Work Text:
“Berita terbaru kali ini datangnya dari keluarga kerajaan kecintaan kita semua, putra sulung dari Raja Choi, Pangeran Choi Seungcheol dikabarkan akan segera menyelenggarakan pernikahannya tahun ini dengan seseorang yang telah menjadi pilihan Pangeran dan sudah lama mengenal baik keluarga kerajaan. Masih belum diketahui terkait tanggal pasti penyelenggaraan pernikahan yang akan menjadi salah satu acara paling dinanti semua masyarakat negeri, namun narasumber memastikan bahwa akan digelar di musim panas mendatang.”
Tombol mute pada remote televisi yang sedari tadi digenggam Jeonghan ditekannya dengan agak keras. Ia meletakkan remote tersebut ke atas meja kopi di hadapannya dan mengalihkan fokusnya ke sebuah novel di pangkuannya. Ia menghela nafas, mencoba untuk bisa berkonsentrasi membaca konten yang tertulis di novel tersebut. Namun pikirannya terus mengkhianati, berlarian tanpa arah. Bukan, bukan tanpa arah, sebenarnya ada satu hal yang akhir-akhir ini selalu mengusiknya. Tentang perjodohannya.
Terlahir di sebuah keluarga yang erat kaitannya dengan keluarga kerajaan, sebenarnya membuat Jeonghan sudah terbiasa dengan adanya fenomena perjodohan seperti itu. Sejauh yang ia ketahui pun, ia adalah seorang anak yang lahir dari pasangan yang dijodohkan. Ayah dan Ibu Jeonghan menikah tidak berdasarkan rasa cinta dan ketertarikan, namun perjanjian yang dilakukan oleh para pendahulu Jeonghan menjadikan mereka mau tidak mau harus menuruti hal tersebut. Jeonghan sendiri tumbuh melihat bagaimana hubungan antara Ibu dan Ayahnya berjalan hingga sekarang, meski pada akhirnya mereka dapat menemukan cara mereka tersendiri untuk terbiasa dengan kehadiran satu sama lain dan berusaha yang terbaik untuk – setidaknya – bisa menghargai perasaan masing-masing sembari terus menumbuhkan rasa sayang yang dimiliki, namun tak jarang pula Jeonghan dapat merasakan adanya kehampaan dan kecanggungan di antara kedua orang tuanya. Dulu, ketika Jeonghan masih kecil ia tidak terlalu memerhatikannya, yang ia tahu Ayah dan Ibunya memang terbiasa jarang sekali bersama jika tidak ada tugas negara yang harus dilakukan berdua, tetapi seiring dengan berjalannya waktu dengan Jeonghan yang semakn dewasa, ia pun mengerti bahwa sesungguhnya mereka hanya mengusahakan untuk bisa bersama demi citra kerajaan. Mengingat itu semua, Jeonghan berjanji akan berusaha untuk tidak mengikuti jejak Ayah dan Ibunya, untuk memilih pasangan hidupnya sendiri tanpa ada campur tangan orang lain. Meski ia tahu, hal itu sangat kecil peluangnya.
Ketika itu, Raja Yoon menghampirinya di suatu malam dan memberikan sebuah pesan kepadanya bahwa kelak ketika ia beranjak dewasa Jeonghan harus selalu siap untuk menjadi pendamping hidup seseorang yang telah dikehendaki oleh Ayahnya itu. Sebagai anak yang memang besar rasa ingin tahunya dan memiliki pemikiran yang cenderung bebas, Jeonghan memberikan pertanyaan kepada Ayahnya perihal mengapa ia harus menuruti permintaan Raja.
“Karena semua sudah diatur dan disetujui oleh Kakekmu. Aku bukan satu-satunya orang yang harus menuruti perjodohan, kamu juga termasuk diantaranya.”
Jeonghan mengernyitkan alisnya, tidak memahami maksud dari kalimat barusan.
“Kerajaan kita ini dulu sempat hampir saja runtuh, banyak masalah yang melanda. Mulai dari wabah penyakit, kekurangan bahan makanan, sampai adanya ancaman bahwa kita akan kehilangan wilayah yang hendak diintervensi oleh suatu kerajaaan lain. Akibatnya, kakekku harus melakukan banyak cara untuk mempertahankan semuanya, salah satunya adalah dengan menjalin relasi yang baik dengan beberapa kerajaan wilayah lain, kerajaan yang lebih besar dan lebih hebat dari kita. Kamu tahu sendiri bahwa kerajaan kita ini kan memang kecil, namanya juga tidak sebesar nama- nama kerajaan lainnya. Maka terjalinlah hubungan baik dengan tiga kerajaan lainnya dan untuk mempertahankan hubungan tersebut, suatu perjanjian dibentuk bahwa untuk tiga generasi berikutnya dari kerajaan kita akan dijodohkan dengan tiga generasi dari kerajaan mereka-mereka itu. Ayahku atau kakekmu kemudian menikah dengan keturunan dari kerajaan K, ibumu kamu tahu bahwa semasa ia menikah denganku ia adalah Putri ketiga kerajaan T. Kelak saat kamu sudah dewasa, kamu juga akan menikah dengan keturunan dari suatu kerajaan yang telah banyak membantu kita sampai sekarang.”
“Boleh aku tahu kerajaan manakah itu, Yang Mulia?”
“Nanti, saat sudah waktunya.”
Little did he know, garis takdir membawa Jeonghan harus menikah dengan keturunan serta putra satu-satunya kerajaan terbesar, terkuat, terkaya, dan tersohor di kawasan mereka. Kerajaan C. Wilayahnya sangat luas dengan kekayaan alam yang dimiliki melimpah jumlahnya, pun dengan rakyat mereka yang begitu banyak serta kehebatan mereka dalam berperang dan keramah-tamahan keluarga kerajaannya berhasil memberikan pandangan baik terhadap siapapun orang yang mengenal mereka menjadikan Kerajaan C adalah salah satu kerajaan yang dicintai banyak orang.
Berbeda dengan Kerajaan T dan Kerajaan K, yang walaupun memang lebih besar dibandingkan dengan Kerajaan asal Jeonghan yaitu Kerajaan Y, Kerajaan C memiliki pesonanya tersendiri Hingga sering kali menjadi perhatian khalayak public. Konon katanya, sedari dulu pun Kerajaan C berdiri sebagai kerajaan yang menjadi role model baik bagi keluarga bangsawan lainnnya ataupun rakyat biasa. Sampai kini pun, di zaman yang sudah lebih maju dan lebih modern, banyak masyarakat yang memang terang-terangan menunjukkan kecintaan mereka terhadap kerajaan tersebut dan keluarganya.
Jeonghan sendiri tumbuh dengan pengetahuan tentang Kerajaan C sebagai salah satu kerajaan yang berteman baik dengan kerajaan asalnya sehingga ia memang diajarkan untuk bersikap sopan dan santun setiap kali ada pertemuan antar kerajaan yang mengharuskan ia untuk bertatap muka dengan para anggota keluarga kerajaan C. Jeonghan juga paham betul bahwa Raja Choi hanya memiliki satu anak laki-laki yang sebaya dengan dirinya dari pernikahannya dengan sang Ratu yang membuat Jeonghan berharap mungkin suatu saat nanti ia dapat berteman baik dengan pangeran tersebut, toh dia juga merupakan anak tunggal. Namun justru semesta memberikan jawaban lebih dari harapannya itu, Jeonghan bahkan akan menghabiskan seluruh sisa hidupnya bersama Pangeran Choi, sebagai pendampingnya.
“Oh, ada berita tentang pangeran Choi di televisi.”
Suara riang terdengar dari arah belakang tempat duduk Jeonghan. Ia menolehkan kepalanya ke sumber suara, lalu tersenyum ketika menangkap kehadiran Soonyoung, sepupunya yang umurnya satu tahun lebih muda darinya. Jeonghan mengisyaratkan Soonyoung untuk duduk di sebelahnya yang diikuti dengan cepat oleh pria itu.
“Kenapa dikecilkan suaranya?”
“Tidak apa-apa, bosan saja.”
“Bosan mendengar berita soal pernikahanmu?” Jeonghan mengangguk.
