Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 2 of safe place for us
Stats:
Published:
2024-01-21
Words:
1,894
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
16
Bookmarks:
2
Hits:
193

taking off

Summary:

Persetan dengan menjadikanku rumah, apa maksudmu pergi tanpa pamit?
Seenaknya masuk ke kehidupan orang lain dan pergi begitu saja.
Kau brengsek, kurang ajar, dan sangat tidak sopan, Satoru.

(Read 'going home' first)

Notes:

Jujutsu Kaisen by Akutami Gege
Warn : harsh words , post-Shinjuku Showdown spoiler

Work Text:

24th December, 2018

Persetan dengan menjadikanku rumah, apa maksudmu pergi tanpa pamit?

Seenaknya masuk ke kehidupan orang lain dan pergi begitu saja.

Kau brengsek, kurang ajar, dan sangat tidak sopan, Satoru.


Tidak.. ia justru pamit. Tapi Utahime tak pernah menganggapnya sebagai salam selamat tinggal, karena ia tahu Satoru takkan pergi semudah itu.

Ia percaya padanya.

Di sinilah ia bertumpu sekarang, di hari natal yang hening dan damai. Setelah peperangan mereda, Sukuna dinyatakan mati, para penyihir menang, tapi untuk apa?

Kini ia berdiri di hadapan tubuh pria yang kondisinya sangat mengenaskan. 

Itu Gojo Satoru.

Ia ingat, setahun lalu, pada waktu yang sama, ia merajuk pada pria itu karena telat ketinggalan kereta pulang. Sekarang, ia berdiri di hadapannya, tak bisa meneteskan satu air matapun- menyedihkan, tapi Utahime tidak bisa menangis.

Tidak.. menangis bukanlah Utahime.

Tatapan nanar Shoko yang terlihat tidak tidur semalaman sempat melirik Utahime yang sudah sekitar satu jam berdiri di hadapan jasad Satoru. Setelah Uiui membawa jasad Satoru dan Higuruma Hiromi kepada Shoko, segala cara ia lakukan agar bisa membawa sahabatnya kembali bernafas. Hidup lagi.

Mau bagaimanapun, Satoru adalah satu-satunya sahabat terdekat yang tersisa.

Tapi memang sudah ajalnya, mungkin. 

Shoko berhasil membawa Higuruma kembali sadar setelah sempat kehilangan denyut nadi dalam waktu 5 jam- kini, ia sedang mendapat perawatan intensif. 

Satoru? Badan yang sudah terbelah dua begitu, harus bagaimana? Shoko melakukan segala teknik kutukan pembalik yang ia ketahui- tubuhnya sudah menyatu, tapi jiwanya tak mungkin.

Satoru benar-benar sudah pergi.

Dan kini ia merasa bersalah, baik pada dirinya maupun Utahime.

"Kak Utahime.."

"....."

"Maafkan aku..."

"Kau bukan Tuhan, Shoko. Jangan menyalahlan diri sendiri,"

"...Benar,"

Utahime menoleh dan memberikan senyum kecil pada Shoko, "Jika kau berkenan, bolehkah kau memberiku waktu sebentar?" Tanyanya. "Si bodoh ini sudah mati, tapi aku hanya butuh waktu. Lima menit saja,"

Shoko menghela nafas.

Wanita itu sahabat terdekat Satoru selain Suguru. Ia ingat bagaimana hancurnya dia saat mendengar petinggi mengumumkan bahwa Suguru sudah tewas di tangan Satoru. Demi Tuhan, mereka berdua sahabatnya melebihi keluarga- seperti saudara kandung. 

Begitu juga Utahime.

Ia juga kehilangan keluarganya.

Teman terdekatnya.

Satoru memang lebih sering menghabiskan waktu dengan Suguru dan Shoko di masa mudanya saat masih sekolah- tapi jauh dalam pengetahuan Shoko, ia paham Satoru sangat dekat dengan Utahime. Setidaknya ia tahu bahwa Satoru sudah mengenal Utahime sejak mereka masih kecil. Ada sesuatu di antara mereka yang tak bisa goyah bahkan jika orang lain mencobanya. Shoko selalu merasa ada ikatan antara mereka, meski hubungan mereka seperti anjing dan kucing yang selalu bertengkar dan saling memancing keributan.

"Tak perlu terburu-buru," ujar Shoko. "Aku akan merokok sebentar,"

Utahime tidak berkomentar. Pendengarannya menangkap suara hak pantofel Shoko menggema di ruang kerja Shoko yang menjauh- atau bisa disebut, kamar jenazah perguruan tinggi Jujutsu. 

Saat Shoko benar benar pergi, Utahime menghela nafas. Ia membuka mata Satoru, melihat pupil mata biru yang seakan meredup- ia ingat bagaimana indahnya pupil mata biru langit yang cerah dan seakan bercahaya, seakan tenggelam sepersekian detik ia menangkap penglihatannya. Utahime menutupnya kembali, mengelus rambut putihnya yang sedikit terkena corak merah darah karena tak bisa sepenuhnya dibersihkan.

Di matanya, Satoru seperti tertidur dengan tenang. Tubuhnya yang terbelah antara tubuh torso bagian atas dan torso bawah sampai ke kaki akibat teknik milik Sukuna kini bisa tersambung kembali, meski ia tak bisa hidup lagi.

Setidaknya, Satoru bisa mati dan dikubur dengan cara yang layak.

...

Ia mengingat pembicaraannya tentang rumah dengan Satoru.

Ia ingat pria itu berkata bahwa Utahime adalah rumahnya. Tempatnya berpulang dan istirahat. Tempat ia berlabuh dari setiap petualangan yang ia hadapi.

Wanita itu menarik kursi dan duduk di samping tempat dimana jasad dibaringkan- tempat tidur itu terbuat dari bahan besi, jadi terasa dingin saat Utahime berusaha untuk meletakkan kepalanya untuk sedikit bersandar.

Jujur, ia tak tahu mau bilang apa.

Apa kehilangan selalu sesakit ini?

Ia merindukannya. Belum genap sebulan ia keluar dari kotak segel sialan itu- sekarang, ia harus masuk pintu menuju akhirat. 

Utahime memejamkan matanya, merasakan dingin besi tempat tidur itu.

Ia terlelap di samping Satoru, untuk terakhir kalinya.


Hatinya sakit.

Ia marah, tapi tak bisa mengungkapkannya.

Pemandangan itu asing. Bandara yang tidak ia kenali. Penuh orang yang tak pernah ia temui- kecuali memang ia melihat beberapa yang ia tahu di sana.

Satoru, Suguru, Nanami, Haibara.

Orang-orang yang membuatnya merasa nostalgia. Mereka terlihat sangat bahagia di sana.

Utahime berdiri di balik batas kepergian. Berharap Satoru bisa menyadari keneradaannya di sana.

Utahime tak bisa mengejarnya.

"Satoru!"

Tak ada respon, mereka seakan tak mendengar seruan Utahime.

"Satoru!!"

Bola mata itu menoleh, pupil mata biru langit yang Utahime kenali.

Itu Satoru. Ia mendengarnya.

"Satoru!"

Satoru tersenyum lebar, berseru saat Utahime melambaikan tangannya. "Utahime!"

Satoru berjalan menuju Utahime. 

"Satoru,"

"Kau terdengar aneh ketika memanggil namaku,"

Ia di sana- tertawa, sambil melebarkan senyum gigi khasnya. Ia terlihat muda- faktanya, itu Satoru yang ia ingat saat ia masih SMA.

Di situ, Utahime tak kuat membendung air matanya. Ia membuat aliran air mata yang keluar dari mata kirinya, tidak percaya melihat sosok pemuda yang sangat ia rindukan.

"Kau mau kemana?"

"Pergi,"

"Kemana?"

"Utahime tidak boleh ikut, pokoknya ke tempat yang jauh,"

Utahime menangis. Tapi ia tidak mengelapnya.

"Haruskah kau pergi?"

"Harus,"

Tangan itu mengusap wajah Utahime yang sudah basah karena air mata. Tangisan itu semakin menjerit, seakan ia sangat terluka dan tidak rela bila Satoru harus pergi terlebih dahulu.

"Kau jahat, Satoru,"

"Maaf,"

Utahime memukul dada Satoru- terasa asli, meski mungkin ini cuma mimpi.

"Maksudmu apa membuatku jadi rumahmu? Kau pergi tanpa pamit, kurang ajar!" Jerit Utahime, dengan kalimatnya yang tak terlalu jelas terdengar karena tercampur oleh tangisan.

"Sekarang kau yang meninggalkanku sendirian!" Lanjutnya. "Kalau kau tak ada.. kau tak ada, lalu aku harus kemana?!" Katanya, masih dicampur dengan tangisan. "Aku harus pergi kemana, Satoru?!"

"Aku tahu, maafkan aku, Utahime. Karena itu aku ingin memintamu satu hal,"

Utahime masih menjerit dengan tangisnya. Satoru menariknya ke dalam pelukannya, membiarkan wanita itu kembali menangis bahkan lebih dalam lagi. Rasanya benakbya sakit, seperti tulang rusuknya remuk dalam waktu yang bersamaan.

"Ssh, Utahime,"

Utahime tak bisa menenangkan dirinya. 

"Utahime,"

"Utahime!"

Utahime baru terdiam ketika Satoru menegaskan namanya. Tangannya terasa dingin ketika menyentuh kulit kepala Utahime saat ia mengelus rambutnya. 

"Dengarkan aku,"

Utahime terdiam.

"Aku harus pergi, Utahime,"

"Jangan pergi,"

"Tidak bisa,"

"Jangan pergi, aku mohon.."

"Utahime..."

"Aku menurutimu saat kau memintaku untuk jangan pergi, Satoru. Apa maksudmu kau tak bisa melakukan hal yang sama padaku?!" Seru Utahime.

"Karena aku sudah tiada, Utahime," ujar Satoru, "Aku sudah mati. Aku tak bernafas lagi. Aku harus pergi, dan jika diizinkan- aku akan bertemu lagi denganmu, di lain kehidupan,"

Tangisannya semakin menjadi. Benaknya sakit, sangat sakit sampai ia tak bisa mengeluarkan suara kesakitan dari tenggorokannya.

"Di kehidupan selanjutnya, aku akan menemukanmu. Aku janji. Untuk saat ini," Satoru melepaskan pelukannya, "Aku akan menjagamu dari jauh,"

"Tidak.."

"Aku harus pergi, Utahime,"

"Cepat atau lambat," tangannya mulai melepaskan elusannya, "Kita akan bertemu lagi,"

Nyatanya, sampai aku mati pun, rasanya tidak akan bisa melepasmu, Satoru.


"Kau hampir terkena hiportemia, apa yang kau lakukan tidur di ruangan itu tanpa penghangat apapun? Ini juga musim dingin!"

"Aku hanya lelah.. tanpa sadar aku ketiduran,"

Habis sudah bila Shoko sudah mengomel soal keselamatan Utahime yang sudah memucat ketika ia temukan dia tidur di samping jasadnya Satoru. Saat ia pikir Utahime hanya ingin menghabiskan waktu, ia pikir hanya satu atau dua jam- nyatanya setelah enam jam berlalu, ia menemukan Utahime setengah pingsan dengan bibir yang agak membiru.

Kamar jenazah memang sengaja tidak diberi penghangat ruangan, terutama saat musim dingin, dengan tujuan agar memperlambat proses dekomposisi dari jenazah yang disimpan. Terlebih, kanar mayat di perguruan tinggi Jujutsu adalah sepenuhnya dalam tanggung jawab dan wewenang Ieiri Shoko. Tentu Shoko juga kena omel Kusakabe, sebab ia sendiri yang membantu membopong Utahime yang sudah tak sadarkan diri itu.

Untungnya wanita itu kembali sadar keesokan paginya. Ia bangun dalam keadaan sehat, mungkin sedikit pusing dan haus- tapi ia baik-baik saja.

"Bukan hanya ketiduran, tapi kau hampir mati!"

"Maafkan aku, Shoko," Utahime membungkuan tubuhnya sedikit, mengaku bahwa itu berkat teledornya.

Ieiri Shoko menghela nafas. "Sudahlah, jangan begitu lagi, aku mohon," kata Shoko.

"Iya.." ujar Utahime.

Rasanya tidak nyata.

Jika saja Shoko tidak menjemputnya, mungkin... sekarang ia sudah mati kedinginan. Sangat konyol sebagai alasan untuk mati, setidaknya aku ingin alasan yang lebih baik untuk mengakhiri hidup.

Tidak, tidak ada hal seperti itu.

Kalimat itu menempel di kepalanya layaknya Satoru sendiri yang mengatakannya. Bayangannya di mimpi itu sangat terasa asli.

...

Pahit kenyataan bahwa kini ia sudah benar-benar pergi harus ditelan oleh Utahime. Masih terasa melayang saat ia dipeluk olehnya. Ingin meledak tangisnya saat ia mengingat bahwa itu rangkulan terakhirnya. Utahime memejamkan mata, Shoko masih berada di sana.

Air matanya mengalir tanpa ia sadari.

"Shoko.."

..

"Aku.. rasanya tak bisa melalui ini,"

Wanita dengan jas dokter itu menunduk. 

"Aku tahu," kata Shoko. "Ini berat untuk kita semua," lanjutnya.

"Yah..." Utahime menutup mata dengan lengannya. Ia menggigit bibirnya, berusaha menahan tangis yang pada akhirnya gagal usahanya. Ia tetap menangis.

Tapi ia mengelap air matanya, "Rasanya ia akan menertawaiku karena menangisi kematiannya," ujar Utahime.

Shoko tersenyum pahit, "Dia memang seperti itu," ia bangkit dari senderannya di tembok ruang perawatan, "Apa rencanamu setelah ini?"

...

"Aku akan tetap di Kyoto,"

"Hm.."

"Shoko?"

"Kemanapun dimana aku dipanggil," kata Shoko, "Termasuk kak Utahime," lanjutnya sambil mengembangkan senyuman.

Utahime tersenyum.

"Terimakasih, Shoko,"

"Terlebih, Gojo akan membunuhku di akhirat kalau sampai kau kenapa-napa,"

Utahime tertawa kecil, "Ya, itu terdengar seperti dia," ujarnya.

"Aku pergi dulu, Kak Utahime. Panggil aku kalau kau butuh sesuatu," kata Shoko.

Utahime mengangguk. Saat Shoko pergi, ia memejamkan matanya kembali.

Rumah ya..

Ia pernah berfikir, naif baginya untuk menjadikan orang sebagai rumah dan tempat berpulang. Konyol baginya menjadikan orang sebagai ruang untuk berbincang dan beristirahat saat kepala penuh.

Manusia itu dinamis, akan berubah sewaktu-waktu. 
Berbeda paham, meninggal, pergi begitu saja..

Satoru baginya memiliki sosok dengan bayangan aneh. Ia tak memiliki peran tertentu dalam kehidupannya, selalu saja bertengkar, namun jauh dalam lubuk hatinya, hanya pria itu yang ia pikirkan pertama kali jika terjadi sesuatu.

Ia nyaman berada dengan Satoru, meski dengan perangai brengsek dan tawaan yang mengejek.

Ia percaya pada Satoru meski kadang ia arogan dan sombong pada orang lain.

Ia selalu mencari Satoru dari setiap pandangan matanya kemanapun ia pergi.

Tidak, Utahime tidak pernah mengutarakan perasaannya. Pasalnya, ia tak pernah tahu apa yang ia rasakan. Satoru rasanya menjadi nama yang selalu ingin ia sebut, sosok yang selalu ingin ia temui, raga yang selalu ingin ia peluk.

Ia mencintainya, kali ini, bukan omong kosong.

Satoru sudah menjadi rumahnya sejak lama, dan sekarang, ia berangkat ke tempat yang lebih baik- tempat dimana Utahime tak dapat menggapainya.

Keberangkatannya begitu tiba-tiba, Utahime tak pernah bersiap untuk berpindah. Segalanya yang milik Utahime, ada di sebagian hidup Satoru. Ia pergi dengannya, tanpa salam perpisahan atau berpamitan.

Apakah Utahime marah? Tentu. Rasanya seperti dirampok tanpa tersisa satupun.

Tapi apakah ada yang siap untuk pindah sewaktu-waktu rumah itu akan menghilang?

Tak ada satupun dari kita yang tahu masa depan.

Utahime tak pernah bersiap akan Satoru yang meninggalkannya. Mau ia sujud memohon kepada Tuhan agar mengembalikan Satoru, mukjizat itu tak pernah hadir. 

Utahime tak pernah siap untuk menerima kenyataan bahwa di suatu titik di kehidupannya nanti, ia akan melupakan bentuk wajah dan suara Satoru. Semuanya akan memudar dan pada akhirnya, sirna ditelan waktu. 

Setiap tahun di tanggal 7 dan 24 Desember, Utahime akan hadir di hadapan batu nisan yang terukir nama Gojo Satoru. Sekadar memberi salam pada teman lama, dan menanyalan bagaimana kehidupannya di akhirat sana. 

Tapi Utahime sudah tidak sedih lagi. Ia tidak ingin berduka lagi.

"Selamat jalan, Satoru. Semoga kau bahagia di sana,"

.fin.

Series this work belongs to: