Work Text:
Itachi mengusap perutnya yang membuncit dengan sayang. Di sebelahnya, Hatake Hikari, putri pertama Hatake Kakashi dan mate-nya, Hatake Tenzou, dengan penasaran ikut mengusap perut besar Itachi dengan kedua tangan kecilnya.
“Ita-oba! Mereka bergerak! Aku tidak sabar melihat mereka, kapan mereka akan lahir?”
Sakura yang sejak awal ikut duduk di sebelah kanan Itachi tertawa kecil. “Mereka akan segera lahir, Hika-chan.”
Hinata yang juga duduk di sebelah kanan Sakura ikut tersenyum lembut. “Mereka pasti bayi yang cantik, Itachi-san.”
Itachi memang sedang mengandung bayi kembar, dan sekarang adalah bulan ke sembilannya. Itu sebabnya keluarganya selalu berada di dekatnya—berjaga-jaga semisal dia akan melahirkan. “Terima kasih, Hinata-san.”
Itachi melihat sekelilingnya—Tenzou sedang memangku kepala Kakashi yang tertidur dengan malas, Sakura dan Hinata yang membicarakan tentang ninjutsu medis, Hikari yang masih mengusap perut Itachi, dan juga Sasuke, Naruto dan Shisui yang membicarakan sesuatu tentang pergabungan elemen tidak jauh dari mereka semua.
Hanya kurang Shin dan Sai di sini, tapi mereka baru saja pergi untuk membeli camilan tambahan—sekaligus memberikan bunga pada mate Sai yang sedang ngambek.
Mata Itachi kemudian tidak sengaja menangkap pergerakan tangan mate-nya dan juga kedua adiknya (karena, ya, Uzumaki Naruto juga adiknya) yang aneh. Dia berniat mengaktifkan sharingan ketika cahaya putih meledak diantara ketiganya.
Setelahnya, semua gelap.
.
.
.
Ketika mereka semua tersadar, ANBU sudah mengelilingi mereka.
“Kalian akan ikut kami ke kantor Hokage-sama.” Perintah salah satu dari mereka.
Insting mereka semua langsung mengambil alih, dan dengan cepat mereka bangkit (dengan Shisui yang langsung melompat untuk membantu Itachi dan Kakashi yang menggendong Hikari dengan protektif).
Untungnya, para ANBU itu tidak membawa mereka dengan shunshin dan hanya menemani mereka melalui jalan yang lebih sepi.
Naruto menggumam tentang mereka yang tidak melakukan kesalahan, tapi mereka semua mengabaikannya kecuali Hinata yang hanya tersenyum kecil.
Disaat yang sama, Sakura menangkap sesuatu yang aneh dan langsung berhenti berjalan.
“ANBU-san,” panggilnya, membuat yang lainnya ikut berhenti. “… siapa nama Hokage saat ini?”
Salah satu ANBU dengan topeng harimau memiringkan kepala, seolah-olah pertanyaan Sakura adalah sesuatu yang aneh. “Yondaime Hokage-sama, Namikaze Minato.”
Keheningan mengudara selama beberapa detik sebelum anggota tim tujuh mengumpat.
“Oh sial,” umpat Sasuke, Sakura dan Naruto bersamaan.
.
.
.
Namikaze Minato memijat kepalanya dan meminta salah satu ANBU untuk memanggil Uchiha Fugaku dan keluarganya, Uchiha Shisui, Hakate Sakumo dan keluarganya, Kushina, juga Hyuuga Hiashi ke kantornya.
Di depannya, sembilan orang yang tiba-tiba muncul di lapangan latihan nomer tiga setelah ledakan chakra berdiri dengan kaku.
“Um, Hokage-sama? Bisakah kau membawa dua kursi untuknya dan Hika-chan duduk? Karena, kau tahu, Omega yang sedang hamil sembilan bulan dilarang berdiri diam dalam waktu lama.”
Minato meringis, kemudian meminta ANBU lain untuk membawa dua buah kursi untuk salah satu ‘tamu’nya.
“Aku tidak selemah itu, Sakura.”
“Ita-nii, kau tahu itu tidak baik untuk tubuhmu dan juga kedua bayimu.”
