo.”

“Oh..”

“Jadi kamu kira selama ini dia kirim surat itu nyatain perasannya terus aku juga tertarik sama dia?”

“Iya?”

“Kamu salah paham, Han. Tapi ya aku minta maaf juga karena aku nggak cerita sama kamu soal ini, karena aku menghargai permintaan dia untuk jangan kasih tau siapa-siapa. Tapi karena sekarang mereka udah berhasil jadian, buat apa juga aku tutupi.”

“Oh, syukurlah.”

“Apa?”

Sialan, Jeonghan kelepasn menggumam lega. Pasalnya ia memang tidak dapat membendung perasaannya yang senang ketika mendengar penjelasan Seungcheol. Meskipun kini ia terdengar sangat bodoh karena menyimpulkan sesuatu dengan sendirinya, namun setidaknya kini ia tidak perlu lagi bersusah payah menghindari Seungcheol.

“Nggak kok nggak papa, maksudnya syukur kalau mereka udah jadian. Keren juga soalnya teman kamu itu berani untuk confess duluan.”

“Memangnya kalau kamu di posisi dia, kamu nggak berani?”

“Bukan nggak berani sih, cuma takut aja bikin orangnya nggak nyaman.”

“Kenapa gitu?”

“Ya siapa tahu dia nggak bisa balas perasaanku jadi bikin dia nggak nyaman sendiri.”

Ada sedikit jeda sebelum Seungcheol menimpali kalimat Jeonghan.

“Tapi menurutku sih kalau seseorang suka sama kamu mereka akan tunjukin kok.”

Satu kalimat sederhana namun berhasil menjadi salah satu kalimat yang terus membayangi pikiran Jeonghan. Sebab ia masih terus meraba-raba soal makna sesungguhnya dari kalimat tersebut sekaligus melihat apakah Seungcheol mencerminkan sikap yang demikian kepada dirinya atau memang selama ini perhatiannya tidak lebih dari sebatas sikap sahabat saja.

Tahun-tahun semasa sekolah menengah atas mereka berlalu dengan cepat, tiba saatnya hari kelulusan mereka. Jeonghan kini berhasil meraih peringkat kedua siswa dengan nilai terbaik di jurusannya. Membuat Mama Yoon dan Nana menangis terharu melihat namanya dipanggil untuk maju menerima penghargaan dari sekolah. Seungcheol juga ikut bangga, menjadi saalah satu orang yang memberikan tepuk tangan paling meriah dan sorakan kagum kepada sahabatnya itu membuat wajah Jeonghan memerah karena malu.

Selepas acara kelulusan tersebut selesai, Seungcheol mengajak Jeonghan untuk pergi menemaninya membeli kemeja putih sebagai salah satu keperluan yang harus dikenakan untuk ujian seleksi masuk perguruan tinggi. Ngomong-ngomong soal perguruan tinggi, Jeonghan sudah diterima di salah satu perguruan tinggi negeri dengan beasiswa atas prestasinya yang cukup memberikan kelegaan kepada Mama karena beban biaya kuliah setidaknya agak berkurang sedikit. Sedangkan Seungcheol masih berjuang untuk bisa diterima di perguruan tinggi lewat beragam seleksi yang ada, meski ia punya kesempatan untuk bisa masuk melalui jalur prestasi non akademiknya namun Seungcheol tetap ingin mencoba mengikuti ujian terlebih dahulu. Rencananya ia mau ikut masuk ke kampus yang sama dengan Jeonghan. Lagi-lagi, tidak mau terpisah.

Ketika semua keperluan yang ia butuhkan sudah berhasil diamankan, dua insan muda tersebut memutuskan untuk iseng bermain di sebuah wahana pasar malam yang sedang digelar dekat rumah Jeonghan. Maklum, anak muda kelebihan waktu luang yang penuh dengan rasa penasaran alhasil mereka menjajal hampir seluruh wahana permainan yang ada disana, mulai dari rumah hantu yang berhasil membuat Seungcheol berteriak histeris, lalu naik komidi putar yang sangat Jeonghan sukai, bermain pancing ikan, lempar ring, hingga tebak angka yang sama sekali tidak membuahkan hasil, hingga ditutup dengan naik bianglala yang terlihat sangat indah dari kejauhan.

Jeonghan mengedarkan pandangannya ke arah bawah ketika bianglalanya mulai bergerak berputar, melihat lautan manusia yang terlihat begitu kecil dari tempat mereka berada sekarang. Lampu yang menghiasi kerangka bianglala tersebut memancarkan cahaya yang terpantul di permukaan wajah Jeonghan yang sejak tadi diperhatikan oleh Seungcheol.

