Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of safe place for us
Stats:
Published:
2024-01-20
Words:
1,449
Chapters:
1/1
Comments:
3
Kudos:
22
Bookmarks:
2
Hits:
263

going home

Summary:

Tempat Utahime kembali pulang adalah tempat dimana ayah dan ibunya berada- rumah sederhana yang ia tinggali sejak bayi. Tapi bagaimana dengan Satoru?

Notes:

Jujutsu Kaisen by Akutami Gege
This is just author's headcanon
Warning : post JJK-0 incident, OOC, maybe harsh word

Work Text:

24 December, 2017.

Langkah kaki menggema di sepanjang lorong kelas lantai dua perguruan tinggi keagamaan- setidaknya itu yang terdaftar di pemerintahan, SMA Jujutsu. Malam itu dingin, meski salju belum turun, tetapi hujan deras menerpa Tokyo. Sisa-sisa bangunan yang hancur belum diberesi, murid-muridnya yang terluka belum sepenuhnya sembuh. Tangannya terasa sakit, kaki dan pinggangnya terasa nyeri. Kepalanya pusing, matanya terasa pegal. Ia berjalan luntang lantung tanpa arah, berharap bisa menemukan seseorang- siapapun itu, asal jangan Shoko. Karena ia tak mau melihat wajahnya setelah ia membunuh salah satu sahabat mereka sejak SMA. 

Satoru sudah membunuh Suguru. Ia tidak mau memperlihatkan wajah menyedihkannya di hadapan Shoko.

Terlebih, Satoru tidak membawa tubuh Suguru untuk di autopsi Shoko. Ia tidak ingin Shoko yang harus membedah jenazah sahabatnya sendiri yang dibunuh di tangan Satoru.

Tidak, ini bukan salah Satoru.

Ia membuka pintu sebuah ruangan. Itu adalah ruang guru, yang biasa ia pakai untuk meletakkan dokumen dan perlengkapan administrasi lainnya. Mejanya Satoru berada di ujung ruangan, dekat dengan jendela yang menghadirkan pemandangan Tokyo. Sementara meja milik Kusakabe ada di sebrangnya, berjauhan.

Matanya melihat sosok perempuan yang tengah mengambil dokumen di meja milik Kusakabe. Wanita itu menoleh, terkejut melihat wujud Satoru yang seakan tidak bernyawa.

Itu Utahime.

Iori Utahime adalah guru sekaligus pengawas murid sekolah Kyoto. Sengaja dipanggil ke Tokyo berkat kejadian yang berlangsung belum lama ini- Geto Suguru, yang merupakan alumni SMA Jujutsu, menyerang salah satu murid baru di SMA Tokyo, Okkotsu Yuta. 

"Utahime..."

"Oh, Gojo.. maaf, aku masuk tanpa izin. Aku harus ambil dokumen milik Kusakabe,"

Satoru tidak membalas. Ia hanya berjalan mendekati tempat Utahime berdiri.

Layaknya berjalan di padang pasir, bertemu dengan Utahime bagaikan oasis ditengah rasa haus dan lelahnya.

Utahime tahu pasti, Suguru merupakan sahabat baik Satoru. Ia mengenal persis bagaimana Suguru- ia baik, lemah lembut, bertutur kata yang sopan, meski kadang jadi kompor agar Satoru bisa mengejek Utahime lebih parah. Adik kelasnya yang satu itu berbanding terbalik dengan Satoru, sampai akhirnya mereka berbeda paham dan Suguru memutuskan untuk keluar- Utahime tahu Satoru yang paling stress soal Suguru, dan ia tak bisa berbuat banyak soal itu.

"Ada apa? Kau baik saja, kan?" Tanya Utahime, mendongak untuk melihat wajah Satoru. Pria itu sangat tinggi, terlalu tinggi untuk Utahime yang memiliki postur tubuh yang kecil. Sehingga ia harus berusaha lebih untuk mencapai puncak kepalanya.

"Apa kau sakit? Ada luka bekas tadi?"

"Utahime, Suguru..."

Utahime terdiam.

"Aku membunuh Suguru,"

Rasanya ditikam oleh ribuan pisau di benak, melihat wajah menyedihkan Satoru yang sedari tadi mungkin sudah menahan tangis agar tidak tumpah di depan murid-muridnya. Tanpa berpikir panjang, Utahime menjinjit sedikit dan menarik kepala Satoru ke dalam pelukannya.

Utahime tahu persis.

Utahime mengerti bahwa Satoru sangat kehilangan.

Ia membiarkan pria itu menangis di pelukannya, membalasnya perlahan dengan belaian lembut di rambut putihnya.

Satoru membalas pelukan itu dan menangis,  bahkan lebih deras air matanya. Ia mengerang, merajuk seperti anak kecil yang kehilangan teman terdekatnya. Suguru, Shoko dan Satoru mengukir banyak kenangan, Satoru sendiri mungkin menganggap mereka layaknya keluarga sendiri.

Seumur hidup, ia tidak pernah menyaksikan Satoru menangis segininya.

"Tidak apa-apa, kau melakukan apa yang harus kau lakukan,"

Erangan kesedihan itu makin menjadi, pelukannya semakin mengerat. Matanya jadi ikut berkaca-kaca, lantaran sedih mendengar adik kelasnya itu meraung mengeluarkan emosinya.

Sejauh Utahime mengenal Satoru, pria itu tak pernah sekalipun menangis.

Hanya malam setelah Suguru memutuskan untuk memikiki paham yang berbeda, ia melihat Satoru memiliki ombak emosi yang tidak stabil. Tapi, itupun ia tidak menangis. Entah hatinya terbuat dari apa, hari yang ditunggu akhirnya datang juga- hari dimana Satoru menangis, meluapkan amarah dan kesedihannya secara langsung bagai badai ombak tak terbendung.

"Kau baik saja, kau tidak apa-apa. Apapun yang terjadi, Gojo, aku akan ada di sampingmu,"


Matanya terasa berat saat ia membukanya. Cahaya matahari yang masuk dari celah gorden membuatnya sadar bahwa ia sudah terlambat untuk naik kereta pagi- seharusnya, ia berangkat jam 5 pagi, tapi sekarang jam dinding kamar itu menunjukkan jam 8 pagi.

Utahime sadar bahwa ia memeluk seseorang dalam tidurnya. Terdapat kepala dengan surai putih yang tertiup angin penghangat, karena udaranya sudah mulai dingin. Hari ini seharusnya jadi hari libur, karena perayaan Natal. Tapi disini Utahime, tidur memeluk adik kelasnya yang galau semalaman.

Tepat malam sebelum ini, Satoru meminta Utahime untuk tetap berada di Tokyo. Bahkan ia yang berkenan membayarkan tiket kereta Utahime di jam 5 pagi. Tapi semua kacau, ia juga baru bangun jam 8 pagi.

Mereka jelas tidak berbuat apapun- hanya Satoru yang minta ditemani oleh Utahime hanya untuk malam itu. Satoru langsung tidur dalam pelukan Utahime. Ia tidak menangis, tidak juga bicara, Utahime menariknya dalam pelukan tanpa ada omongan apapun. Ia tidur dengan tenang, begitu juga Utahime.

"Gojo,"

Tak ada jawaban.

"Gojo.."

Utahime berusaha melihat apakah Satoru sudah bangun, tapi ia hanya melihat matanya yang bengkak karena menangis semalaman.

"Aku telat, loh. Sekarang jam 8 pagi,"

"Hm,"

Oh, sudah bangun, pikir Utahime.

"Aku telat,"

"Apanya?"

"Kereta,"

"Aku kira periode menstruasimu-"

Utahime menjitak kepala Satoru. Lumayan sakit, menurut Satoru, karena ia tak sempat reflek mengaktifkan limitlessnya.

"Lepaskan!" Ujar Utahime, melepas paksa pelukan Satoru. Tapi semakin Utahime memaksa, semakin kencang Satoru dan pelukannya.

"Sebentar lagi, aku mohon,"

Gojo membenamkan wajahnya di leher Utahime, dan menghembuskan nafas yang membuatnya merinding seketika. Gadis itu terdiam dan kembali ke posisi awal.

"Hanya sampai kau merasa baikan,"

"Aku merasa jauh lebih baik karena dipeluk Utahime,"

Kalimat itu berhasil membuatnya gagal menahan senyum. Ia meletakkan tangannya di kepala Satoru dan menariknya lebih dalam ke pelukannya.

"Baguslah," kata Utahime.

"Terimakasih, Utahime,"

"Hm,"

"Aku mencintaimu, Utahime"

"Omong kosong mana lagi itu?"

Satoru tertawa, "Kenapasih kau sulit sekali percaya denganku?"

"Karena kau memang sulit dipercaya,"

"Buktinya kau mau tidur satu selimut denganku seperti ini,"

Utahime tak menjawab. Itu hal yang tak bisa ia pikirkan balasannya. Ia hanya tahu Satoru takkan berani macam-macam padanya- jika ia berani, maka Utahime akan menendangnya, sementara Satoru takkan bisa menerima sakit yang di luar nalar berkat tendangan Utahime, meski ia mengaku bahwa dirinya yang terkuat.