“Bagaimanapun kamu harus sudah mulai terbiasa, Kak. Kamu akan menikah dengan pangeran Choi, pangeran dari kerajaan paling dipuja dari timur ke barat. Akan ada banyak hal tentangmu yang perlahan menjadi konsumsi publik.”
“Mereka bahkan belum tahu kalau akulah yang akan menikah dengan pangeran Choi, tetapi semua orang sudah sepertinya sudah benar-benar semangat dengan hal ini.”
“Kamu sendiri bagaimana? Semangat tidak?”
Ada helaan nafas kecil sebelum Jeonghan menjawab pertanyaan Soonyoung.
“Aku dari dulu sudah diajarkan oleh Raja untuk selalu mempersiapkan diri bahwa momen seperti ini akan datang cepat atau lambat. Meski hati kecilku mengatakan bahwa sebenarnya aku tidak mau melakukan tradisi bodoh ini, berharap mungkin saja siapapun nanti orang yang akan menikah denganku akan menolak mentah-mentah jadi perjodohan bisa dibatalkan. Tapi apa daya, kamu bisa lihat sendiri.”
“Aku turut sedih. Sebenarnya juga heran kenapa harus perjodohan ini dilakukan lintas generasi kenapa tidak langsung dituntaskan ketika kakek masih ada waktu itu.”
“Entahlah. Satu yang aku harap, semoga pangeran Choi setidaknya hanya bukan sekedar soal penampilannya yang tampan saja.”
“Oh… jadi mengakui kalau pangeran Choi tampan, ya? Hahahahaha.”
“E-eh, bukan seperti itu. Ma-maksudk-“
“Terserah. Setidaknya itu yang kudengar.”
Nyatanya, mungkin semua orang akan dengan mudah setuju mengatakan bahwa Choi Seungcheol adalah seorang pangeran dengan paras yang rupawan. Garis wajahnya tegas, alisnya tebal sempurna dengan matanya yang bulat bersinar serta hidung mancungnya yang menambah ketampanan pada dirinya. Meski Jeonghan belum pernah bertemu langsung dengan pangeran tersebut, namun lewat foto saja ia sudah dapat memastikan bahwa penampilan pangeran Seungcheol memang pasti dengan mudah membuat siapa saja terpesona.
Soonyoung mengatakan bahwa Jeonghan seharusnya menganggap bahwa dirinya adalah orang yang beruntung karena bisa mendapatkan kesempatan untuk memenangkan hati Seungcheol. Namun bagi Jeonghan sendiri, ia membutuhkan lebih daripada itu. Bagaimana bisa ia akan menghabiskan sisa hidupnya dengan seseorang yang belum pernah ia kenal sama sekali sebelumnya, hanya pernah mendengar namanya saja dan melihatnya melalui foto atau lukisan- lukisan kerajaan. Maka ia memohon kepada Raja, jika memang diperbolehkan Jeonghan ingin bertemu dan diberikan waktu lebih untuk mengenal Seungcheol sebelum pada akhirnya nanti mereka menikah.
Hingga datanglah hari ini, hari dimana Jeonghan akan bertemu dengan Seungcheol untuk pertama kalinya. Seungcheol dan beberapa anggota keluarga kerajaan C akan datang berkunjung ke kediaman keluarga kerajaan Y, tentu tanpa ditemani Raja dan Ratu karena mereka memang tidak mau menarik perhatian publik. Sesuai permintaan Seungcheol, ia ingin masyarakat tahu siapa calon pendampingnya tepat ketika hari pertunangan mereka datang nanti. Kalaupun kedatangan Seungcheol ke kerajaan Y ini tercium oleh masyarakat, maka setidaknya mereka akan menganggapnya hanya sebagai kunjungan kerja sama biasa.
“Pangeran Jeonghan, Yang Mulia Raja dan Ratu sudah menunggu kehadiran pangeran di aula besar.”
Seorang wanita berdiri menundukkan kepalanya di ujung pintu ruang baca milik Jeonghan. Menunggu disana hingga Jeonghan benar-benar bangkit dari duduknya dan meninggalkan ruangan tersebut. Soonyoung memandangi Jeonghan yang perlahan menutup novelnya dan mematikan televisi di hadapannya.
“Sudah siap, kak?”
“Aku selalu siap, Soon.”
Pintu aula besar dibuka dengan perlahan sesaat setelah petugas kerajaan mengumumkan kedatangan Jeonghan kepada kedua orang tuanya dan tamu yang telah menunggunya sejak tadi. Jeonghan menghela nafasnya panjang. Mengatur degup jantungnya yang mulai berdetak tak beraturan, mencoba untuk tetap terlihat tenang. Meskipun memang Jeonghan berkali-kali meyakinkan orang-orang disekitarnya bahwa ia siap, bahwa bagaimanapun ini adalah takdir yang telah dituliskan untuknya sedari dulu dan ia ingin menjadi anak yang berbakti kepada orang tuanya, namun sebagian kecil dari hati Jeonghan tentu bertingkah layaknya manusia pada normalnya yang pasti akan merasa gugup tiap kali memasuki fase kehidupan yang baru, terlebih seseorang yang akan menemaninya pada fase hidup tersebut adalah orang yang belum sama sekali mengenalnya.
Langkah kaki Jeonghan terdengar dari dalam aula, membuat setiap pasang mata yang ada mengalihkan pandangan mereka ke arah Jeonghan. Mereka semua tersenyum menyambut datangnya Jeonghan ke aula siang itu, Jeonghan sendiri tidak lupa juga menundukkan kepalanya menunjukkan hormat kepada Raja dan Ratu Yoon serta tamu-tamu kerajaan yang telah hadir. Ia kemudian dipersilakan duduk oleh Raja Yoon di sebuah sofa single yang terletak di sebelah kanan tempat orang tuanya mendudukkan diri. Soonyoung yang sedari tadi mengikutinya dari belakang ikut masuk ke dalam aula dan duduk di sebuah kursi yang letaknya di belakang Jeonghan dekat dengan meja, Jeonghan yang meminta secara khusus untuk Soonyoung ikut menemaninya hari itu. Toh orang tua Soonyoung juga ikut hadir menyambut tamu dari kerajaan C, jadi ia pikir tidak ada salahnya kalau Soonyoung turut ada disana sebagai support mental untuk dirinya.
Ketika Jeonghan menyamankan posisinya di sofa, matanya menangkap kehadiran sesosok laki- laki yang cukup asing duduk di hadapan Raja dan Ratu Yoon. Laki-laki yang sebenarnya telah memandanginya sejak tadi, tidak melepas tatapan matanya barang sedetik pun sejak Jeonghan melangkahkan kakinya masuk ke dalam aula besar.
“Pangeran Seungcheol, izinkan kami memperkenalkan anak semata wayang kami, Pangeran Jeonghan dari Kerajaan Y.”
Kedua anak muda tersebut kemudian bertukar pandang. Untuk pertama kalinya, Jeonghan dapat melihat manik mata Seungcheol yang bersinar tersebut secara langsung. Ia menangkap bagaimana pandangan Seungcheol terlihat lebih cerah sekaligus melembut ketika mereka saling berpandangan untuk yang pertama kalinya. Jeonghan tidak pernah menyangka akan mengatakan ini namun ia mengakui bahwa Seungcheol jauh lebih tampan dari foto-foto yang selama ini ia lihat di layar kaca. Hidungnya mancung, bibirnya tebal, garis rahangnya begitu tegas dan tajam seakan-akan dapat menorehkan goresan luka bagi siapapun yang menyentuhnya, pipinya dihiasi lesung pipi yang akan dengan mudah nampak setiap kali pangeran itu tersenyum.
“Salam hormatku untuk Pangeran Jeonghan.”
Seungcheol menyapa Jeonghan sembari menegakkan badannya dan menundukkan kepalanya sebagai tanda hormatnya. Jeonghan balas menunduk dengan sopan ke arah Seungcheol.
“Salam, Yang Mulia.”
Seungcheol menjulurkan tangannya ke depan Jeonghan, bermaksud agar Jeonghan menaruh tangannya di atas tangan Seungcheol.
“May I?”
Ada sedikit keraguan sebelum Jeonghan akhirnya menyodorkan tangannya untuk digenggam erat oleh pria yang akan segera menjadi suaminya kelak. Ia memerhatikan bagaimana Seungcheol membawa tangan tersebut untuk mendekat ke bibirnya dan meninggalkan kecupan kecil di atas punggung tangan Jeonghan. Jeonghan sebenarnya cukup kewalahan dengan sikap Seungcheol yang demikian, seumur hidupnya ia tidak pernah diperlakukan seperti ini. Senyuman lebar dan helaan nafas lega dapat didengarnya dari arah samping. Raja dan Ratu Yoon melihat bagaimana pangeran Seungcheol datang ke kediaman mereka dengan impresi yang luar biasa bagus bahkan kini menunjukkan sikap lembutnya kepada Jeonghan, anak mereka satu-satunya.
“Senang akhirnya bisa bertemu dengan Pangeran Jeonghan.”
“Likewise.”
Perkenalan singkat mereka itu lalu kembali disusul dengan obrolan-obrolan yang banyaknya hanya bergulir antara Seungcheol dan orang tua Jeonghan, sedangkan Jeonghan hanya banyak diam dan mengamati bagaimana mereka berinteraksi di hadapannya. Bukannya tidak mau ikut berpartisipasi, namun Jeonghan akan merasa lebih nyaman jika ia diberikan waktu sendiri untuk berbincang lebih lanjut dengan Seungcheol, hitung-hitung sekalian bisa mengenal lebih dalam soal pangeran tersebut.
“Yang Mulia, jika diizinkan saya ingin meminta waktu khusus untuk saya dan Pangeran Seungcheol.”
Jeonghan mengajukan permintaan kepada Ayah dan Ibunya, yang tentu cukup terkejut mendengarnya sampai mereka bingung bagaimana merespon permintaan tersebut.
“Oh-oh, boleh, boleh. Maksudku, setelah ini kami juga harus segera menyelesaikan urusan lain. Jika pangeran Seungcheol tidak keberatan maka dengan rendah hati kami mempersilakan.”
“Saya tentu lebih dari senang untuk bisa menghabiskan waktu dengan Pangeran Jeonghan, Yang Mulia.”
“Mungkin Jeonghan bisa membawa pangeran Seungcheol berkeliling istana, bagaimana Jeonghan?”
“Tentu, Yang Mulia.”
Maka disanalah mereka, berjalan berdua dengan Seungcheol yang berada sedikit lebih jauh di belakang Jeonghan, menyelusuri hampir setiap bagian kerajaan Y yang tentu Jeonghan amat familiar itu. Beberapa kali Seungcheol akan melontarkan pertanyaan tentang fungsi-fungsi dari ruangan-ruangan yang mereka lewati.
“Maaf, tapi Pangeran boleh berjalan di sebelahku saja daripada harus di belakangku. Pangeran bukan pengawal yang harus selalu melindungiku,” Jeonghan berujar di sela-sela sesi berkeliling mereka. Seungcheol yang menangkap rasa ketidaknyamanan di kalimat itu buru-buru mensejajarkan langkah mereka sesuai dengan permohonan Jeonghan.
“Maaf, kalau membuatmu tidak nyaman. Aku pikir kamu akan lebih merasa tenang kalau aku memberikan jarak.”
“Tidak perlu, toh kita juga perlu saling mengenal satu sama lain. Bukankah begitu?”
Seungcheol tersenyum mendengar pertanyaan Jeonghan. Sejujurnya, sebelum pada akhirnya ia dipertemukan dengan Jeonghan hari ini, Seungcheol sempat memiliki prasangka bahwa Jeonghan adalah seseorang yang tidak akan bisa berbaur dengan baik dengan dirinya. Karena sama seperti layaknya Jeonghan, selama ini Seungcheol hanya dapat melihat Jeonghan melalui foto-foto Jeonghan yang sering beredar di portal-portal berita. Selebihnya, Yoon Jeonghan tidak lain dari sebuah nama baginya.
Soal perjodohan ini, Seungcheol juga sudah tahu persis bahwa sebagai anak sulung dari Raja dan Ratu Choi sepanjang hidupnya akan berjalan penuh dengan arahan dan tuntutan dari para pendahulunya, bahwa kurang lebih Seungcheol tidak akan banyak bisa menentukan jalan hidupnya sendiri. Seakan-akan semuanya sudah diatur bahkan jauh sebelum dirinya lahir. Termasuk soal siapa yang nanti akan menjadi pendamping hidupnya, berbeda dengan Jeonghan yang meskipun tahu bahwa ia akan dijodohkan oleh seseorang yang telah menjadi pilihan keluarga besarnya, Seungcheol tumbuh dengan nama Yoon Jeonghan yang kerap kali dibicarakan oleh kedua orang tuaya. Berkali-kali ia diberikan pemahaman bahwa kelak saat ia dewasa, ia akan menikah dengan Jeonghan meski keduanya sama sekali tidak mengenal satu sama lain.
Sehingga ketika pertanyaan tadi dilontarkan Jeonghan, Seungcheol hanya bisa mengangguk menyetujui. Lagipula, menurutnya memang jauh akan lebih baik untuk mereka bisa memahami karakter masing-masing terlebih dahulu sebelum akhirnya nanti secara resmi menjadi pasangan. Setidaknya dengan begitu, mereka bisa saling merasakan kenyamanan dengan kehadiran masing- masing.
“Kalau begitu, bagaimana menurut kamu kalau kita mulai dari panggilan nama. Kita seumuran kan? Rasanya tidak perlu kalau harus saling memanggil dengan panggilan yang terlalu formal dan kaku. Panggil aku Seungcheol saja dan aku akan panggil kamu Jeonghan.”
“Eh? Pangeran tidak keberatan?”
“Sama sekali tidak. Anggap saja kita teman satu sekolah, bagaimana?”
“Boleh, Seungcheol?”
“Terima kasih, Jeonghan.”
Menit-menit selanjutnya masih diisi dengan mereka yang berkeliling di istana bagian kiri, tempat dimana Jeonghan banyak menghabiskan waktunya. Kamar tidur, ruang makan, ruang tamu berukuran kecil yang biasa digunakan Jeonghan ketika teman-temannya datang berkunjung, hingga ruang baca yang menjadi tempat favoritnya. Siang itu pun, Jeonghan mengundang Seungcheol untuk masuk ke dalam ruang bacanya sembari menikmati teh hangat yang secara khusus ia minta untuk disiapkan oleh koki istana.
“Hm, teh terenak yang pernah aku coba.”
“Daun tehnya dipetik secara langsung oleh tukang kebun kami dan diolah dengan proses khusus yang hanya diketahui oleh koki dan tukang kebun kerajaan.”
“Wow, ini enak sekali.”
“Aku akan berikan beberapa kotak untuk Seungcheol bawa pulang ke rumah.”
“Terima kasih, Jeonghan.”
“Sama-sama.”
Sembari menikmati teh spesial tersebut, Jeonghan menunjukkan beberapa koleksi novelnya kepada Seungcheol yang ternyata – tidak seperti ekspektasinya – juga suka mengoleksi novel, bahkan beberapa judul di rak buku Jeonghan dapat dengan mudah ia kenali karena telah menamatkan buku-buku tersebut terlebih dulu. Sesi santai yang semula Jeonghan kira akan berjalan canggung, nyatanya menjadi sebuah momen untuk mereka dapat saling terbuka kepada satu sama lain.
Hingga ketika kemudian Seungcheol menyadari bahwa hari semakin sore dan ia masih harus menyelesaikan permasalahan lain di kerajaan asalnya. Pria itu kemudian meminta izin kepada Jeonghan untuk berpamitan meninggalkan kerajaan Y dan mempersilakan Jeonghan untuk berkunjung ke kerajaannya setelah pengumuman pertunangan mereka yang akan diselenggarakan bulan depan.
“Tentu, pasti aku akan berkunjung.” “Jeonghan.”
“Ya?”
“Aku tahu ini semua kesannya terlalu terburu-buru dan mungkin sedikit bagian dari dirimu merasa terpaksa harus menikah denganku. Tapi setidaknya, aku akan berusaha untuk membuat kita merasa lebih nyaman dan bisa berteman dengan baik.”
Jeonghan cukup terkejut dengan pernyataan Seungcheol barusan, tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa pangeran itu tenyata memikirkan tentang bagaimana perasaannya terhadap perjodohan mereka selama ini.
