Work Text:
Mimpi itu datang secara repetitif. Tanpa diminta. Tanpa peringatan.
Setiap malam, ketika Tsurumaru terlelap dan alam bawah sadar membawanya ke dunia di balik bantal, ia akan mendapati dirinya berdiri di depan sebuah bangunan serupa manor atau benteng dengan arsitektur Jepang kuno. Bangunan itu bertingkat dua. Halaman depannya luas berumput dan terdapat kolam ikan koi yang telah berlumut. Di dekatnya berdiri pohon sakura yang telah mati. Dinding batu setinggi sekitar dua meter memagari sekeliling benteng tersebut. Hanya ada satu warna di sana. Sepia. Layaknya foto yang telah tersimpan lama. Gerbang utamanya yang terbuat dari kayu tertutup rapat. Tsurumaru tidak pernah berusaha membukanya.
Ada sebentuk perasaan ganjil yang menggerayangi benaknya mengenai tempat itu. Rasanya seperti ketika kau tahu alur cerita suatu film tanpa pernah menontonnya. Tsurumaru hanya berdiri mematung. Mimpinya selesai sampai di situ. Besok hari, Tsurumaru akan bermimpi hal yang sama.
Awalnya Tsurumaru menganggap hal ini sebagai mimpi biasa. Tapi lama-kelamaan ia terusik juga. Kemunculannya yang konstan dirasa Tsurumaru sangat ganjil. Ia mulai mencari di internet atau bertanya pada teman-temannya jika ada yang pernah melihat benteng itu. Tapi tidak ada yang tahu, seakan eksistensinya tidak pernah ada.
Tsurumaru memundurkan memorinya beberapa waktu silam. Ia ingat mimpi itu mulai menghantuinya tak lama setelah pulang dari menyaksikan eksibisi pameran pedang
Genap seminggu penuh malam-malam pria albino itu terasa semakin panjang. Pada hari ke tujuh, ia mulai terserang insomnia. Menegak tiga cangkir kopi setiap hari agar tetap terjaga. Namun ada waktu di mana tubuhnya berkhianat dan kafein tak mampu menahan kelopak mata yang menutup. Pola tidur yang tidak sehat ini mengakibatkan produktifitasnya sebagai jurnalis independen di sebuah media daring menurun. Belum ada narasumber yang diwawancarai atau artikel yang ia tulis.
Tsurumaru jengah. Ia tidak bisa begini terus. Bila mimpi itu terus mendatanginya, maka akan ia ladeni. Kejutan macam apa yang telah menunggunya, Tsurumaru sudah siap.
Langit menghitam. Dalam cahaya temaram lampu baca, Tsurumaru duduk di tempat tidurnya. Alih-alih mengenakan piyama tidur, baju kasual yang menempel di tubuhnya. Lalu diambilnya segelas air putih dan pil di atas meja. Napas mengembus panjang. Dalam hati ia kerap memantrai diri bahwa semua akan baik-baik saja.
Tsurumaru menelan pil tidur. Meluncur melewati tenggorokan dan berhenti di lambung. Tsurumaru memperbaiki posisi serileks mungkin. Telentang, sepuluh jari saling bersilang di atas perut. Mata terpejam. Dalam hitungan menit ia berpindah ke dunia seberang.
Seperti sebelumnya, benteng itu hadir lagi di depannya. Ditolehkan kepala ke sana-sini. Semuanya masih tampak sama. Tsurumaru seolah mempunyai kendali penuh atas tubuhnya sendiri, terasa seperti di dalam dunia nyata. Digerakannya jari-jari tangan. Gerak motoriknya bekerja dengan baik. Matanya kembali fokus di gerbang utama. Kepalan tangan mengerat. Untuk kali ini ia tidak akan pergi sebelum tahu apa yang ada di dalam sana. Tungkai mengayun pelan. Hanya butuh beberapa langkah pendek untuk sampai. Tsurumaru mendorong pelan gerbang yang ternyata tidak terkunci.
Bunyi kayu tua yang bergesekan dengan lantai berderit ngilu. Hawa dingin menerpa wajah Tsurumaru. Bau apak meruap.
Yang pertama kali menyambutnya adalah sebuah lorong panjang yang membagi benteng menjadi dua bagian diiringi pintu-pintu geser yang berjejer. Tsurumaru menaiki undakan. Pintu pertama sebelah kiri digeser. Nampak satu ruangan luas dan ada kotetsu di tengah beserta empat bantalan duduk yang mengelilingi di tiap sisi. Ruangan itu terlihat lengang karena tidak banyak diisi perabotan. Lukisan gunung fuji tergantung di dinding. Satu lemari panjang dengan banyak laci terpajang di sudut ruangan. Merasa tidak ada yang menarik, Tsurumaru meninggalkan tempat itu.
