Actions

Work Header

Jalan-jalan

Summary:

Neuvillette selalu menantikan jadwal Wriothesley untuk naik ke permukaan.

Notes:

warning, alurnya agak ga jelas

all character belongs to © hoyoverse

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

Wriothesley selalu menantikan jadwal untuk naik ke permukaan. 

 

 

 

Wriothesley memang tidak pernah mengatakannya secara gamblang. Namun, setelah bertahun-tahun menganalisa perilaku sang Duke, Sigewinne yakin kalau gerak-gerik pria itu tidak lain tidak bukan adalah perasaan girang yang meluap-luap. 

“Mau kutuangkan teh untukmu, Nona Sigewinne?” Tawar Wriothesley kala sang melusine datang untuk menyerahkan laporan harian di pagi hari. Sigewinne mengangguk seraya melompat ke atas sofa, duduk manis di sana. Memperhatikan irama familier yang Wriothesley senandungkan kala menyiapkan minuman, Sigewinne iseng menyeletuk. “Tidak sabar bertemu Iudex, ya?” 

Cangkir porselen diletakkan di atas alas keramik dengan sedikit kasar. Menyembunyikan keterkejutan atas pertanyaan sang perawat yang begitu tiba-tiba, Wriothesley menggumamkan tawa sambil menyerahkan cangkir teh. “Ah, lusa adalah jadwal laporan bulanan ke permukaan, ya? Aku hampir lupa. Terima kasih sudah mengingatkan, Nona Sigewinne.”

Memilih untuk tidak menggubris kebohongan Wriothesley, Sigewinne menyesap teh dengan nikmat. Keduanya terlarut dalam hening yang tak lama karena sang Duke kembali mengangkat topik pembicaraan lain.

“Oh ya, Nona Sigewinne, kurasa kau meninggalkan salah satu barangmu di sofa ketika berkunjung tempo hari.” Rak di bawah meja dibuka, Wriothesley mengambil sebuah amplop biru muda dengan segel lilin yang telah terlepas. “Tadinya aku mau langsung mengembalikannya padamu karena kelihatannya surat itu berisi hal penting … dari Monsieur Neuvillette, tapi akhirnya terlupakan karena aku harus mengurus ini dan itu.” 

Wriothesley menghampiri sang perawat, menyerahkan surat yang segera Sigewinne buka dengan tenang sekaligus senang. Membaca baris demi baris aksara yang tergurat dengan indah di atas kertas, Sigewinne memberikan respons yang tak terduga. 

“Di sini tertulis,” Menahan kekehan, Sigewinne membacakan beberapa kalimat, “Nona Sigewinne, saya ingin bertanya suatu hal. Duke Wriothesley seringkali menolak ketika saya ajak untuk berkeliling Fountaine di masa kunjungannya ke permukaan. Awalnya saya tidak mengerti … namun setelah berulangkali membaca berkas persidangannya dan berkonsultasi pada beberapa pihak, saya berasumsi kalau Duke Wriothesley enggan karena masih terikat pada trauma yang dia alami di masa lalu. Apakah hal tersebut masuk akal, Nona Sigewinne? Sebagai seseorang yang paling lama berada di sampingnya, bagaimana pendapatmu mengenai ini?” 

Sigewinne melirik sang administrator Meropide dengan alis terangkat. Yang dilirik sibuk menyembunyikan ekspresi melalui batuk dan melempar pandang ke sembarang arah. 

“Jadi Duke Wriothesley,” Sigewinne tersenyum jahil. Wriothesley memilih untuk memijit kening. “Kau menolak ajakan kencan Iudex karena trauma masa lalu?”

“Nona Sigewinne….”

Untunglah Sigewinne tidak melanjutkan aksinya menggoda Wriothesley. “Iudex Neuvillette punya kebiasaan buruk yang susah dijelaskan. Ketika dia terganggu dengan sesuatu, secara otomatis dia akan menciptakan berbagai hipotesis di dalam kepalanya, bahkan untuk hal trivial semacam ini. Termasuk … dia pasti sudah menimbang berbagai hal ketika akan mengajakmu untuk jalan-jalan berkeliling Fountaine. Penolakanmu pasti membuatnya kebingungan.”

Wriothesley mati kutu sebab deskripsi Sigewinne akan Neuvillette tidak salah sama sekali. Kenapa Neuvillette harus bertanya kepada Sigewinne perihal itu? Mengapa Neuvillette memikirkannya seserius itu? Padahal Wriothesley hanya malu. Dia merasa tidak pantas terlalu lama berada langsung di bawah sinar matahari, apalagi dengan Neuvillette, seorang Chief Justice of Fountaine, yang menemani di sampingnya. 

“Aku … akan lebih berhati-hati.” Ucap Wriothesley pada akhirnya. “Terima kasih, Nona Sigewinne.”

 

***

 

Keesokan harinya, Clorinde mampir ke benteng untuk memberikan pesanan teh yang baru datang dari Sumeru.

“Kau tidak perlu repot mengantarkan ini sendiri, ‘kan?” Wriothesley keheranan kala wanita itu sudah duduk santai di sofanya seraya menunjuk paket di atas meja. “Suruh saja garde mengantarkannya kemari.”

“Aku sekalian ingin mencoba tehmu.” Clorinde membalas ringan. “Tolong buatkan untukku satu, Your Grace.”

“Berhenti memanggilku dengan gelar, Clorinde,” Wriothesley mulai memanaskan teko air, tertawa renyah menanggapi permintaan teman baiknya. “Apalagi ketika kau menyuruhku membuatkanmu teh? Bisa kaubayangkan meminta seorang Duke membuatkanmu teh?”

Clorinde mengangkat bahu, balas tertawa. 

Setelah air panas siap dan Wriothesley menyeduh teh untuk mereka berdua, obrolan mereka pun dimulai.

“Kau tidak mungkin datang hanya untuk mencoba tehku kan?” Tanya Wriothesley, “Ada hal yang membuatmu tidak bisa menunggu padahal besok aku akan naik ke permukaan?”

Clorinde mengangguk seraya meniup teh yang masih mengepul sebelum menyesapnya. “Benar. Ini soal Monsieur Neuvillette.”

“Ada apa dengannya?”

Melirik reaksi Wriothesley yang tepat seperti dugaan, Clorinde tidak sengaja meloloskan kekehan kecil. “Kau tidak berencana menolak ajakan kencan bosku lagi ‘kan, Wriothesley?”

Wriothesley tersedak.

“H-hah?” Perih menyengat kerongkongannya akibat teh yang masih panas mendadak berlesakan masuk. Wriothesley bangkit untuk mengambil air dingin dari kulkas kecil yang ada di sisi ruang. 

“Santai, Your Grace. Aku hanya bertanya.”

“Kau sengaja.” Wriothesley mendengus sebal. “Siapa yang mau kencan?”

“Oh? Padahal bosku sudah menantikan hari esok lebih dari siapa pun, kurasa. Aku bahkan sudah mempersiapkan rencana untuk membolos agar kalian bisa berdua seharian. Ketika kuceritakan ini, Navia bahkan mau membantu — ”

“Sebentar, Lady Navia?” Wriothesley memijit kening. “Mengapa presiden Spina di Rosula sampai terlibat dengan masalah pribadiku?”

“Kau pikir kepada siapa Monsieur Neuvillette bertanya tentang hal ini selain pada Nona Furina? Padaku? Jelas tidak. Aku tahu kau menolak ajakan kencannya berkali-kali siapa lagi kalau bukan dari Navia?”

“Neuvillette curhat pada … Lady Navia?” 

Wriothesley memang tahu kalau hubungan Spina di Rosula dengan pemerintahan Fountaine semakin membaik. Namun … apakah sedekat itu sampai Neuvillette bercerita tentang kehidupan pribadinya? Atau …

“Navia menghadiahi sebuah novel romansa beberapa waktu lalu ketika bosku bilang dia ingin belajar lebih dalam tentang perasaan manusia — “ Clorinde melirik temannya. Sudut bibir gadis itu terangkat membentuk sebuah senyum mengejek. “ — setelah kau menciumnya secara tiba-tiba.”