Omega (yang ternyata adalah Uchiha Itachi dari masa depan) itu menutup mulutnya, dan tanpa protes duduk di kursi yang ANBU bawakan untuknya. Anak kecil yang dipanggil ‘Hika-chan’ (yang sejak awal digendong oleh Kakashi dari masa depan) ikut turun dari gendongan ayahnya dan duduk di sebelah Itachi.
Segera saja mereka dikelilingi oleh empat orang—Kakashi, dua Uchiha (yang rupanya mate dan adik dari Uchiha Itachi), dan Tenzou (karena siapa lagi kalau pria itu bukan mate Kakashi?).
Untungnya, Kushina datang dengan Uchiha Mikoto dan keluarganya juga Uchiha Shisui saat itu.
“Minato! Ada apa? Wha—siapa mereka?”
“Duduklah dulu, Kushina, kau juga, Mikoto-sama. Kita masih harus menunggu yang lain untuk datang.”
Tepat setelah dia mengatakan hal itu, Hyuuga Hiashi melangkah masuk bersama istreinya. Pria itu menatap sekeliling dan menyipitkan mata pada gadis dengan rambut hitam panjang (Hyuuga Hinata, putri Hiashi dari masa depan dan juga mate dari putranya) yang berdiri disamping gadis lainnya yang berambut pink (Haruno Sakura, mate Uchiha Sasuke).
Minato sangat tidak menantikan pembicaraan yang akan mereka lakukan.
“Hyuuga-sama, tolong bersabarlah sebentar untuk menunggu keluarga Hatake datang.” Minato mencoba tersenyum, tapi bahkan dia sendiri dapat merasakan bahwa itu lebih terlihat seperti ringisan.
Hiashi menghembuskan napas dan mengangguk, lalu mengambil tempat di sebelah Fugaku.
Mereka tidak perlu menunggu lama, karena Sakumo, Tobito, Kakashi, Tenzou, Obito dan Rin datang tidak lama kemudian.
Minato menelan kembali erangan yang akan dia lakukan, terutama ketika melihat tatapan aneh dan tarikan napas tajam yang Kakashi, Sakura, Sasuke, dan Naruto lakukan. “Karena kita semua sudah berada disini, aku ingin memberitahu sesuatu terkait dengan ledakan chakra di lapangan latihan tiga beberapa waktu yang lalu.”
“Woah! Papa, Mama, mereka terlihat seperti Sakumo-jii dan kalian waktu masih muda!” Hikari mendongak pada kedua orang tuanya yang kini tersenyum tidak nyaman.
“Hikari-chan, jangan memotong ucapan Hokage-sama, oke?” Tanzou (dari masa depan) mengingatkan.
“Oh! Maaf, Hokage-sama.” Anak perempuan itu langsung menutup mulutnya dengan tangan, membuat Minato tersenyum kecil melihat keimutan anak itu.
“Tidak masalah, Hikari-chan.” Jawab Minato, lalu melanjutkan ucapannya. “Seperti yang kalian lihat, mereka ada disini karena ledakan yang terjadi. Dan, ledakan itu tidak hanya membawa mereka kesini, tapi memindah mereka dari waktu yang lain.”
Tarikan napas tajam terdengar, dan mereka semua mulai memperhatikan ‘orang asing’ itu lebih teliti.
“Hokage-sama, maksud anda…”
“Apa yang akan kukatakan tidak akan keluar dari ruangan ini. Dimengerti?”
Gumaman dan dengusan terdengar, tapi Minato sudah puas dengan itu dan mulai berbicara tepat sebelum Itachi memotongnya.
“Um, maaf memotong pembicaraan, Hokage-sama.” Ujar Itachi tiba-tiba. Ekspresinya terlihat tidak nyaman dan Sakura, Sasuke, Naruto dan Shisui langsung bergerak mendekat. “Sepertinya air ketubanku pecah.”
Hening beberapa detik hingga Shisui dengan panik langsung menggendong Itachi dan melakukan shunshin (kemungkinan besar ke rumah sakit) dengan Sakura dan Sasuke tepat dibelakangnya, membuat ANBU yang berjaga berjengit dan Minato harus menyuruh mereka untuk kembali tenang dan pergi untuk mengawasi mereka.