Tsurumaru menyusuri lorong, membuka tiap pintu yang ia lewati hanya untuk mengintip sedikit. Empat ruangan adalah kamar, didasari atas futon-futon yang tergelar. Lainnya adalah kamar mandi. Di bagian tengah, terdapat area yang lebih lapang dan Tsurumaru menemukan tangga menuju lantai dua. Sebelah utara ada pintu yang menyambungkan dengan halaman belakang untuk kandang kuda.
Waktu seolah mati di tempat ini. Kesenyapan yang melimuti membuat Tsurumaru dapat mendengar detak jantung atau bahkan setiap tarikan dan embusan napasnya sendiri. Terdengar berat seperti pasien di rumah sakit yang bernapas dengan alat bantu. Sesaat perasaannya ragu untuk naik ke lantai dua. Kemantapan yang tadi dimilikinya entah lari ke mana.
Seolah kakinya dirantai, dengan susah payah Tsurumaru tapaki tiap anak tangga sambil terus mendongak waspada. Udara dirasakannya lebih berat di lantai dua, untuk alasan yang tak ia mengerti. Lehernya seakan tengah terjerat sesuatu sehingga ia harus bernapas satu-satu.
Tidak seperti di lantai satu yang memiliki banyak ruangan, di sana mata Tsurumaru langsung dihadapkan dengan ruang untuk menempa. Tsurumaru pernah melihat yang seperti ini dalam layar kaca. Jika ditilik dari alat-alatnya seperti tungku, palu, wadah persegi panjang berisikan air, material baja karbon mentah maupun yang berbentuk bilah-bilah katana, cetakan, pisau, gurdi, maka Tsurumaru menyimpulkan ini workshop seorang pandai besi.
Ia kemudian berbelok ke kanan menuju kepada koridor yang membawanya di sebuah tempat. Sepanjang koridor terpasung lilin-lilin tanpa nyala api. Kesan mistis begitu kuat manakala kaki Tsurumaru memasuki ruang altar berukuran sekitar 5x5 meter. Kertas-kertas jimat dengan aksara kanji menghiasi dinding kayu. Tsurumaru pernah membaca bahwa benda-benda gaib seringkali didiami penghuni atau sebagai media arwah leluhur disimpan. Biasanya benda yang dimaksud bernilai historis atau berusia puluhan hingga ratusan tahun silam. Di atas meja yang telah ditata sedemikian rupa dengan hiasan perunggu dan emas, diletakkan dudukan pedang. Tsurumaru menduga ruangan ini sebagai tempat pemanggilan arwah, yang mana medianya adalah pedang.
Di atas dudukan berbaring pedang berukiran naga pada salah satu sisi bilah. Tsurumaru mengerutkan kening. Ini bukan kali pertama ia melihat pedang tersebut. Ciri khas ukiran naga itu mencolok di antara pedang-pedang lain yang dipamerkan tempo hari. Tsurumaru menganggapnya sebagai suatu karya seni yang indah, sekalipun kontras dengan hakekat pedang sebagai alat membunuh. Ia semacam memiliki ketertarikan dengan benda itu. Tsurumaru ingat ia sempat melirik plang nama sang uchigatana.
‘Ookurikara ’
Pandangannya teralihkan pada pedang lain yang sedikit lebih panjang dari Ookurikara. Berbeda dengan Ookurikara yang masih utuh, bilah pedang itutelahpatah menjadi dua. Perlahan, Tsurumaru mendekat. Tidak ada ciri yang cukup signifikan selain gagang berwarna putih. Ia tidak pernah melihat pedang itu saat pameran, namun perasaan familier itu datang lagi begitu berhadapan langsung. Didorong rasa penasaran, Tsurumaru bergerak impuls menyentuhnya.
Seakan mendapat kejut listrik, sekelebat memori bermain cepat dalam kepalanya.
(Benteng)
(Aruji)
(Kebi-ishi)
(Tsurumaru, Kousetsu, Urashima, Yagen, Atsu, Hasebe)
(Tsurumaru tertikam tombak)
(Ookurikara tidak ada di sana. Ookurikara menunggu di benteng.)
(Tsurumaru tidak pernah kembali)
Ia melepas sentuhan. Kepala berdenyut dan telinganya berdenging. Apakah yang dilihatnya barusan adalah—
/“…Tsurumaru…”/
Ada yang memanggil. Suaranya tak lebih dari sekadar desauan. Menoleh, tidak ada siapa pun di belakang. Firasat mengatakan ia harus segera meninggalkan tempat ini. Tapi dia masih terjebak dalam dunia mimpi. Tsurumaru mengambil tindakan selanjutnya. Jari tangan ia iris dengan mata pedang. Darah segar menetes ke lantai. Sakit ia rasakan. Namun cara itu tidak berhasil membuatnya terbangun dari tidur.