“Haaah.” Wriothesley mengacak rambut. “Serius. Kenapa kau sampai tahu?”

“Gantian aku yang bertanya padamu. Kenapa kau mencium hakim agung?”

“Memangnya perlu kujelaskan suasana saat itu padamu?”

“Oh? Jadi karena suasana mendukung, kau menyosor — ”

“Astaga, Clorinde! Apa aku terlihat sebar-bar itu?”

“Sejujurnya, iya.” Clorinde melipat kedua tangan di depan dada. “Tapi, menurut cerita yang kudengar dari Navia setelahnya … kau jadi seperti main kucing-kucingan dengan Monsieur Neuvillette sampai membuatnya bingung. Ada apa? Menyesali perbuatanmu?”

Wriothesley terdiam. Dibilang menyesali sih tidak … Tapi masalahnya … Wriothesley malu. Malu berat sekaligus merasa kurang ajar telah melakukan hal tidak senonoh yang melangkahi batas wajar sebuah hubungan formal. Malu karena dirinya yang tidak bisa menahan diri kala dihadapkan dengan kecantikan Neuvillette yang paripurna — walau sedang berada dalam kondisi yang tak prima. Saat itu, Neuvillette terlihat kalut dan butuh hiburan. Jadi, setelah membiarkan sang hakim memeluknya erat, Wriothesley spontan mengarahkan wajahnya untuk mendekat kala mereka bertatapan dan … mengecup tipis bibir seorang Neuvillette. 

Wriothesley tidak akan bisa melupakan kedua iris Neuvillette yang melebar mengerjap. Berbisik. “Bukankah ini yang manusia lakukan ketika mereka menikah di katedral, Your Grace?”

Ucapan bernada kesal Clorinde membuyarkan Wriothesley dari lamunan. “Hei. Kenapa diam saja?”

Pening sebab permasalahan pribadinya mendadak diketahui banyak orang, Wriothesley memutuskan untuk segera menyudahi pembahasan ini dengan sebuah pertanyaan yang mewakili salah satu kegundahan hatinya selama ini. “Memaangnya kau berpikir kalau aku pantas bersama Monsieur Neuvillette?”

“Oh, jadi kau tidak percaya diri?”

“Huh?”

“Alasan kabur-kaburan itu. Ternyata insecure, ya?”

Melihat Wriothesley yang mengatupkan bibir rapat-rapat, Clorinde menghela napas panjang. “Bukankah yang terpenting adalah perasaanmu dan Monsieur Neuvillette? Bukan hak orang lain untuk menghakimi ‘kepantasan’ hubunganmu dengan orang lain. Oh, kalau kau bertanya tentang pendapatku, tentu aku mendukungmu. Kuyakin Navia juga sama, bahkan kurasa Nona Furina juga tidak akan keberatan.”


 .

 

.

 

***

Neuvillette selalu menantikan jadwal Wriothesley untuk naik ke permukaan.

 

 

 

 

Sama seperti bulan-bulan sebelumnya, Clorinde izin absen secara mendadak di hari ketika perwakilan dari Benteng Meropide datang ke Palais Mermonia.

“Aku harus membantu Elphane,” Kali ini gadis itu menyebutkan nama seorang melusine yang bertugas mengoperasikan aquabus, “Dia bilang ada kejanggalan di jalur Navia. Aku ingin menemukan penyebabnya secepat mungkin agar transportasi tidak terhambat. Oh ya, Monsieur, izinkan aku membawa serta beberapa Gardes untuk berjaga-jaga.”

Lalu seperti itulah, hanya ada Neuvillette seorang diri di dalam ruangan ketika sang administrator benteng datang untuk menyerahkan berkas bulanan. 

“Selamat pagi, Iudex Neuvillette.” Sapa sang kepala sipir setelah Neuvillette mempersilahkannya untuk masuk ke ruangan.