Minato benar-benar ingin menghantamkan kepalanya ke meja didepannya dan mulai menyesali kenapa dia tidak memberikan posisi ini pada Sakumo lebih dulu.
“Hokage-sama?” tanya Sakumo dengan khawatir, tapi Minato hanya melambaikan tangan.
“Maa, maa, proses persalinan bisa berlangsung selama enam jam lebih. Selama itu bisakah kita selesaikan ini? Karena dua anakku yang lain pasti sedang khawatir sekarang.” Kakashi dari masa depan tersenyum dengan nada ceria yang dibuat-buat. Disampingnya, Tenzou memutar mata dan kembali meggendong Hikari yang memperhatikan mereka semua dengan ekspresi khawatir.
Diluar dugaan, Tobito yang pertama kali bicara setelah keheningan. “Kau… Hatake Kakashi dan Tenzou dari dimensi lain.”
Kakashi dan Tenzou (dari masa sekarang—ugh ini sangat membingungkan! Minato mendadak sangat menginginkan sake sekarang) terbelalak mendengarnya, sebelum Kakashi berubah cemberut pada sosok dirinya yang sudah dewasa. “Mama, dia seperti orang aneh! Dia tidak mungkin aku!”
Tobito hanya menatap putranya dengan tatapan geli, tapi Kashi (baiklah, Minato akan memanggilnya Kashi dan Ten agar tidak membingungkan) hanya menyipitkan mata pada Tobito.
“Dan siapakah dirimu? Kenapa mini-aku memanggilmu dengan ‘mama’? Kau terlihat seperti Uchiha.”
Tobito memiringkan kepala, memperhatikan Kashi, Ten, Hinata dan Naruto beberapa saat sebelum mengangguk seolah-olah mengerti. “Kau tidak pernah mengenal Uchiha Tobito ataupun Hatake Tobito, benar ‘kan, Bakashi?”
Kashi ikut memperhatikan Tobito, kemudian berkedip seolah-olah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Kau menikah dengan ayahku?!” dia berteriak seolah-olah tersinggung.
“Yep! Dan aku ibumu!”
Sebelum ini semua semakin membingungkan, Minato berdehem dan angkat suara. “Seperti yang kalian lihat, mereka berasal dari masa depan… Hatake Kakashi, Hatake Tenzou, anak mereka, Hatake Hikari, Namikaze—”
“Uzumaki, tou-chan. Aku memakai nama kaa-chan.” Naruto memotong, tersenyum lebar pada Minato.
“Uh, Uzumaki Naruto, Hinata Hyuuga, dan empat orang lainnya yang pergi ke rumah sakit adalah Haruno Sakura, Uchiha Shisui, Uchiha Itachi dan Uchiha Sasuke.”
Minato dapat melihat Fugaku memandang Itachi dan Shisui dengan penuh perhitungan, tapi Mikoto dengan cepat menepuk lengan suaminya dan dengan nada yang terlalu ceria berkata bahwa kalau begitu mereka juga seharusnya berada di rumah sakit untuk menemani putra mereka yang sedang bersalin.
Pria itu hanya mengangguk dan mengangguk pada Minato sebelum membawa keluarganya keluar tanpa berkata apapun lebih banyak. Itachi dan Shisui juga masih terlihat syok dengan apa yang terjadi.
“Jadi kau adalah putriku dan Yumi?” tanya Hiashi pada Hinata yang kini berdiri disamping Naruto.
“Y-ya, tou-sama.”
Yumi tersentak dan bangkit dari duduknya untuk mendekati Hinata, begitupun Kushina yang mendekat pada Naruto untuk menangkup pipi anak itu dan memperhatikannya kiri-kanan.
“Kau punya wajahku, ‘ttebane! Ah, putraku sangat tampan!” teriaknya dengan senang, membuat sesuatu didalam dada Minato menghangat.
“Hokage-sama,” panggil Kashi. Nada suaranya kaku dan dalam sekejap Minato ikut waspada. “Sepertinya kami kembali ke masa lalu, benar, tapi bukan masa lalu milik kami.”
“… jelaskan.”
Kashi bertukar pandangan dengan Ten, kemudian melirik Sakumo dengan tatapan penuh duka, kemudian pada Obito dan juga Rin. “Melihat… Tobito disini… dan juga Hatake Sakumo… kami tahu ini bukan masa lalu milik kami.”
“Eh, Kaka-sensei, jadi kita sekarang berada di dimensi lain? Maksudmu, seperti dimensi Kaguya?!”
Minato tidak tahu apakah dia ingin tahu siapa Kaguya yang Naruto sebut itu.
“Hm… tidak tepat. Lebih seperti… universe lain. Seperti alur waktu yang sama dengan milik kita, namun punya beberapa perbedaan, baik kecil maupun besar.”
Naruto membuat suara ‘aah’ dan mulai memperhatikan Sakumo juga Tobito. Dia menyipitkan mata pada Tobito, membuat Kakashi dan Sakumo bergerak tidak nyaman. “Tunggu dulu, kalau begitu, dia—”
“Yeah, Naruto. Sepertinya begitu.” Jawab Kashi seolah-olah mengerti apa yang akan Naruto katakan.
“Bisakah kalian tidak bicara dengan teka-teki?! Apa maksudnya itu? Mama, kau mengenal mereka?” tanya Kakashi, terlihat hampir mengguncang ibunya sendiri untuk mendapatkan jawaban. Obito juga terlihat akan melakukan hal yang sama dengan sepupunya dan Rin hanya diam dengan tatapan waspada.
Naruto tertawa kecil, “’Mama’ ‘huh? Kaka-sensei, aku tidak tahu itu!”
“Apa maksudnya itu?! Kenapa kalian melihat Tobi-oba seperti kalian tidak percaya bahwa Tobi-oba ada disini?!” Obito berteriak, dan Minato bertanya-tanya kenapa tatapan Kashi menjadi gelap dan penuh dengan duka ketika melihat Obito.
“Nah, Kakashi-kun anak yang sangat menyayangi mama dan papanya. Jangan menggodanya, Naruto.” Tobito tersenyum dan mengusap kepala Kakashi dan Obito, ekspresinya tenang ketika melihat Kashi dan Naruto. “Yo, sudah lama tidak bertemu, Bakashi. Kulihat kau sudah menjadi orang tua.”
Disaat yang sama, mata Sakumo membulat dan kepalanya tersentak. “Tobi, sayang, mereka…?”
“Mn-hm, kau benar.”
“Meh, dan kulihat kau juga, Ahobito. Kulihat kau menikah dengan ayahku.” Kashi melambaikan tangan, tapi gerak tubuhnya menjadi lebih santai seolah-olah kelegaan menghantamnya.
Tobito tertawa, “salahkan pertapa dari enam jalan untuk itu. Oh, dan juga ketampanan ayahmu.”
Pipi Sakumo memerah seperti remaja, sedangkan Kakashi, Tenzou dan Obito membuat suara ‘ewwwh’ ketika mendengarnya.
“Yeah, tidak, aku tidak ingin tahu apa yang sudah kalian berdua lakukan. Ada anak kecil disini.” Ten memprotes. Dibelakangnya, Naruto berteriak setuju dan Hinata mengangguk. “Kau juga, senpai! Hikari ada disini dan pertapa bantu aku, jika kau ingin melanjutkannya, aku akan bersumpah kau akan tidur di sofa selama setahun dan aku akan membakar semua buku koleksimu!”
Kashi memegang dadanya dengan dramatis, “Sayang! Kau tidak akan melakukannya!”
Tatapan Ten penuh dengan tekad yang membuat Kashi mengangkat tangan, dia terlihat tidak ingin melawan matenya.
Hikari tertawa kecil di gendongan Tenzou, “papa, kau membuat mama marah!”
“Papamu melakukan hal bodoh, Hikari-chan.” Balas Ten, tersenyum kecil pada gadis yang kini tertawa geli di gendongannya.
“Kurasa sebaiknya kita mengatur tempat tinggal mereka sekarang, Hyuuga-sama, Hatake-sama.” Minato lagi-lagi mencoba mengambil alih fokus mereka. Mereka semua bisa bersantai dan bermain dan berbicara setelah semua ini selesai, astaga.
Minato benar-benar ingin memukulkan kepalanya ke atas meja sekarang. Yah, setidaknya Naruto tidak terlihat akan membuat masalah…
“Hinata-san bisa tinggal di kompleks Hyuuga, begitupun dengan Kakashi-san dan keluarganya juga Uchiha-san. Naruto tentu saja akan tinggal dengan kami. Untuk Sakura-san…”
“Yeah, tidak mau ‘ttebayo. Aku dan Hinata-chan tidak akan berpisah! Dan aku yakin Sakura dan Sasuke juga menginginkan hal yang sama!”
Alis Hiashi berkedut dan pipi Hinata memerah, membuat Kushina menjerit.
“Hinata-chan! Apakah kau akan menjadi menantuku?!” tanya Kushina sambil memegang kedua tangan Hinata.
Ugh, Minato tidak digaji cukup banyak untuk ini.
.
.
.
Pada akhirnya, mereka semua akan tinggal di kediaman Namikaze, Hatake, dan kompleks Uchiha. Minato juga sudah mendapatkan jawaban dari Fugaku tentang tempat tinggal Shisui, Itachi, Sasuke dan Sakura.
Lalu, karena Itachi baru saja selesai melahirkan dan membutuhkan istirahat, rencana mereka untuk kembali ke universe mereka ditunda selama beberapa hari untuk memberikan Itachi cukup waktu untuk pulih. Lagipula, mereka masih belum mengetahui apa yang membuat mereka terlempar ke dunia ini.
Minato sudah dapat merasakan sakit kepala yang akan datang karena berkas yang harus dikerjakannya.
Untungnya, Naruto mau membantunya dan dengan senyuman secerah mentari berkata bahwa cita-citanya adalah menjadi Hokage! Minato setengah berencana untuk menahan Naruto disini untuk menjadikannya penerus, sayangnya Kushina memukulnya untuk itu.
“Mereka tampan sekali!” bisikan penuh kagum dari Hikari membuat fokus Minato kembali ke waktu sekarang. “Ita-oba, siapa nama mereka?”
Mereka semua sedang berkumpul di kamar VIP rumah sakit, mengunjungi Itachi yang baru saja selesai melahirkan sehari sebelumnya.
Itachi tersenyum pada Hikari, kemudian berbagi pandangan dengan Shisui sebelum menjawab dengan nada penuh kebahagiaan. “Uchiha Kei dan Uchiha Ken.”
“Nama yang indah!” Hikari terlihat hampir melompat ditempatnya berdiri. “Ita-oba, bolehkah aku menggendongnya?”
“Tentu saja, Hikari-chan! Kemarilah, biar Shisui-oji bantu!” Shisui dengan senyum lebar mengangkat Hikari untuk duduk di ranjang Itachi, kemudian dengan hati-hati meletakkan Uchiha Kei di kedua tangan kecil Hikari. “Seperti ini, peluk mereka seperti ini agar mereka lebih nyaman, Hikari-chan!”
“Um!” kedua mata hitam Hikari terlihat berkilauan, dan dengan polos dia berkata pada Kashi dan juga Ten. “Papa, mama, aku ingin adik seperti mereka!”
Ten tergagap dan memerah malu, sedangkan Kashi hanya tersenyum dibalik maskernya. “Maa, kita akan lihat nanti, Hika-chan!”
“Kakashi-senpai!” jerit Ten dengan tertahan. Dia tidak ingin membuat keributan dan mengejutkan Kei dan Ken, tentu saja. Yang lain hanya tertawa ketika mendengarnya.
Di saat yang sama, Itachi dan Shisui kecil menarik ujung baju Shisui (dari masa depan. Minato akan memanggilnya Shui dan Ita agar mereka tidak lagi bingung dengan nama panggilan), membuatnya mengangkat alis dan berjongkok untuk menyamakan tinggi mereka. “Apakah kalian ingin menggendong mereka juga?”
Shisui mengangguk dengan antusias, sedangkan Itachi mengangguk dengan sopan.
Shui lagi-lagi tertawa dengan senyum lebar dan mengangkat mereka berdua ke atas ranjang Ita yang hanya menatap perilaku Shui dengan tatapan sayang. “Shui, tolong bantu aku mengarahkan tangan mereka?”
Shui mengecup pelipis Ita dengan sayang dan mulai memperbaiki lengan Shisui dan Itachi sebelum memberikan Ken pada mereka.
Fugaku dan Mikoto ikut mendekat, dan Minato tidak melewatkan tubuh Ita yang membeku juga Shui yang meremas tangan Ita ketika dua Uchiha itu melangkah mendekat. Dia bertanya-tanya apa yang terjadi, tapi dari perkataan Naruto sebelumnya, beberapa hal sangat berbeda disini.
Terutama hubungan Tobito dan Sakumo dengan Kashi dan Ten… juga tentang Naruto yang sama sekali tidak mengetahui apapun tentangnya dan Kushina selain nama dan siapa mereka.
Sasuke dan Sakura juga menghilang bersama Hinata, begitupun Sakumo dan juga Tobito. Kakashi, Tenzou, Rin dan Obito datang terlambat karena misi yang Minato berikan sebelumnya untuk mencari gulungan tentang perjalanan dimensi dan waktu.
Minato punya kecurigaan, tapi dia tidak berani mengatakannya.
“Mereka sangat menawan,” bisik Mikoto, tersenyum khawatir pada Ita.
Ita membalas senyum Mikoto dengan senyuman lembut, tapi tatapannya kosong selama beberapa detik. Minato tidak melewatkannya karena fokus memperhatikan Ita dan Shui.
“Kau… berapa umurmu?” tanya Itachi tiba-tiba, membuat Ita mengerjapkan mata.
“Dua puluh enam, hampir dua puluh tujuh.” Jawab Ita dengan ekspresi… geli? Kenapa dia menatap—
Oh.
Oh.
Minato tahu alasannya. Dan dari ekspresi yang Kashi dan juga Shui gunakan, mereka juga mengetahui maksud dari pertanyaan itu.
“Dua puluh enam. Berarti Shisui hampir tiga puluh.” Gumam Itachi dengan tekad di matanya. Anak itu menatap Shisui disampingnya beberapa saat sebelum berkata, “Shisui, aku ingin anak ketika berusia dua puluh. Aku tidak mau harus menunggu hingga dua puluh enam untuk bertemu mereka.”
Hening, sebelum Kushina dan Naruto memecahnya dengan tawa geli. Minato juga harus mengigit kembali tawanya ketika melihat ekspresi Fugaku, terutama ketika Shisui menjawab dengan senyum lebar.
“Tentu saja, ‘Tachi-chan! Apapun untukmu!”
Fugaku tersedak, sedangkan Shui sudah ikut tertawa dengan sharingan yang aktif. Ita, Kashi dan Ten hanya melihat dengan tatapan geli, sedangkan Hikari terlalu fokus pada Kei untuk peduli.
Minato tidak tahu dia harus ikut tertawa atau menepuk bahu Fugaku dengan kasihan.
.
.
.
Untungnya, mereka tidak lama dalam mencari gulungan dan apa yang menyebabkan mereka terlempar kesini. Jadi setelah sepuluh hari, Naruto, Sasuke dan Shisui sudah siap untuk membalikkan jurus mereka.
“Senang bertemu kalian semua! Selamat tinggal!” teriak Naruto dengan senyum lebar, sedangkan yang lainnya mengangguk dan mengucapkan beberapa patah kata perpisahan.
“Jaga dirimu,” ujar Sakumo dengan Tobito disampingnya. “Aku bangga padamu, Kakashi, kau juga, Tenzou. Tidak peduli apapun yang kalian sudah lakukan, aku bangga pada kalian dan aku tidak bisa meminta anak yang lebih baik.”
“Maa, terima kasih, tou-san. Aku akan mengingatnya.”
