Actions

Work Header

As Warm as Hotteok

Summary:

Namjoon tidak bisa tidur.
Dia ingin makan hotteok.
Masalahnya, jam sudah menunjukan tengah malam dan tidak ada kedai hotteok yang masih buka.

Beruntung ada sang pacar yang siap sedia mencari keinginan si sayang meski harus ke ujung dunia.

Notes:

Made for FTW Ficfest 2023

Continuation of this tweet

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

NAMJOON mengembuskan napas gusar. Sudah lebih dari setengah jam dia berputar ke kiri dan ke kanan di atas kasur, mencoba untuk mencari posisi ternyaman untuknya tidur tapi tidak berhasil. Namjoon mengintip jam di layar ponsel. Pukul 23.45. Dia tahu harus segera tidur karena dia harus bertemu klien besok pagi. Namun tubuhnya yang tidak lelah membuat matanya tidak dapat terpejam sama sekali. Dia akhirnya meraih ponsel dan membuka ruang obrolannya dengan pacarnya, Seokjin.

 

Namjoon:

“Kak, lagi apa?”

Dia kemudian beralih membuka Instagram dan menggulir berandanya sembari menunggu pesannya dibalas. Namjoon menduga tengah malam seperti ini kemungkinan besar Seokjin tengah bermain game on-line sambil streaming berhubung menjadi streamer game adalah profesi utamanya. Saat notifikasi pesannya muncul, senyum Namjoon mengembang seketika.

 

Kak Seokjin:

“Lagi nge- game aku.”

“Barusan mati hahaha.”

“Nam belum tidur?”

 

Namjoon tidak dapat menahan diri untuk tidak tersenyum lebih lebar. Bagaimana tidak? Setiap kali Namjoon mengirim pesan, Seokjin selalu berusaha untuk membalas secepat mungkin meski saat dia tengah sibuk dengan permainan maupun pekerjaannya. Hal itu membuat Namjoon merasa penting dalam hidup Seokjin.

 

Namjoon:

“Tadinya mau.”

“Terus aku laper. Ga bisa tidur.”

“Aduh aku pengen itu.”

 

Kak Seokjin:

“Pengen apa?”

 

Namjoon berpikir sebentar. Dia tidak benar-benar lapar. Dia hanya bosan dan mulutnya ingin mengunyah sesuatu yang manis.

 

Namjoon:

“Hotteok.”

“Tapi jauh banget dari apart .

“Kenapa ga ada abang hotteok deket apart ya? Mana udah jam segini.”

“Enak kayanya hotteok malem-malem gini yang anget ya, Kak? Yang gulanya meleleh.”

“Nyam nyam nyam.”

 

Kak Seokjin:

“Be right back.”

 

Namjoon:

“Okay.”

 

Namjoon kembali membaca pesan yang dia kirim barusan kemudian tertawa kecil. Ocehannya terdengar sangat tidak penting, tapi Seokjin tidak pernah menyanggah ucapannya. Sebenarnya bisa saja Namjoon turun dari unitnya dan menuju minimarket di ujung jalan untuk membeli hotteok instan. Namun dia terlalu malas untuk mengambil jaket dan berjalan ke sana. Dia kemudian memutar badannya ke sisi yang lain dan lanjut mengetikkan pesan.

 

Namjoon:

“Kak, gimana kalau kita nawarin abang hotteok buat jualan deket sini?”

“Pasti market -nya besar di sini.”

“Yang suka pasti kan ga cuma aku.”

“Yang laper tengah malem juga pasti bukan cuma aku.”

“Menarik kan ya, Kak?”

“Ayo, Kak, kita bikin bisnis hotteok.

 

Namjoon mengetik pesannya sambil tertawa. Dia yakin sekali saat Seokjin kembali dari permainannya, dia akan membalas, Ngawur kamu , atau, Iya, aku bantu bangun tenda . Sambil menunggu balasan pesannya, mata Namjoon sesekali terpejam sebelum kembali terjaga. Dua puluh menit. Tiga puluh menit. Pesannya masih belum terbaca sampai akhirnya Namjoon tertidur dengan ponsel di tangan kirinya.



***



“Nam.”

Namjoon mengernyitkan alis, tapi matanya masih terpejam.

“Hei, katanya mau hotteok?"

Namjoon memanyunkan bibir dan alisnya berkerut lebih dalam. Mengapa dia bisa mendengar bisikan Seokjin dengan sangat jelas? Menganggap dia hanya sedang bermimpi, Namjoon mengabaikan suara itu sampai dia merasakan sentuhan halus di pipi yang membuat matanya perlahan terbuka. Otaknya butuh waktu untuk memproses bayangan di depannya yang kemudian dia sadari adalah Seokjin yang sedang duduk di pinggir kasur, tersenyum padanya.

“Kak Seokjin?” panggilnya bingung. Dengan alis masih berkerut Namjoon memutar kepalanya ke seluruh ruangan, memastikan bahwa dia masih ada di dalam kamarnya. “Kamu kok bisa—oh!”

“Aku punya password pintu kamu,” jawab Seokjin tersenyum gemas. Lucu sekali melihat Namjoon yang dalam mode bekerja terlihat sangat tangguh dan percaya diri, juga memiliki sisi menggemaskan di saat seperti ini.

Perlahan Namjoon duduk dan menatap Seokjin masih dengan tatapan bingung. “Kamu ngapain di sini?” Dia lalu melirik jam di atas nakas. Sudah hampir jam satu pagi. “Jam segini?”

“Tadi katanya pengen hotteok , kan? Tuh, aku taruh di atas meja.”

Namjoon mengerjap. Hotteok , katanya? Jam satu pagi?

“Yuk,” ujar Seokjin menarik Namjoon turun dari kasur dan berjalan bersamanya ke luar kamar. Benar saja. Sepiring hotteok dengan asap masih mengepul sudah menyambutnya di atas meja makan.

Dengan ekspresi yang masih menunjukkan kebingungan, Namjoon duduk di atas kursi dan terus menatap hotteok di depannya. “Kamu beli ginian tengah malem? Masih ada yang jual?”

Seokjin yang duduk di depannya mengangguk. “Masih ada di deket sini. Tadi aku muter dulu, ternyata ga jauh dari apart kamu masih buka. Udah hampir tutup juga tadi. Rejeki kamu. Maaf, ya, aku nyampenya lama terus jadi bangunin kamu,” ucapnya tersenyum.

“Ih, aku kan ga minta kamu buat nyari?”

“Kasian pacarku lagi pengen ngemil. Masa aku diemin aja?”

Namjoon memutar mata sebelum mengambil sepotong hotteok di depannya dan Seokjin tertawa melihat responnya. Seokjin pun ikut mengambil makanan di depannya lalu mengangguk. Hotteok hangat di malam yang dingin terasa sangat enak.

“Kamu tadi lagi main, Kak? Lagi streaming? ” tanya Namjoon dengan mulut penuh.

“Telen dulu, sayang,” tegur Seokjin sembari memberikan tisu untuk Namjoon. “Iya. Tadi lagi push rank. Abis chat kamu tadi aku langsung udahan.”

Tangan kanan Namjoon yang masih memegang hotteok yang sudah tinggal setengah menggantung di udara. Dia menatap Seokjin terkejut lalu menggigit bibir merasa bersalah. “Kak, maaf kamu mainnya jadi keganggu aku?”

Seokjin menggeleng. “Engga, kok. Kangen tahu, akunya.”

Ah, benar. Sudah hampir tiga pekan mereka berdua disibukkan oleh pekerjaan sehingga tidak memiliki waktu untuk bertemu. Padahal apartemen mereka tidak terlalu jauh.

“Sorry,” gumam Namjoon menunduk. Akhir pekan lalu, mereka berdua sudah berjanji untuk berkencan. Namun, mendekati waktu yang sudah disepakati, Namjoon mendadak harus ke kantor karena ada pekerjaan yang tidak dapat dia hindari.

“Iya, kan, udah dimaafin.”

“Terus game kamu gimana?”

Game bisa nanti-nanti, lah. Kamu lebih penting,” ucap Seokjin mengedipkan sebelah matanya.

Oh. Mulus sekali.

Salah tingkah, Namjoon berdeham kemudian mengambil satu potong hotteok lagi dari atas piring. Ayolah, dia sudah mengencani pria di depannya ini lebih dari tiga tahun, tapi kupu-kupu di dalam perutnya tidak pernah berhenti membuat perutnya geli setiap kali Seokjin menggodanya. Sementara Seokjin tersenyum puas di depannya.

“Kamu nginep di sini, kan?” tanya Namjoon mengalihkan topik.

“Nginep ga, ya? Aku pikir-pikir dulu, deh,” ujar Seokjin menaruh jarinya di dagu seolah sedang berpikir. Hal itu membuatnya mendapatkan tendangan pelan di bawah meja dan dia pun tertawa. “Aduh! Iya aku nginep kalau kamunya maksa.”

Namjoon mencebik dan Seokjin kembali tertawa.

“Tapi kamu bobo duluan, ya,” ujar Seokjin. “Aku mau main dulu sebentar, tadi nanggung dikit lagi. Sikat gigi dulu baru bobo.”

“Oke,” jawab Namjoon menghabiskan hotteok di tangannya.



***



Usai menyikat gigi, Namjoon keluar dari kamar mandi dan hendak menuju kamarnya tapi langkahnya terhenti melihat punggung Seokjin yang sedang fokus di permainannya. Namjoon menimbang sebentar sebelum menghampiri Seokjin yang sedang menggunakan komputernya. Namjoon sengaja membeli perangkat itu selain untuk membantu pekerjaannya, juga untuk ikut bermain bersama Seokjin saat dia senggang. Dia berdiri canggung di sebelah Seokjin sampai pria itu menoleh padanya.

“Belum mau bobo?” tanya Seokjin.

Namjoon menggeleng. “Geseran dikit,” ujarnya.

Mengerti apa yang Namjoon minta, Seokjin berdiri untuk membiarkan Namjoon duduk di atas kursi yang tadi dia duduki dan dia sendiri akhirnya duduk di atas paha Namjoon. Kursi itu terlalu sempit untuk dapat memuat mereka berdua, kecuali dalam posisi seperti ini. Setelah Seokjin cukup nyaman, Namjoon melingkarkan tangannya di pinggang Seokjin dan mengintip layar dari balik bahu Seokjin. Dia tidak mengatakan apa-apa dan hanya melihat Seokjin bermain.

“Nam, geli,” ujar Seokjin menjauhkan lehernya sambil tertawa. Posisi Namjoon membuat napasnya menggelitik leher Seokjin. Namun bukannya menjauh, Namjoon meniup leher Seokjin sampai pria itu tertawa lebih kencang. Namjoon kemudian mengecup bahu Seokjin singkat sebelum menyandarkan kepalanya di sana.

“I don’t deserve you, really,” bisik Namjoon pelan, seolah jika dia berbicara lebih keras akan ada orang lain yang mendengar meski di ruangan itu hanya ada mereka berdua.

“We deserve each other,” ujar Seokjin. Tangan kirinya mengusap tangan Namjoon yang beristirahat di perutnya sebentar sebelum kembali ke atas keyboard.

“I love you,” ucap Namjoon sambil mengeratkan pelukan. Dia ingin lebih dekat dengan pria ini agar dia dapat merasakan bagaimana penuhnya dada Namjoon sekarang. Dia merasa bahagia dengan hanya memiliki Seokjin di dalam pelukannya seperti ini.

“I know.”

Notes:

Short one to end this year. Happy New Year~