“Selamat pagi, Duke Wriothesley.” Neuvillette berdiri dari kursinya, meletakkan dokumen yang tengah ia kerjakan sebelum berjalan mantap ke arah orang yang baru datang. Setelah mengambil berkas yang Wriothesley bawa dalam sebuah map, Neuvillette mempersilahkan untuk duduk. “Aku akan memeriksa dokumen Meropide nanti. Apakah kau sudah sarapan, Duke Wriothesley? Kuyakin perjalanan dari Meropide sepagi ini membuatmu lelah.”

“Uh — oh, ya, sudah, maksudku, belum.” Neuvillette melihat rona merah yang menjalar di bawah kulit wajah Wriothesley dan tersenyum kecil. Ini bukan pertama kalinya Neuvillette menyelipkan kecupan selamat datang kepada Wriothesley — mereka melakukannya setiap bertemu, bahkan — tetapi tampaknya sang sipir belum terbiasa. Padahal, sejauh yang Neuvillette ingat, Wriothesley-lah yang menciumnya untuk kali pertama. 

“Kalau begitu,” Ucap Neuvillette, “mau sarapan bersama?”

***

Wriothesley kira, mereka akan langsung kembali ke Palais Memonia setelah sarapan di restoran milik Spina di Rosula di kota Fountaine. Alih-alih kembali bekerja, Nona Furina yang kebetulan lewat dan melihat keduanya berkencan, malah mengajak (menyeret) sang hakim dan kepala sipir ke terminal aquabus. Nona Furina bahkan langsung menyebutkan tempat tujuan, mendorong keduanya naik ke atas kendaraan air kebanggan warga Fontaine tersebut dan melambaikan tangan dengan riang. “Tolong pantau kondisi Elynas untukku, hakimku tercinta!”

Lalu seperti itulah cerita bagaimana Neuvillette dan Wriothesley berakhir berjalan-jalan berdua di area pegunungan kuno Elynas. 

“Kau pernah kemari, Duke Wriothesley?”

“Pernah, satu kali.” Melihat Neuvillette yang menoleh antusias, Wriothesley mengelus belakang tengkuknya. “Waktu itu ada tersangka yang kabur sebelum dibawa ke Meropide. Aku harus turun tangan membawanya turun ke benteng karena anak buahku kewalahan menghadapi seorang bos bandit yang andal.”

“Bos bandit?” Neuvillette mencoba mengingat kasus yang dimaksud. “Bos bandit yang membakar markasnya sendiri untuk menghilangkan bukti? Yang membuat lima anak buahnya tewas dan dua rumah warga sipil ikut dilahap api? Dia … tampaknya memang orang yang berbahaya. Apakah kau terluka saat itu?”

“Wah.” Mengangumi ingatan Neuvillette, Wriothesley berucap kagum. “Apakah kau bisa mengingat semua kasus yang kau tangani, Chief Justice?”

“Jika aku mencoba, mungkin…” Sadar pertanyaannya belum dijawab, Neuvillette meraih tangan rekan tersayangnya. “Wriothesley… apa kau terluka saat itu?”

“Aku tidak begitu ingat.” Mendapati Neuvillette yang terus menatapnya khawatir, Wriothesley jadi tidak enak hati. “M-maksudku, kalau aku tidak merasa perlu untuk mengingatnya, berarti bisa jadi aku tidak terluka, Your Honour. Kalaupun terluka, mungkin hanya goresan atau sayatan kecil.”

Wriothesley bisa merasakan tatapan Neuvillette yang semula memandang lurus ke kedua netranya, kini turun ke leher. Ke arah bekas luka dalam yang tertutup oleh lilitan perban hitam di sana. Wriothesley berbalik dengan tidak nyaman, mencoba mengajak Neuvillette untuk melanjutkan perjalanan mereka.

Benar. Neuvillette terlihat belum menyerah akan rasa penasarannya terhadap tiga gurat luka yang terpatri di leher sang Duke. Meski Wriothesley konsisten beralasan bahwa itu adalah buah dari hasil pertarungannya melawan beberapa ikan pari di sekitar benteng, Neuvillette tampak tidak puas. Iris aqua sang hakim terus menuntutnya, meminta agar Wriothesley jujur meski tidak pernah diungkapkan lewat kata. 

Oh, tentu saja Wriothesley tidak mungkin mengaku kalau luka itu dia dapat dari salah satu kultur berdarah Benteng Meropide sebelum masa kepemimpinannya, ‘kan? Pertarungan totalitas, kata mereka, namun lebih tepat bila disebut perkelahian sampai mati. Salah satu tangga yang harus Wriothesley tempuh untuk berada di posisinya saat ini, walau dirinya nyaris mati waktu itu. Lagipula, kebrutalan tersebut sudah terkubur jauh di kedalaman lautan. Aib bagi masyarakat Fontaine yang terkenal beradab dan berbudaya. Wriothesley tidak mau Neuvillette mengetahuinya, atau sang hakim bisa terbebani akan hal itu.

“Oh, lihat, ada pondok kecil di sana!” Pondok kecil yang Wriothesley maksud adalah sebuah bangunan beratap tanpa dinding dengan meja dan beberapa kursi yang melingkar di dalamnya. 

Wriothesley mempersilahkan sisi kursi yang tertutup bayangan untuk Neuvillette duduki. Dia lebih dari tahu kalau sang Chief Justice tidak begitu tahan terhadap terik — yang mana itu juga salah satu alasan mengapa Wriothesley menolak ajakan Neuvillette untuk berjalan-jalan di luar ruangan pada siang hari. 

“Ah, hangatnya.” Wriothesley memejamkan mata kala akhirnya ia istirahatkan punggung di sandaran bangku seraya mendongakkan kepala, membiarkan sinar surya merengkuh dirinya. “Ternyata siang hari begini tidak terlalu terik, syukurlah.”

Memandang wajah yang tampak bahagia dengan cahaya matahari membasuh lembut tubuh terlatih itu, batin Neuvillette mengembara pada masa di mana takdir kejam itu dimulai. 

Ada alasan mengapa berkas persidangan Wriothesley tidak pernah meninggalkan meja kerja Neuvillette. Memang suatu kebiasaan yang aneh, namun ketika sang Iudex mengalami hari berat sebab kasus persidangan yang kalut, dirinya selalu refleks mengambil berkas kasus lama itu. Hanya untuk menatap nama terdakwa yang tertera di sana. Hanya untuk merasakan rasa sakit yang entah mengapa menenangkan batinnya dengan cara yang tidak biasa.

Saat itu, Wriothesley bahkan masih anak-anak. 

Neuvillette tidak akan melupakan ekspresi itu. Ekspresi kelabu dengan lapisan kesedihan mendalam yang tertutup kabut pekat. Dengan kepala mendongak menatap altar persidangan yang tinggi, bibir mungil itu mengakui semua dakwaan tanpa getar ragu sama sekali. Terlihat bengis dan mengerikan bila orang hanya melihat dalam sekali pandang — bagaimana seorang anak bisa membunuh kedua orangtuanya dengan tangan sendiri? 

Tetapi ketika kasus dijabarkan, yang mengakibatkan alasan-alasan kelam kemudian tersingkap menciptakan kebenaran pahit, orang-orang jadi memaklumi tindakan keji yang anak kecil itu lakukan — walau tetap tidak bisa dibenarkan.

Tidak seharusnya Wriothesley menghabiskan hidup jauh di kedalaman laut yang dingin. Padahal Wriothesley terlahir untuk senantiasa direngkuh oleh dekap hangat sinar matahari. 

Benar. Entah sejak kapan, telah tumbuh perasaan hangat yang merengkuh hati Neuvillette tiap memikirkan kasus itu — terdakwa dari kasus mengerikan itu. Nona Furina mengatakan kalau perasaan tersebut bernama “kasih sayang” atau “rasa sayang”. Perasaan menyenangkan yang membuat hati bak direngkuh pelukan, atau berupa hasrat untuk selalu bertemu dari masa ke masa, namun bisa juga berwujud sebuah keinginan untuk tidak membiarkan orang yang dikasihi merasakan kesedihan atau rasa sakit. 

Neuvillette menoleh untuk menatap Wriothesley yang tengah bercerita tentang sesuatu. Entahlah apa itu, Neuvillette tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Diperhatikannya gestur Wriothesley yang rileks, rautnya tampak menyejukkan, serta tawa kecilnya yang terdengar riang. Ah, Neuvillette merasa bisa memandangi potongan adegan itu selamanya.

“…tte? Iudex Neuvillette?”

“Ah,” Neuvillette mengerjap, mengusap wajahnya sebab hilang fokus sejenak. “Wriothesley.”

“Ya? Ada yang ingin kau bicarakan, Iudex?”

“Ya.”

Wriothesley mengatupkan bibir sebab menyadari ekspresi sang hakim yang tampak serius. Iris tajam Neuvillette memandangnya tepat ke pupil kelam Wriothesley. 

“Aku belum begitu bisa memahami perasaan manusia. Namun, setelah kau menciumku di hari itu, aku mulai belajar. Aku mulai belajar bahwa tindakan tersebut bisa jadi adalah sebuah fase awal dari suatu perasaan yang lebih kompleks. Mereka menyebutnya ‘rasa suka’? Apa aku salah, Wriothesley?” Telapak tangan sang Duke diraih untuk kemudian Neuvillette bawa kepada tangkup genggaman, “Tapi sejauh yang kumengerti, apa yang kurasakan padamu bukanlah perasaan itu, Wriothesley.”

Wriothesley membatu. Dia sungguh tidak ingin mendengar akhir penjelasan Neuvillette. Dia takut. Padahal, Wriothesley sudah mendoktrin diri sendiri kalau dia tidak akan berharap Neuvillette menganggap serius ciuman itu — menganggap serius perasaannya. Tetapi, Neuvillette tetaplah Neuvillette. Teliti, pekerja keras, tidak pernah melakukan apa pun tanpa usaha maksimal. Mungkin salama ini ia kebingungan, namun Wriothesley tahu kalau Neuvillette bisa jadi telah berusaha untuk mengobservasi perasaannya sendiri … akibat perbuatan Wriothesley yang tak terkontrol kala itu.

Wriothesley merasa jemarinya diremas dengan halus. Tatapan Neuvillette tidak bergetar sedikitpun. Sebaliknya, ia malah melembut, menenangkan. Seolah berkata padanya untuk jangan takut, sebab Neuvillette tidak akan menyakitinya.

Tangan Neuvillette yang terbebas bergerak ke arah pipi Wriothesley. Seiring dengan mendekatkannya kedua wajah mereka, Neuvillette berbisik. “Mungkin lebih tepatnya, aku sayang kepadamu, Wriothesley.”

Huh???

Wriothesley mengerjap. Ia melongo. Reaksi yang bodoh, namun sungguh dia tidak mampu mengontrol ekspresinya saat ini. Sayang? Apa maksudnya… ‘sayang’? Mengapa harus ‘sayang’???

“Ya, Wriothesley.” Senyum lembut tergurat indah. “Kau menciumku karena menyukaiku. Tetapi aku sepertinya sudah sayang kepadamu.”

 

Ah, sepertinya Wriothesley harus memberi Clorinde hadiah karena sudah repot-repot datang untuk menasihatinya kemarin.

 

***

 

Mega sudah tenggelam kala ia berpamitan pada udara luas di permukaan. Seraya melangkah masuk ke dalam lift yang akan membawanya jauh ke kedalaman lautan, perkataan Neuvillette kala mereka berpisah tadi siang terngiang di dalam kepala.

“Aku akan selalu menantikan jadwalmu untuk naik ke permukaan, Wriothesley.”

 

 

 

Ya. Wriothesley akan selalu menantikan jadwal kala ia harus naik ke permukaan.

***

 

 

Notes:

happy birthday neuvillette !!

hehe saya cuma iseng mau nulis neuviwrio/neuvithesley yang agak lucu dan santai tapi kayaknya jadi garing haha (bodoamat)

terimakasih sudah membaca!!