Tobito hanya tersenyum dan menepuk pundak Kakashi, “aku akan memastikan mereka semua hidup.” Bisiknya.
Kakashi menutup kedua matanya, tersenyum. “Aku percaya padamu, Obito.”
“Tobito, sekarang. Aku sudah lama tidak mendengar nama itu diucapkan padaku.”
“Huh, baiklah, Tobito.”
“Selamat tinggal, Bakashi.”
“Selamat tinggal, Ahobito.” Gumam Kakashi sebelum berbalik dan pergi bersama Tenzou dan Hikari tanpa menoleh ke belakang.
Di sisi lain, Fugaku dan Mikoto dengan Itachi dan Shisui disamping mereka mengucapkan selamat tinggal dengan lebih tenang. Itachi dan Shisui bahkan masih mendapatkan waktu untuk menggendong anak-anak mereka di masa depan.
“Berbahagialah, kalian berdua. Walaupun kami tidak ada lagi di sisi kalian.” Bisik Mikoto sambil memeluk Itachi dan Sasuke erat. “Shisui-kun, Sakura-chan, tolong jaga kedua putraku.”
“Tentu saja, Mikoto-obaasan!” jawab Shisui, tersenyum dengan mata penuh tekad.
“Tentu saja.” Jawab Sakura, mengangguk dengan lebih tenang dari Shisui.
“Panggil aku kaa-san. Kau menantuku.”
“Okey, Mikoto-kaa-san!”
Fugaku menghembuskan napas dan mengangguk pada empat Uchiha didepannya, “jaga diri kalian, dan bahagialah.”
Itachi berkedip, dan Sasuke mengerutkan kening. “Ya, tou-san.” jawab mereka bersamaan.
Hinata di sisi lain berbicara pada Yumi dengan suara pelan. Hiashi di sebelah mereka hanya mengerutkan kening seolah-olah tidak mengerti harus melakukan ataupun berkata apa.
Untungnya, Hinata hanya tersenyum penuh pengertian pada Hiashi. “Otou-sama, okaa-sama, selamat tinggal.”
“Jaga dirimu dan berbahagialah bersama Uzumaki-kun, Hina-chan.” Yumi memeluk Hinata erat dan mengusap air mata yang menetes. “Okaa-sama akan selalu menyayangimu.”
“Ya, okaa-sama.”
“Hinata-chan! Sasuke-teme! Itachi-nii! Shisui-nii! Sakura! Kaka-sensei! Yamato-taichou! Ayo pergi!”
Mereka semua berkumpul dengan Shisui, Sasuke dan Naruto di tengah dengan jurus pembalik mereka.
“Siap?” tanya Sasuke.
“Kapanpun.” Jawab Sakura dengan senyum lebar.
“Pada hitungan ke tiga.”
“Satu.”
“Dua.”
“Tiga.”
Dan cahaya putih lagi-lagi membutakan mata mereka.
.
.
.
Ketika mereka semua tersadar, mereka ada di lapangan latihan. Bedanya kali ini tidak ada ANBU yang mengelilingi mereka dan semuanya terlihat normal (termasuk patung Hokage).
“Apa kita sudah kembali?” tanya Shisui, dengan cepat bangkit dan mengambil Ken dari gendongan Sakura. “Sayang, kau baik-baik saja?”
Itachi hanya mengangguk dan memeluk Kei di dadanya. Sharingannya aktif dan memperhatikan sekeliling mereka, tapi tidak ada yang aneh.
“Shin-san! Sai! Aku merasakan chakra mereka mendekat bersama Kiba dan Ino!” Naruto tiba-tiba berteriak, membuat yang lainnya ikut waspada.
Tidak sampai satu menit kemudian, Shin dan Sai muncul bersama Ino juga Kiba.
“Semuanya!”
“Kemana saja kalian?! Kalian tiba-tiba menghilang sepuluh hari yang lalu!”
Mereka semua saling berpandangan.
“Tunggu, apakah itu bayi? Itachi-san, kau sudah melahirkan?!” Ino hampir berteriak.
Sakura mulai tertawa kecil yang kemudian diikuti Naruto. “Oh kalian tidak akan membayangkannya.”
.
.
.
End.