“Oke, tidak ada salahnya untuk berteman.”
Senyuman lebar menghiasi wajah Seungcheol. Lesung pipi yang – menurut Jeonghan – menjadi daya tarik pangeran itu tercetak dengan jelas di kedua pipinya membuat Jeonghan juga tanpa sadar tersenyum kecil. Seungcheol kemudian menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat sekaligus ucapan selamat tinggal.
“Sampai bertemu lagi, Yang Mulia.”
“Siap?”
“I’m always ready.”
Seungcheol mengisyaratkan untuk pengawal kerajaan membuka pintu besar berwarna putih di hadapannya. Tidak lupa ia memasang senyum tegasnya sembari kembali memastikan bahwa Jeonghan sudah sepenuhnya siap untuk menemui wartawan yang telah menunggu sedari tadi di salah satu ruang duduk di kerajaan C. Jeonghan membalas pandangan Seungcheol dengan senyuman tak kalah manisnya, tangannya lalu ia kaitkan pada lengan bagian atas milik Seungcheol yang kemudian ditepuk pelan oleh pemiliknya.
Begitu keduanya melangkahkan kaki memasuki ruang duduk tersebut, kilatan cahaya kamera fotografer dan tepuk tangan yang cukup meriah menyambut pasangan baru itu. Semua mata tertuju pada kehadiran Seungcheol dan Jeonghan yang berhasil menarik perhatian banyak orang. Wartawan-wartawan nasional bahkan internasional tersebut memang diundang oleh kerajaan C untuk bisa bertemu dan meliput berita tentang pertunangan mereka secara eksklusif.
Maka pada pagi hari itu, Seungcheol berdandan rapi dengan jas berwarna hitam, kemeja putih dan dasi berwarna coklat yang senada dengan warna blouse yang dikenakan Jeonghan dibalik jas panjang berwarna hitam. Di jari manis Jeonghan terdapat sebuah cincin dengan permata berwarna emerald yang kemudian dikatakan sebagai cincin yang diberikan Seungcheol kepada Jeonghan sebagai tanda pertunangan mereka.
“Cincin itu aku dapat dari ibu, Ratu Choi, dulu pesannya agar diberikan kepada seseorang yang akan aku pilih sebagai pendamping hidupku.”
“Jadi benar ya yang diberitakan, kalau Yang Mulia Pangeran Choi Seungcheol sudah lama menaruh hati kepada Pangeran Yoon Jeonghan?”
Seungcheol terlihat berhenti sejenak sebelum akhirnya menjawab pertanyaan wartawan tersebut.
“Ya, tentu. Tidak banyak orang yang tahu kalau berkat hubungan baik kerajaan kami sebenarnya membuat kami lalu berteman baik pula sedari dulu. Jadi mungkin memang sudah saling terbiasa satu sama lain dan seluruh keluarga juga sudah saling mengenal hingga aku mulai sadar kalau oh, Jeonganlah jawabannya.”
Jeonghan mematung mendengar jawaban Seungcheol. Dirinya tidak pernah menyangka bahwa Seungcheol akan menjawab pertanyaan dari wartawan tersebut dengan sebuah skenario yang sepenuhnya adalah kebohongan. Meski memang benar, keluarga kerajaan Y dan kerajaan C sudah lama saling mengenal, namun tidak dengan Jeonghan dan Seungcheol. Mereka bahkan baru dipertemukan dan diberikan kesempatan untuk berkenalan secara baik sekitar satu bulan yang lalu. Lantas mengapa kini Seungcheol mengatakan narasi palsu tentang bagaimana hubungan mereka selama ini, tentang bagaimana Seungcheol yang seakan-akan telah menaruh hati padanya sejak lama.
“Bagaimana dengan Yang Mulia Pangeran Yoon Jeonghan sendiri, masih ingatkah dengan perkenalan pertama kalian?”
Seungcheol menangkap kegugupan di raut wajah Jeonghan, ia berusaha untuk terus tersenyum sembari merangkul bahu Jeonghan dan memberikan usapan halus berharap Jeonghan segera bisa menjawab pertanyaan dari orang-orang di hadapannya.
“Hm? Maaf? Bisa diulang pertanyaannya?”
“Haha, iya. Jeonghan belum terbiasa dengan banyak wartawan seperti ini.” “Betul, maaf. Aku belum terbiasa dengan semua ini.”
“Bagaimana dengan Yang Mulai Pangeran Yoon Jeonghan sendiri, masih ingatkah dengan perkenalan pertama kalian?”
Sialan, ia harus membuat karangan cerita untuk menjawab pertanyaan yang satu ini. pasalnya tidak mungkin kalau ia mengatakan yang sejujurnya, nanti jadinya akan sangat berbeda dengan apa yang diutarakan Seungcheol. Bisa saja menimbulkan kecurigaan di mata masyarakat.
“Well, seperti yang Seungcheol katakan bahwa keluarga kami sudah saling mengenal satu sama lain. Jadi memang sedari dulu setiap kali ada pertemuan bersama, kurang lebih aku sering bertatap muka dengan Seungcheol. Yang mulanya hanya seorang teman biasa kemudian kami menjadi lebih akrab hingga sekarang kami sudah bertunangan.”
Tawa-tawa kecil mengiringi jawaban Jeonghan barusan, Seungcheol terlihat begitu bangga dengan jawaban Jeonghan. He can play along well¸ pikirnya.
“Dimana Yang Mulia Pangeran Seungcheol melamar Pangeran Jeonghan?”
Lagi, Seungcheol mempersiapkan naskah bohongan di kepalanya untuk diungkapkan di hadapan media-media massa tersebut. Pasalnya, tidak pernah digelar acara pertunangan yang benar-benar resmi layaknya pasangan pada umumnya. Seungcheol hanya datang ke kerajaan Y bersama dengan Raja dan Ratu Choi serta beberapa anggota kerajaan terdekatnya untuk menyerahkan cincin emas dengan batu emerald sebagai simbol bersatunya mereka. Cincin itupun diserahkannya kepada Raja dan Ratu Yoon untuk kemudian diserahkan kepada Jeonghan, Seungcheol bahkan tidak bertemu dengan Jeonghan hari itu.
“Hm… sesuai dengan apa yang selama ini aku bayangkan. Aku mengundang Jeonghan untuk berkunjung ke istana C dan ikut pergi bersamaku dan beberapa teman kami yang lain untuk menyaksikan pertandingan berkuda. Lalu setelah petandingan itu selesai, aku membawa Jeonghan untuk menepi berdua ke arah danau. Aku bilang padanya kalau minum teh di pinggir danau itu merupakan salah satu kegiatan yang menyenangkan dan aku suka sekali, lalu ketika aku rasa waktunya tepat, suasananya juga mendukung, aku berlutut di satu kaki dan melontarkan pertanyaan penting.”
“Dia begitu romantis, aku benar-benar tidak menyangka kalau hari itu dia akan melamarku,” Jeonghan menimpali dengan ekspresi yang tentu saja adalah sebuah bualan belaka.
Pertanyaan-pertanyaan selanjutnya diberikan oleh wartawan-wartawan di depan mereka secara bergantian sampai beberapa menit kedepan. Termasuk soal kapan pernikahan mereka digelar, tema apa yang akan diusung, kemana mereka akan pergi berbulan madu dan lain sebagainya. Kalau yang itu semua, Seungcheol dan Jeonghan sudah mempersiapkan dengan baik di balik layar sebelum mereka melakukan wawancara tersebut, tentu dibantu oleh tim yang juga akan banyak turun tangan menangani pernikahan mereka mendatang. Setidaknya, Jeonghan tidak harus berbohong sepanjang waktu acara berlangsung.
“Terima kasih, terima kasih banyak atas waktunya, ya.”
“Terima kasih semuanya, senang bertemu kalian semua.”
Ketika sesi wawancara dinyatakan berakhir, Jeonghan dan Seungcheol melambaikan tangan mereka kepada wartawan yang sudah senantiasa menyimak mereka dengan senang hati. Saat dirasa cukup, keduanya kemudian kembali masuk ke dalam istana dan meninggalkan ruang duduk yang dengan cepat ditutup oleh pengawal istana tersebut.
“Lega sekali, semuanya berjalan lancar.”
Seungcheol masih tersenyum lebar bahkan setelah wartawan-wartawan itu tidak nampak lagi kehadirannya, berbeda dengan Jeonghan yang langsung melenggang dengan cepat meninggalkan Seungcheol membuat calon suaminya itu mengernyit keheranan atas sikapnya yang berubah secara tiba-tiba.
“Jeonghan? Kenapa? Ada yang salah?”
Jeonghan tidak menghiraukan pertanyaan Seungcheol, ia terus melangkah semakin masuk ke dalam istana seakan-akan ingin cepat menjauh dari Seungcheol. Hingga Seungcheol kemudian harus terpaksa menahan tangan Jeonghan agar pria itu dapat berhenti.
“Hey? Kenapa?”
“Nggak papa, aku lelah saja.”
“Mana mungkin, pasti ada yang salah. Kenapa?”
Jeonghan menghela nafasnya panjang, menatap Seungcheol dengan tatapan tajam yang membuat Seungcheol juga ikut mengubah ekspresi wajahnya, was-was. Karena ini pertama kalinya bagi Seungcheol melihat Jeonghan dengan ekspresi yang demikian, membuat ia juga bingung harus bertindak yang seperti apa.
“Kenal dari lama? Terbiasa dari kecil? Melamarku di danau? Aku nggak tahu kalau selama ini ternyata aku ini main sinetron ya?”
“Jeonghan…”
“Kenapa harus berbohong?”
“Kamu tahu jelas alasannya, perintah Raja sendiri yang mengatakan kalau publik jangan sampai tahu kalau kita ini dijodohkan. Semuanya harus berjalan secara natural.”
“Nggak perlu bohong juga, kamu kan bisa bilang hubungan kita ini terjalin baik karena memang kerajaan kita yang sudah berelasi baik. Sudah cukup sampai disana, nggak perlu mengarang skenario bohongan kalau kamu sudah suka sama aku dari dulu dan acara lamaran palsu itu.”
“Kamu kan memang sudah jadi pilihan untukku daridulu, Jeonghan.”
“Pilihan keluargamu! Bukan pilihanmu!”
Nada bicara Jeonghan naik satu oktaf. Para petugas dan pengawal istana yang berada di sekitar mereka terlihat terkejut dengan adu mulut yang terjadi di antara pasangan tersebut. Hal yang tidak pernah mereka sangka selama ini, bahwa kedua Pangeran yang mereka hormati selama ini dan terlihat akur serta kompak ternyata bisa juga saling melemparkan amarah.
“Kalau memang itu mengganggumu, lalu kenapa tadi kamu juga ikut bermain peran mengikuti skenario palsuku?”
Mendengar pertanyaan Seungcheol yang sangat tidak masuk akal baginya barusan, membuat Jeonghan melangkah mendekat ke arah Seungcheol dan mengatakan,
“Kamu sendiri yang bilang kalau setidaknya kita bisa berteman dengan baik, jadi yang tadi itu adalah aku yang berusaha bersikap selayaknya teman yang berusaha untuk melindungi temannya. Melindungimu dari rasa malu dan pembicaraan buruk dari masyarakat yang sangat kamu takuti itu.”
Tanpa menunggu respon dari Seungcheol yang mematung mendengar jawaban tegas dari Jeonghan, Jeonghan berjalan cepat meninggalkan Seungcheol. Ia tidak memedulikan teriakan Seungcheol yang memanggil namanya beberapa saat kemudian, satu hal yang ia inginkan saat ini adalah pergi dari istana tersebut sejauh mungkin. Ketika kemudian ia sampai di ruangan yang dua hari terakhir ini digunakan sebagai kamar tidurnya di Kerajaan C, dengan cepat Jeonghan meminta bantuan pada beberapa petugas istana untuk ikut membantunya merapikan barang-barangnya.
“Yang Mulia langsung segera kembali ke Kerajaan Y?”
“Ya, maaf ada urusan lain yang harus aku selesaikan.”
“Tapi, Yang Mulia Pangeran Seungcheol sudah merencanakan makan malam bersama dengan Yang Mulia.”
“Tolong sampaikan bahwa aku tidak bisa, dia pasti akan mengerti.”
Dan untuk berminggu-minggu selanjutnya, tidak ada lagi interaksi yang terjadi di antara kedua pangeran tersebut. Baik Jeonghan maupun Seungcheol keduanya sama-sama berpegang teguh pada ego mereka masing-masing, betah dengan nihilnya komunikasi antara dua orang yang sama kerasnya.
Brak!
Mata Seungcheol terpejam sekilas ketika Raja Choi membanting beberapa lembar Koran ke atas meja di hadapannya. Semua sampul Koran yang terpampang jelas tersebut tertuliskan berita mengenai Seungcheol yang tertangkap fotografer-fotografer ilegal di suatu klub malam bersama teman-temannya beberapa hari yang lalu dengan muka yang memerah khas orang mabuk. Bahkan salah satu Koran tersebut menambahkan foto Jeonghan yang diambil – mungkin – kemarin pagi sedang menikmati kue sambil terduduk manis di sebuah bangku dekat taman, diletakkan dengan ukuran kecil di bagian bawah berita Seungcheol. Headline Koran itu ditulis dengan huruf kapital besar dan tebal, “Calon Pengantin yang Kesepian”.
“Jadi ini alasan kamu absen dari acara makan malam dengan beberapa petinggi kerajaan tempo hari?”
Raja Choi buka suara, bertanya dengan nada tajam kepada Seungcheol yang masih diam seribu bahasa sejak tadi.
“Jawab, Choi Seungcheol.”
“Ya, Yang Mulia.”
Ratu Choi disampingnya menggeleng kepalanya pelan, heran dengan sikap putranya yang begitu gegabah dan hampir tidak tahu aturan.
“Lihat apa akibat yang kamu perbuat.”
“Memangnya salah untuk aku bergaul dengan teman-temanku seperti anak muda pada umumnya?”
“Aku tidak pernah bilang itu salah, tapi setidaknya kamu bisa mempertimbangkan situasi saat ini. Kamu akan segera menikah, banyak orang diluar sana yang pasti ingin tahu soal kamu dan pangeran Jeonghan, terlebih lagi semuanya terkesan mendadak, wartawan, fotografer, bahkan mungkin penggemar-penggemarmu akan melakukan apapun untuk bisa mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang kalian. Syukur kalau informasi itu digunakan dengan tepat, kalau disalahgunakan seperti ini, apa yang mau kamu perbuat?’
Seungcheol hanya bisa terdiam. Ia tahu, Ayahnya itu sedang marah dan biasanya emosinya akan jauh lebih meledak jika Seungcheol terus menyangkalnya dengan jawaban. Lagipula ia juga menyadari kalau dia salah. Sudah seharusnya memang dia tidak bertindak gegabah seperti itu, dia juga tahu bahwa gerak-geriknya belakangan ini pasti akan diikuti oleh banyak media untuk mereka gali informasi sedalam-dalamnya. Namun entah mengapa, malam itu, Seungcheol merasa tidak peduli dengan semua kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi. Pikirannya membutuhkan angin segar, akhir-akhir ini benaknya dipenuhi dengan Jeonghan dan bagaimana percakapan terakhir mereka kala itu setelah menjalani wawancara dengan public. Ditambah lagi pria itu jelas- jelas menghindarinya, bahkan tidak memberinya kabar barang sedikitpun, semua orang yang ia kira dapat memberi jawaban soal bagaimana kondisi Jeonghan saat ini pun lebih memilih untuk diam. Sampai hati kecilnya berkata bahwa mungkin dengan keputusannya untuk sengaja ‘memancing’ para wartawan dengan tingkah-tingkah ala anak muda gaul ibukota itu, ia sekaligus bisa menarik perhatian Jeonghan untuk kembali berkomunikasi dengannya.
“Maaf, aku memang salah kali ini. Tidak akan aku ulangi lagi.”
“Sudah seharusnya. Lagipula kenapa akhir-akhir ini aku jarang sekali melihat kamu dengan pangeran Jeonghan? Ada sesuatu yang terjadi?”
“Tidak, tidak perlu khawatir. Kami baik-baik saja, dia hanya sedang sibuk saja.”
“Kamu seharusnya mencontoh dia, tetap bisa membagi waktu untuk mengurus urusan kerajaan sekaligus memperhatikan acara pernikahan kalian, bukannya malah bersenang-senang dengan tidak patut di klub malam.”
“Ya, Yang Mulia, aku akan merenungi kesalahanku.”
“Pangeran Seungcheol.”
“Ya, Yang Mulia.”
“Aku tahu ini mungkin memang berat untuk kalian berdua, tapi aku yakin dan tahu persis pangeran Jeonghan adalah seorang laki-laki muda yang teramat baik dan besar hatinya jadi kalau memang seandainya kamu tidak bisa memberikan yang terbaik untuk dia, setidaknya berusahalah untuk tidak menyakiti hatinya dengan menjaga kehormatannya, sebagai pangeran, sebagai calon pasanganmu.”
Seungcheol hanya bisa mengangguk. Diam-diam menanam baik-baik perkataan Ayahnya itu. Semenjak ia bertemu dengan Jeonghan dan pada akhirnya bisa mengenal secara langsung pria itu, Seungcheol akui hidupnya memang lebih berwarna. Waktu singkat yang mereka miliki sudah banyak memberikan bukti kepada Seungcheol bahwa Jeonghan memang sejatinya adalah pribadi yang menarik. Dari luarnya, Jeonghan tampak seperti pria berhati lembut yang tidak banyak bicaranya, namun sesungguhnya dibalik itu semua terdapat kepribadian yang kuat dan kokoh pendiriannya, alih-alih berhati lembut, Seungcheol setuju dengan ungkapan yang digunakan oleh Ayahnya dalam mendiskripsikan Jeonghan. Besar hatinya. Bisa dengan mudah berbuat baik dan santun dengan siapapun, menerima orang-orang baru dalam hidupnya tanpa memberikan rasa canggung dan tidak nyaman, sepertinya juga mudah memaafkan dan lapang dadanya serta ikhlas dalam menjalani hidup. Sikap-sikap yang Seungcheol selama ini masih banyak pelajari untuk dapat ia terapkan. Meskipun begitu, Seungcheol dapat memahami bahwa ketika Jeonghan memiliki suatu tekad yang teramat besar, maka ia akan megusahakan semaksimal mungkin untuk bisa memenuhinya namun jika semesta belum memberikan hasil yang terbaik, Jeonghan pun pasti akan menerimanya dengan ikhlas.
Maka ketika Seungcheol melangkah meninggalkan ruang duduk milik Raja Choi, ia dengan cepat bergegas menuju ruang baca miliknya. Niat hatinya ingin menulis untuk Jeonghan, bahwa ia meminta maaf atas sikapnya tempo hari dan atas pemberitaan buruk di media massa. Sebenarnya ia ingin mengirim pesan singkat saja lewat media sosial pribadi mereka, namun menurutnya akan terkesan kurang tulus, takutnya Jeonghan mengira ia setengah hati memohon maaf. Baru beberapa kalimat ia tuliskan, namun pintunya diketuk oleh petugas istana yang kemudian masuk sambil agak tergesa.
“Yang Mulia.”
“Aku sedang tidak bisa diganggu, katakan pada Mingyu batalkan saja rencana berkudanya.”
“Bukan itu, Yang Mulia.”
“Kenapa?”
“Ada tamu penting yang menunggu Yang Mulia Pangeran Seungcheol di ruang duduk.”
“Siapa? Sudah membuat janji sebelumnya? Seingatku aku tidak ada jadwal hari ini, kenapa dibiarkan masuk?”
“Maaf Yang Mulia, tetapi Yang Mulia Pangeran Yoon Jeonghan yang datang. Haruskah saya mengatakan kep-“
Seungcheol bangkit dari duduknya tanpa mendengarkan kalimat dari petugas istana lebih lanjut. Ia berlari dengan kencang menuju ruang duduk miliknya yang berjarak beberapa meter dari ruang bacanya. Entah mengapa, jantungnya berdegup kencang ketika ia mendengar nama Yoon Jeonghan disebut tadi. Ketika ia semakin mendekati ruang duduk yang dimaksud, langkahnya sengaja dipelankan sembari ia mengatur nafas dan rasa gugup yang melandanya. Ia mengisyaratkan kepada pengawal pintu untuk mengumumkan kedatangannya dan membuka pintu ruang duduk di hadapannya.
“Jeonghan.”
Jeonghan tersenyum kecil, mengalihkan pandangannya kepada Seungcheol yang masih berdiri dengan raut wajah yang tidak dapat diungkapkan. Jeonghan kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati Seungcheol.
“Yang Mulia.”
Seungcheol terkekeh kecil, ia menunduk sebagai tanda hormatnya kepada Jeonghan yang dibalas dengan anggukan kecil dari lawan bicaranya. Tangannya kemudian meraih tangan Jeonghan untuk dibawanya duduk bersebelahan di salah satu sofa yang berada di tengah ruangan tersebut.
“Jeonghan, apa kabar?”
“Aku baik. Yang Mulia sendiri?”
“Tolong, sudah aku bilang panggil Seungcheol saja.”
“Ah, iya. Maaf, aku lupa. Seungcheol sendiri?”
“Cukup baik. Tapi sekarang jauh lebih baik setelah kamu datang kesini.”
Senyuman tipis menghiasi wajah Jeonghan. Ia kemudian mengeluarkan sebuah kotak dari tas yang berada di samping kakinya.
“Ini untuk Seungcheol. Teh yang baru dipetik dari kebun kami, rasanya mungkin akan sedikit berbeda karena kami mencoba benih baru.”
Seungcheol menerimanya dengan senang hati. Matanya menangkap cincin pertunangan mereka yang masih melingkar dengan cantik di tangan Jeonghan, seketika ia menghela nafas lega. Pasalnya, Seungcheol takut kalau-kalau Jeonghan terlalu marah kepadanya hingga mungkin sampai hati melepas cincin itu dari jarinya atau bahkan membatalkan pertunangan.
“Terima kasih, nanti akan aku coba. Kamu sendiri sudah coba?” “Sudah, membantuku untuk rileks.”
“Wow, tepat sekali. Akhir-akhir ini aku memang butuh ketenangan.”
“Maaf, kalau aku datang secara tiba-tiba. Bukan bermaksud untuk mengganggu.”
“Nggak, nggak mengganggu sama sekali.”
Ada keheningan yang kemudian merayapi dua insan tersebut, keduanya masih merasa canggung untuk melanjutkan percakapan. Seungcheol sebenarnya ingin langsung saja mengucapkan kata maaf kepada Jeonghan, tapi melihat dari raut wajah Jeonghan sepertinya lelaki itu punya sesuatu yang ingin disampaikan.
“Seungcheol.”
“Ya, Yang Mulia?”
“Seungcheol, apakah Seungcheol baik-baik saja?”
“Apa maksudnya?”
“Pemberitaan yang ada di media, hampir semua orang membicarakan Seungcheol, kamu baik-baik saja dengan semua itu?”
“Jeonghan…”
“Maaf, kalau aku keterlaluan hari itu.”
“Seharusnya aku yang meminta maaf.”
“Aku rasa kita sama-sama salah, aku terlalu berlebihan. Lagipula sekarang aku tahu itu semua dilakukan untuk kebaikan kita, kebaikan kerajaan.”
“Bukan begitu, akupun salah. Aku seharusnya lebih dulu memberi tahu, mungkin dengan begitu kamu bisa terlibat lebih banyak soal narasi bohongan itu, bukan seakan-akan kamu juga ikut dibohongi.”
“Tapi kembali ke pertanyaanku, Seungcheol baik-baik saja soal itu?”
“Konsekuensi perbuatanku, mungkin memang tidak nyaman rasanya. Toh aku juga tidak melakukan kesalahan atau melanggar peraturan, aku hanya bergaul layaknya manusia normal tapi semua orang justru menghakimi. Nggak perlu dipikirkan, nanti juga beritanya mereda.”
Jeonghan menggigit bibirnya mendengar jawaban Seungcheol. Sejujurnya, akhir-akhir ini ia banyak memikirkan soal calon suaminya itu, khawatir kalau kalimat-kalimat buruk yang digunakan oleh para wartawan memberikan kesan negative kepada Seungcheol hingga pria itu terbawa oleh emosinya. Namun ketika akhirnya sekarang ia bertemu dengan Seungcheol dan saling mengutarakan yang ada di pikiran mereka selama ini, setidaknya ia bisa bernafas lega karena Seungcheol masih berpikir rasional.
