Work Text:
menjadi mahasiswa yang biaya hidupnya sepenuhnya dipenuhi oleh orang tuanya, mark seharusnya hanya perlu memusingkan pendidikannya saja—melupakan beban finansial seperti yang dirasakan oleh hampir seluruh teman-temannya. namun, ternyata hal itu tidak sesuai dengan pikirannya.
puncaknya, mark hampir meminta kepada kedua orang tuanya agar diizinkan mengajukan cuti semester agar dirinya bisa terbebas sejenak dari susah-nya dunia perkuliahan yang sedang ia jalani.
terdengar tone deaf memang, ketika mark technically the definition of trust fund baby—yang kuliah hanya untuk mendapat gelar bukan untuk mencari kerja karena well! ayahnya sudah menyiapkan posisi untuknya nanti di perusahaan milik sang ayah.
tentu saja kedua orang tua mark menolak secara mentah-mentah permintaan konyol anaknya itu.
mark sempat mogok makan, layaknya anak tunggal yang terbiasa dimanja seluruh hidupnya—cara agar permintaannya dituruti. namun, orang tua mark sudah terbiasa dengan tingkah anak mereka ini.
makanya, agar kedua belah pihak mendapatkan win-win solution, di tengah sabtu pagi yang cerah, mark dibangunkan oleh suara nyaring bel apartemen-nya yang tidak kunjung berhenti.
mark kaget setengah mati ketika membuka pintu dan mendapati seorang lelaki berdiri di hadapannya dengan senyuman yang kelewat ceria.
namun, bukan itu hal yang membuatnya hampir pingsan. mark menyadari ada dua telinga berbulu yang menjuntai dari kepala lelaki itu—hampir tidak terlihat karena warna bulunya menyatu dengan rambut curly si lelaki.
mark memegang gagang pintunya dengan kuat, trying to ground himself.
“mark hyung?” suara lelaki di hadapannya ini terdengar cukup lembut. mark kembali memandang wajah pria asing ini yang juga sedang menatapnya dengan raut yang sudah berubah menjadi kebingungan.
kepala sedikit miring, bibir yang tertekuk dan wait what was that?
mata mark melotot ketika menyadari ada ekor yang mengibas di belakang lelaki itu sedari tadi. bulunya juga sama dengan warna di telinganya.
shit, mark menelan ludahnya kasar, a dog hybrid?
-`♡´-
mark merasakan sesuatu yang terus menggesek ke dadanya. suara gemuruh kecil dapat ia dengar ketika tangannya mengelus puncak kepala seseorang yang sedari berusaha mendusel ke lehernya.
“morning,” suara serak mark memecah keheningan sabtu pagi itu.
“melt,” rengekan manja keluar dari mulut donghyuck, dog hybrid jenis maltipoo yang sudah menemani hari-harinya selama dua tahun belakangan ini.
mark terkekeh, matanya masih terpejam karena dirinya yang begadang kemarin malam berusaha menyelesaikan proposal skripsinya.
donghyuck yang menyadari human-nya ini masih setengah sadar akhirnya bangkit dan langsung menduduki perut lelaki itu, membuat mark mengaduh kaget karena tertimpa donghyuck yang kini hampir sebesar dirinya.
“hyuuungggg,” rengek donghyuck, kini terdengar tidak sabar. kedua tangan hybrid itu bertumpu pada dada mark, sesekali menepuknya agar lelaki itu segera bangun.
mark sengaja belum membuka matanya, menikmati donghyuck yang merengek kesal, menikmati celotehan pria itu yang nada bicaranya semakin tinggi ketika dia semakin sebal.
“hyunghyunghyungggg!” kini donghyuck mulai mengibaskan ekornya ke kanan dan kiri lumayan kuat, menunjukkan dirinya benar-benar sudah tidak sabar.
mark, yang peka donghyuck sudah tidak bisa digoda, akhirnya membuka matanya. tersenyum tipis sambil langsung membelai kepala donghyuck—khususnya di antara pucuk kepala dan telinga hybrid itu, mark meminta maaf kepada donghyuck, “pagi banget sih pup bangunnya?”
“kan hari ini kita udah ada janji!” donghyuck memiringkan kepalanya sedikit, memberi akses mark agar bisa membelai kepalanya lebih leluasa.
“kan janjinya masih jam 10 nanti hyuck,” mata mark melirik jam meja di samping kasur mereka, “dan sekarang masih jam 7.”
donghyuck memberengut, “aku mau masakin melt sarapan!” kedua tangannya bersedekap, alisnya sengaja ia satukan agar memberi kesan bahwa dirinya benar-benar kesal. namun mark yang melihatnya malah tertawa gemas, dog hybrid miliknya itu malah terlihat sungguh menggemaskan.
“mau masakin apa tuuh? emangnya hyuckie bisa masak?” mark menoel hidung donghyuck, membuat laki-laki yang sedang duduk di atasnya ini mengangguk antusias. ekornya yang tadi mengibas kuat, kini bergerak semakin cepat—tanda bahwa lelaki ini excited.
“bisa lah! memangnya hyuckie seperti mark hyung yang cuma bisa masak telor ceplok gosong?”
ouch, mark meringis ketika diserang donghyuck. mark mengakui bahwa di antara keduanya, memang donghyuck yang lebih sering memasak.
“so smart, my pretty puppy,” puji mark mengabaikan ejekan donghyuck tadi. donghyuck tersenyum manis, senyum yang selalu ia berikan kepada mark tiap kali dirinya dipuji.
“nanti habis sarapan, kita mandi! habis itu ke taman bertemu neno! habis itu hyuckie boleh tidak hyung ganti kalung?” donghyuck membeberkan rencana yang sudah ia pikirkan matang-matang dari tadi malam. jari telunjuknya sedikit menarik tag nama yang terpasang di collar pemberian mark itu.
“boleh, udah kekecilan ya hyuck?” tanya mark yang dibalas anggukan donghyuck.
benar sih, pikir mark, sudah hampir setahun dirinya membelikan donghyuck collar tersebut. apalagi, beberapa bulan yang lalu donghyuck sudah puber—mendapatkan heat pertamanya sebagai dog hybrid, yang mana membuatnya sepenuhnya sudah menjadi dog hybrid, bukan puppy hybrid seperti pertama kali mereka berdua bertemu.
“nanti habis ke taman, kamu sekalian grooming ya hyuck?” mark merapikan rambut haechan yang sudah mulai panjang. bukan hanya rambutnya saja namun bulu di telinganya.
grooming mungkin salah satu aktivitas yang donghyuck hindari. menjadi dog hybrid jenis maltipoo membuatnya tidak perlu sering-sering perawatan. makanya, meskipun sudah menjadi hybrid domestik selama dua tahun, donghyuck masih belum terbiasa pergi ke salon.
mark menyadari raut donghyuck yang terlihat enggan di-grooming, dirinya memutar otak agar kesayangannya itu mau diajak ke salon.
“nih, bulu kamu udah rontok. liat deh kaos aku,” mark yang memang memakai kaos hitam, menunjuk bulu-bulu donghyuck yang menempel pada bajunya. jemari donghyuck menelusuri dada mark, dirinya jadi sedikit bersalah.
“hyuck mau di-grooming tapi hyung harus janji dulu!” tawar donghyuck pada akhirnya. yang tentu saja langsung diiyakan oleh mark.
“hyuck kan ada tag nama di collar.. dan itu ada nama mark hyung. ummm,” donghyuck memutus kalimatnya, jari telunjuknya meraba kalung mark yang tertutup kaos lelaki itu.
“iya, gimana pup?” mark membawa kedua tangannya ke pinggang donghyuck, berusaha meyakinkan puppy-nya itu agar berani mengutarakan permintaannya.
“kan tiap hyuck ke dog park, terus ada yang pet pet hyuck, mereka selalu liat name tag hyuck terus bilang pinternya puppy-nya mark!” donghyuck merubah nada suaranya ketika dirinya memperagakan kembali percakapan tempo lalu.
“iyaa, emang donghyuck kan good boy!” mark kembali memuji donghyuck dan membuat lelaki itu mengibaskan ekornya dengan semangat.