/“Kaukah itu?”/
Suara itu lagi. Berbalik badan, Tsurumaru berlari menjauhi altar. Ketika melewati koridor, tiba-tiba satu per satu api lilin menyala temaram. Tak dihiraukannya gangguan-gangguan psikis yang mulai menelusup. Warna sepia yang sebelumnya menyepuh seantero sudut pandang Tsurumaru, seketika luntur menjadi monokrom tatkala ia tengah melesat menuruni tangga.
/“Akhirnya kau pulang...”/
Tsurumaru sampai di lantai satu. Ia mencoba membuka pintu menuju halaman belakang namun gagal. Jalan satu-satunya yang tertinggal adalah gerbang utama. Tsurumaru bergerak lagi menuju lorong panjang. Tinggal beberapa meter lagi sampai. Tetapi tungkainya seperti ditahan sesuatu sehingga sulit digerakan. Disusul kemudian anak tangga berderit lemah. Ia menoleh. Jantung Tsurumaru melonjak. Sesosok imagi dalam kilasan masa lalu itu sudah berdiri di ujung koridor. Tato naga melingkar dari pundak hingga tangan kirinya.
/”Tinggallah. Tempatmu adalah di sini.”/
Tsurumaru menggigit bibir bawah untuk mengendalikan tremor.
“Tidak. Aku bukan lagi Tsurumaru sang tachi. Kita sekarang hidup di era yang berbeda, Ookurikara.” Tsurumaru beringsut ke belakang.
Sosok itu tidak bereaksi. Tatapan matanya kosong. Ia terlalu lama terpenjara dalam ilusi yang dibuatnya sendiri.
Dalam satu kedipan mata, Ookurikara berada di depannya. Tsurumaru bahkan tidak punya waktu untuk berteriak. Denagn segenap tenaga yang dipunya, Tsurumaru mendapatkan kembali kontrol atas tubuhnya.
Detik berjalan dalam ritme lambat.
Ookurikara menjulurkan tangan kiri, berusaha menggapai Tsurumaru. Pria berambut putih itu mendobrak kuat gerbang. Cahaya menyilaukan membutakan matanya saat gerbang terbuka. Ujung jemari Ookurikara menyentuh kulit Tsurumaru.
.
.
.
Ia tersentak. Napas tersengal-sengal. Tsurumaru merasa ia baru saja menahan napas dalam air. Peluh membasahi seprai. Mata mengerjap beberapa kali. Langit-langit putih menyapa, alih-alih sepia. Sambil memegang kepala yang masih terasa nyeri, Tsurumaru bangun lalu duduk di tempat tidur. Jam beker meneriakan angka Sembilan. Selarik sinar matahari menembus jendela.
Ia edarkan pandangan ke sekitar. Tidak salah lagi. Tempat ini adalah kamar tidurnya. Ia sudah kembali ke dunia nyata. Dunia di mana seharusnya ia berada. Tsurumaru menghela napas lega. Dengan langkah gontai Tsurumaru membuka lemari, mengambil setelan kemeja dan jeans untuk baju ganti sehabis mandi.
Kaus putih ia tanggalkan. Dalam refleksi cermin, Tsurumaru menangkap sesuatu yang ganjil. Badannya sedikit dimiringkan. Mata Tsurumaru terbuka lebar.
Tato kepala naga berwarna gelap—kontras dengan kulit putih pucatnya—tercetak di pundak Tsurumaru.
Kutukan Berujung Maut?
—Ditulis oleh Kuninaga Tsurumaru
.
Serentetan tiga kasus kematian misterius menyerang sebagian kota di Jepang. Kasus pertama terjadi di Kyoto. Seorang pria berusia 30 tahun ditemukan tewas mendadak di rumahnya. Korban diidentifikasi bernama Kogitsunemaru. Selang dua bulan berikutnya, kasus serupa kembali terjadi di Osaka. Kali ini memakan korban bernama Gokotai, seorang anak SD. Dan yang terakhir adalah Hotarumaru, pelajar SMP XXX.
Awalnya polisi menduga ini merupakan kasus pembunuhan berantai. Namun, ketiga korban berada di kota yang berbeda, latar belakang yang tak sama, serta tidak saling mengenal satu dengan yang lain. Yang menjadi kemiripan antar ketiganya adalah:
1.) Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada mayat korban.
2.) Ditemukan di pagi hari di tempat tidur masing-masing.
3.) Albino.
4.) Terdapat tato naga melingkar di lengan kiri.
Sampai sekarang penyebab kematian masih belum diketahui. Salah satu keluarga korban bertutur bahwa beberapa hari sebelumnya korban selalu mengalami mimpi buruk. Desas-desus yang menyebar adalah bahwa para korban terkena kutukan Pria Bertato Naga.
.
.
.
.
The end
.