“Maaf sekali lagi, kalau saja aku nggak berbuat gegabah waktu itu.”
“Nggak perlu disesali, aku pun juga bisa jadi belajar lebih banyak soal perasaanmu, soal perasaan masing-masing.”
Tangan Jeonghan dijulurkan ke hadapan Seungcheol yang dibalas dengan kernyitan di dahi Seungcheol.
“Aku janji akan selalu menjadi teman yang baik untuk kamu, mungkin nggak akan mudah kedepannya, masih banyak hal yang harus digali lebih dalam lagi soal masing-masing. Tapi aku mau menjadi teman baikmu, itupun kalau kamu izinkan.”
Seungcheol tersenyum. Lesung pipi favorit Jeonghan nampak jelas di wajahnya.
“Boleh aku memelukmu sebagai ganti dari jabat tangan ini? Rasanya formal sekali kalau harus bersalaman, lagipula kita kan teman baik.”
Jeonghan cukup terkejut dengan permintaan Seungcheol namun kepalanya tetap mengangguk sebagai bentuk persetujuan. Yang ia rasakan selanjutnya adalah sebuah rengkuhan hangat menyelimuti dirinya dan bagaimana badannya begitu nyaman berada di dalam pelukan seorang Choi Seungcheol. Jeonghan balas memeluk Seungcheol dengan memberikan usapan lembut di punggung Seungcheol, seakan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tubuh mereka yang begitu dekat menempel membuat Seungcheol tersenyum lebar ketika ia bisa merasakan debaran jantung Jeonghan, sama seperti hatinya yang juga berdegup dengan tak sabaran persis muda mudi lain yang sedang dimabuk cinta. Atau memang mereka sedang dimabuk cinta?
Hari demi hari silih berganti, minggu digantikan oleh minggu lain, begitu pula dengan bulan yang begitu cepatnya berlalu. Beberapa bulan belakangan ini, Seungcheol dan Jeonghan disibukkan oleh agenda-agenda persiapan pernikahan mereka, membuat mereka lebih sering menghabiskan banyak waktu bersama. Mulai dari mengukur baju pengantin, memeriksa tempat pernikahan mereka, menentukan menu makanan apa saja yang akan disajikan, pemilihan dekorasi, sampai melakukan gladi bersih untuk acara utama nanti.
Kebersamaan tersebut membuat mereka juga mau tak mau jadi dengan mudah akrab dan lebih mengenal satu sama lain. Seungcheol jadi mengerti kalau kuning adalah warna favorit Jeonghan dan bagaimana pria itu tidak terlalu menyukai makanan manis, Jeonghan juga ternyata mudah sekali mengungkapkan keinginannya dengan tegas tanpa membuat orang lain merasa rendah, Seungcheol juga berkali-kali dibuat terpukau dengan ide-ide Jeonghan di hampir setiap sentuhan dekorasi pernikahan mereka meski sebenarnya keluarga kerajaan mengatakan bahwa mereka dan para petugas akan mengurus semuanya, namun Jeonghan tetap mau ikut turun tangan dan memastikan semuanya berjalan lancar sesuai keinginannya dan Seungcheol.
Satu hari di sela-sela kesibukan mereka, Seungcheol meminta izin kepada Jeonghan untuk mengajaknya ikut menyaksikan pertandingan berkuda di kerajaan C. Tentu dengan senang hati Jeonghan mengiyakan ajakan tersebut, ia juga senang sekali menyaksikan pertunjukan berkuda tersebut sekaligus menjadi sebuah ajang baginya untuk lebih mengenal teman-teman dan kenalan- kenalan Seungcheol yang lainnya.
Disana, sesuai dengan perkiraan Seungcheol, justru Jeonghanlah yang akan menjadi pusat perhatian banyak orang. Banyak di antara mereka dengan cepat mengajak berbincang calon suaminya tersebut bahkan mengundangnya untuk berkunjung ke kediaman mereka, tak lupa juga memberikan nasihat dan doa-doa untuk keberlangsungan pernikahan serta rumah tangga mereka kelak. Jeonghan yang memang pada dasarnya mudah akrab dengan orang dan kelewat ramah, dengan senang menanggapi mereka semua sambil tersenyum sopan.
“Fitted in just fine?”
Seungcheol memberikan pertanyaan menggoda kepada Jeonghan ketika akhirnya mereka mendapatkan waktu berdua, menjauh dari kerumunan. Ia kemudian mengajak Jeonghan untuk berbincang sambil berkeliling di sekitar tempat pertandingan berkuda dilaksanakan.
“Senang bisa berkenalan dengan mereka semua. Terima kasih sudah mengajakku kesini.”
“Sama-sama, hitung-hitung agar kamu terbiasa. Nantinya akan banyak ikut aku untuk menghadiri acara seperti ini, atau kalau kamu mau kamu boleh juga ikut bertanding?”
“Serius?”
“Tentu, aku tahu kamu tertarik.”
Jeonghan tersipu, tidak menyangka kalau selama ini Seungcheol ternyata memperhatikannya juga. “Terima kasih, Seungcheol.”
“Nggak perlu mengucapkan terima kasih terlalu sering Jeonghan, ini kan hal lumrah untuk pasangan.”
“Ya apa salahnya, berterima kasih kepada calon suamiku?”
Kini giliran Jeonghan yang balik menggoda, entah keberanian darimana pria itu bisa melontarkan kalimat tersebut membuat Seungcheol menghentikan langkahnya sejenak dan berpura-pura memegang dadanya sebagai tanda bahwa ia cukup tersanjung dengan perilaku Jeonghan. Jeonghan hanya tertawa melihat tingkah Seungheol dan masih melanjutkan langkahnya semakin dalam hingga hampir sampai ke pinggir danau.
“Wah!!! Ini pertama kalinya aku kesini, cantik sekali danaunya.”
“Hati-hati, kadang licin disana!”
Seungcheol memekik panik ketika melihat Jeonghan berlari kegirangan mendekat ke arah danau. Mereka sedang tidak bersama pengawal kali ini, memang sengaja Seungcheol meminta waktu berdua dengan Jeonghan sehingga ia benar-benar berusaha menjaga Jeonghan agar tidak ada hal buruk terjadi kepada pria itu.
“Wow… beneran seindah ini ternyata.”
“Kan aku sudah pernah bilang, kamu yang nggak percaya.”
“Maaf, waktu itu aku skeptis. Ternyata memang memukau sekali.”
Jeonghan asyik menikmati pemandangan di hadapannya, air danau yang begitu tenang terlihat berkilau akibat sinar matahari yang berpantulan di permukaannya, rumput-rumput liar yang hadir mengelilingi tepiannya bersamaan dengan bunga-bunga yang entah apa saja namanya juga seakan- akan ikut menyapa kedatangan Jeonghan.
Saat Seungcheol menyadari bahwa Jeonghan sedang larut dalam tatapan memujinya atas indahnya danau di hadapan mereka, Seungcheol perlahan mengeluarkan sebuah kotak dari sakunya dan berjalan agak mundur sedikit ke bagian belakang Jeonghan. Jeonghan yang lalu menyadari bahwa Seungcheol tidak lagi berdiri di sampingnya dengan cepat memutar badannya untuk mencari keberadaan Seungcheol hanya untuk kemudian dikagetkan dengan pria itu yang berlutut di hadapannya sambil memegang kotak berwarna emerald ditangannya.
“Seungcheol, what are you doing?”
“Maaf, kalau sewaktu itu aku menyusun narasi payah di kepalaku sendiri sampai membuat kamu kecewa dan sempat marah kepadaku, mungkin seharusnya aku bertanya lebih dulu gambaran dan idemu soal lamaran seperti apa. Tapi Yoon Jeonghan, izinkan aku untuk hari ini mencoba mewujudkan impianku selama ini, membawa kamu ke salah satu tempat favoritku dan menyatakan perasaanku kepadamu.”
“Seungcheol.”
“Jeonghan, aku tahu semua ini nggak akan mudah dan semuanya butuh banyak pengorbanan serta komitmen, tapi aku sendiri mulai sadar, beberapa bulan belakangan ini hidupku jauh lebih berwarna semenjak bertemu dengan kamu, nggak peduli kalau mungkin kamu nggak akan percaya omonganku ini, tapi aku benar-benar menemukan kenyamanan bersama kamu, kenyamanan yang selama ini belum pernah aku rasakan.”
“Kamu mengajarkan aku untuk selalu bersikap apa adanya, sesuai dengan jati diri yang kita miliki tanpa harus membohongi diri sendiri, kamu mengajarkan untuk selalu bisa berpikir lebih luas dan selalu memandang ke sisi yang lebih terang, bahwa semuanya terjadi karena suatu alasan. Aku kira pertemuan kita, perjodohan kita memang betul terjadi karena alasan, alasan yang belakangan ini aku rasa aku temukan jawabannya. Kalau kita mungkin memang berjodoh.”
“Yang Mulia.”
“Yoon Jeonghan, dengan ini aku nyatakan perasaanku yang sesungguhnya kepada kamu. Aku benar-benar jatuh hati kepadamu, aku benar-benar ingin kamu tahu bahwa perasaan yang aku miliki lebih dari perasaan sayang seorang teman dan aku berharap semoga kamu mengizinkan aku untuk bisa menyayangimu dengan cara yang lebih besar lagi, yang lebih luas lagi.”
“Seungcheol, please.”
“Kamu nggak perlu membalas perasaanku, Jeonghan. Dengan kamu selalu berada disisiku saja aku sudah cukup senang.”
“Seungcheol, berhenti.”
Dan pangeran itu benar-benar menuruti permintaan Jeonghan. Ia mengatupkan bibirnya dan bersiap atas apapun yang mungkin saja bisa keluar dari mulut Jeonghan.
“Kamu… kam-kamu… kamu nggak tahu rasanya aku hampir gila akhir-akhir ini karena aku kira aku satu-satunya orang di antara kita yang punya perasaan lebih ke kamu.”
“Oh, Jeonghan.”
“Aku pikir selama ini aku mungkin kehabisan akal sehatku, berharap kamu bisa membalas apa yang aku rasakan, berharap kamu tahu gimana hatiku berdebar tiap kali melihat kamu, aku pikir aku nggak akan bisa memenangkan hati kamu, mungkin kita akan selamanya berteman baik saja.”
“Bahkan pikiran burukku berpikir mungkin suatu saat kamu bisa menemukan orang lain yang memang kamu cintai dan membatalkan ini semua, aku pun sudah menyiapkan skenario terburuk yang bisa terjadi. Aku benar-benar mencoba untuk menjalani setiap momen yang kita miliki berdua dengan hati-hati, takutnya suatu saat bisa direnggut begitu saja.”
“Jeonghan…”
“Seungcheol, maaf kalau memang aku terlalu sulit dibaca, maaf kalau butuh waktu lama sampai akhirnya aku bisa mengungkapkan perasaanku. Tapi sekarang kamu mengerti, kamu nggak pernah sendiri soal ini, kalau aku juga menginginkan yang lebih. Kamu boleh jadi teman baikku, asal teman baik untuk seumur hidupku.”
Keduanya berbagi senyuman lebar, Jeonghan kemudian menarik tangan Seungcheol untuk bangkit dari posisinya. Ia memandang kotak yang berada di genggaman Seungcheol.
“Hm.. ini.. kosong.. cincinnya kan ada di jarimu.”
Jeonghan terbahak kencang, Seungcheol memang selalu bisa membuatnya tersenyum dan merasa bahagia. Siapa sangka, seorang pangeran yang menjadi primadona kebanggaan seluruh penjuru negeri, yang tadinya tidak lebih dari seseorang yang asing dalam hidupnya, kini berdiri di hadapannya menyatakan cinta yang ia miliki, kini menjadi pemenang dan pemilik hatinya. Siapa sangka, perjodohan yang mulanya Jeonghan rasa adalah hal paling konyol sepanjang hidupnya justru kini menjadi salah satu hal yang ia syukuri karena dapat mempertemukannya dengan Seungcheol. Siapa sangka, jika semula Jeonghan akan menikah dengan seseorang yang menyebalkan kini justru Jeonghan akan menikah dengan seseorang yang ia cintai.
“Terima kasih, Jeonghan.” “Terima kasih, Seungcheol.”
Seuncgheol membawa Jeonghan kedalam pelukannya, yang satu ini tanpa adanya permintaan izin toh Jeonghan juga dengan senang hati memeluk pria itu. Dahi mereka kemudian disatukan, Seungcheol mengusap pipi Jeonghan lembut yang masih tersenyum malu-malu.
“Boleh aku cium?”
Jeonghan tidak menjawab, melainkan menyatukan bibirnya dengan Seungcheol. memberikan kecupan manis dan dibiarkan menempel begitu saja tanpa ada pergerakan. Ia ingin meresapi bagaimana bibir tebal yang selama ini selalu menjadi pusat perhatiannya selama mereka berbincang. Hangat, lembut, manis, persis seperti yang ia bayangkan dan harapkan. Seungcheol yang lebih dulu membuka mulutnya, menyesap permukaan bibir Jeonghan dengan lembut, menjilatnya beberapa kali, turut ingin merasakan bagaimana kedua belah bibir Jeonghan yang sering kali hadir di dalam mimpinya selama ini. Lidahnya kemudian sedikit dimainkan di dalam mulut Jeonghan, tidak terlalu berlebihan karena ia menyadari bahwa mereka masih di tempat umum.
“If I say I love you, will it scare you?”
“Never, kamu nggak pernah membuat aku takut.”
“Kalau begitu, I love you, with all of my heart, my love,”
Musim panas tahun itu menjadi salah satu musim panas paling meriah yang pernah terjadi sepanjang sejarah. Pangeran Kerajaan C, Choi Seungcheol akhirnya melangsungkan pernikahan dengan pujaan hatinya, Pangeran Yoon Jeonghan dari Kerajaan Y. Semua lapisan masyarakat ikut berbahagia menyaksikan bagaimana indahnya dua insan yang saling mencintai terikat resmi menjadi satu untuk selamanya. Acara pernikahan mereka disiarkan secara langsung di berbagai acara televisi dan portal berita baik nasional maupun internasional. Koran, majalah, tabloid, sosial media, radio, dan seluruh bentuk media massa dipenuhi kabar pernikahan termewah selama seminggu penuh.
Jeonghan dan Seungcheol sendiri, masing-masing tidak pernah menyangka bahwa pada akhirnya mereka akan saling jatuh cinta dengan satu sama lain. Meski memang semuanya sudah direncanakan dan diatur oleh para leluhur mereka, namun Seungcheol dan Jeonghan lebih senang menganggapnya sebagai suatu hal yang memang sudah diatur oleh takdir. Bahwa memang semesta menyertai mereka untuk bertemu dan berjodoh. Bahkan mungkin pantas-pantas saja kalau kisah cinta mereka disebut sebagai kisah cinta layaknya dongeng.
Dua-duanya sama-sama mengerti bahwa ini bukanlah akhir, melainkan awal mula perjalanan dari kisah cinta mereka. Apapun itu nanti yang akan mereka hadapi, Seungcheol tahu bahwa semuanya akan selalu baik-baik saja, selama ada Jeonghan disisinya maka ia yakin mereka akan terus kuat melangkah bersama, berdampingan, selalu untuk selamanya.
“Ada kabar apa yang mau kamu sampaikan, sayang?”
“Duduk dulu.”
“Tidak bisakah menunggu? Sebentar lagi giliran Mingyu bertanding, ini juga kenapa aku harus menutup mata?”
“Tunggu dulu, sebentar saja.”
“Oke, oke.”
“Buka matanya, Seungcheol.”
“Apa ini?”
“Jangan banyak tanya, buka saja kotaknya.”
“Next time I call you Daddy, I mean it literally, not figuratively?”
“Huum.”
“Jeonghan… maksudnya…?”
“Well… setelah ini berita akan ramai lagi, tapi kali ini soal bayi.’ “Jeonghan, kamu hamil!?”
“Yes.”
“Oh God, oh my love. Oh, I love you so much.”
“Hehe, hello Daddy Cheol!”