Malam itu, entah mengapa, ada perasaan aneh mulai mengisi hati Seungcheol. Tiap kali ia memandang wajah Jeonghan, ingin sekali memuji tentang bagaimana cantiknya wajah tersebut. namun takut membuat Jeonghan tidak nyaman, Seungcheol memilih untuk menganggumi dalam diam.

“Papaku tiba-tiba kemarin datang ke rumah.”

Sebuah kalimat yang cukup mengagetkan Seungcheol. Ia paham persis situasi yang melanda Jeonghan, tentang apa yang terjadi dengan Papa Jeonghan.

“Terus? Gimana?”

“Nggak gimana-gimana, cuma ngajak ngobrol. Awalnya ngobrol bareng sama Mama dan Nana terus ujungnya minta ngobrol berdua.”

“Jeonghan nggak papa kan?”

“Nggak papa kok, cuma aneh aja rasanya. Aku kayak ngobrol sama orang asing.”

“Maklum? Karena memang sudah nggak bareng dari kecil kan.”

“Iya. Tapi sedikit hatiku juga mau bisa kenal lebih lanjut sama Papa, kalau boleh juga mau dikasih waktu yang agak lama sama beliau.”

Seungchol terdiam. Dia sebenarnya tidak bisa merasakan apa yang Jeonghan rasakan, keluarganya sejauh ini masih lengkap, meski pasti terdapat ketidakcocokan pendapat akan satu dan lain hal namun Seungcheol masih bisa merasakan kasih sayang orang tuanya dengan lengkap.

“Kemarin disampaikan nggak? Kalau mau begitu?”

“Nggak. Ragu mau ngomongnya.”

“Kenapa?”

“Karena Papa bilang sekarang sudah punya keluarga baru juga.”

Seperti di film-film, persis setelah Jeonghan mengatakan kalimat tersebut, mesin bianglala yang mereka tumpangi tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Ada teriakan dari beberapa orang yang berada di kereta bianglala lainnya. Namun tidak dengan Seungcheol dan Jeonghan yang masih diam, seribu bahasa. Kalau Seungcheol masih terlalu syok dengan kabar yang diberikan Jeonghan tadi, beda dengan Jeonghan yang memang tampaknya tidak lagi sanggup merasakan panik karena sesungguhnya tenaganya sudah habis terkuras memikirkan Papanya.

“Jeonghan.”

“Hm?”

Satu bulir air mata turun dari mata Jeonghan ketika ia mengalihkan pandangannya untuk menatap Seungcheol. Seungcheol yang melihat air mata tersebut, cepat-cepat membawa Jeonghan ke dalam pelukannya yang disambut dengan isak tangis Jeonghan yang mulai terdengar olah pengunjung lainnya. Biarkan, orang-orang juga pasti mengiranya Jeonghan ketakutan karena bianglalanya berhenti.

Usapan-usapan lembut diberikan Seungcheol di punggung Jeonghan, jaketnya basah menampung air mata Jeonghan yang masih turun dengan derasnya. Ia tak peduli, Jeonghan boleh menangis sepuasnya di dalam pelukan hangatnya, Seungcheol mau selalu ada untuk Jeonghan, apapun kondisi dan situasinya.

“Kenapa Papa jahat banget, Cheol?”

“Nggak boleh gitu, Han. Mungkin memang ini pilihan terbaik untuk kalian.”

“Tapi nggak adil. Semuanya saja pergi sekalian.”

“Jelek banget ngomongnya, masih ada Mama, masih ada Nana, kalau kamu kesepian pun masih ada Mamaku, Papaku, Kakakku.”

“Tapi ka-“

“Han, nggak usah mikirin orang yang memang nggak mau untuk hadir di hidup kita. Pikirin aja orang-orang yang benar-benar ada di sekitar kamu dan untuk kamu. Aku selalu disini Han, sama seperti kamu selama ini yang selalu temani aku.”

Jeonghan menatap mata Seungcheol dengan pipi merah dan mata yang sembab. Tangisnya sudah mulai reda, namun ia masih belum mau melepaskan genggamannya pada lengan Seungcheol. Seungcheol tidak keberatan sama sekali, membiarkan Jeonghan nyaman di dalam rangkulannya.

“Jangan khawatir ya, aku akan selalu sama kamu. Sampai kapanpun.”

Entah apa yang merasuki Seungcheol malam itu, namun ia memberanikan diri untuk menyatukan bibirnya dengan milik Jeonghan. Mengecupnya lembut, mencoba menyalurkan rasa aman dan nyaman untuk sahabatnya itu. Mengisyaratkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Jeonghan hanya terdiam ketika ia merasakan bibir Seungcheol menempel dengan bibirnya, meski sesungguhnya ia ingin sekali berteriak kegirangan namun alih-alih yang muncul adalah tetesan air matanya yang kemudian dengan cepat diusap oleh ibu jari Seungcheol.

Bibir Seungcheol begitu manis dapat Jeonghan rasakan. Menciumnya lembut penuh dengan perhatian dan rasa nyaman yang begitu besar, rasanya seperti diselimuti dengan kain tebal yang begitu hangat dan menenangkan. Ia mengesampingkan segala pertanyaan yang muncul di pikirannya dan membiarkan mereka menikmati momen itu sekejap sebelum akhirnya mesin bianglala dapat kembali berputar dan mereka harus mengakhiri permainannya.

Lima belas tahun berlalu, kini Seungcheol dan Jeonghan sedang duduk berdampingan di sofa berbahan kulit dengan Jeonghan yang menyandarkan punggungnya di dada Seungcheol. Mereka sedang berada di apartemen Jeonghan yang sekarang tampak minim furniture dan perabotan rumah lainnya. Pasalnya, sebagian barang-barang Jeonghan sudah mulai dipindahkan ke rumah baru mereka yang akan ditempati setelah mereka menikah dua minggu lagi.

Kejadian mengejutkan namun menyenangkan di pasar malam kala itu tidak pernah dibahas lebih lanjut oleh keduanya, satu yang mereka sama-sama pahami bahwa ciuman Seungcheol malam itu adalah awal mula perjalanan romansa mereka kedepannya. Perasaan yang selama ini saling terpendam, perlahan mulai ditunjukkan tanpa keraguan. Seungcheol tidak lagi terus-terusan menepis segala kegundahan dalam hatinya, ia justru dengan terang-terangan semakin memperlihatkan bentuk cinta dan sayangnya kepada Jeonghan. Sedangkan Jeonghan juga dengan senang hati menerima itu semua dan membalas tak kalah hebatnya.

Meski Seungcheol tidak diterima di kampus yang sama dengan Jeonghan, namun mereka masih punya caranya tersendiri untuk bisa saling meluangkan waktu untuk bertemu dan melepas rindu. Tidak ada pernyataan resmi sebenarnya, baik dari Jeonghan maupun Seungcheol, namun keduanya tahu dan mau bahwa mereka tidak lagi meninginkan orang lain untuk menjadi pilihan pasangan hidupnya. Seungcheol hanya ingin Jeonghan dan Jeonghan juga hanya ingin Seungcheol.

Semuanya berjalan dengan natural begitu saja, hari demi hari, bulan demi bulan, hingga tahun demi tahun silih berganti. Jeonghan berhasil lulus kuliah tepat waktu, Seungcheol terlambat satu semester karena sempat memiliki masalah dengan ketergantungan alkohol yang juga sempat menjadi penyebab retaknya hubungan mereka di semester tiga sampai empat, beruntung Seungcheol berhasil terbebas dari hal tersebut. Seungcheol langsung mendapat pekerjaan di salah satu bank ternama sebagai karyawan kantor dengan penghasilan yang lumayan, sedangkan butuh beberapa waktu sampai Jeonghan harus diterima di sebuah perusahaan televisi nasional. Untuk bisa mendapatkan penghasilan tambahan, Seungcheol mengiyakan ajakan temannya untuk ikut menjadi salah satu pelatih klub sepak bola anak-anak di sebuah kawasan perumahan elite di kota mereka. Kebanyakan uang Seungcheol ditabung untuk dirinya membeli rumah dan biaya persiapan untuk bisa menikah dengan Jeonghan kelak.

Mereka memang sudah membicarakan hal tersebut dari awal, bahwa pasti, suatu saat nanti mereka akan menikah. Semua tabungan yang diusahakan selama ini menjadi bekal penyemangat mereka mengumpulkan lebih banyak uang untuk dapat dinikmati kemudian hari. Jeonghan tahu betul bagaimana rasanya hidup dengan ekonomi terbatas, maka ia menggunakan seluruh kemampuannya untuk mneyisihkan sebagian besar penghasilannya untuk ditabung bersama Seungcheol. Kalau Seungcheol, ia rupanya terlalu mencintai Jeonghan sampai rela melakukan apapun untuk membahagiakan pria itu.

“Aneh ya.”

“Kenapa?”

“Lihat apartemen ini kosong begini, biasanya kan banyak barang-barangku. Bakal kangen juga deh kayaknya.”

“Gimana? Nggak usah dijual aja? Biar kamu nanti boleh kesini kalau bosan di rumah.”

“Nggak. Sayang kalau dibiarin kosong, lumayan uangnya kalau laku dijual atau disewa orang bisa buat tabungan. Lagian ngomongnya sembarangan, mana ada aku bisa bosan sama kamu.”

“Siapa tahu, bosan kan wajar.”

“Oh, jadi kamu pernah bosan sama aku ya.”

“Kalau itu, kayaknya nggak juga.”

“Tuh… gimana sih katanya wajar.”

“Ya kan karena sayangku ke kamu nggak wajar. Sayangku ke kamu kan besar banget, sebesar dunia.”

“Gombal.”

Jeonghan terkekeh geli dengan rayuan yang dikatakan calon suaminya itu. Calon suami, masih geli-geli menggemaskan rasanya tiap kali Jeonghan membayangkan kata tersebut. Seungcheol yang dulu adalah seorang bocah pendiam di kelasnya, kemudian menjadi teman dekatnya sejak sekolah dasar sampai sekolah menengah, hingga kemudian saling menyadari perasaan masing-masing, menjalani kehidupan dan lika-liku pendewasaan bersama, banyak rintangan dan cobaan yang hadir di tengah-tengah perjalanan mereka namun buktinya cinta mereka terlalu kuat untuk bisa dikalahkan oleh itu semua, sampai kini empat belas hari menuju hari dimana mereka kan secara resmi mengikat hubungan mereka untuk selamanya.

“Sayang.”

“Ya?”

“Terima kasih ya, kamu sudah selalu ada untuk aku selama ini.”

“Kenapa tiba-tiba sedih gini deh.”

“Nggak papa, aku cuma merasa karena hubungan kita awalnya dari pertemanan dan ngalir gitu aja jadi aku kadang suka lupa atau nggak terbiasa untuk bilang rasa sayangku ke kamu. Padahal aku sayang banget sama kamu, Jeonghan.”

“Manisnya… tapi jangan merasa terbebani ya, Cheol. Aku bisa kok merasakan semua kaish sayangmu ke aku tanpa kamu harus ungkapin lewat kata-kata. Lagian kalau kamu nggak sesayang itu sama aku kita nggak akan nikah sih dua minggu lagi.”

“Ya iya sih, bener.”

“Aku juga ya, maaf kalau selama ini mungkin aku nggak banyak omong. Tapi aku tahu kamu paham aku kan? Kamu satu-satunya orang yang paling paham soal aku, Cheol.”

“Always, baby.”

Jeonghan memutar tubuhnya untuk menatap Seungcheol sepenuhnya, ia lalu mendudukkan dirinya di atas pangkuan Seungcheol dan melingkarkan tangannya ke pundak Seungcheol. Tersenyum manis, ia mengisyaratkan agar Seungcheol memberikan kecupan ke bibirnya yang tentu diikuti dengan senang hati oleh kekasihnya tersebut. Jeonghan menahan pipi Seungcheol ketika bibir mereka bertemu, menjadi pihak yang lebih dulu menginisiasi jalannya sesi bercumbu mereka. Ia membuka sedikit bibirnya untuk membiarkan Seungcheol bermain dengan lidah dan gigi di alam mulutnya. Seungcheol hanya menuruti kemauan Jeonghan malam itu, toh ia juga senang. Bibir manis Jeonghan dikulum dan dijilatnya penuh rasa kekaguman dan pujian. Berharap Jeonghan dapat merasakannya.

“Love you, sayang.”

“Huum, can’t wait to be truly yours.”

Semuanya masih terasa bagai mimpi, Jeonghan tidak pernah menyangka bahwa perasaanya selama ini akan terbalas dengan apiknya, begitu pula dengan Seungcheol bahwa ternyata selama ini ia tidak seharusnya meragukan perasaanya. Bagaimanapun itu, mereka selalu bersyukur karena tidak pernah menyerah dan bersama-sama berjuang mempertahankan hubungan mereka. Takdir memang berjalan dengan cara yang mengesankan. Berawal dari perkenalan singkat nan polos khas bocah kecil, dilanjut dengan terjalinnya persahabatan erat diantara keduanya, kini berakhir dengan ikatan suci dan sakral untuk selamanya. Twenty seven years down, forever to go.



 

 

 

Notes:

hello everyone! i still have four more works that belong to this from you, for you series (which contains commissioned work from twitter (x))
this one is for antiqueromantica or antqromantica on twt, thank you so much for doing this! i personally LOVE the friends to lovers trope on coupjeong so i hope you guys can also enjoy this one!
thank you for tuning in, see you next time!!!
follow me on twt: @/sihirjerau

Series this work belongs to: