Actions

Work Header

To Make New Memories with You

Summary:

Sepertinya Utahime tidak dapat mengingat jelas kapan terakhir kali dirinya bertemu dengan pria bernama lengkap Gojo Satoru. Ternyata, tingkah jenakanya benar-benar tak lekang oleh waktu. Padahal ... katanya ia sudah menjadi seorang guru.

Notes:

Disclaimer:

-Cerita ini hanyalah fiksi semata.
-Karakter atau tokoh yang digunakan dalam cerita ini adalah milik Gege Akutami (Mangaka Jujutsu Kaisen).
-Gambar lain pada mood board diperoleh dari canva.
-Cerita ini pernah dipublikasi dalam event #FTW2023 #FreedomThroughWords untuk Donasi Palestine yang diselenggarakan oleh @FTW_ficfest.
-Penulis tidak mengambil keuntungan apa pun dari cerita ini.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:



DI sebuah toko kue, terlihat seorang wanita yang tengah duduk sambil menatap ponselnya. Ini jam istirahat omong-omong, kebetulan ia juga sudah menyelesaikan gelombang terakhir kue yang harus dibuat di shift kerjanya.

Ekspresi wajah dan gerak-geriknya pun terus berubah, seakan ia tengah kebingungan. Sebentar terlihat kesal, sebentar terlihat pasrah, tiba-tiba menempatkan kepalanya di atas meja, tiba-tiba kembali duduk dengan tegak, sesaat kemudian mengentak-entakkan kaki, seketika menepuk dahi sendiri, dan sontak berdiri tatkala mendengar seseorang memanggil namanya.

“Utahime,” ucapnya diakhiri kekehan sambil melambaikan tangan.

Sang empunya nama menoleh ke sumber suara dan memasang wajah kesal yang sepertinya tidak terdefinisi lagi, apakah dibuat-buat atau memang kesal betulan. Sebab wanita yang bernama lengkap Iori Utahime ini sempat tersenyum sekilas. Hanya sepersekian detik. Entah sosok di hadapannya menyadari hal tersebut atau tidak, sepertinya Utahime pun tidak mau peduli.

Lantaran sebenarnya Utahime bingung sekali. Ia tidak dapat mengingat dengan jelas kapan terakhir kali dirinya bertemu dengan sosok berbadan tinggi besar di hadapannya ini. Sosok berambut putih salju, berkacamata, selalu memakai pakaian yang kelihatan mahal dan rapi ditambah parfum yang aromanya menenangkan, serta selalu menyematkan senyuman jenaka di wajahnya. Sosok itu pun sangat aneh, bahkan terlampau ajaib tingkah lakunya jika Utahime mencoba mengorek kepingan masa lalunya.

Sosok itu bernama lengkap Gojo Satoru.

Utahime justru terheran-heran saat mengetahui fakta tentang pria yang tingkah jenakanya tak pernah lekang oleh waktu itu ternyata telah menjadi seorang guru.

Memangnya boleh dunia sebercanda itu, ya?

Tidak mungkin. Rasanya sangat tidak mungkin pria itu menjadi seorang guru, pikir Utahime. Akan tetapi, jika dipikirkan kembali, sifat jenaka dan kemampuan sang pria menjadi seorang guru tak ada sangkut pautnya sama sekali, ‘kan? Sebab memang keduanya merupakan hal yang berbeda. Bahkan mungkin itu adalah kelebihan yang memang tak semua orang punya.

Ya, pasti benar begitu, lagi-lagi Utahime mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Jika menilik kembali ke masa lalu, tepatnya saat masih SMA, pria yang sebenarnya adalah adik kelas dari Utahime ini selalu punya cara yang unik untuk membuat siapa saja menaruh perhatian lebih atau merasa tertarik padanya. Entah itu sebagai teman, sebagai saingan, atau bahkan sebagai musuh bebuyutan.

Rasa-rasanya Utahime ingin tertawa jika mengingat kecerobohan mereka yang terjadi kala itu. Ia sering meneriaki, “Dasar cowok ngeselin!” dan benar … dulunya Utahime adalah satu dari sekian banyak orang yang berakhir menganggap pria itu sebagai musuh bebuyutan. Lantaran untuk Utahime pribadi, ia selalu mengalami kesialan jika keduanya saling bersinggungan.

Utahime sangat muak sekali dengan segala situasi yang terjadi. Hari-hari yang dilalui pun selalu dipenuhi dengan caci maki atau sumpah serapah untuk sang pria. Sungguh menguras energi.

Dari sekian banyak hal absurd yang terjadi, Utahime mengingat betul momen ketika sang pria mendengar sebuah ramalan zodiak di radio melalui ponselnya di tangga dekat ruang OSIS bersama ketiga temannya. Sementara di dalam ruang OSIS, Utahime yang sedang membantu adik kelas kesayangannya, Ieiri Shoko, sayup-sayup mendengar, “Tuh, guys. Katanya hari ini aku harus berjalan mundur supaya gak ditimpa kesialan!”.

Utahime yang mendengar obrolan penuh omong kosong tersebut berceletuk, “Percaya kok ramalan zodiak? Aneh!”

Namun, ternyata Utahime-lah yang akhirnya mengalami kesialan akibat perbuatan di luar nalar sang pria. Usai membantu Shoko di ruang OSIS, Utahime bersama sang adik kelas memutuskan untuk membeli minuman dari vending machine. Akan tetapi, pria yang memercayai ramalan zodiak itu menabrak Utahime yang sedang menutup kembali botol air minumnya, dan berakhir membuat rok seragam beserta sepatu Utahime kuyup. Sumpah, rasanya sangat menyebalkan.

Lantas di lain hari, pernah juga sang pria mencoba untuk menentukan tindakan apa yang akan dilakukan olehnya dengan cara melempar koin. Utahime juga tidak tahu bagian koin mana yang akhirnya didapatkan pria aneh itu. Yang ia ingat dengan jelas adalah pria itu jadi harus berlari saat melakukan apa pun. Dan, lagi-lagi Utahime harus menjadi korban dari tingkahnya yang sangat tidak keruan. Dirinya tertabrak di tangga serta jatuh tersungkur. Daripada merasa sakit, Utahime lebih merasa malu sebab kala itu sang pria menimpa tubuhnya dan nyaris mencium keningnya.

Tak lama berselang, beredarlah rumor yang dilebih-lebihkan di sekolah perihal hubungan Utahime dan … sebut saja Gojo. Utahime terlalu canggung memanggil pria itu dengan nama aslinya. Sampai akhirnya Utahime kuliah di luar kota dan tak pernah bertemu dengan adik kelas anehnya itu.

Berbicara tentang canggung, justru Utahime belakangan ini merasa lebih canggung lagi usai mendengar kabar tidak terduga dari sang ayah melalui telepon.

“Ayah tiba-tiba kedatangan tamu.”

“Siapa?”

“Ada … laki-laki. Dia nyariin kamu awalnya. Terus katanya kalian teman satu sekolah juga di SMA.”

“Ih, siapa? Ayah sendiri tahu kalau Hime gak pernah ngundang teman laki-laki ke rumah di Kyoto.”

“Iya, ayah juga bingung. Ibu kamu apa lagi.”

“Siapa namanya? Ayah tanya enggak?”

“Hmmm … Gojo Sato—”

“Gojo Satoru? Hah? Buat apa dia cari Hime?”

“Mau izin melamar kamu katanya.”

“HAH? AYAH NGARANG DEH INI PASTI!”

“Ih, buat apa ayah ngarang? Dia tuh serius katanya. Dia juga cerita kalau sekarang udah ngajar di sekolah SMK di Tokyo.”

“HAH? DIA GURU? Tambah ngawur aja ini kayaknya.”

“Ih, sama orang tua sendiri masa kamu gak percaya? Aneh.”

“Terus gimana? Ayah ngasih izin dia buat lamar Hime?”

“Kalau ayah sih tergantung kamu aja. Yang ngejalaninnya kan kamu, bukan ayah. Ibu juga sepakat begitu. Asal jangan aneh-aneh dulu sampai betulan nikah, ya, Sayang.”

“Ya ampun, aneh-aneh apaan lagi ini yang dimaksud? Nanti Hime bikinin kalian cucu pakai tepung terigu, lihat aja!”

Lantas percakapan antara ayah dan anak itu pun diakhiri dengan canda tawa yang tiada habisnya. Namun, Utahime jadi memikirkan perkataan sang ayah bahwa pria aneh itu meminta izin untuk melamarnya. Melamar. Tiada angin, tiada hujan, tiada komunikasi selama ini, hilang bak ditelan bumi, tetapi secara tiba-tiba kembali dan membuat kejutan. Utahime pusing dibuatnya.

Setelah itu, Utahime akhirnya menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa sang pria hadir tepat di hadapannya, di tempat kerjanya, seraya menampilkan senyum jenaka dan panggilan kurang ajar tanpa embel-embel ‘senpai’ atau ‘san’, hanya ‘Utahime’. Seakan-akan mereka telah dilahirkan dan hidup di tahun yang sama, atau bahkan terlampau akrab bagaikan keluarga. Sudah gila, ingin sekali Utahime menyentil dahi sang pria dengan jemari mungilnya.

Di awal-awal, Utahime mengabaikan keberadaannya. Sampai-sampai Utahime menyadari bahwa sang pria selalu menunggu di samping toko kue agar bisa mengantarnya pulang.

Utahime tidak mengajaknya berbicara sama sekali, hanya saja sang pria tampak gigih dan terus menceritakan apa saja yang dialaminya selama satu hari penuh, nyaris setiap hari. Sebab Utahime juga memiliki hari libur yang akhirnya ia nobatkan sebagai ‘Hari Bebas dari Gojo Satoru’.

Tetapi, ada kalanya Utahime merasakan perasaan yang asing dalam kesendiriannya. Apakah Utahime lambat laun sudah mulai ikhlas menerima kehadiran sang pria di dalam hidupnya? Namun, alih-alih menanyakan perihal lamaran, sampai saat itu pun mereka belum benar-benar melakukan komunikasi dua arah.

Setelah melakukan pertimbangan panjang, akhirnya Utahime memberikan kontak LINE-nya. Mereka pun mulai berkomunikasi seperlunya, menurut Utahime. Namun, sang pria yang terlalu hiperaktif itu selalu mengirimkan pesan nyaris setiap jam. Apabila Utahime tidak membalas, maka stiker-stiker lucu yang menggambarkan kesedihanlah yang pria itu kirimkan.

Utahime yang sebenarnya tidak resistan terhadap sesuatu yang menggemaskan, mau tidak mau tersenyum saat melihat pesan-pesan tersebut.

Dan, hubungan dengan lamaran yang belum memiliki jawaban bersama sang pria pun berlanjut hingga berbulan-bulan kemudian. Bahkan Utahime sudah bingung harus menunjukkan ekspresi yang bagaimana saat mendapati eksistensinya di depan mata. Utahime juga nyaris terbiasa hanya dipanggil ‘Utahime’ saja olehnya. Aneh, tetapi itulah kenyataannya.

 


 

GOJO Satoru adalah pria yang sangat nyentrik. Di masa sekolah, sepertinya tidak akan ada satu pun orang yang tidak mengenal dirinya. Semua pasti akan menyebut, “Satoru yang aneh itu, ‘kan?”

Satoru tidak akan marah bila dikatai aneh. Justru sebutan itu sepertinya memang sangat cocok sekali dengan kepribadiannya. Orang yang berjiwa bebas, memiliki selera yang unik, dan suka menjadi pusat perhatian. Meskipun terkadang agak melelahkan untuk bersikap terlalu energik.

Tetapi, jangan salah, Satoru juga sebenarnya adalah orang yang sangat bertanggung jawab dan sering berpikir jauh ke depan.

Bukan tanpa alasan di masa remaja ia melakukan beberapa kenakalan. Semua itu tak lebih dari sekadar ingin memperoleh perhatian dari sang gadis pujaan.

Satoru juga tidak menyadari kapan tepatnya ia merasakan perasaan semacam ini. Namun, semakin hari rasanya semakin meluap-luap saja, dan Satoru tak mengerti bagaimana cara yang tepat untuk mengutarakannya.

Alhasil, Satoru mencoba untuk belajar dari berbagai sumber. Salah satunya adalah ramalan zodiak.

Terkadang ramalan zodiak yang ada terdengar sangat meyakinkan, kebetulan memang pas seperti kenyataan, dan kadang kala membuatnya mengalami hal tak terduga. Uniknya, selalu saja melibatkan seseorang yang Satoru damba.

Caci maki atau sumpah serapah rasanya sudah berteman akrab di telinga setiap kali dirinya tanpa sengaja membuat sang gadis kesal terhadapnya. Sementara teman-teman Satoru akan langsung berbalik badan dan  pura-pura tidak kenal jika pria berambut putih salju itu tengah mempermalukan dirinya sendiri.

Hanya saja, keisengan yang Satoru bisa lakukan terhadap gadis itu tidak berlangsung lama, kurang lebih hanya satu tahun. Lantaran gadis itu merupakan senior yang langsung lulus begitu Satoru naik kelas. Sungguh masa pengenalan yang singkat. Ya, meskipun pada kenyataannya Satoru tidak bisa benar-benar dekatnya. Tetapi, Satoru selalu berdoa dalam hatinya, “Semoga di masa depan nanti akan dipertemukan kembali dan memiliki keberanian untuk langsung melamarnya”.

Katakanlah Satoru gila. Sangat gila. Satoru ingin sekali mengubah angan-angan menjadi kenyataan. Sebab gadis yang ia sukai, Iori Utahime, adalah gadis manis, lucu, menggemaskan, dan Satoru rasa bersifat sangat keibuan.

Pernah tanpa sengaja Satoru melihat sang gadis sedang menolong anak kecil yang terjatuh di trotoar. Anak kecil itu menangis dengan begitu keras dan sang gadis memeluknya sambil mengelus kepalanya. Air mata dan air liur yang belepotan di wajah anak kecil itu pun diseka menggunakan sapu tangan yang diambil dari tasnya.

Satoru juga memperhatikan sang gadis dengan telaten membersihkan luka anak kecil itu dan menempelkan sebuah plester luka. Sampai akhirnya sang bocah melambai-lambaikan tangan untuk berpamitan pulang dan gadis itu pun melakukan hal serupa. Sungguh, hati Satoru menghangat melihatnya.

Sejak saat itulah Satoru bertekad ingin mempunyai pendamping hidup yang seperti Utahime atau bahkan menjadikan Utahime sebagai pasangannya saja.

Lantas melalui acara reuni sekolah, Satoru mendapatkan informasi dari Shoko bahwasanya Utahime belum memiliki pacar, apalagi menikah. Dan, gadis itu pun bekerja di sebuah toko kue di Tokyo sebagai pâtissier.

Sontak Satoru merasa sangat bahagia lantaran kini ia telah tinggal di Tokyo juga. Namun, sebelum bertemu langsung dengan Utahime, Satoru bertekad untuk menemui orang tua sang gadis. Satoru ingin meminta izin untuk melamar. Sebab rasanya Satoru tak ingin membuang-buang waktu untuk menciptakan kenangan hidup bersama gadis pujaannya. Satoru ingin terlihat lebih serius, dan membuktikan bahwa dirinya ini tidak seaneh yang Utahime pikirkan selama ini. Meskipun jauh di lubuk hati Satoru, ia juga sudah tidak sabar untuk menemui gadis bersuara lembut tersebut. Bayangkan saja, kurang lebih 8 tahun mereka tidak berjumpa setelah Utahime lulus SMA.

Satoru masih mengingat dengan jelas hal tersebut. Rasa-rasanya Satoru tidak akan sanggup melupakan satu detail pun tentang eksistensi sang gadis. Bagaimana caranya mengepang rambut, bagaimana caranya berjalan, bagaimana caranya berbicara, bagaimana caranya tersenyum, bagaimana caranya tertawa, dan bagaimana caranya sang gadis memaki dirinya.

Satoru masih ingin terus menyaksikan secara langsung bagaimana-bagaimana lainnya yang belum pernah Satoru ketahui sebelumnya. Bagaimana rasa kue buatan Utahime, bagaimana penampilan sang gadis saat ini, bagaimana pendapatnya tentang dirinya yang sekarang, bagaimana respons yang akan diberikan jika mengetahui ia telah  dilamar oleh orang yang dulu sangat jahil, aneh, dan selalu membuatnya merasakan kesialan. Satoru penasaran dengan itu semua.

Hingga akhirnya Satoru bertemu dengan kedua orang tua Utahime untuk mengobrol serius, namun santai. Satoru disambut dengan baik di sana, tetapi sempat membuat mereka terkejut juga tatkala mendengar tujuan utamanya datang ke sana.

Lantas ayah dari gadis pujaannya menitipkan pesan agar Satoru benar-benar memikirkan dengan matang keputusannya, dan menanyakan langsung kepada Utahime apakah gadis itu mau atau tidak. Karena orang tua sang gadis ternyata sangat terbuka, tidak ingin memaksakan kehendak, atau bahkan melarang keinginan anak satu-satunya.

Setelahnya, mereka mengobrol panjang lebar perkara pekerjaan Satoru, di mana orang tua Satoru tinggal, dan hal-hal lain menyangkut diri Satoru yang ingin calon ayah mertuanya ini ketahui.

Saat hendak berpamitan, Satoru pun berkata seandainya Utahime menerima lamarannya, maka secepatnya Satoru akan membawa kedua orang tuanya ke kediaman keluarga Iori.

Akan tetapi, sepertinya tidak semudah itu untuk Satoru menarik perhatian Utahime ketika keduanya berjumpa lagi.

Teringat jelas betapa terkejutnya Utahime saat melihat kehadirannya di toko kue tempatnya bekerja. Teringat jelas betapa diamnya Utahime saat ia ajak bicara, satu kata saja rasanya enggan untuk diucapkan. Dan, teringat jelas pula ekspresi wajahnya tatkala ia mengambil kue dari nampan, padahal baru saja kue itu akan dipajang.

Sungguh Satoru bingung harus bagaimana caranya membuat gadis itu luluh. Bahkan lagi-lagi ia sempat mencari referensi untuk membuat sang gadis bisa sedikit saja menerima kehadirannya. Namun, Satoru rasa ia tidak bisa bila tidak menjadi dirinya sendiri.

Alhasil, ia tetap mendekatinya sambil berbicara seorang diri bak radio yang sedang diputar, menunggu jam kerjanya berakhir, dan mengantarkannya pulang nyaris setiap hari.

Satoru sedikit uring-uringan bila hari libur Utahime tiba. Sebab gadis itu pun jarang membalas pesan darinya. Ah, membingungkan. Tetapi, Satoru tidak akan menyerah sampai ia benar-benar bisa menciptakan memori yang baru dengan sang gadis pujaan.

Akan tetapi, entah mengapa belakangan Satoru merasa bahwa gadis itu sudah mulai memberi sedikit sinyal baik untuknya. Hal itu dibuktikan dari sekelebat senyum yang terpatri di wajahnya. Seperti sedang menahan tawa juga kalau dipikir-pikir. Sangat menggemaskan. 

Kapan kiranya Utahime akan lebih leluasa denganku, ya?

Itulah yang selalu Satoru pikirkan. Hanya saja ia pun tak ingin muluk-muluk, khawatir segala usahanya selama ini akan sia-sia akibat terlihat memaksa.

Utahime aku suka padamu … aku cinta padamu.

Ah, ingin sekali aku berteriak begitu.

Kalau saja Satoru masihlah Satoru di zaman SMA, pasti ia akan melakukan hal semacam itu saat Utahime masih satu sekolah dengannya, dan Satoru tak akan peduli jika menjadi bahan ejekan seantero sekolah apabila ditolak. Namun, sekarang kondisinya berbeda, Satoru sudah dewasa, dan cukup tahu diri untuk tidak mempermalukan Utahime di tempat kerjanya.

Sehingga yang bisa Satoru lakukan hanyalah menyapa sang gadis seperti biasa.

“Utahime!”

Dan, gadis itu pun langsung menghampiri.

Omong-omong, Satoru juga masih menunggu waktu yang tepat untuk melamar Utahime kembali.

Tetapi, apakah lebih baik menunggu? Atau langsung katakan lagi saja, ya?

 

 

Fin.

 

 

Notes:

Terima kasih kepada siapa pun yang telah membaca cerita ini.
Silakan tulis kritik, saran, atau apa pun di kolom komentar, ya ^^