"Hey, Utahime,"

"Apa?"

"Menurutmu apakah Suguru akan marah padaku? Karena aku yang membunuhnya,"

Utahime hening untuk sesaat.

"Tidak," ujar Utahime. "Aku rasa Geto pun tahu bahwa mati di tangan sahabatnya adalah hukuman yang tak dapat dihindari. Cepat atau lambat, takdir akan membawamu untuk bertemu dengannya kembali, meski harus berpisah dengan cara yang menyakitkan," lanjutnya.

"Apakah Shoko akan marah padaku?"

"Tidak, aku yakin Shoko mengerti posisimu,"

"Aku juga tak membawa jenazahnya kepada Shoko," ujar Satoru, "Aku tak ingin melihat wajah sedihnya karena aku sendiri yang membawa jenazah Geto,"

"Aku paham," kata Utahime. "Shoko sendiri mungkin juga tak ingin melihat temannya sendiri dalam keadaan seperti itu. Tapi kau harus segera menemuinya, Gojo. Jangan biarkan ia sendiri terlalu lama, ia akan mulai merokok lagi,"

Satoru memejamkan matanya. Mendengar suara lembut Utahime membuat rasa kantuknya kembali. Matanya perih berkat menangis, kepalanya pening semalaman. 

Utahime mengingatkannya kepada pelukan ibundanya yang sudah pergi sejak ia SD- meninggalkannya sendiri sebagai kepala klan Gojo, menanggung beban di usia 9 tahun. Saat itulah ia bertemu dengan Utahime- karena ayahnya Utahime adalah seorang kepala pengurus kuil yang berhubungan erat dengan keluarga Gojo, Utahime menjadi sosok kakak perempuan di momen dimana Satoru kehilangan ibunya. 

"Utahime,"

"Hm,"

"Jangan pulang, tetaplah di sini,"

"Rumahku ada di Kyoto," kata Utahime.

"Rumahku ada di Utahime,"

Kalimat itu membuat wajahnya memerah untuk sesaat.

"Utahime tempatku pulang, jangan pergi jauh-jauh dariku,"

Tempat pulang, ya.

Utahime bergeming. Ia memejamkan matanya. Tempat Utahime kembali pulang adalah tempat dimana ayah dan ibunya berada- rumah sederhana yang ia tinggali sejak usianya 2 hari itu, lebih tepatnya. 

Tapi bagaimana dengan Satoru?

Utahime tidak ingin berasumsi. Ia juga tidak tahu banyak soal kehidupan pribadi Satoru- meski pada kenyataannya, jika dibandingkan dengan orang lain dan koleganya, Utahime yang paling mengenal Satoru. Ayahnya meninggal dalam pertarungan antar penyihir beberapa bulan sebelum Satoru lahir. Ibunya meninggal pada saat usia 9 tahun. Ia tinggal sendiri saat menginjak kelas 1 SMP, bangunan besar itu hanya ia anggap sebagai tempat tinggal.

Rumah bagi Satoru adalah orang-orang terdekatnya.

Suguru, Shoko, Utahime, Pak Yaga, Meimei, Nanami, Haibara. Teman sepermainan di perguruan tinggi yang mengisi masa mudanya. Disitulah ia anggap rumahnya.

Tapi naif baginya menjadikan orang sebagai rumah- karena rumah bersifat statis, sedangkan manusia adalah makhluk yang dinamis. Tak kan ada yang abadi.

Apa yang bisa Satoru perbuat? Ia sudah kehilangan segalanya meski ia menggenggam dunia di tangannya. Kekuatan, uang, posisi. Semua orang takut padanya, tapi ia kehilangan rumahnya.

Suguru mati, Shoko merokok, Nanami sempat berhenti dari dunia penyihir sebab Haibara juga wafat dalam pertarungan. Hidup dan mati penyihir bagaikan tali penyambung kehidupan penyihir lain- dan Satoru bisa melewatinya sendirian.

Tidak.. tidak sendirian.

Ia masih punya Utahime.

Wanita itu yang membuatnya waras hingga sekarang.

"Aku mohon, Utahime,"

Wanita itu yang sedang merangkulnya layaknya ibu yang memeluk anaknya.

Satoru membutuhkannya.

Satoru takkan lengkap tanpanya.

"Jangan pergi,"

Utahime mengecup puncak kepala Satoru untuk sesaat.

"Aku takkan kemana-mana, Satoru."

.fin.

Series this work belongs to: