Work Text:
Cahaya matahari masih menyinari bumi tak henti-hentinya. Ramai suara kendaraan saling menabrak satu sama lain di luar sana. Udara terasa jauh lebih berat. Tak sedikit pun membantu Nagi yang susah payah mengatur nafasnya. Langit kehitaman yang sangat mendukung hari sakral ini.
Teriakkan penuh kesedihan berada di mana-mana. Televisi maupun radio ikut menyuarakan pedih yang sama. Seolah semua orang ikut berduka atas bumi yang kehilangan satu napasnya.
Disinilah Nagi, berjalan dengan menahan gemetar pada tubuhnya. Melangkahkan kakinya penuh paksa, memasuki gedung yang luasnya tak pernah ia bayangkan. Nagi tak dapat mendengar satupun hal dengan jelas, bising pada kepalanya itu mengiringi setiap langkahnya yang menyelidiki tiap sudut ruangan itu.
Semuanya baik-baik saja pada awalnya, atau itu yang ia harapkan. Hingga sudut matanya menangkap sosok yang ia kenal memakai pakaian serba putih dengan riasan tipis yang mempercantik fitur wajahnya. Yang sangat amat ia kenali entah bentuk tubuhnya ataupun garis wajahnya. Segala hal tetap sama, yang berbeda hanyalah aromanya.
Sosok itu tak lagi memiliki aroma manis dari parfum mahalnya atau sabun mandinya. Semuanya baik-baik saja, sampai akhirnya sosok itu melewati Nagi dengan begitu tenang. Sangat tenang melebihi apapun di dunia ini. Meski tempat itu sangat ramai dengan tangisan pilu ataupun teriakan menahan pedih, hanya kesunyian yang dapat Nagi rasakan.
Tak ada yang berubah. Sosoknya masih sama seperti sebelumnya. Masih yang Nagi cinta dengan sepenuh jiwanya.
Hatinya terasa tersayat ketika sosok itu terbaring kaku. Sesuatu yang tak pernah Nagi bayangkan akan terjadi secepat ini. Nagi terus menyorakkan luka pada hatinya. Karena tak akan ada lagi Mikage Reo yang mendatanginya dengan penuh semangat.
Reo memilih untuk meninggalkannya sendiri. Seakan-akan mencoba melupakan segalanya. Dengan egoisnya merasa tak memiliki satupun kenangan berharga hingga memilih untuk meninggalkannya.
Semua orang disana mendekati surai ungu tersebut. Melontarkan kalimat-kalimat maaf ataupun puja dan puji. Tentu saja kecuali dirinya. Nagi enggan mendekat. Ia takut. Semakin takut dengan fakta ia sudah ditinggalkan. Melihat sosok itu tersenyum dengan damainya dan tetap berdiam diri meski ia sudah membuat banyak orang menangis, buat Nagi jengkel dalam sedihnya. Terlebih saat terbayang wajah dan ucapan yang ia terima dimalam sebelum keduanya selesai. Harusnya ia masih bisa melewati hari seperti biasanya. Setidaknya jika Nagi tidak menolak ungkapan perasaannya dengan alasan konyolnya.
Siapa yang pernah membayangkan, kehilangan sosok yang terkasih dalam waktu kurang dari dua malam. Nagi tak pernah bayangkan hal itu barang satu detik pun dihidupnya.
Tak ada yang bisa menyangkal fakta bahwa semua mata menuju dirinya. Ia ingat betul semua wajah orang yang menatapnya saat ini. Mungkin mereka tenggelam dalam kebingungan. Melihat Nagi yang terdiam di tengah-tengah jalan. Enggan mundur, pun enggan maju mendekat.
Nagi tak minat melontarkan kalimat berduka atau kalimat penuh kepedihan lainnya. Ia memilih melangkahkan kakinya maju. Ia menatap tubuh tak bernyawa itu di hadapannya. Bahkan ketika raga itu tak lagi memiliki napas di dalamnya, bahkan ketika kedua matanya tak lagi pancarkan kilau seperti sebelumnya, Reo tetap sangatlah indah. Jauh lebih indah daripada biasanya. Wajah manisnya itu buat Nagi segera ingin membawa tubuh itu pada dekapannya, lalu menangisinya dalam puja selama ribuan waktu.
Nagi membuang pemikirannya secepat mungkin. Ia memutar tubuhnya lalu berlari keluar. Meninggalkan orang-orang yang juga ikut membuang pandangannya. Kembali sibuk memuja raga tanpa jiwa itu.
Nagi terdiam selama beberapa detik. Lalu menangis pilu tanpa suara. Meluapkan semua emosi yang sudah ia pendam meski hanya beberapa menit lamanya. Mulai berteriak nyaring meski tak akan ada yang mendengarnya. Tak akan ada yang datang. Tak akan ada yang menolongnya. Serta tak akan ada yang tahu jeritan penuh deritanya.
Selama sepuluh menit, hanya jeritan maaf yang mampu keluar dari mulut Nagi. Sedangkan matanya penuh dengan basah luka. Yang tak akan henti mengeluarkan air matanya. Berharap ia akan melupakan semua yang ia lewati. Berharap hari ini hanyalah mimpi buruknya. Berharap ia akan terbangun lalu mendapati sosok kesayangannya berada di hadapannya. Tangisnya nyata. Kepergian Reo nyata pula adanya.
Pikirannya sangat kacau sampai-sampai ia perlu memesan taksi untuk kembali pulang. Mengurangi resiko terjadinya hal-hal yang akan merugikannya.
Selama perjalanan pun tak ada yang ia ingat selain wajah pujaan hatinya. Bahkan langit sore pun ikut kelabu seakan-akan merasakan goresan luka yang sama pada hatinya.
Ia pulang. Menatap kamarnya yang entah mengapa jauh lebih dingin dari biasanya. Tempat dimana ia pernah bertukar suka maupun duka dengan penuh perasaan. Pun tempat yang pernah terisi dengan tangisannya. Tempat itu dengan jahatnya senantiasa kosong, bak mengejek kehampaan yang dimilikinya. Hanya tersisa harapan-harapannya yang tak mungkin terwujud. Tak bisa lagi ia berharap Reo akan datang membawa makanan dan memeluknya seperti biasanya. Seperti yang selalu Reo lakukan.
Ia kira akan dengan mudahnya untuk ikhlas. Ia pikir begitu. Namun, mengapa air matanya tak kunjung berhenti? Mengapa dadanya terasa sakit melebihi apapun? Mengapa pula ia harus merasakan semua ini? Apakah ini adalah kutukan yang diberikan penciptanya atas semua dosanya?
Hatinya belum ingin menerima fakta Reo akan berada jauh dari jangkauan nya. Pun dengan logikanya yang menolak untuk tetap sadar. Tak pernah ia bayangkan hidupnya akan seperti apa setelah kehilangan pemuda itu. Semua ucapan tak berguna serta argumentasi penuh amarah sedang beradu di kepalanya. Nagi tak sanggup menerimanya. Entah pada fakta ia kehilangan Reo atau fakta hidupnya akan hancur.
Seorang Nagi Seishiro tak pernah se menderita ini. Tak pernah sekalipun dalam seumur hidupnya ia merasa begitu putus asa.
Karna nyatanya, seorang Nagi Seishiro sudah tak lagi terlihat seperti manusia. Dan konon katanya, sosok Nagi sudah hilang nyawa sejak melihat Reo yang berbaring damai di hadapannya.
Seorang Nagi sejak awal memikirkan dirinya, memikirkan kesedihannya. Terlalu sibuk terlarut dalam deritanya. Tak berusaha merangkak keluar dari dasar laut penuh luka itu. Sampai-sampai ia tak menyadari sosok Reo yang akhir-akhir ini tubuhnya tak lagi sekokoh dahulu.
Sejak mendengar perintah sang ayah untuk menikahi sosok pilihannya, Reo sudah hancur. Bagaimana bisa ia menerima fakta kalau dirinya tak lagi punya kendali pada tubuhnya? meskipun ia tak pernah memiliki hak apapun sejak ia dilahirkan.
Reo akan dipertemukan dengan wanita pilihan keluarganya. Ia hancur tak tersisa tepat satu hari setelah mengucap puluhan kalimat kasih sayang pada Nagi. Ia dikurung di kamarnya sendiri. Dipaksa berlagak seperti sesuatu yang tak pernah hidup.
Tak ada yang tak tahu perihal Reo yang menolak semua makanan di lambungnya dan membuang semuanya kedalam klosetnya. Tak terkecuali Nagi. Jangankan aktivitasnya. Kabar Reo pun tak pernah sampai ditelinga pemuda itu. Atau lebih tepatnya, Reo yang tak memberitahukannya. Reo masih ingin menatap Nagi dengan tatapan yang sama. Juga ingin ditatap dengan tatapan yang sama olehnya.
Reo menderita, terlebih saat mengetahui faktanya ia akan menikah dengan sosok selain Nagi. Maka dari itu, dengan penuh keraguan, Reo menyatakan perasaannya. Ia kira setidaknya perasaannya terbalas meski setelahnya mereka harus bersusah payah melarikan diri dari seluruh dunia. Atau setidaknya, Reo masih memiliki Nagi ketika seluruh dunia akan membencinya.
Setidaknya itu yang sudah Reo pikirkan tiap tidurnya. Namun, yang Reo dapatkan hanyalah penolakan yang tak pernah ia harapkan.
Reo bukanlah tipe orang yang tak terima dengan penolakan. Tapi entah mengapa, penolakan Nagi dihari itu, dunianya terasa seperti hancur. Ia merasa eksitensinya ditolak oleh seluruh orang tak terkecuali Nagi.
Dengan seluruh perasaan kalutnya, yang dapat Reo lakukannya hanyalah kembali pada sangkar emasnya. Ia menderita meski tetap setia dengan harap Nagi akan datang menyambutnya dengan penuh kasih sayang disaat-saat waktu terburuknya. Keduanya sama-sama menderita. Dan keduanya tak saling tahu akan hal itu. Reo mendapat tekanan terlalu banyak. Dan Nagi dengan bodohnya membohongi dunia atas perasaannya. Ia berbohong pada pujaan hatinya, mengeluarkan untaian kalimat menyakitkan yang ia sendiripun tergores saat mengatakannya.
Reo mati dengan kalimat yang ia lontarkan. Ia membunuh Reo pada malam itu. Yang di mana ia juga membunuh dirinya sendiri.
Nagi terlalu takut kalau ia akan kehilangan Reo, ia takut ia akan menyakiti Reo nanti, jika keduanya berada dalam komitmen. Ia merasa kalau dirinya tidaklah pantas bersanding dengan Reo, sosok yang dipuja masyarakat. Bertolak belakang dengan pemikiran si surai ungu, di mana pemuda itu hanya berharap memiliki Nagi sebagai satu-satunya sandarannya.
Nagi merasa nyaman, angin malam membuat dirinya tenang. Namun, tak juga kunjung menenangkan sesal pada hatinya. Ia membunuh Reo dengan penolakannya. Ia membunuh Reo.
Yang dapat Nagi lakukan pada hidupnya hanyalah terus melangkahkan kakinya dengan penuh ketakutan. Ia tidak diberi kesempatan oleh yang berkuasa, entah untuk mengungkapkan perasaannya, ataupun untuk meminta segala maaf Reo yang ia lukai perasaannya. Sehingga pada akhirnya ia akan tenggelam dalam dasar lautan penuh penyesalan.
Kedua kakinya terbelenggu oleh tiap kutukan yang ia kutuk pada dirinya sendiri. Ia harus menanggung kesalahannya. Reo jauh menederita dari yang ia duga. Maka Nagi akan terus menjalani neraka dunia tanpa pujaan hatinya itu.