“tapi donghyuck sedih,” kini kibasan ekor donghyuck memelan, bibirnya kembali cemberut, “soalnya mereka gatau kalo mark hyung punya hyuckie! mark hyung ga ada name tag kayak hyuckie!” donghyuck menekan pelan liontin kalung mark yang tercetak dari dalam kaosnya.
ah, mark tersenyum memandang donghyuck, jadi ini masalahnya. dirinya kadang lupa bahwa hybrid-nya ini cukup posesif terhadapnya.
“oke pup. nanti cari collar baru kamu sekalian beli kalung buat hyung ya? kamu yang milih. gimana?” tawar mark.
jika tadi donghyuck akan mengibaskan ekornya dengan semangat ketika dirinya dipuji, sekarang laki-laki ini sampai terlonjak bahagia dan langsung memeluk erat mark dan menyerusuk ke leher lelaki itu—tidak lupa juga mengibaskan ekornya dengan kuat.
“hyunghyunghyunggg,” donghyuck terlampau bahagia, membuat mark tak kuasa tertawa lepas sambil memeluk balik pria yang lebih muda itu, “markie hyung makasih! hyuck sayang markie hyunggggg!” mark dapat merasakan jilatan pelan dari donghyuck di leher dan pipinya—sesuatu yang dilakukan donghyuck ketika hybrid itu merasa senang dan berterima kasih.
“iya sayang, harusnya kamu bilang aja dari dulu. nanti kita cari liontin yang inisialnya MD ya? M buat mark, D buat donghyuck.”
donghyuck mengangguk semangat lalu melepaskan pelukannya dari mark dan buru-buru turun dari kasur, “markie hyung! donghyuck mau masak dulu!” belum sempat mark menjawab, lelaki itu sudah berlari heboh, mengabaikan teriakan owner-nya yang berteriak pelan-pelan turun tangganya hyuck!
-`♡´-
“hyuck! pelan-pelan!” teriakan mark bagai angin lalu tatkala donghyuck langsung berlari kencang saat pintu dog park dibuka dan penjaga taman itu selesai meng-scan barcode di name tag donghyuck yang berisi informasi lengkap mengenai dirinya—nama, umur, breed, nama owner, sertifikat vaksinasi dan sejenisnya.
penjaga taman tersebut—doyoung, tersenyum paham ke arah mark.
“sorry ya kak. udah lama anaknya ga main jadi excited banget ketemu temennya,” jelas mark yang dihadiahi tawa doyoung.
“iya gapapa. jaemin sama jeno udah di dalem kok mark. tapi hari ini ada beberapa big dog breeds yang main. donghyuck sering-sering kamu perhatiin aja mark takut kegencet,” pesan doyoung. mark mengangguk sambil izin menyusul kekasihnya.
mata mark sedikit melotot ketika menyadari ternyata memang pengunjung taman hari ini lumayan banyak dan besar. dirinya melihat ada beberapa hybrid jenis golden retriever sedang saling mengejar satu sama lain.
memiliki hybrid merupakan suatu privilege orang-orang yang mempunyai uang dan kuasa. tidak semua orang kaya dapat memiliki hybrid karena hanya mereka lah yang punya koneksi yang bisa mengadopsi hybrid.
orang-orang yang kini sedang mengawasi hybrid mereka yang sedang bermainlah kaum yang memiliki keduanya. termasuk mark dan jaemin—yang sedang asik mengelus kepala hybrid-nya.
“hei, udah lama?” mark menaruh tas yang berisi kebutuhan perlengkapan donghyuck di kursi sambil mengeluarkan sunscreen.
“pup! sini aku pakein dulu,” donghyuck menghampiri mark, menodongkan mukanya sambil memejamkan mata—menunggu mark untuk mengoleskan sunscreen ke wajahnya.
“nanti main sama jeno hati-hati yaa,” peringat mark sambil menepuk pelan kedua sisi pipi donghyuck.
“iyaah!” ekor donghyuck mengibas cepat, sudah tidak sabar bermain frisbee bersama jeno.
“udah siap?” tanya jaemin yang sedari tadi memperhatikan keduanya karena jeno—dog hybrid jenis samoyed miliknya, sudah siap di tempat, “tuh udah ditungguin neno.”
donghyuck langsung berlari semangat menghampiri jeno, mark menggigit bibir bawahnya menahan rasa gemas. meskipun di umur hybrid, donghyuck hitungannya sudah dewasa—sudah bukan puppy lagi, technically the same age as mark, di matanya donghyuck masihlah seekor anak anjing kecil dan lucu yang selalu menempel padanya meminta treats.
“siap-siap yaa! aku lempar! satu.. dua.. tiga!” jaemin melempar frisbee itu cukup kencang agar keduanya dapat berlari cukup jauh.
meskipun hanya mengawasi dari jauh, mata mark tidak pernah lepas dari badan donghyuck yang berlari semakin jauh. dirinya dalam posisi siaga jikalau ada hybrid lain yang menghampiri donghyuck. sebagai anjing dengan breed maltipoo, hal ini mempengaruhi fitur di tubuh donghyuck.
rambut natural sisi manusianya menjadi sedikit curly dan berwarna coklat. fitur wajah donghyuck pun bulat. dari kedua matanya, hidungnya, bentuk bibirnya hingga kepalanya. donghyuck sungguh lucu, persis seperti anjing maltipoo—yang membuat mark selalu tidak tahan untuk tidak mengusak rambut donghyuck tiap kali dirinya merasa kegemasan atas tingkah lelaki itu.
butuh waktu beberapa saat hingga keduanya menghampiri mark dan jeno. mark cukup kaget ketika donghyuck-lah yang mengembalikan frisbee ke pangkuannya. sedangkan jeno yang berada di belakangnya, merengek kesal “ih curang!! donghyuck tadi gigit tangan aku!” adu jeno.
“hyuck ga boleh gituuu,” mark mencubit pipi donghyuck sedangkan jaemin hanya tertawa sambil mengelus pelan lengan jeno yang digigit oleh donghyuck, “minta maaf sana.”
donghyuck manyun, ekornya bergerak pelan—dirinya bingung mau minta maaf dengan cara seperti apa.
mark yang menyadari kebingungan donghyuck, membawa tangan lelaki itu dan menuntunnya untuk mengelus kepala jeno, “donghyuck minta maaf ya jeno..,” mark menatap donghyuck agar lelaki itu mengulang ucapannya.
“hyuck minta maaf ya neno..,” pinta donghyuck sambil mengelus kepala jeno yang dibalas anggukan dan geraman puas dari jeno.
“masih mau main ga?” tanya jaemin. donghyuck hanya diam, tidak berani menjawab karena dirinya masih merasa bersalah. kedua tangannya kini sudah memegang lengan mark dan menatap lelaki itu dengan melas. giving mark his best kicked puppy expression.
mark tertawa, “yang ini ga ada yang boleh curang yaa?” mark menatap donghyuck, mendekatkan wajahnya ke pria itu sambil lanjut berbisik, “donghyuck good boy kan?”
mendengar ucapan mark, donghyuck langsung melonjak semangat hingga memeluk mark. ekornya mengibas cepat.
entah karena perasaan bersalahnya atau mungkin bau anjing-anjing lain yang cukup kuat mengganggu penciumannya, donghyuck menelusup masuk ke perpotongan leher dan bahu mark. mengendus aroma khas kekasihnya itu—berusaha mencari ketenangan sesaat.
kaget dengan pelukan tiba-tiba donghyuck yang hampir membuat keduanya oleng, mark langsung meraih pinggang hybrid-nya itu dan membiarkannya untuk beberapa waktu.
“buseeet, clingy banget kalian,” komentar jaemin melihat kedua temannya itu sedang berpelukan di publik. mark hanya bisa tertawa sambil mengelus punggung donghyuck.
“jeno udah di tempat tuh. kamu masih mau main?” bisik mark.
donghyuck mengangguk sambil melepaskan pelukannya. seakan-akan sudah recharging dengan berpelukan dengan mark, donghyuck langsung melesat menyusul jeno yang sudah siap ancang-ancang mengambil frisbee kali ini. tidak mau dicurangi oleh donghyuck.
lemparan kedua dilakukan oleh mark. lebih tinggi dan lebih jauh. yang langsung dihadiahi jaemin pukulan pelan di perutnya, “lo kebiasaan deh ga bisa ngontrol tenaga.”
mark hanya mengangkat kedua bahunya, not his fault for being strong.
keduanya menunggu hybrid mereka menghampiri.
namun, beberapa saat sudah berlalu hingga tiba-tiba lolongan nyaring donghyuck menggema di taman tersebut.
mark langsung sigap berlari ke arah suara donghyuck yang disusul oleh jaemin.
“fuck!” teriak mark kasar ketika melihat badan donghyuck sedang ditindih oleh hybrid lain—yang jauh besar dari donghyuck, yang kini menangis ketakutan ketika hybrid jenis alaskan sedang menjilati lehernya—menandai donghyuck.
“eh! lepasin! owner-nya mana?!” mark berteriak panik sambil menarik badan hybrid itu menjauh dari donghyuck. jaemin yang mengamankan jeno agar menjauh terlebih dahulu langsung membantu mark menarik hybrid tersebut—yang kini berusaha menggigit collar milik donghyuck.
dengan bantuan jaemin, mark berhasil memisahkan hybrid itu menjauh dari donghyuck—bertepatan dengan owner sang hybrid yang langsung berteriak meminta maaf. mark mengabaikan itu semua. dirinya langsung berjongkok di hadapan donghyuck dan membawa lelaki itu ke dekapannya.
“ssssh, it’s okay puppy. i’m here,” mark mempererat pelukannya sambil membisikan kalimat penenang ke donghyuck. meskipun donghyuck adalah pria dewasa, dirinya juga masih setengah hewan. masih ada dinamika yang tersirat di antara para hybrid—donghyuck sempat menjelaskannya, there’s a thing called an alpha dog, dimana jenis anjing sepertinya akan selalu di bawah dan kalah. membuat mark jadi semakin over protective tiap kali bertemu jenis anjing yang jauh lebih besar dari donghyuck. makanya, serangan kali ini membuat donghyuck ketakutan dan mark kelabakan.
fortunately, they’re not in their animal form, pikir mark berusaha menenangkan dirinya sendiri sambil terus mengecup kening donghyuck agar lelaki itu tenang.
“kita balik ya habis ini?” mark menepuk punggung donghyuck, berusaha meredakan tangisannya.
“melt hyung… hiks…,” donghyuck terisak, “hyuck minta maaf..,” ujar lelaki itu di sela tangisannya.
“hyuck ga salah. hyung yang minta maaf ya ga jagain kamu dari deket? kita pulang ya?”
mark dapat merasakan gelengan donghyuck dari pelukannya, “hyung.. collar hyuck.. hiks… collar hyuck rusak..,”
astaga, mark kembali memeluk erat donghyuck, menyadari bahwa donghyuck menangis bukan karena masih ketakutan namun karena merasa bersalah karena barang pemberiannya telah rusak.
“it’s okay. kan habis ini memang mau ganti. tadi hyuck juga mau milihin kalung buat hyung, kan? masih mau beli sekarang?” mark menarik dirinya dan menangkup kedua pipi donghyuck, menghapus air mata yang masih mengalir deras.
“mauu.. hiks.. maaf markie hyung… hiks!” mark tau dirinya tidak seharusnya tersenyum, tapi pemandangan donghyuck yang menangis hingga cegukan sungguh menggemaskan.
“iya, donghyuck bisa berdiri? kita ke toko sekarang yaa..,” untuk terakhir kalinya mark menghapus air mata donghyuck sebelum membantu lelaki itu berdiri.
donghyuck memeluk pinggang mark, meletakkan kepalanya di dada bidang lelaki itu. mark mengelus lengan donghyuck pelan, masih berusaha menenangkan donghyuck dari sisa isakannya.
“hyung.. no grooming please…,” pinta donghyuck lirih yang membuat mark tertawa.
“oke puppy. no grooming! kita beli new collar sama name tag ya?” jelas mark. donghyuck mengangguk pelan, “sama kalung baru buat markie hyung..,” tambah donghyuck.
mark mengiyakan sambil mengajak jalan donghyuck ke arah pintu keluar. memberi sinyal kepada jaemin bahwa hybrid-nya baik-baik saja dan meminta doyoung membantunya untuk keluar taman.
mark menghela nafas, damn this is not a good weekend for both of them.
-`♡´-
donghyuck dibiarkan oleh mark memilih collar barunya, sedangkan dirinya sibuk membalas pesan permintaan maaf dari doyoung yang kurang cepat tanggap atas kejadian di taman tadi, dari jaemin yang menanyakan kondisi donghyuck dan dari dokter pribadinya untuk menjadwalkan check-up.
“hyung, suka yang mana?” suara donghyuck membuat mark langsung mengantongi handphone-nya dan menghampiri lelaki itu. di hadapannya, donghyuck memegang dua collar dengan warna yang berbeda. yang satu coklat—menyatu dengan warna rambutnya, dan biru—warna kesukaan mark.
“hyuck maunya yang mana?” mark sengaja membalikan pertanyaan donghyuck.
“biru aja boleh? biar markie hyung suka melihat ke arah hyuckie!” mark tertawa, tidak menyangka dengan jawaban donghyuck yang terdengar sedikit menyedihkan. rasa-rasanya mark masih kurang menunjukkan rasa sayangnya pada hybrid yang merangkap sebagai kekasihnya itu.
“pup, bahkan tanpa kamu pake collar pun hyung selalu liatin kamu tau?” mark merapikan helai rambut donghyuck yang sedikit berantakan. jawaban malu oh gitu ya hyung.. dari haechan malah membuatnya bingung sendiri.
mark semakin mendekat ke arah donghyuck, sedikit menurunkan kepalanya karena donghyuck yang menyembunyikan wajahnya, “kenapa malu?”
donghyuck menggeleng pelan, tidak mau menjawab pertanyaan mark.
“hyuck pipinya merah bukan karena sakit kan?” goda mark, yang membuat donghyuck kini menggeleng ribut.
“malu ada yang denger..,” bisik donghyuck.
mark tersadar, sedari tadi sales associate yang melayani mereka berdua masih menunggu di pojok ruangan. lelaki itu akhirnya memberi sedikit jarak antara dirinya dengan donghyuck, “puppy mau yang biru kan?” tanya mark memastikan, sekaligus memberi gestur agar SA-nya segera menyelesaikan transaksi mereka.
donghyuck akhirnya mendongakkan kepalanya, rona merah jambu masih terlihat jelas di pipi bulatnya, “liontin punya hyung juga udah dipilih kan tadi? hyuck udah puas?” tanya mark.
“udah! nanti di rumah hyuck yang pasang ya?” ekor donghyuck mengibas semangat membayangkan dirinya bisa memakaikan kalung sebagaimana mark yang selalu memasangkan collar ke lehernya. mark mengelus pelan kepala donghyuck, mengiyakan permintaan lelaki itu sambil mengajaknya keluar.
celotehan donghyuck menenangkan perasaan mark bahwa hybrid-nya ini sudah baik-baik saja, tidak trauma atas kejadian yang menimpanya di taman tadi.
-`♡´-
“hyuck makan dulu ya? habis ini dokternya mau dateng,” mark sedikit berteriak ketika donghyuck langsung berlari bersemangat membawa belanjaan mereka hari ini.
“ga mau grooming!!” teriak donghyuck tak kalah kencang.
“bukan grooming, cantik,” mark menata sepatu donghyuck yang ia lepas asal tadi, mensejajarkannya dengan sepatu miliknya, “dokternya mau liat kamu ada luka apa engga.”
mark berjalan mendekati donghyuck yang sedang asik membuka box berisi collar miliknya, “tapi kan hyuck ga luka! tadi cuma dijilat!”
ya memang benar sih, mark menatap donghyuck gemas, masalahnya dirinya lah yang merasa belum puas jika donghyuck belum diperiksa secara profesional oleh dokter.
“dicek bentar doang, bentaaaar banget. mau ya?” bujuk mark. bukannya menjawab, donghyuck yang sedari tadi memunggungi mark langsung berbalik badan dan menunjukkan collar barunya ke mark.
“melt!! pasangin!” donghyuck menjulurkan kedua tangannya ke hadapan mark, senyumannya tercetak jelas di wajah manisnya. sejujurnya, mark bahkan tidak lagi menemukan raut ketakutan dan kesedihan di wajah lelaki itu—yang kini malah memiringkan kepalanya, bingung kenapa mark tak kunjung mengambil collar barunya.
“hyungggg,” donghyuck sedikit berjinjit, “hyung marah?”
mark meraih collar donghyuck, “engga kok. sini hyung pasangin. balik badan bentar coba.” pinta mark yang langsung dituruti lelaki itu.
perlahan, mark memasangnya ke leher jenjang donghyuck, berhati-hati karena rambut puppy-nya ini sudah mulai panjang.
donghyuck sedikit merinding ketika jemari mark menyentuh lehernya. secara tidak sadar dirinya mendengking tertahan, “hyung..,”
mark meremas pelan kedua bahu donghyuck ketika dirinya sudah selesai memasang collar biru milik donghyuck dan menyuruh lelaki itu kembali menghadapnya, “kekecilan ga?”
donghyuck menggeleng, kedua telinganya ikut bergerak. tangan lelaki itu sibuk meraba collar baru yang kini terpasang di lehernya, mengelus pelan name tag yang terukir jelas donghyuck lee. name tag lamanya hanya bertuliskan donghyuck—tanpa imbuhan nama keluarga mark.
“cocok ga sama hyuck?” donghyuck sedikit mendongak, berusaha menunjukkan collar-nya dengan jelas kepada mark.
“cantiknyaaa!” puji mark yang malah mendapatkan pukulan pelan di dadanya dari donghyuck.
“ih! kan hyuck bilang cocok ato engga!”
“cocok puppy, makanya kamu keliatan cantik!” mark menoel hidung donghyuck, yang membuat lelaki itu salah tingkah. ekornya mengibas ke kanan dan kiri tanpa ritme, malu menerima pujian dari mark.
“sekarang gantian markie!” donghyuck langsung meraih kalung berinisialkan MD, berusaha mengabaikan rasa malunya yang membekas di kedua pipinya yang menghangat.
“hyung hyung! gantian! hyungggg!” donghyuck meloncat kecil semangat. mark bahkan harus memegang kedua bahu lelaki itu untuk menenangkan lelaki di hadapannya ini.
“aaah! hyung tinggi banget! hyuck ga sampe ih!!” protes donghyuck ketika dirinya kesusahan memasang kalung ke leher mark—bahkan ketika dirinya sudah berjinjit setinggi mungkin.
mark tertawa melihat tingkah gemas donghyuck yang mengomel kesal. tanpa aba-aba, dirinya mengangkat donghyuck dan mendudukkan lelaki itu di atas meja makan. lengkingan kaget hyung! dari donghyuck membuat mark tersenyum menggoda.
“nah sekarang udah bisa kan?”
yang didapat mark bukanlah raut semangat, melainkan tatapan galak dan bibir maju dari donghyuk—puppy-nya ngambek.
“melt! kenapa angkat hyuck tiba-tiba!” omel donghyuck masih dengar bibir manyunnya.
mark terkikik, “katanya tadi ketinggian. makanya aku angkat kamu biar bisa duduk di meja,” jelas mark.
“angkat? memangnya hyuck galon apa!!”
“bukan dong. galon kan gede, hyuck kecil. kamu mah botol mineral kemasan nanggung!” goda mark yang membuat donghyuck melotot sebal. ekornya kini mengibas kuat dan sengaja di arahkan ke mark. bahkan, donghyuck sengaja melilitkan ekornya ke kaki mark agar lelaki itu bisa mendekat ke arahnya.
masih dengan muka cemberutnya, donghyuck mulai memasangkan kalung itu ke leher mark—mengabaikan tatapan gemas dari sang empu. donghyuck sedikit kesulitan memasangnya namun mark sengaja membiarkan lelaki itu berusaha sendiri karena dirinya tau pemasangan kalung ini bagi donghyuck merupakan simbol bahkan pada akhirnya mark adalah miliknya seorang.
even that’s established a long time ago. when they first met. way before they became lover. because mark’s weak heart already belongs to donghyuck.
jari donghyuck menelusuri kalung mark secara perlahan setelah terpasang dengan sempurna. matanya fokus memandang liontin yang kini tersemat sempurna di dada mark, berdekatan dengan detak jantung lelaki itu.
donghyuck merasa senang. merasa lega.
“akhirnya melt beneran punya hyuck,” ujar donghyuck.
“kan udah dari dulu, pup..,”
jawaban mark membuat donghyuck menatap mark dengan kedua puppy eyes-nya, “ih.. maksud hyuck tuh..,” lelaki itu memutus kalimatnya. bingung menjelaskan apa yang ingin ia sampaikan.
“hyung paham kok,” senyuman lebar tidak kuasa muncul di wajah mark, ada ego tersendiri ketika donghyuck meng-claim bahwa dirinya lah satu-satunya milik lelaki itu, “i’m yours,” mark menyentuh kalungnya, “and you’re mine.” dan meraba collar donghyuck.
“yes!”
“good boy! makasih ya hyuck udah pasangin kalungnya ke leher hyung,” tangan mark berpindah ke pipi donghyuck, mencubitnya gemas hingga membuat lelaki itu meringis kesakitan.
“tapi melt,” mark menaikkan salah satu alisnya, menunggu donghyuck untuk melanjutkan ucapannya, “hyuck pengen liat melt tatoan deh.”
mulut mark sedikit terbuka ketika kalimat dari donghyuck terlontar. dirinya sedikit linglung akan permintaan tiba-tiba dari kekasihnya itu.
“sejak kapan kamu suka tato, pup?” tanya mark kaget.
“kemarin hyuck liat di netflix!” ekor donghyuck mengibas semangat, lagi. matanya berbinar, seolah-olah membujuk mark agar mau bertato saat itu juga.
“astaga.. kalo hyung tatoan, emangnya hyuck maunya dimana?” tanya mark, mengikuti topik pembicaraan donghyuck.
“uuuum, disini deh!” donghyuck menunjuk bahu dan dada mark, “nanti tatonya inisial nama hyuck! biar semua orang tau kalo melt punya hyuck!” jelas donghyuck sambil menggambar abstrak di dada mark dengan jarinya.
mark tersenyum lebar, “kalo di dada nanti orang lain ga bisa liat dong?” pertanyaan yang sengaja ia lontarkan untuk memancing reaksi donghyuck yang cukup posesif atas dirinya. atas badannya.
“ya emang ga boleh!!” sungut donghyuck marah, “yang boleh liat cuma hyuck ya! enak aja!” donghyuck malah mengomel, memarahi mark.
mark hanya bisa pasrah sambil mendengar ocehan dari donghyuck. dirinya semakin mendekat ke arah donghyuck—berada di antara kedua kaki lelaki itu, sambil meraih pinggang donghyuck.
there’s a lot of things mark should've thanked his parents for all the privileges that he’s gotten so far.
and one of them is having donghyuck as his support.
cahaya dari lampu memantul dari tag collar donghyuck, ukiran kecil mark’s di bawah nama donghyuck membuatnya tersenyum hangat.
“hyuck,” panggilan pelan mark tidak terdengar oleh donghyuck yang masih asik berceloteh sambil memainkan liontin mark, “lee donghyuck,”
mark yang memanggil nama lengkap donghyuck membuat lelaki itu diam seketika. pandangannya langsung beralih ke wajah mark—yang sedari tadi sudah menatapnya penuh sayang.
mark watches donghyuck’s face with pure awe. mark can hear it even in silence, how his heart beats for donghyuck.
mark’s is in love.
-`♡´-
